Part 8
SIASAT LICIK RAJA ARJI
Keesokan harinya, Raja Arji mendatangi Paviliun
Pangeran Dewo. Pangeran Dekik yang posisinya tidak terlalu jauh dari sana
mendengar derap banyak langkah kaki yang lewat didepan Paviliunnya. Dia segera
mendekati jendela. Disibaknya sedikit tirai yang menutupi pandangan mata.
Didapatinya Raja Arji dan pengawal sedang menuju ke Paviliun Pangeran Dewo.
"Pasti sesuatu terjadi." ujar Pangeran Dekik mengendus suatu masalah.
Pangeran Dekik mencoba keluar dari Paviliunnya
dan pelan-pelan mencuri langkah mendekat ke Paviliun Pangeran Dewo. Pangeran
Dekik berhenti di titik pandangan yang paling aman dan dimana suara keduanya
dapat tertangkap kedua telinganya. Pangeran Dekik pun terdiam menyimak
percakapan yang berlangsung di balik bilik Paviliun itu, berharap mendapat
suatu informasi penting untuk Nyai Dempul dan kerajaannya.
Sementara itu, Raja Arji memulai percakapan itu
tanpa basa basi sedikit pun. "Aku hendak membicarakan hal penting padamu.
Aku ingin kau menikah dengan Nyai Dempul." seru Raja Arji.
"Ayah, bagaimana mungkin! Kau sudah
membuat kesepakatan dengan Pangeran Dekik untuk menikahkan Nyai Dempul
dengannya. Itu tidak adil, Ayah." tolak Pangeran Dewo yang terkejut
setengah mati.
"Persetan dengan kesepakatan itu. Aku
hanya ingin menggiringnya kemari dan menjadikannya umpan. Tapi keberadaanya
sekarang sudah semakin tidak bagus. Nampaknya aku melihat ada kerjasama yang
sangat membahayakan antara dirinya dengan Nimas Naratih." ungkap Raja Arji
lagi. Pangeran Dewo terbelalak mendengar ayahnya menyebutkan nama Nimas.
"Kau terkejut mendengarku memanggilnya
Nimas, hah? Tenang saja, aku tidak terlalu bodoh untuk mengetahui bahwa dia membohongiku
dengan lupa ingatannya itu. Aku sengaja tidak membunuhnya karena aku melihat
peluang menyatukan dua kerajaan agar kekuasaanku semakin besar. Cukup mudah
bukan untuk mengetahui siapa-siapa saja yang mencintai gadis bodoh itu. Sapardi
pun masuk perangkapku!" ujar Raja Arji terang-terangan.
"Kau jahat, Ayah! Apa yang ada
dipikiranmu?" sahut Pangeran Dewo marah.
"Aku jahat? Aku tidak jahat, Dewo!
Kerajaan ini akan jadi milik kita dan kau bisa menjadikan Nimas Naratih sebagai
istrimu. Bukankah kau mencintainya? Bukankah kau tak pernah rela melihatnya
bersama Sapardi, hah?" desak Raja Arji tanpa henti.
Pangeran Dewo menahan letupan amarah yang
memenuhi dadanya. "Hentikan, Ayah. Aku mohon." ujarnya memohon.
"Sudah sekian lama aku menantikan hal ini.
Kau bilang hentikan? Tinggal sedikit lagi aku akan mendapatkan apa yang aku
inginkan. Semua... yang kuinginkan. Para penasehat dan petinggi telah tunduk
padaku. Aku akan mulai menyingkirkan orang-orang yang tidak tunduk padaku. Aku
tidak main-main, Dewo. Mudah bagiku untuk menghilangkan nyawa Nimas saat ini
juga. Sekarang semua keputusan ada ditanganmu." tegas Raja Arji.
Pangeran Dewo menghentakan kaki saking
kesalnya. Tak menyangka bahwa ayahnya akan melakukan hal sekeji itu apalagi
menjadikan nyawa Nyai Dempul sebagai taruhannya. Benar-benar tak sampai hati
dirinya mengorbankan perasaan Nyai Dempul terhadap Pangeran Dekik. Bukan karena
dia harus kehilangan perasaan yang sama, tapi ini karena soal nyawa! Sepertinya
dia harus ikut dalam permainan yang diciptakan ayahnya.
Satu-satunya cara untuk menggagalkan rencana
ini adalah mengetahui terlebih dahulu siapa-siapa yang telah mendukung rencana
gila ini lalu kembali menghasut manusia-manusia didalamnya. Dia harus
melakukannya secepat yang dia mampu dan tanpa diketahui siapapun, termasuk Nyai
Dempul. "Aku akan menikahinya, Ayah. Tapi berikan aku waktu untuk
menaklukan hatinya." ujar Pangeran Dewo sambil meminta syarat khusus.
"Syaratmu kukabulkan. Tapi tak lebih dari
datangnya purnama ketujuh." titah Raja Arji. "Lebih dari itu, tak ada
lagi kesepakatan. Kau nikahkan dia atau kusingkirkan dia saat itu juga."
lanjutnya lagi. Pangeran Dewo hanya menghela nafas panjang. Benar-benar
berharap bahwa perpanjangan waktu ini bisa menghadiahinya sesuatu yang bisa
menghentikan tindakan busuk ayahnya. Pangeran Dewo terdiam tak bisa memberikan
janji pasti.
Tak hanya Pangeran Dewo yang dibuat marah,
Pangeran Dekik yang sedari tadi mengikuti setiap percakapan itu pun setengah
mati menahan emosinya. Bahkan berkali-kali dia mengutuk perbuatan keji Raja
Arji. Tanpa sadar dia mengepalkan tangannya dan meninju laju angin keras-keras.
Pangeran Dekik berpikir keras bagaimana dia harus menghentikan semua ini,
sementara keberadaannya disini justru semakin membahayakan nyawa Nyai Dempul.
Tapi meninggalkannya sama saja melepas amanah dari mendiang Raja Adipta.
"Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" geramnya dalam hati.
Pangeran Dekik kembali berusaha fokus terhadap
percakapan yang sepertinya masih berlangsung. Terdengar Pangeran Dewo
mengajukan pertanyaan mengenai dirinya. Pangeran Dekik langsung mempertajam
indera pendengarannya. Raja Arji memulai menjawab pertanyaan itu, "Dia
umpanku untuk membuktikan bahwa sebenarnya Nimas Naratih hanya berpura-pura
hilang ingatan. Ternyata cinta bodoh mereka sangat membantuku dalam membongkar
sandiwara ini. Mereka pikir mereka bisa mengambil alih kembali kerajaan ini.
Aku pikir sudah saatnya aku menyingkirkan Sapardi, dia sudah tidak ada gunanya
lagi. Toh, aku sudah menduga bahwa dia tidak akan menjalankan kesepakatan agar
kerajaan kita kembali bekerja sama dengan kerajaannya." Pangeran Dewo
kembali terdiam.
Sementara, Pangeran Dekik seketika itu pula bergegas kembali ke
Paviliunnya, dia harus mencari akal supaya dia masih bisa berlenggang bebas
tanpa dibayang-bayangi menjadi target pembunuhan Raja Arji. Dia harus bisa
bertahan disini sampai perang angin utara bisa digagalkan.
Pangeran
Dewo hanya bisa terdiam hingga akhir percakapan itu. Bahkan hingga Raja Arji
meninggalkan Paviliunnya. Pandangannya masih kosong. Rongrongan segala
kemungkinan yang bisa terjadi di hari esok seakan mencekam pikirannya. Apalagi
soal tuntutan untuk menikahi Nyai Dempul. Sudah pasti ketidaksetujuan yang akan
keluar dari bibir Nyai Dempul. Hati itu bahkan tak sedikitpun bergerak mendekat
kepadanya.
Siasat
licik Raja Arji benar-benar membuat Pangeran Dewo mati kutu. Ruang geraknya
terbatasi. Pilihannya pun ditiadakan. Ya, satu-satunya jalan saat ini adalah
menggangguk iya untuk permintaan gila ayahnya. Tetapi dia tetap akan mencari
celah untuk membuat para penasehat dan petinggi beralih pihak kepadanya, kepada
Nyai Dempul terutama. Dan untuk mewujudkan semua itu, dia akan melakukan segala
yang dia bisa.
Dilain
pihak, Pangeran Dekik masih terkejut dan tak menyangka dengan apa yang barusan
dia dengar. Semuanya! Emosinya mendadak membuncah. Ingin berteriak
sekeras-kerasnya. Tapi yang ada, hanya pengoyakan gila-gilaan terhadap
keningnya sendiri. Dia harus terlihat berpindah kubu. Ya, benar... dia akan
pura-pura menjadi jahat dan tamak seperti Raja Arji. Akhirnya aku tahu apa
maksud gulungan pertama itu!
"Akhirnya
aku tahu apa maksud gulungan pertama itu." batin Pangeran Dekik. Tapi
sepertinya dia tidak akan memberitahu rencananya ini kepada Nyai Dempul.
Membeberkan rencana ini hanya akan membuat Nyai Dempul khawatir. Lebih baik dia
tidak tahu dan berpikir semua yang dilihatnya nanti adalah benar. Semakin marah
Nyai Dempul semakin bagus. Itu artinya Raja Arji juga mungkin akan percaya.
Malam
itu, baik Pangeran Dekik maupun Pangeran Dewo memutar otaknya, mengatur rencana
yang paling halus yang tak bisa dibaca Raja Arji atau bahkan oleh Nyai Dempul
sekalipun. Mereka sama-sama akan mengunci rapat-rapat bibir mereka setelah
mereka tahu betul langkah apa yang akan diambil. Dan tanpa mereka sadari,
mereka justru menyeret Nyai Dempul lebih dekat kepada satu titik yaitu hilang
arah.
No comments:
Post a Comment