Part 3
PESONA
BINTANG JATUH!
Upacara bendera pun dilaksanakan. Derap langkah
kaki barisan pengibar bendara merah putih sudah mulai terdengar melaju ke tiang
bendera. Nadala dan teman-teman paduan suara yang lain siap-siap untuk
menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera dikibarkan, siap untuk ditarik ke atas
dan berkibar lebih tinggi lagi. Dengan perlahan bendera tersebut naik, tarikan
demi tarikan diiringi oleh suara merdu paduan suara sekolah.
Nadala bernyanyi dengan girangnya. Matanya
sesekali sambil mengedari barisan lain. Banyak yang ikut bernyanyi. Banyak yang
diam, tapi pandangannya mengikuti jejak bendera yang kian tinggi. Tapi ketika
matanya menuju satu fokus didepannya, tiba-tiba sesosok murid laki-laki yang
sedang bertugas menjadi pemimpin upacara terlihat melirik kearahnya, tersenyum.
Deng! "Siapa dia? Ya ampun senyumnya." batin Nadala terpesona.
Nadala terpesona. Nafasnya terhenti sesaat
dikala pandangan itu mengarah kepadanya. Dan senyuman itu! Buru-buru dia tengok
ke kanan dan ke kiri. Tidak ada satupun dalam barisannya yang merasa menerima
senyum itu. Nampaknya, senyum itu ditujukan untuknya. Menyadari kemungkinan
itu, Nadala seperti kejatuhan bintang. Tapi dia sedikit menyesal karena tadi
tak buru-buru membalas senyumnya, malah terdiam dungu.
Puisi Nadala: Ada bintang jatuh dalam diri
seorang anak Adam. Lewat lirikan mata yang tepat terfokus padaku, dia lantunkan
perkenalan. Lewat senyum yang ringan tanpa tendensi, dia menyapaku. Siapakah
dia? Berkenankah waktu mempertemukanku dengan sang pemilik senyum itu di lain
kesempatan? Entahlah. Oh, bintang jatuh. Hari-hariku bergelimangan cahaya mulai
kini.
Andria tampak semakin jenuh dengan upacara
bendera hari ini. Tidak adakah cara agar dia bisa keluar dari barisan.
Seandainya saja ada Gatot Kaca yang datang dan membawanya terbang ke langit.
Pasti Andria akan rela dibawa kemanapun. Tapi dunia ini nyata bukan dongeng.
Mana ada Gatot Kaca di Era Milenium begini. Tapi melihat seseorang dibarisan
kelas satu jatuh pingsan, mendadak dia mendapatkan ide cemerlang.
Andria terkekeh sendiri. Adegan itu memberinya
inspirasi. Tidak perlu menunggu Gatot Kaca yang asli, Gatot Kaca dadakan juga
pasti datang membantunya. Siapa lagi kalau bukan anak-anak PMR yang berjaga di
belakang dari setiap barisan. Andria mulai mempersiapkan diri untuk berakting.
Pura-pura dia urut-urut keningnya. Dia perlahan berlaga tak seimbang. Sekali
lagi, dia urut-urut keningnya dengan lebih dramatis.
Teman disebelahnya sudah mulai tampak curiga
dengan tingkah Andria yang seperti orang mau pingsan. "An, lo nggak
apa-apa?" tanyanya khawatir. Andria menggeleng. "Nggak. Nggak apa-apa
kok." jawabnya pura-pura setak-berdaya mungkin. Padahal dalam hati, Andria
mau ngakak habis-habisan melihat kepanikan temannya satu itu tercetak tebal
diwajahnya. Kembali Andria memainkan perannya yang sempoyongan. Dan PINGSAN!!!
Andria meringankan tubuhnya dan memasrahkan
tubuhnya jatuh begitu saja. Tubuh Andria jatuh menimpa teman disebelahnya.
Sontak semua orang dibuat kaget dengan jatuh pingsannya Andria. Anak-anak PMR
buru-buru masuk ke dalam barisan, mengambil alih pertolongan. Dua orang anak
PMR memapah Andria. Dalam hatinya Andria bertanya-tanya, Bener nggak sih orang pingsan begini bentuknya? Bodo amatlah.
Kedua anak PMR itu tampak kerepotan memapah
Andria. Bagaimana tidak, tubuh mereka lebih mungil dari tubuh korbannya. Ya,
pasti kerepotan. Andria sendiri juga jadi serba salah, benar-benar memasrahkan
dirinya pun alamat celaka dua belas. Bisa-bisa ketika tidak kuat memapahnya,
kedua penolongnya itu yang justru pasrah menolongnya. Itu artinya kemungkinan
jatuh beneran bisa saja terjadi. Andria jadi semakin was-was.
Tapi ditengah kewas-wasannya akan nasib
tubuhnya yang terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba, seseorang
mengambil alih upaya pertolongan itu. Tubuh Andria langsung digendong dengan
kedua tangannya. Andria tersentak kaget, "Aduh, siapa nih. Seenak-enaknya
main gendong-gendong gue. Sok jadi Gatot Kaca!" batinnya kesal. Tapi
mendadak, suara yang dikenalnya menggema ditelinganya. Deng!
"Kalian balik aja ke tempat jaga kalian. Biar
aku yang bawa dia ke ruang kesehatan." sahut si Gatot Kaca dadakan. Kedua
makhluk mungil yang melilitkan slayer PMR di lehernya itu - yang sudah bersusah
payah memapah Andria dengan kecepatan
keong itu akhirnya berpamitan dan kembali ke tempat mereka berjaga.
Andria membatin, "Tega banget sih kalian. Masa gue diserah-terimakan sama
orang ini. Cowok belagu ini. Oh tidaakkkk."
Andria tahu betul siapa cowok belagu ini. Dari
suaranya saja, Andria bisa membayangkan wajah sengaknya. Kalau saja, dia tidak
sedang pura-pura pingsan. Pasti sudah dijadikan perkedel cowok ini karena
seenaknya menggendong dirinya seperti ini. Andria membuka sebelah matanya,
melirik kearah cowok itu. "Tuh kan, bener si Vero." batinnya. Lalu
segera memejamkan matanya kembali. Tapi tiba-tiba...
"Nggak usah sok ngintip-ngintip gitu. Gue
tahu kok kalo gue emang keren." sahut Vero. Andria tetap mempertahankan
sandiwaranya, pura-pura tak bergeming. "Gue tahu lo ngibul. Dasar! Bilang
aja males ikut upacara." lanjut vero lagi. Huh! Apa boleh buat.
Penyamarannya sudah tercium. Masih dalam keadaan mata terpejam, Andria menjawab
sahutan Vero. "Kalau udah tahu gue pura-pura ngapain juga lo sok bantuin
nolongin gue."
"... Pake aja acara gendong-gendong gue
segala. Damn!" tandas Andria
kesal. "Yaelah, masih untung lo gue tolongin. Badan segede gini yang
bantuin sekecil gitu." balas Vero. "Cih! Mana mungkin. Nggak ada
potongan orang kayak lo itu mau bantuin gue." serang Andria lagi.
"Haha... Cerdas! Ya, iyalah. Mana mungkin gue nolongin lo. Mikir dong.
Emang cuma lo doang yang mau melarikan diri dari sini." ujarnya
menyeringai senang.
Mata Andria langsung terbuka seketika, langsung
menatap mata Vero. "Sial. Gue dijadiin umpan lo untuk melarikan diri dari
upacara." kecam Andria yang keki karena diumpani. "Oh, tidak. Ini
namanya simbiosis mutualisme. Gue bantu lo. Lo bantu gue." jawab Vero
santai. Kali ini ganti Vero yang menatapnya. Andria buru-buru memejamkan
matanya lagi. "Whatever!"
balas Andria saking kesalnya. "Udah, cepetan deh bawa gue ke ruang
kesehatan. Lama bener jalannya." lanjutnya lagi. "Hallooo... lo pikir
badan lo ringan?" protes Vero seketika. Oops! Andria malu. Dia lupa bahwa
dia bukan masuk kategori cewek langsing. Pantas saja dua anak PMR tadi
kelimpungan menolongnya.
Akhirnya, mereka sampai juga ke ruang
kesehatan. Pelan-pelan, Vero merebahkan Andria ke tempat tidur. Vero juga
membiarkan anak-anak PMR yang mengambil alih tindakan pertolongan. Andria masih
sempat mencuri pandangan ke arah Vero. Andria melihat Vero keletihan membopongnya
sampai kesini. Bahkan hingga Andria memejamkan matanya lagi, nafas ngos-ngosan
Vero masih terdengar olehnya. Andria iba juga akhirnya. Jujur, sejak mata Vero
berkilat padanya tadi, hati Andria mendadak berdebar kencang. Bahkan untuk
balas menatapnya pun dia tak sanggup. Rasanya seperti kejatuhan bintang.
Bintang yang benar-benar bintang sekolah. Oh, tidak Andriaaaa... Ini tidak
mungkin. Andria membuang jauh-jauh kemungkinan itu.
■■■■
No comments:
Post a Comment