Cerbung - Cerita
yang moga-moga aja nyambung!!!
Ditulis
tanggal 26 April 2009
Jam delapan
malem, tepatnya dikediaman Clara. Mardi udah nongol dengan dandanan rapi. Cowok
itu menyapa orang-orang yang ada. “Malem, Tante, Oom, Mas, Mbak. Claranya ada?”
Mardi setengah berbungkuk dihadapan para tuan rumah.
“Eh, Nak
Mardi. Ada, kok. Silahkan duduk.”
“Makasih,
Tante.” Belum sempat Mardi merasakan empuknya sofa mendadak teriakan keras
mengagetkan semuanya.
“MAR,
LANGSUNG NAIK KEATAS AJA. DIBAWAH MASIH RAME SOALNYA.”
“Aduh, maaf
ya, Nak Mardi. Clara emang paling males disuruh turun kebawah kalo udah malem
gini apalagi rame begini banyak orang.”
“Nggak papa,
Tante. Aku keatas dulu ya.”
“Iya,
silahkan.”
₪₪
“I’m back.”
Mardi membuka pintu itu dengan gaya cool-nya.
“I’m back…
I’m back… Man in black!” jawabnya sambil melempar bantal ke Mardi.
“Nih,
kuenya. Double.” Sahut Clara lagi.
“Asyik!”
“Oh iya. Mau
curhat apa?” Clara mencoba membuka omongan serius.
“Gue
diputusin Nita.” Tandas Mardi.
“Pantesan
daritadi kayak orang gila. Syukur, deh.”
“Kok malah
bersyukur sih. Orang temen lagi menderita.”
“Masa? Nggak
keliatan tuh!”
“Rese lo.”
Mardi menyenggol bahu Clara pelan.
“Sori-sori,
bercanda. Tapi alasannya apa?”
“Masa
katanya gue lebih care sama lo ketimbang dia”
“Lah... kok
jadi gue dibawa-bawa.” Sahut Clara nggak terima.
“Makanya gue
juga bingung.”
“OH, GUE
TAU…” Teriak Clara tiba-tiba.
“Apa-apa?” Mardi
jadi antusias.
“Mungkin
karena orang-orang udah sadar kalau gue ini sebenernya cantik.”
“Yah,
narsisnye kumat.”
“Lho nggak
percaya. Sekarang gue kasih liat faktanya. Nita mutusin lo gara-gara gue.
Padahal Nita cewek paling cantik berarti gue lebih cantik dong daripada yang
paling cantik.”
“Narsis!”
“Yaudah kalo
nggak percaya.”
“Iye…iye…”
“Bercanda,
Bro!”
“Eh, tapi lo
lumayan juga.”
“Iya, kalo
diliat dari atap monas.” Clara menimpali.
“Dari sini
juga tetep cantik.”
“Ih, apaan
sih..” wajah Clara sontak memerah, malu.
“Idih,
mukanya merah. Kasian banget sih lo. Gitu aja udah merah.” Mardi ketawa melihat
perubahan itu. Clara cuma bisa diam. “Dulu cowok lo nggak pernah muji-muji lo,
ya?”
“Mantan!”
tandasnya.
“Iye,
mantan.”
“Pernahlah.
Tapi kan itu udah lama banget.”
“Mau dipuji
lagi, nggak?” Mardi melirik kearah Clara yang jadi diam lagi. “Makanya jadi
cewek gue.” lanjut Mardi.
“…” Clara
terdiam.
“Ye, malah
diem. Mau nggak.” Tanya Mardi. Clara menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda
ketidaksetujuannya. “Jadi tetep jadi calon istri gue aja nih.” Clara tersenyum.
“Kenapa senyum?”
cowok itu keheranan. Menatap aneh cewek didepannya.
“Lucu aja.
Tadi kan lu lagi curhat soal Nita. Kok jadi gue yang dibahas.”
“Nggak
boleh?” Mardi melotot. Clara jadi salah tingkah.
“Udah ah.”
Clara mengucek-ngucek rambut cowok didepannya itu.
“Ceritanya
sekarang sobat gue yang ganteng ini lagi jomblo.”
“Weits,
jangan salah. Gue emang jomblo tapiiii… banyak cewek yang ngantri sama gue.”
“Siapa?
Sisil? Gadis? Rasti? Atau Dian?!” Clara mengutarakan spekulasinya.
“Beuh... Itu
mah lewat.”
“Jadi
siapa?” cewek itu mengangkat bahunya.
“Niiiken…”
Mardi memajukan wajahnya sejajar dengan wajah Clara.
“Mundurin
muka lo.” Clara buru-buru menepis wajah itu pelan-pelan.
“Hello!
Niken? Basi tau, dia udah punya Dio sekarang.”
“Manda kali,
ye?”
“Itu lagi.
Mau dihajar lo sama Reon!”
“Kalo elo?”
Mardi kembali memajukan wajahnya. Tapi langsung di dorong kepalanya oleh Clara
kebelakang. Julekan maut itu tak hayal membuat Mardi tak seimbang, dan nyungsep
ke belakang.
“Gue! Cuih…
Makasih Oom.” Clara bertolak pinggang berlagak nggak sudi.
“Nggak boleh
gitu. Rezeki pantang ditolak.”
“Musibah
kali.” Protesnya.
“Haha…
djayuz.”
“Udahlah.
Berhenti ngejar cewek-cewek itu.” Clara mengingatkan.
“Kenapa? tuh
cewek aja pada nyantai.”
“Merekanya.
Coba kalo yang punya.”
“Alah!
Mereka bisa apa sih?” Tantang Mardi.
“Jangan
salah lo. Dio jago bela diri. Dan Reon, baru aja dilantik jadi ketua Pecinta
Alam. Dan itu artinya dia “jago” dalam segala hal.”
“Masa, sih,
Reon pecinta alam. Nggak normal dong dia?”
“Hah!
Maksudnya?”
“Masa lo
nggak tau, sih. Alam itu lho yang penyanyi dangdut. Gue sih mendingan jadi
pecinta Veti Vera. Kakaknya yang janda itu. Hahaha...”
“Hahaha...
Garing bin djayuz lo.”
“Garing tapi
ketawa.” Gantian Mardi yang bete.
“Ya,
terus….?” Tanyanya tak bersalah.
“Terus…
terus… elo bisa apa, Oom?”
“Gue? Bisa…
bisa babak belur.”
“Elo ya.
Nggak bisa diajak serius. Emang enak apa dibikin babak belur.” Clara manyun.
“Udah tenang
aja. Kayaknya gue nggak jadi babak belur. Asal elo yang jadi pacar gue.”
“Hah!
Ngarep. Emang elo masuk kriteria yang sebelah mana?”
“Yang rajin
ibadah. Yang pinter. Yang ganteng. Yang masa depannya terjamin. Gimana?”
“Lah! Tau
dari mana lo, Oom?” tanya Clara bingung.
“Mardi.”
Menarik-narik kerahnya. Bergaya ala detektif ulung.
“Eh, jelek.
Tau dari mana nggak elo. Jawab atau nih…” Clara mengangkat kepalan tangannya.
“Insting.
Spekulasi....Mungkin juga asking-asking sama Rani. Hehehe…”
“Nggak
sopan. Ini juga si Rani, ember banget.” Omelnya yang masih terus diiringi tawa
Mardi.
“Puas
ketawain gue. Pulang aja gih sana.”
“Idih! Tau
nggak, tamu tuh raja.”
“Kalo
tamunya elo sih, males gue. Bukan raja tapi babu.”
“Enak aja.
Udah keren plus beken begini. Masa jadi babu.”
“Iya deh.
Raja… rajanya babu.”
“Dasar.”
Keduanya terdiam.
“Ra, jalan
yuk.” Ajak Mardi tiba-tiba.
“Kemana?
Males, ah. Udah malem.” Tolaknya
“Yaelah.
Naik mobil gue ini.” Mardi merangkul cewek itu dari samping.
“Emang mau
kemana?” cewek itu melepaskan rangkulan Mardi. Lalu memukul tangan jahilnya
itu.
“Suka nyari
kesempatan deh. Emang mau kemana?” ujarnya lagi.
“Ke tempat
yang banyak cahaya.”
“Duile!
Disini juga udah terang kali, Oom.” Ledek Clara.
“Beda!”
“Maksud lo,
beda gimana?”
“Kalo yang
ini nggak cuma cahaya lampu aja. Udah ikut, aja.”
“Nggak, ah.”
Tolaknya lagi.
“Ayo…!”
paksa Mardi. “Maksa…!!” “Oh, nggak kok nggak maksa. Cepetan yang ya calon
istriku.” Dengan langkah gontai, Clara berjalan. Ganti baju.
“Mar, pake
baju yang mana?” tanya Clara sambil nunjuk kumpulan baju-bajunya dilemari yang
dibukanya.
“Yang mana
aja. Jalan sama gue mah nggak perlu pake dress code.”
“Yang ini
aja ya.” Clara mengambil satu baju kasualnya. Mardi mengangguk setuju.
“Mar...”
panggil Clara lagi.
“Apaan lagi
sih.”
“Kacamata
gue... tolong ambilin... tuh dikasur.”
“Yaelaaah
manja beut.” Mardi langsung mengambilnya dan memberikannya kepada Clara.
“Makasih.”
Setelah
selesai. Mardi meminta izin untuk mengajak jalan Clara ke anggota keluarga
cewek itu di ruang tamu.
“Tante, Mbak
Indah, dan Mas Tio… Aku mau ajak Clara jalan keluar sebentar. Boleh, kan?” Ujar
Mardi singkat.
“Boleh. Eh,
tapi jagain adik gue ya, Mar.” Mas Tio yang langsung mengubah arah pandangannya
ke Mardi dan meninggalkan Koran yang sedang dibacanya.
“Pasti,
Mas.” Mardi mengacungkan jempol.
“Hati-Hati.”
Ibu Clara menasehati.
“Sip.” Clara
menjawab. Dan lantas berpamitan. Mencium tangan-tangan didepannya. Mardi juga
mengikuti dibelakangnya.
“Dah,
semua.!” Teriak Clara yang menuju pintu mobil Mardi.
₪₪
Mereka
berdua masuk ke mobil dan pergi berkeliling-keliling nggak jelas disekitar
Matraman Salemba. Sudah hampir tiga kali Mardi melewati tempat itu. Namun dia
hanya berhenti sebentar, itu pun hanya sekedar mengambil beberapa dahan pohon.
Clara tampak
kebingungan melihat perilaku Mardi yang lumayan membuatnya was-was. Tanpa
mempedulikan kecemasan cewek yang ada dimobilnya, Mardi buru-buru mengikat
dahan pohon itu dengan tali yang dibawanya tepat di bemper belakang. Setelah
itu Mardi masuk kembali ke dalam mobilnya.
“Itu buat
apa, Mar?” Clara memutar tubuhnya dan menunjuk ke arah belakang.
“Oh, itu.
Buat jaga-jaga!”
“Jaga-jaga?
Jaga-jaga apaan?”
“Udah sabar
dulu kenapa? Ntar juga tau.” Tandasnya.
“Mardi! Rese
banget sih. Gue kan takut.” Cewek itu memegang pinggiran jaket cowok itu.
“Sama!”
jawab Mardi sama seriusnya dengan ekspresi cewek didepannya. Aduh! Kok
jawabannya begitu. Bukannya tenang aja kan ada gue atau apa kek yang buat gue
tenang. Ini malah ‘sama!’. Batin Clara yang masih menatap Mardi dengan
lekatnya.
Setelah
balik arah dan kembali melewati jalanan Matraman Salemba dari arah Pramuka.
Mardi mengemudikan mobilnya ke sebuah Fly Over. Dan berhenti tepat diatasnya.
“Mar, gila ya! Ntar kalo ada mobil nabrak gimana?”
“Yaelah, nih
anak. Nggak ngerti juga! Gue tuh ambil dahan pohon supaya mobil gue disangka mogok.
Biar jadi kalo ada apa-apa gampang.”
“Oh! Terus
kita mau ngapain kesini?” tanya Clara polos.
“Nah Lho!
Dia lupa. Bukannya dulu elo pingin banget kesini untuk ngeliat cahaya. Tuh yang
kayak gitu.” Mardi menujukkan kesebuah fokus didepannya. Cahaya lampu
penerangan jalan.
“Masa?”
Tanya Clara bego.
“Lupa?”
“He-eh!”
Clara manggut-manggut.
“Sini deh.”
Cowok itu memanggilnya seketika itu Clara mendekatinya.
“Coba
berdiri disamping gue.” Cewek itu langsung pindah ke samping Mardi.
“Terus?”
“Buka
kacamata lo.”
“Yah. Nggak
keliatan, dong.”
“Itu
seninya.”
“Gue buka
nih.” Clara menanyakan pertanyaan nggak penting itu lagi.
“Iya. Apa
perlu gue yang bukain.”
“Enak aja.”
Setelah itu…
Clara melihat kilauan cahaya yang terbias. Begitu indah dan tergambar abstrak.
Blur yang dihasilkan dari mata rabun cantik banget (mata minus aje kali ye,
lebih manusiawi kayaknya).
“Bagus
banget, Mar.” Clara memekik kegirangan.
“Bener kan.
Dibilangin bagus, juga.”
“Iya.
Makasih ya.”
“Untuk?”
“Ini. Nggak
nyangka elo masih inget apa yang gue mau. Gue aja udah lupa.” Clara
mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Sama-sama.”
Mardi mengusap rambut cewek itu perlahan.
Tiba-tiba
terdengar sirene mobil polisi berbunyi, kecil tapi pasti.
“Ra, cepetan
masuk mobil.” Teriaknya.
Clara
kebingungan. “Yah. Cepet banget. Emang kenapa?”
“Ada polisi
dibelakang.”
“APA!!!”
teriak Clara tak kalah kencangnya. Mardi dan Clara segera masuk ke mobil. Di
gas mobil itu dalam-dalam oleh Mardi, dan Lariiii….
₪₪
“Gila! Gue
takut banget nih.” Sahut Clara dengan nafas yang tidak teratur.
“Elo kira
cuma elo doang. Makanya gue bilang sama.”
“Elo nggak
mikir ya. Kalo tadi kita ketangkep gimana? Jadi apaan?”
“Paling jadi
tahanan tiga hari.”
“Dodol! Elo
kira enak jadi narapidana.”
“Selama gue
bisa deket sama lo dan selalu sama lo pasti jadi enak.”
“Gue yang
ogah.”
“Yakin?”
“Pastinya.”
“Heh! Gue
ngelakuin itu tuh biar elo tuh bisa seneng. Dulu tuh elo sampe teriak-teriak
minta turun diatas tadi. Malah kenapa jadi gue diomelin. Lo kira gue nggak
takut apa? Resikonya bukan cuma sama polisi aja, tapi sama keluarga lo.
Ngerti?” Mardi menjelaskan panjang lebar. Mimik mukanya terlihat kecewa. Clara
diam tak menyangka.
“Lagian
siapa suruh?” Clara nggak mau kalah statement walaupun dia udah pingin meluk
cowok itu dan berterima kasih.
“Emang nggak
ada yang suruh. Itu kemauan gue sendiri. Gue pingin elo bisa senyum. Cuma itu!”
“Tapi kenapa
harus yang ini.” Clara melunak.
“Udah deh.
Udah lewat! Udah ngeliat, kan?” potongnya.
“Iya sih.”
“Pulang
yuk!” ajak Mardi.
“Ntar dulu
dong. Masih deg-degan. Cari minum dulu, ya.”
“Ya udah.
Mau kemana, Cantik?” Mardi mengiyakan permintaan Clara.
“Apa?” Clara
mendengar samar-samar suara Mardi barusan. Soalnya ada truk lewat disamping
mobil Mardi.
“Mau kemana,
Budek.”
“Bukannya
tadi elo manggil gue cantik. Kok jadi budek sih!”
“Cepetan,
mau kemana nih.”
“Sabang!!!”
“Apa Sabang
lagi.” Mardi menujukkan ketidakrelaannya apabila harus kesana lagi. Gila! Nggak
ada tongkrongan yang lain apa yang jadi idaman.
“Mau nggak?”
tanya Clara mememastikan.
“Nggak.” Mardi
cepat-cepat menjawabnya.
“Ya udah.
Gue turun nih dari mobil.” Ancem Clara.
“Iya-iya. Oh
Sabang, we’re back again!”
₪₪
Ketidakrelaan
itu masih terpancar diwajah Mardi. Dan Clara tau betul. Tapi dia cuma ingin
memberinya sedikit pelajaran atas kejadian tadi. Kejadian kejar-kejaran dengan
polisi yang bikin jantung nyaris copot. Itu juga polisi, kayak nggak ada
kerjaan apa. Padahal tadi dibawah itu jalanan lagi macet-macetnya.
Mobil itu
masih berlaju dengan kecepatan normal. Mardi juga enggan mengajaknya ngobrol.
Clara tersenyum kecil. Masih tak menyangka, sahabat terbaiknya memberikan
hadiah seindah ini. Coba Mardi suka sama gue. Oops! Nggak mungkin. Itu jelas
tidak mungkin. Senyuman Clara sirna. Memikirkan kemustahilan itu.
Mardi
menangkap perubahan sikap cewek disebelahnya. Arah pandangannya ke dirinya
mendadak lepas dan beralih kearah jendela mobil disamping cewek itu. “Udah
sampai, Ra!” Mardi memberitahu Clara.
“Gue juga
udah tau.”
“Ya, turun
dong kalo udah tau.”
“Sabar dong.
Gue mau pake sepatu gue. Ribet nih talinya.” Selagi Clara bercuap-cuap, dia tak
menyadari Mardi keluar dan berjalan ke pintu mobil yang satunya lagi. Membuka
pelan-pelan. Cowok itu mendapati Clara masih kerepotan mengikat tali sepatunya.
Tanpa konfirmasi terlebih dahulu, dia tarik kaki Clara keatas permukaan
pahanya. Mulai mengikatkan tali-tali itu dengan rapi.
Clara
terpana. Menerka-nerka! Sebenarnya cowok ini siapanya dia. Temen? Sahabat?
Pacar? Atau Pembantu gue? Baik banget.
“Selesai.
Ayo turun.” Sahut Mardi datar.
“Ma…makasih.”
Clara terbata-bata. Clara masih terdiam di tempat. Mengingat peristiwa barusan.
kediamannya dipecahkan oleh tarikan tangan Mardi.
“Cepetan.
Gerimis, nih!” Mardi makin kuat menggenggam tangan Clara dan lalu menariknya.
Cewek itu menurut.
“Iya.”
Mereka duduk ditempat yang tersedia. Cewek itu memilih menu makanan. Mardi
mengikuti apa kemauan cewek didepannya itu. Dua udang saus asam manis dan dua
es teh manis terlansir dari bibir Clara. Mardi terbengong-bengong mendengar
pesenan itu. Dalam hatinya, habis ini dia mau demonstrasi ke Clara. Katanya
Cuma mau minum. Ini malah paket plus-plus. Dasar kedul!
“Wah!
Kenyang banget.” Clara memegangi perutnya.
“Katanya
tadi cuma cari minum.” Protes Mardi.
“Ah! Nggak
romantis lo jadi cowok. Masa udah diajak jalan nggak diajak makan. Lagian lo
kan juga makan.” Sahut Clara tak mau kalah.
“Tekor nih
gue.”
“Lagian
siapa suruh ngajak jalan gue. Nggak rela, nggak apa-apa. Ntar biar gue yang
bayar.”
“Nggak
boleh. Bayar urusan gue. Terhina gue sebagai cowok kaya.”
“Ya udah.
Bayar gih.”
“Sialan.”
Mardi menimpuki cewek itu dengan tisu.
“Hahaha…”
“Ra!”
panggil Mardi tiba-tiba.
Clara
menghentikan tawanya. “Hmm… apa?” jawab Clara yang sedang membungkukkan
badannya menggapai tisu yang dilemparkan Mardi. Tisu itu ada di kolong meja.
“Kayaknya
gue suka deh sama elo.” Tegasnya.
”DUK!!!”
Suara benturan yang begitu keras, hasil dari aduan kepala Clara dengan dasar
meja. Clara bener-bener kaget dengan pernyataan Mardi barusan. “ADUH!!!” teriak
Clara sambil mengusap-usap kepalanya.
“Ra, kenapa
lo?”
“Kenapa...
kenapa... Sakit nih kejeduk meja. Pake tanya.” Tandasnya. Mardi membantu
mengusap-usap kepala Clara. Sedikit membaik.
“Gimana?
Masih sakit?” Mardi memastikan keadaan cewek didepannya.
“Udah
nggak.” jawabnya lirih.
“Maaf ya.”
Mardi menurunkan tangannya dari kepala Clara.
“Maaf ?!”
ujar Clara.
“Iya,
gara-gara gue ngomong itu. Elo jadi kejeduk.”
“Ngomong
apa?” tanya Clara pura-pura bego.
“Itu…” Mardi
menggantungkan kalimatnya. Malu.
“Itu? Itu
yang mana yang diomongin?” tanyanya lagi.
“Ngg…” Mardi
malu mengulangi kalimatnya tadi.
Bersambung ke
part 3...
No comments:
Post a Comment