Sunday, 29 June 2014

Cerbung: Clara (part 2)

Cerbung - Cerita yang moga-moga aja nyambung!!!
Ditulis tanggal 26 April 2009



Jam delapan malem, tepatnya dikediaman Clara. Mardi udah nongol dengan dandanan rapi. Cowok itu menyapa orang-orang yang ada. “Malem, Tante, Oom, Mas, Mbak. Claranya ada?” Mardi setengah berbungkuk dihadapan para tuan rumah.

“Eh, Nak Mardi. Ada, kok. Silahkan duduk.”

“Makasih, Tante.” Belum sempat Mardi merasakan empuknya sofa mendadak teriakan keras mengagetkan semuanya.

“MAR, LANGSUNG NAIK KEATAS AJA. DIBAWAH MASIH RAME SOALNYA.”

“Aduh, maaf ya, Nak Mardi. Clara emang paling males disuruh turun kebawah kalo udah malem gini apalagi rame begini banyak orang.”

“Nggak papa, Tante. Aku keatas dulu ya.”

“Iya, silahkan.”

₪₪

“I’m back.” Mardi membuka pintu itu dengan gaya cool-nya.

“I’m back… I’m back… Man in black!” jawabnya sambil melempar bantal ke Mardi. 

“Nih, kuenya. Double.” Sahut Clara lagi.

“Asyik!”

“Oh iya. Mau curhat apa?” Clara mencoba membuka omongan serius.

“Gue diputusin Nita.” Tandas Mardi.

“Pantesan daritadi kayak orang gila. Syukur, deh.”

“Kok malah bersyukur sih. Orang temen lagi menderita.”

“Masa? Nggak keliatan tuh!”

“Rese lo.” Mardi menyenggol bahu Clara pelan.

“Sori-sori, bercanda. Tapi alasannya apa?”

“Masa katanya gue lebih care sama lo ketimbang dia”

“Lah... kok jadi gue dibawa-bawa.” Sahut Clara nggak terima.

“Makanya gue juga bingung.”

“OH, GUE TAU…” Teriak Clara tiba-tiba.

“Apa-apa?” Mardi jadi antusias.

“Mungkin karena orang-orang udah sadar kalau gue ini sebenernya cantik.”

“Yah, narsisnye kumat.”

“Lho nggak percaya. Sekarang gue kasih liat faktanya. Nita mutusin lo gara-gara gue. Padahal Nita cewek paling cantik berarti gue lebih cantik dong daripada yang paling cantik.”

“Narsis!”

“Yaudah kalo nggak percaya.”

“Iye…iye…”

“Bercanda, Bro!”

“Eh, tapi lo lumayan juga.”

“Iya, kalo diliat dari atap monas.” Clara menimpali.

“Dari sini juga tetep cantik.”

“Ih, apaan sih..” wajah Clara sontak memerah, malu.

“Idih, mukanya merah. Kasian banget sih lo. Gitu aja udah merah.” Mardi ketawa melihat perubahan itu. Clara cuma bisa diam. “Dulu cowok lo nggak pernah muji-muji lo, ya?”

“Mantan!” tandasnya.

“Iye, mantan.”

“Pernahlah. Tapi kan itu udah lama banget.”

“Mau dipuji lagi, nggak?” Mardi melirik kearah Clara yang jadi diam lagi. “Makanya jadi cewek gue.” lanjut Mardi.

“…” Clara terdiam.

“Ye, malah diem. Mau nggak.” Tanya Mardi. Clara menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda ketidaksetujuannya. “Jadi tetep jadi calon istri gue aja nih.” Clara tersenyum.

“Kenapa senyum?” cowok itu keheranan. Menatap aneh cewek didepannya.

“Lucu aja. Tadi kan lu lagi curhat soal Nita. Kok jadi gue yang dibahas.”

“Nggak boleh?” Mardi melotot. Clara jadi salah tingkah.

“Udah ah.” Clara mengucek-ngucek rambut cowok didepannya itu.

“Ceritanya sekarang sobat gue yang ganteng ini lagi jomblo.”

“Weits, jangan salah. Gue emang jomblo tapiiii… banyak cewek yang ngantri sama gue.”

“Siapa? Sisil? Gadis? Rasti? Atau Dian?!” Clara mengutarakan spekulasinya.

“Beuh... Itu mah lewat.”

“Jadi siapa?” cewek itu mengangkat bahunya.

“Niiiken…” Mardi memajukan wajahnya sejajar dengan wajah Clara.

“Mundurin muka lo.” Clara buru-buru menepis wajah itu pelan-pelan.

“Hello! Niken? Basi tau, dia udah punya Dio sekarang.”

“Manda kali, ye?”

“Itu lagi. Mau dihajar lo sama Reon!”

“Kalo elo?” Mardi kembali memajukan wajahnya. Tapi langsung di dorong kepalanya oleh Clara kebelakang. Julekan maut itu tak hayal membuat Mardi tak seimbang, dan nyungsep ke belakang.

“Gue! Cuih… Makasih Oom.” Clara bertolak pinggang berlagak nggak sudi.

“Nggak boleh gitu. Rezeki pantang ditolak.”

“Musibah kali.” Protesnya.

“Haha… djayuz.”

“Udahlah. Berhenti ngejar cewek-cewek itu.” Clara mengingatkan.

“Kenapa? tuh cewek aja pada nyantai.”

“Merekanya. Coba kalo yang punya.”

“Alah! Mereka bisa apa sih?” Tantang Mardi.

“Jangan salah lo. Dio jago bela diri. Dan Reon, baru aja dilantik jadi ketua Pecinta Alam. Dan itu artinya dia “jago” dalam segala hal.”

“Masa, sih, Reon pecinta alam. Nggak normal dong dia?”

“Hah! Maksudnya?”

“Masa lo nggak tau, sih. Alam itu lho yang penyanyi dangdut. Gue sih mendingan jadi pecinta Veti Vera. Kakaknya yang janda itu. Hahaha...”

“Hahaha... Garing bin djayuz lo.”

“Garing tapi ketawa.” Gantian Mardi yang bete.

“Ya, terus….?” Tanyanya tak bersalah.

“Terus… terus… elo bisa apa, Oom?”

“Gue? Bisa… bisa babak belur.”

“Elo ya. Nggak bisa diajak serius. Emang enak apa dibikin babak belur.” Clara manyun.

“Udah tenang aja. Kayaknya gue nggak jadi babak belur. Asal elo yang jadi pacar gue.”

“Hah! Ngarep. Emang elo masuk kriteria yang sebelah mana?”

“Yang rajin ibadah. Yang pinter. Yang ganteng. Yang masa depannya terjamin. Gimana?”

“Lah! Tau dari mana lo, Oom?” tanya Clara bingung.

“Mardi.” Menarik-narik kerahnya. Bergaya ala detektif ulung.

“Eh, jelek. Tau dari mana nggak elo. Jawab atau nih…” Clara mengangkat kepalan tangannya.

“Insting. Spekulasi....Mungkin juga asking-asking sama Rani. Hehehe…”

“Nggak sopan. Ini juga si Rani, ember banget.” Omelnya yang masih terus diiringi tawa Mardi.

“Puas ketawain gue. Pulang aja gih sana.”

“Idih! Tau nggak, tamu tuh raja.”

“Kalo tamunya elo sih, males gue. Bukan raja tapi babu.”

“Enak aja. Udah keren plus beken begini. Masa jadi babu.”

“Iya deh. Raja… rajanya babu.”

“Dasar.” Keduanya terdiam.

“Ra, jalan yuk.” Ajak Mardi tiba-tiba.

“Kemana? Males, ah. Udah malem.” Tolaknya

“Yaelah. Naik mobil gue ini.” Mardi merangkul cewek itu dari samping.

“Emang mau kemana?” cewek itu melepaskan rangkulan Mardi. Lalu memukul tangan jahilnya itu.

“Suka nyari kesempatan deh. Emang mau kemana?” ujarnya lagi.

“Ke tempat yang banyak cahaya.”

“Duile! Disini juga udah terang kali, Oom.” Ledek Clara.

“Beda!”

“Maksud lo, beda gimana?”

“Kalo yang ini nggak cuma cahaya lampu aja. Udah ikut, aja.”

“Nggak, ah.” Tolaknya lagi.

“Ayo…!” paksa Mardi. “Maksa…!!” “Oh, nggak kok nggak maksa. Cepetan yang ya calon istriku.” Dengan langkah gontai, Clara berjalan. Ganti baju.

“Mar, pake baju yang mana?” tanya Clara sambil nunjuk kumpulan baju-bajunya dilemari yang dibukanya.

“Yang mana aja. Jalan sama gue mah nggak perlu pake dress code.”

“Yang ini aja ya.” Clara mengambil satu baju kasualnya. Mardi mengangguk setuju.

“Mar...” panggil Clara lagi.

“Apaan lagi sih.”

“Kacamata gue... tolong ambilin... tuh dikasur.”

“Yaelaaah manja beut.” Mardi langsung mengambilnya dan memberikannya kepada Clara.

“Makasih.”

Setelah selesai. Mardi meminta izin untuk mengajak jalan Clara ke anggota keluarga cewek itu di ruang tamu.

“Tante, Mbak Indah, dan Mas Tio… Aku mau ajak Clara jalan keluar sebentar. Boleh, kan?” Ujar Mardi singkat.

“Boleh. Eh, tapi jagain adik gue ya, Mar.” Mas Tio yang langsung mengubah arah pandangannya ke Mardi dan meninggalkan Koran yang sedang dibacanya.

“Pasti, Mas.” Mardi mengacungkan jempol.

“Hati-Hati.” Ibu Clara menasehati.

“Sip.” Clara menjawab. Dan lantas berpamitan. Mencium tangan-tangan didepannya. Mardi juga mengikuti dibelakangnya.

“Dah, semua.!” Teriak Clara yang menuju pintu mobil Mardi.

₪₪

Mereka berdua masuk ke mobil dan pergi berkeliling-keliling nggak jelas disekitar Matraman Salemba. Sudah hampir tiga kali Mardi melewati tempat itu. Namun dia hanya berhenti sebentar, itu pun hanya sekedar mengambil beberapa dahan pohon.
Clara tampak kebingungan melihat perilaku Mardi yang lumayan membuatnya was-was. Tanpa mempedulikan kecemasan cewek yang ada dimobilnya, Mardi buru-buru mengikat dahan pohon itu dengan tali yang dibawanya tepat di bemper belakang. Setelah itu Mardi masuk kembali ke dalam mobilnya.

“Itu buat apa, Mar?” Clara memutar tubuhnya dan menunjuk ke arah belakang.

“Oh, itu. Buat jaga-jaga!”

“Jaga-jaga? Jaga-jaga apaan?”


“Udah sabar dulu kenapa? Ntar juga tau.” Tandasnya.

“Mardi! Rese banget sih. Gue kan takut.” Cewek itu memegang pinggiran jaket cowok itu.

“Sama!” jawab Mardi sama seriusnya dengan ekspresi cewek didepannya. Aduh! Kok jawabannya begitu. Bukannya tenang aja kan ada gue atau apa kek yang buat gue tenang. Ini malah ‘sama!’. Batin Clara yang masih menatap Mardi dengan lekatnya.

Setelah balik arah dan kembali melewati jalanan Matraman Salemba dari arah Pramuka. Mardi mengemudikan mobilnya ke sebuah Fly Over. Dan berhenti tepat diatasnya. 

“Mar, gila ya! Ntar kalo ada mobil nabrak gimana?”

“Yaelah, nih anak. Nggak ngerti juga! Gue tuh ambil dahan pohon supaya mobil gue disangka mogok. Biar jadi kalo ada apa-apa gampang.”

“Oh! Terus kita mau ngapain kesini?” tanya Clara polos.

“Nah Lho! Dia lupa. Bukannya dulu elo pingin banget kesini untuk ngeliat cahaya. Tuh yang kayak gitu.” Mardi menujukkan kesebuah fokus didepannya. Cahaya lampu penerangan jalan.

“Masa?” Tanya Clara bego.

“Lupa?”

“He-eh!” Clara manggut-manggut.

“Sini deh.” Cowok itu memanggilnya seketika itu Clara mendekatinya.

“Coba berdiri disamping gue.” Cewek itu langsung pindah ke samping Mardi.

“Terus?”

“Buka kacamata lo.”

“Yah. Nggak keliatan, dong.”

“Itu seninya.”

“Gue buka nih.” Clara menanyakan pertanyaan nggak penting itu lagi.

“Iya. Apa perlu gue yang bukain.”

“Enak aja.”

Setelah itu… Clara melihat kilauan cahaya yang terbias. Begitu indah dan tergambar abstrak. Blur yang dihasilkan dari mata rabun cantik banget (mata minus aje kali ye, lebih manusiawi kayaknya).

“Bagus banget, Mar.” Clara memekik kegirangan.

“Bener kan. Dibilangin bagus, juga.”

“Iya. Makasih ya.”

“Untuk?”

“Ini. Nggak nyangka elo masih inget apa yang gue mau. Gue aja udah lupa.” Clara mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Sama-sama.” Mardi mengusap rambut cewek itu perlahan.

Tiba-tiba terdengar sirene mobil polisi berbunyi, kecil tapi pasti.

“Ra, cepetan masuk mobil.” Teriaknya.
Clara kebingungan. “Yah. Cepet banget. Emang kenapa?”

“Ada polisi dibelakang.”

“APA!!!” teriak Clara tak kalah kencangnya. Mardi dan Clara segera masuk ke mobil. Di gas mobil itu dalam-dalam oleh Mardi, dan Lariiii….

₪₪

“Gila! Gue takut banget nih.” Sahut Clara dengan nafas yang tidak teratur.

“Elo kira cuma elo doang. Makanya gue bilang sama.”

“Elo nggak mikir ya. Kalo tadi kita ketangkep gimana? Jadi apaan?”

“Paling jadi tahanan tiga hari.”

“Dodol! Elo kira enak jadi narapidana.”

“Selama gue bisa deket sama lo dan selalu sama lo pasti jadi enak.”

“Gue yang ogah.”

“Yakin?”

“Pastinya.”

“Heh! Gue ngelakuin itu tuh biar elo tuh bisa seneng. Dulu tuh elo sampe teriak-teriak minta turun diatas tadi. Malah kenapa jadi gue diomelin. Lo kira gue nggak takut apa? Resikonya bukan cuma sama polisi aja, tapi sama keluarga lo. Ngerti?” Mardi menjelaskan panjang lebar. Mimik mukanya terlihat kecewa. Clara diam tak menyangka.

“Lagian siapa suruh?” Clara nggak mau kalah statement walaupun dia udah pingin meluk cowok itu dan berterima kasih.

“Emang nggak ada yang suruh. Itu kemauan gue sendiri. Gue pingin elo bisa senyum. Cuma itu!”

“Tapi kenapa harus yang ini.” Clara melunak.

“Udah deh. Udah lewat! Udah ngeliat, kan?” potongnya.

“Iya sih.”

“Pulang yuk!” ajak Mardi.

“Ntar dulu dong. Masih deg-degan. Cari minum dulu, ya.”

“Ya udah. Mau kemana, Cantik?” Mardi mengiyakan permintaan Clara.

“Apa?” Clara mendengar samar-samar suara Mardi barusan. Soalnya ada truk lewat disamping mobil Mardi.

“Mau kemana, Budek.”

“Bukannya tadi elo manggil gue cantik. Kok jadi budek sih!”

“Cepetan, mau kemana nih.”

“Sabang!!!”

“Apa Sabang lagi.” Mardi menujukkan ketidakrelaannya apabila harus kesana lagi. Gila! Nggak ada tongkrongan yang lain apa yang jadi idaman.

“Mau nggak?” tanya Clara mememastikan.

“Nggak.” Mardi cepat-cepat menjawabnya.

“Ya udah. Gue turun nih dari mobil.” Ancem Clara.

“Iya-iya. Oh Sabang, we’re back again!”

₪₪

Ketidakrelaan itu masih terpancar diwajah Mardi. Dan Clara tau betul. Tapi dia cuma ingin memberinya sedikit pelajaran atas kejadian tadi. Kejadian kejar-kejaran dengan polisi yang bikin jantung nyaris copot. Itu juga polisi, kayak nggak ada kerjaan apa. Padahal tadi dibawah itu jalanan lagi macet-macetnya.

Mobil itu masih berlaju dengan kecepatan normal. Mardi juga enggan mengajaknya ngobrol. Clara tersenyum kecil. Masih tak menyangka, sahabat terbaiknya memberikan hadiah seindah ini. Coba Mardi suka sama gue. Oops! Nggak mungkin. Itu jelas tidak mungkin. Senyuman Clara sirna. Memikirkan kemustahilan itu.

Mardi menangkap perubahan sikap cewek disebelahnya. Arah pandangannya ke dirinya mendadak lepas dan beralih kearah jendela mobil disamping cewek itu. “Udah sampai, Ra!” Mardi memberitahu Clara.

“Gue juga udah tau.”

“Ya, turun dong kalo udah tau.”

“Sabar dong. Gue mau pake sepatu gue. Ribet nih talinya.” Selagi Clara bercuap-cuap, dia tak menyadari Mardi keluar dan berjalan ke pintu mobil yang satunya lagi. Membuka pelan-pelan. Cowok itu mendapati Clara masih kerepotan mengikat tali sepatunya. 

Tanpa konfirmasi terlebih dahulu, dia tarik kaki Clara keatas permukaan pahanya. Mulai mengikatkan tali-tali itu dengan rapi.

Clara terpana. Menerka-nerka! Sebenarnya cowok ini siapanya dia. Temen? Sahabat? Pacar? Atau Pembantu gue? Baik banget.

“Selesai. Ayo turun.” Sahut Mardi datar.

“Ma…makasih.” Clara terbata-bata. Clara masih terdiam di tempat. Mengingat peristiwa barusan. kediamannya dipecahkan oleh tarikan tangan Mardi.

“Cepetan. Gerimis, nih!” Mardi makin kuat menggenggam tangan Clara dan lalu menariknya. Cewek itu menurut.

“Iya.” Mereka duduk ditempat yang tersedia. Cewek itu memilih menu makanan. Mardi mengikuti apa kemauan cewek didepannya itu. Dua udang saus asam manis dan dua es teh manis terlansir dari bibir Clara. Mardi terbengong-bengong mendengar pesenan itu. Dalam hatinya, habis ini dia mau demonstrasi ke Clara. Katanya Cuma mau minum. Ini malah paket plus-plus. Dasar kedul!

“Wah! Kenyang banget.” Clara memegangi perutnya.

“Katanya tadi cuma cari minum.” Protes Mardi.

“Ah! Nggak romantis lo jadi cowok. Masa udah diajak jalan nggak diajak makan. Lagian lo kan juga makan.” Sahut Clara tak mau kalah.

“Tekor nih gue.”

“Lagian siapa suruh ngajak jalan gue. Nggak rela, nggak apa-apa. Ntar biar gue yang bayar.”

“Nggak boleh. Bayar urusan gue. Terhina gue sebagai cowok kaya.”

“Ya udah. Bayar gih.”

“Sialan.” Mardi menimpuki cewek itu dengan tisu.

“Hahaha…”

“Ra!” panggil Mardi tiba-tiba.

Clara menghentikan tawanya. “Hmm… apa?” jawab Clara yang sedang membungkukkan badannya menggapai tisu yang dilemparkan Mardi. Tisu itu ada di kolong meja.

“Kayaknya gue suka deh sama elo.” Tegasnya.

”DUK!!!” Suara benturan yang begitu keras, hasil dari aduan kepala Clara dengan dasar meja. Clara bener-bener kaget dengan pernyataan Mardi barusan. “ADUH!!!” teriak Clara sambil mengusap-usap kepalanya.

“Ra, kenapa lo?”

“Kenapa... kenapa... Sakit nih kejeduk meja. Pake tanya.” Tandasnya. Mardi membantu mengusap-usap kepala Clara. Sedikit membaik.

“Gimana? Masih sakit?” Mardi memastikan keadaan cewek didepannya.

“Udah nggak.” jawabnya lirih.

“Maaf ya.” Mardi menurunkan tangannya dari kepala Clara.

“Maaf ?!” ujar Clara.

“Iya, gara-gara gue ngomong itu. Elo jadi kejeduk.”

“Ngomong apa?” tanya Clara pura-pura bego.

“Itu…” Mardi menggantungkan kalimatnya. Malu.

“Itu? Itu yang mana yang diomongin?” tanyanya lagi.

“Ngg…” Mardi malu mengulangi kalimatnya tadi.



Bersambung ke part 3...

No comments:

Post a Comment