Cerbung - Cerita
yang moga-moga aja nyambung!!!!
Ditulis
tanggal 27 Februari 2009
Mmh… hari
yang paling enak buat santai. Tapi pagi ini kok bising amat ya. Ada apa sih?
Trus wangi makanan lagi. Kue tart pula! Ya, ampun gue lupa. Hari ini kan Mas
Tio ulang tahun. Bisa di ketok kepala gue kalo belum bangun dan ngucapin
selamat. Cewek yang terhenyak tadi akhirnya bergegas turun dari ranjang
mungilnya. Lalu dia mengambil handuk dan berteriak keras. “Ibuuuu… Mas Tio udah
dateng belum? Clara baru bangun nih.”
“Belum. Udah
cepetan sana mandi. Nanti kamu dimarahin sama Mas kamu itu lho!” sang Ibu
membalas teriakan itu lebih sama kerasnya, dari bawah.
“Iya…”
Beberapa menit kemudian setelah mandi, cewek itu keluar dari kamar mandi dengan
berbalut handuk. Tapi… ASTAGA!!! Sesosok cowok telah bertengger di pinggir
jendela kamarnya dan sekarang tengah persis mengalihkan pandangannya kearah
lainnya. “Mardi, lo gila ya? Gue nggak pake baju nih!” bentak Clara kaget.
“Gue juga
tau, Ra. Makanya gue nggak ngeliatin lo.” Sahutnya tak mau disalahkan.
“Ngapain
kesini? Pulang dulu deh, gue mau pake baju nih.”
“Kan, bisa
di kamar mandi.” Keluh Mardi.
“Balik
nggak!” Clara menunjuk kearah jendela sana sebagai jalan pulang untuk Mardi.
Tapi cowok itu malah berbalik badan, membelakangi Clara.
“Eh, tuyul!
Bukannya balik badan tapi pulang kerumah lo, tuh disana!” bentak Clara sambil
tetap menunjuk keluar jendela.
“Iye…iye…bawel.
Jam 10 gue kemari lagi.” Mardi mendorong kesepuluh jarinya.
“Ntar malam
aja deh. Abang gue ulang tahun hari ini. Pasti rame dan lama banget.” Cegah
Clara.
“Asyik dong.
Berarti makan-makan dong hari ini.”
“Kenapa?”
tanya Clara yang mulai mencium gelagat asas manfaat pertemanan.
“Ah, nggak.
Ya udah, jam 8 malam plus kue tart buat gue.”
“Dasar
gila.” Clara melototin Mardi tanpa kedip.
“Bilang
setuju atau gue nggak pulang, nih?” ancam Mardi pura-pura.
“Yaelah!
Iyeeeee…!!!” Clara terpaksa nyerah.
“Sana pergi
cepetan.” Bertepatan dengan keluarnya Mardi, ketukan pintu bergeming.
“Siapa?
Clara lagi pake baju.” Clara menanyakan siapa sang pengetuk pintu itu.
“Mbak Indah,
Ra.” Mbak Indah itu anak tengah. Adiknya Mas Tio dan Kakaknya Clara.
“Ooh, Mbak.
Masuk aja nggak apa-apa.” Pintu kamar Clara terbuka sedikit lalu cewek manis
itu. Masuk dengan segera menutup pintu itu kembali.
“Ngomong
sama siapa tadi?” Mbak Indah menyahut sambil kedua tangannya membuka lemari
bajuku.
“Gak ngomong
sama siapa-siapa. Mbak salah denger kali.” Seru Clara meyakinkan. Padahal seh
bo’ong aje.
“Masa ah?!”
Mbak Indah tampak tak percaya. “Yaelah, bener. Orang tadi aku lagi nyanyi kok.
Lagian nggak mungkin ada yang masuk. Apalagi dia!”
“Dia…? Dia
siapa?” tanya Mbak Indah ketika aku salah merangkai kata-kata jawaban.
“Hahaha…
nggak. Salah ngomong. Maksudnya orang, gitu. Siapa aja.”
“Kamu tuh.
Buruan gih turun Mas Tio udah dateng tuh. Nih, Mbak udah pilihin 3 baju, pilih
salah satu.” Ujar Mbak Indah yang setelah itu meninggalkan kamar Clara.
“Sampe musti
milih pake yang mana. Alamak! Runyam nasib ambo! Serasa jadi selebriti aja.”
Clara paling males kalau harus memilih. Apa saja. Termasuk dalam urusan
baju-bajuan beginian.
“Kamu tuh.
Cepetan pake bajunya.” Mbak Indah berteriak keras dari balik pintu kamar Clara.
Dan tertawa terbahak-bahak. Karena bingung harus pake baju apa. Makanya Clara
lebih milih memakai piamanya kembali, sambil memilih-milih baju mana yang harus
dia kenakan. Pink? Hitam? Biru? Tangannya kemudian mengarah ke warna
kesukaannya namun tiba-tiba ada suara yang mengomentari dibelakangnya.
“Emang mau
ngelayat, Mbak?” Mardi tersenyum meledek.
“Kampret!
Ngapain masih disini?”
“Nyari aman
gue. Tadi pas mau lompat ada abang lo dibawah. Ketauan bisa brabe gue.”
“Tunggu…tunggu.
Kalo gitu barusan lo liat, dong?” Clara berharap kalo dugaannya tentang Mardi
telah melihat dia tanpa busana salah.
“Liat
apaan?” Mardi mengerutkan keningnya.
“Ini.” Cewek
itu menunjuk dengan dagunya kearah badannya yang tak selangsing model-model
papan atas.
“Oh, dikit.
Terpaksa daripada gue jatuh dan nggak selamet lebih baik ngeliat lo kayak gitu,
kan!” Goda Mardi mengiyakan dugaan clara, padahal boro-boro ngeliat, niat aja
takut dosa.
“Hah!” Clara
melotot tak percaya.
“Bercanda
kali, gitu aja panik. Gue nggak ngeliat kok. Ngapain? Mendingan gue ngeliat
Pamela Anderson. Lebih sedep. Lebih mantabs.” Mardi memandang ke langit-langit,
seolah-olah Pamela Anderson yang dibayangkan itu terproyeksi disana. Dengan
segala ke-mini-an penampilannya. Wuidiiiih!
“Huh! Bikin
gue takut aja. Lo tau kan prinsip gue. Semua itu…”
“Untuk suami
lo, kan.” Potong Mardi.
“Hehehe…
makin pinter aja lo.”
“Sialan!
Gini-gini gue ranking satu.” “Tau deh.” Clara manggut-manggut.
“Mar, pake
baju yang mana?” tanya Clara sambil menggaruk-garuk kepalanya bingung.
“Yang warna
pink aja, kayaknya lebih sweet deh buat kamu.” Ujarnya merayu.
“Kamu?
Berasa jadi cowok gue, lo.” Tandas Clara.
“Bukan sekedar
cowok aja, tapi calon suami.”
“Sinting.”
Clara meyilangkan jari telujuknya di kening Mardi.
“Emang! Demi
kamu aku rela sinting.” Mardi seolah-olah memperlihatkan betapa dia
sungguh-sungguh rela untuk menjadi sinting demi Clara seorang.
“Ngomong aja
tuh sama Nita. Belahan jiwamu tercinta.” ledek Clara sambil memanyun-manyunkan
bibirnya.
“Yee...”
Balas Mardi tak mau kalah, bibir memblenya disodorkan dengan kesalnya.
“Weeeeee....”
Clara lagi-lagi membalasnya.
“Udah, ah!
Gue mau ganti baju dulu.” Clara masuk ke kamar mandi lalu beberapa menit
kemudian dia keluar dan…
“Oh my God!
Cantik banget calon istri gue.” Rayuan nggak mutu seorang Mardi tercetus dengan
entengnya.
“Lolongan
serigala berbulu domba. Cih! Nggak mempan kali.”
“Ini serius
lho. Deep from my heart. Asli?!” sanggah Mardi yang juga pura-pura serius.
“Bini lo?
Oow yeah… mimpi di Hongkong dulu sana.”
“Hahaha…”
Tiba-tiba
ditengah gelak tawa mereka, “Claraaaa…” teriak seseorang jauh di luar sana.
“Mas Tio.”
pekik Clara terkejut. “Mas Tio,
Mar.”
“Mati deh
gue.” Ujar Mardi yang ikut-ikutan panik.
“Cepetan
ngumpet. Ngumpet…ngumpet…” seru Clara buru-buru.
“Iya, tapi
dimana?” Mardi mondar-mandir nggak jelas, masuk sana keluar sini, sesuai dengan
perintah Clara. “Yang bener, dong. Gue ngumpet dimana nih.” Sahut Mardi
bingung. “Dorong sana dorong sini, emang nggak sakit. Cepetan dimana nih?”
“Gue tau...
gue tau... Kolong tempat tidur gue aja. Cepet...cepet...!” Clara langsung
mendorong cowok itu. Terpaksa tanpa ada sentuhan lembut. “Cepetan tuh dikit
lagi masuk.” Clara melirik handle pintu yang mulai bergerak.
“Aaah, kotor
deh baju gue.” protes Mardi.
“Cepetan!!
Jangan bawel.”
“Iya, sabar
dong. Susah tau!” Orang yang masih berada dibalik pintu kamar Clara mencoba
meminta izin untuk masuk.
“Claraaaa,
Mas Tio boleh masuk nggak?”
“Masuk aja
Mas, nggak di kunci kok.” Jawabnya sambil membetulkan selimutnya yang jatuh
gara-gara Mardi memaksa masuk kedalam kolong sempit tempat tidurnya.
“Eh, Mas
Tio.” sapanya dengan wajah super salting.
“Kok lama
banget sih. Hayo, udah janji kan dulu kalo Mas ulang tahun mau apa?”
“Bangun
lebih pagi dan ngucapin paling awal.” Clara hafal benget janjinya itu Cuma yang
jadi masalah dia belum sempat untuk bisa merealisasikannya. Baginya malam
seakaan mundur. Apalagi pagi... hehehe... maksudnya BANGUN PAGI... DUH!
SUSAAAAAAH TAU...
“Trus? Kok
nggak ditepatin.”
“Ya, maaf
deh Mas. Tadi…tadi…” Clara kehabisan kata-kata.
“Tadi apa?”
Mas Tio meneruskan pernyataan itu dan mengubahnya jadi pertanyaan langsung.
Busyeeeet!!! Belajar Bahasa Indonesia kaleee.
“Nggg…
bingung nyari baju.” Tandasnya yang langsung mengucap syukur mendapatkan alibi
untuk Mas-nya itu.
“Yaelah,
nggak dulu nggak sekarang. Sama aja.”
“Mas,
selamat ulang tahun ya. Maaf belum bisa nepatin janji.” Clara memeluk kakaknya
erat.
Mardi yang
melihat di bawah sana ngedumel dalam hati, cepetan
dong. Pake adegan berpelukan teletabis pula.
“Iya, nggak
apa-apa. Oh iya, temen kamu yang sering dateng… Ehm, siapa tuh? Mar… siapa gitu
Mas lupa?”
“Mardi?”
Mata Clara sontak mendelik ke bawah tempat tidurnya. Berharap kakaknya tidak
terlalu pintar untuk bisa mengetahui bahwa ada keberadaan orang yang dia maksud
di dalam kamarnya. Mendengar namanya disebut, makhluk tak berdaya yang masih
nyangsang dibawah tempat tidur Clara itu berubah deg-degan. Jangan-jangan
persembunyiannya ini ketahuan.
“Mardi,
bukan?”
“Nah iya
tuh. Nggak dateng kesini?” sahut Mas Tio membenarkan.
“Idih!
ngapain? Berasa pacar kalo tiap hari kesini.”
“Lho
bukannya emang iya?”
“Ngaco.”
Sahut Clara tegas.
“Tapi suka,
iya, kan?”
“Apaan sih.
Ngaco deh.”
“Yaudah,
kebawah, yuk. Ibu nunggu kita, tuh.”
“Duluan aja.
Aku mau tutup keran kamar mandi dulu.” Clara terpaksa mengarang bebas untuk
mengulur waktu demi mengeluarkan Mardi, sang tawanan. Mas Tio keluar pada
akhirnya juga. Dan dengan serta merta Mardi −yang udah nahan nafas sampai
mukanya kayak kerebus di kuali− keluar dari tempat persembunyiannya dengan muka
bete.
“Mar, sori.”
ujar Clara menyesal.
“Nggak
papa.” Masih tetap cemberut.
“Bener?”
tanya clara sekali lagi.
“Nggak
papa.”
“Beneeeer???”
“He-eh!”
“Kalo ’nggak
papa’ berarti ’ya mama’, kan?” Clara berusaha menggoda Mardi dengan humor
garing yang ternyata ngefek juga. Senyum itu tersembul juga dari wajah Mardi.
Walaupun rada nggak ikhlas.
“Iye, mama.”
“Muka lo aja
masih kecut gitu. Senyumnya yang tulus, dong.” Ujar Clara yang nggak percaya.
Lalu Mardi mengembangkan senyumnya dengan lebarnya. Lalu cowok itu tertawa
kecil.
“Dasar! Lo
kira gue makelar senyuman. Untung smiling face gue oke banget.”
“Asyik.
Yaudah, ntar jam delapan, lo dateng lagi tapi lewat pintu masuk bukan lompat
jendela kayak biasanya.”
“Jangan lupa
kuenya.” Mardi mengingatkan.
“Iya. Double
deh buat lo.”
“Gitu dong.
Emang calon istri yang baik.”
“Sinting ya
lo. Inget Nita!”
“Siapa ya,
Nita? Aduh siapa, ya? Ingetnya cuma kamu aja sih.”
“Idih, males
banget. Eh, jadi calon pacar lo aja gue tuh ogah. Apalagi jadi calon istri lo.”
Clara bergidik seketika membayangkan hal itu kejadian.
“Anything
can happen with love. Ati-ati ngejilat ludah sendiri. Ntar kalo hari ini kita
jadian gimana?”
“Ya…ya…ya…
apa kata lo deh, cerewet.”
“Dah!”
Bersambung ke
part 2...
No comments:
Post a Comment