Part 10
PETAKA
SI BUAH JERUK
Nadala merasa hidupnya sedikit lebih berwarna.
Khususnya beberapa minggu semenjak pertemuannya dengan Prisma pada saat upacara
kala itu. Nadala mendapati dirinya terbiasa dengan kebetulan yang selalu
mempertemukannya dengan Prisma. Prisma selalu muncul di saat-saat tertentu
dimana dia sedang sendirian di tengah keramaian. Nadala senang mendengar
celetukan dan ekspresi Prisma yang selalu tidak terduga.
Nadala seperti memiliki teman ngobrol yang satu
frekuensi dengannya. Bahkan terkadang Nadala seperti melihat bayangannya
sendiri dari diri Prisma, terutama untuk kegilaannya terhadap jus jeruk. Namun,
pagi ini Nadala terlihat tidak secerah biasanya. Mandala, sang kakak pun
menyadari perubahan itu. Nadala terlihat lesu, wajahnya pun sedikit pucat. "Kamu
sakit, Nad?" tanya Mandala khawatir. Nadala menggeleng.
"Bener? Mukamu pucat itu." sahut
Mandala tidak percaya. "Nggak, Mas. Nggak sakit kok. Semalem itu, aku abis
ngerjain tugas terus lanjut belajar buat ujian sampe malem banget. Mungkin efek
masih ngantuk aja." Jawab Nadala yang berusaha nyengir demi mengelabui
kakaknya yang panik. "Aduh jangan di forsir gitu dong. Kamu kan
belum..." Nadala sudah memotong ucapan kakaknya. "Belum apa? Jangan
mulai lagi deh" tegas Nadala.
"Hari ini bareng Mas aja berangkat ke
sekolahnya." usul Mandala yang lebih mirip sebuah mandat khusus. Nadala
terdiam mencermati baik-baik ucapan kakaknya. "Mas... Emang kalo bukan
sama Mas, aku sama siapa berangkatnya? Kadang-kadang pertanyaannya suka
aneh." ujar Nadala heran. Ganti Mandala yang terdiam, wajahnya tegang. Dia
seperti seseorang yang salah ucap. Mandala buru-buru meralat maksud ucapannya
barusan.
"Eh, salah ya? Hehehe... Masih pagi udah
error nih, Mas. Udaaaah, abisin dulu gih sarapannya. Abis itu kita
berangkat." ralat Mandala yang lalu melempar objek pembicaraan untuk
mengalihkan keanehan yang tertangkap di telinga Nadala. "Aku lupa Mas
Manda sudah sedemikian tua. Hahaha..." balas Nadala yang berusaha juga
terlihat teralihkan. Mandala diam-diam bernafas lega. Nadala teralihkan,
pikirnya.
Nadala tidak senaif itu untuk masuk dalam
pengalihan itu. Ini sudah kali keberapa dia mendapati kakaknya bersikap aneh.
Kakaknya sering terlihat keceplosan terhadap ucapannya sendiri. Sementara,
kakaknya itu terkenal anti meralat ucapan. Ucapan baginya anti direvisi. Tapi,
ya sudahlah, Nadala enggan berdebat, tenaganya sedang tidak ada. Bahkan dia
tidak yakin apakah hari ini kondisinya akan membaik.
"Ayo Mas, kita berangkat. Aku udah selesai
makannya." ujar Nadala yang sudah bersiap untuk bangkit dari duduknya.
"Susunya belum diminum. Minum dulu." sahut Mandala mengingat. Nadala
menggeleng. "Ibu udah capek-capek bikinin buat kamu. Minum ya, Nad."
ujar Mandala lembut. Nadala akhirnya meminumnya. "Pinter adeknya, Mas."
Mandala bertepuk tangan kecil. "Mas Manda apaan sih? Emang aku bocah
digituin." Omel Nadala.
"Sensi banget sih, Dek." tegur
Mandala pelan. "Nggak sensi, Mas. Udah ah, yuk jalan sekarang. Nanti aku
telat." rengek Nadala. Mereka pamit kepada Ibu dan Ayahnya, dan segera
berjalan ke mobil mereka. "Siap tuan putri. Ayo, silahkan naik ke kereta
kencananya." Mandala membukakan pintu dan mempersilahkan adiknya untuk
masuk kedalam mobilnya. "Terima kasih, Pak Pendongeng yang super
drama." Jawab Nadala singkat.
Sebelum mereka benar-benar berangkat, Mandala
mengirimkan pesan singkat lewat ponselnya kepada seseorang. "Mas..."
Nadala memanggil kakaknya sambil mengetuk-ngetuk kaca jam tangannya dengan jari
telunjuknya. Mandala segera mengirim pesan itu ke seseorang. Seseorang yang menjadi
mata keduanya untuk Nadala. Seorang penjaga baru. "Oh ya, sorry...
sorry... Oke, kita berangkaaaat..." sahut Mandala.
Nadala tiba di sekolah. Tidak seperti biasanya,
Nadala memilih langsung duduk di kelasnya. Satu, karena menghemat tenaganya.
Kedua, karena mengingat jam pertama akan ada ujian nanti, lebih baik membaca
kembali bahan-bahan yang diujikan. Teman sebangkunya rupanya cukup jeli
menangkap kondisi Nadala yang sedang tidak sehat meski Nadala sudah mati-matian
nyengir dan berhaha-hihi didepannya.
"Nyengir lo itu tumben nggak bikin gue
pingin jitak lo? Kenapa lo? Sakit?" tanya sang teman khawatir.
"Hahaha... I am okay. Bagus dong kalo lo nggak pingin jitak-jitak gue
lagi. Lo tau nggaaaaak... Setiap lo jitak gue, suara gue turun satu oktaf. Itu
musibah buat. Terutama dalam misi menyaingi suara mari ah kere." jawab
Nadala. "Siakeeeee... Lo kata tangan gue sesakti itu apa." protes
sang teman.
"You
don't know you so well. Ckckck..." ledek Nadala sambil geleng-geleng
sok keren. "Eh, Nad... serius dong. Lo yakin lo nggak lagi sakit? Muka lo
itu udah kayak vampir kurang darah." ujar sang teman yang kembali
menggiring pembicaraan ke fokus awal. Nadala mencibir kesal. "Apaan sih...
Nggak ada sakit, Nona cantik. Gue cuma ngantuk ajah. Semalem gue ngerjain tugas
sama belajar buat ujian hari ini sampe pagi buta."
"Ckckckckck... Makanya dicicil dong
ngerjain tugasnya. Ya udah, lo jangan sampe sakit ya." ujar sang teman
dengan bijaknya. "Tumben lo peduli banget?" tanya Nadala heran.
"Hehehe... Soalnya kalo gue buntu lo dewi penolong gue. Coba kalo lo
sakit?" sahut sang teman dengan polosnya. "Siakeeeeee... Modus banget
sih perhatian lo. Ter-la-lu..." Pekik Nadala yang merasa tertipu keluguan
sang teman.
Bel masuk berbunyi. Nadala dan sang teman
menyudahi pembicaraan mereka seiring dengan masuknya guru mereka ke dalam
kelas. Semua murid langsung duduk hikmad. Ketegangan mulai terasa ketika sebuah
amplop besar dan tebal, tentunya masih tersegel terhidang di pandangan mereka.
"Jadi ujiannya, Nad." sang teman yang bernama Nona pun mendadak
panik. "Ya jadilah, Nona cantik. Tuh, lo liat soalnya." Jawab Nadala
pelan.
"Ya ampun ini anak... Mata gue masih awas
kali. Nggak usah lo kasih tau juga keliatan itu soal. Kira-kira soalnya apa ya
Nad?" tegur Nona sebal bin geregetan. "Nona cantik... Pertanyaan lo
garing deh. Soalnya kira-kira apa? Lo coba kira-kira ini pelajaran apa?"
bisik Nadala yang tak kalah sebalnya. "Bahasa Indonesia." jawab Nona
polos. "Cerdas!" tegas Nadala. Nona mendelik kesal, salah
mengutarakan kalimat tanya.
"Eh... Eh... maksud gue soalnya kira-kira
susah apa nggak? Gitu lho, Jeng Nadala." jerit Nadala tertahan.
"Sssttt... Bentar, gue tanya om dukun dulu. Kali aja doi tau." jawab
Nadala asal. "Nadalaaaaaaaa." pekik Nona saking nggak kuatnya.
"Nona! Kecilkan suaramu." Potong sang guru. "Oh ya, Nona. Bantu
Ibu membagikan soal ini." Nadala menahan senyumnya. Nona melotot kearah
Nadala. Nadala terpaksa melebarkan senyumnya.
Akhirnya ujian pagi itu berakhir juga. Nadala
menghela nafas panjang lalu menyenderkan kepalanya ke tembok disamping kirinya.
Nadala terlihat memijat pelipis kanannya perlahan. Wajahnya kian memucat. Nona
mulai mengendus aroma pesakitan dari Nadala. "Tuh, Kan. Lo sakit. Bandel
amat pake acara sok nggak ngaku." Omel Nona yang khawatir. Nadala cuma
sanggup tersenyum kecil pertanda menyesal.
"Izin pulang aja ya, Nad?" ujar Nona
menawarkan. Nadala menggeleng. "Ya udah, ke UKS aja gimana? Lo istirahat
dulu barang sejam dua jam ya. Kali aja abis gitu lo mendingan. Yaaa??"
sahut Nona memohon. Nadala mengangguk lemah sambil menggapai uluran tangan
Nona. Begitu Nadala berangsur berdiri dengan kondisi seperti itu teman-temannya
yang lain juga sontak panik dan cemas. Mereka ikut membantu.
Nona mengantarkan Nadala ke ruang UKS. Dokter
sekolah pun dengan sigapnya mengambil alih pemapahan Nadala dari tangan Nona.
"Temanmu kenapa?" tanya sang dokter. "Nggak tahu, Dok. Dari pagi
mukanya udah pucat." jawab Nona. "Oke, saya periksa terlebih dahulu
ya." sahut sang dokter yang lalu menarik lembut kelopak bawah mata Nadala.
"Mmm... Coba sekarang julurkan lidahnya." lanjut sang dokter lagi.
"Oke, sekarang saya tensi dulu ya."
sahut sang dokter. Nadala mengangguk. Nadala lalu merubah pandangannya ke Nona,
"Non, lo mending balik ke kelas. Gue nggak apa-apa kok. Lagian ada bu
dokter yang jagain gue." ujar Nadala. "Iya, kamu lebih baik kembali
ke kelas. Ini masih jam pelajaran." sahut sang dokter setuju. "Ya
udah, gue balik ke kelas ya. Istirahat yang bener, Lo." tandas Nona.
"Siap Bos." jawab Nadala.
"Kamu hanya kecapean saja. Siapa namamu?
Biar Ibu yang nanti melaporkan bahwa kamu sedang beristirahat disini."
ujar Ibu Dokter. "Nama saya Nadala, Bu. Kelas sebelas IPS tiga."
jawab Nadala. "Oke. Kamu istirahat dulu disini. Ibu mau ke kelasmu melapor
ke guru yang sedang mengajar." ujar Ibu Dokter. Nadala menghempaskan
dirinya perlahan ke tempat tidur yang tersedia disana. "Terima kasih,
Bu." sahut Nadala lirih.
Selang beberapa jam kemudian, tepatnya pada
saat jam istirahat siang berlangsung. Seseorang tengah menerima telepon dengan
penekanan keras disetiap ucapan dari sang penelepon. "Kan, saya sudah
minta kamu jaga dia. Kenapa saya tanya bagaimana dia, kamu bilang tidak
tahu?" tanya sang penelepon kesal. Sang penerima pun kelihatan menahan
rasa kesalnya dengan interupsi dan letupan-letupan emosi dari orang diseberang.
"Maaf, Mas. Tapi saya tidak bisa selalu
mengawasi dia. Saya juga terbentur dengan tugas sekolah saya dan hal ini itu.
Saya sekarang kelas tiga, Mas tau kan itu." tegas sang penerima telepon.
Nampaknya suara tinggi diseberang sana mulai melunak. "Sorry saya lupa.
Oke, saya minta maaf. Tapi ingat, saya mohon kamu tepati kesepakatan kita untuk
tetap menjaga dia. Kamu paham?" ujar sang penelepon.
"Tenang saja, Mas. Saya pasti akan
menepati kesepakatan kita." Jawab sang penerima telepon itu mantap.
"Bagus. Saya pegang kata-kata kamu. Oke, sekarang saya minta kamu hari ini
antarkan dia pulang kerumah, kondisi dia pasti makin parah. Pura-pura mau
berkunjung kerumah tantemulah atau apalah terserah kamu. Mengerti kan?"
ujar sang penelepon yang lalu mematikan teleponnya. Sang penerima telepon
dibuat semakin kesal.
Baru saja Prisma melangkahkan kaki keluar dari
kelas saat jam istirahat. Sebuah panggilan masuk berdering di handphone-nya.
Prisma langsung mengangkatnya ketika dilihatnya nama si penelepon. Selama
percakapan itu, mood Prisma berubah tak keruan. Kesal berbalut lelah yang
seakan menghiasi guratan di wajahnya. Apalagi ketika sambungan telepon
dimatikan secara sepihak dari orang yang meneleponnya.
Prisma mengepalkan tangannya keras-keras,
menahan kekesalannya yang sudah mencapai di ubun-ubun. "Bener kan apa yang
gue duga, ini cewek bakalan ngerepotin gue. Nyesel gue buat kesepakatan itu
dulu." ujar Prisma pelan. Siang itu, Prisma terpaksa menahan perut
keroncongannya untuk memantau kondisi targetnya. Target kecil yang ternyata
merepotkan dan menyita waktu-waktu pentingnya belakangan ini.
Prisma menyusuri lorong sekolah dan berhenti di
satu kelas. Prisma melongok dari luar jendela kelas sang target. Tak ada
tanda-tanda keberadaan itu cewek, pikirnya. Tiba-tiba satu tepukan mengaketkan
Prisma dari belakang. "Astaga. Kagetin gue aja lo." sahut Prisma yang
langsung mengusap dadanya meredakan kekagetannya. "Maaf. Lagian Kak Prisma
ngapain begitu?" tanya Nona yang kebetulan juniornya di ekskul paskibra.
"Temen lo kemana? Nggak masuk?" tanya
Prisma pada Nona. "Siapa? Nadala, Kak? Masuk. Cuma sekarang masih di UKS
kayaknya." jelas Nona. "UKS? Ngapain?" tanya Prisma dengan
santainya. "Ya istirahatlah, Kak. Tadi dia itu sakit, cuma dia keukeuh
nggak mau pulang." ujar Nada. "Oh, oke. Thanks." balas Prisma
singkat menutup percakapan itu lalu pergi begitu saja. "Ih, aneh betul Kak
Prisma. Nanyain tapi nggak niat gitu."
Prisma melangkah segera menuju ruang UKS. Tapi
belum langkahnya berhenti di ruangan itu, yang dicari Prisma sudah terlebih
dahulu muncul di hadapannya. Prisma menyeringai ringan. "Dan tuan putri
pun sudah bangun dari tidurnya." gumam Prisma pelan. Prisma menarik nafas
panjang, lalu baru berjalan menghampiri Nadala. "Nad." panggil
Prisma. Nadala menoleh ke asal suara, "Eh, Kak Prisma." balas Nadala
dengan senyum kecil.
"Lo darimana? Tadi gue cariin lo di kelas
nggak ada." tanya Prisma berpura-pura tidak tahu. "Oh, itu... Tadi
aku ke UKS." jawab Nadala singkat. "Sakit?" Prima kembali
memulai kepura-puraannya yang berikutnya. Nadala menggeleng. "Nggak. Cuma
numpang tidur doang aja. Hehehe..." Senyum itu tak secerah biasanya.
Layunya terlalu kentara menembus hingga ke pipinya yang tampak pucat. Hati
Prisma lagi-lagi berdesir. Aneh.
Prisma kembali mendapati dirinya mendadak beku
dan tak berdaya. Ego dan penampikannya beberapa menit lalu yang dia junjung
tinggi-tinggi mendadak tergoyahkan dan terpaksa mendarat dengan posisi
terjerembab. Prisma selalu dipusingkan dengan perubahan kilat pada dirinya
sendiri ketika berhadapan dengan Nadala. Prisma seperti tersihir pangeran jeruk
yang manis dan selalu ada buat Nadala. Ini gila!
"Makan, Yuk." ajak Prisma spontan. Ajaaaak
makan? Prisma terhenyak mendapati dirinya menawarkan ajakan makan siang kepada
Nadala. Kenapa gue malah ngajak makan siang dia, batin Prisma yang sembari
mengutuk ketololannya atas ucapan dan pikirannya yang tidak sinkron. Ini petaka
namanya, Prismaaaa... Nadala terheran melihat perubahan ekspresi orang
didepannya itu.
■■■■
No comments:
Post a Comment