Ditulis 13 November 2009
“Kelamaan! Maksudnya elo mau ngomong kalo elo suka,
kan, sama gue.”
“Iya.” Muka Mardi memerah.
“Nggak salah?” tegas Clara menanyakan.
“Kayaknya sih, nggak.” Mardi memastikan dirinya.
“Nita?”
“Nggak kali. Gue udah putus sebulan yang lalu.”
“Katanya kemarin baru diputusin?”
“Nggak sih. Cuma alasan aja biar gue bisa ajak lo kesini. Abis kalo nggak
ada event yang pas, lo pasti ogah diajak jalan. Tapi karena lo tau gue
lagi kenapa-napa, pasti mau.”
“Kok gue nggak tau ya kalo lo udah sebulan bubar?”
“Gue udah sepakat bubar tanpa marah-marah. Apalagi dia yang selingkuh.”
“Ooh...kesian.”
“Terus…jadinya nasib gue?”
“…”
“Kok diem?” tanya Mardi pelan-pelan.
“Yakin?” Clara menajamkan matanya kearah Mardi.
Seakan tak percaya.
“Pastinya.”
“Sok ngikutin. Emang sejak kapan?”
“Sejak gue jadi orang nekat barusan.”
“Tadi? Ah, cinlok (cinta lokasi) dong!”
“Nggak juga sih. Tapi terserah elo sih.”
“Dih gitu. Ah! Gue masih nggak percaya. Elo kan
sering ngibulin gue.” Clara bener-bener masih nggak nyangka.
“Gue udah siap kok ninggalin Pamela gue, dan
ngikutin perarturan yang elo buat.” Mardi tersenyum kearahnya.
“Hello! Emangnya gue Perda (peraturan daerah)
keliling. Nggak gitu juga kali. Bener udah siap jadi cowok gue.” Clara mulai
melihat kesungguhan itu. Dari senyum yang tulus itu. Senyum yang keluar lembut
dari bibir Mardi.
“Udah, Cantik.”
“Makasih.”
“Jadi?” Mardi meminta kepastian.
“Jadian kan.” Jawabnya polos.
“Bener nih.”
“Jangan bawel deh. Ngerti Bahasa Indonesia, nggak?”
“Asyik…” Mardi langsung mendekap tubuh cewek itu
sekejap, lalu melepaskannya kembali.
“Najis! Girang banget sih dapet pacar gue aja. Katanya pingin Pamela Anderson, biar lebih
sedep. Biar lebih mantabs”
“Gue nggak suka long distance relationship.
Yang pasti-pasti aja.”
“Dasar. Balik yuk.” Clara beranjak dari tempat
duduknya.
“Ntar dulu deh.” Mardi menarik tangan Clara lagi
hingga nyaris jatuh.
“Sekarang nggak. Udah jam 11 nih.” Clara melototin
Mardi.
“Iya… deh! Yayang akyu.”
“Ih…gombal. Udah cepetan bayar.”
“Mas…bonnya doooong.”
₪₪
Inilah awal dari perjalanan tak terduga bagi kami
berdua, gue dan Mardi. Nggak seperti kebanyakan hubungan yang bermula dari
sobatan terus naik satu level ke tingkat yang lebih serius. Apalah artinya itu,
mau jadian kek, pacaran kek, suka-suka elo deh mau pake definisi apa buat
hubungan gue ini. Intinya, gue itu nggak kayak kebanyakan cewek-cewek yang
lebay yang akhirnya jadian sama sobatnya cuma karena feeling comfort
alias ‘udah deh yang pasti-pasti aja, sobat kan udah kita kenal luar dalem jadi
pasti dia nggak akan macem-macem’ atau lantaran cuma mau bereksperimen terhadap
sesuatu yang selama ini kita pingin tau banget dari sobat kita sendiri. Bisa
jadi kejadian, saking bosennya kita karena cuma dapet cipika-cipiki dari dia,
sedangkan dengan menjadi part of his or her life mungkin kita bias dapet
yang lebih… ehm… lebih h*t dari sekedar cipika-cipiki. Dan ketika ternyata dia
mendamba sosok kita. Langsung deh ‘taken’ (inget ya bukannya di teken! Dasar
porno aja lo).
Wahai kalian-kalian yang disana, gue nggak
ngajarin yang jorok-jorok lho ya. It is just an example, really! Tapi kalo ada yang beneran, waduh! Gile
juga. Mendingan stop aja deh. Kesian kali. Sobat lo yang udah berganti
predikat itu bukan kelinci percobaan lo. Meskipun kita sependapat kelinci itu sweet
but they are still animal, right! Dan
sobat lo itu manusia, ya, kan???
Gue sendiri sih sampai saat ini juga masih bingung kenapa malam itu
akhirnya gue nerima Mardi. Sobat gue sendiri, tetangga terbaik yang paling gila
dan paling baik bagi gue. Sekali lagi gue tegasin, gue nggak termasuk jenis
pengguna dua alasan yang tadi gue sebutin. Absolutely not! Gue nggak
sampai hopeless gitu kali gara-gara jadi jomblo kelamaan atau gue bukan
jablay yang lebay dan jijay sampai punya pikiran picik untuk bereksperimen. Ya,
Tuhan… jauhkanlah gue dari hal yang amit-amit tersebut. But, gue yakin, one
day gue juga pasti tau alasan kenapa gue nerima dia. Untuk saat ini, alasan
yang gue berikan ke Mardi dan semua makhluk di rumah, di kampus, atau dimana
kek, adalah maybe God sends him to make my life more colorful. And I believe
the reason will be shown us later, as fast as He wants. Cukup djayuz dan
agak norak sih. Tapi, itu ampuh lho sampai saat ini.
Percaya nggak percaya, Mardi jadi lebih sering masuk lewat pintu
rumah dibandingkan biasanya yang tau-tau udah nongol dan nangkring di pinggir
jendela kamar gue. Lebih tau diri mungkin sih. Masa di depan ibu kekasihnya,
dia bersikap tidak sopan. Itu namanya mencoreng muka sendiri dengan perilakumu
yang sungguh tak tahu menahu. Halah!
Lho tahu siapa yang paling excited? Mas Tio. Bak peramal
ulung, dia seakan déjà vu dengan masalah percintaan gue dan Mardi. Duile… Mas…
belajar sama madam gurun sahara, ya? Hehehe… tapi dia baik lho mau bikinin gue puisi spesial, tapi masalahnya puisi itu baru gue
boleh baca pas gue lagi ada masalah sama Mardi
nanti atau tiba-tiba salah satu dari komponen otak gue korslet, maksud gue tiba-tiba
gue jadi ilfeel or something yang weird-weird terjadi gitu
deh. (ini sih namanya nyumpahin gue, Mas. Hu-uh!) tapi sebagai adik yang patuh,
gue harus bisa menghormati pesan wasiat bin keramat itu dengan sebaik-baiknya.
Sadap!
Ibuku tersayang dan Mbak Indahku yang mmmhh… (apa yah! Missing
link nih. Hehehe…) nggak deng! Mbak Indahku yang lagi totally
bergetar-getar (apanya?! Jangan ngeres lagi lo semua. Orang yang bergetar-getar
hatinya, soalnya si anak kejepit ini mau ketemu sama calon mertuanya. Cie… ileeeee…
asyik nih. Biasanya lo bakal di suruh ke dapur terus masak bareng deh sama
emaknya Mas Disi. Trik jadul yang gue rasa masih ‘in’). Oh iya, kok jadi
ngomongin mereka. Kan, Sekarang ini part gue. Hehehe… Ibu dan Mbak Indah
sih setuju-setuju aja. Lah wong kalo gue diapa-apain gampang toh,
tinggal lari kesebelah dan sikat habis sang Mardi. Itu asli lho kata mereka.
Suer!
Saturday night… (seminggu kemudian)
Malam penuh kesempatan bagi para pecinta di segala penjuru dunia. Termasuk
si my man itu. Hehehe… Gue lagi asyik-asyik makan rujak buatan Mbak
Indah yang notabene wuenak tenan, eh, terpaksa gue relain buat di makan Mardi
yang tiba-tiba datang tanpa di undang dan tanpa perasaan pula ngebajak piring
rujak gue.
“Mardi!!! Kebiasaan banget, deh.” Pekik Clara sebal. Pekikan itu langsung hinggap ke telinga
Mardi.
“Gila! Pengang banget nih kuping gue. Tau nggak
sih kebijakan bagi orang-orang yang mau teriak. Tau, nggak?”
“Mana gue tau. Lo kira gue pakar kebijakan. Emang
situ tau?” jawab Clara songong.
“Tau!!! Ah! Tapi roman-romannya lo nggak mau tau. Nggak jadi deh.” Mardi batal ngomong.
“Apaan nggak?” tandas Clara penasaran.
“Kalau mau teriak harus dalam RADIUS LIMA METER TAUUU!!!” Mardi membalas teriakan Clara dengan cara yang sama. Clara sontak menutup telinganya.
“ADUH!!!” Clara masih menutup telinganya. Dia mulai berjongkok dihadapan Mardi dan mengeluh kesakitan. Mardi masih juga tertawa, tapi tawanya berubah jadi cemas ketika dilihatnya Clara masih dalam posisi yang sama dan dengan rintihan yang semakin mengaduh-aduh.
“Kamu nggak papa, Ra?” Mardi membantu Clara untuk berdiri. Namun, Clara tak bergeming. Mardi jadi semakin panik.
“Maaf, Ra. Aku tadi nggak sengaja. Sakit banget, ya?” Mardi dengan sedikit memaksa mendudukkan Clara di sofa. Cewek itu tampak semakin kesakitan. Kemudian, Mardi duduk disebelahnya.
“Buka tangannya, dong, Ra. Aku pingin liat telinga kamu. Maksud aku, sakitnya yang disebelah mana?” Mardi mencoba melepaskan tangan Clara, tapi tak berhasil.
“Aku cuma mau liat aja, sayang. Pliiisss… jangan bikin aku khawatir, dong.”
Seuntai senyum yang tak terlihat disungguhkan
Clara. Dia melepaskan tangannya dan langsung berteriak kegirangan.
“EMANG ENAK DI TIPU. HEHEHEHE…..” Clara
loncat-loncat kesenangan melihat kepanikan yang tersuguh dari wajah pacarnya.
“Kamu, tuh, lucu banget kalo lagi panik.”
“Aaaah! Bercandanya kelewatan. Aku panik betulan, tau.” Mardi menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa. Menghela nafas panjang yang begitu lega adanya.
“Maaf, deh. Abisnya kamu ngerebut rujak aku. Kamu tau, kan, aku suka banget sama rujak.” Clara menunjukkan wajah inosennya.
“Berarti aku saingan sama rujak kamu itu, dong. Susah banget kalo gitu?”
“Susah?” Tanya Clara super bego.
“Iya, susah. Rujak itu punya banyak rasa dan khasiat yang oke. Semua rasa buah-buahan sampe kacang, sambel, terasi dan bumbu-bumbu lainnya ada. Khasiatnya yang paling paten, buat ibu-ibu yang lagi hamil muda. Nah, aku?!”
“Emang kamu kenapa?”
“…”
“Emang kamu kenapa, Mar?” Clara mengulangi pertanyaannya.
“Aku kan manusia bukan buah-buahan. Rasanya juga nggak seekstrim dan nggak seenak mereka.”
“Tapi khasiat kamu banyak lho.”
“Masa? Apa aja? Coba sebutin. Aku mau denger.”
“Khasiat kamu yang pertama adalah dimanapun aku berada selama ada kamu, aku aman.”
“Jelas.” Aku Mardi dengan bangganya.
“Tunggu, masih ada lanjutannya yang pertama. Makanya dengerin sampai selesai.”
“Oke. Lanjut beibeh…”
“Aku akan aman, soalnya kamu pasti bayarin aku makan, anterin aku pulang. Cost aku yang tadinya banyak, jadi menipis. Hehehe…”
“Aku udah tau deh. Aku ini kacung kamu yang tercinta, kan. Iya, kan?”
“Betul sekali. Hihihihi... Bercanda, Yang.”
“Terus yang kedua apa?”
“Khasiat kamu yang kedua adalah kamu itu… kamu itu… sumber motivasi aku untuk cepet-cepet lulus kuliah.”
“Yang ini mendingan sih. Aku jadi motivator kamu yang paling kamu cintai. Terus yang ketiga?”
“Sekaligus yang terakhir. Tapi itu hanya akan aku kasih tau kalau aku juga udah tau. Hehehe…”
“Jadi?”
“Ya, ntar. Aku juga masih cari apa yang terakhir itu.”
“Oke. Kirain cuma film yang ada tanggal mainnya. Ternyata kamu juga.”
“Yaaa iyalaaaaah.”
“Mau aku kasih liat nggak khasiat aku yang lain.”
“Apa?” Clara menolehkan kepalanya ke samping. Dan bibir Mardi yang nggak ada seksi-seksinya itu mengak-mengok.
“Bibir situ kenapa?”
“Aaaaa, nggak sensitif banget.” Mardi tertunduk manyun.
“Sariawan???”
“Oh, Gosh! Ini cewek telmi banget.” Mardi memegang kedua pipi Clara. Kemudian dia mendekatkan lagi dan lagi bibirnya ke bibir ceweknya itu. Ranumnya semakin terasa. Tapi tiba-tiba, adegan itu terhenti dengan satu julekan tepat di jidat Mardi.
bersambung ke part 4
No comments:
Post a Comment