Part 12
DI BALIK
MATA DUSTA
Mandala akhirnya sampai di sekolah Nadala.
Mandala langsung turun dan menyambangi Pak Satpam yang sedang duduk manis di
pos penjagaannya di ujung parkiran sekolah. Mandala langsung mengutarakan
maksud kedatangannya untuk menjemput Nadala yang sedang sakit. Pak Satpam
segera memberi arahan kepada Mandala agar dapat menemukan ruangan UKS yang
dimaksudnya. "Makasih ya, Pak. Saya masuk dulu." ujar Mandala sopan.
Mandala berjalan mengikuti petunjuk arah yang
telah diberikan oleh Pak Satpam tadi. Sesekali dia menengok untuk memastikan
apakah dirinya sudah kian dekat dengan ruangan UKS. Sambil berjalan, dia
mengeluarkan handphone-nya dan lalu segera menekan nomor Nadala. "Nad..."
sapa Mandala. "Mas udah sampe nih. Kamu masih sanggup jalan sendiri
nggak?" lanjutnya lagi. Mandala mendengarkan jawaban Nadala dengan
seksama.
Nona yang belum lama datang membawa tas Nadala
ke ruang UKS, kemudian ikut nimbrung dalam obrolan antara Nadala dan Prisma.
Ditengah obrolan itu, tiba-tiba handphone Nadala berdering. Handphone itu
tergeletak di atas meja. Prisma sengaja meletakkan benda itu disana mengingat
tadi saat Nadala yang pingsan hendak digotong ke atas tempat tidur oleh Andria,
handphone itu terjatuh dari kantong roknya.
"Handphone gue mana ya, Non?" Nadala
mencari-cari disaku roknya. "Nih, handphone lo. Sorry, tadi gue pindahin
kesini." Prisma mengambil handphone tersebut dan segera memberikan kepada
pemiliknya. Sekilas Prisma sempat melihat nama yang tercantum dalam panggilan
masuk handphone Nadala. Mandala. Nadala mengangkat telepon dari Kakaknya.
"Iya, Mas. Aku masih sanggup kok. Lagian di UKS masih ada Nona sama Kak
Prisma."
Tak lama kemudian, Mandala muncul dari balik
pintu. Nadala melambaikan tangan ke arah kakaknya. Nona dan Prisma menoleh ke
sumber lambaian Nadala. "Eh, ada Mas Mandala." sapa Nona ramah.
"Hai, Non." balas Mandala. Mandala ganti mengalihkan fokusnya ke
Prisma. "Apa kabar, Pris?" tandas Mandala pelan tapi dalam.
"Baik, Mas." jawab Prisma mencoba senatural mungkin. Mandala tak
terlalu menggubris jawaban Prisma.
Mandala berjalan mendekat ke Nadala, Nona dan
Prisma memberi jalan. "Mas Mandaaa..." Sapa Nadala manja. "Udah
mendingan kamu, Dek? Demam nggak?" tanya Mandala yang sambil menempelkan
telapak tangannya ke kening dan leher Nadala seraya memastikan adiknya tidak
dalam keadaan demam. "Tapi kamu udah nggak demam, kok." lanjut
Mandala lagi. "Ih lebai deh, Mas. Aku tuh cuma kecapean aja." sahut
Nadala membela diri.
"Iya deh, yang kecapean. Makanya kalo
punya kesibukan jangan sampe ngalahin sibuknya presiden. Pingsan kan jadinya
ya, Non. Jagoan pingsan. Ahahaha..." Goda Mandala sambil mencari dukungan
kepada Nona. "Hahaha... Emang tuh, Mas. Bandel dibilangin suruh jangan capek-capek.
Aku kan jadi repot." timpal Nona. "Mmmhh... Nggak ikhlas ceritanya
kalian. Oke, aku sama Kak Prisma aja kalo begitu." sahut Nadala merajuk.
"Modus banget lo, Nad." cibir Nona
sambil mencubit paha kiri Nadala. Nona paham sekali maksud kata-kata Nadala
barusan. "Apa? Modus apa? Bagian mana yang modus?" dalih Nadala
sambil melotot ke arah Nona sembari memberi kode 'jangan ember lo' yang keluar
amat sangat pelan dari bibirnya. "Modus apa?" tanya Mandala
penasaran. "Haha... Nggak ada, asal jeplak aku." sangkal Nona.
"Ya, udah. Pulang, Mas." ajak Nadala.
"Nad, kamu ke mobil duluan ya. Mas, mau ke
toilet dulu." ujar Mandala. "Oke." jawab Nadala singkat.
"Nona yang cantiknya tiada terkira... anterin ke parkiran ya." Nadala
lalu merayu Nona untuk menemani dirinya ke parkiran sekolah. "Deuh manja
bener." tandas Nona yang menjitak pelan kepala Nadala. "Bantuin orang
lagi sakit dapet pahala lho." Nadala melancarkan rayuannya.
"Preeet.." sahut Nona sebagai ungkapan protes.
Sepeninggalan Nadala dan Nona, ternyata Mandala
tidak benar-benar berniat ke toilet. Mandala justru ingin membereskan sesuatu
dengan Prisma. Saat Prisma hendak pamit untuk kembali ke kelas, Mandala
terpaksa mencekal tangannya. "Bentar, Pris. Gue pingin ngomong sama
lo." kata Mandala terang-terangan. Prisma akhirnya mengurungkan niatnya
untuk kembali ke kelas. "Ada apa lagi, Mas?" tanya Prisma dengan raut
muka tegang.
"Gue cuma pingin ingetin lo, tolong lo
ikutin aturan main yang udah kita sepakati. Gue minta lo jagain adik gue. Lo
kecolongan, see... dia pingsan. Oke bisa gue terima soal keterbatasan lo dalam
mengawasi adik gue. Tapi kalo soal urusan hati. Kalo lo nggak bisa masuk
terlalu jauh, lo lebih baik mundur dari sekarang. Sebelum adik gue beneran
jatuh hati sama lo. Paham?" sahut Mandala mengingatkan. Prisma tersentak.
Prisma benar-benar dibuat kelu. Dia tidak yakin
betul dengan perasaannya belakangan ini. Apakah perasaan yang dialaminya itu
semacam simpati atau rasa kasihan atau mungkin dia sudah pada level yang
Mandala harapkan, yaitu jatuh hati. Prisma benar-benar tidak bisa menjelaskan
itu apa. Tidak hanya Prisma yang tersentak kaget, namun seseorang yang menjadi
penguping dadakan pun seperti disambar petir di siang bolong.
Nadala mendengar semua yang dibicarakan antara
kakaknya dan Kak Prisma, ketika satu langkahnya terpaksa membawanya kembali ke
ruang UKS. Nadala kembali untuk mengambil dasinya yang tertinggal. Bukan dasi
yang berhasil dia dapat, melainkan kenyataan yang menyesakkan jiwa. Jadi selama
ini, semua yang terjadi padanya hanya sebuah rekayasa. Rekayasa yang disusun
apik oleh kakaknya sendiri dan diperankan oleh Kak Prisma.
Pertemuan demi pertemuan yang selama ini dikira
Nadala adalah sebuah kebetulan semata ternyata justru telah lebih dulu
dibuatkan skenario oleh kakaknya. Tidak mungkin keramahan yang ditampilkan oleh
Kak Prisma adalah bagian sandiwara itu. Dirinya adalah domba lugu yang jadi
sasaran kesepakatan konyol yang entah apa. "Aku bukan boneka yang bisa
kalian mainkan." ucap Nadala lirih lalu pergi tanpa keduanya sempat tahu.
Nadala berjalan cepat meninggalkan ruangan itu
sambil menahan airmata yang sudah mengapung di sudut matanya. Berjalan semakin
cepat dan cepat, hingga akhirnya dipaksanya untuk berlari agar cepat tiba di
parkiran. Nadala baru menghentikan laju larinya begitu sampai dihadapan Nona.
"Ketemu dasinya?" tanya Nona. Nadala menggelengkan kepalanya.
"Kakak lo mana? Lama amat." Nona kembali bertanya. Nadala kembali
menggeleng.
"Lah lo kenapa lagi? Galang geleng kayak
orang bener aje." desak Nona yang penasaran karena Nadala hanya menjawab
pertanyaannya dengan gelengan kepala. "Nona bawel. Nggak tahu apa orang
lagi pusing. Masih aja ditanya-tanya." jawab Nadala tegas namun andai Nona
tahu bahwa bukan itu penyebab utamanya, bukan itu yang membuat dia malas menjawab
rentetan pertanyaannya. Andai Nona tahu kalau hatinya remuk saat ini.
"Duile... Memblenya nggak kuat.
Maaf-maaf... Ya udah, sabar ya... Bentaran kakak lo juga pasti nongol. Eh,
Nad... Gue tinggal disini sendirian nggak apa-apa kan? Gue mau balik ke kelas.
Ntar gue dicariin lagi guru-guru yang ngajar." Sahut Nona yang sekalian
izin pamit. "Iya, nggak apa-apa. Makasih ya, Non." jawab Nadala
singkat. "Sama-sama. Cepet sembuh lo. Jangan lupa tiduuuur yang
banyak." ujar Nona mengingatkan.
Tak lama kemudian, Mandala datang dengan wajah
yang nampak biasa-biasa saja. Nadala menatap kakaknya dengan seksama. "Kok
lama banget ke toiletnya, Mas?" todong Nadala seperti orang yang menyimpan
bara api di dadanya. "Hah? Oh itu, Ngg... Itu... Ah, kamu kayak nggak tahu
aja. Nyasar." kilah Mandala yang berusaha menghindari tatapan mata Nadala.
Nadala menunggu manik mata kakaknya beradu pandang dengannya.
"Oooh... Nyasar..." Nadala mengulangi sebuah
pernyataan kakaknya seperti hendak mempertegas bahwa kata-kata itu bisa menjadi
kunci yang akan membuka pintu kebohongan kakaknya. "Iya, nyasar. Eh,
ayo... Kamu kan musti buru-buru istirahat." Mandala mengalihkan percakapan
mereka barusan ke hal lain. Nadala akhirnya melihat kilat dari balik mata yang
penuh dusta. Nadala tersenyum pahit tanpa kentara. Terluka.
No comments:
Post a Comment