Monday, 30 June 2014

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 12)

Part 12

DI BALIK MATA DUSTA


Mandala akhirnya sampai di sekolah Nadala. Mandala langsung turun dan menyambangi Pak Satpam yang sedang duduk manis di pos penjagaannya di ujung parkiran sekolah. Mandala langsung mengutarakan maksud kedatangannya untuk menjemput Nadala yang sedang sakit. Pak Satpam segera memberi arahan kepada Mandala agar dapat menemukan ruangan UKS yang dimaksudnya. "Makasih ya, Pak. Saya masuk dulu." ujar Mandala sopan.

Mandala berjalan mengikuti petunjuk arah yang telah diberikan oleh Pak Satpam tadi. Sesekali dia menengok untuk memastikan apakah dirinya sudah kian dekat dengan ruangan UKS. Sambil berjalan, dia mengeluarkan handphone-nya dan lalu segera menekan nomor Nadala. "Nad..." sapa Mandala. "Mas udah sampe nih. Kamu masih sanggup jalan sendiri nggak?" lanjutnya lagi. Mandala mendengarkan jawaban Nadala dengan seksama.

Nona yang belum lama datang membawa tas Nadala ke ruang UKS, kemudian ikut nimbrung dalam obrolan antara Nadala dan Prisma. Ditengah obrolan itu, tiba-tiba handphone Nadala berdering. Handphone itu tergeletak di atas meja. Prisma sengaja meletakkan benda itu disana mengingat tadi saat Nadala yang pingsan hendak digotong ke atas tempat tidur oleh Andria, handphone itu terjatuh dari kantong roknya.

"Handphone gue mana ya, Non?" Nadala mencari-cari disaku roknya. "Nih, handphone lo. Sorry, tadi gue pindahin kesini." Prisma mengambil handphone tersebut dan segera memberikan kepada pemiliknya. Sekilas Prisma sempat melihat nama yang tercantum dalam panggilan masuk handphone Nadala. Mandala. Nadala mengangkat telepon dari Kakaknya. "Iya, Mas. Aku masih sanggup kok. Lagian di UKS masih ada Nona sama Kak Prisma."

Tak lama kemudian, Mandala muncul dari balik pintu. Nadala melambaikan tangan ke arah kakaknya. Nona dan Prisma menoleh ke sumber lambaian Nadala. "Eh, ada Mas Mandala." sapa Nona ramah. "Hai, Non." balas Mandala. Mandala ganti mengalihkan fokusnya ke Prisma. "Apa kabar, Pris?" tandas Mandala pelan tapi dalam. "Baik, Mas." jawab Prisma mencoba senatural mungkin. Mandala tak terlalu menggubris jawaban Prisma.

Mandala berjalan mendekat ke Nadala, Nona dan Prisma memberi jalan. "Mas Mandaaa..." Sapa Nadala manja. "Udah mendingan kamu, Dek? Demam nggak?" tanya Mandala yang sambil menempelkan telapak tangannya ke kening dan leher Nadala seraya memastikan adiknya tidak dalam keadaan demam. "Tapi kamu udah nggak demam, kok." lanjut Mandala lagi. "Ih lebai deh, Mas. Aku tuh cuma kecapean aja." sahut Nadala membela diri.

"Iya deh, yang kecapean. Makanya kalo punya kesibukan jangan sampe ngalahin sibuknya presiden. Pingsan kan jadinya ya, Non. Jagoan pingsan. Ahahaha..." Goda Mandala sambil mencari dukungan kepada Nona. "Hahaha... Emang tuh, Mas. Bandel dibilangin suruh jangan capek-capek. Aku kan jadi repot." timpal Nona. "Mmmhh... Nggak ikhlas ceritanya kalian. Oke, aku sama Kak Prisma aja kalo begitu." sahut Nadala merajuk.

"Modus banget lo, Nad." cibir Nona sambil mencubit paha kiri Nadala. Nona paham sekali maksud kata-kata Nadala barusan. "Apa? Modus apa? Bagian mana yang modus?" dalih Nadala sambil melotot ke arah Nona sembari memberi kode 'jangan ember lo' yang keluar amat sangat pelan dari bibirnya. "Modus apa?" tanya Mandala penasaran. "Haha... Nggak ada, asal jeplak aku." sangkal Nona. "Ya, udah. Pulang, Mas." ajak Nadala.

"Nad, kamu ke mobil duluan ya. Mas, mau ke toilet dulu." ujar Mandala. "Oke." jawab Nadala singkat. "Nona yang cantiknya tiada terkira... anterin ke parkiran ya." Nadala lalu merayu Nona untuk menemani dirinya ke parkiran sekolah. "Deuh manja bener." tandas Nona yang menjitak pelan kepala Nadala. "Bantuin orang lagi sakit dapet pahala lho." Nadala melancarkan rayuannya. "Preeet.." sahut Nona sebagai ungkapan protes.

Sepeninggalan Nadala dan Nona, ternyata Mandala tidak benar-benar berniat ke toilet. Mandala justru ingin membereskan sesuatu dengan Prisma. Saat Prisma hendak pamit untuk kembali ke kelas, Mandala terpaksa mencekal tangannya. "Bentar, Pris. Gue pingin ngomong sama lo." kata Mandala terang-terangan. Prisma akhirnya mengurungkan niatnya untuk kembali ke kelas. "Ada apa lagi, Mas?" tanya Prisma dengan raut muka tegang.

"Gue cuma pingin ingetin lo, tolong lo ikutin aturan main yang udah kita sepakati. Gue minta lo jagain adik gue. Lo kecolongan, see... dia pingsan. Oke bisa gue terima soal keterbatasan lo dalam mengawasi adik gue. Tapi kalo soal urusan hati. Kalo lo nggak bisa masuk terlalu jauh, lo lebih baik mundur dari sekarang. Sebelum adik gue beneran jatuh hati sama lo. Paham?" sahut Mandala mengingatkan. Prisma tersentak.

Prisma benar-benar dibuat kelu. Dia tidak yakin betul dengan perasaannya belakangan ini. Apakah perasaan yang dialaminya itu semacam simpati atau rasa kasihan atau mungkin dia sudah pada level yang Mandala harapkan, yaitu jatuh hati. Prisma benar-benar tidak bisa menjelaskan itu apa. Tidak hanya Prisma yang tersentak kaget, namun seseorang yang menjadi penguping dadakan pun seperti disambar petir di siang bolong.

Nadala mendengar semua yang dibicarakan antara kakaknya dan Kak Prisma, ketika satu langkahnya terpaksa membawanya kembali ke ruang UKS. Nadala kembali untuk mengambil dasinya yang tertinggal. Bukan dasi yang berhasil dia dapat, melainkan kenyataan yang menyesakkan jiwa. Jadi selama ini, semua yang terjadi padanya hanya sebuah rekayasa. Rekayasa yang disusun apik oleh kakaknya sendiri dan diperankan oleh Kak Prisma.

Pertemuan demi pertemuan yang selama ini dikira Nadala adalah sebuah kebetulan semata ternyata justru telah lebih dulu dibuatkan skenario oleh kakaknya. Tidak mungkin keramahan yang ditampilkan oleh Kak Prisma adalah bagian sandiwara itu. Dirinya adalah domba lugu yang jadi sasaran kesepakatan konyol yang entah apa. "Aku bukan boneka yang bisa kalian mainkan." ucap Nadala lirih lalu pergi tanpa keduanya sempat tahu.

Nadala berjalan cepat meninggalkan ruangan itu sambil menahan airmata yang sudah mengapung di sudut matanya. Berjalan semakin cepat dan cepat, hingga akhirnya dipaksanya untuk berlari agar cepat tiba di parkiran. Nadala baru menghentikan laju larinya begitu sampai dihadapan Nona. "Ketemu dasinya?" tanya Nona. Nadala menggelengkan kepalanya. "Kakak lo mana? Lama amat." Nona kembali bertanya. Nadala kembali menggeleng.

"Lah lo kenapa lagi? Galang geleng kayak orang bener aje." desak Nona yang penasaran karena Nadala hanya menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala. "Nona bawel. Nggak tahu apa orang lagi pusing. Masih aja ditanya-tanya." jawab Nadala tegas namun andai Nona tahu bahwa bukan itu penyebab utamanya, bukan itu yang membuat dia malas menjawab rentetan pertanyaannya. Andai Nona tahu kalau hatinya remuk saat ini.

"Duile... Memblenya nggak kuat. Maaf-maaf... Ya udah, sabar ya... Bentaran kakak lo juga pasti nongol. Eh, Nad... Gue tinggal disini sendirian nggak apa-apa kan? Gue mau balik ke kelas. Ntar gue dicariin lagi guru-guru yang ngajar." Sahut Nona yang sekalian izin pamit. "Iya, nggak apa-apa. Makasih ya, Non." jawab Nadala singkat. "Sama-sama. Cepet sembuh lo. Jangan lupa tiduuuur yang banyak." ujar Nona mengingatkan.

Tak lama kemudian, Mandala datang dengan wajah yang nampak biasa-biasa saja. Nadala menatap kakaknya dengan seksama. "Kok lama banget ke toiletnya, Mas?" todong Nadala seperti orang yang menyimpan bara api di dadanya. "Hah? Oh itu, Ngg... Itu... Ah, kamu kayak nggak tahu aja. Nyasar." kilah Mandala yang berusaha menghindari tatapan mata Nadala. Nadala menunggu manik mata kakaknya beradu pandang dengannya.

"Oooh... Nyasar..." Nadala mengulangi sebuah pernyataan kakaknya seperti hendak mempertegas bahwa kata-kata itu bisa menjadi kunci yang akan membuka pintu kebohongan kakaknya. "Iya, nyasar. Eh, ayo... Kamu kan musti buru-buru istirahat." Mandala mengalihkan percakapan mereka barusan ke hal lain. Nadala akhirnya melihat kilat dari balik mata yang penuh dusta. Nadala tersenyum pahit tanpa kentara. Terluka. 

■■■■

No comments:

Post a Comment