Part 7
123,4 FM
TAMUSEMA RADIO
Andria akhirnya menghentikan laju vespanya
didepan sebuah stasiun radio. Vero celingak-celinguk kebingungan. "An,
ngapain kita kesini? Kok janjian di stasiun radio. Aneh bener." cetus Vero
yang sedang turun dari bangku vespa dan melepas helm dari kepalanya.
"Jangan banyak tanya. Duduk manis aja lo di dalem, ntar lo juga tahu gue
ngapain. Buruan, gue udah ditunggu nih." balas Andria yang baru selesai
mengunci vespanya.
Andria buru-buru masuk ke dalam stasiun radio
itu. Vero mengekor dibelakangnya. Begitu pintu stasiun radio itu terbuka,
langsung terpampang banner besar bertuliskan "123,4 FM TAMUSEMA RADIO -
RADIO CERITA MUSIK SEPANJANG MASA" dibawahnya berjejer foto dari para
penghuni stasiun itu. Vero ternganga mendapati foto Andria juga terpampang
disana. "An, lo penyiar radio?" teriak Vero sambil menarik lengan
baju Andria.
Andria terpaksa menghentikan langkahnya
sejenak. Vero langsung berpindah ke hadapan Andria. "Tadi gue bilang apa?
Jangan banyak tanya dulu kan. Gue lagi buru-buru, Ver." tandas Andria.
"Gue kan cuma tanya itu doang. Masa tega amat gak lo jawab." jawab
Vero seolah-olah dirundung kesedihan yang amat sangat. Andria menghela nafas,
kalah. "Oke. Lo bener gue penyiar disini. So, you can sit over there, please." sahutnya.
Andria lalu melanjutkan perjalanannya ke dalam.
"Tunggu... Gue belum selesai." Sahut vero yang lagi-lagi mencekal
laju langkah Andria. "Apaaaa lagiiii?" sahut Andria yang melotot
kesal ke arah Vero. "Hehehe... Toilet dimana? Gue kebelet buang air yang
besar nih." ujar Vero memegangi perutnya. "Toilet di sebelah kiri lo.
Mushola di sebelah kanan lo. Kantin di belakang sana." Jawab Andria sambil
menunjuk ke satu arah.
"Siap Komandan." Sahut Vero sambil
memberi hormat sementara tangan kirinya masih mencengkeram kemeja, menahan
perutnya yang semakin mules. "Amunisi sudah penuh. Target sudah terkunci.
Siap melempar bom ke arah target." seru Vero sambil lari terbirit-birit ke
arah toilet. Andria terdiam menelaah omongan Vero barusan. Tapi mendadak dia
tertawa ngakak, "Hahaha... Dasar edun. Mau ke toilet aja pake perumpamaan
perang segala."
Andria melanjutkan perjalanan ke ruang
siarannya. Ternyata disana sudah ada rekan siarannya. "Hai Mas. Udah
lama?" Sapa Andria mengambil tempat di sebelah orang tersebut. "Belum
kok. Gue juga belum lama. Tadi ada kuliah pengganti, makanya sampe sore."
Jawab orang itu. "Oke kalo gitu. Oh iya, skrip gue mana?" tanya
Andria sambil mencomot kentang goreng milik rekannya itu. "Minta.
Hehehe..." lanjutnya lagi.
"Ini skrip dongeng kita malam ini. Gue
jadi Raja Tebu, elo jadi Petani Bambu. Terus ada 2 peran tambahan. Tinggal
bagi-bagi suara aja ya nanti kayak biasa." Ujar rekannya sambil memberikan
script dongeng itu ke Andria. "Weits, tes-tes... Suara gue musti di
setting jadi suara cowok lagi ya? Hahaha..." ujar Andria terkikik.
"Baca dulu gih bentar. Satu jam lagi kita on air." sahut rekannya itu
mengingatkan lagi.
Andria mencomot kentang goreng itu lagi.
"Minta lagi." Sahut Andria ringan. "Lo laper apa doyan?"
tegur rekan kerjanya itu tiba-tiba. "Hehehe... Laper tingkat dewa. Tadi
nggak sempet ngumpanin cacing-cacing di perut gue, Mas." jawab Andria
terang-terangan. "Naga!! Jangan suka dikecil-kecilin deh jadi cacingnya.
Naganya demonstrasi baru rasa. Tuh, gue beliin ayam goreng sama kentang biar
naga lo anteng." tandasnya.
"Beuh... Rekan siaran gue yang satu ini
emang juara deh. Care banget sama rekannya yang punya piaraan naga diperut.
Makasih ya mas. Mas Mandala emang tiada lawan." jerit Andria kegirangan. "Sama-sama,
ibu naga." Balas Mandala. "Eh, udah shalat belum? Mau Jama'ah,
nggak?" lanjut Mandala menawarkan. Andria menggeleng. "Lagi jadi
sailormoon, Mas." Mandala melongo bingung. Apa hubungannya? Batinnya.
Andria buru-buru mengatakan kata kuncinya sesaat
dilihat wajah Mandala kebingungan. "Itu lho Mas. Dengan kekuatan 'datang'
bulan akan menghukummu. Gitu aja nggak ngerti. Berarti kita memang beda zaman
ya. Hahahaha..." Mandala langsung geleng-geleng. "Ya udah, gue shalat
dulu ya. Baca script-nya yang bener." ujar Mandala pamit sebentar. Andria
langsung membaca skrip dongengnya sambil menyantap habis makanannya.
Mandala berjalan kearah Musholla. Mandala
berpapasan dengan Vero yang baru saja selesai shalat. Mandala menoleh sesaat
memastikan bahwa anak SMA itu tadi bukanlah karyawan disini. Mandala heran
karena dia menggunakan jaket angkatan yang sama seperti yang biasa Andria
kenakan. Tapi sudahlah. Bukan kebiasaan Mandala bertanya ini itu. Mandala masuk
dan bergegas shalat.
Andria baru saja menyelesaikan makannya. Script
dongengnya pun juga sudah rangkum dibacanya. Hanya ada beberapa plot dongeng
yang harus didiskusikan dengan Mandala. Andria melirik ke jam dinding. Jam
siarannya tinggal setengah jam lagi. Tak lama kemudian, Mandala masuk ke
ruangan itu. Naluri jahil Andria muncul begitu dilihatnya Mandala mengusap
wajahnya didepan pintu. "Ckckck Mas Mandala syahdu amat baca doanya."
"Hah?" sahut Mandala heran. Bingung
masuk-masuk langsung ditodong pernyataan seperti itu. "Doanya kayaknya
panjang banget. Sampe baru aminnya di depan pintu." goda Andria. Menyadari
tengah digoda anak SMA itu, Mandala sontak tertawa. "Hahaha... Amin."
celetuk Mandala menimpali. Mandala segera duduk. Lalu dia mengambil cangkir
kopi di meja kecil, persis di sebelah meja peralatan siarannya dan segera
meneguk.
Andria dan Mandala mulai melakukan reading
bersama. Mereka adalah penyiar yang kebagian jatah pada segmen acara dongeng
malam dari jam 19.30-21.00 WIB. Segmen acara ini masih sangat baru. Makanya
penyiar yang memegang acara ini harus benar-benar memiliki passion di bidang
perdongengan anak. Dan setelah hampir setengah 2 bulan bersiaran sendiri,
Mandala akhirnya dipertemukan dengan rekan pendongengnya kini.
Andria ditemukan oleh Pak Nuke, Head Project
dari segmen acara dongeng itu secara tidak sengaja. Pak Nuke yang sedang
menemani anaknya membeli buku di salah satu toko buku kenamaan, tertarik dengan
anak SMA yang sedang asyik mendongengkan suatu kisah kepada sekumpulan anak.
Anak-anak tersebut duduk terdiam menikmati cerita yang terlontar dengan
ekspresi unik dari anak SMA tersebut.
Berkat pertemuan tak disengaja itu lah, Andria
yang notabene masih SMA resmi menduduki bangku siaran dongeng malam dan juga
sebagai rekan pendongeng dari Mandala. Setelah selesai reading, saatnya ON AIR.
Mandala selalu kebagian membuka acara ini dan Andria yang nanti menimpali
percakapan berikutnya, "Selamat malam adik-adik para pendengar 123,4 FM
TAMUSEMA Radio. Balik lagi bersama Kakak Manda dan..." sahut Mandala.
"Dan tentunya tak ketinggalan Kak Meda."
timpal Andria yang sengaja memperkenalkan diri dengan nama Meda-nya. Hal ini
semata-mata dia lakukan murni karena dia tidak mau diketahui oleh teman-teman
sekolah. Walaupun hari ini terpaksa satu makhluk memegang rahasianya.
"Hayooo... Udah siap dengerin dongeng malamnya belum?" Lanjut Andria.
"Iya. Tapi adik-adik udah mengerjakan tugas sekolahnya kan?" Tanya
Mandala.
"Udah dong Kaaaak." Jawab Andria
menirukan suara anak kecil. "Udah sikat gigi, cuci tangan, dan cuci kaki
juga kan?" Tanya Mandala lagi. Andria kembali mengulangi aksi jadi anak
kecilnya. "Baiklah adik-adiknya. Dongeng kita malam ini judulnya Raja Tebu
dan Petani Bambu. Selamat mendengarkan." Mereka berdua akhirnya mulai
menceritakan dongeng tersebut. Tentu saja dengan adegan lucu yang terlihat pada
wajah mereka.
Sementar itu, Vero terpaksa menunggu jadwal
siaran Andria selesai. Dia sejujurnya bete terjebak diruang lobby yang sumpah
kayak kuburan. Sepiiiiiii banget. Daritadi yang dilihatnya hanya seorang
resepsionis. Itu pun sekitar jam 8 tadi sudah berubah wujud menjadi pria
berotot berkumis layaknya pak raden, hanya saja seperti pak raden dengan
seragam sekuriti. Vero bergidik ngeri jika bapak sekuriti itu mulai melintir
kumisnya.
Tapi ya sudahlah. Dia harus konsekuen dengan
ide gilanya untuk menjadi penumpang dadakan Andria. Tapi, kebeteannya itu bisa
ditutupi dengan rasa takjub sekaligus bangga bahwa Andria itu ternyata seorang
penyiar. "Anak ajaib itu diam-diam menghanyutkan juga. Nggak nyangka cewek
yang jutek bin judes itu doyan ngedongeng. Dongeng anak-anak pula. Ckckckck...
Unbelievable..." Ujar vero tak menyangka.
Pukul 21.00 WIB... Mandala mengakhiri dongeng
mereka, "Dan akhirnya Raja Tebu pun menjadikan Petani Bambu sebagai
Penasehat dibidang pertaniannya. Sekian." Andria langsung mengambil alih
percakapan Mandala, "Nah, adik-adik... Dongengnya sudah selesai. Semoga
kalian bisa ambil hal positif dari dongeng tadi ya. Jadi, Raja harus adil dan
bijaksana. Oke, selamat beristirahat. Mimpi indah. Kak Meda dan..." Lempar
Andria
"Dan pastinya kak Mandala yang baik
hati" timpal Mandala menarik kerah kemejanya seolah-olah mata dari
anak-anak kecil terproyeksi didepannya. "Kami pamit. Tetap dengarkan 123,4
FM Tamusema Radio - Radio cerita musik sepanjang masa. Selamat malaaaaaaaam."
sahut mereka kompak menutup sesi dongeng malam ini. Mereka langsung melepaskan
headphone mereka dan menggantungkan kembali ke tempat semula.
Seperti sebuah tradisi sehabis siaran, Mandala
selalu melayangkan tangannya mengajak Andria untuk tos. Andria lalu membalas
tos dari Mandala. "Balik duluan ya, Mas." ujar Andria sambil
mengambil tasnya yang tergeletak dilantai. "Lo pulang naik si coki-coki
atau naik kendaraan umum?" tanya Mandala yang menyebutkan nama panggilan
vespa coklatnya Andria. "Naik si coki-cokilah, Mas. Bisa ngambek kalo
dianggurin dirumah."
"Ya udah, bareng deh ke parkirannya. Gue
juga mau langsung balik." ujar Mandala yang juga langsung menyampirkan
tasnya ke salah satu bahunya. Andria dan Mandala lalu keluar dari ruangan
siaran mereka. Begitu sampai di lobby, Mandala menghentikan langkahnya. Anak
SMA yang tadi berpapasan di Musholla ternyata masih ada disini, tertidur pula.
Andria yang asli lupa mengenai Vero, langsung menyelonong menuju pintu keluar.
"An..." Panggil Mandala.
"Hah?" Andria menoleh membalas panggilan Mandala. "Sini deh. Lo
kenal nggak sama itu orang?" Tanya Mandala. "Yang mana?" tanya
Andria yang masih tak sadar juga bahwa orang yang dimaksud Mandala itu Vero.
"Sini makanya, itu tuh yang kealingan vas bunga gede." Tandas
Mandala. Andria mundur beberapa langkah, menoleh masih dengan ekspresi datar
dan biasa saja.
Tapi sesaat matanya mengenali siapa yang tengah
tertidur pulas di sofa lobby kantornya. Andria langsung menepuk jidatnya keras,
"Astaga, gue lupa. Itu temen gue. Bentar ya, Mas. Gue bangunin temen gue
dulu." Sahut Andria yang segera berlari ke arah Vero. "Woi... Bangun
woi..." teriak Andria sambil menepuk-nepuk bahu Vero. Vero terhenyak dan
bangun. Matanya dipicingkan berkali-kali sampai akhirnya benar-benar terjaga.
"Udah selesai siarannya, An?" tanya
Vero sambil membetulkan posisi duduknya. "Udah... Udah... Balik yuk.
Hampir aja gue lupa lo bareng gue tadi. Nyaris gue tinggal pulang." Balas
Andria. "Wah, parah bener lo. Gue masa pulang jalan kaki. Betis gue bisa
berkonde." ujar Vero yang berubah manyun. "Lagian siapa suruh
nebeng." Tandas Andria ketus. "Udah buruan balik yuk." Lanjut
Andria lagi.
Vero yang nyawanya belum kumpul, masih
celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. Entah apa yang dilihatnya. "Ya
ampun, dia pake acara diem dulu. Buruan woi." Sahut Andria yang mulai tak
sabaran. Andria tanpa basa-basi menarik tangan Vero. Vero kaget dan akhirnya
terpaksa berdiri. "Sabar kenapa. Gue lagi kumpulin nyawa dulu." Balas
Vero menepis tarikan tangan Andria. "Helooo... Lo pikir nyawa lo
berserakan gitu."
Mandala yang melihat dari jauh perdebatan kecil
itu, akhirnya gregetan juga. Dia bergerak mendekati Andria dan temannya itu.
"Ada apa, An?" tanya Mandala tiba-tiba. Andria menoleh. "Oh,
nggak. Nggak ada apa-apa, Mas. Yuk, pulang." Jawab Andria cengar-cengir
dihadapan Mandala. "Oke." Jawab Mandala singkat, lalu memilih
berjalan lebih dulu. Andria mengikuti, tapi Vero masih terdiam ditempatnya.
"Woooi... Ayo baliiiik."
Andria balik badan dan meraup wajah Vero yang
terdiam itu. Lalu Andria kembali menarik tangan Vero tanpa berniat melepaskan
hingga ke parkiran nanti. Vero memilih pasrah. Begitu sampai di parkiran,
Andria langsung melepas tangan Vero. Dengan datarnya, Vero kembali mencoba
menggoda Andria. "Lah, kok dilepasin tangan gue? Kirain mau narik gue
sampe rumah." Andria kontan dibuatnya ternganga saking kesalnya.
"Masih mau pulang dengan selamat
nggak?" Ancam Andria. Vero lunglai seketika. Sambil tersenyum-senyum
memelas Vero menghamba kepada Andria. "Yaaa, jangan dong. Mau pulang naik
apa jam segini. Eh, salah deh... Mau bayar pake apa gue? Mana gue laper banget.
Mau makan nggak punya duit. Mau ngutang, tengsin. Masa kece-kece begini kere.
Malu tahu." Jawab Vero memelas.
Vero tertawa dalam hati melihat ekspresi Andria
yang berubah sedikit iba... Sedikiiiiit, kagak banyak-banyak. Terbukti
urat-urat disekitar leher Andria masih tegang seperti menahan sisa emosi.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Vero sudah menghabiskan 2 mangkok bakso
di kantin belakang. "Laper tahu, gue." Keluh Vero pura-pura.
"Jangan ngeluh mulu. Lagian siapa suruh nebeng gue tadi." ujar
Andria.
"Astaga... Kagak baik, nebengin orang tapi
nggak ikhlas. Diseruduk banteng lho si ciko-ciko vespa tersayang lo ini."
Tandas Vero tidak patah arang. "Coki-cokiiiiii... Hobi banget sih ganti
nama vespa gue. Lagian yah, kalo vespa gue sampe diseruduk sama banteng. Gue
seruduk balik bantengnya." Sahut Andria sambil melototi Vero. "Ih,
ganas amat sih lo. Segala bantenglah mau diseruduk. Ckckck..." Sahut Vero
bergidik ngeri.
Entah mengapa keakraban yang terhidang didepan
mata Mandala agak sedikit membuat dirinya merasa tak nyaman. Andria dan
temannya itu memang seperti tom and jerry di film-film kartun. Lebih banyak
memperdebatkan dan mempermasalahkan hal kecil. Tapi, justru karena percakapan
alami dari perdebatan itulah yang membuat Mandala khawatir.
Andria tidak pernah sengotot itu pada orang
lain. Untuk pertama kalinya, Mandala melihat kengototan itu begitu berapi-api
seolah-olah Andria enggan ditumpangi anak itu, tapi di sisi lain dia tetap
mengizinkan anak itu untuk tetap berada disekitarnya. Mandala akhirnya
melakukan intervensi terhadap perdebatan itu. "An, lo masih lama
disini?" Tanya Mandala pelan menatap Andria lalu ganti ke orang
disebelahnya itu.
"Nggaklah, Mas. Mau langsung balik. Cuma
ini... temen gue agak ribet. Biasa baru bangun. Arwahnya satu lagi masih
nyangsang di pohon toge." jawab Andria melucu. "Temen lo?"
Mandala bertanya sekaligus memberi penekanan pada kata "teman".
"Oh iya, lupa gue kenalin ya. Kenalin, Mas. Temen gue, Vero." Andria
memperkenalkan Vero ke Mandala. Mandala mengulurkan tangannya ke arah Vero.
"Mandala." Vero terlihat membalas.
"Vero, Mas." Balas Vero yang
tiba-tiba dihinggapi tatapan aneh dari sang lawan bicara. "Ya udah,
hati-hati ya, An. Gue balik duluan. Duluan, Ver." Sahut Mandala berpamitan
dan langsung masuk kedalam mobilnya. Tak lama mobil itu pun perlahan
menghilang. Andria sudah mengenakan helmnya. Sudah siap juga di balik kemudi
vespanya. Tapi tiba-tiba, Vero meminta Andria mundur ke jok belakang. "Gue
yang bawa ya. Gantian."
"Nggak usah, Ver." Tolak Andria
pelan. "Nggak apa-apa. Lo pasti capek tadi siaran. Gue mah enak udah
sempet tidur. Daripada ntar lo tiba-tiba ngantuk. Gue belum siaaaaap kalo
kenapa-kenapa. Gue aja ya pleeeaaaasee... Bayangin kalo lo ngantuk, terus kita
berdua nyusruk ke got. Apa kata duniaaaa...? Muka gueee nanti gimanaaaa? Gue
aja ya yang bawa." Ujar Vero panjang lebar, dari Andria simpati sampe jadi
eneg sendiri.
Andria masih juga menggeleng pertanda tidak.
Vero berdiri berhadapan dengan Andria persis di sisi sebelah depan motor vespa
Andria, Si Coki-coki. "Biar gue yang ngendarain si Coki-coki, ya?"
ujar Vero sekali lagi. Andria terkejut dan menurut begitu saja ketika Vero
memandanginya dengan serius. Andria tidak pernah merasakan Vero bicara dengan
itikad super tulus seperti ini. Andria akhirnya mundur ke jok belakang.
Sebenarnya, apa yang dikatakan Vero barusan ada
betulnya juga. Setiap pulang siaran, dia selalu dihinggapi rasa kantuk yang
luar biasa. Sudah beberapa kali, Andria harus mengerem tiba-tiba karena
menghindari mobil atau motor lain, bahkan selokan yang menganga. Vero duduk dan
mulai mengendarai vespa tersebut. Vespa itu melaju dengan kecepatan sedang.
Malam ini berbeda, pikir Andria. Meskipun
sampai sekarang, dia tidak habis pikir kenapa Vero mendadak aneh banget hari
ini. Tapi biarkanlah. Urusannya. Baginya, malam ini dia tidak perlu mengendarai
Si Coki-coki dengan keadaan mengantuk. Betul saja, tidak sampai sepuluh menit.
Andria sudah tertidur. Helmnya menyundul punggung Vero. Vero menyadari kalau
penumpangnya pasti tidur. Dihentikan laju vespanya.
"Jiiiiaaaah, dia tidur beneran."
sahut Vero yang menoleh kebelakang. Vero terpaksa membangunkannya. Andria
terbangun. "Hah? Kenapa? Kok berhenti? Mogok ya?" Cecar Andria.
"Nggak. Lo tidur tadi. Lo pegangan ke gue aja kalo memang ngantuk."
ujar Vero. "Nggak ah." Jawab Andria. "Minimal tepian jaket gue
deh. Biar gue bisa tahu lo masih dibelakang gue. Gue ngeri lo jatuh, An."
Balas Vero. Andria mengangguk kemudian.
Andria memegang tepian jaket Vero. Perjalanan
pun dilanjutkan. Vero dan Andria pulang mengendarai Si Coki-coki. Andria bahkan
sudah pergi ke pulau mimpi lagi. Vero pun tahu itu. Pegangan di tepian jaketnya
pun melemah. Vero akhirnya mengurangi kecepatan laju vespanya. Dia tidak berani
mengambil tindakan inisiatif dengan melingkarkan tangan Andria ke perutnya.
Bisa-bisa, Andria berpikiran negatif terhadapnya.
Dan Vero tetap mencoba menghormati Andria. Malam ini
adalah malam sesuatu bagi Vero. Bagaimana tidak, Vero bisa sedikit berdamai
dengan lawan berdebatnya ini. Dia juga akhirnya mengetahui rahasia Andria yang
mungkin cuma satu-satunya teman disekolahnya yang tahu. Vero sumringah sendiri
di balik kemudinya. Dia bersenandung sendiri membingkai perjalanan malam ini.
■■■■
No comments:
Post a Comment