Monday, 30 June 2014

Cerbung: Pangeran Dekik dan Nyai Dempul (part 9)

Part 9

KEBUNTUAN NYAI DEMPUL


Nyai Dempul belum mengetahui apapun tentang kejadian semalam, yang dia tahu hanya sesuatu yang tidak enak telah menghinggapi perasaannya. Dia bahkan tidak bisa tidur. Dia hanya merebahkan tubuhnya tanpa bisa memejamkan matanya sedikitpun. Entah mengapa dia selalu diingatkan penggalan demi penggalan kalimat dari pesan terakhir Bopoknya. Terutama saat dia merasa seperti sendiri dan harus percaya pada kata hatinya.

Dan tanpa Nyai Dempul sadari bahwa mulai dari malam kemarin semua kondisi yang akan direncana nantinya maupun yang sudah diprediksi sebelumnya ternyata telah berubah. Nyai Dempul akhirnya mulai curiga ketika hanya Pangeran Dewo yang justru lebih sering menemaninya. Itu pun terkadang dengan raga kosong dan tatapan dalam yang tak jelas maksudnya. Nyai Dempul kembali duduk dengan gelisah. Tak tahu harus bertanya apa.

Bahkan ketika fajar telah menyingsing pada bentangan langit di hari-hari selanjutnya, Nyai Dempul benar-benar tidak bisa mengganggu Pangeran Dewo. Ya, dia terlihat disibukkan dengan ini-itu. Bahkan untuk sekedar mengirim sinyal lewat pandangan mata pun tak sempat. Pangeran Dewo berubah dingin. "Tidak... Tidak... ini hanya perasaanku saja." ujarnya menyangkal segala awan gelap yang coba menyapa hatinya yang kini sepi.

Nyai Dempul sendirian. Akhirnya, dia meyakinkan itu kepada dirinya. Sendiri dalam perwujudan keberadaannya. Setengah mati, dia mencoba membangunkan diri dari mimpi. Namun, sayangnya dia tidak sedang bermimpi. Dia sendirian. Tanpa Pangeran Dekik maupun Pangeran Dewo. Nyai Dempul diserang kebuntuan. Dia bukannya takut akan kesendiriannya. Tapi bergerak tanpa rencana ataupun bergerak tunggal sama dengan mengantarkan nyawa sebagai santapan singa buas yang sudah sedari lama mungkin mengintainya. Dia yakin Raja Arji tidak bodoh, dan bisa saja dia sebenarnya sudah tahu kebohongan dirinya yang hilang ingatan. Raja Arji bisa jadi sengaja menahan percik api yang kapan saja bisa dia nyalahkan pada sumbu ledakan waktu.

Satu-satunya yang bisa Nyai Dempul lakukan adalah mencari tahu kemana Pangeran Dekik dan Pangeran Dewo. Apakah mereka masih berada dipihaknya. Atau mereka sudah berada dibawah kendali Raja Arji. Nyai Dempul akhirnya lebih memilih menelan pil pahit dimana kemungkinan yang kedua adalah alasan utama kedua Pangeran itu mendadak menghilang ataupun mendadak diterjang kesibukan tiada henti. Hingga suatu waktu, Nyai Dempul memberanikan diri menerobos masuk ke Paviliun Pangeran Dekik. Tapi ternyata Pangeran Dekik tidak ada disana. Nyai Dempul memutuskan untuk berkeliling, sampai dia akhirnya mendengar sebuah percakapan yang membuat hatinya serasa digorok belati karat. Sebuah ucapan yang berharap bukan sama sekali terluncur dari bibir seseorang yang sangat penting buatnya.

Itu jelas suara Pangeran Dekik yang sedang membicarakan sesuatu dengan Raja Arji. "Sebenarnya aku tidak terlalu mementingkan tawaranmu yang satu itu. Apakah kau pikir aku benar-benar mencintainya? Hahaha... begitu banyak perempuan cantik di kerajaanku. Mengapa aku harus pura-pura menutup mata akan apa yang lebih indah, hanya demi seorang Nyai Dempul? Aku malah ingin memberikan tawaran untukmu, yang mulia Raja."

"Aku memiliki gulungan harta karun dari Romoku. Gulungan ini menunjukkan bahwa bukit utara tersimpan harta yang tak ternilai harganya." lanjut Pangeran Dekik berujar dengan bangga sambil mengangkat gulungan itu ke udara. Nyai Dempul masih belum percaya dengan apa yang didengarnya. "Sudah jelas kan aku datang kepadamu untuk urusan apa. Jadi, kalau kau mau membatalkan perjanjian untuk menikahkan aku dengan Nyai Dempul, silahkan."

Perlahan air mata Nyai Dempul menetes. Untuk kesekian kalinya, hatinya sakit. Tapi mendapati kenyataan bahwa Pangeran Dekik hanya berpura-pura selama ini kepadanya, jauh lebih sakit. Nyai Dempul mengutuk dirinya sendiri karena terlalu berharap penuh pada Pangeran Dekik. Dia tidak pernah memperhitungkan kemungkinan lain. Ya, dia sudah memberikan kepercayaan penuh dan juga hatinya hanya kepada Pangeran Dekik.

Menangis yang benar-benar menangis. Untuk pertama kalinya pikirannya tidak bisa mengambil alih kekacauan di hatinya. Nyai Dempul berangsur menjauhi tempat itu. Dia berjalan dengan gontai menyusuri jalan setapak. Tidak kearah yang seharusnya, malah menepi di telaga jingga. Dia sesegukan menahan jerit suara hatinya yang kian ingin terlontar keras. Nyai Dempul hanya menangis berkabut keheningan dan luka.

Nyai Dempul terduduk lemas di pinggir telaga. Kakinya dibiarkan terayun ringan menyapu permukaan air. Matanya menerawang kosong. Pikirannya terbang kemana-mana. Dia biarkan air matanya mengalir membasahi pipinya. Pemandangan memilukan itu terpaksa harus dilihat oleh dua orang yang sedang tidak bisa menjadi perisai kehidupannya. Keduanya hanya bisa melihat dari kejauhan, tanpa saling tahu keberadaan yang lainnya.

Pundak itu masih bergetar. Tangis itu belum terhenti juga. Tak menyangka rasanya begitu sakit. Seperti ditusukkan belati yang sedetik kemudian dicabut, lalu ditancapkan kembali. Sakit yang benar-benar sakit. Nyai Dempul menarik kakinya dari air, melingkarkan tanganya seperti mendekap kakinya dan membenamkan wajahnya diatas dengkul. "Bopok, apa yang harus Nimas lakukan? Nimas takut, Bopok." Gumamnya.

Sementara, di balik pengintaiannya. Pangeran Dekik habis-habisan mematikan hati agar dia tidak tiba-tiba datang dan mendekap Nyai Dempul saat ini. Dia sudah memilih untuk diam dan tak melibatkan Nyai Dempul ke dalam urusan ini. "Maafkan aku, Nimas. Maaf karena harus menempuh cara yang membuatmu luka. Tapi hanya dengan cara ini, kita bisa mewujudkan pesan terakhir Bopokmu." ujarnya pelan.

Masih dari tempatnya berdiri, Pangeran Dekik akan tetap mengintai hingga Nyai Dempul kembali pulang ke Paviliunnya. Seberapa lama pun, Nyai Dempul disana, selama itu pula dia akan menjaga dari sini. Namun, tak lama kemudian. Semak di ujung sana terlihat bergerak, Pangeran Dekik langsung waspada. Bersiap jika ada seseorang yang ingin mencelakakan Nyai Dempul. Tangannya sudah disiap menarik pedangnya.

Pangeran Dekik semakin kencang memegang pedangnya. Nafasnya tanpa kentara ikut tertahan, menunggu wujud orang diseberang itu menunjukkan diri. Sebuah langkah kaki keluar menjejak dari dalam semak, Pangeran Dekik semakin bersiap. Tapi alangkah terkejutnya begitu mendapati seseorang itu adalah Pangeran Dewo yang sambil membawa sebuah kain yang lalu dia sampirkan ke tubuh Nyai Dempul dari belakang. Pangeran Dekik kelu.

Nyai Dempul kaget mendapati sebuah kain menyelimuti punggungnya. Dia menoleh dan dilihatnya Pangeran Dewo sedang tersenyum ke arahnya. "Mau sampai kapan kau merelakan darahmu dinikmati oleh nyamuk-nyamuk di telaga ini, hah?" tanya Pangeran Dewo sambil menunjuk seekor nyamuk yang mendarat di lengan Nyai Dempul. Pangeran Dewo lagi-lagi tersenyum, "Mau sampai kapan kau duduk disini, hah?" lanjut Pangeran Dewo lagi.

Nyai Dempul hanya terdiam membisu. Air matanya kembali berlinang dan jatuh begitu saja tanpa sempat di cegah. Pangeran Dewo yang akhirnya menyeka bekas linangan air mata Nyai Dempul, "Apa yang membuatmu menangis?" tanya Pangeran Dewo resah.

"Aku mencintai orang yang tidak benar-benar mencintaiku." jawab Nyai Dempul lirih.

"Apa maksudmu Sapardi? Katakan, apakah dia menyakitimu?" cecar Pangeran Dewo tanpa jeda.

Nyai Dempul tidak menjawab, dan hanya memilih untuk kembali menangis. Pangeran Dewo tak ingin memaksa, dia biarkan tangis itu pecah sejadi-jadinya. Pangeran Dewo mengusap lembut rambut Nyai Dempul sambil mengucapkan kata-kata bijaknya. "Cinta tak pernah hilang, dia selalu tahu jalan pulang. Jika tidak kembali, bukan cinta lagi namanya."

Seperti aku, Nimas. Yang pulang untuk dirimu. Batinnya dalam hati.

Pangeran Dewo mendadak teringat batas waktu yang diberikan oleh ayahnya. Jika dia tidak bisa menikahi perempuan ini sebelum bulan purnama yang ketujuh terpampang di langit, maka dia harus rela melihat nyawa tak bersalah ini melayang sia-sia. Melihat Nyai Dempul mati itu artinya kematian untuk hatinya. Sementara ini sudah purnama kelima dan telah terjadi sesuatu pada hubungan baik Nyai Dempul dan Pangeran Dekik.

"Purnamanya bagus." sahut Pangeran Dewo tiba-tiba. Nyai Dempul mengangkat kepalanya, menoleh ke atas. Kemudian mengangguk setuju. Terlihat matanya sembab dan memerah. "Kau tahu mengapa aku menyukai bulan, khususnya bulan purnama?" tanya Pangeran Dewo. Nyai Dempul menggeleng. "Apakah kau ingat kalau lahir pada saat bulan purnama? Kira-kira usiaku baru 5 tahun. Aku begitu senang melihatmu, wajahmu ayu sekali."

"Aku lahir pada saat bulan purnama?" tanya Nyai Dempul tertahan.

"Iya. Kau tidak tahu?" Jawab Pangeran Dewo agak heran.

"Apa Kang Mas yakin? Bulan purnama keberapa saat aku lahir?" desak Nyai Dempul yang tiba-tiba air mukanya berubah serius.

"Ada apa, Nimas?" tanya Pangeran Dewo yang semakin heran.

"Sudah... Jawab saja. Purnama keberapa saat aku dilahirkan waktu itu?" desak Nyai Dempul yang semakin menjadi-jadi.

"Kalau aku tidak salah, kau lahir pada bulan purnama ketujuh. Ya, ketujuh." jawab Pangeran Dewo sambil mengernyitkan kening seperti berusaha mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu.

Mata Nyai Dempul terbelalak. Pikirannya langsung mencoba merunut pesan demi pesan yang belum lama ini didapatkannya. "Ini aneh? Aku benar-benar tak mengerti."

■■■■

No comments:

Post a Comment