Monday, 30 June 2014

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 15)

Part 15

RINDU BERKALANG GENGSI


Nadala masih saja menutup pintu kamarnya meskipun Mandala sudah mengetuknya berkali-kali. Mandala terus meminta maaf atas semua sandiwara yang dilakukannya pada adiknya. Sang Ibu akhirnya turut campur untuk menengahi pertengkaran kedua buah hatinya itu. “Ya udah, biarin adikmu nenangin dirinya dulu. Jangan diganggu dulu dia.” Ibu memberikan saran kepada Mandala. Mandala tahu kesalahannya teramat besar. Wajar jika kemarahan Nadala tidak bisa surut seketika. Akhirnya dibiarkan luapan kemarahan itu terobati dengan kesibukan adiknya meski itu berarti Mandala akan semakin jarang berkomunikasi dengan adiknya dirumah.

Nadala memang sebentar lagi akan benar-benar disibukkan dengan aktivitas barunya. Tadi siang, Nadala terus saja mendapatka pengumuman bahwa dia terpilih menjadi salah satu finalis untuk ratu peri. Nadala harus bersaing dengan tiga kandidat lainnya yang juga akan memperebutkan posisi yang dia inginkan. Namun, rasa kebahagiaannya tidak lengkap. Tidak seperti biasanya dimana ia akan langsung berteriak kegirangan kepada sang kakak saat ia mendapatkan sebuah kabar gembira. Sepi dan Nadala mulai merasa kehilangan momen curhat dengan kakaknya. Tapi rasa marahnya belum bisa ia redakan. Dan hal itu yang menghalanginya untuk bertegur sapa sehingga kali ini terpaksa Nadala rayakan sendirian.

Sementara, ketika Nadala sedang beristirahat dari kesibukannya, saat itulah ia didera ingatan tentang Prisma. Ia tidak pernah melewatkan untuk selalu memesan segelas es jeruk. Bukan semata-mata karena ia suka sekali minuman itu tapi karena itulah satu-satunya cara Nadala mengenang Prisma. Prisma menyukai es jeruk sama sepertinya. Entah bagian itu juga sebuah sandiriwara atau bukan, hanya saja... Ia menyukai sedikit cerita dibalik cara Prisma menyapanya dahulu disini, tepat ditempatnya sedang duduk. Cara bicaranya yang seakan mengalir tulus menyapanya. Tapihatinya masih sakit, nyerinya terkadang seperti sesuatu yang sedang membengkak dan menyumbat jalan nafasnya. Nadala menghela nafasnya panjang lalu menyeruput es jeruk hingga habis, berharap setelah ini hatinya lebih lega dan dingin.

Prisma melihat kehadiran Nadala dikantin. Ingin rasanya menghambur kedekatnya. Namun, langkahnya terhenti saat mengingat pesan Mandala untuk memberi ruang bagi Nadala untuk sendiri. Ia hanya berdiri memandangi sosok itu. Mata itu tampak tak berbinar seperti yang selama ini menyapanya. Tatapan Nadala hanya tertuju pada segelas es jeruk dihadapannya. Maaf, Nad. Aku sudah bikin kamu sakit. Aku ingin sekali menemani kamu duduk disitu seperti dulu. Ingin sekali...

Ditempat yang berbeda namun dengan kondisi yang sama menyedihkannya, Vero nampaknya mulai kena batunya atas pilihannya waktu itu untuk mengerjai Andria. Andria justru makin menjauhinya. Sudah beberapa hari ini, ia bahkan tidak melihat batang hidung cewek itu di sekolah. Tapi setiap ia bertanya pada Gani soal keberadaan Andria, Gani selalu menjawab Andria masuk sekolah. Ini aneh. Andria masuk tapi mengapa ia tak menangkap wujud kehadirannya di sekolah. “Dia beneran masuk, Gan?” vero memastikan sekali lagi. “Iye bawel. Masuk kok. Lo liat aja tuh tasnya disana. Berarti doi masuk, kan.” Jawab Gani sambil menunjuk tas Andria yang tersampir di pinggir bangku tempat Andria biasa duduk.

“Kok gue nggak pernah ngeliat dia sih beberapa hari ini?” Vero menggerutu kesal. “Ye mane gue tau. Kangen ye? Hahaha... Lagian sih elo tambeng. Udah gue bilang kan waktu itu mending elo langsung kejar Andria dan jelasin semuanya. Eh, elo malah milih ngerjain anak orang. Baru tahu rasa, kan. Emang enak keadaannya jadi tambah runyam begini. Gue sih sebagai temen sih ikut bersolidaritas,” Gani menjeda kata-katanya, kemudian melanjutkannya sambil menepuk-nepuk bahu Vero, “turut berbelasungkawa terhadap keberlangsungan nasib elo, Sobat.” Vero berdecak sebal, “Rese banget sih, Lo. Bukan dibantuin kek. Iye, gue tau gue salah kemarin. Cuma nasi udah jadi bubur, gimana dong?”

“Bentar... gue coba tanya tukang bubur disebelah rumah gue dulu gimana caranya mengolah nasi yang udah terlanjur jadi bubur.” Sahut Gani dengan ekspresi serius. Vero menganga mendengar kata-kata Gani. “Jangan sampe pipi elo gue kasih kenang-kenangan cap sepatu gue ya.” Vero mengangkat sebelah kakinya dan bersiap-siap mengambil sepatu untuk dilempar ke arah pipi Gani. “Weits, kalem. Gitu aja marah. Vero... Vero... makanya jangan belagu. Better, lo buruan jelasin deh sebelum bener-bener makin kayak benang kusut. Kalo tiba-tiba ada cowok lain yang ngambil kesempatan dan mengunting dalam lipatan gimana hayooo? Secinta-cinta cewek sama cowok, dia pasti akan luluh juga sama perhatian cowok lain yang jauh lebih peduli sama mereka. Pokoknya, jangan sampe pepatah kuno ‘pagi dibuang-buang, petang dikejar-kejar’ itu kejadian sama elo deh.” Tandas Gani serius. “Terus Andria dimana sekarang?” tanya Vero. Gani mengangkat bahu pertanda dia juga tak tahu.

Dan ternyata, makhluk yang sedang dicari oleh Vero tengah berada disuatu tempat. Andria sedang berusaha menghilang. Ia memilih menghindari Vero lagi. Baginya ini akan menjadi hal yang berat. Ia bahkan benar-benar lebih banyak menghabiskan waktu istirahatnya di tempat yang tidak akan mempertemukannya dengan Vero. Mungkin kekanak-kanakan, cuma ia tidak tahu bagaimana mengatasi letupan rasa ingin tahu terhadap kabar Vero yang terus membuncah. Vero seperti jelmaan gatot kaca dihidupnya. Selalu ada disekitarnya, memberikan rasa aman yang bahkan tak pernah dimintanya. Vero laksana sinyal yang menguatkan setiap getir pelangi yang mencoba menerobos keluar seusai badai. Pelangi itu dirinya. Vero memberikan semua untuknya, kecuali mungkin hatinya. Dan itu kesalahan.

Ia terduduk diatas vespa coklatnya. Lagi-lagi Andria mencurahkan rasa sedihnya pada angin yang selalu setia membelai lembut kulit wajahnya. Si coki-coki juga bahkan terkadang dianggapnya hidup dan bisa mendengar keluh kesahnya. “Cok, gue patah hati. Makhluk yang pernah sabotase jok belakang lo itu bikin gue patah hati.” Andria memeluk stang vespanya seraya meratapi nasibnya yang nelangsa. Diusap-usapnya bodi vespa itu berulang-ulang sambil sesekali menyeka debu yang menempel diatasnya. “Enak ya jadi elo, Cok. Kalo aki elo soak, gue tinggal dorong elo ke bengkel. Tunggu beberapa jam, dan elo hidup lagi. Nah, gue... Emang ada gitu bengkel reparasi hati?” Andria menghela nafas panjang. “Bego banget sih gue, Cok. Pake acara jatuh hati segala.”

Andria kemudian melanjutkan sesi galaunya dengan terus mengajak bicara motor vespanya, “Cok, cinta itu apaan sih? Gue nggak pernah tau gimana cara ngadepin cinta. Katanya cinta itu cukup dirasa aja, Cok. Beneran kayak gitu doang? Apa nggak egois tuh? Dirasa tapi nggak dijaga. Tapi lo tahu kan, Cok, manusia itu berubah. Nah, cinta itu bersemayam didalam jiwa manusia. Artinya selalu ada peluang buat cinta itu ikut berubah kan, Cok? Apa nggak perlu dipupuk dengan kepercayaan dan kesetiaan sebagai bentuk penjagaan si cinta? Nggak taulah, Cok. Buat gue, cinta itu kayak lilin yang baru gue tiup pas lampu nyala. Kehadiran gue selesai waktu ada cahaya yang lebih terang menyergap kegelapan hatinya dia. Tapi gue nggak sanggup jadi lampu sorot yang biasa menerangi panggung-panggung opera. Gue cuma lilin, Cok. Sementara gelapnya semesta terlalu luas untuk gue bendung dengan cahaya gue. Coki-cokiiiiii... gue marah sama dia tapi gue kangen tapi gue juga tahu dia jahat. Gimana dong, Cok???” Andria mengacak-acak rambutnya, kesal. 

■■■■

No comments:

Post a Comment