Part 9
KEBUNTUAN NYAI DEMPUL
Nyai Dempul belum mengetahui apapun tentang
kejadian semalam, yang dia tahu hanya sesuatu yang tidak enak telah
menghinggapi perasaannya. Dia bahkan tidak bisa tidur. Dia hanya merebahkan
tubuhnya tanpa bisa memejamkan matanya sedikitpun. Entah mengapa dia selalu
diingatkan penggalan demi penggalan kalimat dari pesan terakhir Bopoknya.
Terutama saat dia merasa seperti sendiri dan harus percaya pada kata hatinya.
Dan tanpa Nyai Dempul sadari bahwa mulai dari
malam kemarin semua kondisi yang akan direncana nantinya maupun yang sudah
diprediksi sebelumnya ternyata telah berubah. Nyai Dempul akhirnya mulai curiga
ketika hanya Pangeran Dewo yang justru lebih sering menemaninya. Itu pun
terkadang dengan raga kosong dan tatapan dalam yang tak jelas maksudnya. Nyai
Dempul kembali duduk dengan gelisah. Tak tahu harus bertanya apa.
Bahkan ketika fajar telah menyingsing pada
bentangan langit di hari-hari selanjutnya, Nyai Dempul benar-benar tidak bisa
mengganggu Pangeran Dewo. Ya, dia terlihat disibukkan dengan ini-itu. Bahkan
untuk sekedar mengirim sinyal lewat pandangan mata pun tak sempat. Pangeran
Dewo berubah dingin. "Tidak... Tidak... ini hanya perasaanku saja."
ujarnya menyangkal segala awan gelap yang coba menyapa hatinya yang kini sepi.
Nyai Dempul sendirian. Akhirnya, dia meyakinkan
itu kepada dirinya. Sendiri dalam perwujudan keberadaannya. Setengah mati, dia
mencoba membangunkan diri dari mimpi. Namun, sayangnya dia tidak sedang
bermimpi. Dia sendirian. Tanpa Pangeran Dekik maupun Pangeran Dewo. Nyai Dempul
diserang kebuntuan. Dia bukannya takut akan kesendiriannya. Tapi bergerak tanpa
rencana ataupun bergerak tunggal sama dengan mengantarkan nyawa sebagai
santapan singa buas yang sudah sedari lama mungkin mengintainya. Dia yakin Raja
Arji tidak bodoh, dan bisa saja dia sebenarnya sudah tahu kebohongan dirinya
yang hilang ingatan. Raja Arji bisa jadi sengaja menahan percik api yang kapan
saja bisa dia nyalahkan pada sumbu ledakan waktu.
Satu-satunya yang bisa Nyai Dempul lakukan
adalah mencari tahu kemana Pangeran Dekik dan Pangeran Dewo. Apakah mereka
masih berada dipihaknya. Atau mereka sudah berada dibawah kendali Raja Arji.
Nyai Dempul akhirnya lebih memilih menelan pil pahit dimana kemungkinan yang
kedua adalah alasan utama kedua Pangeran itu mendadak menghilang ataupun
mendadak diterjang kesibukan tiada henti. Hingga suatu waktu, Nyai Dempul
memberanikan diri menerobos masuk ke Paviliun Pangeran Dekik. Tapi ternyata
Pangeran Dekik tidak ada disana. Nyai Dempul memutuskan untuk berkeliling,
sampai dia akhirnya mendengar sebuah percakapan yang membuat hatinya serasa
digorok belati karat. Sebuah ucapan yang berharap bukan sama sekali terluncur
dari bibir seseorang yang sangat penting buatnya.
Itu
jelas suara Pangeran Dekik yang sedang membicarakan sesuatu dengan Raja Arji.
"Sebenarnya aku tidak terlalu mementingkan tawaranmu yang satu itu. Apakah
kau pikir aku benar-benar mencintainya? Hahaha... begitu banyak perempuan
cantik di kerajaanku. Mengapa aku harus pura-pura menutup mata akan apa yang
lebih indah, hanya demi seorang Nyai Dempul? Aku malah ingin memberikan tawaran
untukmu, yang mulia Raja."
"Aku
memiliki gulungan harta karun dari Romoku. Gulungan ini menunjukkan bahwa bukit
utara tersimpan harta yang tak ternilai harganya." lanjut Pangeran Dekik
berujar dengan bangga sambil mengangkat gulungan itu ke udara. Nyai Dempul
masih belum percaya dengan apa yang didengarnya. "Sudah jelas kan aku
datang kepadamu untuk urusan apa. Jadi, kalau kau mau membatalkan perjanjian
untuk menikahkan aku dengan Nyai Dempul, silahkan."
Perlahan
air mata Nyai Dempul menetes. Untuk kesekian kalinya, hatinya sakit. Tapi
mendapati kenyataan bahwa Pangeran Dekik hanya berpura-pura selama ini
kepadanya, jauh lebih sakit. Nyai Dempul mengutuk dirinya sendiri karena terlalu
berharap penuh pada Pangeran Dekik. Dia tidak pernah memperhitungkan
kemungkinan lain. Ya, dia sudah memberikan kepercayaan penuh dan juga hatinya
hanya kepada Pangeran Dekik.
Menangis
yang benar-benar menangis. Untuk pertama kalinya pikirannya tidak bisa
mengambil alih kekacauan di hatinya. Nyai Dempul berangsur menjauhi tempat itu.
Dia berjalan dengan gontai menyusuri jalan setapak. Tidak kearah yang
seharusnya, malah menepi di telaga jingga. Dia sesegukan menahan jerit suara
hatinya yang kian ingin terlontar keras. Nyai Dempul hanya menangis berkabut
keheningan dan luka.
Nyai
Dempul terduduk lemas di pinggir telaga. Kakinya dibiarkan terayun ringan
menyapu permukaan air. Matanya menerawang kosong. Pikirannya terbang
kemana-mana. Dia biarkan air matanya mengalir membasahi pipinya. Pemandangan
memilukan itu terpaksa harus dilihat oleh dua orang yang sedang tidak bisa
menjadi perisai kehidupannya. Keduanya hanya bisa melihat dari kejauhan, tanpa
saling tahu keberadaan yang lainnya.
Pundak
itu masih bergetar. Tangis itu belum terhenti juga. Tak menyangka rasanya
begitu sakit. Seperti ditusukkan belati yang sedetik kemudian dicabut, lalu
ditancapkan kembali. Sakit yang benar-benar sakit. Nyai Dempul menarik kakinya
dari air, melingkarkan tanganya seperti mendekap kakinya dan membenamkan
wajahnya diatas dengkul. "Bopok, apa yang harus Nimas lakukan? Nimas
takut, Bopok." Gumamnya.
Sementara,
di balik pengintaiannya. Pangeran Dekik habis-habisan mematikan hati agar dia
tidak tiba-tiba datang dan mendekap Nyai Dempul saat ini. Dia sudah memilih
untuk diam dan tak melibatkan Nyai Dempul ke dalam urusan ini. "Maafkan
aku, Nimas. Maaf karena harus menempuh cara yang membuatmu luka. Tapi hanya
dengan cara ini, kita bisa mewujudkan pesan terakhir Bopokmu." ujarnya
pelan.
Masih
dari tempatnya berdiri, Pangeran Dekik akan tetap mengintai hingga Nyai Dempul
kembali pulang ke Paviliunnya. Seberapa lama pun, Nyai Dempul disana, selama
itu pula dia akan menjaga dari sini. Namun, tak lama kemudian. Semak di ujung
sana terlihat bergerak, Pangeran Dekik langsung waspada. Bersiap jika ada
seseorang yang ingin mencelakakan Nyai Dempul. Tangannya sudah disiap menarik
pedangnya.
Pangeran
Dekik semakin kencang memegang pedangnya. Nafasnya tanpa kentara ikut tertahan,
menunggu wujud orang diseberang itu menunjukkan diri. Sebuah langkah kaki
keluar menjejak dari dalam semak, Pangeran Dekik semakin bersiap. Tapi alangkah
terkejutnya begitu mendapati seseorang itu adalah Pangeran Dewo yang sambil
membawa sebuah kain yang lalu dia sampirkan ke tubuh Nyai Dempul dari belakang.
Pangeran Dekik kelu.
Nyai
Dempul kaget mendapati sebuah kain menyelimuti punggungnya. Dia menoleh dan
dilihatnya Pangeran Dewo sedang tersenyum ke arahnya. "Mau sampai kapan
kau merelakan darahmu dinikmati oleh nyamuk-nyamuk di telaga ini, hah?"
tanya Pangeran Dewo sambil menunjuk seekor nyamuk yang mendarat di lengan Nyai
Dempul. Pangeran Dewo lagi-lagi tersenyum, "Mau sampai kapan kau duduk
disini, hah?" lanjut Pangeran Dewo lagi.
Nyai
Dempul hanya terdiam membisu. Air matanya kembali berlinang dan jatuh begitu
saja tanpa sempat di cegah. Pangeran Dewo yang akhirnya menyeka bekas linangan
air mata Nyai Dempul, "Apa yang membuatmu menangis?" tanya Pangeran
Dewo resah.
"Aku
mencintai orang yang tidak benar-benar mencintaiku." jawab Nyai Dempul
lirih.
"Apa
maksudmu Sapardi? Katakan, apakah dia menyakitimu?" cecar Pangeran Dewo
tanpa jeda.
Nyai
Dempul tidak menjawab, dan hanya memilih untuk kembali menangis. Pangeran Dewo
tak ingin memaksa, dia biarkan tangis itu pecah sejadi-jadinya. Pangeran Dewo
mengusap lembut rambut Nyai Dempul sambil mengucapkan kata-kata bijaknya.
"Cinta tak pernah hilang, dia selalu tahu jalan pulang. Jika tidak
kembali, bukan cinta lagi namanya."
Seperti
aku, Nimas. Yang pulang untuk dirimu. Batinnya dalam hati.
Pangeran
Dewo mendadak teringat batas waktu yang diberikan oleh ayahnya. Jika dia tidak
bisa menikahi perempuan ini sebelum bulan purnama yang ketujuh terpampang di
langit, maka dia harus rela melihat nyawa tak bersalah ini melayang sia-sia.
Melihat Nyai Dempul mati itu artinya kematian untuk hatinya. Sementara ini
sudah purnama kelima dan telah terjadi sesuatu pada hubungan baik Nyai Dempul
dan Pangeran Dekik.
"Purnamanya
bagus." sahut Pangeran Dewo tiba-tiba. Nyai Dempul mengangkat kepalanya,
menoleh ke atas. Kemudian mengangguk setuju. Terlihat matanya sembab dan
memerah. "Kau tahu mengapa aku menyukai bulan, khususnya bulan
purnama?" tanya Pangeran Dewo. Nyai Dempul menggeleng. "Apakah kau
ingat kalau lahir pada saat bulan purnama? Kira-kira usiaku baru 5 tahun. Aku
begitu senang melihatmu, wajahmu ayu sekali."
"Aku
lahir pada saat bulan purnama?" tanya Nyai Dempul tertahan.
"Iya.
Kau tidak tahu?" Jawab Pangeran Dewo agak heran.
"Apa
Kang Mas yakin? Bulan purnama keberapa saat aku lahir?" desak Nyai Dempul
yang tiba-tiba air mukanya berubah serius.
"Ada
apa, Nimas?" tanya Pangeran Dewo yang semakin heran.
"Sudah...
Jawab saja. Purnama keberapa saat aku dilahirkan waktu itu?" desak Nyai
Dempul yang semakin menjadi-jadi.
"Kalau
aku tidak salah, kau lahir pada bulan purnama ketujuh. Ya, ketujuh." jawab
Pangeran Dewo sambil mengernyitkan kening seperti berusaha mengingat kejadian
bertahun-tahun yang lalu.
Mata
Nyai Dempul terbelalak. Pikirannya langsung mencoba merunut pesan demi pesan
yang belum lama ini didapatkannya. "Ini aneh? Aku benar-benar tak
mengerti."
No comments:
Post a Comment