Monday, 30 June 2014

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 17) - Tamat

Part 17

SENYUM PERMINTAAN MAAF


“Heh, Bocah! Lo suka kebiasaan deh telpon gue kayak tadi. Ada apaan sih? Suka bikin panik.” teriak Pelita begitu dilihatnya Vero, sang sepupu datang untuk menjemputnya dengan wajah super tegang. “Ntar aja gue jelasin di mobil.” ujar Vero yang langsung menarik tangan Pelita kearah mobil. “Eh... Eh... sebenarnya ada apaan sih? Kenapa jadi main tarik-tarik tangan gue begini.”  sahut Pelita kebingungan. Vero tak bergeming. Lalu dia membukakan pintu mobilnya untuk Pelita. “Masuk.” titah Vero. Pelita akhirnya memilih menuruti permintaan adik sepupunya itu. Kemudian, Vero ikut menyusul untuk masuk dan mengendarai mobilnya ke suatu tempat.

Setelah beberapa menit mobil itu melaju, akhirnya Vero buka suara. “Gue butuh bantuan lo, Kak.” Pelita melirik dan menemukan wajah Vero yang mengenaskan. Baru kali ini dia lihat wajah itu sedemikian muram. “Lo itu kenapa sih, sampai harus culik gue segala? Butuh bantuan soal apa?” tanya Pelita yang jadi khawatir. “Ini soal cewek nggg... cewek yang gue suka.” Jawabnya sedikit ragu. Pelita terbengong mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Vero, “Jadi ini ternyata cuma soal cewek! Jadi, lo udah sebegitu hebohnya ternyata hanya soal cewek yang lo suka!” Pelita langsung menyenderkan kepalanya, sedikit menyesal. “Aduuuuuh Verooooo.... gue tuh dikantor lagi banyak kerjaan. Lo culik gue sampai gue batal lembur cuma untuk bantuin lo sama cewek lo itu? Pingin nangis gue rasanya.” jerit Pelita kesal. “Sorry deeeh... Abis satu-satunya yang bisa bantu gue cuma lo.” ujar Vero mengiba. “Oke, ceritain dulu masalah lo sama cewek lo yang hits itu.” Vero akhirnya menceritakan segala kegundahan hatinya dan juga menjelaskan masalah yang tengah dihadapinya kepada Pelita.

Tapi yang ada setelah itu, Pelita justru tertawa terbahak-bahak. “Jadi yang lo taksir itu Andriameda, si penyiar radio Tamusema itu? Udah gitu dia marah sama lo cuma karena nyangkain adik gue itu pacar lo. Kok bisa? Hahahaha... Sumpah kocak banget masalah lo. Hahahahaha...” Vero terdiam menatap Pelita yang menertawainya habis-habisan. “Ups, maaf... Oke, apa yang bisa gue lakuin buat lo?” Potong Pelita sendiri. “Bantuin gue ngejelasin ke Andria tentang semua kesalahpahaman ini, soalnyaaa... hari ini gue mau nembak dia.” Jawab Vero. Pelita bersiul tak menyangka, lalu ide konyolnya muncul, “Trus, kalo misi penyelamatan percintaan lo ini sukses... gue dapat apa? Kan, lo bilang ini urusan hidup mati lo... Jadi kayaknya kalo gue minta 2 tiket konsernya Afgan, lo nggak bakal keberatan dong?” sahut Pelita sambil mengangkat kedua alisnya berkali-kali. “Kalo bukan karena ini urusan Andria, kalo bukan karena cuma lo yang sanggup ngejelasin duduk perkaranya... Gue ogah mengamini permintaan lo yang bakalan menguras isi tabungan gue. Tapi ya udahlah, iyeeee... gue kabulin permintaan lo.” sahut Vero yang terpaksa memenuhi permintaan kakak sepupunya itu. “Asik kalo gitu.... senang bekerja sama dengan anda. Hahahaha... Verooo... Verooo... Sepupu gue ini lagi dimabuk asmara rupanya... Hahahhaha... Sering-sering galau ya... Tingkat kegalauan lo berbanding lurus dengan tingkat keuntungan gue.” Vero hanya bisa berteriak pasrah, “Berisiiiiiiiiiik.”

***

Seleksi terakhir untuk audisi pemeran drama musikal “Peri Menangis” akhirnya dimulai. Nadala sudah berada dibelakang panggung bersama dengan beberapa peserta lainnya. Hari ini Nadala menggunakan gaun balet hitam yang sangat indah. Untuk memaksimalkan penampilannya, ia akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan teknik baletnya yang sudah lama tak ia gunakan dan memadukannya dengan nyanyiannya. Setidaknya ia harus memastikan ia mendapatkan poin plus dimata juri. Nadala harus bisa mewujudkan harapannya untuk menjadi Ratu Peri dalam drama musikal ini.

Pada audisi hari ini, Nadala mendapat giliran terakhir. Jantung Nadala berkali-kali berdegup kencang saat dilihatnya para pesaingnya menampilkan kemampuan terbaik mereka. Penampilan mereka sangat mempesona. Hampir tanpa cela. Para juri pun tersenyum puas dengan hal itu. Kini, tibalah waktunya ia untuk menunjukkan segala kemampuan yang telah ia latih. Berdoa... satu-satunya pesan yang selalu Prisma bisikkan setiap kali dirinya akan memulai sesuatu. “Tuhan, jika cahaya dipanggung ini adalah milikku maka terangi aku dengan bijaksana. Biarkan aku mengepakkan sayap keratuanku. Biarkan aku menjadi bagian dari pertunjukkan ini. Bantu aku, Tuhan.”

Nama Nadala akhirnya disebut, Ia pun segera bersiap berdiri disisi panggung. Begitu irama musik sudah mengalun, Nadala bak ratu yang sangat menawan berjalan dengan anggun ketengah panggung. Gerakan penuh penghayatan mulai ditunjukkannya bertepatan dengan ekspresi kesedihan yang menghiasi wajahnya. Entah apa yang mendorongnya benar-benar menangis. Air matanya tidak bisa dibendung dan membasahi pipinya. Tiba-tiba, pikirannya tertuju pada Prisma. Tangisan ini... apakah bisa Prisma rasakan? Apakah Prisma bisa melihat penyesalannya? Apakah Prisma mendengarkan detak jantungnya yang juga menangis merindukannya?

Lewat hati dan matanya, Nadala bernyanyi dan terus bernyanyi. Ia mengeluarkan segenap kemampuannya. Setidaknya ia sudah berusaha keras, meskipun pada akhirnya takdir berkata tidak. Seiring dengan berakhirnya alunan musik, berakhir pula audisi bagi Nadala. Suasana hening... Juri seperti masih terhipnotis dengan pertunjukkan barusan. Belum ada satupun yang bergeming hingga satu tepukan tangan yang keras dari arah bangku penonton menyadarkan mereka untuk ikut memberikan standing applause. Betapa terkejutnya Nadala mendapati seseorang yang ia pikirkan tadi, berdiri tegak dibangku penonton sambil bertepuk tangan. Prisma. Yang lebih membuatnya terkaget adalah ia mengenal jaket kulit hitam yang digunakan Prisma. Jaket kulit yang sama yang digunakan oleh si pengendara motor yang misterius tadi. Oh Tuhan, jadi ternyata... Prisma mengikutinya hingga kesini.

Prisma bertepuk tangan dengan seuntai senyum dibibirnya. Senyum bangga untuk Nadala. Prisma ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya betapa ia sangat mengagumi aksi Nadala barusan. Jika boleh, ia juga ingin mengatakan pada dunia bahwa tangisan itu seperti hendak menyapa hatinya. Air mata itu seperti menyampaikan segala bentuk penyesalan yang Nadala rasakan kepadanya. Apa yang tadi tersaji diatas panggung seperti menjawab keraguan perasaannya terhadap Nadala. Ia kini paham bahwa hati Nadala memang tidak pernah berhenti berdetak untuknya. Sama seperti hatinya yang tidak pernah berhenti berdenyut untuk Nadala.

Nadala masih tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Prisma tersenyum untuknya. Setelah sekian lama diacuhkannya kakak kelasnya itu, ternyata Prisma masih bersedia tersenyum untuknya. Bahkan ketika mendapati Prisma pergi meninggalkan deretan bangku penonton, dirinya masih mematung begitu saja tanpa bisa dikendalikan. Baru beberapa saat, dia mulai tergeragap menyadari sosok Prisma benar-benar menghilang. Tanpa ragu, dia berlari kebelakang panggung untuk mencari sosok itu.

Nadala berusaha mencari Prisma ke segala arah. Ia berlarian tanpa alas kaki menjelajahi seluruh koridor yang ada. Tak ada tanda-tanda keberadaan Prisma. Tak ada jejak yang tertinggal dimanapun. Prisma seakan hilang ditelan bumi. Senyum kecut tersungging disudut bibirnya. Sambil menunduk, Nadala berjalan meninggalkan koridor-koridor tersebut. Entah mengapa ia jadi tidak bersemangat mendengarkan keputusan dewan juri mengenai siapa yang akan mendapatkan peran Ratu Peri.

Masih terus sambil menundukkan kepalanya, ia berjalan memasuki ruang rias peserta yang masih kosong. Nadala lalu duduk dan menenggelamkan wajahnya diatas kedua lengannya. Tak sadar bahwa orang yang dicarinya sudah berada diruangan yang sama, hanya sedang bersembunyi dibalik tirai.  Nadala masih menangis pelan dengan sedikit terisak. Hingga, satu belaian lembut pada pucuk kepalanya itu  menyadarkannya keberadaan orang itu. “Kamu cari aku?” tanya Prisma lembut masih dengan tangan yang membelai pucuk kepala Nadala. Sontak mendengar suara Prisma, Nadala langsung mengangkat kepalanya dan menoleh keasal suara itu.

“Kamu cari aku?” Prisma mengulangi pertanyaan itu. Nadala tak sanggup menjawabnya dan hanya bisa kembali menangis sambil menarik pelan pinggiran jaket Prisma. Prisma lalu merapatkan tubuhnya untuk bisa memeluk Nadala. “Maaf kalau aku nggak pernah jujur tentang semua ini sama kamu. Maaf kalau aku membuatmu sakit dan marah. Tapi aku pingin kamu tahu bahwa aku benar-benar sayang sama kamu. I love you, Nad. Kamu mau maafin aku, kak?” Tangis Nadala kian pecah. Pikirnya, mungkin semua ini berat bagi Nadala. Prisma membiarkan Nadala menyelesaikan tangisnya.

Saat isakan tangis itu mulai mereda. Prisma mulai melepaskan pelukannya. Menarik bangku kosong kehadapan Nadala dan kemudian duduk. Prisma langsung menghapus jejak air mata di pipi Nadala. “Maafin aku ya...” Permohonan itu begitu tulus. Nadala bisa merasakan getarnya. Nadala menjawabnya dengan senyum permintaan maaf. “Aku juga minta maaf ya kalau aku keterlaluan sama kakak kemarin-kemarin.” Prisma ikut tersenyum tenang. “Kak...” panggil Nadala lagi. “Ya...” jawab Prisma. “Aku juga sayang sama kakak.” Senyum itu semakin mengembang dibibir Prisma. Semua pertanyaan genap sudah terjawab. Gadis cantik yang selalu dijumpainya sedang asyik menyiram tanaman itu, yang tak berani diajaknya kenalan... akhirnya berhasil menjadi pacarnya kini.

Putri tampil yang selalu periang, yang selalu menjadi bintang bagi dunia pentas ini akhirnya berhasil bermetamorfosa menjadi ratu peri yang cantik. Pengeran jeruk yang hadir bak bintang jatuh di satu pagi, kini telah menjadi raja bagi hatinya. Takdir sebenarnya telah memainkan isyaratnya sejak awal, hanya saja waktu mencoba menguji. Mencoba menguji kesabaran mereka. Mencoba mengukur seberapa kuat hati mereka saling tertambat satu sama lain. Mereka memenangkan ujian itu. Tepat hari ini putri tampil telah berhasil merengkuh segala keajaiban yang dianggapnya hanya kembang tidur, tapi benar-benar mewujudkanya bersama pangeran jeruknya.

***

Dengan perasaan campur aduk, Nadala akhirnya mencoba menghubungi Mandala untuk memberitahu perkembangan hubungannya dengan Prisma sekaligus meminta maaf pada abangnya tersebut. “Halo...” sapa Mandala. “Halo, Mas... Ini Nadala. Aku mau minta maaf sama Mas. Aku kemarin-kemarin udah keterlaluan sama Mas.” Sahut Nadala mengutarakan rasa penyesalannya. “Sama-sama ya, Dek. Mas juga minta maaf. Harusnya mas nggak pernah ngelakuin hal ini ke kamu. Mas cuma khawatir sama kamu, makanya mas nyuruh Prisma jagain kamu. Ternyata malah jadi hancur endingnya. Maafin mas ya, Dek.” Sesal Mandala. “Nggak sad ending kok, Mas. Aku sama Prisma udah baikan. Ini orangnya ada disamping aku. Dia bela-belain datang ke tempat seleksiku. Oh iya, aku lolos... aku berhasil jadi ratu peri. Pokoknya aku seneng banget.” Nadala menceritakan hal itu dengan senyum bahagia. “Congratulation ya, Dek. I’m happy to hear that. Eh, Dek... nanti kita lanjut dirumah ya... Mas tutup telponnya dulu. Mas lagi buru-buru.” Ujar Mandala seadanya. Mandala terlihat celingak-celinguk mencari seseorang. “Oh oke...” balas Nadala kebingungan. “Bye Dek.” “Bye Mas.” Pembicaraan di telpon itu pun diakhiri keduanya. Mandala pun segera mengejar sesuatu keluar ruangan. 

***

Andria menyelesaikan tugas menyiarnya malam ini dengan sangat terburu-buru. Rasanya semakin sesak untuk berlama-lama berada diruangan siaran ini bersama Mandala. Bagai dirongrong perasaan bersalah, Andria pun bergegas pamit seusai siaran. “Aku duluan.” Sahut Andria dingin. Menyadari perubahan Andria yang tiba-tiba kepadanya, Mandala sontak kebakaran jenggot. Sambil mematikan handphone-nya, Mandala berlari begitu saja mengejar Andria yang sudah sampai ke parkiran.

Namun, kejadian yang tak diharapkan menimpa Andria. Dua laki-laki secara bersamaan berteriak memanggil namanya, “ANDRIAAA...” teriak Mandala juga Vero bersamaan. Mendengar itu, Andria langsung menoleh ke kedua asal suara. Namun, satu cekalan tangan keburu menariknya ke salah satu sisi suara. Mandala keburu berhasil menarik tangannya hingga dia terhuyung mendekat. Tanpa pikir panjang, Mandala langsung mendekap dan mengutarakan perasaannya sekali lagi, “Gue sayang sama lo. Please jangan pergi.” Tubuh Andria kaku.

Andria tak bisa berbuat apa-apa ketika Vero tanpa sengaja melihat adegan Mandala memeluknya. Andria bisa melihat langkah kaki Vero seperti terhenti mendadak. Raut wajah Vero berubah sendu. Akhirnya Vero menoleh ke satu titik menjauhi pandangan mata Andria yang sama-sama terbelalak kaget. Vero membalikkan tubuhnya memunggungi Mandala dan Andria. Vero menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya menahan kesedihannya. Melihat ekspresi Vero yang sedih serta ketika dia membalikkan badannya seperti itu, Andria merasa seperti ikut merasakan sakit yang sama.

Spontan Andria meronta dan memohon untuk dilepaskan dari dekapan Mandala. Mandala melepaskan pelukannya. Begitu terbebas, Andria bergerak mundur sambil menggelengkan kepalanya pertanda tak bisa. Sadar bahwa Andria telah menolaknya, hati Mandala hancur berkeping-keping. Mandala tahu bahwa cinta itu memang tak pernah ada buatnya sejak awal. Harusnya dia sudah tahu bahwa untuk Verolah mata itu menangis, untuk Verolah senyum keceriaan Andria mendadak raib.

Baru saja dia ingin melangkah pergi, Pelita yang melihat kejadian yang tak dilihat Vero barusan buru-buru menahan bahu Vero. “Kalo lo pergi sekarang, lo bakal kehilangan Andria selamanya. Percaya sama ucapan gue. Inget, lo udah susah-susah culik gue sampai sejauh ini. Sampai misi ini gagal, lo yang gue abisin. Balik badan lo sekarang...” Vero akhirnya membalikkan badannya kembali kearah Andria.

“Cewek yang kamu liat waktu di Cafe Diagonal itu bukan pacarnya Vero, tapi adikku... yang juga sepupunya dia. Vero sampai susah-susah culik aku dari kantor supaya bisa jelasin ini ke kamu... biar kamu nggak salah paham lagi sama dia... nggak marah lagi sama dia... nggak ngindarin dia lagi. Adik sepupuku yang ajaib ini suka sama kamu,” teriak Pelita sambil menepuk-nepuk bahu Vero. “Dia beneran sayang sama kamu. Aku berani jamin.” Lanjutnya lagi. Mendengar ucapan Pelita barusan, hati Andria lega selega-leganya. Senyum itu kembali mengembang. Vero juga melihatnya. Bagi Vero itu seperti senyum permintaan maaf yang dia nanti-nanti belakangan ini. “Maju kali. Malah diem aja.” Omel Pelita sambil menyenggolkan bahunya ke bahu Vero.

Vero berjalan mendekati Andria. Kemudian berhenti tepat dihadapannya. “An, gue...” Belum juga Vero selesai bicara, Andria sudah lebih dulu menimpalinya, “Lo bener... gue emang ngindarin lo. Maafin gue ya.” Vero menggeleng, “Harusnya gue yang minta maaf sama lo. Harusnya dari awal gue udah ngelurusin kesalahpahaman ini bukannya malah ngerjain lo sampai bikin lo sakit dan nangis kayak kemarin itu. Gue minta maaf ya, An.” Andria mengangguk pelan. “Trus kalo udah baikan... nggg... bisa jadian nggak?” tanya Vero telak. Andria tersipu, “Apa coba...” Vero yang gemas tak bisa lagi menahan kerinduannya pada si penyiar dongeng kesayangannya, diacak-acaknya rambut Andria. “Vero kebiasaan deh. Rambut gueeee...” sahut Andria manyun. “Gue kangen sama lo. Selama lo ngindarin gue, gue jadi sadar kalo gue nggak bisa jauh-jauh dari lo. Sebentar aja nggak ngeliat lo, bawaannya senewen banget. Lo ngerti kan maksud gue... Terus... semua yang gue omongin di perpustakaan waktu itu adalah bener. Gue suka sama lo.” Vero akhirnya berhasil mengungkapkan perasaannya.

Andria ingin menjawab namun sejenak terlihat ragu untuk menyatakan sesuatu, “Nggg... sebenernya apa yang gue omongin waktu diperpustakaan bohong. Gue bohong kalo nggak ada perasaan apa-apa sama lo.” Andria terdiam malu tapi sedetik kemudian dia kembali menyerang Vero,  “Lagian sapa suruh jalan sama sepupu nggak ngenalin gue!” Vero terpancing, “Mana gue tau lo disitu, kalo gue tau juga pasti gue kenalin.” ujar Vero yang berusaha membela diri. Andria diam tak langsung membalas ocehan Vero, “Kalo gitu... berarti lo harus kenalin gue ke sepupu-sepupu lo sekarang juga.” tandas Andria sambil tersenyum tersipu malu. “Kok?” tanya Vero bego. “Ck... Siapa sih yang tadi tanya soal jadian...?” runtuk Andria pura-pura kesal. “Jadi... elo... sama gue... jadian gitu?” tanya Vero bersemangat. “Menurut looooo...” jawab Andria singkat.

Jawaban itu cukup mengisyaratkan bahwa memang mereka resmi jadian. Vero langsung berubah histeris saking kegirangannya. “Hahahaha... Gue jadian, Kak.” Vero loncat memeluk kakak sepupunya itu. “Selamet yeee... Sukses juga misi lo. Jangan lupa tiket buat gue. Hahahaha...” Sambil tertawa pelan Pelita mengusap-usap punggung Vero. “Sttt... Nggak baik bahagia berlebihan diatas penderitaan orang. Saingan lo lagi patah hati tuh disana. Ngomong baik-baik gih sama si Mandala. Biar nggak slek kedepannya.” ujar Pelita mengingatkan. “Beres, Bos.” Vero melepaskan pelukannya dari Pelita.

“An, ikut gue sebentar.” Vero menarik tangan Andria dan berjalan bersama kearah Mandala. “Mmm... Mas Mandala, mungkin ini keliatannya nggak adil buat lo. Tapi gue harap lo bisa dengan rendah hati nerima semua ini. Gue harap lo nggak marah sama Andria karena akhirnya dia lebih milih gue dibandingin lo. Dan gue yakin banget lo sangat bijak melihat masalah ini.” Sahut Vero serius. “Ya, gue ngerti maksud lo. Gue memang kecewa, tapi gue juga tetap bahagia karena akhirnya Andria udah bisa senyum lagi kayak dulu. Dia belakangan ini nggak pernah senyum secerah ini. Gue harap lo bener-bener jaga dia. Kalo lo bikin dia nangis kayak kemarin-kemarin, lo bakal berhadapan dengan abangnya yang satu ini.” Mereka kemudian tertawa bersamaan.

Putri timpal yang selalu periang, yang selalu menciptakan cerita-cerita unik di dunia dongeng ini akhirnya berhasil menciptakan cerita cinta untuk dongeng hidupnya sendiri. Bersama sang gatot kaca yang tak pernah ketinggalan membawa bola basketnya, kini mereka tengah asik menaburkan bintang. Takdir lagi-lagi hanya ingin mengetes seberapa kuat kejujuran itu berlaku bagi mereka yang mencinta. Tepat hari ini putri timpal berhasil mengakui bahwa keajaiban itu bukan hanya milik cerita-cerita dibalik buku dongeng saja, tapi juga miliknya dan sang gatot kaca kesayangannya.

TAMAT

No comments:

Post a Comment