Part 2
I LIKE
MONDAY, I HATE MONDAY!
Senin pagi. Hampir sebagian umat manusia yang
terjebak dengan rutinitasnya pastinya akan menjerit malas mengetahui bahwa hari
senin telah datang bersamaan dengan terbitnya matahari pagi. Berbeda dengan
Nadala, sejak subuh tadi dia telah mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke
sekolah. Hari senin adalah hari dimana dia dan pasukan paduan suaranya akan
tampil pada upacara bendera. Berdiri diurutan barisan terdepan.
Nadala berjalan kearah meja makan. Disana telah
terhidang menu sarapan yang mengundang selera. Aroma tempe dan tahu goreng yang
khas menancap kuat di indera penciumannya memanggil-manggilnya sedari tadi.
Nadala buru-buru duduk dan menyantap makanan tersebut. Tapi ditengah laju
makannya, Nadala tersadar bahwa kakaknya belum juga turun. Bersiap-siap
berteriak, dia mempercepat kunyahnya dan segera menelannya.
"MAAAAS MANDAAA. CEPETAAAN TURUN. AKU KAN
MUSTI BERANGKAT PAGI." Teriak Nadala. Kakaknya yang lagi asyik menyiapkan
buku-buku kuliahnya, terpaksa melipat-gandakan kecepatannya gara-gara mendengar
lengkingan omelan sang adik. Mandala bergegas turun menuju meja makan dan
lantas mengacak-acak rambut Nadala. "Kamu mau nyapu halaman sekolah, apa?
Datang pagi buta begini." sahut Mandala.
"Nyapu... Nyanyi, Maaaas. Hari ini kan
hari senin." tandas Nadala. "Teruuuus, kalau hari ini hari senin, aku
musti bilang wow gitu." celetuk Mandala tak mau kalah. "Aaa... Mas
Mandala. Aku bilangin Ibu, nih." sahut Nadala merengek, sambil mengangkat
garpu yang telah tertancap tempe goreng sebagai upaya mengancamnya. "Itu
tempe salah apa sama, Mas? Disodorin begitu. Nggak baik, itu makanan."
tutur Mandala menasehati.
Nadala segera menurunkan garpunya dari hadapan
sang kakak. Nadala paling takut kalau nada bicara kakaknya berubah sopan
seperti itu. Mending dikasih wejangan ala anak radio dari pada nasehat ala Ibu
dan Bapaknya. "Mas Manda udah persis ih kayak Ibu sama Bapak kalau lagi
marah. Ih serem aku." ujar Nadala geleng-geleng sambil bergidik ngeri.
"Siapa suruh bertingkah. Ayo cepetan
habiskan sarapanmu. Lalu kita berangkat habis itu. Mas juga ada kuliah pagi
soalnya" ujar Mandala yang juga segera menyelesaikan sarapannya. Setelah
sarapan mereka rangkum, mereka langsung pamit kepada Ibu dan Bapak mereka yang
baru saja keluar dari kamar. "Berangkat dulu, Bu, Pak." ujar mereka
menarik tangan Ibu Bapaknya untuk dicium tangannya. Mereka berangkat.
Ditempat lain, Andria masih bersemayam dibalik
selimut tebalnya. Dia masih mengantuk. Jatah tidurnya terpaksa diulur lantaran
dia harus siaran menggantikan rekannya yang off karena sakit.
"ANDRIAMEDAAAA... Mau sampai kapan kamu tidur?" teriak Bundanya
sambil mengetuk daun pintu kamar Andria dengan kencangnya. "Lima
meniiiiiiiiit lagi, Bun." sahut Andria memohon.
"Dari setengah jam yang lalu, bilangnya
lima menit terus. Ini udah lima menit kali ke enam Bunda ketuk pintu kamar
kamu. Ayo, cepet bangun. Kamu lupa hari ini hari senin, Andria? Kamu harus upacara
sekolah. Mau dihukum lagi lari keliling lapangan?" sahut Bundanya kesal.
Mendengar kata hukuman, mata Andria langsung terbuka lebar. Tidaaaak!!! Dia
tidak mau dihukum lari lagi. Buru-Buru, dia loncat dari tempat tidurnya.
Mandi ala koboi. Menyemprotkan parfum sebanyak
mungkin. Memakai seragam dan dasinya dengan super cepat. Tak lupa mengambil
topinya dan sengaja menaruhnya terbalik di kepalanya. Diambilnya tas
punggungnya dan bergegas menuju meja makan. Adiknya yang lagi nikmat-nikmatnya
menyantap sarapan paginya, mendadak terusik dengan aroma parfum yang aduhai
semerbak mengalahkan aroma nasi goreng Bundanya.
"Astagaaaa Kakak. Minyak nyong-nyong Kakak
kapan dipensiunin sih. Bau banget tahu. Mau muntah aku nih." gerutu Rome,
panggilan singkat dari nama adiknya, Andromeda, yang panjang itu. "Yaelah,
Rom. Sensi bener idungnye." goda Andria yang berjalan melalui Rome sambil
menyolek hidung adiknya itu. "Bundaaaaaaa, Kak Andria jahil nih."
sahut Rome mengadu. Sang bunda datang menengahi keributan kecil itu.
"Andria, jangan jahil sama adikmu, dong.
Kasihan kan." lerai bundanya. "Ih, Bunda. Gimana Rome mau gede?
Apa-apa dibelain terus." ujar Andria manyun, sementara pihak yang dibela
memeletkan lidahnya kegirangan. "Tuh, Bun. Lihat aja kelakuannya. Masa aku
dilewein. Nggak sopan." gerutu Andria. "Sudah. Kan, kamu juga yang
mulai duluan. Pake colek-colek hidung adikmu." ujar Bunda menenangkan
dengan belaian di bahu Andria.
"Udah, ah. Andria mau berangkat. Ayah
mana, Bun?" tanya sambil celingak-celinguk mencari ayahnya. "Ayah
berangkat pagi-pagi sekali. Katanya mau ada rapat dikantornya." jawab
Bunda sambil menyiapkan bekal makan siang untuk Rome. "Ya udah. Andria
berangkat dulu ya, Bun. Udah telat." Andri mengambil tangan Bundanya dan
langsung menciumnya. "Rom, kamu mau bareng kakak, nggak?" ajak
Andria.
"Nggak ah. Aku mau naik sepeda baru aku
yang keren banget." tolak Rome mentah-mentah. "Ya udah, nggak maksa
juga tuh." balas Andria telak. "Sudaaah, Andria. Ayo, katanya mau
berangkat. Nanti malah telat lagi. Andria berjalan keluar rumah. Akhirnya, dia
berlalu sambil mengendarai Vespa coklatnya menuju sekolahnya. Vespa tipe Excel
P150XE itu melaju dengan kecepatan tinggi.
06.15 AM. Jam digital yang menempel di
dashboard mobil Mandala menunjukkan pukul enam lewat dua puluh menit. Nadala
mulai duduk dengan gelisah. Dikit-dikit melirik lampu lalu lintas yang masih
setia dengan warna merahnya. "Tenang aja, Nad. Tinggal belok ini,
kan." ujar Mandala menenangkan adiknya. "Aduh, Kak. Aku turun disini
deh. Lama banget lampu merahnya. Aku lari aja." balas Nadala yang
diburu-buru waktu.
Setelah dirasa aman, Mandala pun akhirnya
melanjutkan perjalanannya ke kampus. Sementara Nadala kembali berlari mengejar
jam masuk yang kian berdetak cepat menuju pukul 06.30 WIB. Begitu nadala dan
seorang pengendara vespa masuk, Pak Satpam dengan sangarnya menutup pintu
gerbang sekolah. Nadala terlihat lega karena terbebas dari hukuman lari
mengelilingi lapangan.
Nunung menyuruhnya meletakkan tas di bawah
tempat tidur. Nadala pun segera mengikuti instruksti Nunung dan menaruh tasnya
di bawah sana. "Thanks, Nung." ujar Nadala mencubit pipi Nunung
sebagai tanda terima kasih. Nadala lalu berlari menuju barisan paduan suaranya.
Saatnya tampil. "I really like monday!" batinnya dalam hati
kegirangan.
Di tempat lain, setelah memarkirkan vespanya,
Andria berjalan dengan santainya bahkan nyaris ogah-ogahan. Topi sekolahnya pun
hanya dipegang saja. Sesekali dikipas-kipas untuk meraup angin ke arahnya.
Andria memang kurang suka dengan yang namanya upacara. Sebenarnya dia ogah juga
sih dibilang tidak nasionalis, tapi mau bagaimana lagi kebenarannya dia memang
dia tidak ingin.
Tiba-tiba terdengar celetukan dari barisan
belakang Andria. Salah seorang teman perempuannya tampak mengeluh karena terik
pagi matahari terlalu nakal menyentil kulitnya. "Panas ya bo! Nggak tahu
apa aku kan abis operasi plastik kemarin." gerutunya ngawur sambil
mengipas-ngipas wajahnya yang kepanasan. Mendengar keluhan itu sontak anak-anak
sebarisan Andria tertawa ngakak.
Andria pun tak kalah hebohnya menimpali
kata-katanya tadi dengan gaya datarnya. "Pantes ya, bo. Plastik seperempat
kiloan nyokap gue yang buat jualan es kacang ijo raib. Ternyata... ckckck...
gue nggak nyangka lo pelakunya." ucap Andria dengan muka datar dan tangan
menunjuk lurus kearah sang tertuduh. "Enak aja." sangkalnya,
"Gue pake plastik satu kiloan emak gue yang biasa buat dia jualan bubur
sumsum." lanjutnya.
Spontan gelak tawa itu semakin menjadi-jadi. Sebelum akhirnya, satu dehaman panjang mengheningkan barisan itu hingga nyaris seperti kuburan. Seorang guru berpatroli mengitari setiap barisan untuk kembali mengingatkan anak-anaknya bahwa upacara akan segera dimulai. Andria tertunduk lemas, "I really hate monday!" keluhnya nelangsa.
■■■■
No comments:
Post a Comment