Ditulis 15 November 2009
“Ooh, yang itu. Enak aja. Lo pikir ini gratis apa.”
Clara menunjukkan bibirnya. ”Usaha dulu baru bisa dapet ciuman gue. Di dunia
ini nggak ada yang gratis ya, Oom.” Clara kembali mengambil jarak yang sempat
kecolongan itu. Mardi masygul.
“Lain kali jangan diulangin, ya. Kamu kan tau, aku nggak suka hal-hal yang kayak gitu. Nggak usah malu gitu, dong.” Clara mengusap-usap punggung Mardi. Efektif! Senyum Mardi kembali mekar.
“Maafin aku ya. Aku cuma bercanda tadi.”
“Sip.”
“Nggak berpikiran negatif tentang aku, kan, Ra?”
“Ya, nggaklah. Udah ah. Kenapa jadi scene lebay begini. Bukan kita banget, tau. We are energetic and absolutely optimistic couple, right.”
“Yeah. Kita kan pasangan paling canggih. Bermental baja. Bermuka tembok. Terus apa lagi, Yang?”
“Pokoknya kita itu paket crunchy masa kini. Betul?”
“Tul.”
“Hahahaha….”
Di kampus…esok paginya…
Kehidupan berjalan seperti biasanya. Sebelum berangkat tadi, Mardi jemput gue
di rumah. Yang beda hanya pesen Ibu yang lebih panjang dari pada biasanya.
Kalau dulu cuma satu baris singkat. Sekarang… puanjangnya kayak kereta api.
“Nak Mardi, Ibu titip Clara, ya. Jangan lupa diingetin makan siangnya….”
Dan lain sebagainya… Pokoknya tolong, eh too long! Hehehe…
“Iya, Bu. Nggak Ibu suruh juga Mardi emang
udah kayak gitu dari dulu.” Clara
mengambil tangan Ibunya dan menempelkannya di hidung. “Pergi dulu ya, Bu.”
“Hati-hati. Nak Mardi titip, ya.” Ujar Ibu
mengingatkan.
“Iyaaaaa, Ibuuuuu.”
Untung mental Mardi sudah teruji secara klinis.
LHO?! Kuman kaleee…
“Cool!” puji Clara.
“Emang. Gimana ya, calon menantu idaman.”
“Ih, ngarep.”
Sebetulnya, Mardi itu beda kampus sama gue. Tapi
emang udah jadi kebiasannya antar jemput gue. Dia itu anak psikologi semester
6. Dia terkenal cukup cerdas. Cuma Mardi, satu-satunya cowok yang bisa ngalahin
otak gue yang teranugerah encer ini. Still remember about Nita,
mantannya Mardi. Cewek itu temen sekelasnya dikampus. Mereka dulu jadian
gara-gara satu momen yang menurut gue NGGAK BANGET. Coba lo semua bayangin.
Selesai kuliah di Laboraturium Bahasa, sepatu andalan Mardi yang nampak so
awfull, tambel sana tambel sini pada bagian bawahnya, nggak sengaja Nita
pake. Asli sepatu mereka satu
merek dan satu tipe pula. Istilah kata, mirip!! Mardi yang ngeliat itu sontak
berteriak, “MALING!!!” Semua temannya termasuk Nita seketika itu bersiaga
penuh. Mata-mata penuh curiga terpancar saling tuduh. Mardi buru-buru mendekati
Nita.
“Kalo mau klepto jangan sepatu buluk kesayangan gue ‘napa.” Mardi berhenti tepat di depan Nita. Menatap manik mata itu dengan seriusnya. Kemudian dia menunjuk-nunjuk sepatu yang di pakai Nita.
“Enak aja, ini sepatu gue kali.” Tandasnya dengan ekspresi tak terima.
“Itu buluk tau. Masa cewek pake sepatu yang bulukan gitu.” Mardi dengan bangganya memproklamirkan sepatu buluknya itu ke khalayak ramai. Cuma yang tak terduga, cewek yang didampratnya ini tak kalah bangganya karena juga mempunyai sepatu yang sama buluknya. Busyeeeet!!! “Sepatu gue juga buluk, kok. Sekarang, kan, lagi ngetren pake sepatu buluk.”
“Berani taruhan nggak kalo sepatu itu punya gue.” Tantang Mardi tiba-tiba.
“Berani. Siapa takut? Apaan taruhannya?” tantang balik Nita.
“Kalo itu bener sepatu gue lo harus mau ya jadi cewek gue. Kalo lo nolak, sori dori to stoberi gue terpaksa laporin lo ke satpam karena telah mengambil barang orang lain. Gue serius, nih.”
“Oke. Siapa takut. Tapi kalo ini sepatu gue. Elo harus jajanin gue satu bulan penuh. Kalo lo nolak, gue bakalan laporin lo ke komnasham atas tuduhan pencemaran nama baik. Gimana?”
“Jadi.” Sahut Mardi mengiyakan.
“Fine.” Keduanya saling menjabat tangan sebagai tanda setuju. Kemudian Nita melepaskan kembali sepatu yang dipakainya itu. Sepintas sepatu mereka sama betul. Plus dengan kebulukan dari sepatu yang mereka banggakan. Namun, dengan percaya diri, Mardi membalik sepatu tersebut dan memperlihatkan jahitan-jahitan yang nggak beraturan didasarnya. Mardi menyeringai lebar. Kemenangan mutlak di pihak Mardi. Cuma ini nih yang bikin, Mardi terkesan sama Nita. Tanpa merasa malu, dia bilang dengan tegas. “Oke. Karena gue yang salah. Gue akan tepati persetujuan kita. Gue mau jadi cewek elo.”
Gokil banget itu kisah. Awalnya gue pikir Mardi
lagi ngibulin gue. Gue nggak percaya akut, mana ada cewek yang mau sama cowok
sakit jiwa gitu. Saking kesalnya karena gue nggak percaya, dia bawa ceweknya
yang “jadian by accident” itu lho esok harinya. Cewek tercantik -versi
gue dan survey dari anak-anak di kampusnya Mardi- dan rada semi -kalo
ini asli cuma dari gue aja. Hehehe… apalagi coba predikat yang harus gue
sandangkan pada yang mulia ratu yang bernama Nita itu ketika dengan begonya
menjalankan kesepakatan konyol yang Mardi buat. Cewek itu tersenyum manis kearah gue.
“Kenalin, Ra. Ini Nita. Gue nggak bohong, kan?” Mardi menghantarkan tangan yang dipegangnya itu ke tangan gue. Kemudian gue sama cewek itu saling menjabat tangan. Setelah itu gue permisi sebentar sambil membawa Mardi menjauh.
“Wah, lo yakin cewek ini otaknya nggak korslet. Parah banget, kok dia mau sama lo. Itu cewek cantiknya bukan main. Apalah artinya elo yang makhluk aneh bin ajaib begini dibandingkan bidadari langit kayak dia.”
“Sialan! Perumpamaan lo jauh banget. Lo kira gue nyangsang di kasta paling rendah apa?! Gue sepangkat dan sederajat sama Pangeran William, tauu.”
“Bukan itu, Odong. Cewek model gue aja ogah. Apalagi yang kayak dia. Lo tau kan, Gadis? Si Miss perfecto yang gilo amo cowok-cowok kayo itu looooh.”
“Iye. Kenape emangnye?”
“Lo tau kan dia itu asal libas semua ras cowok yang berdompet tebal. Nggak penting rupa wajah dan ukuran tubuh. Yang penting itu seberapa banyak duit lembaran berwarna merah yang nolnya berderet lima di belakang angka satu. Terus seberapa banyak kartu kredit yang bisa di gesek. Terus seberapa keren mobil atau motor yang bisa dia duduki sebagai singgasana.”
“Lantas?” Tanya Mardi seolah-olah tak terbebani dengan hal itu.
“Lo di tolak kan waktu itu. Jelas-jelas dia tau lo tajir mampus.”
“Ya terus…”
“Ya terus, lo yakin ini cewek nggak gila? Minimal nggak kejangkit semi waras. Lo yakin?”
“Kagak sih. Hehehe… Cuma gue be positive thinking aja. Siapa tau emang dia yang terbaik buat gue, walaupun cara jadiannya agak ajaib sih. But, how lucky I am.”
“Iya, sih. Kalo udah urusan jodoh, manusia nggak punya kuasa sama sekali. Emang lo lagi hoki aja kali yeee. Selamet deh, Oom. Di jaga ya cewek lo. Jangan lupa sering-sering di bawa check up ke Grogol sono. Hahaha…”
“Sip. Hehehe….”
Kata-kata itulah yang sampai sekarang gue inget betul dan sejarah
paling aneh dari kehidupan percintaan Mardi itu pun jadi bahan bercandaan kita
berdua selama ini di mobil.
“Yang, sepatu aku buluk nih.” Sahut gue tiba-tiba.
“Oh, ya? Sepatu aku juga buluk tuh? Bisa jadian dong? Hehehe…” Mardi membalas sahutanku nggak kalah kocaknya.
“Bisa… bisa… banget. Hehehe…”
“Dasar. Kamu tuh jahil banget. Nita kupingnya panas loh.”
“Cie… masih care toh sama mantan kamu itu. Cie… masih cinta ya…?”
“Gimana ya? Mmmh… maybe...”
“Wow, surprise. Nggak nyangka sih. Dominasi mantan pacar kamu emang oke punya.”
“Hehehe… udah ah bercandanya. Aku lagi konsen nyetir, Ra.”
“Cie...ileh... Bisa aja ngelesnya.”
-tamat-
No comments:
Post a Comment