Wajah kuyu pucat pasi pun
bisa dia hindari...
Hidupnya sudah
tergelayuti beban yang mengakar
Apakah ada rahasia di
ujung langit sana
Ketika dia sedang
menyusuri lorong gelap yang tak terbantahkan
Lampu penerangan di
pinggir jalan seperti menyorotinya
Tapi mata itu tak tampak
berkaca
Baginya lampu itu hanya
sebagai petunjuk ketika malam hendak datang
Tapi baginya cahaya itu
belum hinggap
Seuntai doa dia lantunkan
setiap hari...
Hari pertama dia meminta
sebungkus nasi untuk kenyangkan perutnya
Di hari kedua dia meminta
selembar selimut yang bisa menghangatkan malam-malamnya
Hari ketiga dia meminta
agar diberikan seorang teman untuknya berbagi cerita
Akan tetapi permintaan
lewat doa itu tak kunjung menyambanginya
Dia terduduk lesu
mengingat mengapa doanya tak terwujudkan
Lalu sekelibat cahaya
menerpa wajahnya
Sesosok makhluk indah didepan
sana dan sedang tersenyum padanya
“Siapa engkau?” sapa
sang penanti doa
“Engkau mungkin lupa
wahai sang penanti” balas sosok indah itu
“Aku tak punya teman,
bagaimana aku mengenalmu” sang penanti memandang dengan seribu kerutan yang
terukir jelas di keningnya
“Kita pernah bertemu
bahkan jauh sebelum engkau menyadari semua ini” balas sosok indah itu lagi,
kembali dengan seuntai senyum
“Ikutlah denganku wahai
sang penanti, waktumu sudah cukup disini” sosok indah itu mengulurkan tangannya
“Tapi maafkan aku wahai
engkau yang begitu teramat indah, aku sedang menunggu doaku agar aku diberikan
makanan, selimut, dan teman bicara” sang penanti mengatupkan kedua tangannya
dan mengucapkan maaf yang tiada terkira atas kelancangannya
“Wahai penanti, ikutlah
denganku”
“Tapi...........” tolaknya
halus
“Wahai penanti ikutlah
denganku”
“......” sang penanti
terdiam bingung
“Wahai penanti ikutlah
denganku, kau bisa langsung meminta semua itu pada-Nya”
“Apakah itu benar?
Benarkan tak perlu menunggu lagi” binar matanya memancar hebat.
“Percayalah.”
Diikutinya sosok indah
itu, dan sang penanti menutup matanya lega
Inilah saatnya aku pergi
Tak ada lagi beban, duka,
dan sepi dalam hari-hariku
Aku kini sudah bisa
mendapatkan lebih dari sebungkus nasi, lebih dari selembar selimut, dan ribuan
teman yang selalu menemaniku
-tamat-
No comments:
Post a Comment