Part 6
PENGUMUMAN
AUDISI PERI MENANGIS
Nadala baru saja menyelesaikan latihan paduan
suaranya. Ruang kesenian perlahan sepi, satu persatu para siswa keluar
meninggalkan ruangan itu. Tak ketinggalan, Nadala pun menyusul teman-temannya
yang sudah terlebih dahulu keluar. Latihan hari ini tidak terlalu memforsir
suara. Guru vokalnya yang lebih mendominasi memberikan pelajaran lanjutan
mengenai teknik pemecahan suara.
Nadala membetulkan posisi tas yang tersampir
dibahu kanannya. Dilihatnya dari atas, tepatnya di lantai dua. Hari senin ini,
sekolah terlihat sepi. Tidak seperti biasanya. Tidak banyak siswa yang duduk
untuk sekedar nongkrong di kantin ataupun main sepak bola di lapangan. Nadala
pun berjalan menuruni anak tangga. Setelah sampai di ujung tangga terbawah, mata
Nadala terhenti di majalah dinding sekolah.
Majalah dinding sekolah nampaknya baru saja
diperbaharui isinya. Ada banyak informasi baru. Nadala bersemangat membaca. Dia
mulai dari sisi paling kiri. Jari telunjuknya mulai bergeser dari satu plot
info ke plot info berikutnya. Tapi ketika jemarinya menemukan sesuatu yang
sudah sejak lama dia tunggu, Nadala loncat-loncat kegirangan. Nadala mengeja
pelan-pelan saking tak percayanya. PENGUMUMAN AUDISI PERI MENANGIS.
Nadala mengambil pena dan buku notes kecil dari
tasnya. Segera ditulisnya pengumuman itu. Audisi ini memang sudah lama
dinantinya. Audisi untuk pementasan drama dongeng musikal. Salah satu yang
diincarnya adalah posisi ratu peri yang nanti juga diwajibkan menyanyikan
banyak lagu. Nadala pertama kali mendengar informasi ini dari Mas Manda.
Kebetulan stasiun radionya didapuk sebagai partner oleh penyelenggaranya.
Informasi ini baru akan disebarluaskan ke
SMA-SMA di Jakarta beberapa waktu mendatang. Dan akhirnya mampir juga informasi
ini ke SMA Nadala. Dia mencatat tanggal dan lokasi pendaftaran serta audisi
awal tiap-tiap peran. Air mukanya Nadala langsung sumringah. Segera dia
putuskan untuk pulang dan segera membombardir Mas Manda dengan pertanyaan
seputar drama dongeng musikal ini.
Tak lama setelah Nadala meninggalkan majalah
dinding sekolah dan pulang, seseorang justru mendekati tempat itu. Seseorang
itu berhenti tepat dimana tadi Nadala menatap sebuat plot info dengan mata
berbinar-binar kesenangan. Dia mengambil gambar plot info itu dengan kamera handphone-nya.
Seseorang itu lalu memasukkan handphone kembali dan berlalu sambil tersenyum.
"Ternyata cewek ini cukup mengganggu gue."
Nadala masih berjalan menuju halte bus. Masih
dengan senyum yang mengembang dengan jelasnya. Sesekali bersenandung dengan
riang. Nadala terpaksa mengambil duduk disalah satu bangku halte karena bus
yang ditunggunya belum kunjung datang. Nadala mengambil music playernya dan
menyematkan earphone ditelinganya. Lalu kembali bersenandung. Akhirnya sebuah
bus patas AC datang juga dan berhenti didepannya. Nadala segera naik.
Nadala mengambil tempat di deretan kursi paling
belakang. Kursi belakang adalah tempat duduk favoritnya. Kenek bus
menghampirinya dan meminta ongkos busnya. Nadala memberikan selembar uang
sepuluh ribuan, kemudian sang kenek bus memberikan uang kembaliannya pada
Nadala. Setelah dirasa cukup tenang, Nadala mulai melihat pemandangan jalanan
sore hari sambil mendengarkan musik.
Sayup-sayup mata Nadala mulai tertutup.
Pendingin ruang di Bus sangat mendukung rasa kantuknya sore ini. Tapi belum
genap dia tertidur, tiba-tiba pintu bus terbuka dengan kerasnya. Nadala
tersentak kaget. Matanya kembali terbuka. Nadala mengeluh dalam hati. Kesal
karena tidurnya terganggu Nadala menoleh ke arah pintu. Dia sebenarnya pingin tahu
siapa yang mendadak diangkut pada saat dia mulai memasuki alam mimpi.
Tapi alangkah terkejutnya mendapati kakak
kelasnya lagi. Seperti hari ini mereka memang ditakdirkan untuk bertemu.
"Kak Prisma?" tegur Nadala tak percaya. Prisma menoleh ke arah sang penegur.
"Eh, elo. Tuh kan apa gue bilang kayaknya hari ini emang hari kita deh.
Buktinya kita ketemu lagi." sahut Prisma yang langsung mengambil tempat
disebelah Nadala. Nadala bergeser sedikit. "Iya, mungkin kali ya."
balas Nadala.
Prisma menyenderkan kepalanya ke bangku bus.
"Eh, sorry ya... Gue kalo di bus bawaannya suka molor. Jadi sorry kalo
mendadak gue kacangin. Ngantuk banget gue." Sahut Prisma tiba-tiba. Nadala
melirik kaget, tak menyangka hobby molornya juga ada dalam diri kakak kelasnya
itu. "Iya. Nggak apa-apa. Aku juga kayak kakak." ujar Nadala agak
lumayan takjub sekaligus heran. Hari ini benar-benar aneh.
Nadala tidak mendapati balasan dari sahutannya tadi.
Nampaknya Prisma terpejam. Dia molor dengan tangan terlipat didepan dadanya,
memeluk tas punggungnya. Nadala akhirnya memilih untuk mengikuti jejak Prisma,
molor. Nadala memejamkan matanya dan berusaha menikmati perjalanan singkatnya
sore ini. Sayangnya, Nadala tidak tahu bahwa mulai sore ini, kehidupannya akan
selalu dalam pantauan dan penjagaan khusus.
No comments:
Post a Comment