Monday, 30 June 2014

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 2)

Part 2

I LIKE MONDAY, I HATE MONDAY!


Senin pagi. Hampir sebagian umat manusia yang terjebak dengan rutinitasnya pastinya akan menjerit malas mengetahui bahwa hari senin telah datang bersamaan dengan terbitnya matahari pagi. Berbeda dengan Nadala, sejak subuh tadi dia telah mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Hari senin adalah hari dimana dia dan pasukan paduan suaranya akan tampil pada upacara bendera. Berdiri diurutan barisan terdepan.

Nadala berjalan kearah meja makan. Disana telah terhidang menu sarapan yang mengundang selera. Aroma tempe dan tahu goreng yang khas menancap kuat di indera penciumannya memanggil-manggilnya sedari tadi. Nadala buru-buru duduk dan menyantap makanan tersebut. Tapi ditengah laju makannya, Nadala tersadar bahwa kakaknya belum juga turun. Bersiap-siap berteriak, dia mempercepat kunyahnya dan segera menelannya.

"MAAAAS MANDAAA. CEPETAAAN TURUN. AKU KAN MUSTI BERANGKAT PAGI." Teriak Nadala. Kakaknya yang lagi asyik menyiapkan buku-buku kuliahnya, terpaksa melipat-gandakan kecepatannya gara-gara mendengar lengkingan omelan sang adik. Mandala bergegas turun menuju meja makan dan lantas mengacak-acak rambut Nadala. "Kamu mau nyapu halaman sekolah, apa? Datang pagi buta begini." sahut Mandala.

"Nyapu... Nyanyi, Maaaas. Hari ini kan hari senin." tandas Nadala. "Teruuuus, kalau hari ini hari senin, aku musti bilang wow gitu." celetuk Mandala tak mau kalah. "Aaa... Mas Mandala. Aku bilangin Ibu, nih." sahut Nadala merengek, sambil mengangkat garpu yang telah tertancap tempe goreng sebagai upaya mengancamnya. "Itu tempe salah apa sama, Mas? Disodorin begitu. Nggak baik, itu makanan." tutur Mandala menasehati.

Nadala segera menurunkan garpunya dari hadapan sang kakak. Nadala paling takut kalau nada bicara kakaknya berubah sopan seperti itu. Mending dikasih wejangan ala anak radio dari pada nasehat ala Ibu dan Bapaknya. "Mas Manda udah persis ih kayak Ibu sama Bapak kalau lagi marah. Ih serem aku." ujar Nadala geleng-geleng sambil bergidik ngeri.

"Siapa suruh bertingkah. Ayo cepetan habiskan sarapanmu. Lalu kita berangkat habis itu. Mas juga ada kuliah pagi soalnya" ujar Mandala yang juga segera menyelesaikan sarapannya. Setelah sarapan mereka rangkum, mereka langsung pamit kepada Ibu dan Bapak mereka yang baru saja keluar dari kamar. "Berangkat dulu, Bu, Pak." ujar mereka menarik tangan Ibu Bapaknya untuk dicium tangannya. Mereka berangkat.

Ditempat lain, Andria masih bersemayam dibalik selimut tebalnya. Dia masih mengantuk. Jatah tidurnya terpaksa diulur lantaran dia harus siaran menggantikan rekannya yang off karena sakit. "ANDRIAMEDAAAA... Mau sampai kapan kamu tidur?" teriak Bundanya sambil mengetuk daun pintu kamar Andria dengan kencangnya. "Lima meniiiiiiiiit lagi, Bun." sahut Andria memohon.

"Dari setengah jam yang lalu, bilangnya lima menit terus. Ini udah lima menit kali ke enam Bunda ketuk pintu kamar kamu. Ayo, cepet bangun. Kamu lupa hari ini hari senin, Andria? Kamu harus upacara sekolah. Mau dihukum lagi lari keliling lapangan?" sahut Bundanya kesal. Mendengar kata hukuman, mata Andria langsung terbuka lebar. Tidaaaak!!! Dia tidak mau dihukum lari lagi. Buru-Buru, dia loncat dari tempat tidurnya.

Mandi ala koboi. Menyemprotkan parfum sebanyak mungkin. Memakai seragam dan dasinya dengan super cepat. Tak lupa mengambil topinya dan sengaja menaruhnya terbalik di kepalanya. Diambilnya tas punggungnya dan bergegas menuju meja makan. Adiknya yang lagi nikmat-nikmatnya menyantap sarapan paginya, mendadak terusik dengan aroma parfum yang aduhai semerbak mengalahkan aroma nasi goreng Bundanya.

"Astagaaaa Kakak. Minyak nyong-nyong Kakak kapan dipensiunin sih. Bau banget tahu. Mau muntah aku nih." gerutu Rome, panggilan singkat dari nama adiknya, Andromeda, yang panjang itu. "Yaelah, Rom. Sensi bener idungnye." goda Andria yang berjalan melalui Rome sambil menyolek hidung adiknya itu. "Bundaaaaaaa, Kak Andria jahil nih." sahut Rome mengadu. Sang bunda datang menengahi keributan kecil itu.

"Andria, jangan jahil sama adikmu, dong. Kasihan kan." lerai bundanya. "Ih, Bunda. Gimana Rome mau gede? Apa-apa dibelain terus." ujar Andria manyun, sementara pihak yang dibela memeletkan lidahnya kegirangan. "Tuh, Bun. Lihat aja kelakuannya. Masa aku dilewein. Nggak sopan." gerutu Andria. "Sudah. Kan, kamu juga yang mulai duluan. Pake colek-colek hidung adikmu." ujar Bunda menenangkan dengan belaian di bahu Andria.

"Udah, ah. Andria mau berangkat. Ayah mana, Bun?" tanya sambil celingak-celinguk mencari ayahnya. "Ayah berangkat pagi-pagi sekali. Katanya mau ada rapat dikantornya." jawab Bunda sambil menyiapkan bekal makan siang untuk Rome. "Ya udah. Andria berangkat dulu ya, Bun. Udah telat." Andri mengambil tangan Bundanya dan langsung menciumnya. "Rom, kamu mau bareng kakak, nggak?" ajak Andria.

"Nggak ah. Aku mau naik sepeda baru aku yang keren banget." tolak Rome mentah-mentah. "Ya udah, nggak maksa juga tuh." balas Andria telak. "Sudaaah, Andria. Ayo, katanya mau berangkat. Nanti malah telat lagi. Andria berjalan keluar rumah. Akhirnya, dia berlalu sambil mengendarai Vespa coklatnya menuju sekolahnya. Vespa tipe Excel P150XE itu melaju dengan kecepatan tinggi.

06.15 AM. Jam digital yang menempel di dashboard mobil Mandala menunjukkan pukul enam lewat dua puluh menit. Nadala mulai duduk dengan gelisah. Dikit-dikit melirik lampu lalu lintas yang masih setia dengan warna merahnya. "Tenang aja, Nad. Tinggal belok ini, kan." ujar Mandala menenangkan adiknya. "Aduh, Kak. Aku turun disini deh. Lama banget lampu merahnya. Aku lari aja." balas Nadala yang diburu-buru waktu.

Setelah dirasa aman, Mandala pun akhirnya melanjutkan perjalanannya ke kampus. Sementara Nadala kembali berlari mengejar jam masuk yang kian berdetak cepat menuju pukul 06.30 WIB. Begitu nadala dan seorang pengendara vespa masuk, Pak Satpam dengan sangarnya menutup pintu gerbang sekolah. Nadala terlihat lega karena terbebas dari hukuman lari mengelilingi lapangan.

Nunung menyuruhnya meletakkan tas di bawah tempat tidur. Nadala pun segera mengikuti instruksti Nunung dan menaruh tasnya di bawah sana. "Thanks, Nung." ujar Nadala mencubit pipi Nunung sebagai tanda terima kasih. Nadala lalu berlari menuju barisan paduan suaranya. Saatnya tampil. "I really like monday!" batinnya dalam hati kegirangan.

Di tempat lain, setelah memarkirkan vespanya, Andria berjalan dengan santainya bahkan nyaris ogah-ogahan. Topi sekolahnya pun hanya dipegang saja. Sesekali dikipas-kipas untuk meraup angin ke arahnya. Andria memang kurang suka dengan yang namanya upacara. Sebenarnya dia ogah juga sih dibilang tidak nasionalis, tapi mau bagaimana lagi kebenarannya dia memang dia tidak ingin.

Tiba-tiba terdengar celetukan dari barisan belakang Andria. Salah seorang teman perempuannya tampak mengeluh karena terik pagi matahari terlalu nakal menyentil kulitnya. "Panas ya bo! Nggak tahu apa aku kan abis operasi plastik kemarin." gerutunya ngawur sambil mengipas-ngipas wajahnya yang kepanasan. Mendengar keluhan itu sontak anak-anak sebarisan Andria tertawa ngakak.

Andria pun tak kalah hebohnya menimpali kata-katanya tadi dengan gaya datarnya. "Pantes ya, bo. Plastik seperempat kiloan nyokap gue yang buat jualan es kacang ijo raib. Ternyata... ckckck... gue nggak nyangka lo pelakunya." ucap Andria dengan muka datar dan tangan menunjuk lurus kearah sang tertuduh. "Enak aja." sangkalnya, "Gue pake plastik satu kiloan emak gue yang biasa buat dia jualan bubur sumsum." lanjutnya.

Spontan gelak tawa itu semakin menjadi-jadi. Sebelum akhirnya, satu dehaman panjang mengheningkan barisan itu hingga nyaris seperti kuburan. Seorang guru berpatroli mengitari setiap barisan untuk kembali mengingatkan anak-anaknya bahwa upacara akan segera dimulai. Andria tertunduk lemas, "I really hate monday!" keluhnya nelangsa. 

■■■■

No comments:

Post a Comment