Monday, 30 June 2014

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 7)

Part 7

123,4 FM TAMUSEMA RADIO


Andria akhirnya menghentikan laju vespanya didepan sebuah stasiun radio. Vero celingak-celinguk kebingungan. "An, ngapain kita kesini? Kok janjian di stasiun radio. Aneh bener." cetus Vero yang sedang turun dari bangku vespa dan melepas helm dari kepalanya. "Jangan banyak tanya. Duduk manis aja lo di dalem, ntar lo juga tahu gue ngapain. Buruan, gue udah ditunggu nih." balas Andria yang baru selesai mengunci vespanya.

Andria buru-buru masuk ke dalam stasiun radio itu. Vero mengekor dibelakangnya. Begitu pintu stasiun radio itu terbuka, langsung terpampang banner besar bertuliskan "123,4 FM TAMUSEMA RADIO - RADIO CERITA MUSIK SEPANJANG MASA" dibawahnya berjejer foto dari para penghuni stasiun itu. Vero ternganga mendapati foto Andria juga terpampang disana. "An, lo penyiar radio?" teriak Vero sambil menarik lengan baju Andria.

Andria terpaksa menghentikan langkahnya sejenak. Vero langsung berpindah ke hadapan Andria. "Tadi gue bilang apa? Jangan banyak tanya dulu kan. Gue lagi buru-buru, Ver." tandas Andria. "Gue kan cuma tanya itu doang. Masa tega amat gak lo jawab." jawab Vero seolah-olah dirundung kesedihan yang amat sangat. Andria menghela nafas, kalah. "Oke. Lo bener gue penyiar disini. So, you can sit over there, please." sahutnya.

Andria lalu melanjutkan perjalanannya ke dalam. "Tunggu... Gue belum selesai." Sahut vero yang lagi-lagi mencekal laju langkah Andria. "Apaaaa lagiiii?" sahut Andria yang melotot kesal ke arah Vero. "Hehehe... Toilet dimana? Gue kebelet buang air yang besar nih." ujar Vero memegangi perutnya. "Toilet di sebelah kiri lo. Mushola di sebelah kanan lo. Kantin di belakang sana." Jawab Andria sambil menunjuk ke satu arah.

"Siap Komandan." Sahut Vero sambil memberi hormat sementara tangan kirinya masih mencengkeram kemeja, menahan perutnya yang semakin mules. "Amunisi sudah penuh. Target sudah terkunci. Siap melempar bom ke arah target." seru Vero sambil lari terbirit-birit ke arah toilet. Andria terdiam menelaah omongan Vero barusan. Tapi mendadak dia tertawa ngakak, "Hahaha... Dasar edun. Mau ke toilet aja pake perumpamaan perang segala."

Andria melanjutkan perjalanan ke ruang siarannya. Ternyata disana sudah ada rekan siarannya. "Hai Mas. Udah lama?" Sapa Andria mengambil tempat di sebelah orang tersebut. "Belum kok. Gue juga belum lama. Tadi ada kuliah pengganti, makanya sampe sore." Jawab orang itu. "Oke kalo gitu. Oh iya, skrip gue mana?" tanya Andria sambil mencomot kentang goreng milik rekannya itu. "Minta. Hehehe..." lanjutnya lagi.

"Ini skrip dongeng kita malam ini. Gue jadi Raja Tebu, elo jadi Petani Bambu. Terus ada 2 peran tambahan. Tinggal bagi-bagi suara aja ya nanti kayak biasa." Ujar rekannya sambil memberikan script dongeng itu ke Andria. "Weits, tes-tes... Suara gue musti di setting jadi suara cowok lagi ya? Hahaha..." ujar Andria terkikik. "Baca dulu gih bentar. Satu jam lagi kita on air." sahut rekannya itu mengingatkan lagi.

Andria mencomot kentang goreng itu lagi. "Minta lagi." Sahut Andria ringan. "Lo laper apa doyan?" tegur rekan kerjanya itu tiba-tiba. "Hehehe... Laper tingkat dewa. Tadi nggak sempet ngumpanin cacing-cacing di perut gue, Mas." jawab Andria terang-terangan. "Naga!! Jangan suka dikecil-kecilin deh jadi cacingnya. Naganya demonstrasi baru rasa. Tuh, gue beliin ayam goreng sama kentang biar naga lo anteng." tandasnya.

"Beuh... Rekan siaran gue yang satu ini emang juara deh. Care banget sama rekannya yang punya piaraan naga diperut. Makasih ya mas. Mas Mandala emang tiada lawan." jerit Andria kegirangan. "Sama-sama, ibu naga." Balas Mandala. "Eh, udah shalat belum? Mau Jama'ah, nggak?" lanjut Mandala menawarkan. Andria menggeleng. "Lagi jadi sailormoon, Mas." Mandala melongo bingung. Apa hubungannya? Batinnya.

Andria buru-buru mengatakan kata kuncinya sesaat dilihat wajah Mandala kebingungan. "Itu lho Mas. Dengan kekuatan 'datang' bulan akan menghukummu. Gitu aja nggak ngerti. Berarti kita memang beda zaman ya. Hahahaha..." Mandala langsung geleng-geleng. "Ya udah, gue shalat dulu ya. Baca script-nya yang bener." ujar Mandala pamit sebentar. Andria langsung membaca skrip dongengnya sambil menyantap habis makanannya.

Mandala berjalan kearah Musholla. Mandala berpapasan dengan Vero yang baru saja selesai shalat. Mandala menoleh sesaat memastikan bahwa anak SMA itu tadi bukanlah karyawan disini. Mandala heran karena dia menggunakan jaket angkatan yang sama seperti yang biasa Andria kenakan. Tapi sudahlah. Bukan kebiasaan Mandala bertanya ini itu. Mandala masuk dan bergegas shalat.

Andria baru saja menyelesaikan makannya. Script dongengnya pun juga sudah rangkum dibacanya. Hanya ada beberapa plot dongeng yang harus didiskusikan dengan Mandala. Andria melirik ke jam dinding. Jam siarannya tinggal setengah jam lagi. Tak lama kemudian, Mandala masuk ke ruangan itu. Naluri jahil Andria muncul begitu dilihatnya Mandala mengusap wajahnya didepan pintu. "Ckckck Mas Mandala syahdu amat baca doanya."

"Hah?" sahut Mandala heran. Bingung masuk-masuk langsung ditodong pernyataan seperti itu. "Doanya kayaknya panjang banget. Sampe baru aminnya di depan pintu." goda Andria. Menyadari tengah digoda anak SMA itu, Mandala sontak tertawa. "Hahaha... Amin." celetuk Mandala menimpali. Mandala segera duduk. Lalu dia mengambil cangkir kopi di meja kecil, persis di sebelah meja peralatan siarannya dan segera meneguk.

Andria dan Mandala mulai melakukan reading bersama. Mereka adalah penyiar yang kebagian jatah pada segmen acara dongeng malam dari jam 19.30-21.00 WIB. Segmen acara ini masih sangat baru. Makanya penyiar yang memegang acara ini harus benar-benar memiliki passion di bidang perdongengan anak. Dan setelah hampir setengah 2 bulan bersiaran sendiri, Mandala akhirnya dipertemukan dengan rekan pendongengnya kini.

Andria ditemukan oleh Pak Nuke, Head Project dari segmen acara dongeng itu secara tidak sengaja. Pak Nuke yang sedang menemani anaknya membeli buku di salah satu toko buku kenamaan, tertarik dengan anak SMA yang sedang asyik mendongengkan suatu kisah kepada sekumpulan anak. Anak-anak tersebut duduk terdiam menikmati cerita yang terlontar dengan ekspresi unik dari anak SMA tersebut.

Berkat pertemuan tak disengaja itu lah, Andria yang notabene masih SMA resmi menduduki bangku siaran dongeng malam dan juga sebagai rekan pendongeng dari Mandala. Setelah selesai reading, saatnya ON AIR. Mandala selalu kebagian membuka acara ini dan Andria yang nanti menimpali percakapan berikutnya, "Selamat malam adik-adik para pendengar 123,4 FM TAMUSEMA Radio. Balik lagi bersama Kakak Manda dan..." sahut Mandala.

"Dan tentunya tak ketinggalan Kak Meda." timpal Andria yang sengaja memperkenalkan diri dengan nama Meda-nya. Hal ini semata-mata dia lakukan murni karena dia tidak mau diketahui oleh teman-teman sekolah. Walaupun hari ini terpaksa satu makhluk memegang rahasianya. "Hayooo... Udah siap dengerin dongeng malamnya belum?" Lanjut Andria. "Iya. Tapi adik-adik udah mengerjakan tugas sekolahnya kan?" Tanya Mandala.

"Udah dong Kaaaak." Jawab Andria menirukan suara anak kecil. "Udah sikat gigi, cuci tangan, dan cuci kaki juga kan?" Tanya Mandala lagi. Andria kembali mengulangi aksi jadi anak kecilnya. "Baiklah adik-adiknya. Dongeng kita malam ini judulnya Raja Tebu dan Petani Bambu. Selamat mendengarkan." Mereka berdua akhirnya mulai menceritakan dongeng tersebut. Tentu saja dengan adegan lucu yang terlihat pada wajah mereka.

Sementar itu, Vero terpaksa menunggu jadwal siaran Andria selesai. Dia sejujurnya bete terjebak diruang lobby yang sumpah kayak kuburan. Sepiiiiiii banget. Daritadi yang dilihatnya hanya seorang resepsionis. Itu pun sekitar jam 8 tadi sudah berubah wujud menjadi pria berotot berkumis layaknya pak raden, hanya saja seperti pak raden dengan seragam sekuriti. Vero bergidik ngeri jika bapak sekuriti itu mulai melintir kumisnya.

Tapi ya sudahlah. Dia harus konsekuen dengan ide gilanya untuk menjadi penumpang dadakan Andria. Tapi, kebeteannya itu bisa ditutupi dengan rasa takjub sekaligus bangga bahwa Andria itu ternyata seorang penyiar. "Anak ajaib itu diam-diam menghanyutkan juga. Nggak nyangka cewek yang jutek bin judes itu doyan ngedongeng. Dongeng anak-anak pula. Ckckckck... Unbelievable..." Ujar vero tak menyangka.

Pukul 21.00 WIB... Mandala mengakhiri dongeng mereka, "Dan akhirnya Raja Tebu pun menjadikan Petani Bambu sebagai Penasehat dibidang pertaniannya. Sekian." Andria langsung mengambil alih percakapan Mandala, "Nah, adik-adik... Dongengnya sudah selesai. Semoga kalian bisa ambil hal positif dari dongeng tadi ya. Jadi, Raja harus adil dan bijaksana. Oke, selamat beristirahat. Mimpi indah. Kak Meda dan..." Lempar Andria

"Dan pastinya kak Mandala yang baik hati" timpal Mandala menarik kerah kemejanya seolah-olah mata dari anak-anak kecil terproyeksi didepannya. "Kami pamit. Tetap dengarkan 123,4 FM Tamusema Radio - Radio cerita musik sepanjang masa. Selamat malaaaaaaaam." sahut mereka kompak menutup sesi dongeng malam ini. Mereka langsung melepaskan headphone mereka dan menggantungkan kembali ke tempat semula.

Seperti sebuah tradisi sehabis siaran, Mandala selalu melayangkan tangannya mengajak Andria untuk tos. Andria lalu membalas tos dari Mandala. "Balik duluan ya, Mas." ujar Andria sambil mengambil tasnya yang tergeletak dilantai. "Lo pulang naik si coki-coki atau naik kendaraan umum?" tanya Mandala yang menyebutkan nama panggilan vespa coklatnya Andria. "Naik si coki-cokilah, Mas. Bisa ngambek kalo dianggurin dirumah."

"Ya udah, bareng deh ke parkirannya. Gue juga mau langsung balik." ujar Mandala yang juga langsung menyampirkan tasnya ke salah satu bahunya. Andria dan Mandala lalu keluar dari ruangan siaran mereka. Begitu sampai di lobby, Mandala menghentikan langkahnya. Anak SMA yang tadi berpapasan di Musholla ternyata masih ada disini, tertidur pula. Andria yang asli lupa mengenai Vero, langsung menyelonong menuju pintu keluar.

"An..." Panggil Mandala. "Hah?" Andria menoleh membalas panggilan Mandala. "Sini deh. Lo kenal nggak sama itu orang?" Tanya Mandala. "Yang mana?" tanya Andria yang masih tak sadar juga bahwa orang yang dimaksud Mandala itu Vero. "Sini makanya, itu tuh yang kealingan vas bunga gede." Tandas Mandala. Andria mundur beberapa langkah, menoleh masih dengan ekspresi datar dan biasa saja.

Tapi sesaat matanya mengenali siapa yang tengah tertidur pulas di sofa lobby kantornya. Andria langsung menepuk jidatnya keras, "Astaga, gue lupa. Itu temen gue. Bentar ya, Mas. Gue bangunin temen gue dulu." Sahut Andria yang segera berlari ke arah Vero. "Woi... Bangun woi..." teriak Andria sambil menepuk-nepuk bahu Vero. Vero terhenyak dan bangun. Matanya dipicingkan berkali-kali sampai akhirnya benar-benar terjaga.

"Udah selesai siarannya, An?" tanya Vero sambil membetulkan posisi duduknya. "Udah... Udah... Balik yuk. Hampir aja gue lupa lo bareng gue tadi. Nyaris gue tinggal pulang." Balas Andria. "Wah, parah bener lo. Gue masa pulang jalan kaki. Betis gue bisa berkonde." ujar Vero yang berubah manyun. "Lagian siapa suruh nebeng." Tandas Andria ketus. "Udah buruan balik yuk." Lanjut Andria lagi.

Vero yang nyawanya belum kumpul, masih celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. Entah apa yang dilihatnya. "Ya ampun, dia pake acara diem dulu. Buruan woi." Sahut Andria yang mulai tak sabaran. Andria tanpa basa-basi menarik tangan Vero. Vero kaget dan akhirnya terpaksa berdiri. "Sabar kenapa. Gue lagi kumpulin nyawa dulu." Balas Vero menepis tarikan tangan Andria. "Helooo... Lo pikir nyawa lo berserakan gitu."

Mandala yang melihat dari jauh perdebatan kecil itu, akhirnya gregetan juga. Dia bergerak mendekati Andria dan temannya itu. "Ada apa, An?" tanya Mandala tiba-tiba. Andria menoleh. "Oh, nggak. Nggak ada apa-apa, Mas. Yuk, pulang." Jawab Andria cengar-cengir dihadapan Mandala. "Oke." Jawab Mandala singkat, lalu memilih berjalan lebih dulu. Andria mengikuti, tapi Vero masih terdiam ditempatnya. "Woooi... Ayo baliiiik."

Andria balik badan dan meraup wajah Vero yang terdiam itu. Lalu Andria kembali menarik tangan Vero tanpa berniat melepaskan hingga ke parkiran nanti. Vero memilih pasrah. Begitu sampai di parkiran, Andria langsung melepas tangan Vero. Dengan datarnya, Vero kembali mencoba menggoda Andria. "Lah, kok dilepasin tangan gue? Kirain mau narik gue sampe rumah." Andria kontan dibuatnya ternganga saking kesalnya.

"Masih mau pulang dengan selamat nggak?" Ancam Andria. Vero lunglai seketika. Sambil tersenyum-senyum memelas Vero menghamba kepada Andria. "Yaaa, jangan dong. Mau pulang naik apa jam segini. Eh, salah deh... Mau bayar pake apa gue? Mana gue laper banget. Mau makan nggak punya duit. Mau ngutang, tengsin. Masa kece-kece begini kere. Malu tahu." Jawab Vero memelas.

Vero tertawa dalam hati melihat ekspresi Andria yang berubah sedikit iba... Sedikiiiiit, kagak banyak-banyak. Terbukti urat-urat disekitar leher Andria masih tegang seperti menahan sisa emosi. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Vero sudah menghabiskan 2 mangkok bakso di kantin belakang. "Laper tahu, gue." Keluh Vero pura-pura. "Jangan ngeluh mulu. Lagian siapa suruh nebeng gue tadi." ujar Andria.

"Astaga... Kagak baik, nebengin orang tapi nggak ikhlas. Diseruduk banteng lho si ciko-ciko vespa tersayang lo ini." Tandas Vero tidak patah arang. "Coki-cokiiiiii... Hobi banget sih ganti nama vespa gue. Lagian yah, kalo vespa gue sampe diseruduk sama banteng. Gue seruduk balik bantengnya." Sahut Andria sambil melototi Vero. "Ih, ganas amat sih lo. Segala bantenglah mau diseruduk. Ckckck..." Sahut Vero bergidik ngeri.

Entah mengapa keakraban yang terhidang didepan mata Mandala agak sedikit membuat dirinya merasa tak nyaman. Andria dan temannya itu memang seperti tom and jerry di film-film kartun. Lebih banyak memperdebatkan dan mempermasalahkan hal kecil. Tapi, justru karena percakapan alami dari perdebatan itulah yang membuat Mandala khawatir.

Andria tidak pernah sengotot itu pada orang lain. Untuk pertama kalinya, Mandala melihat kengototan itu begitu berapi-api seolah-olah Andria enggan ditumpangi anak itu, tapi di sisi lain dia tetap mengizinkan anak itu untuk tetap berada disekitarnya. Mandala akhirnya melakukan intervensi terhadap perdebatan itu. "An, lo masih lama disini?" Tanya Mandala pelan menatap Andria lalu ganti ke orang disebelahnya itu.

"Nggaklah, Mas. Mau langsung balik. Cuma ini... temen gue agak ribet. Biasa baru bangun. Arwahnya satu lagi masih nyangsang di pohon toge." jawab Andria melucu. "Temen lo?" Mandala bertanya sekaligus memberi penekanan pada kata "teman". "Oh iya, lupa gue kenalin ya. Kenalin, Mas. Temen gue, Vero." Andria memperkenalkan Vero ke Mandala. Mandala mengulurkan tangannya ke arah Vero. "Mandala." Vero terlihat membalas.

"Vero, Mas." Balas Vero yang tiba-tiba dihinggapi tatapan aneh dari sang lawan bicara. "Ya udah, hati-hati ya, An. Gue balik duluan. Duluan, Ver." Sahut Mandala berpamitan dan langsung masuk kedalam mobilnya. Tak lama mobil itu pun perlahan menghilang. Andria sudah mengenakan helmnya. Sudah siap juga di balik kemudi vespanya. Tapi tiba-tiba, Vero meminta Andria mundur ke jok belakang. "Gue yang bawa ya. Gantian."

"Nggak usah, Ver." Tolak Andria pelan. "Nggak apa-apa. Lo pasti capek tadi siaran. Gue mah enak udah sempet tidur. Daripada ntar lo tiba-tiba ngantuk. Gue belum siaaaaap kalo kenapa-kenapa. Gue aja ya pleeeaaaasee... Bayangin kalo lo ngantuk, terus kita berdua nyusruk ke got. Apa kata duniaaaa...? Muka gueee nanti gimanaaaa? Gue aja ya yang bawa." Ujar Vero panjang lebar, dari Andria simpati sampe jadi eneg sendiri.

Andria masih juga menggeleng pertanda tidak. Vero berdiri berhadapan dengan Andria persis di sisi sebelah depan motor vespa Andria, Si Coki-coki. "Biar gue yang ngendarain si Coki-coki, ya?" ujar Vero sekali lagi. Andria terkejut dan menurut begitu saja ketika Vero memandanginya dengan serius. Andria tidak pernah merasakan Vero bicara dengan itikad super tulus seperti ini. Andria akhirnya mundur ke jok belakang.

Sebenarnya, apa yang dikatakan Vero barusan ada betulnya juga. Setiap pulang siaran, dia selalu dihinggapi rasa kantuk yang luar biasa. Sudah beberapa kali, Andria harus mengerem tiba-tiba karena menghindari mobil atau motor lain, bahkan selokan yang menganga. Vero duduk dan mulai mengendarai vespa tersebut. Vespa itu melaju dengan kecepatan sedang.

Malam ini berbeda, pikir Andria. Meskipun sampai sekarang, dia tidak habis pikir kenapa Vero mendadak aneh banget hari ini. Tapi biarkanlah. Urusannya. Baginya, malam ini dia tidak perlu mengendarai Si Coki-coki dengan keadaan mengantuk. Betul saja, tidak sampai sepuluh menit. Andria sudah tertidur. Helmnya menyundul punggung Vero. Vero menyadari kalau penumpangnya pasti tidur. Dihentikan laju vespanya.

"Jiiiiaaaah, dia tidur beneran." sahut Vero yang menoleh kebelakang. Vero terpaksa membangunkannya. Andria terbangun. "Hah? Kenapa? Kok berhenti? Mogok ya?" Cecar Andria. "Nggak. Lo tidur tadi. Lo pegangan ke gue aja kalo memang ngantuk." ujar Vero. "Nggak ah." Jawab Andria. "Minimal tepian jaket gue deh. Biar gue bisa tahu lo masih dibelakang gue. Gue ngeri lo jatuh, An." Balas Vero. Andria mengangguk kemudian.

Andria memegang tepian jaket Vero. Perjalanan pun dilanjutkan. Vero dan Andria pulang mengendarai Si Coki-coki. Andria bahkan sudah pergi ke pulau mimpi lagi. Vero pun tahu itu. Pegangan di tepian jaketnya pun melemah. Vero akhirnya mengurangi kecepatan laju vespanya. Dia tidak berani mengambil tindakan inisiatif dengan melingkarkan tangan Andria ke perutnya. Bisa-bisa, Andria berpikiran negatif terhadapnya.

Dan Vero tetap mencoba menghormati Andria. Malam ini adalah malam sesuatu bagi Vero. Bagaimana tidak, Vero bisa sedikit berdamai dengan lawan berdebatnya ini. Dia juga akhirnya mengetahui rahasia Andria yang mungkin cuma satu-satunya teman disekolahnya yang tahu. Vero sumringah sendiri di balik kemudinya. Dia bersenandung sendiri membingkai perjalanan malam ini. 

■■■■

No comments:

Post a Comment