Monday, 30 June 2014

Drama Kemacetan

Ditulis 7 Juli 2011


Lagi-lagi mobil merapat bagai rayap... Tak segan-segan bus besar pun saling adu body... 

Lampu merah benar-benar menyala menyulut gelagat yang sudah letih di balik kemudi... Marah... 

Dengan mimik muka yang tertahan... 

Jangan marah... Karena tetap akan seperti itu... Terjebak rutinitas... 

Adapula beberapa wanita rapih berhak tinggi... Duduk dengan segala gengsi dan perhiasan mentereng... Melihat dengan sudut mata yang kian menyipit... Didepannya tengah ada pengamen bermodal tepukan tangan dan suara seperti habis menenggak secawan arak yang memabukkan... 


"Hei, jangan berorasi di depan wajahku... Hanya melunturkan riasan yang sudah kusapu berjam-jam saja." 

Sang pengamen berkata, "Maaf, Bu. saya tidak sedang berorasi. Tapi bernyanyi." 

"Panggil saya NYONYA. Karena saya tidak pernah menjadi ibumu. Mengapa bernyanyi tanpa nada." 

"Maafkan saya, Nyonya. Kalau anda tidak berkenan. Saya hanya berusaha mengganjal perut. Dan saya juga mencoba berusaha menghibur anda ditengah kemacetan ini" 

"Huh..." 


Begitulah...

No comments:

Post a Comment