Sunday, 29 June 2014

Saatnya Buka Mata 2

Ditulis 27 Juli 2008 Pukul 08.00

Dan ini yang aku sebut dengan lelucon hidup, jenakanya sungguh keterlaluan. Memukul hingga terdengar patahan dari dalam hati yang dia permainkan. Di saat mereka yang teraniaya berusaha menekan kuat-kuat rasa sakit, kau yang tertawa justru mengumpat pedas. Dan aku mendengarkan apa yang kau katakan itu, “Siapa suruh bermain api dengan hal-hal yang tak pernah aku anggap nyata. Perih bukan!” tawanya makin menyeringai lebar.

Apakah hanya malam yang terlihat gelap oleh mata mereka? Aku menemukan jawabannya, jawaban yang lain dari sebuah kata “ya”. Kesedihan dan pengharapan yang hancur dari tiap-tiap hati mereka, jauh lebih gelap dan tak terjelaskan oleh apapun! Dan aku tak senang dengan penemuan itu. Aku kesal. Aku marah. Aku muak. Namun, aku tak mampu berujar “Aku benci” karena itu bukan materi yang patut aku koreksi. Itu juga pemberian-Nya, bukan???

Rasa pahit akan selalu diciptakan agar ketika semua orang yang merasakan manis akan tahu bedanya dan tidak mencoba menerka-nerka sebenarnya rasa apa yang sedang mengelilingi mereka. Manis atau pahit? Atau manis pahit?? Karena keduanya bukan jawaban. Melainkan dugaan, prasangka, atau istilah tingkat tinggi hanya sebuah hipotesis kacangan.

Jangan —lagi-lagi— ada  air mata wahai mereka yang tersakiti. Buktikanlah, pada orang-orang yang telah kalian perdengarkan kisah tentang cerita konyol bertemakan cinta sehidup semati atau selamanya cinta, bahwa kalian itu “tangguh”. Nyatakan dengan lantangnya bahwa kalian itu adalah manusia-manusia yang telah berusaha. Baik berusaha untuk mendapatkannya maupun berusaha untuk melepaskannya.


Kalau perempuan itu bisa, mengapa tidak dengan kalian yang terlahir sama. Kalian pasti bisa menaklukkan lelucon hidup dan mematahkan permainan-permainan menyakitkan itu. Bukankah, kita adalah pelengkap yang sengaja diciptakan untuk menemani sosok utama yang telah lebih dahulu dihadirkan. Dan yakinilah itu sebagai sebuah kebenaran hidup.

No comments:

Post a Comment