Ditulis
tanggal 27 April 2011 pukul 9:35
Seorang anak
yang tengah beranjak dewasa itu bertanya pada ayahnya. "Yah, kapan aku
akan menjadi seperti ibu? Bertemu ayah lalu hidup bahagia."
Sang ayah
tersenyum mendengar pertanyaan polos peri kecilnya. "Sayang, menjadi
wanita seperti ibu tidak semudah yang kamu bayangkan."
"Mengapa
tidak mudah, Ayah?"
"Banyak
proses yang harus kamu tempuh. Pertama, kamu harus menjadi dewasa."
"Aku
sudah besar, Ayah."
"Dewasa
itu tidak sama dengan besar. Dewasa itu tidak hanya dari ukuran tubuh atau
usia. Melainkan juga pola pikir."
"Jika
sudah dewasa. Apakah aku akan bertemu orang seperti ayah?"
"Tidak
harus sama seperti ayah. Setiap orang diciptakan Tuhan berbeda. Suatu hari nanti
ketika kamu telah dewasa, kamu akan bertemu dengan banyak laki-laki. Kamu akan
merasa nyaman dengan beberapa diantaranya."
"Kenapa
beberapa? Ibu hanya hidup bersama ayah."
"Bukan
begitu, Sayang. Bertemu beberapa diantara mereka dan merasa nyaman bukan berarti
akan bersama mereka hingga akhir. Bertemu mereka adalah proses seleksi. Karena
perasaan yang nanti engkau hadapi akan sangat kompleks. Perasaan itu yang biasa
orang lain sebut dengan rasa sayang atau cinta."
"Aku
tahu. Jatuh cinta maksud Ayah?"
"Anak
pintar." Sang ayah tersenyum sambil membelai rambut anaknya. Sang ayah
kembali melanjutkan nasehatnya, "Kamu akan bertemu dengan lawan jenismu.
Beberapa anak laki-laki akan mendekatimu. Silih berganti memberi perhatian
padamu. Tapi, satu hal yang pasti. Satu diantara mereka akan menjadi yang
sejati untukmu."
"Cinta
sejatiku, Ayah? Bagaimana aku bisa tahu siapa dia?"
"Kamu
harus memilih mereka lewat hatimu bukan nafsumu. Lalu pilihlah ia dengan
tenangmu. Cinta sejati tidak selamanya tersenyum dan membawa kabar
membahagiakan. Kadang ia hanya diam, menunggumu mendekat. Tapi percayalah ia
mendengar apapun tentang kamu. Cinta sejati tak selamanya memberimu kenyamanan
seperti kereta kecana bertahta emas. Kadang ia hanya menggenggam tanganmu dan
berjalan menyusuri taman dan kolam kotor dan menunjukkan kehidupan ikan yang
sulit. Itu berarti cinta sejatimu berharap kamu sanggup bersamanya dalam
keadaan apapun. Baik suka maupun duka. Namun, Cinta sejati tetaplah cinta yang
apa adanya. Kadang rapuh kadang terluka. Jadi, cinta sejati juga tetap harus di
pupuk dengan kesetiaan dan kejujuran."
"Ayah,
jika aku telah bertemu dengan cinta sejatiku. Apakah aku akan seperti ibu yang
bahagia dengan ayah."
"Pasti...
Jika kamu yakin ia orangnya. Dan jika ia sanggup menjagamu seperti menjaga
dirinya. Kamu harus tahu kamu adalah tulang rusuk dari cinta sejatimu
sendiri."
"Ayah,
bagaimana aku menyampaikannya padanya jika aku yakin ia sudah datang?"
"Cukup
tatap hatinya. Beri tahu betapa ia penting untukmu. Sesuatu yang di tanam
dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Cinta akan datang disaat
yang tepat. Bersabarlah jika ia masih terdiam padamu. Jika ia masih belum
menyadarinya. Berusahalah sayang. Cinta akan menyapamu di kala yang
tepat."
"Amin.
Semoga Tuhan membantuku menyampaikan rasa itu, Ayah."
"Amin."
-tamat-
No comments:
Post a Comment