Monday, 30 June 2014

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 10)

Part 10

PETAKA SI BUAH JERUK


Nadala merasa hidupnya sedikit lebih berwarna. Khususnya beberapa minggu semenjak pertemuannya dengan Prisma pada saat upacara kala itu. Nadala mendapati dirinya terbiasa dengan kebetulan yang selalu mempertemukannya dengan Prisma. Prisma selalu muncul di saat-saat tertentu dimana dia sedang sendirian di tengah keramaian. Nadala senang mendengar celetukan dan ekspresi Prisma yang selalu tidak terduga.

Nadala seperti memiliki teman ngobrol yang satu frekuensi dengannya. Bahkan terkadang Nadala seperti melihat bayangannya sendiri dari diri Prisma, terutama untuk kegilaannya terhadap jus jeruk. Namun, pagi ini Nadala terlihat tidak secerah biasanya. Mandala, sang kakak pun menyadari perubahan itu. Nadala terlihat lesu, wajahnya pun sedikit pucat. "Kamu sakit, Nad?" tanya Mandala khawatir. Nadala menggeleng.

"Bener? Mukamu pucat itu." sahut Mandala tidak percaya. "Nggak, Mas. Nggak sakit kok. Semalem itu, aku abis ngerjain tugas terus lanjut belajar buat ujian sampe malem banget. Mungkin efek masih ngantuk aja." Jawab Nadala yang berusaha nyengir demi mengelabui kakaknya yang panik. "Aduh jangan di forsir gitu dong. Kamu kan belum..." Nadala sudah memotong ucapan kakaknya. "Belum apa? Jangan mulai lagi deh" tegas Nadala.

"Hari ini bareng Mas aja berangkat ke sekolahnya." usul Mandala yang lebih mirip sebuah mandat khusus. Nadala terdiam mencermati baik-baik ucapan kakaknya. "Mas... Emang kalo bukan sama Mas, aku sama siapa berangkatnya? Kadang-kadang pertanyaannya suka aneh." ujar Nadala heran. Ganti Mandala yang terdiam, wajahnya tegang. Dia seperti seseorang yang salah ucap. Mandala buru-buru meralat maksud ucapannya barusan.

"Eh, salah ya? Hehehe... Masih pagi udah error nih, Mas. Udaaaah, abisin dulu gih sarapannya. Abis itu kita berangkat." ralat Mandala yang lalu melempar objek pembicaraan untuk mengalihkan keanehan yang tertangkap di telinga Nadala. "Aku lupa Mas Manda sudah sedemikian tua. Hahaha..." balas Nadala yang berusaha juga terlihat teralihkan. Mandala diam-diam bernafas lega. Nadala teralihkan, pikirnya.

Nadala tidak senaif itu untuk masuk dalam pengalihan itu. Ini sudah kali keberapa dia mendapati kakaknya bersikap aneh. Kakaknya sering terlihat keceplosan terhadap ucapannya sendiri. Sementara, kakaknya itu terkenal anti meralat ucapan. Ucapan baginya anti direvisi. Tapi, ya sudahlah, Nadala enggan berdebat, tenaganya sedang tidak ada. Bahkan dia tidak yakin apakah hari ini kondisinya akan membaik.

"Ayo Mas, kita berangkat. Aku udah selesai makannya." ujar Nadala yang sudah bersiap untuk bangkit dari duduknya. "Susunya belum diminum. Minum dulu." sahut Mandala mengingat. Nadala menggeleng. "Ibu udah capek-capek bikinin buat kamu. Minum ya, Nad." ujar Mandala lembut. Nadala akhirnya meminumnya. "Pinter adeknya, Mas." Mandala bertepuk tangan kecil. "Mas Manda apaan sih? Emang aku bocah digituin." Omel Nadala.
"Sensi banget sih, Dek." tegur Mandala pelan. "Nggak sensi, Mas. Udah ah, yuk jalan sekarang. Nanti aku telat." rengek Nadala. Mereka pamit kepada Ibu dan Ayahnya, dan segera berjalan ke mobil mereka. "Siap tuan putri. Ayo, silahkan naik ke kereta kencananya." Mandala membukakan pintu dan mempersilahkan adiknya untuk masuk kedalam mobilnya. "Terima kasih, Pak Pendongeng yang super drama." Jawab Nadala singkat.

Sebelum mereka benar-benar berangkat, Mandala mengirimkan pesan singkat lewat ponselnya kepada seseorang. "Mas..." Nadala memanggil kakaknya sambil mengetuk-ngetuk kaca jam tangannya dengan jari telunjuknya. Mandala segera mengirim pesan itu ke seseorang. Seseorang yang menjadi mata keduanya untuk Nadala. Seorang penjaga baru. "Oh ya, sorry... sorry... Oke, kita berangkaaaat..." sahut Mandala.

Nadala tiba di sekolah. Tidak seperti biasanya, Nadala memilih langsung duduk di kelasnya. Satu, karena menghemat tenaganya. Kedua, karena mengingat jam pertama akan ada ujian nanti, lebih baik membaca kembali bahan-bahan yang diujikan. Teman sebangkunya rupanya cukup jeli menangkap kondisi Nadala yang sedang tidak sehat meski Nadala sudah mati-matian nyengir dan berhaha-hihi didepannya.

"Nyengir lo itu tumben nggak bikin gue pingin jitak lo? Kenapa lo? Sakit?" tanya sang teman khawatir. "Hahaha... I am okay. Bagus dong kalo lo nggak pingin jitak-jitak gue lagi. Lo tau nggaaaaak... Setiap lo jitak gue, suara gue turun satu oktaf. Itu musibah buat. Terutama dalam misi menyaingi suara mari ah kere." jawab Nadala. "Siakeeeee... Lo kata tangan gue sesakti itu apa." protes sang teman.

"You don't know you so well. Ckckck..." ledek Nadala sambil geleng-geleng sok keren. "Eh, Nad... serius dong. Lo yakin lo nggak lagi sakit? Muka lo itu udah kayak vampir kurang darah." ujar sang teman yang kembali menggiring pembicaraan ke fokus awal. Nadala mencibir kesal. "Apaan sih... Nggak ada sakit, Nona cantik. Gue cuma ngantuk ajah. Semalem gue ngerjain tugas sama belajar buat ujian hari ini sampe pagi buta."

"Ckckckckck... Makanya dicicil dong ngerjain tugasnya. Ya udah, lo jangan sampe sakit ya." ujar sang teman dengan bijaknya. "Tumben lo peduli banget?" tanya Nadala heran. "Hehehe... Soalnya kalo gue buntu lo dewi penolong gue. Coba kalo lo sakit?" sahut sang teman dengan polosnya. "Siakeeeeee... Modus banget sih perhatian lo. Ter-la-lu..." Pekik Nadala yang merasa tertipu keluguan sang teman.

Bel masuk berbunyi. Nadala dan sang teman menyudahi pembicaraan mereka seiring dengan masuknya guru mereka ke dalam kelas. Semua murid langsung duduk hikmad. Ketegangan mulai terasa ketika sebuah amplop besar dan tebal, tentunya masih tersegel terhidang di pandangan mereka. "Jadi ujiannya, Nad." sang teman yang bernama Nona pun mendadak panik. "Ya jadilah, Nona cantik. Tuh, lo liat soalnya." Jawab Nadala pelan.

"Ya ampun ini anak... Mata gue masih awas kali. Nggak usah lo kasih tau juga keliatan itu soal. Kira-kira soalnya apa ya Nad?" tegur Nona sebal bin geregetan. "Nona cantik... Pertanyaan lo garing deh. Soalnya kira-kira apa? Lo coba kira-kira ini pelajaran apa?" bisik Nadala yang tak kalah sebalnya. "Bahasa Indonesia." jawab Nona polos. "Cerdas!" tegas Nadala. Nona mendelik kesal, salah mengutarakan kalimat tanya.

"Eh... Eh... maksud gue soalnya kira-kira susah apa nggak? Gitu lho, Jeng Nadala." jerit Nadala tertahan. "Sssttt... Bentar, gue tanya om dukun dulu. Kali aja doi tau." jawab Nadala asal. "Nadalaaaaaaaa." pekik Nona saking nggak kuatnya. "Nona! Kecilkan suaramu." Potong sang guru. "Oh ya, Nona. Bantu Ibu membagikan soal ini." Nadala menahan senyumnya. Nona melotot kearah Nadala. Nadala terpaksa melebarkan senyumnya.

Akhirnya ujian pagi itu berakhir juga. Nadala menghela nafas panjang lalu menyenderkan kepalanya ke tembok disamping kirinya. Nadala terlihat memijat pelipis kanannya perlahan. Wajahnya kian memucat. Nona mulai mengendus aroma pesakitan dari Nadala. "Tuh, Kan. Lo sakit. Bandel amat pake acara sok nggak ngaku." Omel Nona yang khawatir. Nadala cuma sanggup tersenyum kecil pertanda menyesal.

"Izin pulang aja ya, Nad?" ujar Nona menawarkan. Nadala menggeleng. "Ya udah, ke UKS aja gimana? Lo istirahat dulu barang sejam dua jam ya. Kali aja abis gitu lo mendingan. Yaaa??" sahut Nona memohon. Nadala mengangguk lemah sambil menggapai uluran tangan Nona. Begitu Nadala berangsur berdiri dengan kondisi seperti itu teman-temannya yang lain juga sontak panik dan cemas. Mereka ikut membantu.

Nona mengantarkan Nadala ke ruang UKS. Dokter sekolah pun dengan sigapnya mengambil alih pemapahan Nadala dari tangan Nona. "Temanmu kenapa?" tanya sang dokter. "Nggak tahu, Dok. Dari pagi mukanya udah pucat." jawab Nona. "Oke, saya periksa terlebih dahulu ya." sahut sang dokter yang lalu menarik lembut kelopak bawah mata Nadala. "Mmm... Coba sekarang julurkan lidahnya." lanjut sang dokter lagi.

"Oke, sekarang saya tensi dulu ya." sahut sang dokter. Nadala mengangguk. Nadala lalu merubah pandangannya ke Nona, "Non, lo mending balik ke kelas. Gue nggak apa-apa kok. Lagian ada bu dokter yang jagain gue." ujar Nadala. "Iya, kamu lebih baik kembali ke kelas. Ini masih jam pelajaran." sahut sang dokter setuju. "Ya udah, gue balik ke kelas ya. Istirahat yang bener, Lo." tandas Nona. "Siap Bos." jawab Nadala.

"Kamu hanya kecapean saja. Siapa namamu? Biar Ibu yang nanti melaporkan bahwa kamu sedang beristirahat disini." ujar Ibu Dokter. "Nama saya Nadala, Bu. Kelas sebelas IPS tiga." jawab Nadala. "Oke. Kamu istirahat dulu disini. Ibu mau ke kelasmu melapor ke guru yang sedang mengajar." ujar Ibu Dokter. Nadala menghempaskan dirinya perlahan ke tempat tidur yang tersedia disana. "Terima kasih, Bu." sahut Nadala lirih.

Selang beberapa jam kemudian, tepatnya pada saat jam istirahat siang berlangsung. Seseorang tengah menerima telepon dengan penekanan keras disetiap ucapan dari sang penelepon. "Kan, saya sudah minta kamu jaga dia. Kenapa saya tanya bagaimana dia, kamu bilang tidak tahu?" tanya sang penelepon kesal. Sang penerima pun kelihatan menahan rasa kesalnya dengan interupsi dan letupan-letupan emosi dari orang diseberang.

"Maaf, Mas. Tapi saya tidak bisa selalu mengawasi dia. Saya juga terbentur dengan tugas sekolah saya dan hal ini itu. Saya sekarang kelas tiga, Mas tau kan itu." tegas sang penerima telepon. Nampaknya suara tinggi diseberang sana mulai melunak. "Sorry saya lupa. Oke, saya minta maaf. Tapi ingat, saya mohon kamu tepati kesepakatan kita untuk tetap menjaga dia. Kamu paham?" ujar sang penelepon.

"Tenang saja, Mas. Saya pasti akan menepati kesepakatan kita." Jawab sang penerima telepon itu mantap. "Bagus. Saya pegang kata-kata kamu. Oke, sekarang saya minta kamu hari ini antarkan dia pulang kerumah, kondisi dia pasti makin parah. Pura-pura mau berkunjung kerumah tantemulah atau apalah terserah kamu. Mengerti kan?" ujar sang penelepon yang lalu mematikan teleponnya. Sang penerima telepon dibuat semakin kesal.

Baru saja Prisma melangkahkan kaki keluar dari kelas saat jam istirahat. Sebuah panggilan masuk berdering di handphone-nya. Prisma langsung mengangkatnya ketika dilihatnya nama si penelepon. Selama percakapan itu, mood Prisma berubah tak keruan. Kesal berbalut lelah yang seakan menghiasi guratan di wajahnya. Apalagi ketika sambungan telepon dimatikan secara sepihak dari orang yang meneleponnya.

Prisma mengepalkan tangannya keras-keras, menahan kekesalannya yang sudah mencapai di ubun-ubun. "Bener kan apa yang gue duga, ini cewek bakalan ngerepotin gue. Nyesel gue buat kesepakatan itu dulu." ujar Prisma pelan. Siang itu, Prisma terpaksa menahan perut keroncongannya untuk memantau kondisi targetnya. Target kecil yang ternyata merepotkan dan menyita waktu-waktu pentingnya belakangan ini.

Prisma menyusuri lorong sekolah dan berhenti di satu kelas. Prisma melongok dari luar jendela kelas sang target. Tak ada tanda-tanda keberadaan itu cewek, pikirnya. Tiba-tiba satu tepukan mengaketkan Prisma dari belakang. "Astaga. Kagetin gue aja lo." sahut Prisma yang langsung mengusap dadanya meredakan kekagetannya. "Maaf. Lagian Kak Prisma ngapain begitu?" tanya Nona yang kebetulan juniornya di ekskul paskibra.

"Temen lo kemana? Nggak masuk?" tanya Prisma pada Nona. "Siapa? Nadala, Kak? Masuk. Cuma sekarang masih di UKS kayaknya." jelas Nona. "UKS? Ngapain?" tanya Prisma dengan santainya. "Ya istirahatlah, Kak. Tadi dia itu sakit, cuma dia keukeuh nggak mau pulang." ujar Nada. "Oh, oke. Thanks." balas Prisma singkat menutup percakapan itu lalu pergi begitu saja. "Ih, aneh betul Kak Prisma. Nanyain tapi nggak niat gitu."

Prisma melangkah segera menuju ruang UKS. Tapi belum langkahnya berhenti di ruangan itu, yang dicari Prisma sudah terlebih dahulu muncul di hadapannya. Prisma menyeringai ringan. "Dan tuan putri pun sudah bangun dari tidurnya." gumam Prisma pelan. Prisma menarik nafas panjang, lalu baru berjalan menghampiri Nadala. "Nad." panggil Prisma. Nadala menoleh ke asal suara, "Eh, Kak Prisma." balas Nadala dengan senyum kecil.

"Lo darimana? Tadi gue cariin lo di kelas nggak ada." tanya Prisma berpura-pura tidak tahu. "Oh, itu... Tadi aku ke UKS." jawab Nadala singkat. "Sakit?" Prima kembali memulai kepura-puraannya yang berikutnya. Nadala menggeleng. "Nggak. Cuma numpang tidur doang aja. Hehehe..." Senyum itu tak secerah biasanya. Layunya terlalu kentara menembus hingga ke pipinya yang tampak pucat. Hati Prisma lagi-lagi berdesir. Aneh.

Prisma kembali mendapati dirinya mendadak beku dan tak berdaya. Ego dan penampikannya beberapa menit lalu yang dia junjung tinggi-tinggi mendadak tergoyahkan dan terpaksa mendarat dengan posisi terjerembab. Prisma selalu dipusingkan dengan perubahan kilat pada dirinya sendiri ketika berhadapan dengan Nadala. Prisma seperti tersihir pangeran jeruk yang manis dan selalu ada buat Nadala. Ini gila!

"Makan, Yuk." ajak Prisma spontan. Ajaaaak makan? Prisma terhenyak mendapati dirinya menawarkan ajakan makan siang kepada Nadala. Kenapa gue malah ngajak makan siang dia, batin Prisma yang sembari mengutuk ketololannya atas ucapan dan pikirannya yang tidak sinkron. Ini petaka namanya, Prismaaaa... Nadala terheran melihat perubahan ekspresi orang didepannya itu. 

■■■■

No comments:

Post a Comment