Sunday, 29 June 2014

Nasehat Seorang Ayah Tentang Cinta Sejati...

Ditulis tanggal 27 April 2011 pukul 9:35

Seorang anak yang tengah beranjak dewasa itu bertanya pada ayahnya. "Yah, kapan aku akan menjadi seperti ibu? Bertemu ayah lalu hidup bahagia."

Sang ayah tersenyum mendengar pertanyaan polos peri kecilnya. "Sayang, menjadi wanita seperti ibu tidak semudah yang kamu bayangkan."

"Mengapa tidak mudah, Ayah?"

"Banyak proses yang harus kamu tempuh. Pertama, kamu harus menjadi dewasa."

"Aku sudah besar, Ayah."

"Dewasa itu tidak sama dengan besar. Dewasa itu tidak hanya dari ukuran tubuh atau usia. Melainkan juga pola pikir."

"Jika sudah dewasa. Apakah aku akan bertemu orang seperti ayah?"

"Tidak harus sama seperti ayah. Setiap orang diciptakan Tuhan berbeda. Suatu hari nanti ketika kamu telah dewasa, kamu akan bertemu dengan banyak laki-laki. Kamu akan merasa nyaman dengan beberapa diantaranya."

"Kenapa beberapa? Ibu hanya hidup bersama ayah."

"Bukan begitu, Sayang. Bertemu beberapa diantara mereka dan merasa nyaman bukan berarti akan bersama mereka hingga akhir. Bertemu mereka adalah proses seleksi. Karena perasaan yang nanti engkau hadapi akan sangat kompleks. Perasaan itu yang biasa orang lain sebut dengan rasa sayang atau cinta."

"Aku tahu. Jatuh cinta maksud Ayah?"

"Anak pintar." Sang ayah tersenyum sambil membelai rambut anaknya. Sang ayah kembali melanjutkan nasehatnya, "Kamu akan bertemu dengan lawan jenismu. Beberapa anak laki-laki akan mendekatimu. Silih berganti memberi perhatian padamu. Tapi, satu hal yang pasti. Satu diantara mereka akan menjadi yang sejati untukmu."

"Cinta sejatiku, Ayah? Bagaimana aku bisa tahu siapa dia?"

"Kamu harus memilih mereka lewat hatimu bukan nafsumu. Lalu pilihlah ia dengan tenangmu. Cinta sejati tidak selamanya tersenyum dan membawa kabar membahagiakan. Kadang ia hanya diam, menunggumu mendekat. Tapi percayalah ia mendengar apapun tentang kamu. Cinta sejati tak selamanya memberimu kenyamanan seperti kereta kecana bertahta emas. Kadang ia hanya menggenggam tanganmu dan berjalan menyusuri taman dan kolam kotor dan menunjukkan kehidupan ikan yang sulit. Itu berarti cinta sejatimu berharap kamu sanggup bersamanya dalam keadaan apapun. Baik suka maupun duka. Namun, Cinta sejati tetaplah cinta yang apa adanya. Kadang rapuh kadang terluka. Jadi, cinta sejati juga tetap harus di pupuk dengan kesetiaan dan kejujuran."

"Ayah, jika aku telah bertemu dengan cinta sejatiku. Apakah aku akan seperti ibu yang bahagia dengan ayah."

"Pasti... Jika kamu yakin ia orangnya. Dan jika ia sanggup menjagamu seperti menjaga dirinya. Kamu harus tahu kamu adalah tulang rusuk dari cinta sejatimu sendiri."

"Ayah, bagaimana aku menyampaikannya padanya jika aku yakin ia sudah datang?"

"Cukup tatap hatinya. Beri tahu betapa ia penting untukmu. Sesuatu yang di tanam dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Cinta akan datang disaat yang tepat. Bersabarlah jika ia masih terdiam padamu. Jika ia masih belum menyadarinya. Berusahalah sayang. Cinta akan menyapamu di kala yang tepat."

"Amin. Semoga Tuhan membantuku menyampaikan rasa itu, Ayah."

"Amin."


-tamat-

No comments:

Post a Comment