Part 15
RINDU
BERKALANG GENGSI
Nadala masih saja menutup pintu kamarnya
meskipun Mandala sudah mengetuknya berkali-kali. Mandala terus meminta maaf
atas semua sandiwara yang dilakukannya pada adiknya. Sang Ibu akhirnya turut
campur untuk menengahi pertengkaran kedua buah hatinya itu. “Ya udah, biarin
adikmu nenangin dirinya dulu. Jangan diganggu dulu dia.” Ibu memberikan saran
kepada Mandala. Mandala tahu kesalahannya teramat besar. Wajar jika kemarahan
Nadala tidak bisa surut seketika. Akhirnya dibiarkan luapan kemarahan itu
terobati dengan kesibukan adiknya meski itu berarti Mandala akan semakin jarang
berkomunikasi dengan adiknya dirumah.
Nadala memang sebentar lagi akan benar-benar
disibukkan dengan aktivitas barunya. Tadi siang, Nadala terus saja mendapatka
pengumuman bahwa dia terpilih menjadi salah satu finalis untuk ratu peri.
Nadala harus bersaing dengan tiga kandidat lainnya yang juga akan memperebutkan
posisi yang dia inginkan. Namun, rasa kebahagiaannya tidak lengkap. Tidak
seperti biasanya dimana ia akan langsung berteriak kegirangan kepada sang kakak
saat ia mendapatkan sebuah kabar gembira. Sepi dan Nadala mulai merasa
kehilangan momen curhat dengan kakaknya. Tapi rasa marahnya belum bisa ia
redakan. Dan hal itu yang menghalanginya untuk bertegur sapa sehingga kali ini
terpaksa Nadala rayakan sendirian.
Sementara, ketika Nadala sedang beristirahat
dari kesibukannya, saat itulah ia didera ingatan tentang Prisma. Ia tidak
pernah melewatkan untuk selalu memesan segelas es jeruk. Bukan semata-mata
karena ia suka sekali minuman itu tapi karena itulah satu-satunya cara Nadala
mengenang Prisma. Prisma menyukai es jeruk sama sepertinya. Entah bagian itu
juga sebuah sandiriwara atau bukan, hanya saja... Ia menyukai sedikit cerita
dibalik cara Prisma menyapanya dahulu disini, tepat ditempatnya sedang duduk.
Cara bicaranya yang seakan mengalir tulus menyapanya. Tapihatinya masih sakit,
nyerinya terkadang seperti sesuatu yang sedang membengkak dan menyumbat jalan
nafasnya. Nadala menghela nafasnya panjang lalu menyeruput es jeruk hingga
habis, berharap setelah ini hatinya lebih lega dan dingin.
Prisma melihat kehadiran Nadala dikantin. Ingin
rasanya menghambur kedekatnya. Namun, langkahnya terhenti saat mengingat pesan
Mandala untuk memberi ruang bagi Nadala untuk sendiri. Ia hanya berdiri
memandangi sosok itu. Mata itu tampak tak berbinar seperti yang selama ini
menyapanya. Tatapan Nadala hanya tertuju pada segelas es jeruk dihadapannya. Maaf, Nad. Aku sudah bikin kamu sakit. Aku
ingin sekali menemani kamu duduk disitu seperti dulu. Ingin sekali...
Ditempat yang berbeda namun dengan kondisi yang
sama menyedihkannya, Vero nampaknya
mulai kena batunya atas pilihannya waktu itu untuk mengerjai Andria. Andria
justru makin menjauhinya. Sudah beberapa hari ini, ia bahkan tidak melihat
batang hidung cewek itu di sekolah. Tapi setiap ia bertanya pada Gani soal
keberadaan Andria, Gani selalu menjawab Andria masuk sekolah. Ini aneh. Andria
masuk tapi mengapa ia tak menangkap wujud kehadirannya di sekolah. “Dia beneran
masuk, Gan?” vero memastikan sekali lagi. “Iye bawel. Masuk kok. Lo liat aja
tuh tasnya disana. Berarti doi masuk, kan.” Jawab Gani sambil menunjuk tas
Andria yang tersampir di pinggir bangku tempat Andria biasa duduk.
“Kok gue nggak pernah ngeliat dia sih beberapa
hari ini?” Vero menggerutu kesal. “Ye mane gue tau. Kangen ye? Hahaha... Lagian
sih elo tambeng. Udah gue bilang kan waktu itu mending elo langsung kejar
Andria dan jelasin semuanya. Eh, elo malah milih ngerjain anak orang. Baru tahu
rasa, kan. Emang enak keadaannya jadi tambah runyam begini. Gue sih sebagai
temen sih ikut bersolidaritas,” Gani menjeda kata-katanya, kemudian
melanjutkannya sambil menepuk-nepuk bahu Vero, “turut berbelasungkawa terhadap
keberlangsungan nasib elo, Sobat.” Vero berdecak sebal, “Rese banget sih, Lo.
Bukan dibantuin kek. Iye, gue tau gue salah kemarin. Cuma nasi udah jadi bubur,
gimana dong?”
“Bentar... gue coba tanya tukang bubur
disebelah rumah gue dulu gimana caranya mengolah nasi yang udah terlanjur jadi
bubur.” Sahut Gani dengan ekspresi serius. Vero menganga mendengar kata-kata
Gani. “Jangan sampe pipi elo gue kasih kenang-kenangan cap sepatu gue ya.” Vero
mengangkat sebelah kakinya dan bersiap-siap mengambil sepatu untuk dilempar ke
arah pipi Gani. “Weits, kalem. Gitu aja marah. Vero... Vero... makanya jangan
belagu. Better, lo buruan jelasin deh
sebelum bener-bener makin kayak benang kusut. Kalo tiba-tiba ada cowok lain
yang ngambil kesempatan dan mengunting dalam lipatan gimana hayooo?
Secinta-cinta cewek sama cowok, dia pasti akan luluh juga sama perhatian cowok
lain yang jauh lebih peduli sama mereka. Pokoknya, jangan sampe pepatah kuno
‘pagi dibuang-buang, petang dikejar-kejar’ itu kejadian sama elo deh.” Tandas
Gani serius. “Terus Andria dimana sekarang?” tanya Vero. Gani mengangkat bahu
pertanda dia juga tak tahu.
Dan ternyata, makhluk yang sedang dicari oleh
Vero tengah berada disuatu tempat. Andria sedang berusaha menghilang. Ia
memilih menghindari Vero lagi. Baginya ini akan menjadi hal yang berat. Ia
bahkan benar-benar lebih banyak menghabiskan waktu istirahatnya di tempat yang
tidak akan mempertemukannya dengan Vero. Mungkin kekanak-kanakan, cuma ia tidak
tahu bagaimana mengatasi letupan rasa ingin tahu terhadap kabar Vero yang terus
membuncah. Vero seperti jelmaan gatot kaca dihidupnya. Selalu ada disekitarnya,
memberikan rasa aman yang bahkan tak pernah dimintanya. Vero laksana sinyal
yang menguatkan setiap getir pelangi yang mencoba menerobos keluar seusai
badai. Pelangi itu dirinya. Vero memberikan semua untuknya, kecuali mungkin
hatinya. Dan itu kesalahan.
Ia terduduk diatas vespa coklatnya. Lagi-lagi
Andria mencurahkan rasa sedihnya pada angin yang selalu setia membelai lembut
kulit wajahnya. Si coki-coki juga bahkan terkadang dianggapnya hidup dan bisa
mendengar keluh kesahnya. “Cok, gue patah hati. Makhluk yang pernah sabotase
jok belakang lo itu bikin gue patah hati.” Andria memeluk stang vespanya seraya
meratapi nasibnya yang nelangsa. Diusap-usapnya bodi vespa itu berulang-ulang
sambil sesekali menyeka debu yang menempel diatasnya. “Enak ya jadi elo, Cok.
Kalo aki elo soak, gue tinggal dorong elo ke bengkel. Tunggu beberapa jam, dan
elo hidup lagi. Nah, gue... Emang ada gitu bengkel reparasi hati?” Andria
menghela nafas panjang. “Bego banget sih gue, Cok. Pake acara jatuh hati
segala.”
Andria kemudian melanjutkan sesi galaunya dengan terus
mengajak bicara motor vespanya, “Cok, cinta itu apaan sih? Gue nggak pernah tau
gimana cara ngadepin cinta. Katanya cinta itu cukup dirasa aja, Cok. Beneran
kayak gitu doang? Apa nggak egois tuh? Dirasa tapi nggak dijaga. Tapi lo tahu
kan, Cok, manusia itu berubah. Nah, cinta itu bersemayam didalam jiwa manusia.
Artinya selalu ada peluang buat cinta itu ikut berubah kan, Cok? Apa nggak
perlu dipupuk dengan kepercayaan dan kesetiaan sebagai bentuk penjagaan si
cinta? Nggak taulah, Cok. Buat gue, cinta itu kayak lilin yang baru gue tiup
pas lampu nyala. Kehadiran gue selesai waktu ada cahaya yang lebih terang
menyergap kegelapan hatinya dia. Tapi gue nggak sanggup jadi lampu sorot yang
biasa menerangi panggung-panggung opera. Gue cuma lilin, Cok. Sementara
gelapnya semesta terlalu luas untuk gue bendung dengan cahaya gue.
Coki-cokiiiiii... gue marah sama dia tapi gue kangen tapi gue juga tahu dia
jahat. Gimana dong, Cok???” Andria mengacak-acak rambutnya, kesal.
No comments:
Post a Comment