Monday, 30 June 2014

Cerbung: Pangeran Dekik dan Nyai Dempul (part 7)

Part 7

CAWAN EMAS DAN PERANG ANGIN UTARA


Siang itu, matahari benar-benar sangat bersahabat. Taman bunga di belakang kerajaan pun dipenuhi kupu-kupu dan lebah madu yang cantik. Suara langkah kaki mengusik seseorang yang sedang beralaskan tangan, tertidur menghadap ke langit. Seseorang telah mengusik Pangeran Dewo dengan kedatangannya. Cahaya matahari yang sedari tadi menerpa wajah Pangeran Dewo mendadak terhalangi oleh sesuatu.

Dibuka matanya perlahan dan didapatinya Nyai Dempul sudah berdiri tak jauh dari keberadaannya sekarang. "Kamu selalu saja berdiri menghalangi cahaya matahari." ujar Pangeran Dewo tiba-tiba.

"Maaf." balas Nyai Dempul pelan.

Pangeran Dewo seketika itu beranjak dari tidurnya. "Aku tidak pernah berpikir bahwa kau akan berkata maaf. Tidak seperti Nimas yang kukenal." protesnya sambil menyentil lembut kening Nyai Dempul.

"Peristiwa itu merubahku, Mas. Aku bukan seutuhnya Nimas yang kau kenal dahulu." jawab Nyai Dempul lirih. 

"Aku tak tahu apakah kakiku melangkah kepadamu hari ini benar atau salah?" lanjutnya yang lalu mengambil tempat di salah satu batu.

"Kau curiga padaku? Aku rasa itu wajar. Tapi mengapa kau tetap datang meski kau tahu mungkin saja aku salah satu dari monster jahat yang akan membunuhmu?" tanya Pangeran Dewo datar.

"Membunuhku? Mungkin aku lebih baik memilih untuk dibunuh saat itu." tandas Nyai Dempul sinis.

"Memilih untuk dibunuh tidak akan pernah mendatangkan penyelesaian. Apa kau pernah berpikir mengapa kau tetap dibiarkan hidup oleh Tuhan hari itu?" tanya Pangeran Dewo. Nyai Dempul menggeleng. "Tak ada sebuah kebetulan. Segala sesuatunya telah diatur oleh Tuhan. Harus tetap hidup untuk semua ini." jelas Pangeran Dewo lagi.

"Apakah pembunuhan Bopokku juga sudah diatur, hah?!" tanya Nyai Dempul setengah berteriak. Pangeran Dewo langsung terdiam mendengar suara yang penuh amarah itu. "Tak bisa menjawab? Aku rasa. itu wajar saja. Tapi mengapa kau tetap menungguku disini meski kau tahu mungkin saja aku akan membunuhmu?" ujar Nyai Dempul dengan mengulang kembali semua kata-kata Pangeran Dewo tadi. Dia marah, sangat marah.

"Dengar ini baik-baik Nimas. Jika kau memang ingin membunuhku, maka lakukanlah. Jika dengan kematianku, kau bisa memaafkan ayahku." balas Pangeran Dewo pasrah. Nyai Dempul langsung mengambil belati kecil yang tersimpan di betisnya dan lalu bergelagat seperti hendak ingin menusuk orang didepannya. Pangeran Dewo memejamkan matanya, pasrah.

Belati itu masih bertengger di sudut leher Pangeran Dewo. Nyai Dempul tak sekalipun menggerakkan tangannya atau bahkan berniat untuk menggorok leher Pangeran Dewo. Tapi tak lama kemudian belati itu malah dibuangnya ke tanah. Tangan Nyai Dempul gemetar. Tangisnya pun hampir pecah. Dia tak percaya bahwa sedikit lagi dia akan menyamai monster jahat bernama Raja Arji jika dia benar-benar membunuh orang didepannya tadi.

Pangeran Dewo menggenggam tangan yang gemetaran itu, "Kau bukan seorang pembunuh. Pembunuh tak akan pernah ragu menikam korbannya. Apa kau sudah siap mengotori tanganmu dengan darah kematian? Aku tahu kesalahan ayahku sangat tidak termaafkan. Namun, jika kau mau. Aku akan membantumu membuat ayahku sadar atas semua tindakan kejinya. Aku pun tak ingin memiliki ayah seorang pembunuh. Sungguh aku menyesal tidak mengetahui rencana pembunuhan dan perebutan tahta ini sejak awal. Ayah mengirimku ke suatu tempat terpencil bertahun-tahun. Aku diasingkan sementara waktu. Aku masih tak mengerti mengapa mengapa seorang ayah tega-teganya mengasingkan anaknya sendiri. Tapi sepertinya sekarang aku tahu kenapa. Aku bisa saja menjadi penggagal rencana busuk ayahku ini." sesal Pangeran Dewo.

"Sudahlah. Aku tak ingin semuanya berakhir seperti yang ayahmu kehendaki." ungkap Nyai Dempul melemah.

"Kau melepasku, Nimas?" tanya Pangeran Dewo memastikan.

"Memangnya kau tawananku? Sampai harus kulepaskan. Kau tetap menjadi pribadi yang bebas. Dulu bahkan hingga saat ini." balas Nyai Dempul.

"Bagaimana jika aku yang tak ingin melepaskanmu?" ucap Pangeran Dempul seperti geledek di siang bolong.

"Jika kau lakukan itu, maka aku tak akan segan-segan menghunuskan belati ini ke jantungmu." sahut Nyai Dempul sambil mempraktekan adegan penikaman itu.

"Baiklah, aku hanya bercanda. Saat ini yang terpenting kau tahu bahwa aku tak terlibat dengan semua ini. Aku ada dipihakmu dan aku akan selalu menjagamu." ujar Pangeran Dewo mantap.

"Terima kasih karena mas selalu menjagaku." jawab Nyai Dempul.

"Tapi sepertinya kau punya penjaga baru? Si lebah penyengat yang selalu menggodamu itu?" todong Pangeran Dewo.

"Selalu saja kau panggil si lebah penyengat. Dia punya nama, Sapardi namanya." sergah Nyai Dempul.

"Iya... Iya... Sapardi. Kau jatuh cinta padanya?" tanya Pangeran Dewo menggoda.

"Kau gila. Siang bolong membicarakan cinta." kilah Nyai Dempul mengalihkan.

"Hahaha... Kau tersenyum untuknya. Kau marah membelanya. Kau panik mendengarnya sakit dan segera berlari kepadanya. Masih kurang tandanya? Bodoh. Masih mau menyangkal kalau kau jatuh cinta padanya? Aku mengenalmu jauh lebih baik dari siapapun." Cecar Pangeran Dewo tiada ampun. Nyai Dempul tetap mencoba berkelit. Disangkalnya habis-habisan. "Aku tidak sedang memikirkan masalah hati." Pangeran Dewo hanya bisa tertawa.

"Masalah hati itu tidak sekedar dipikirkan tapi dirasakan. Hati itu bagai magnet, berbeda kutub tapi saling menarik. Kuat bahkan tanpa kalian sadari." ujar Pangeran Dewo menceramahinya.

"Aku tidak jatuh cintaaaa padanya." omel Nyai Dempul.

Gelagat konyol Pangeran Dewo pun kembali beraksi, Pangeran Dewo memajukan kepalanya sejajar dengan Nyai Dempul, "Jangan-jangan kau jatuh cinta padaku ya?" godanya.

Nyai Dempul langsung menempelkan punggung tangannya ke kening Pangeran Dewo, "Tidak panas." ujar Nyai Dempul sambil geleng-geleng. "Tertimpa apa kau semalam? Mengapa kau mendadak gila dan konyol seperti ini?" lanjutnya lagi.

Pangeran Dewo langsung memanyunkan bibirnya, "Tertimpa makhluk halus yang sedang mencuri cawan emas." jawabnya asal.

Tapi wajah Nyai Dempul mendadak tegang. Ketegangan itu terbaca jelas olehnya.Pangeran Dewo kembali mencairkan ketegangan itu dengan kata-kata bijaknya, "Sudahlah, tak akan aku permasalahkan soal cawan emas itu. Mengapa masih tampak tak percaya padaku. Sudah aku bilang bahwa aku berpihak padamu."

Nyai Dempul melunak, "Maaf, aku belum terbiasa dengan kehadiranmu yang justru berpihak padaku, bukan pada ayahmu."

Pangeran Dewo hanya membelai lembut pucuk kepala Nyai Dempul, "Iya, tidak apa-apa."

Siang itu, taman bunga kembali menyimpan rahasia antara Nyai Dempul dan Pangeran Dewo. Rahasia yang berbeda yang jika terkuak, mungkin nyawa taruhannya. Setidaknya mereka berusaha menjaganya semampu yang mereka bisa. Setidaknya sebelum segela kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi kedepannya. Pangeran Dewo dan Nyai Dempul menyudahi pertemuan itu.

Nyai Dempul kembali ke Paviliunnya. Dia terduduk merenung menghadap cawan emas. Perasaannya campur aduk, semua datang di saat bersamaan. Bertahun-tahun dia menunggu pertolongan, berpura-pura menjadi pribadi yang bukan dirinya. Belajar tenggelam dalam keangkuhan seorang Nyai Dempul nyaris saja membelenggu harapannya untuk kembali hidup sebagai Nimas Naratih. "Mungkin sudah saatnya." ungkapnya berbinar.

Ditunggunya hingga malam menjelang. Barulah Nyai Dempul bergerak menuju ke Paviliun Pangeran Dekik. Namun mendadak Pangeran Dekik sudah menimpuki jendela kamarnya dengan kerikil-kerikil kecil. Nyai Dempul segera membuka jendela dan menyuruh Pangeran Dekik masuk sebelum para penjaga memergokinya. "Aku baru saja hendak ketempatmu." ujar Nyai Dempul sambil membantu Pangeran Dekik melompati rangka jendela.

"Ketempatku dengan membawa cawan emas itu? Itu sama saja mengantarkan diri ke mulut harimau. Bagaimana kalau ketahuan? Penjagaan di Paviliunku sedang diperketat karena kejadian kemarin. Sudahlah, ayo jangan buang-buang waktu. Segera kita lihat pesan apa yang hendak Bopokmu sampaikan." cetus Pangeran Dekik yang memberikan kotak buku "Madu Mongso" itu. "Sebentar kusiapkan airnya terlebih dahulu." Potong Nyai Dempul.

Nyai Dempul segera menuangkan air ke dalam cawan emas tersebut. Dimintanya gulungan kedua yang berada dalam genggeman Pangeran Dekik. "Berikan gulungannya." Pangeran Dekik segera memberikan gulungan itu ke tangan Nyai Dempul. Dibukanya perlahan. Semerbak wangi aneh langsung menghinggapi hidung Pangeran Dekik dia sedikit menarik wajahnya agar tak terlalu jelas menghirup aroma aneh ini.

Melihat gelagat Pangeran Dekik, Nyai Dempul langsung bereaksi. "Ini wangi jeruk nipis dan tinta khusus Bopokku. Wanginya memang aneh." jelas Nyai Dempul. Pangeran Dekik menyimak lalu menganggukkan kepala, pertanda mengerti. Nyai Dempul mulai menenggelamkan gulungannya kedalam cawan emas tersebut. Garis tipis mulai 
terlihat. Tapi tak menampakkan suatu tulisan apapun. Pangeran Dekik mulai resah menunggu pesan itu.

"Kau yakin hanya seperti ini cara membaca pesan Bopokmu? Mengapa tak muncul tulisannya?" tanya Pangeran Dekik mulai tak sabaran.

"Mmm... Seingatku seperti ini." jawab Nyai Dempul yang mendadak meragukan langkahnya ini.

"Coba kau ingat-ingat lagi. Kapan dan bagaimana Bopokmu menunjukkan pesan tersembunyi itu." seru Pangeran Dekik menyuruhnya.

Nyai Dempul lalu diam dan berpikir. "Aku ingat, Mas." teriaknya tiba-tiba.

"Aku ingat... kita butuh cahaya yang lebih terang. Dulu Bopok sering membacanya pada saat matahari sedang terik-teriknya." seru Nyai Dempul girang.

"Tak ada matahari, Nimas." potong Pangeran Dekik.

"Setidaknya cahaya yang lebih terang. Ruangan ini agak redup. Sebentar, aku ambilkan lampu teplok dikamarku." ujar Nyai Dempul yang lalu berjalan ke kamarnya. Tak lama kemudian dia kembali sambil membawa lampu teploknya.

Pangeran Dekik langsung mengambil alih untuk memegang lampu teplok. Cahaya yang terang itu langsung memunculkan satu demi satu goresan tinta yang awalnya tak terlihat. Perlahan pesan itu muncul hingga utuh.

"Pesannya muncul, Mas." Seru Nyai Dempul dengan nada tertahan. Di baris teratas gulungan itu tercetak besar tulisan PERANG ANGIN UTARA.

"Perang angin utara?" tanya keduanya berbarengan.

Sebuah perang yang sudah lama diramalkan. Perang dimana peta kekuatan tak sejelas apa yang disangkakan. Musuh menjadi pembela. Pembela menjadi musuh. Gunakan mata hati untuk melihat apa yang tidak bisa terlihat. Tarik kedalam dekapan para pembelot atau belai dengan pedang sakti. Taklukan sebelum bulan purnama ke tujuh bersinar. Jika tidak, maka bersiap untuk mengangkat senjata dan bergulat dengan angin utara.

Pesan itu ditutup dengan tulisan RAJA ADIPTA. Nyai Dempul dan Pangeran Dekik kembali saling menoleh. Seraya dibelai hantu, bulu kuduk mereka berdiri. Sebuah perang akan terjadi dan mereka akan ada pada saat itu terjadi dan mungkin saja mereka harus berada dalam barisan, berperang bersama pasukan. Pasukan yang belum sama sekali mereka miliki. "Bagaimana ini, Mas?" ujar Nyai Dempul melirih. Tangannya gemetaran.

■■■■

No comments:

Post a Comment