Monday, 30 June 2014

Cerbung: Pangeran Dekik dan Nyai Dempul (part 12) - Tamat

Part 12

PERANG ANGIN UTARA DAN AKHIR DARI SEGALA PERMULAAN


Tibalah hari yang dinanti-nanti Raja Arji. Pencarian harta karun dan penjebakan massal. Raja Arji percaya bahwa kekuasaannya akan semakin kuat, luas, dan pastinya semakin berlimpah kekayaan. Raja Arji akan memimpin di barisan terdepan. Diikuti Pangeran Dewo dan Pangeran Dekik dibelakangnya. Kuda-kuda andalan mereka pun sudah berada di mulut gerbang kerajaan. Pasukan khusus Pangeran Dewo sudah siap dalam barisan.

Begitu juga, Pasukan Pangeran Dekik yang tidak terlalu banyak, tapi memegang peranan penting sebagai penunjuk jalan menuju Bukit Utara. Sebelum semuanya bergerak kesana, mereka semua berdoa. Termasuk Nyai Dempul yang tidak ikut serta dalam momentum tersebut. Pangeran Dewo memintanya untuk tetap tinggal di kerajaan. Dia mencoba menurut pada Pangeran Dewo. Namun, hatinya ingin berteriak memanggil nama Pangeran Dekik.

Nyai Dempul ingin meneriakkan nama Pangeran Dekik dan memintanya untuk kembali dalam keadaan hidup-hidup. Dia tidak tahu apakah Raja Arji akan bersikap adil atau tidak. Jika tidak, pastilah ancaman yang akan menghambat perjalanan Pangeran Dekik. Tapi sayangnya, lidah Nyai Dempul kelu. Dia hanya bisa melempar pandangan nanar kearah Pangeran Dekik.

Mereka pun berangkat menuju Bukit Utara. Hari ini adalah beberapa hari menuju Bulan Purnama Ketujuh. Seperti yang telah diramalkan. Nyai Dempul terus menerus berdoa agar kelak tidak terjadi perang angin utara. Pangeran Dekik bisa mati konyol jika Raja Arji bertindak diluar nalar. Nyai Dempul mondar-mandir, perasaannya tak keruan. Duduk berdiri. Duduk berdiri. Benar-benar khawatir. Dia akhirnya memutuskan menyusul.

Bukit Utara tak jauh dari Kerajaan Elang Putih. Namun, medannya yang curam dan dikelilingi hutan belantara cukup menghambat laju mereka. Berkali-kali Raja Arji membuka peta dan memastikan mereka semua tidak tersesat. "Masih berapa jauh, Sapardi?" tanya Raja Arji memastikan. Tanpa disangka kalimat itu merupakan kode bagi para eksekutor yang berperan menjebak Pangeran Dekik dan pasukannya.

Pangeran Dekik menjawab pertanyaan itu. "Sebentar lagi. Kira-kira pada saat posisi matahari berada sejajar diatas kepala kita, Yang Mulia."

Raja Arji menyeringai, "Bagus. Sebentar lagi kau akan tamat Sapardi." ungkap Raja Arji dalam hati. Sudah ada dalam benaknya, bagaimana dia akan membuat Pangeran Dekik bertekut lutut memohon ampun padanya.

Matahari sudah kian menyengat. Tanda silang di peta Bukit Utara pun sudah kian dekat. Apalagi ketika, Pangeran Dekik mengangkat sebelah tangannya pertanda telah benar-benar sampai. Sebuah dataran luas yang indah di atas bukit ini. Beberapa tanaman dan pepohonan langka yang sangat diperlukan dalam dunia pertabiban. Raja Arji pun ikut mengangkat tangan untuk memberhentikan seluruh pasukannya.

"Kita sudah sampai, Yang Mulia." sahut Pangeran Dekik yang sudah turun dari punggung kudanya dan berjalan mendekat dengan Raja Arji yang masih duduk menunggangi kudanya. Raja Arji pun turun.

Tapi tiba-tiba sebuah pedang mendarat tak jauh di leher Pangeran Dekik, Pedang Raja Arji. "Tunjukkan, dimana harta itu berada?" Raja Arji hendak menjebak Pangeran Dekik rupanya. "Katakan dimanaaa???" bentak Raja Arji sekali lagi.

"Yang Mulia... Apa maksud anda? Bukankah kita sudah sepakat untuk kembali bekerja sama? Mengapa kau melayangkan pedangmu dan menodongku seperti ini?" tanya Pangeran Dekik yang terlihat kaget, meskipun dia sudah memprediksikan hal ini jauh-jauh hari.

"Hah?! Bekerja sama dengan kerajaanku. Omong kosong. Sudahlah, aku mengerti Romomu pun tak pernah menginginkan kerjasama ini, kan?" Jawab Raja Arji bengis.

Pangeran Dekik mengedarkan pandangan ke sekelilinganya. Dia tersudut, pasukannya pun sudah dikepung oleh pasukan khusus Pangeran Dewo. Pedang-pedang tajam sudah siap untuk dihunuskan kepada pasukannya. "Kenapa Sapardi? Kau terkejut? Hahaha... Apa kau pikir aku rela membagi-bagi harta karun ini juga kepadamu." tandas Raja Arji semakin menyudutkannya.

"Kau berhadapan dengan orang yang salah" Ancam Pangeran Dekik marah.

"Uuh... Lantas aku harus takut padamu. Hahaha... Bisa apa kau, Pangeran. Kau sudah tersudut, terkepung, menyerahlah. Atau kau menginginkan sebuah perang yang sudah lama diramalkan terjadi?" sahut Raja Arji mengejek. Pangeran Dekik termenung sejenak, tiba-tiba dia teringat sebuah ramalan tentang Perang Angin Utara. Dia kembali mengingat semua kata-kata yang ada dalam gulungan surat kedua.

Tidak akan ada Perang selama bulan purnama ketujuh belum bersinar. Peta kekuatan yang tak bisa dijelaskan. Musuh menjadi pembela. Pembela. menjadi musuh. Raja Arji telah menjadi musuhnya sekarang. Berarti akan ada yang menjadi pembela untuknya. Siapa? Siapa? Tunjukkan dia, kumohon. Benar saja, sebuah derap langkah kaki kuda mendadak terdengar. Semakin jelas terdengar. Tidak hanya satu kuda tapi beberapa.

Seseorang berada di depan memimpin mereka. Semuanya menggunakan cadar hitam yang menutupi wajah mereka. Raja Arji terkesiap dan langsung waspada. Orang tersebut turun dan mendekati Raja Arji. "Siapa kau?" tanya Raja Arji yang mulai tampak khawatir. Bukannya jawaban namun sebilah pedang justru membelai tengkuk Raja Arji. Raja Arji kita senasib dengan Pangeran Dekik.

"Kau kalah, Raja." tegas seseorang bercadar itu.

"Kau sudah kalah, Raja Arji." Orang tersebut menarik lepas cadar hitamnya. Betapa terkejutnya Raja Arji, tidak... tidak... Pangeran Dewo bahkan Pangeran Dekik pun dibuatnya terkejut... "Nimas!" Nyai Dempul berdiri tegak menodongkan pedangnya pada Raja Arji. "Aku kalah? Tidak mungkin. Hahaha... Punya apa kau? Bahkan orang-orang yang mendukungmu pun tidak ada." sahut Raja Arji yang masih mencoba membela diri dan berpikir menang.

"Sudah kubilang kau kalah, Raja. Aku tidak sendiri. Kau lihat, aku bersama dengan orang-orang yang mungkin tak kau sangkakan akan menjadi lawanmu. Menyerahlah." ucap Nyai Dempul sungguh-sungguh.

"Tidak. Kalian yang akan kalah. Kalian justru yang telah kukepung." teriak Raja Arji yang masih saja memungkiri posisinya yang kian terjepit.

Tiba-tiba... "Tidak, Ayah. Nimas betul. Menyerahlah. Kau memang sudah kalah." Sebuah pedang dari tangan Pangeran Dewo ikut membelai leher sang ayah.

Raja Arji terdiam. Dilihatnya pasukan khusus Pangeran Dewo yang tadi menodongkan pedang kearah pasukan Pangeran Dekik, kini perlahan menarik kembali pedang mereka. Beberapa orang pengikut Nyai Dempul pun menunjukkan wajah mereka. Mereka adalah para pejabat dan penasehat Raja Arji yang telah berpindah kubu.

Bahkan harapan Raja Arji akan harta karun yang melimpah pun juga tinggal angan-angan. "Dengar ini, Yang Mulia. Aku tidak pernah menjanjikan kau akan mendapat harta karun. Ingatkah bahwa aku hanya mengatakan harta karun yang tak ternilai harganya, bukan harta karun dalam bentuk benda emas berlian intan permata. Itu hanya kiasan. Kau tidak berpikir itu benar-benar harta karun, kan?" Jelas Pangeran Dekik.

"Keyakinan kami untuk kembalinya kejayaan kerajaan Elang Putih adalah harta karun. Dan pengabdian seluruh rakyat kerajaan adalah harta karun yang tak ternilai harganya. Kau kalah, Yang Mulia Raja Arji. Bahkan kau mungkin kini tidak memiliki siapapun yang mendukung rencana jahatmu. Perlu kau tahu, pasukanku yang lain sudah menunggu dibawah bukit ini. Jumlahnya lebih dari yang kau bayangkan. KAU KALAH!!!"

Pangeran Dekik ikut menodongkan pedangnya ke arah Raja Arji. Tiga pedang mengarah kepada Sang Raja Jahat. "Ayah, aku mohon menyerahlah. Sudahilah segala rencana jahat ini. Kelakukanmu sudah diluar batas normal. Kau hanya mencoreng jejak Raja Adipta yang welas asih dan bijaksana." ujar Pangeran Dewo memohon dengan sangat. Raja Arji menyadari posisinya yang telah kalah. Perlahan dia turunkan pedangnya.

Raja Arji melepas pedangnya ke tanah. "Aku kalah... Aku kalaaaaaaah. Hahahaha... Aku kalah. Aku kalaaaaaah... Hahaha..." teriaknya dengan nada yang berubah-rubah, sedih tertawa marah lalu tertawa lagi. Tak akan ada perang angin utara sebelum bulan purnama ketujuh bersinar itu benar menjadi kenyataan. Pangeran Dekik, Nyai Dempul, dan Pangeran Dewo berhasil menggagalkan rencana jahat Raja Arji dengan misi mereka.

Raja Arji telah kalah. Tahta kerajaan kembali kedalam genggaman pewaris utama Raja Adipta yaitu Nimas Naratih atau Nyai Dempul. Kerajaan kembali normal. Para Pejabat, penasehat, pengawal, dan para abdi merayakannya dengan pesta rakyat sebagai bentuk syukur atas kembalinya Kerajaan Elang Putih seperti semula. Raja Arji pun diasingkan ke suatu tempat yang dirahasiakan, tentunya dengan penjagaan ketat.

Hanya tinggal satu yang masih mengganjal dipikiran Pangeran Dewo sebelum dia menemani sang ayah pada masa-masa kelamnya. Dia memikirkan Nyai Dempul. Perempuan itu belum juga berhasil meraih mimpi hidup bersama orang yang disayanginya. Bahkan semenjak Pangeran Dekik kembali ke kerajaannya, Nyai Dempul seperti kehilangan cahaya hidupnya.

Pangeran Dewo harus melakukan sesuatu untuk Nyai Dempul, setidaknya dia harus memastikan bahwa sepeninggalannya kelak, perempuan itu akan hidup bahagia. Bahagia bersama orang yang menyayanginya. Akhirnya, Dia dengan terang-terangan menemui Pangeran Dekik. Pangeran Dekik yang juga tak kalah mengenaskan keadaannya, terlihat lebih kurus. Menahan perasaannya dalam-dalam sungguh menyiksa. Pangeran Dewo tertawa geli.

"Dua anak manusia. Duduk termenung. Saling memikirkan satu sama lain. Saling diam-diam mendoakan. Saling mengharapkan. Menangis. Menyesal. Menahan ego. Bodoh! Mau sampai kapan kau seperti ini? Kau mau menunggu uban penuh mewarnai rambutmu? Atau menunggu Nimas mati karena nelangsa mengharapkan kau kembali. Kau mencintai Nimas. Kau sadar dan tahu itu. Lantas apa yang menahanmu? Aku?" sahut Pangeran Dewo menasehatinya.

"Dewo?!" ucapnya kaget.

"Kalau kau merasa aku menjadi penghalangmu. Maka kuizinkan kau mencintai Nimas. Nimas tidak mencintaiku. Dia menganggapku sebagai seorang kakak. Tidak akan lebih dari itu. Aku memang mencintainya tapi buat apa memiliki raganya tapi hatinya masih terpaut hingga mati kepadamu. Kembalilah Sapardi. Nimas selalu menunggumu. Setiap hari menunggumu. Aku mohon jagalah dia untukku." sahut Pangeran Dewo.

Bulan purnama ketujuh bersinar terang. Hari ini Nyai Dempul merayakan hari kelahirannya ke Bumi. Tidak ada perayaan mewah. Nyai Dempul sengaja meminta seluruh rakyat di Kerajaannya lebih menghargai satu sama lain. Saling menyayangi. Itu sudah menjadi kado terindah untuknya. Tapi, hatinya masih sepi. Tempat yang biasanya terisi oleh seseorang itu kini kosong. Tidak ada Pangeran Dekik lagi. "Bopok, aku rindu padanya."

Seseorang berjalan mendekat kearah Nyai Dempul. Tidak langsung menyapanya. Dia malah mendengarkan keluhan yang keluar dari bibir Nyai Dempul. Mendengarkan betapa Nyai Dempul merindukan orang yang bernama Pangeran Dekik. Betapa Nyai Dempul mengharapkan orang itu kembali kepadanya. Seseorang itu akhirnya membuka suaranya juga. Dengan lagak tengilnya, orang itu menegur Nyai Dempul. "Aku tak tahu bahwa kau begitu mencintaiku?"

Nyai Dempul menoleh setelah mendengar ucapan dari suara yang sangat dikenalnya. Suara dari orang yang setiap hari diharapkannya. "Kang Mas Sapardi." sahutnya tak percaya.

"Maafkan aku Nimas. Maaf karena aku membohongimu. Maaf karena aku tidak jujur padamu. Betapa aku peduli padamu. Aku. Aku ingin kau menjadi bagian dari masa depanku. Mulai hari ini dan selamanya. Maukah kau menjadi pendamping hidupku?"

Nyai Dempul menangis haru. Bahkan tangisnya semakin meledak tatkala Pangeran Dekik memintanya untuk menjadi istrinya. Nyai Dempul menggangguk. Lamaran Pangeran Dekik diterima. Selang beberapa waktu, pernikahan pun digelar. Nyai Dempul resmi menjadi Ratu Nimas dan Pangeran Dekik pun naik diangkat sebagai Raja Sapardi.

Mereka hidup bahagia memimpin Kerajaan Elang Putih. Pesan mendiang Raja Adipta telah rangkum. Persahabatan kedua Kerajaan pun kembali terjalin. Perluasan kesejahteraan dan penekanan pada pendidikan rakyat menjadi fokus utama mereka. Mereka telah berhasil menemukan ujung dari perjalanan panjang ini. Akhir dari segala permulaan yang tidak mereka pernah duga. Dan kini... mereka bersiap untuk awal dari akhir kisah ini.


TAMAT

No comments:

Post a Comment