Monday, 30 June 2014

Cerbung: Pangeran Dekik dan Nyai Dempul (part 8)

Part 8

SIASAT LICIK RAJA ARJI


Keesokan harinya, Raja Arji mendatangi Paviliun Pangeran Dewo. Pangeran Dekik yang posisinya tidak terlalu jauh dari sana mendengar derap banyak langkah kaki yang lewat didepan Paviliunnya. Dia segera mendekati jendela. Disibaknya sedikit tirai yang menutupi pandangan mata. Didapatinya Raja Arji dan pengawal sedang menuju ke Paviliun Pangeran Dewo. "Pasti sesuatu terjadi." ujar Pangeran Dekik mengendus suatu masalah.

Pangeran Dekik mencoba keluar dari Paviliunnya dan pelan-pelan mencuri langkah mendekat ke Paviliun Pangeran Dewo. Pangeran Dekik berhenti di titik pandangan yang paling aman dan dimana suara keduanya dapat tertangkap kedua telinganya. Pangeran Dekik pun terdiam menyimak percakapan yang berlangsung di balik bilik Paviliun itu, berharap mendapat suatu informasi penting untuk Nyai Dempul dan kerajaannya.

Sementara itu, Raja Arji memulai percakapan itu tanpa basa basi sedikit pun. "Aku hendak membicarakan hal penting padamu. Aku ingin kau menikah dengan Nyai Dempul." seru Raja Arji.

"Ayah, bagaimana mungkin! Kau sudah membuat kesepakatan dengan Pangeran Dekik untuk menikahkan Nyai Dempul dengannya. Itu tidak adil, Ayah." tolak Pangeran Dewo yang terkejut setengah mati.

"Persetan dengan kesepakatan itu. Aku hanya ingin menggiringnya kemari dan menjadikannya umpan. Tapi keberadaanya sekarang sudah semakin tidak bagus. Nampaknya aku melihat ada kerjasama yang sangat membahayakan antara dirinya dengan Nimas Naratih." ungkap Raja Arji lagi. Pangeran Dewo terbelalak mendengar ayahnya menyebutkan nama Nimas.

"Kau terkejut mendengarku memanggilnya Nimas, hah? Tenang saja, aku tidak terlalu bodoh untuk mengetahui bahwa dia membohongiku dengan lupa ingatannya itu. Aku sengaja tidak membunuhnya karena aku melihat peluang menyatukan dua kerajaan agar kekuasaanku semakin besar. Cukup mudah bukan untuk mengetahui siapa-siapa saja yang mencintai gadis bodoh itu. Sapardi pun masuk perangkapku!" ujar Raja Arji terang-terangan.

"Kau jahat, Ayah! Apa yang ada dipikiranmu?" sahut Pangeran Dewo marah.

"Aku jahat? Aku tidak jahat, Dewo! Kerajaan ini akan jadi milik kita dan kau bisa menjadikan Nimas Naratih sebagai istrimu. Bukankah kau mencintainya? Bukankah kau tak pernah rela melihatnya bersama Sapardi, hah?" desak Raja Arji tanpa henti.

Pangeran Dewo menahan letupan amarah yang memenuhi dadanya. "Hentikan, Ayah. Aku mohon." ujarnya memohon.

"Sudah sekian lama aku menantikan hal ini. Kau bilang hentikan? Tinggal sedikit lagi aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan. Semua... yang kuinginkan. Para penasehat dan petinggi telah tunduk padaku. Aku akan mulai menyingkirkan orang-orang yang tidak tunduk padaku. Aku tidak main-main, Dewo. Mudah bagiku untuk menghilangkan nyawa Nimas saat ini juga. Sekarang semua keputusan ada ditanganmu." tegas Raja Arji.

Pangeran Dewo menghentakan kaki saking kesalnya. Tak menyangka bahwa ayahnya akan melakukan hal sekeji itu apalagi menjadikan nyawa Nyai Dempul sebagai taruhannya. Benar-benar tak sampai hati dirinya mengorbankan perasaan Nyai Dempul terhadap Pangeran Dekik. Bukan karena dia harus kehilangan perasaan yang sama, tapi ini karena soal nyawa! Sepertinya dia harus ikut dalam permainan yang diciptakan ayahnya.

Satu-satunya cara untuk menggagalkan rencana ini adalah mengetahui terlebih dahulu siapa-siapa yang telah mendukung rencana gila ini lalu kembali menghasut manusia-manusia didalamnya. Dia harus melakukannya secepat yang dia mampu dan tanpa diketahui siapapun, termasuk Nyai Dempul. "Aku akan menikahinya, Ayah. Tapi berikan aku waktu untuk menaklukan hatinya." ujar Pangeran Dewo sambil meminta syarat khusus.

"Syaratmu kukabulkan. Tapi tak lebih dari datangnya purnama ketujuh." titah Raja Arji. "Lebih dari itu, tak ada lagi kesepakatan. Kau nikahkan dia atau kusingkirkan dia saat itu juga." lanjutnya lagi. Pangeran Dewo hanya menghela nafas panjang. Benar-benar berharap bahwa perpanjangan waktu ini bisa menghadiahinya sesuatu yang bisa menghentikan tindakan busuk ayahnya. Pangeran Dewo terdiam tak bisa memberikan janji pasti.

Tak hanya Pangeran Dewo yang dibuat marah, Pangeran Dekik yang sedari tadi mengikuti setiap percakapan itu pun setengah mati menahan emosinya. Bahkan berkali-kali dia mengutuk perbuatan keji Raja Arji. Tanpa sadar dia mengepalkan tangannya dan meninju laju angin keras-keras. Pangeran Dekik berpikir keras bagaimana dia harus menghentikan semua ini, sementara keberadaannya disini justru semakin membahayakan nyawa Nyai Dempul. Tapi meninggalkannya sama saja melepas amanah dari mendiang Raja Adipta. "Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" geramnya dalam hati.

Pangeran Dekik kembali berusaha fokus terhadap percakapan yang sepertinya masih berlangsung. Terdengar Pangeran Dewo mengajukan pertanyaan mengenai dirinya. Pangeran Dekik langsung mempertajam indera pendengarannya. Raja Arji memulai menjawab pertanyaan itu, "Dia umpanku untuk membuktikan bahwa sebenarnya Nimas Naratih hanya berpura-pura hilang ingatan. Ternyata cinta bodoh mereka sangat membantuku dalam membongkar sandiwara ini. Mereka pikir mereka bisa mengambil alih kembali kerajaan ini. Aku pikir sudah saatnya aku menyingkirkan Sapardi, dia sudah tidak ada gunanya lagi. Toh, aku sudah menduga bahwa dia tidak akan menjalankan kesepakatan agar kerajaan kita kembali bekerja sama dengan kerajaannya." Pangeran Dewo kembali terdiam.

Sementara, Pangeran Dekik seketika itu pula bergegas kembali ke Paviliunnya, dia harus mencari akal supaya dia masih bisa berlenggang bebas tanpa dibayang-bayangi menjadi target pembunuhan Raja Arji. Dia harus bisa bertahan disini sampai perang angin utara bisa digagalkan.

Pangeran Dewo hanya bisa terdiam hingga akhir percakapan itu. Bahkan hingga Raja Arji meninggalkan Paviliunnya. Pandangannya masih kosong. Rongrongan segala kemungkinan yang bisa terjadi di hari esok seakan mencekam pikirannya. Apalagi soal tuntutan untuk menikahi Nyai Dempul. Sudah pasti ketidaksetujuan yang akan keluar dari bibir Nyai Dempul. Hati itu bahkan tak sedikitpun bergerak mendekat kepadanya.

Siasat licik Raja Arji benar-benar membuat Pangeran Dewo mati kutu. Ruang geraknya terbatasi. Pilihannya pun ditiadakan. Ya, satu-satunya jalan saat ini adalah menggangguk iya untuk permintaan gila ayahnya. Tetapi dia tetap akan mencari celah untuk membuat para penasehat dan petinggi beralih pihak kepadanya, kepada Nyai Dempul terutama. Dan untuk mewujudkan semua itu, dia akan melakukan segala yang dia bisa.

Dilain pihak, Pangeran Dekik masih terkejut dan tak menyangka dengan apa yang barusan dia dengar. Semuanya! Emosinya mendadak membuncah. Ingin berteriak sekeras-kerasnya. Tapi yang ada, hanya pengoyakan gila-gilaan terhadap keningnya sendiri. Dia harus terlihat berpindah kubu. Ya, benar... dia akan pura-pura menjadi jahat dan tamak seperti Raja Arji. Akhirnya aku tahu apa maksud gulungan pertama itu!

"Akhirnya aku tahu apa maksud gulungan pertama itu." batin Pangeran Dekik. Tapi sepertinya dia tidak akan memberitahu rencananya ini kepada Nyai Dempul. Membeberkan rencana ini hanya akan membuat Nyai Dempul khawatir. Lebih baik dia tidak tahu dan berpikir semua yang dilihatnya nanti adalah benar. Semakin marah Nyai Dempul semakin bagus. Itu artinya Raja Arji juga mungkin akan percaya.

Malam itu, baik Pangeran Dekik maupun Pangeran Dewo memutar otaknya, mengatur rencana yang paling halus yang tak bisa dibaca Raja Arji atau bahkan oleh Nyai Dempul sekalipun. Mereka sama-sama akan mengunci rapat-rapat bibir mereka setelah mereka tahu betul langkah apa yang akan diambil. Dan tanpa mereka sadari, mereka justru menyeret Nyai Dempul lebih dekat kepada satu titik yaitu hilang arah.

■■■■

No comments:

Post a Comment