Part 14
DUNIA
HITAM
Rembulan malam ini bersinar terang. Tapi
kenyataannya, Nadala hanya bisa menangis menahan luapan kekesalan di hatinya.
Nadala terduduk begitu saja diatas bangku belajarnya. Tatapannya kian nanar,
meratapi rembulan yang nampak terkesan meledek memancarkan sinar kebahagiaannya
sebagai bulan penuh. Buku diarinya sudah terbuka pada halaman kosong yang masih
tersisa, namun tak satu huruf pun mampu dituangkan Nadala mewakili isi hatinya.
Nadala benar-benar tak menyangka kebahagiaan yang
didapatnya belakangan ini ternyata hanya sebuah rekayasa. Nadala bahkan tak
pernah menyadari bahwa dirinya tengah berada dalam satu set yang diciptakan
kakaknya sendiri. Sejak kapan? Sejak kapan skenario ini dimulai. Dadanya penuh
sesak menahan luapan emosinya. Tangannya pun mengepal keras dan dibenturkannya
pelan keatas meja belajarnya.
Rasa sakit itu bagi Nadala kembali lagi. Setelah
setahun lalu melekap, rupanya belum benar-benar pergi dari hidupnya. Lukanya
setahun yang lalu baru saja hilang bekat kedatangan seorang kakak kelasnya,
ternyata menjadi sumber kedukaan terbaru yang memperparah luka sebelumnya.
Nadala tak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Selain, mencari fokus
lain yang bisa mengalihkan kemarahannya sebelum semuanya berakhir lebih parah.
Nadala mulai menyibukkan dirinya dengan mengejar
audisi untuk pementasan drama peri menangis. Kemarin saat pulang sekolah,
Nadala menyempatkan diri untuk mendaftarkan diri dalam audisi itu di salah satu
stand pendaftaran yang disediakan. Tentunya bukan di Radio kakaknya bekerja.
Hampir setiap sore di salah satu rumah temannya, Nadala menyempatkan diri untuk
berlatih dan menghafal dialog serta lirik-lirik lagu yang juga harus
dinyanyikannya. Nadala benar-benar tenggelam dalam kesibukannya.
Dirumahnya, Nadala memilih untuk bungkam. Wajah
cerianya berubah datar. Di meja makan, Nadala menunjukkan sikap diamnya. Ibu,
Ayah, hingga Mandala pun terheran-heran dengan perubahan itu. Setiap hari
Nadala menolak ajakan kakaknya untuk mengantarkan dirinya ke sekolah, dia lebih
memilih untuk berangkat sendirian. Setiap pulang sekolah pun, Nadala langsung
masuk ke kamarnya dan baru akan keluar saat makan malam.
Mandala pun mulai semakin curiga ketika Nadala
tidak lagi bertanya atau sekedar bercerita tentang sesuatu yang dialaminya.
Nadala tidak pernah sebawel biasanya saat sedang sarapan atau makan malam
bersama. Sekarang, Nadala juga lebih sering pulang terlambat. Kamarnya kini
lebih sering kosong. Setiap kali, Mandala singgah untuk sekedar mengecek
Nadala, buku diari milik adiknya itu yang diam-diam biasa dibacanya kini
seperti benda usang yang tak pernah dijamah oleh pemiliknya itu. Lembar itu
berakhir sejak sebelum Nadala pingsan tempo hari.
Di sekolah, Nadala memilih menghindari Prisma.
Setiap kali Prisma mendekatinya, Nadala selalu berusaha untuk mencari alasan
untuk beranjak dari tempatnya berdiri. Nadala juga selalu pulang lebih awal
agar Prisma kehilangan jejaknya. Bagaimana pun kondisinya, Nadala harus
berhasil keluar dari pantauan Prisma. Apapun caranya, Nadala harus merentangkan
jarak selebar-lebarnya antara dirinya dan Prisma.
Prisma mulai menyadari ada yang tidak beres
dengan target penjagaannya. Nadala mendadak sulit ditemui dan dijangkau. Prisma
juga mulai kehilangan cara untuk menemuinya atau untuk sekedar mengejar saat
pulang sekolah. Bahkan akses komunikasi pun seakan terputus karena tak ada satu
telepon pun yang dijawabnya, tak ada satu sms pun yang dibalaspun, atau tak ada
satu pun pesan yang dibalas di sosial media milik Nadala yang diketahuinya.
Prisma sedang menghabiskan waktu istirahatnya. Di
depannya sudah terhidang segelas es jeruk. Saat meneguknya, Prisma pun seolah
diingatkan dengan Nadala. Prisma sering sekali melihat Nadala menghabiskan jam
istirahatnya dengan segelas es jeruk. Es jeruk adalah hal pertama yang membuat
Prisma jauh lebih dekat dengan adik kelasnya itu. Prisma berharap benar-benar
ada kebetulan yang akan mempertemukannya dengan Nadala disini.
Kebetulan itu teramini. Nadala tiba-tiba muncul
dari balik kerumunan siswa yang sedang lalu lalang di dalam kantin. “Nad.”
Panggil Prisma sambil berjalan mendekati Nadala. Nadala menoleh, “Ya.” jawab
Nadala singkat. “Sibuk banget. Sampai nggak ada kabar.” Sahut Prisma sambil
melempar senyum ringan kearah Nadala. Nadala berusaha membalas senyum itu
seadanya, “Iya, gitu deh. Sibuk.” Jawab Nadala dengan sedikit menggantung.
Mereka berdiri berhadapan. Diam-diam Prisma
merekam perubahan ekspresi wajah Nadala. Senyum itu tak lagi merekah seperti
biasanya. Tiba-tiba, handphone Prisma berdering. Diambilnya handphone tersebut
dari saku celananya. Melihat nama Mandala menghiasi layar monitor handphone
miliknya. Prisma menegang. Matanya melotot tanya dan sesekali menatap Nadala
seperti memastikan bahwa Nadala tak akan tahu siapa menelepon ini. Prisma
nampak serba salah. Akhirnya diputuskan untuk segera meninggalkan tempat itu.
Prisma harus mengangkat telepon yang masuk dari Mandala secepatnya tanpa
diketahui oleh Nadala. “Duluan ya, Nad.” Prisma menyudahi percakapannya dan
berlalu begitu saja dari hadapan Nadala.
Sekarang ganti Nadala yang curiga. Dikuntitnya
Prisma hingga didengarnya suatu rencana pertemuan antara Prisma dan Kakaknya
sore hari ini. “Pulang sekolah. Warung kopi. Dan sebuah kejutan untuk kalian
berdua.” Ucap Nadala bersungguh-sungguh. Nadala pun tak sedikitpun ketinggalan
momen penting untuk memberi sedikit pelajaran bagi kakaknya dan Prisma. Sedikit
saja, agar mereka berdua mengerti betapa dirinya tidak suka dipermainkan
seperti ini.
Sementara itu, Andria memilih menikmati istirahat
siangnya di perpustakaan dengan membaca buku dongeng. Diperpustakaan sekolahnya
ada sebuah rak khusus yang menyajikan kumpulan buku dongeng. Kali ini dia
mengambil sebuah buku dongeng dari rak tersebut serta memilih duduk di bangku
paling pojok sehingga tidak terlalu terganggu dengan lalu lalang teman-temannya
yang juga berada disana.
Dibukanya buku itu, tapi tak ada satupun dari
sederet kata-kata yang berhasil masuk ke kepalanya. Pikirannya terlalu
didominasi oleh memori kejadian beberapa malam yang lalu. Andria tidak bisa
mengenyahkan apa yang telah dilihat waktu itu. Andria termangu. Matanya memang
mengarah menatap buku dongeng namun fokus pikirannya mengawang entah dimana.
Sejak malam itu, Andria juga memilih menghindari tempat-tempat dimana Vero
selalu ada.
Lamunan Andria semakin dalam hingga tak menyadari
bahwa ada yang duduk dihadapannya dan berdehem keras. “Ehem.” Satu suara
membuyarkan lamunan Andria. Andria gelagapan mendapati Vero sudah duduk manis
menopang dagu dengan kedua punggung tangannya. Andria sampai spontan berdiri
dan bergerak mundur. “Elo.” Pekik Andria kaget. “Biasa aja kali. Ngeliat gue
kayak ngeliat setan.” Balas Vero ngeledek, “Duduk.” Jari telunjuk Vero mengarah
ke Andria lalu bergeser ke arah bangku yang barusan Andria duduki.
Meskipun ragu karena masih diliputi kekagetan dan
ketidaktahuan harus bersikap seperti apa pasca kejadian malam itu, Andria
akhirnya duduk lagi. Dengan terbata, Andria berusaha menyapa Vero, “Ngapain lo
kesini?” Andria lalu pura-pura fokus ke buku dongeng didepannya, hanya saja
kepura-puraannya terbaca jelas oleh Vero. Vero langsung mengambil buku dongeng
Andria. “Eh, gue lagi baca itu buku. Balikin nggak?” sahut Andria yang berusaha
merebut kembali.
Vero tidak mau memberikan kembali buku itu kepada
Andria. Diletakkan buku itu di bangku sebelahnya. “Nggak mau. Lagian yang
namanya baca buku itu dimana-mana tuh konsen. Nah elo, buku dimana mata dimana
pikiran juga dimana.” Tandas Vero terang-terangan. Andria kaget karena
gelagatnya terbaca. “Balikin nggak. Gue lagi baca tahu.” Ujar Andria yang
berusaha melototkan matanya. “Nggak usah sok melotot.” Tegas Vero. Andria
menyerah dan langsung menormalkan ekspresinya.
Jari jemari Andria mengetuk pelan meja perpus
seakan menunjukkan bahwa Andria cukup tidak nyaman dengan keberadaan seseorang
didepannya itu, “Kayaknya perpus ini untuk tempat baca buku bukan tempat untuk
ganggu orang.” Sahut Andria mengingatkan. Sayangnya, Vero bukan tipikal orang
yang gampang dienyahkan. Bukan kepergiaan yang didapat, Andria justru mendapat
serangan balik yang telak. “Dan setahu gue juga perpus ini memang tempat buat
baca buku bukan tempat untuk menghindari orang lain deh.”
Andria tertohok mendengar penyataan Vero barusan.
Andria sadar Vero baru saja menyindirnya, mengingat sudah sekian hari dia
berusaha menghindarinya. Andria tahu bahwa penghindarannya terlalu kentara bagi
Vero. Setiap kali Vero sudah melihatnya, langkah Andria selalu mundur teratur
menjauhi keberadaan Vero. Dan hal itu selalu Andria lakukan selama beberapa
hari ini.
“Kenapa diem? Kesindir ya?” tanya Vero telak.
Mata Andria terbelalak tak menyangka diserang dua kali. “Kesindir untuk hal
apa?” balas Andria tak mau kalah. “Untuk penghindaran yang lo lakukan terhadap
gue beberapa hari ini.” Ujar Vero serius. “Siapa sih yang ngindarin elo, Bocah?
Sok iya banget.” Jawab Andria tak terima dengan tuduhan yang sebetulnya benar
adanya. “Oh jelas, gue iya banget. Cara lo ngejauhin gue itu keliatan banget
kali. Lo kenapa sih?” ujar Vero memastikan.
“Apaan sih? Nggak ada apa-apa. Lagian siapa juga
sih yang ngindarin elo. Gue sih perasaan disini-sini aja. Elo aja kali yang
kemana-mana.” Andria berdalih dengan pandangan mata yang dilempar ke
langit-langit, bohong. Vero lagi-lagi menangkap isyarat bohong itu. “Perasaan?
Oh elo ternyata punya juga ya perasaan.” sindir Vero. “Hah?” jawab Andria
bingung. “Tadi kan lo bilang perasaan lo disini-sini aja. Itu berarti lo punya
perasaan dong. Gue kira lo nggak punya. Eh, tapi ngomong-ngomong kalo lo punya
perasaan, gue mau tahu dong perasaan lo ke gue itu kayak apa?” sahut Vero
sambil memasang tampang seriusnya lagi.
“Haaah? Apaan sih maksud lo? Lo stres ya hari
ini. Udah bikin tuduhan kalo gue ngindarin lo, trus elo ngeledek gue ternyata
gue ini masih punya perasaan. Sekarang lo nggak ada angin nggak ada hujan, lo
nanya perasaan gue ke elo itu kayak apa? Coba deh lo cek barusan lo abis makan
apa sampai omongan lo ngaco kayak gini.” Andria menjawab pertanyaan Vero dengan
pertanyaan yang sebenarnya tak ingin dia utarakan. “Gue nggak ngaco. Gue serius
dan lo paham maksud gue tentang kita. Gue suka sama lo.” Tandas Vero. Andria
terbelalak, sungguh tak menyangka.
“Oh come on, Vero. Lo datang kayak bisul dihidup
gue. Datang tanpa gue minta. Selalu ngerjain gue. Selalu bikin gue repot.
Selalu ngasih kejutan disegala bentuk kebetulan yang elo ciptakan. Dan elo
selalu muncul disekitar gue. Gue nggak ngerti maksud kehadiran lo selama ini ke
gue apa? Gue nggak kenal elo. Awalnya gue pikir gue mulai paham tapi semenjak
malam itu, gue nggak yakin. Lo nanya ke gue soal perasaan gue, trus elo udah
nanya belum sama cewek lo tentang perasaannya ke elo kalo sampai dia tahu elo
nanyain perasaan cewek lain untuk diri lo?” Andria baru saja mengutarakan
perasaan terdalamnya.
“An...” potong Vero yang kaget dengan kata-kata
Andria barusan. “Sebentar, gue belum selesai. Kalo lo mau tahu apa perasaan gue
ke elo. Jawabannya nggak ada. Plis, jangan kayak gini. Kesian cewek lo. Dia
nggak salah apa-apa sama lo. Waktu malam itu gue liat lo sama dia di cafe, lo
cocok banget sama dia. Lagian untuk pertama kalinya, gue baru ngeliat lo bahagia
banget jalan sama cewek. ” Andria beranjak dari tempatnya berdiri “Gue duluan
ya.” Andria lalu keluar dari perpustakaan meninggalkan Vero yang masih
terbengong-bengong.
Setelah Andria berada di luar perpustakaan,
barulah dia bisa meneteskan air matanya. Hitam sudah dunianya. Saat Andria
menghapus air mata di pipinya. Andria berpapasan dengan Gani. “Hai, An. Abis
dari perpus?” sapa Gani ramah. Andria hanya sanggup menjawab dengan senyum.
Lalu dia melanjutkan perjalanannya kembali ke kelas. Gani yang tidak tahu
menahu cuma bisa garuk-garuk kepala. “Senyum tapi mata sembab begitu. Ehem, gue
tau nih kerjaan siapa? Vero... Vero... hobi banget sih bikin anak orang nangis
darah.” ujar Gani geleng-geleng.
Gani berlari masuk kedalam perpustakaan, mencari
teman sepejuangannya di lapangan yang sebentar lagi akan dia mintai keterangan
seputar mata sembab Andria. “Mameeeeen... Lama-lama di perpus bertelor lho.
Lagian tumben banget lo nangkring disini.” Tegur Gani kepada Vero. “Abis ada
urusan sebentar.” Ujar Vero. “Urusan? Sama Andria maksud lo? Hayooo lo apain
anak orang sampai nangis gitu?” tanya Gani yang penasaran. “Hah? Andria nangis?
Demi apa lo?” sentak Vero kaget.
“Demi...kian... adanya yang gue liat barusan.
Tadi di depan, gue papasan sama itu anak. Eh, matanya sembab gitu kayak abis
nangis. Lo apain sampai nangis gitu?” sahut Gani menjelaskan. “Nggg... gue abis
nembak dia. Sebenarnya gue nggak niat nembak dia sekarang, nggak pas aja gitu
momennya. Tapi apa mau dikata, beberapa hari ini Andria ngindarin gue mulu.Tadi
itu, gue cuma nanya kenapa dia ngindarin gue. Eh, ini bibir malah kagak kompak.
Bawaannya mau nembak si Andria aja.” Vero menyahut lemah. “cumaaaa... gue
ditolak.” Sambungnya lagi.
“Lah, elo yang ditolak kok dia yang nangis. Dunia
yang aneh.” Ujar Gani heran. “Justru itu, gue juga bingung. Masa tadi dia
sempet bilang kalo gue udah punya cewek.” Ujar Vero. “Nah lho... Kok bisa? Eh,
emangnya lo udah punya cewek? Jangan-jangan lo emang udah punya cewek dan gue
nggak tahu lagi. Hahaha...” tanya Gani setengah tak percaya. “Wah parah lo. Ya
nggaklah. Yang ini aja setengah mati gue ngungkapinnya. Emang lo kira gue biasa
ngobral perasaan apa!” tandas Vero tak terima. “Ya teruuus... Si Andria bisa
ngomong gitu dari mana asalnya. Mungkin dia pernah ngeliat lo jalan sama siapa
gitu dimana?” sahut Gani mencoba mencari kemungkinan.
“Tunggu... tunggu deh... Tadi sih dia sempet
bilang kalo dia pernah ngeliat gue sama cewek di cafe. Nah itu cewek katanya
ngapit tangan gue. Katanya gue keliatan bahagia gitu deh. Nah, itu cewek yang
Andria bilang cewek gue.” Ungkap Vero yang mencoba mengingat. “Lo sendiri
pernah pergi sama cewek nggak ke cafe?” Sahut Gani. “Pernah sih beberapa hari
yang lalu. Tapi itu juga, gue jalannya sama adik sepupu gue yang baru datang
dari Bandung. Aaaaah gue inget sekarang...” pekik Vero.
“Beberapa hari yang
lalu itu gue sebenarnya anterin adek sepupu gue yang lagi mau ketemu kakaknya,
kakak sepupu gue. Cuma berhubung kakaknya lagi ribet di cafe tempat kerja
katanya ada acara apa gitu gue lupa. Nah pas datang ke cafe itu acaranya sih
kayaknya udah kelar. Gue agak kaget juga sih didalam cafe itu kok gue liat ada
nama Tamusema FM di banyak spanduk sama banner disana. Cuma sayangnya pas gue
mau tanya, nyokap gue telpon. Nyuruh gue anterin dokumen bokap yang kebawa
dimobil gue. Trus gue lupa nanya deh sama kakak sepupu itu sampe sekarang.”
Vero nyengir sambil menahan satu pose super garing pada sunggingan senyumnya.
“Lo kadang-kadang suka amnesia ya. Hahaha...”
ledek Gani. “Jadi, kalo gitu Andria salah paham sama gue dong.” Ujar Vero
berbinar, semangatnya muncul lagi. “Udah gih, mending lo kejar Andria
sekarang.” Ujar Gani memberi saran. “Biarin dulu ah. Nggak seru kalo endingnya
sekarang. Kasih sedikit bumbu, biar tambah seru. Hehehe...” Balas Vero
cengengesan. “Wah parah lo. Udah anak orang salah paham masih aja lo kerjain
lagi. Ketulah lo.” Sahut Gani mengingatkan. Tapi sedetik kemudian, “Eh, tapi
dia berarti suka sama gue juga kan? Ya kan? Ya dooooong” tanya Vero memastikan.
“Ye, mana gue tahu. Emang gue emaknye Andria.” Jawab Gani sambil mengangkat
bahunya. “Ah elo, bikin gue galau lagi.” Seru Vero menepuk keningnya.
Sepulang sekolah, diam-diam Nadala mengikuti
Prisma yang akan bertemu dengan kakaknya. Untungnya, tempat janjian mereka
dekat sehingga tidak terlalu sulit untuk Nadala menguntit dan memberi kejutan
balik kepada mereka. Benar saja, begitu Prisma sampai di lokasi ternyata
kakaknya telah menunggunya disana. Nadala langsung tersenyum kecut. Nadala
bergerak lebih dekat sembari menggunakan jaket dan kapuconnya agar
penguntitannya tak terbongkar sebelum waktunya. Posisi Nadala sudah dekat dan
cukup baginya untuk mencuri dengar obrolan kakaknya dan Prisma.
Mandala melambaikan tangannya seraya memanggil
Prisma dikejauhan. Prisma segera berlari menuju warung kopi. Mandala langsung
menanyakan perubahan adiknya kepada Prisma dan juga memastikan bahwa adiknya
belum tahu sedikitpun tentang sandiwara ini. Prisma mengiyakan semua hal yang
ditanyakan Mandala, kecuali satu... ketika Mandala akhirnya memastikan tentang
perasaan Prisma kepada adiknya saat ini. Prisma terdiam. Prisma belum yakin
apakah yang dia rasakan ini benar-benar rasa suka atau hanya karena kehilangan
sesaat.
“Gue cuma mau pastiin apakah lo bener-bener nggak
ada hati sama adik gue? Karena kalo memang lo nggak suka sama adik gue,
sandiwara ini bakal gue udahin sampai sini aja. Sebelum adik gue terlanjur
berharap sama lo dan justru akan bikin dia sakit hati.” Tegas Mandala. Prisma
hanya bisa menelan ludahnya. Tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi, dia
ingin sekali sandiwara ini berakhir tapi di sisi lainnya dia mulai tidak rela
jika masa-masa bersama Nadala juga berakhir.
Sebelum pertanyaan itu dijawab Prisma, Nadala
sudah ikutan nimbrung dan memberikan tepukan tangan dan tatapan sinis bagi dua
orang didepannya itu. “Hebat... Sandiwara yang hebat. Tepuk tangan yang paling
meriah buat sutradara dan aktor hebat kita.” ujar Nadala super sinis. Hitam
dunianya lengkap sudah. Mandala dan Prisma terperanjat kaget, tak menyangka
objek obrolan mereka hadir dari belakang mereka.
“Na-da-la.” Seru Mandala terbata-bata, salah
tingkah. “Nad.” ujar Prisma grogi. “Aku nggak nyangka kalo ternyata mas itu
juga jago bikin skript sandiwara, kirain cuma jago ngedongeng doang. Satu lagi,
Mas. Barusan mas bilang sebelum aku terlanjur berharap dan sakit hati,
sayangnya mas terlambat. Aku sudah sakit hati dan apa yang mas dan kak Prisma
lakukan hari ini jauh lebih sakit daripada luka aku yang kemarin. Makasih dan
selamat untuk kesuksesan kalian membuat aku jatuh. Aku benci kalian berdua.”
Sahut Nadala setengah menangis. Setelah itu, Nadala buru-buru berlari
meninggalkan Mandala dan Prisma.
Prisma hendak beranjak untuk mengejar namun
Mandala mencekal lengannya, “Percuma, adik gue lagi nggak bisa diajak ngomong
sekarang. Biarin dia nenangin dirinya dulu.” Ujar Mandala. “Tapi, Kak.” Potong
Prisma khawatir. “Biar gue aja nanti dirumah. Ini pure salah gue. Gue nggak mau
bikin dia sakit tapi malah gue yang menyebabkan dia tambah sakit.” Sahut
Mandala dengan nada lemah.
Malam ini, seperti biasa Radio Tamusema 123,4 FM
akan menyiarkan dongeng malam untuk mengantarkan anak-anak untuk tidur.
Beberapa jam sebelumnya ketika Andria datang kesana, ternyata Mandala sudah ada
diruang meeting. Andria sendiri
memilih untuk duduk di kantin. Rasa sedihnya hari ini ingin diluapkannya dengan
semangkok bakso super pedas sehingga jika airmata berlinang lagi, ia akan punya
alibi bahwa baksolah pelakunya. Toh meski tak menangis, Andria sadar sedari tadi
rekan-rekannya sesama penyiar mulai prihatin dengan raut suram yang tertangkap
dari wajahnya.
“Lo kenapa, An?” tegur salah seorang rekannya yang juga sedang
makan dikantin. “Gue?” Andria menunjuk ke batang hidungnya sendiri. “Kagak.
Aman, Mba Bro. Hehehe...” lanjutnya lagi sambil berlagak sok tegar. “Iya, An.
Asli muka lo sepet banget, kayak lepet gagal dilipet.” Rekan Andria lainnya
ikutan menimpali percakapan rekan sebelumnya. “Wah parah lo. Emang muka gue
mirip apa sama kayak lepet. Kagaaaak.... Serius deh. Delapan enam banget gue,
Mas Bro.” kilah Andria tetap berakting sok kuat.
Namun, airmatanya sudah tak
bisa lagi dibendung. Linangan itu tinggal menunggu hitungan detik untuk
membanjiri pipinya. Plis dong jangan pada
tanya lagi ntar gue beneran nangis nih. ‘tes’ airmatanya akhirnya meluncur
mulus tanpa komando, pipinya mulai basah. Ia buru-buru mencari pelampiasan.
“Pedes banget ya nih bakso. Hahaha...” sahut Andria sambil menghapus airmata di
pipinya. Rekan-rekannya yang melihat itu akhirnya mengurungkan niat untuk
bertanya lebih lanjut, dibenak mereka mungkin Andria sedang ada masalah dan
belum mau berbagi cerita untuk saat ini.
Dengan garingnya, kedua rekannya terpaksa
tersenyum dan mengiyakan apa yang dikatakan Andria barusan, meski mereka tahu
bahwa bakso hanyalah objek yang ketiban sial dalam hal ini. “Duluan ya, An.”
Kedua rekan itu buru-buru pamit untuk mencari tahu ada masalah apa dengan
Andria kepada Mandala. Menurut mereka, Mandala pasti tahu apa yang sedang
dialami Andria. Bukan bermaksud ikut campur, hanya saja hampir selama ini cewek
periang itu bekerja disini mereka tidak pernah menemukannya sesuram ini.
Sayangnya, kedua rekan yang penasaran itu justru menemukan pemandangan yang
tidak jauh berbeda. Kondisi yang sama – wajah suram seperti hidup segan mati
pun enggan – mereka jumpai pada Mandala. Mandala sedang memangku dagunya diatas
meja. Didepannya ada naskah dongeng, matanya memang terlihat mengarah ke naskah
itu tapi bisa dipastikan bahwa isi pikirannya sedang terbang kemana-mana. Mereka
saling berpandangan, heran. “Ini anak dua kenapaaaa lagi? Kenapa kompak bener
errornya? Berasa kayak dunia lagi hitam aja gitu ngeliat mereka puasa ngomong.”
Celetuk salah seorang dari mereka dan diikuti dengan anggukan setuju dari rekan
yang satunya lagi.
Malam ini dongeng yang biasa disiarkan oleh
Mandala dan Andria nampak kehilangan gregetnya. Gaya celetukan Mandala dan
Andria yang tiada duanya mendadak raib entah kemana. Sebelum semua benar-benar
jadi kacau, seorang rekan senior mereka berlari terbirit-birit dan langsung
mengetuk-ngetuk kaca pembatas ruangan yang persis berhadapan dengan Mandala dan
Andria, lalu menempelkan sebuah kertas besar berisi kalimat panjang:
GUE NGGAK TAHU ADA APA SAMA LO BERDUA, TAPI
PLEASE KONSENTRASI DONG... LO BERDUA ITU LAGI NGEDONGENG DI RADIO BUKAN LAGI
BACA BUKU TEKS PELAJARAN. PENGHAYATANNYA MANA PAK BU...??? BEING PROFESSIONAL,
PLEASE.
Terkesiap dengan teguran itu, Mandala dan Andria
langsung saling tukar pandang. Buru-buru menyadari kekeliruan yang mereka
perbuat. Mereka mulai kembali fokus dan mengenyampingkan masalah yang tengah
mereka hadapi hari ini. Roh dua pendongeng andalan Radio Tamusema pun
sepertinya telah kembali, meskipun belum 100 persen. Tapi setidaknya mereka
bisa menyampaikan dongeng itu dengan baik tidak seperti hanya membaca naskah
bulat-bulat. Setelah siaran usai, baik Mandala dan Andria kembali membisu dan
memilih untuk bungkam dan langsung pulang tanpa sanggup bicara apa-apa selain
selamat malam.
No comments:
Post a Comment