Monday, 30 June 2014

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 3)

Part 3

PESONA BINTANG JATUH!


Upacara bendera pun dilaksanakan. Derap langkah kaki barisan pengibar bendara merah putih sudah mulai terdengar melaju ke tiang bendera. Nadala dan teman-teman paduan suara yang lain siap-siap untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera dikibarkan, siap untuk ditarik ke atas dan berkibar lebih tinggi lagi. Dengan perlahan bendera tersebut naik, tarikan demi tarikan diiringi oleh suara merdu paduan suara sekolah.

Nadala bernyanyi dengan girangnya. Matanya sesekali sambil mengedari barisan lain. Banyak yang ikut bernyanyi. Banyak yang diam, tapi pandangannya mengikuti jejak bendera yang kian tinggi. Tapi ketika matanya menuju satu fokus didepannya, tiba-tiba sesosok murid laki-laki yang sedang bertugas menjadi pemimpin upacara terlihat melirik kearahnya, tersenyum. Deng! "Siapa dia? Ya ampun senyumnya." batin Nadala terpesona.

Nadala terpesona. Nafasnya terhenti sesaat dikala pandangan itu mengarah kepadanya. Dan senyuman itu! Buru-buru dia tengok ke kanan dan ke kiri. Tidak ada satupun dalam barisannya yang merasa menerima senyum itu. Nampaknya, senyum itu ditujukan untuknya. Menyadari kemungkinan itu, Nadala seperti kejatuhan bintang. Tapi dia sedikit menyesal karena tadi tak buru-buru membalas senyumnya, malah terdiam dungu.

Puisi Nadala: Ada bintang jatuh dalam diri seorang anak Adam. Lewat lirikan mata yang tepat terfokus padaku, dia lantunkan perkenalan. Lewat senyum yang ringan tanpa tendensi, dia menyapaku. Siapakah dia? Berkenankah waktu mempertemukanku dengan sang pemilik senyum itu di lain kesempatan? Entahlah. Oh, bintang jatuh. Hari-hariku bergelimangan cahaya mulai kini.

Andria tampak semakin jenuh dengan upacara bendera hari ini. Tidak adakah cara agar dia bisa keluar dari barisan. Seandainya saja ada Gatot Kaca yang datang dan membawanya terbang ke langit. Pasti Andria akan rela dibawa kemanapun. Tapi dunia ini nyata bukan dongeng. Mana ada Gatot Kaca di Era Milenium begini. Tapi melihat seseorang dibarisan kelas satu jatuh pingsan, mendadak dia mendapatkan ide cemerlang.

Andria terkekeh sendiri. Adegan itu memberinya inspirasi. Tidak perlu menunggu Gatot Kaca yang asli, Gatot Kaca dadakan juga pasti datang membantunya. Siapa lagi kalau bukan anak-anak PMR yang berjaga di belakang dari setiap barisan. Andria mulai mempersiapkan diri untuk berakting. Pura-pura dia urut-urut keningnya. Dia perlahan berlaga tak seimbang. Sekali lagi, dia urut-urut keningnya dengan lebih dramatis.

Teman disebelahnya sudah mulai tampak curiga dengan tingkah Andria yang seperti orang mau pingsan. "An, lo nggak apa-apa?" tanyanya khawatir. Andria menggeleng. "Nggak. Nggak apa-apa kok." jawabnya pura-pura setak-berdaya mungkin. Padahal dalam hati, Andria mau ngakak habis-habisan melihat kepanikan temannya satu itu tercetak tebal diwajahnya. Kembali Andria memainkan perannya yang sempoyongan. Dan PINGSAN!!!

Andria meringankan tubuhnya dan memasrahkan tubuhnya jatuh begitu saja. Tubuh Andria jatuh menimpa teman disebelahnya. Sontak semua orang dibuat kaget dengan jatuh pingsannya Andria. Anak-anak PMR buru-buru masuk ke dalam barisan, mengambil alih pertolongan. Dua orang anak PMR memapah Andria. Dalam hatinya Andria bertanya-tanya, Bener nggak sih orang pingsan begini bentuknya? Bodo amatlah.

Kedua anak PMR itu tampak kerepotan memapah Andria. Bagaimana tidak, tubuh mereka lebih mungil dari tubuh korbannya. Ya, pasti kerepotan. Andria sendiri juga jadi serba salah, benar-benar memasrahkan dirinya pun alamat celaka dua belas. Bisa-bisa ketika tidak kuat memapahnya, kedua penolongnya itu yang justru pasrah menolongnya. Itu artinya kemungkinan jatuh beneran bisa saja terjadi. Andria jadi semakin was-was.

Tapi ditengah kewas-wasannya akan nasib tubuhnya yang terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba, seseorang mengambil alih upaya pertolongan itu. Tubuh Andria langsung digendong dengan kedua tangannya. Andria tersentak kaget, "Aduh, siapa nih. Seenak-enaknya main gendong-gendong gue. Sok jadi Gatot Kaca!" batinnya kesal. Tapi mendadak, suara yang dikenalnya menggema ditelinganya. Deng!

"Kalian balik aja ke tempat jaga kalian. Biar aku yang bawa dia ke ruang kesehatan." sahut si Gatot Kaca dadakan. Kedua makhluk mungil yang melilitkan slayer PMR di lehernya itu - yang sudah bersusah payah memapah Andria dengan kecepatan  keong itu akhirnya berpamitan dan kembali ke tempat mereka berjaga. Andria membatin, "Tega banget sih kalian. Masa gue diserah-terimakan sama orang ini. Cowok belagu ini. Oh tidaakkkk."

Andria tahu betul siapa cowok belagu ini. Dari suaranya saja, Andria bisa membayangkan wajah sengaknya. Kalau saja, dia tidak sedang pura-pura pingsan. Pasti sudah dijadikan perkedel cowok ini karena seenaknya menggendong dirinya seperti ini. Andria membuka sebelah matanya, melirik kearah cowok itu. "Tuh kan, bener si Vero." batinnya. Lalu segera memejamkan matanya kembali. Tapi tiba-tiba...

"Nggak usah sok ngintip-ngintip gitu. Gue tahu kok kalo gue emang keren." sahut Vero. Andria tetap mempertahankan sandiwaranya, pura-pura tak bergeming. "Gue tahu lo ngibul. Dasar! Bilang aja males ikut upacara." lanjut vero lagi. Huh! Apa boleh buat. Penyamarannya sudah tercium. Masih dalam keadaan mata terpejam, Andria menjawab sahutan Vero. "Kalau udah tahu gue pura-pura ngapain juga lo sok bantuin nolongin gue."

"... Pake aja acara gendong-gendong gue segala. Damn!" tandas Andria kesal. "Yaelah, masih untung lo gue tolongin. Badan segede gini yang bantuin sekecil gitu." balas Vero. "Cih! Mana mungkin. Nggak ada potongan orang kayak lo itu mau bantuin gue." serang Andria lagi. "Haha... Cerdas! Ya, iyalah. Mana mungkin gue nolongin lo. Mikir dong. Emang cuma lo doang yang mau melarikan diri dari sini." ujarnya menyeringai senang.

Mata Andria langsung terbuka seketika, langsung menatap mata Vero. "Sial. Gue dijadiin umpan lo untuk melarikan diri dari upacara." kecam Andria yang keki karena diumpani. "Oh, tidak. Ini namanya simbiosis mutualisme. Gue bantu lo. Lo bantu gue." jawab Vero santai. Kali ini ganti Vero yang menatapnya. Andria buru-buru memejamkan matanya lagi. "Whatever!" balas Andria saking kesalnya. "Udah, cepetan deh bawa gue ke ruang kesehatan. Lama bener jalannya." lanjutnya lagi. "Hallooo... lo pikir badan lo ringan?" protes Vero seketika. Oops! Andria malu. Dia lupa bahwa dia bukan masuk kategori cewek langsing. Pantas saja dua anak PMR tadi kelimpungan menolongnya.

Akhirnya, mereka sampai juga ke ruang kesehatan. Pelan-pelan, Vero merebahkan Andria ke tempat tidur. Vero juga membiarkan anak-anak PMR yang mengambil alih tindakan pertolongan. Andria masih sempat mencuri pandangan ke arah Vero. Andria melihat Vero keletihan membopongnya sampai kesini. Bahkan hingga Andria memejamkan matanya lagi, nafas ngos-ngosan Vero masih terdengar olehnya. Andria iba juga akhirnya. Jujur, sejak mata Vero berkilat padanya tadi, hati Andria mendadak berdebar kencang. Bahkan untuk balas menatapnya pun dia tak sanggup. Rasanya seperti kejatuhan bintang. Bintang yang benar-benar bintang sekolah. Oh, tidak Andriaaaa... Ini tidak mungkin. Andria membuang jauh-jauh kemungkinan itu. 

■■■■

No comments:

Post a Comment