Part 12
PERANG ANGIN UTARA DAN AKHIR DARI SEGALA PERMULAAN
Tibalah hari yang dinanti-nanti Raja Arji.
Pencarian harta karun dan penjebakan massal. Raja Arji percaya bahwa
kekuasaannya akan semakin kuat, luas, dan pastinya semakin berlimpah kekayaan. Raja
Arji akan memimpin di barisan terdepan. Diikuti Pangeran Dewo dan Pangeran
Dekik dibelakangnya. Kuda-kuda andalan mereka pun sudah berada di mulut gerbang
kerajaan. Pasukan khusus Pangeran Dewo sudah siap dalam barisan.
Begitu juga, Pasukan Pangeran Dekik yang tidak
terlalu banyak, tapi memegang peranan penting sebagai penunjuk jalan menuju
Bukit Utara. Sebelum semuanya bergerak kesana, mereka semua berdoa. Termasuk
Nyai Dempul yang tidak ikut serta dalam momentum tersebut. Pangeran Dewo
memintanya untuk tetap tinggal di kerajaan. Dia mencoba menurut pada Pangeran
Dewo. Namun, hatinya ingin berteriak memanggil nama Pangeran Dekik.
Nyai Dempul ingin meneriakkan nama Pangeran
Dekik dan memintanya untuk kembali dalam keadaan hidup-hidup. Dia tidak tahu
apakah Raja Arji akan bersikap adil atau tidak. Jika tidak, pastilah ancaman
yang akan menghambat perjalanan Pangeran Dekik. Tapi sayangnya, lidah Nyai
Dempul kelu. Dia hanya bisa melempar pandangan nanar kearah Pangeran Dekik.
Mereka pun berangkat menuju Bukit Utara. Hari
ini adalah beberapa hari menuju Bulan Purnama Ketujuh. Seperti yang telah
diramalkan. Nyai Dempul terus menerus berdoa agar kelak tidak terjadi perang
angin utara. Pangeran Dekik bisa mati konyol jika Raja Arji bertindak diluar
nalar. Nyai Dempul mondar-mandir, perasaannya tak keruan. Duduk berdiri. Duduk
berdiri. Benar-benar khawatir. Dia akhirnya memutuskan menyusul.
Bukit Utara tak jauh dari Kerajaan Elang Putih.
Namun, medannya yang curam dan dikelilingi hutan belantara cukup menghambat
laju mereka. Berkali-kali Raja Arji membuka peta dan memastikan mereka semua
tidak tersesat. "Masih berapa jauh, Sapardi?" tanya Raja Arji
memastikan. Tanpa disangka kalimat itu merupakan kode bagi para eksekutor yang
berperan menjebak Pangeran Dekik dan pasukannya.
Pangeran Dekik menjawab pertanyaan itu.
"Sebentar lagi. Kira-kira pada saat posisi matahari berada sejajar diatas
kepala kita, Yang Mulia."
Raja Arji menyeringai, "Bagus. Sebentar
lagi kau akan tamat Sapardi." ungkap Raja Arji dalam hati. Sudah ada dalam
benaknya, bagaimana dia akan membuat Pangeran Dekik bertekut lutut memohon
ampun padanya.
Matahari sudah kian menyengat. Tanda silang di
peta Bukit Utara pun sudah kian dekat. Apalagi ketika, Pangeran Dekik
mengangkat sebelah tangannya pertanda telah benar-benar sampai. Sebuah dataran
luas yang indah di atas bukit ini. Beberapa tanaman dan pepohonan langka yang
sangat diperlukan dalam dunia pertabiban. Raja Arji pun ikut mengangkat tangan
untuk memberhentikan seluruh pasukannya.
"Kita sudah sampai, Yang Mulia."
sahut Pangeran Dekik yang sudah turun dari punggung kudanya dan berjalan
mendekat dengan Raja Arji yang masih duduk menunggangi kudanya. Raja Arji pun
turun.
Tapi tiba-tiba sebuah pedang mendarat tak jauh
di leher Pangeran Dekik, Pedang Raja Arji. "Tunjukkan, dimana harta itu
berada?" Raja Arji hendak menjebak Pangeran Dekik rupanya. "Katakan
dimanaaa???" bentak Raja Arji sekali lagi.
"Yang Mulia... Apa maksud anda? Bukankah
kita sudah sepakat untuk kembali bekerja sama? Mengapa kau melayangkan pedangmu
dan menodongku seperti ini?" tanya Pangeran Dekik yang terlihat kaget,
meskipun dia sudah memprediksikan hal ini jauh-jauh hari.
"Hah?! Bekerja sama dengan kerajaanku.
Omong kosong. Sudahlah, aku mengerti Romomu pun tak pernah menginginkan
kerjasama ini, kan?" Jawab Raja Arji bengis.
Pangeran Dekik mengedarkan pandangan ke
sekelilinganya. Dia tersudut, pasukannya pun sudah dikepung oleh pasukan khusus
Pangeran Dewo. Pedang-pedang tajam sudah siap untuk dihunuskan kepada
pasukannya. "Kenapa Sapardi? Kau terkejut? Hahaha... Apa kau pikir aku
rela membagi-bagi harta karun ini juga kepadamu." tandas Raja Arji semakin
menyudutkannya.
"Kau berhadapan dengan orang yang
salah" Ancam Pangeran Dekik marah.
"Uuh... Lantas aku harus takut padamu.
Hahaha... Bisa apa kau, Pangeran. Kau sudah tersudut, terkepung, menyerahlah.
Atau kau menginginkan sebuah perang yang sudah lama diramalkan terjadi?"
sahut Raja Arji mengejek. Pangeran Dekik termenung sejenak, tiba-tiba dia
teringat sebuah ramalan tentang Perang Angin Utara. Dia kembali mengingat semua
kata-kata yang ada dalam gulungan surat kedua.
Tidak akan ada Perang selama bulan purnama
ketujuh belum bersinar. Peta kekuatan yang tak bisa dijelaskan. Musuh menjadi
pembela. Pembela. menjadi musuh. Raja Arji telah menjadi musuhnya sekarang.
Berarti akan ada yang menjadi pembela untuknya. Siapa? Siapa? Tunjukkan dia,
kumohon. Benar saja, sebuah derap langkah kaki kuda mendadak terdengar. Semakin
jelas terdengar. Tidak hanya satu kuda tapi beberapa.
Seseorang berada di depan memimpin mereka.
Semuanya menggunakan cadar hitam yang menutupi wajah mereka. Raja Arji
terkesiap dan langsung waspada. Orang tersebut turun dan mendekati Raja Arji.
"Siapa kau?" tanya Raja Arji yang mulai tampak khawatir. Bukannya
jawaban namun sebilah pedang justru membelai tengkuk Raja Arji. Raja Arji kita
senasib dengan Pangeran Dekik.
"Kau kalah, Raja." tegas seseorang
bercadar itu.
"Kau sudah kalah, Raja Arji." Orang
tersebut menarik lepas cadar hitamnya. Betapa terkejutnya Raja Arji, tidak...
tidak... Pangeran Dewo bahkan Pangeran Dekik pun dibuatnya terkejut...
"Nimas!" Nyai Dempul berdiri tegak menodongkan pedangnya pada Raja
Arji. "Aku kalah? Tidak mungkin. Hahaha... Punya apa kau? Bahkan
orang-orang yang mendukungmu pun tidak ada." sahut Raja Arji yang masih
mencoba membela diri dan berpikir menang.
"Sudah kubilang kau kalah, Raja. Aku tidak
sendiri. Kau lihat, aku bersama dengan orang-orang yang mungkin tak kau
sangkakan akan menjadi lawanmu. Menyerahlah." ucap Nyai Dempul sungguh-sungguh.
"Tidak. Kalian yang akan kalah. Kalian
justru yang telah kukepung." teriak Raja Arji yang masih saja memungkiri
posisinya yang kian terjepit.
Tiba-tiba... "Tidak, Ayah. Nimas betul.
Menyerahlah. Kau memang sudah kalah." Sebuah pedang dari tangan Pangeran
Dewo ikut membelai leher sang ayah.
Raja Arji terdiam. Dilihatnya pasukan khusus
Pangeran Dewo yang tadi menodongkan pedang kearah pasukan Pangeran Dekik, kini
perlahan menarik kembali pedang mereka. Beberapa orang pengikut Nyai Dempul pun
menunjukkan wajah mereka. Mereka adalah para pejabat dan penasehat Raja Arji
yang telah berpindah kubu.
Bahkan harapan Raja Arji akan harta karun yang
melimpah pun juga tinggal angan-angan. "Dengar ini, Yang Mulia. Aku tidak
pernah menjanjikan kau akan mendapat harta karun. Ingatkah bahwa aku hanya
mengatakan harta karun yang tak ternilai harganya, bukan harta karun dalam
bentuk benda emas berlian intan permata. Itu hanya kiasan. Kau tidak berpikir
itu benar-benar harta karun, kan?" Jelas Pangeran Dekik.
"Keyakinan kami untuk kembalinya kejayaan
kerajaan Elang Putih adalah harta karun. Dan pengabdian seluruh rakyat kerajaan
adalah harta karun yang tak ternilai harganya. Kau kalah, Yang Mulia Raja Arji.
Bahkan kau mungkin kini tidak memiliki siapapun yang mendukung rencana jahatmu.
Perlu kau tahu, pasukanku yang lain sudah menunggu dibawah bukit ini. Jumlahnya
lebih dari yang kau bayangkan. KAU KALAH!!!"
Pangeran Dekik ikut menodongkan pedangnya ke
arah Raja Arji. Tiga pedang mengarah kepada Sang Raja Jahat. "Ayah, aku
mohon menyerahlah. Sudahilah segala rencana jahat ini. Kelakukanmu sudah diluar
batas normal. Kau hanya mencoreng jejak Raja Adipta yang welas asih dan
bijaksana." ujar Pangeran Dewo memohon dengan sangat. Raja Arji menyadari posisinya
yang telah kalah. Perlahan dia turunkan pedangnya.
Raja Arji melepas pedangnya ke tanah. "Aku
kalah... Aku kalaaaaaaah. Hahahaha... Aku kalah. Aku kalaaaaaah...
Hahaha..." teriaknya dengan nada yang berubah-rubah, sedih tertawa marah
lalu tertawa lagi. Tak akan ada perang angin utara sebelum bulan purnama
ketujuh bersinar itu benar menjadi kenyataan. Pangeran Dekik, Nyai Dempul, dan
Pangeran Dewo berhasil menggagalkan rencana jahat Raja Arji dengan misi mereka.
Raja Arji telah kalah. Tahta kerajaan kembali
kedalam genggaman pewaris utama Raja Adipta yaitu Nimas Naratih atau Nyai
Dempul. Kerajaan kembali normal. Para Pejabat, penasehat, pengawal, dan para
abdi merayakannya dengan pesta rakyat sebagai bentuk syukur atas kembalinya
Kerajaan Elang Putih seperti semula. Raja Arji pun diasingkan ke suatu tempat
yang dirahasiakan, tentunya dengan penjagaan ketat.
Hanya tinggal satu yang masih mengganjal
dipikiran Pangeran Dewo sebelum dia menemani sang ayah pada masa-masa kelamnya.
Dia memikirkan Nyai Dempul. Perempuan itu belum juga berhasil meraih mimpi
hidup bersama orang yang disayanginya. Bahkan semenjak Pangeran Dekik kembali
ke kerajaannya, Nyai Dempul seperti kehilangan cahaya hidupnya.
Pangeran Dewo harus melakukan sesuatu untuk
Nyai Dempul, setidaknya dia harus memastikan bahwa sepeninggalannya kelak,
perempuan itu akan hidup bahagia. Bahagia bersama orang yang menyayanginya.
Akhirnya, Dia dengan terang-terangan menemui Pangeran Dekik. Pangeran Dekik
yang juga tak kalah mengenaskan keadaannya, terlihat lebih kurus. Menahan
perasaannya dalam-dalam sungguh menyiksa. Pangeran Dewo tertawa geli.
"Dua anak manusia. Duduk termenung. Saling
memikirkan satu sama lain. Saling diam-diam mendoakan. Saling mengharapkan.
Menangis. Menyesal. Menahan ego. Bodoh! Mau sampai kapan kau seperti ini? Kau
mau menunggu uban penuh mewarnai rambutmu? Atau menunggu Nimas mati karena
nelangsa mengharapkan kau kembali. Kau mencintai Nimas. Kau sadar dan tahu itu.
Lantas apa yang menahanmu? Aku?" sahut Pangeran Dewo menasehatinya.
"Dewo?!" ucapnya kaget.
"Kalau kau merasa aku menjadi
penghalangmu. Maka kuizinkan kau mencintai Nimas. Nimas tidak mencintaiku. Dia
menganggapku sebagai seorang kakak. Tidak akan lebih dari itu. Aku memang
mencintainya tapi buat apa memiliki raganya tapi hatinya masih terpaut hingga
mati kepadamu. Kembalilah Sapardi. Nimas selalu menunggumu. Setiap hari
menunggumu. Aku mohon jagalah dia untukku." sahut Pangeran Dewo.
Bulan purnama ketujuh bersinar terang. Hari ini
Nyai Dempul merayakan hari kelahirannya ke Bumi. Tidak ada perayaan mewah. Nyai
Dempul sengaja meminta seluruh rakyat di Kerajaannya lebih menghargai satu sama
lain. Saling menyayangi. Itu sudah menjadi kado terindah untuknya. Tapi,
hatinya masih sepi. Tempat yang biasanya terisi oleh seseorang itu kini kosong.
Tidak ada Pangeran Dekik lagi. "Bopok, aku rindu padanya."
Seseorang berjalan mendekat kearah Nyai Dempul.
Tidak langsung menyapanya. Dia malah mendengarkan keluhan yang keluar dari
bibir Nyai Dempul. Mendengarkan betapa Nyai Dempul merindukan orang yang
bernama Pangeran Dekik. Betapa Nyai Dempul mengharapkan orang itu kembali
kepadanya. Seseorang itu akhirnya membuka suaranya juga. Dengan lagak
tengilnya, orang itu menegur Nyai Dempul. "Aku tak tahu bahwa kau begitu
mencintaiku?"
Nyai Dempul menoleh setelah mendengar ucapan
dari suara yang sangat dikenalnya. Suara dari orang yang setiap hari
diharapkannya. "Kang Mas Sapardi." sahutnya tak percaya.
"Maafkan aku Nimas. Maaf karena aku
membohongimu. Maaf karena aku tidak jujur padamu. Betapa aku peduli padamu.
Aku. Aku ingin kau menjadi bagian dari masa depanku. Mulai hari ini dan selamanya.
Maukah kau menjadi pendamping hidupku?"
Nyai Dempul menangis haru. Bahkan tangisnya
semakin meledak tatkala Pangeran Dekik memintanya untuk menjadi istrinya. Nyai
Dempul menggangguk. Lamaran Pangeran Dekik diterima. Selang beberapa waktu,
pernikahan pun digelar. Nyai Dempul resmi menjadi Ratu Nimas dan Pangeran Dekik
pun naik diangkat sebagai Raja Sapardi.
Mereka hidup bahagia memimpin Kerajaan Elang
Putih. Pesan mendiang Raja Adipta telah rangkum. Persahabatan kedua Kerajaan
pun kembali terjalin. Perluasan kesejahteraan dan penekanan pada pendidikan
rakyat menjadi fokus utama mereka. Mereka telah berhasil menemukan ujung dari
perjalanan panjang ini. Akhir dari segala permulaan yang tidak mereka pernah
duga. Dan kini... mereka bersiap untuk awal dari akhir kisah ini.
TAMAT
No comments:
Post a Comment