Part 9
HANYA
SEKEDAR BASKET
Pagi ini entah apa yang membuat Andria bangun
lebih cepat dari kokokan ayam milik tetangganya. Bunda saja terheran-heran
menemukan anak perempuannya sedang bertengger di dapur, dengan tangan penuh
busa dari cucian piring kotor. "Kamu ngapain, Nak?" tanya Bunda
heran. "Cuci piring, Bun." jawab andria sambil mengangkat salah satu
piring yang sedang dicucinya. "Tumben bangunnya lebih pada pagi dari Bunda?" tanya Bunda lagi. "Bukan cuma lebih pagi
dari Bunda, tapi lebih pagi dari kokokan ayamnya tetangga kita, Bun."
jawab Andria bangga. "Iya... tapi tumben? Padahal kan kamu siaran sampe
malam?" kening Bunda mengernyit. "Tahu nih, Bun. Aku juga heran.
Hahaha... tapi bagus kan, Bun. Berarti Bunda nggak perlu repot-repot
ngetuk-ngetuk pintu kamar aku lagi supaya aku bangun. Kesian tau pintunya,
Bun" jawab Andria sambil menggoda Bundanya.
"Kamu nih bisa aja godain Bunda. Lanjutin
gih cuci piringnya." sahut Bunda sambil memasak air dan menyiapkan
bahan-bahan makanan yang akan diolah untuk sarapan nanti, "Oh ya, An. Abis
cuci piring, tolong bangunin adekmu ya." Andria mengacungkan kedua
jempolnya tinggi-tinggi ke atas pertanda setuju. "Jangan bikin polusi
pagi-pagi ah." ujar Bundanya tiba-tiba. Andria menoleh tajam ke arah
Bundanya, menampilkan wajah super bingung, "Kok?"
"Itu..." Bunda menunjuk kearahnya,
"aromanya luar biasa." lanjut Bundanya lagi sambil tersenyum
menggoda. "Ya ampun, Bunda ngebanyol? Ih, sesuatu banget, deh. Akhirnya,
Bunda ngebanyol. Ya, Tuhan... terima kasih karena Engkau telah meniupkan satu
bakat baru yang mungkin terpendam dalam hidupnya selama ini." sahut Andria
yang terkesima dengan apa yang terjadi barusan. "Haduh, bercanda mulu.
Sana gih bangunin adekmu."
"Iya... Iyaaa..." sahut Andria yang
langsung melesat ke kamar adeknya. Andria mengetuk sekali pintu kamar Rome.
Tidak ada sahutan. Andria yang tahu Rome tidak pernah mengunci pintu, akhir
berinisiatif masuk. "Permisi masuk ya Romeeee.... Iya masuk aja, Kak.
Pintu nggak dikunci." Andria melempar dan menjawab sendiri pertanyaannya,
seolah-olah terjadi percakapan dengan Rome. Catet! Sekedar permisi...
Andria memang jarang sekali masuk ke kamar
adiknya itu. Hobi bangun siangnya itu membuatnya hanya tahu kondisi kamar Rome
di pagi hari dari Bundanya saja. Bunda selalu bilang, Rome tidak pernah
sekalipun ketinggalan mendengarkan siaran dongengnya di radio. Asli, Andria
tidak percaya untuk satu hal itu. Rome selalu acuh jika ditanya soal
dongeng-dongengnya di radio oleh Andria.
Tapi pagi ini, akhirnya Andria percaya begitu
dilihatnya sendiri Rome tidur sambil memeluk radio kecil miliknya. Radio
tersebut masih menyala dan Andria mengenal suara orang disebrang dengan
serentetan jargon-jargon khusus ala Radio TAMUSEMA. Andria jadi senang sekali.
Ya, walaupun Rome sok cuek ternyata dia diam-diam penggemar kakaknya sendiri.
"Pesona suara gue emang susah di tolak sih. Haha..." akunya bangga.
Andria berjalan mendekat ke tempat tidur Rome
dan segera membangunkannya. Ditepuk-tepuknya lengan Rome, "Dek,
bangun..." Rome bergeming sebentar, matanya terbuka tapi sedetik kemudian
tertutup lagi. Sekarang malah berganti posisi tidur, membelakangi Andria.
"Woi, bangun kali udah pagi. Susah banget sih dibanguninnya." Oops!
Andria jadi terkikik sendiri, biasanya dia yang seperti ini. "Romeee...
Bangun woi."
Akibat lengkingan suara Andria ditambah
guncangan demi guncangan yang mendorong lengan dan bahunya, Rome akhirnya
terbangun. Dengan muka bete, Rome mengacak-acak rambutnya sendiri dan
berteriak, "Kakaaaaaaak... Kalau bangunin orang tuh jangan brutal gitu
kenapa." Andria memasang wajah sok polosnya,"Segitu brutal ya? Ya
ampun, tadinya tuh kakak mau manggil rombongan bison abis kamu nggak
bangun-bangun sih."
"Gila apa? Itu namanya bukan mau bangunin
aku. Tapi menganiaya aku, Kak. Bisonlah segala dibawa-bawa. Ngeri banget,
deh." tandas Rome kesal. Andria terdiam. Bukan karena Rome yang kesal
padanya melainkan omongan Rome barusan yang mirip sekali dengan gaya bicara
seseorang. "Yaa... Dia bengong." Ujar Rome protes. "Helloooo my durudung sister... Are
you still here?" Lanjut Rome.
Andria tergeragap kaget. "Hah? Kenapa-kenapa?
"Jiaaah, si kakak... Dia malah bertanya
mengapa?" ujar Rome menepuk keningnya sendiri. "Lah emang
kenapa?" tanya Andria heran. "Duhai my durudung sister... Tadi tuh kakak mendadak diem nggak jelas. Aku
sih tahu kalau wajahku sebelas dua belas sama justin bieber, cuma nggak usah
sampe terkesima gitu dengan ketampananku dong." sahut Rome yang semakin
ngaco. Ekspresi Andria berubah drastis, bibirnya mememble maksimal.
"Justin apa?" tanya Andria
berpura-pura. "Justin Bieber." Jawab Rome singkat dan bangga.
"Apaan sih? Ngigo ya kamu! Bangun Rome... Bangun dari segala daya khayalmu
yang sangat tinggi itu." tandas Andria tidak terima. "Dasar
pendongeng udara." sindir Rome. "Biarin. Gini-gini aku banyak fans
lho. Termasuk seseorang yang barusan nyindir kakak." ujar Andria menaikkan
alisnya, menggoda sang adik. "Aku?" Pekik Rome.
"Iya, kamu." jawab Andria mantap.
"No...No...No... Kakak ngarep banget sih. Siapa juga yang ngefans sama
kakak." sangkal Rome. "Masa? Yakin? Radio sampe dipeluk begitu masih
mau nyangkal? Ngaku aja deh, Bunda udah sering cerita kok. Tiap malam kamu
selalu nungguin dongeng aku kan? Cieee... Ngefans sama kakak ya... So sweet deh Rome." sahut Andria
menggoda Rome.
Wajah Rome memerah. Rome kontan bergumam pelan
"Bunda... Bunda... Udah aku bilang jangan kasih tahu Kak Andria. Malah
diceritain. Haduh Bundaaa... Jadi geer selangit kan orangnya." Rome
mengusap-usap keningnya sendiri menyesali satu pengakuannya kepada Bunda
tentang betapa dia menyukai dongeng-dongeng kakaknya. "Hahaha... Akuilah my durudung brother." desak Andria.
"Iyaaa. Puas?" balas Rome singkat. "Bangeeeettt."
"Ya ampun. Girang banget sih kakak begitu
tahu soal ini. Kesian banget sih." sahut Rome dengan ekspresi mengajak
ribut. "Iya, dong. Jelas! Pengagum diam-diam yang gayanya sok acuh itu
jarang lho ditemukan di zaman sekarang, apalagi yang sampe bawa-bawa radio pas
dia lagi tidur." Goda Andria tidak habis-habisnya. "Bahas
terus." Gerutu Rome. "Udah gih, siap-siap mandi. Aku juga mau
siap-siap." ujar Andria mengingatkan.
Selang setengah jam kemudian, Andria dan Rome
sudah berada di ruang makan. Tak lama kemudian, Ayah bergabung diantara mereka.
Kebiasaan Ayah setiap pagi adalah mencium pucuk kepala Bunda dan anak-anaknya
saat memasuki ruang makan. Romantis. Itu yang membuat Andria, khususnya, merasa
seperti telah memiliki dunia dongengnya sendiri lewat kehangatan Ayahnya.
Bunda malah tak kalah romantis. Setiap pagi
Bunda selalu merangkaian dasi di kerah kemeja Ayah. Meskipun Bunda harus
berjinjit-jinjit ria karena harus mencapai tinggi Ayah yang melebihi tinggi
badannya. Ayah itu atlet basket di kampusnya dulu. Sayangnya, tidak ada satupun
dari anaknya yang menurunkan hobi dan kecintaannya terhadap basket. Andria
sendiri mengakui dirinya sama sekali tidak berbakat dengan basket.
Dulu ketika kecil, Ayah sering mengajak Andria
dan Rome main basket di taman belakang kompleks. Bola basket sepertinya tidak
bersahabat dengan Andria, tak satupun bola tersebut masuk ke dalam ring tatkala
Andria melakukan shoot. "Ayah, bola basketnya kayaknya nggak suka sama
aku. Masa dari sekian banyak yang aku shoot
nggak ada yang masuk? Serius dari pertama kita main lho, Yah."
"... Aku nggak mau main bola basket lagi,
ya, Yah. Nggak apa-apa kan, Yah?" ujar Andria mengeluh sedih. "Masa
nyerah gitu aja? Ini hanya sekedar bola basket, Sayang. Sebuah bola yang
memantul dimana pantulannya kita yang atur. Sebuah bola yang sanggup melayang
tinggi menuju ring yang lemparannya kita juga yang atur." Jelas sang Ayah.
"Ayah tidak akan memintaku jadi atlet basket, kan?" selidik Andria.
Ayah tersenyum.
"Tidak, Nak. Ayah tidak akan memintamu
menjadi sesuatu yang Ayah kehendaki. Kamu itu pribadi yang bebas. Kamu berhak
menjadi apa yang kamu inginkan dalam hidup. Ayah hanya ingin mengajarkan kamu
sesuatu tentang arti bertahan dan berjuang. Coba bayangkan, ini hanya sekedar
basket. Hanya sebuah bola. Kamu merasa tidak ada satu lemparanmu pun yang masuk
dan kamu belum apa-apa sudah menyerah. Padahal banyak kesempatan yang belum
kamu coba tapi kamu sudah meng-cut kemungkinan
itu dengan sikap lemah dan pasrah pada keadaan. Ingat, ini hanya sekedar
basket. Masih ada hal-hal yang lebih besar lagi di depan nanti yang harus kamu
pertahankan dan kamu perjuangkan." Lanjut Ayah menjelaskan. "Iya,
Ayah. Andria paham." balas Andria mengangguk.
Akhirnya, meski di coba lagi, nampaknya Andria
memang tidak berjodoh dengan permainan bola basket. Terbukti, hingga sekarang
Andria tidak juga bisa bermain bola basket dengan baik. Bunda membangunkan
lamunan Andria, "Ayo cepet dihabiskan sarapannya. Nanti kamu telat
lagi." ujar Bunda yang sudah mulai mengerjakan ritual pemasangan dasi
kepada Ayah.
Andria segera menghabiskan sarapannya. Kemudian
berpamitan dengan Ayah, Bunda, dan Rome. "Hati-hati dijalan, Nak."
ujar Ayah mengingatkan. "Iya, hati-hati. Nanti malam masih gantiin temenmu
yang cuti siaran?" tanya Bunda memastikan. "Siap. Pasti hati-hati.
Nggg... Aku malam ini nggak ada siaran. Temenku hari ini udah masuk kok. Ya
udah, aku jalan dulu ya, Bun. Ayah, Rome... Aku berangkat duluan ya."
Sahut Andria.
Andria berangkat dengan mengendarai si
coki-coki, tentunya. Sebenarnya masih terbilang cukup pagi untuknya melewati
jalanan hari ini. Lumayan aneh buatnya melihat jalanan ibukota selapang ini.
Dia tidak harus bersusah payah menerobos kemacetan yang sangat panjang.
Akhirnya, kurang dari setengah jam, dia tiba di Sekolahnya. Parkiran motor
benar-benar masih kosong, hanya ada satu-dua motor yang terparkir disana.
Andria langsung memarkirkan Vespanya ditempat
yang gampang terakses ke pintu keluar. "Ya ampun, masih kosong
bangeeeet." pekik Andria kegirangan sendiri. Andria lalu mengambil tasnya
dan menyampirkan salah satu talinya di bahu kanannya. Dia berjalan masuk
melalui lorong samping Sekolah. Kebetulan kelas Andria akan lebih dekat dari
Parkiran jika melewati lapangan olah raga indoor. Andria berjalan dengan
santainya.
Andria masih berjalan menyusuri lorong samping
tersebut, hingga di penghujung lorong, dia melihat salah satu pintu dari
lapangan olah raga indoor sudah terbuka. Dia juga bisa mendengar dentuman-dentuman
bola basket yang memantul serta decitan dari suara sepatu yang
berpindah-pindah. "Siapa yang pagi-pagi begini udah main bola
basket?" tanya Andria penasaran. Dia memberanikan diri untuk masuk ke
dalam sana.
Andria melihat samar dari kejauhan, ada dua
siswa yang tengah asyik berebutan bola basket. Andria mengendap-endap mendekat
ke arah kedua orang tersebut untuk melihat lebih jelas lagi sebenarnya siapa
yang pagi-pagi telah mengusik ketenangan datang paginya. "Duh nggak jelas
siapa sih?" ungkap Andria mengeluh.
Semakin dekat Andria kepada kedua siswa itu,
semakin jelas juga atas kedua figur yang sedang asyik kejar-kejaran di tengah
lapangan. Satu orang dengan rambut kayak duri-duri landak, itu jelas si Gani,
teman sekelasnya. Satu lagi siapa? Rambut dikuncir asal. Satu celananya dilipat
tinggi, entah apa maksudnya. Dan dia daritadi membelakanginya sehingga Andria
tidak bisa menerka siapa dia.
Sampai akhirnya, Gani menyadari kedatangan
Andria dan langsung teriak memanggil namanya. Andria yang kaget spontan
melambaikan tangannya. Lalu, satu orang yang sedaritadi memunggungi Andria,
akhirnya menoleh ke arahnya. "Vero..." sahutnya bego. Kaget dan tak
menyangka bahwa siswa itu ternyata makhluk pengganggu yang hobi mengganti nama
vespa kesayangannya. "Kok elo sih?" tanya Andria heran.
Vero dan Gani langsung saling tukar pandang,
tak mengerti maksud pertanyaan barusan. "Yang lo maksud gue?" tunjuk
Vero kepada dirinya sendiri. Andria manggut-manggut. "Kok gue sih?"
Vero mengulang pertanyaan Andria sambil merubah objek pelaku. "Truuuusss, kalo
emang gue kenapa? Masalah buat lo? Ini lapangan umum kok. Bukan lapangan nenek
moyang lo. Lagian kalo jadi new comer datang pagi itu jangan kebanyakan sok tahunya. Gue sama
Gani atau beberapa anak-anak basket itu tiap pagi emang biasa main basket."
tukas Vero jutek. Andria merasa di skakmat oleh Vero. Tapi seperti Andria
menyadari bahwa hal tadi itu kesalahannya. Kesalahan dalam pemilihan pertanyaan
lebih tepatnya lagi. Andria jadi merasa tidak enak, terlihat dari tatapan Vero
yang berkilat kesal.
"Sorry..." seuntai kata maaf meluncur
begitu saja dari bibir Andria. Vero mengabaikan kata maaf itu. Vero melempar
bola basket entah kemana. Lalu pamit ke Gani dan melewati Andria begitu saja
tanpa kata-kata. Andria tersentak kaget. Kok? Dia semarah itu. Kan tadi udah
minta maaf. Batin Andria dalam hati. Baru melewatinya beberapa langkah, Vero
balik badan. "Kata maaf itu nggak mengenyangkan buat gue."
Andria terbengong dengan pernyataan Vero
barusan. Sementara, orang yang melempar pernytaan itu sudah kembali melanjutkan
langkahnya keluar. Gani yang melihat adegan mengenaskan itu, langsung menepuk
bahu Andria. "Sabar ya, An. Doi emang begitu orangnya. Suka nggak jelas.
Tenang-tenang menghanyutkan." ungkap Gani. "Bukan... Bukan itu, Gan.
Gue nggak ngerti kata-kata dia barusan. Kata maaflah tidak mengenyangkan?"
Gani sontak tertawa ngakak, "Oh yang itu.
Itu mah modus tau. Doi baru mau maafin lo kalo lo udah traktir dia sarapan. Doi
emang biasanya sarapan jam segini. Eh, gue kasih tau lagi... Doi cuma mau sarapan
pake bubur kacang ijo sama dua tangkup roti tawar dan nggak pake pinggirannya.
Sukses ya proyek minta maafnya." Jelas Gani yang kembali menepuk bahu
Andria sekali lagi. Andria menghembuskan nafas panjang.
Andria akhirnya menyusul dengan langkah gontai
ke kantin. Benar kata Gani, Vero sudah berdiri di salah satu pilar kantin
sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. Seperti sedang menunggu
seseorang. "Ngg... Sorry, Ver. Gue tadi salah ngomong. Lo lagi nungguin
siapa?" tanya Andria sambil celingak-celinguk. Wajah Andria yang lugu bin
polos itu kalau lagi merasa bersalah, sebenarnya sangat lucu buat Vero.
Susah payah, Vero menahan senyumnya agar tak
tercetak tebal di bibirnya. Kepala Andria yang masih celingak-celinguk akhirnya
terhenti sejajar dengan wajah sok dingin Vero yang sudah menatapnya bak singa
menatap anak domba calon santapannya. "Menurut lo?" Vero bertanya
balik memastikan. "Nungguin gue?" sahut Andria heran. "Siapa
lagi. Lo jadi minta maaf nggak?" tandas Vero pura-pura semakin jutek.
Andria mengangguk.
Andria berjalan memesankan apa apa-apa sesuai
yang dikatakan Gani. "Sialaaaaaan. Kenapa jadi gue yang rugi bandar
pagi-pagi. Dan kenapa pula gue nggak bisa marah sama ini anak." jerit
Andria dalam hatinya. Dari jauh, Vero tertawa merdeka. Dia puas sekali
mengerjai Andria. Andria kembali dengan semua pesanan sarapan Vero.
"Nih." Andria menyodorkan nampan berisi bubur kacang ijo dan roti
tawar tanpa pinggiran.
"Oke, gue udah traktir lo sarapan pagi.
Berarti, seharusnya maaf gue udah diterima." todong Andria
terang-terangan. "Oke. Permintaan maaf lo diterima." balas Vero.
"Oke. Ma-ka-sih." sahut Andria yang lalu langsung memilih pergi dari
hadapan Vero. Menyadari Andria hendak pergi, Vero mendapati dirinya diserang
suatu perasaan sepi. "Siapa yang nyuruh lo pergi?" Langkah Andria
terhenti, "Apaan lagi?" tanya Andria kesal.
Vero tidak menjawab dengan lontaran kata-kata
kasar berikutnya, melainkan seuntai senyum "Masa tega ninggalin gue
sendiri disini?" Andria kembali dibuat bingung dengan Vero. Ini anak mau
bikin gue mati berdiri kali ya. Berhubung panas hatinya sudah sampai di
ubun-ubun kepalanya, senyum Vero ternyata tidak berhasil mendinginkan Andria.
Bahkan saking kesalnya, Andria spontan
mengambil sapu tangannya dan melemparkan kearah Vero. "Ogah. Makan aja
sono sendiri." Bentak Andria yang lalu benar-benar meninggalkan Vero. Sapu
tangan itu mendarat di kepala Vero. Kali ini ganti Vero yang bingung.
"Marahnya kok telat. Ahahahaha... Dasar aneh." Celetuk Vero. Vero
mengambil sapu tangan tersebut. Vero melihat sapu tangan itu, "Gambar
gatot kaca?" tanyanya bego.
Senyum Vero makin lebar, "Nggak nyangka,
hari gini masih ada cewek yang ngefans sama gatot kaca? Sementara cewek-cewek
seumuran dia mengelu-elukan artis tampan dari luar negeri. Ckckckck... Luar
biasa." Vero langsung mengkantongi sapu tangan itu dan melanjutkan
sarapannya. Sementara Andria mengeluh atas kebodohannya yang kedua, "Sapu
tangan gatot kaca gueeee... Gimana mintanyaaa?" sahut Andria sedih.
Vero berlari mencari Andria ke segala arah.
Akhirnya, dia mendapati cewek itu sedang duduk di mejanya dengan muka manyun.
Vero masuk dan langsung duduk di bangku di depan Andria. "Lo yakin mau
kasih sapu tangan ini ke gue?" tanya Vero sambil mengibas-ngibaskan pelan
sapu tangan itu. Andria menahan ekspresi kesalnya. "Balikin nggak."
Sahut Andria.
"Pasti gue balikin. Tapi nggak sekarang.
Sore ini gue ada tanding basket dan gue mau lo nonton. Dan jangan coba-coba
bilang lo ada siaran, karena gue udah cek jadwal dongeng lo nggak ada hari
ini." ujar Vero telak. "Nggak mau. Gue nggak ngerti basket,
Vero." Tolak Andria. "Ya udah, berarti sapu tangan gatot kaca lo
resmi jadi punya gue." Ancam Vero. "Eh... Eh... Jangan. Itu
kesayangan gue." Protes Andria.
"Terserah lo. Mau nonton gue tanding atau
sapu tangan lo jadi milik gue?" sahut Vero yang merasa diatas angin.
Andria sudah murka semurka-murkanya. Tapi dia tidak punya pilihan lain.
"Oke Andriaaa... Jam 5 sore di lapangan olah raga Indoor. Gue tunggu atau
ini..." Vero mengangkat sapu tangan Andria tinggi-tinggi ke udara,
"jadi milik gue." Bunyi bel masuk pun terdengar, Vero berlari ke
kelasnya, meninggalkan Andria.
Jarum jam tangan Andria menunjukkan pukul 3
sore. Sudah setengah jam yang lalu pelajaran terakhir usai. "Dua jam lagi.
Gue musti ngapain coba? Garing banget nunggu kayak begini." sahut Andria
lesu. Cuma tak disangka-sangka Vero melintas melewati kelas Andria, tanpa
menoleh sedikitpun. Cowok itu tampak terburu-buru. Wajahnya terlihat tegang.
"Kenapa tuh anak?" tanya Andria heran.
Belum juga pertanyaan Andria terjawab. Beberapa
anak basket lainnya menyusul dengan keterburu-buruan dan ketegangan yang sama
dengan Vero. Andria langsung terduduk tegak, "Nggak beres nih. Pasti ada
masalah." Andria akhirnya memutuskan untuk mengikuti vero dan yang
lainnya. Andria juga mempercepat langkahnya begitu dilihatnya anak-anak itu
sudah berjalan setengah berlari. "Lah... Lah... Kenapa jadi pada lari
begini?"
Andria terus mengikuti rombongan itu sampai tak
sadar dia sudah berada di belakang sekolah. Andria celingak-celinguk mendapati
dirinya di tempat itu. "Ya ampun, kok bisa sampe sini?" tandas
Andria. Andria kembali meneruskan langkahnya begitu dilihatnya rombongannya
semakin menjauh. Tepat di satu belokan buntu, Andria terpaksa berlari menjauh
ke titik sebelum belokan yang tadi.
Andria terpaksa menjaga jarak dari anak-anak
basket yang berkerumun kayak lebah pekerja. Dia mengamati gelagat tak wajar
dari mereka. "Yah... Yah... Berantem deh... Yah... Yah..." Jerit
Andria yang kebingungan begitu dilihatnya dua dari mereka sudah saling
mendorong bahu dengan wajah tak kesal. Andria melihat Vero yang juga berusaha
melerai perselisihan itu. Vero sudah berada tepat ditengah keduanya.
Keberadaan Vero justru malah memperburuk
keadaan. Keduanya malah makin panas dan bernafsu untuk memulai baku hantam.
"Aduuuuh, kenapa Vero yang jadi sasaran?" Omel Andria. "Lho?
Kenapa gue jadi mikirin Vero? Nggak boleh, status gue sama Vero kan masih
angkat bendera perang." sahut Andria menyangkal. "Tapi..."
Andria meragu ketika nasib Vero yang mendadak jadi samsak hidup ditengah kedua
pihak yang bertikai.
"Nggak bisa dibiarin nih." ujar
Andria pelan. Andria mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata
untuk bisa mencegah terjadinya perkelahian serta untuk mengusir mereka semua
dari tempat ini. "Aha! Gagang sapu." Pekik Andria lega. Andria
akhirnya memberanikan diri muncul dari balik tembok. "Heh!" Panggil
Andria sambil mengangkat tinggi gagang sapu temuannya barusan. "Kalau mau
berantem jangan disini."
Kontan semua anak-anak basket yang ada disitu
langsung merubah fokus pandangannya ke asal suara. Mata mereka terbelalak,
khususnya mata Vero yang melotot maksimal, ketika Andria ada ditempat kejadian
perkara dan menyaksikan sesi adu jotos. Andria memukul gagang sapu ke tembok
yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. "Pada bubar nggak atau gue
laporin ke guru BP nih?" Ancam Andria.
Mereka masih terdiam dan tak menggubris ancaman
Andria barusan. "Yee, gue bilang bubar. Eh, gue nggak main-main, ya. Bubar
nggak?" Omel Andria geram. Vero memberi kode kepada Gani untuk membubarkan
sebagian anak-anak basket yang mencoba melerai teman mereka yang sedang
terlibat perselisihan dan meminta meninggalkan Vero dengan keduanya. Akhirnya,
sebagian dari mereka membubarkan diri.
Andria bernafas lega. Tapi sedetik kemudian
nafasnya tercekat kembali. "Kenapa si Vero sama yang tadi jotos-jotosan
masih disini?" batin Andria. Vero menatap Andria tajam memperingati bahwa
kali ini tolong jangan ikut campur dulu. Andria langsung diam, mengangguk paham.
Vero menarik nafas panjang, menahan kestabilan emosinya, kemudian mulai
menengahi dan menjembatani permasalahan kedua teman basketnya.
Taraaaaa... Dalam waktu yang cukup singkat,
Vero bisa kembali mendamaikan kedua temannya itu. "Gue harap nggak ada
lagi kejadian lo berdua kayak gini. Kalo sampe gue denger elo... dan elo...
berantem lagi. Gue nggak segan-segan kasih tau pelatih dan minta lo berdua
dihukum." ujar Vero serius. Kedua temannya itu mengangguk lemah terpaksa
setuju dan buru-buru pergi dari situ. Andria menghembuskan nafas lega.
Sekarang tinggal Vero dan Andria yang tersisa.
"Lo ngapain masih pegang gagang sapu? Berharap bisa terbang kayak harry
potter?" sahut Vero ketus. "Elo ya... Nggak bisa apa ngomong sesuatu
yang lebih nyaman ditelinga gue. Bikin emosi jiwa." Balas Andria yang rasa
simpatinya langsung drop hingga kebatas nol. Andria membuang gagang sapunya
sembarangan dan bersiap berjalan meninggalkan tempat itu. Vero mencekalnya.
Langkah Andria terhenti karena ucapan lembut
Vero. "Sorry, gue ketus lagi. Tapi tadi makasih udah bantuin gue dengan
itu..." Vero menunjuk gagang sapu yang tergeletak di bawah, "...
gagang sapu ajaib lo. Sekali lagi makasih." Vero lalu berlalu melewati
Andria setelah omongannya itu. Andria kembali terbengong. Namun, secuil senyum
tampak menghiasi bibir Andria, "Bisa juga tuh anak ngomong makasih. Dasar
cowok aneh."
Ditengah kebahagiaan itu, Vero kembali nongol
dan membangunkan Andria dari adegan senyum-senyum nggak jelas itu. "Lo
ngapain masih diem disini? Pake senyum-senyum segala? Gue saranin mendingan lo
cepet-cepet pergi dari sini. Gue nggak berani jamin kalau sampe tiba-tiba ada
yang..." Vero sengaja menggantungkan kalimatnya. Mimik wajah Andria sudah
berubah panik, langsung diedarkannya pandangan ke sekeliling tempat itu.
Bulu kuduk Andria langsung berdiri. Ketakutan.
"Nggak... Nggak... Gue ikut lo, Ver. Gue nggak mau tiba-tiba ada yang
colek gue tapi nggak ada wujudnya." ujar Andria yang secara tidak sadar
langsung menarik tangan Vero dan meninggalkan tempat itu. Vero kontan terbahak
dalam hati mendapati Andria kembali dikerjainya. "Padahal gue kan belum
selesai ngomong... Kalo tiba-tiba ada yang ngerjain lo... Gue...
Hihihi..."
Vero yang diikuti Andria berjalan ke arah
lapangan olah raga indoor. "Mau sampai kapan pegangan sama tangan
gue?" Celetuk Vero tiba-tiba. Andria yang tak merasa seketika itu pula
langsung mengecek kebenaran omongan Vero barusan. Betapa malunya saat
dilihatnya dia pegangan begitu kencang karena ketakutan tadi. Dilepasnya
pegangan itu buru-buru.
"Kenapa nggak bilang dari tadi sih? Suka
ambil kesempatan sendiri." Protes Andria memasang tampang kesal.
"Pertanyaannya adalah siapa yang pegang tangan siapa? Jadi, elo atau gue
yang disini sebagai pencari kesempatan?" balas Vero yang tak mau kalah.
Andria tak bisa berkutik. Kenyataannya dia yang memulai. "Tapi kan nggak
sengaja, gue refleks. Abis lo nakut-nakutin gue sih." sahut Andria membela
diri.
"Tadi didepan anak-anak basket gaya lo
berani banget sampe bawa-bawa gagang sapu segala. Eh, begitu ngomongin hantu
langsung ngedrop sampe bego begitu. Sampe amnesia segala. Aneh..." sahut
Vero. "Udah deh, jangan mulai lagi. Capek tahu gue ngeladenin lo berantem.
Ini kalo nggak karena sapu tangan gue, gue juga ogah." kecam Andria.
"Oke. Baikan kalo begitu." Vero menjulurkan jari kelingkingnya.
"Kapan-kapan?" tolak Andria.
"Udah sono lo ganti baju. Trus cepetan tanding, biar abis itu lo balikin
sapu tangan gue. Dan gue bisa pulang." lanjut Andria. "Ini anak
diajak damai, nggak mau. Ya udah, gih sana duduk. Duduk ditempat yang gue bisa
ngeliat elo. Sana." Usir Vero. "Santai kali. Kalo gue nggak keliatan,
besok lo pake kacamata kalo perlu kacanya kaca pembesar!" Jawab Andria
ketus.
Andria masih menunggu. Perlahan, bangku-bangku
kosong disebelahnya mulai terisi. Andria membiarkan bangku disebelah kanan dan
kirinya diduduki. Andria menoleh ke kanan dan kiri. Beberapa diantara mereka
adalah wajah-wajah tak dikenalnya. Andria berpikir dalam hati, apa
jangan-jangan saking nggak pernah gaul di sekolah jadi nggak kenal warga
sekitar. Andria mengangkat bahunya tak tahu. "Mungkin..." gumamnya
sendiri.
Tepat seperti yang Vero katakan, jam 5 sore...
Pertandingan dimulai. Para pemain berkumpul ditengah lapangan, termasuk dua
makhluk yang bertengkar tadi. Mereka briefing sejenak untuk memecah tim menjadi
dua kubu. Andria memicingkan mata, "Ngapain sih mereka? Ribet banget pake
acara kumpul ditengah lapangan. Main dong cepetan, kapan pulangnya ini?"
gerutu Andria sambil mengacak-acak rambutnya sendiri dengan hebohnya.
Tampak wajah-wajah disekitar Andria terlihat
heran dan mulai waspada. Andria terpaksa menenangkan kegelisahannya. Terpaksa
duduk manis dan berpura-pura fokus dengan pertandingan di lapangan sana.
"Mending kalem aja Andria. Kalem... Kalem... Daripada elo jadi santapan
empuk mata-mata yang dari tadi ngawasin lo." Andria memerintah dirinya
sendiri, dalam hati tentunya. Pertandingan dimulai.
Teriakan penonton membahana seiring dengan
aksi-aksi pemain yang yaaaah bolehlah... Andria agak lumayan keki mendapati
dirinya kagum dengan gaya dan aksi mereka dilapangan. Ketika mereka mendribel
bola, mengoper bola, melangkah berlari dari satu tempat ke tempat lainnya
dengan style khas anak-anak basket. Andria seperti melihat ayahnya sendiri.
Andria kembali fokus pada pertandingan. Kubu
lawannya Vero sudah berhasil memasukkan bola pertamanya kedalam ring. Hebatnya
Vero tetap terlihat tenang. Vero mendadak menoleh ke arah Andria, dan melempar
senyum. Seperti orang yang sedang minta disemangati. Andria tak mengubris
senyum itu, dia malah ketus melempar kata-kata lewat gerak bibirnya tanpa suara
"You wish." tandasnya telak
sambil berlagak mengusir.
Pertandingan itu pun berakhir dengan kekalahan
pada kubu Vero. Kontan Andria terbahak begitu mendapati Vero mendekatinya
dengan bibir manyun. "Makanya, lain kali jangan suka ngerjain orang. Kalah
kan tandingnya." ledek Andria. "Mana sapu tangan gue? Balikin."
Andria menjulurkan tangannya persis di depan wajah Vero. Vero mengembalikan
sapu tangan itu ke pemiliknya. Andria mengambilnya secepat kilat.
Vero terdiam. Matanya seperti menyimpan
kekecewaan atas kekalahan kubunya barusan. Andria yang tadinya mau langsung
enyah dari hadapan Vero, memilih menunda kepulangannya."Lo kecewa berat
ya?" tanya Andria tiba-tiba. Vero mengangguk lagi sedikit menyunggingkan
senyumnya. "Lumayan. Mungkin karena ini soal perebutan posisi sebagai
kapten kali ya?" dalih Vero sambil mengangkat bahunya.
"Hahaha... Bisa kecewa juga lo." goda
Andria. Senyum Vero mendadak raib dari wajahnya. "Ya bisalah. Gue kan
bukan makhluk tanpa hati, An." jawab Vero singkat. "Hahaha... Tenang,
Bung. Denger... Elo patut kecewa ketika lo tahu lo tidak melakukan suatu apapun
terhadap apa yang harusnya lo perjuangin. Hidup tidak selalu menjadi segala sesuatu
yang tersorot dihadapan publik...."
"Elo nggak harus jadi kapten untuk bisa
kasih kontribusi atau apalah itu yang notabene terbaik buat tim basket lo.
Tanpa titel kapten pun, lo tetap bisa kan memberikan yang terbaik. Ya, walaupun
harus kita akui dengan menjadi kapten, lo akan punya hak tertentu dalam
mengatur tim basket lo." Jelas Andria menghibur kemurungan di wajah Vero.
"Lagian lo tetap jadi pemain yang berbakat, setidaknya dari kacamata...
gue."
Wajah di depan Andria yang tertunduk lesu itu
mendadak seperti terkena cipratan air dingin menyejukkan. Wajah Vero terangkat
dan kembali menunjukkan senyum. "Thanks."
ujar Vero tulus. "Kembali..." balas Andria sambil menepuk bahu Vero,
seraya menguatkan mental Vero yang tadi sempat jatuh. "Makasih banget ya."
sahut Vero lagi. "Ya ampun, udah kali sesi dramanya. Masih aja ngucapin
makasih. Emang gue kasih apaan coba?"
"Petuah? Mungkin. Secara yaaaa... Gue lagi
berhadapan dengan sang pendongeng." jawab Vero. "Sssssttttt..."
Andria menyilangkan jari telunjuknya di depan bibirnya, "Jangan
keras-keras dong, ntar kalo anak-anak denger gimana?" Omel Andria.
"Iye... Iyeeee... Takut amat sih jadi tenar. Hahaha..." Celetuk Vero.
"Kalo tenar cuma dimintain tanda-tangan sih masih mending. Nah, kalo gue
diikuti model orang kayak lo gimana?"
"Satu aja gue udah repot setengah mati.
Pake acara hobi nebeng pulang di vespa gue lagi. Coba bayangin, kalau 20 orang
kayak lo ngikutin gue. Vespa gue bisa turun bero, Veroooo." Andria
menjelaskan dengan ekspresi super serius. Vero terbahak, sampai memegangi
perutnya karena tak kuasa menahan rasa geli akibat khayalan Andria barusan.
"Sumpah elo adalah pendongeng teraneh yang pernah gue kenal?
Hahaha..." ujar Vero.
Andria tersenyum. Ungkapan kecil itu cukup
menyentuh di hati Andria. Walau diberi julukan teraneh, tapi awalan
"ter-" menunjukkan bahwa dia sedang berada di urutan pertama dalam
persepsi Vero. "Kok dikatain malah senyum?" tanya Vero. "Nggak
apa-apa. Gue cuma males aja perang mulut sama lo lagi. Capek. Gue terus yang kalah. Pliiiisss, jangan ngerjain gue lagi ya kayak gini." ungkap Andria
pelan.
"Sorry
ya soal tadi pagi." ujar Vero meminta maaf, "Tapi asli lo, gue angkat
topi buat lo. Ya, setidaknya gue salut karena elo mau sampe kayak orang bego
nungguin pertandingan basket gue selesai cuma karena sapu tangan gatot kaca lo
itu. Emang sebegitu penting ya itu benda?" tanya Vero. "Ini dari
almarhum eyang kakung gue. Limited
edition, tau. Cari aja sono di jalan surabaya kalo nggak percaya. Nggak sih, bukan karena limited edition-nya. Lebih karena
kenyataannya benda ini punya kenangan semasa gue kecil. Jelaslah akan gue
perjuangin ini sapu tangan. Kalau hanya sekedar nonton basket sih masih gue
jabaninlah." lanjut Andria.
"Good
point! Hanya sekedar basket. Setidaknya lo perjuangin sesuatu dan lo dapat
itu." balas Vero yang tiba-tiba melo drama lagi.
"Ya, betul. Ini hanya sekedar basket. Dan
setidaknya hari ini kita perjuangin apa yang seharusnya memang kita
perjuangkan. Walaupun hasil akhirnya beda. Tapi kita dapat suatu proses dan
pembelajaran yang kurang lebih sama kan." balas Andria bijak. "Sok
tua loooooo." ledek Vero mengacak-acak rambut Andria. Lalu Vero kabur
setelah itu, Andria yang tidak terima menyusul mengejarnya untuk membalas.
Mereka kejar-kejaran.
No comments:
Post a Comment