Dan ini yang aku sebut dengan lelucon hidup, jenakanya sungguh
keterlaluan. Memukul hingga
terdengar patahan dari dalam hati yang dia permainkan. Di saat mereka yang
teraniaya berusaha menekan kuat-kuat rasa sakit, kau yang tertawa justru
mengumpat pedas. Dan aku mendengarkan apa yang kau katakan itu, “Siapa suruh
bermain api dengan hal-hal yang tak pernah aku anggap nyata. Perih bukan!”
tawanya makin menyeringai lebar.
Apakah hanya malam yang terlihat gelap oleh mata
mereka? Aku menemukan
jawabannya, jawaban yang lain dari sebuah kata “ya”. Kesedihan dan pengharapan
yang hancur dari tiap-tiap hati mereka, jauh lebih gelap dan tak terjelaskan
oleh apapun! Dan aku tak
senang dengan penemuan itu. Aku kesal. Aku marah. Aku muak. Namun, aku tak
mampu berujar “Aku benci” karena itu bukan materi yang patut aku koreksi. Itu
juga pemberian-Nya, bukan???
Rasa pahit akan selalu diciptakan agar ketika
semua orang yang merasakan manis akan tahu bedanya dan tidak mencoba
menerka-nerka sebenarnya rasa apa yang sedang mengelilingi mereka. Manis atau pahit? Atau manis pahit??
Karena keduanya bukan jawaban. Melainkan dugaan, prasangka, atau istilah
tingkat tinggi hanya sebuah hipotesis kacangan.
Jangan —lagi-lagi— ada air mata wahai mereka yang tersakiti.
Buktikanlah, pada orang-orang yang telah kalian perdengarkan kisah tentang
cerita konyol bertemakan cinta sehidup semati atau selamanya cinta, bahwa
kalian itu “tangguh”. Nyatakan dengan lantangnya bahwa kalian itu adalah
manusia-manusia yang telah berusaha. Baik berusaha untuk mendapatkannya maupun
berusaha untuk melepaskannya.
Kalau perempuan itu bisa, mengapa tidak dengan
kalian yang terlahir sama. Kalian
pasti bisa menaklukkan lelucon hidup dan mematahkan permainan-permainan
menyakitkan itu. Bukankah, kita adalah pelengkap yang sengaja diciptakan untuk
menemani sosok utama yang telah lebih dahulu dihadirkan. Dan yakinilah itu sebagai sebuah kebenaran hidup.
No comments:
Post a Comment