Part 17
SENYUM
PERMINTAAN MAAF
“Heh, Bocah! Lo suka kebiasaan deh telpon gue
kayak tadi. Ada apaan sih? Suka bikin panik.” teriak Pelita begitu dilihatnya
Vero, sang sepupu datang untuk menjemputnya dengan wajah super tegang. “Ntar
aja gue jelasin di mobil.” ujar Vero yang langsung menarik tangan Pelita kearah
mobil. “Eh... Eh... sebenarnya ada apaan sih? Kenapa jadi main tarik-tarik
tangan gue begini.” sahut Pelita
kebingungan. Vero tak bergeming. Lalu dia membukakan pintu mobilnya untuk
Pelita. “Masuk.” titah Vero. Pelita akhirnya memilih menuruti permintaan adik
sepupunya itu. Kemudian, Vero ikut menyusul untuk masuk dan mengendarai
mobilnya ke suatu tempat.
Setelah beberapa menit mobil itu melaju,
akhirnya Vero buka suara. “Gue butuh bantuan lo, Kak.” Pelita melirik dan
menemukan wajah Vero yang mengenaskan. Baru kali ini dia lihat wajah itu
sedemikian muram. “Lo itu kenapa sih, sampai harus culik gue segala? Butuh
bantuan soal apa?” tanya Pelita yang jadi khawatir. “Ini soal cewek nggg...
cewek yang gue suka.” Jawabnya sedikit ragu. Pelita terbengong mendengar
kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Vero, “Jadi ini ternyata cuma soal
cewek! Jadi, lo udah sebegitu hebohnya ternyata hanya soal cewek yang lo suka!”
Pelita langsung menyenderkan kepalanya, sedikit menyesal. “Aduuuuuh
Verooooo.... gue tuh dikantor lagi banyak kerjaan. Lo culik gue sampai gue
batal lembur cuma untuk bantuin lo sama cewek lo itu? Pingin nangis gue
rasanya.” jerit Pelita kesal. “Sorry deeeh... Abis satu-satunya yang bisa bantu
gue cuma lo.” ujar Vero mengiba. “Oke, ceritain dulu masalah lo sama cewek lo
yang hits itu.” Vero akhirnya menceritakan segala kegundahan hatinya dan juga
menjelaskan masalah yang tengah dihadapinya kepada Pelita.
Tapi yang ada setelah itu, Pelita justru
tertawa terbahak-bahak. “Jadi yang lo taksir itu Andriameda, si penyiar radio
Tamusema itu? Udah gitu dia marah sama lo cuma karena nyangkain adik gue itu
pacar lo. Kok bisa? Hahahaha... Sumpah kocak banget masalah lo. Hahahahaha...”
Vero terdiam menatap Pelita yang menertawainya habis-habisan. “Ups, maaf...
Oke, apa yang bisa gue lakuin buat lo?” Potong Pelita sendiri. “Bantuin gue
ngejelasin ke Andria tentang semua kesalahpahaman ini, soalnyaaa... hari ini
gue mau nembak dia.” Jawab Vero. Pelita bersiul tak menyangka, lalu ide
konyolnya muncul, “Trus, kalo misi penyelamatan percintaan lo ini sukses... gue
dapat apa? Kan, lo bilang ini urusan hidup mati lo... Jadi kayaknya kalo gue
minta 2 tiket konsernya Afgan, lo nggak bakal keberatan dong?” sahut Pelita
sambil mengangkat kedua alisnya berkali-kali. “Kalo bukan karena ini urusan
Andria, kalo bukan karena cuma lo yang sanggup ngejelasin duduk perkaranya...
Gue ogah mengamini permintaan lo yang bakalan menguras isi tabungan gue. Tapi
ya udahlah, iyeeee... gue kabulin permintaan lo.” sahut Vero yang terpaksa
memenuhi permintaan kakak sepupunya itu. “Asik kalo gitu.... senang bekerja
sama dengan anda. Hahahaha... Verooo... Verooo... Sepupu gue ini lagi dimabuk
asmara rupanya... Hahahhaha... Sering-sering galau ya... Tingkat kegalauan lo
berbanding lurus dengan tingkat keuntungan gue.” Vero hanya bisa berteriak
pasrah, “Berisiiiiiiiiiik.”
***
Seleksi terakhir untuk audisi pemeran drama
musikal “Peri Menangis” akhirnya dimulai. Nadala sudah berada dibelakang
panggung bersama dengan beberapa peserta lainnya. Hari ini Nadala menggunakan
gaun balet hitam yang sangat indah. Untuk memaksimalkan penampilannya, ia
akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan teknik baletnya yang sudah lama tak ia
gunakan dan memadukannya dengan nyanyiannya. Setidaknya ia harus memastikan ia
mendapatkan poin plus dimata juri. Nadala harus bisa mewujudkan harapannya
untuk menjadi Ratu Peri dalam drama musikal ini.
Pada audisi hari ini, Nadala mendapat giliran
terakhir. Jantung Nadala berkali-kali berdegup kencang saat dilihatnya para
pesaingnya menampilkan kemampuan terbaik mereka. Penampilan mereka sangat
mempesona. Hampir tanpa cela. Para juri pun tersenyum puas dengan hal itu.
Kini, tibalah waktunya ia untuk menunjukkan segala kemampuan yang telah ia
latih. Berdoa... satu-satunya pesan yang selalu Prisma bisikkan setiap kali
dirinya akan memulai sesuatu. “Tuhan, jika cahaya dipanggung ini adalah milikku
maka terangi aku dengan bijaksana. Biarkan aku mengepakkan sayap keratuanku.
Biarkan aku menjadi bagian dari pertunjukkan ini. Bantu aku, Tuhan.”
Nama Nadala akhirnya disebut, Ia pun segera
bersiap berdiri disisi panggung. Begitu irama musik sudah mengalun, Nadala bak
ratu yang sangat menawan berjalan dengan anggun ketengah panggung. Gerakan
penuh penghayatan mulai ditunjukkannya bertepatan dengan ekspresi kesedihan
yang menghiasi wajahnya. Entah apa yang mendorongnya benar-benar menangis. Air
matanya tidak bisa dibendung dan membasahi pipinya. Tiba-tiba, pikirannya
tertuju pada Prisma. Tangisan ini... apakah bisa Prisma rasakan? Apakah Prisma
bisa melihat penyesalannya? Apakah Prisma mendengarkan detak jantungnya yang
juga menangis merindukannya?
Lewat hati dan matanya, Nadala bernyanyi dan
terus bernyanyi. Ia mengeluarkan segenap kemampuannya. Setidaknya ia sudah
berusaha keras, meskipun pada akhirnya takdir berkata tidak. Seiring dengan
berakhirnya alunan musik, berakhir pula audisi bagi Nadala. Suasana hening...
Juri seperti masih terhipnotis dengan pertunjukkan barusan. Belum ada satupun
yang bergeming hingga satu tepukan tangan yang keras dari arah bangku penonton
menyadarkan mereka untuk ikut memberikan standing
applause. Betapa terkejutnya Nadala mendapati seseorang yang ia pikirkan
tadi, berdiri tegak dibangku penonton sambil bertepuk tangan. Prisma. Yang
lebih membuatnya terkaget adalah ia mengenal jaket kulit hitam yang digunakan
Prisma. Jaket kulit yang sama yang digunakan oleh si pengendara motor yang
misterius tadi. Oh Tuhan, jadi ternyata... Prisma mengikutinya hingga kesini.
Prisma bertepuk tangan dengan seuntai senyum
dibibirnya. Senyum bangga untuk Nadala. Prisma ingin sekali berteriak
sekencang-kencangnya betapa ia sangat mengagumi aksi Nadala barusan. Jika
boleh, ia juga ingin mengatakan pada dunia bahwa tangisan itu seperti hendak
menyapa hatinya. Air mata itu seperti menyampaikan segala bentuk penyesalan
yang Nadala rasakan kepadanya. Apa yang tadi tersaji diatas panggung seperti
menjawab keraguan perasaannya terhadap Nadala. Ia kini paham bahwa hati Nadala
memang tidak pernah berhenti berdetak untuknya. Sama seperti hatinya yang tidak
pernah berhenti berdenyut untuk Nadala.
Nadala masih tak percaya dengan apa yang sedang
dilihatnya. Prisma tersenyum untuknya. Setelah sekian lama diacuhkannya kakak
kelasnya itu, ternyata Prisma masih bersedia tersenyum untuknya. Bahkan ketika
mendapati Prisma pergi meninggalkan deretan bangku penonton, dirinya masih
mematung begitu saja tanpa bisa dikendalikan. Baru beberapa saat, dia mulai
tergeragap menyadari sosok Prisma benar-benar menghilang. Tanpa ragu, dia
berlari kebelakang panggung untuk mencari sosok itu.
Nadala berusaha mencari Prisma ke segala arah.
Ia berlarian tanpa alas kaki menjelajahi seluruh koridor yang ada. Tak ada
tanda-tanda keberadaan Prisma. Tak ada jejak yang tertinggal dimanapun. Prisma
seakan hilang ditelan bumi. Senyum kecut tersungging disudut bibirnya. Sambil
menunduk, Nadala berjalan meninggalkan koridor-koridor tersebut. Entah mengapa
ia jadi tidak bersemangat mendengarkan keputusan dewan juri mengenai siapa yang
akan mendapatkan peran Ratu Peri.
Masih terus sambil menundukkan kepalanya, ia
berjalan memasuki ruang rias peserta yang masih kosong. Nadala lalu duduk dan
menenggelamkan wajahnya diatas kedua lengannya. Tak sadar bahwa orang yang
dicarinya sudah berada diruangan yang sama, hanya sedang bersembunyi dibalik
tirai. Nadala masih menangis pelan
dengan sedikit terisak. Hingga, satu belaian lembut pada pucuk kepalanya
itu menyadarkannya keberadaan orang itu.
“Kamu cari aku?” tanya Prisma lembut masih dengan tangan yang membelai pucuk
kepala Nadala. Sontak mendengar suara Prisma, Nadala langsung mengangkat
kepalanya dan menoleh keasal suara itu.
“Kamu cari aku?” Prisma mengulangi pertanyaan
itu. Nadala tak sanggup menjawabnya dan hanya bisa kembali menangis sambil
menarik pelan pinggiran jaket Prisma. Prisma lalu merapatkan tubuhnya untuk
bisa memeluk Nadala. “Maaf kalau aku nggak pernah jujur tentang semua ini sama
kamu. Maaf kalau aku membuatmu sakit dan marah. Tapi aku pingin kamu tahu bahwa
aku benar-benar sayang sama kamu. I love you, Nad. Kamu mau maafin aku, kak?”
Tangis Nadala kian pecah. Pikirnya, mungkin semua ini berat bagi Nadala. Prisma
membiarkan Nadala menyelesaikan tangisnya.
Saat isakan tangis itu mulai mereda. Prisma
mulai melepaskan pelukannya. Menarik bangku kosong kehadapan Nadala dan
kemudian duduk. Prisma langsung menghapus jejak air mata di pipi Nadala.
“Maafin aku ya...” Permohonan itu begitu tulus. Nadala bisa merasakan getarnya.
Nadala menjawabnya dengan senyum permintaan maaf. “Aku juga minta maaf ya kalau
aku keterlaluan sama kakak kemarin-kemarin.” Prisma ikut tersenyum tenang.
“Kak...” panggil Nadala lagi. “Ya...” jawab Prisma. “Aku juga sayang sama
kakak.” Senyum itu semakin mengembang dibibir Prisma. Semua pertanyaan genap
sudah terjawab. Gadis cantik yang selalu dijumpainya sedang asyik menyiram
tanaman itu, yang tak berani diajaknya kenalan... akhirnya berhasil menjadi
pacarnya kini.
Putri tampil yang selalu periang, yang selalu
menjadi bintang bagi dunia pentas ini akhirnya berhasil bermetamorfosa menjadi
ratu peri yang cantik. Pengeran jeruk yang hadir bak bintang jatuh di satu
pagi, kini telah menjadi raja bagi hatinya. Takdir sebenarnya telah memainkan
isyaratnya sejak awal, hanya saja waktu mencoba menguji. Mencoba menguji
kesabaran mereka. Mencoba mengukur seberapa kuat hati mereka saling tertambat
satu sama lain. Mereka memenangkan ujian itu. Tepat hari ini putri tampil telah
berhasil merengkuh segala keajaiban yang dianggapnya hanya kembang tidur, tapi
benar-benar mewujudkanya bersama pangeran jeruknya.
***
Dengan perasaan campur aduk, Nadala akhirnya
mencoba menghubungi Mandala untuk memberitahu perkembangan hubungannya dengan
Prisma sekaligus meminta maaf pada abangnya tersebut. “Halo...” sapa Mandala.
“Halo, Mas... Ini Nadala. Aku mau minta maaf sama Mas. Aku kemarin-kemarin udah
keterlaluan sama Mas.” Sahut Nadala mengutarakan rasa penyesalannya. “Sama-sama
ya, Dek. Mas juga minta maaf. Harusnya mas nggak pernah ngelakuin hal ini ke
kamu. Mas cuma khawatir sama kamu, makanya mas nyuruh Prisma jagain kamu.
Ternyata malah jadi hancur endingnya. Maafin mas ya, Dek.” Sesal Mandala.
“Nggak sad ending kok, Mas. Aku sama
Prisma udah baikan. Ini orangnya ada disamping aku. Dia bela-belain datang ke
tempat seleksiku. Oh iya, aku lolos... aku berhasil jadi ratu peri. Pokoknya
aku seneng banget.” Nadala menceritakan hal itu dengan senyum bahagia.
“Congratulation ya, Dek. I’m happy to hear that. Eh, Dek... nanti kita lanjut
dirumah ya... Mas tutup telponnya dulu. Mas lagi buru-buru.” Ujar Mandala
seadanya. Mandala terlihat celingak-celinguk mencari seseorang. “Oh oke...”
balas Nadala kebingungan. “Bye Dek.” “Bye Mas.” Pembicaraan di telpon itu pun
diakhiri keduanya. Mandala pun segera mengejar sesuatu keluar ruangan.
***
Andria menyelesaikan tugas menyiarnya malam ini
dengan sangat terburu-buru. Rasanya semakin sesak untuk berlama-lama berada
diruangan siaran ini bersama Mandala. Bagai dirongrong perasaan bersalah,
Andria pun bergegas pamit seusai siaran. “Aku duluan.” Sahut Andria dingin.
Menyadari perubahan Andria yang tiba-tiba kepadanya, Mandala sontak kebakaran
jenggot. Sambil mematikan handphone-nya, Mandala berlari begitu saja mengejar
Andria yang sudah sampai ke parkiran.
Namun, kejadian yang tak diharapkan menimpa
Andria. Dua laki-laki secara bersamaan berteriak memanggil namanya,
“ANDRIAAA...” teriak Mandala juga Vero bersamaan. Mendengar itu, Andria langsung
menoleh ke kedua asal suara. Namun, satu cekalan tangan keburu menariknya ke
salah satu sisi suara. Mandala keburu berhasil menarik tangannya hingga dia
terhuyung mendekat. Tanpa pikir panjang, Mandala langsung mendekap dan
mengutarakan perasaannya sekali lagi, “Gue sayang sama lo. Please jangan
pergi.” Tubuh Andria kaku.
Andria tak bisa berbuat apa-apa ketika Vero
tanpa sengaja melihat adegan Mandala memeluknya. Andria bisa melihat langkah
kaki Vero seperti terhenti mendadak. Raut wajah Vero berubah sendu. Akhirnya
Vero menoleh ke satu titik menjauhi pandangan mata Andria yang sama-sama
terbelalak kaget. Vero membalikkan tubuhnya memunggungi Mandala dan Andria.
Vero menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya menahan kesedihannya.
Melihat ekspresi Vero yang sedih serta ketika dia membalikkan badannya seperti
itu, Andria merasa seperti ikut merasakan sakit yang sama.
Spontan Andria meronta dan memohon untuk
dilepaskan dari dekapan Mandala. Mandala melepaskan pelukannya. Begitu
terbebas, Andria bergerak mundur sambil menggelengkan kepalanya pertanda tak
bisa. Sadar bahwa Andria telah menolaknya, hati Mandala hancur
berkeping-keping. Mandala tahu bahwa cinta itu memang tak pernah ada buatnya
sejak awal. Harusnya dia sudah tahu bahwa untuk Verolah mata itu menangis,
untuk Verolah senyum keceriaan Andria mendadak raib.
Baru saja dia ingin melangkah pergi, Pelita
yang melihat kejadian yang tak dilihat Vero barusan buru-buru menahan bahu
Vero. “Kalo lo pergi sekarang, lo bakal kehilangan Andria selamanya. Percaya
sama ucapan gue. Inget, lo udah susah-susah culik gue sampai sejauh ini. Sampai
misi ini gagal, lo yang gue abisin. Balik badan lo sekarang...” Vero akhirnya
membalikkan badannya kembali kearah Andria.
“Cewek yang kamu liat waktu di Cafe Diagonal itu
bukan pacarnya Vero, tapi adikku... yang juga sepupunya dia. Vero sampai
susah-susah culik aku dari kantor supaya bisa jelasin ini ke kamu... biar kamu
nggak salah paham lagi sama dia... nggak marah lagi sama dia... nggak ngindarin
dia lagi. Adik sepupuku yang ajaib ini suka sama kamu,” teriak Pelita sambil
menepuk-nepuk bahu Vero. “Dia beneran sayang sama kamu. Aku berani jamin.”
Lanjutnya lagi. Mendengar ucapan Pelita barusan, hati Andria lega
selega-leganya. Senyum itu kembali mengembang. Vero juga melihatnya. Bagi Vero
itu seperti senyum permintaan maaf yang dia nanti-nanti belakangan ini. “Maju
kali. Malah diem aja.” Omel Pelita sambil menyenggolkan bahunya ke bahu Vero.
Vero berjalan mendekati Andria. Kemudian
berhenti tepat dihadapannya. “An, gue...” Belum juga Vero selesai bicara,
Andria sudah lebih dulu menimpalinya, “Lo bener... gue emang ngindarin lo.
Maafin gue ya.” Vero menggeleng, “Harusnya gue yang minta maaf sama lo.
Harusnya dari awal gue udah ngelurusin kesalahpahaman ini bukannya malah ngerjain
lo sampai bikin lo sakit dan nangis kayak kemarin itu. Gue minta maaf ya, An.”
Andria mengangguk pelan. “Trus kalo udah baikan... nggg... bisa jadian nggak?”
tanya Vero telak. Andria tersipu, “Apa coba...” Vero yang gemas tak bisa lagi
menahan kerinduannya pada si penyiar dongeng kesayangannya, diacak-acaknya
rambut Andria. “Vero kebiasaan deh. Rambut gueeee...” sahut Andria manyun. “Gue
kangen sama lo. Selama lo ngindarin gue, gue jadi sadar kalo gue nggak bisa
jauh-jauh dari lo. Sebentar aja nggak ngeliat lo, bawaannya senewen banget. Lo
ngerti kan maksud gue... Terus... semua yang gue omongin di perpustakaan waktu
itu adalah bener. Gue suka sama lo.” Vero akhirnya berhasil mengungkapkan
perasaannya.
Andria ingin menjawab namun sejenak terlihat
ragu untuk menyatakan sesuatu, “Nggg... sebenernya apa yang gue omongin waktu
diperpustakaan bohong. Gue bohong kalo nggak ada perasaan apa-apa sama lo.”
Andria terdiam malu tapi sedetik kemudian dia kembali menyerang Vero, “Lagian sapa suruh jalan sama sepupu nggak
ngenalin gue!” Vero terpancing, “Mana gue tau lo disitu, kalo gue tau juga
pasti gue kenalin.” ujar Vero yang berusaha membela diri. Andria diam tak
langsung membalas ocehan Vero, “Kalo gitu... berarti lo harus kenalin gue ke
sepupu-sepupu lo sekarang juga.” tandas Andria sambil tersenyum tersipu malu.
“Kok?” tanya Vero bego. “Ck... Siapa sih yang tadi tanya soal jadian...?”
runtuk Andria pura-pura kesal. “Jadi... elo... sama gue... jadian gitu?” tanya
Vero bersemangat. “Menurut looooo...” jawab Andria singkat.
Jawaban itu cukup mengisyaratkan bahwa memang
mereka resmi jadian. Vero langsung berubah histeris saking kegirangannya.
“Hahahaha... Gue jadian, Kak.” Vero loncat memeluk kakak sepupunya itu.
“Selamet yeee... Sukses juga misi lo. Jangan lupa tiket buat gue. Hahahaha...”
Sambil tertawa pelan Pelita mengusap-usap punggung Vero. “Sttt... Nggak baik
bahagia berlebihan diatas penderitaan orang. Saingan lo lagi patah hati tuh
disana. Ngomong baik-baik gih sama si Mandala. Biar nggak slek kedepannya.”
ujar Pelita mengingatkan. “Beres, Bos.” Vero melepaskan pelukannya dari Pelita.
“An, ikut gue sebentar.” Vero menarik tangan
Andria dan berjalan bersama kearah Mandala. “Mmm... Mas Mandala, mungkin ini
keliatannya nggak adil buat lo. Tapi gue harap lo bisa dengan rendah hati
nerima semua ini. Gue harap lo nggak marah sama Andria karena akhirnya dia
lebih milih gue dibandingin lo. Dan gue yakin banget lo sangat bijak melihat
masalah ini.” Sahut Vero serius. “Ya, gue ngerti maksud lo. Gue memang kecewa,
tapi gue juga tetap bahagia karena akhirnya Andria udah bisa senyum lagi kayak
dulu. Dia belakangan ini nggak pernah senyum secerah ini. Gue harap lo
bener-bener jaga dia. Kalo lo bikin dia nangis kayak kemarin-kemarin, lo bakal
berhadapan dengan abangnya yang satu ini.” Mereka kemudian tertawa bersamaan.
Putri timpal yang selalu periang, yang selalu
menciptakan cerita-cerita unik di dunia dongeng ini akhirnya berhasil
menciptakan cerita cinta untuk dongeng hidupnya sendiri. Bersama sang gatot
kaca yang tak pernah ketinggalan membawa bola basketnya, kini mereka tengah
asik menaburkan bintang. Takdir lagi-lagi hanya ingin mengetes seberapa kuat
kejujuran itu berlaku bagi mereka yang mencinta. Tepat hari ini putri timpal
berhasil mengakui bahwa keajaiban itu bukan hanya milik cerita-cerita dibalik
buku dongeng saja, tapi juga miliknya dan sang gatot kaca kesayangannya.
No comments:
Post a Comment