Monday, 30 June 2014

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 13)

Part 13

MISTERI APITAN TANGAN MESRA


Sebuah mobil baru saja terparkir baik di parkiran suatu rumah. Seorang laki-laki keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa karena hendak membukakan pintu untuk seseorang lainnya yang masih duduk didalam. Namun sebelum sampai di posisi, pintu itu justru sudah lebih dulu dibuka oleh orang yang ada didalamnya. Lalu orang itu berjalan masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan laki-laki yang hendak menolongnya barusan.

Mandala mematung mendapati Nadala berjalan begitu saja melewatinya tanpa mengucapkan sepatah katapun, bahkan sebentuk senyuman yang kerap dia berikan sebagai pengganti ucapan terima kasih pun tak ada. "Nad... Kamu kenapa sih?" tanya Mandala yang tiba-tiba sudah mengekor dibelakang adiknya. Nadala tak mengubris pertanyaan kakaknya. Mandala kembali bertanya. "Kamu kenapa, Dek? Kok daritadi diem aja?" desaknya lagi.

"Kepalaku pusing. Aku mau tidur, Mas." jawab Nadala singkat. "Bener cuma karena kurang tidur? Jangan-jangan lagi ada yang kamu sembunyiin. Aku hafal banget gelagatmu, Dek. Lagian perasaan tadi disana masih baik-baik. Kok sekarang aneh begini." ujar Mandala yang merasa ganjil dengan perubahan sikap Nadala yang mendadak itu. "Aku tidur dulu ya, Mas." sahut Nadala yang lalu segera menutup pintu kamarnya dan menguncinya.

Mandala terpaku di balik pintu kamar Nadala. Dia sungguh-sungguh dibuat kebingungan atas perubahan sikap adiknya yang drastis. "Nadala kenapaaa lagi?" keluhnya heran, "Aneh banget. Mandala akhirnya memilih berlalu dari sana. Dia menghampiri Ibunya yang lagi membuatkan bubur untuk Nadala. "Gimana adekmu, Mas? Kenapa dia tadi pingsan?" tanya sang ibu khawatir. "Cuma kecapean gara-gara kurang tidur, Bu." Jawab Mandala.

"Adekmu sekarang dimana? Ibu bikinin dia bubur ini." ujar sang ibu sembari mematikan kompor dan lalu menuangkan beberapa sendok bubur ke sebuah mangkok kaca. "Anaknya langsung ke kamar, Bu. Katanya mau tidur." jawab Mandala seadanya tanpa mencoba menceritakan keanehan apa yang sedang dia rasakan terhadap adiknya, semata-mata agar sang ibu tidak bertambah cemas. "Ya udah, nanti aja dikasihnya." ujar sang ibu.

"Kalau begitu, aku pamit lagi ya. Sore ini aku ada siaran trus malamnya ada meet and greet anak-anak penyiar di cafe apa gitu bu, aku lupa. Nanti aku kabarin lagi dimananya." ujar Mandala merangkul ibunya. "Kamu udah makan toh, Mas?" tanya sang ibu. "Udah, Bu. Tadi sebelum jemput Nadala, aku makan dulu di kampus. Ya udah, aku pamit ya, Bu." jawab Mandala yang lalu mencium tangan ibunya dan pamit pergi. "Hati-hati."

Di sudut lain, Andria baru saja menyelesaikan jam pelajaran terakhirnya. Buru-buru dia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas punggungnya, lalu segera bergegas mengambil motor vespanya dan pergi ke tempat siarannya. Malam ini beberapa penyiar Radio Tamusema, yang termasuk ia didalamnya, akan bertolak ke sebuah cafe untuk meet and greet dalam rangka sosialisasi pencarian pemain untuk drama pementasan "Peri Menangis".

Andria akhirnya tiba di Radio Tamusema. Dia melongok ke masing-masing ruangan. Kebanyakan ruangan sudah kosong. Tersisa tinggal Mandala yang sedang standby di ruang siarannya. Mandala tersenyum lebar sambil melambaikan tangan menyapa Andria yang baru datang. Andria menanyakan keberadaan rekan-rekan yang lainnya. Mandala memberi kode lewat arahan tangannya yang menunjuk ke ruang meeting besar. "Oke." Jawab Andria.

Andria lalu pergi menuju ruang meeting besar. Diketuknya pelan lalu dibukanya pintu besar dihadapannya. "Permisi..." sahut Andria dengan gaya andalannya, nyengengesan. "Maaf, Pak Bos. Baru pulang sekolah. Hehe..." ujarnya polos. Semua rekan-rekan penyiarnya plus Pak Bos sudah paham sekali dengan kondisi penyiar terkecilnya yang masih duduk di SMA. "Ayo duduk, An. Kita juga baru mulai kok briefing-nya." seru Pak Bos.

"Makasih, Pak Bos." jawab Andria sambil mengambil tempat di salah satu bangku yang masih tak berpenghuni. Andria terduduk dan langsung mengambil buku catatan kecilnya. Pak Bos memulai kembali pembicaraannya mengenai acara meet and greet malam ini. "Berhubung acara ini lebih ke arah dongeng, maka seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Mandala dan Andria yang akan menjadi garda terdepan." ungkap Pak Bos.

"Gimana, An? Siap nggak buat acara nanti malam?" tanya salah satu rekan seniornya Andria yang terkenal dengan wibawa kebapakannya. "Ngg... Grogi sih, Pak. Saya kan harus tampil di depan banyak orang. Biasanya kan cuma didepan para kaum duile Tamusema. Nanti kalo saya terkenal gimana, Pak? Hehehe..." timpal Andria yang mencoba mencairkan suasana. Seisi ruangan sontak hingar bingar dengan tawa.

"Wah, hebat... Si penyiar kecil kita mulai ada peningkatan. Bisa mulai ngebanyol juga dia. Siapa nih tersangka utama yang mengkontaminasi makhluk kecil ini." sahut rekan Andria lainnya. Tawa-tawa kembali membahana. Seiring dengan semakin hebohnya suasana meeting, Mandala masuk ke dalam. "Nah, ini dia nih orang yang kayaknya paling berjasa mempengaruhi Andria sampai jadi korslet begini." Mandala terbengong, "Hah?!"

"Haduh, ada apa ini? Kok nama saya tiba-tiba dibawa-bawa." tanya Mandala yang bingung. "Duduk dulu... duduk dulu... Ini lho, tadi kita lagi godain Andria, eh ternyata dia udah bisa menggoda balik. Terus kata anak-anak, kamu biang keroknya sampe Andria jadi kocak begini." jelas Pak Bos menceritakan detail kejadian barusan. "Idih... Bukan saya, Pak. Andria emang udah korslet dari sananya, Pak. Pada nggak tahu aja sih."

Semua anak-anak berubah fokus mendengarkan penjelasan Mandala yang sepertinya akan jauh lebih menarik. "Tahu apa... Apa-apa? Ceritain dong." desak yang lain. "Iya... Iya... Cepetan ceritain" timpal yang lainnya juga. "Asal tahu aja ya, Andria itu sebelum siaran hobi melakukan kegiatan yang aneh bin ajaib. Saya sering jadi korbannya." ungkap Mandala yang memamerkan sederet gigi putihnya ke arah Andria, meledek.

"Emang kamu diapain, Man?" tanya Pak Bos. "Masa saya disuruh jadi wayang trus dia jadi dalangnya. Kalo dalanginnya bener, nah ini... Masa wayangnya disuruh senam SKJ sembilan enam, Pak." sahut Mandala menepuk jidatnya pura-pura nelangsa, padahal dalam hatinya itu jadi momen terlucu yang pernah dia alami bersama seseorang. "Hihi... Sekali-kali nyuruh senior senam nggak apa-apa kan, Bos. Biar sehat." timpal Andria.

Semua kembali terbahak-bahak mendengar fakta yang selama ini terpendam. "Sudah-sudah... Ayo sudahan sesi ketawa-ketiwinya. Kita harus segera meluncur ke Cafe Diagonal bergabung dengan tim promosi yang sudah standby disana daritadi siang. Oh iya, siapa yang kebagian jadi tim wardrobe dan make up kemarin? Tolong bantu Mandala dan Andria supaya bisa tampil oke. Terutama Andria, dandanin yang cantik." Titah sang Pak Bos.

"Saya, Pak Bos. Beres, Pak. Nanti saya sulap mereka supaya cakepan dikit." acung salah seorang penyiar yang punya hobi memake-over penampilan orang. "Wah, kalo nyonya make over yang turun tangan jadi penasaran gimana hasil akhirnya si Andria. Emang elo bisa, Mba? Dia ini sama debu jalanan itu sahabatan. Liat nempelnya aja udah kayak magnet. Hehe..." goda Mandala.

Andria tiba-tiba berdiri dengan muka bete. "Wah, Mas Manda... Nggak sopan ngomongnya. Gue nggak terima dihina begini." "Eh... Sorry... Sorry... Cuma bercanda." ralat Mandala yang takut menyinggung perasaan Andria. Wajah-wajah yang lainnya pun ikutan menegang, takut Andria beneran tersinggung. "Eh, aku nggak terima ya, Mas. Apa mas bilang cuma sahabatan? Aku sama debu jalanan ini soulmate. Hehehe..." sahut Andria.

Ketegangan itu mendadak luruh berganti dengan tawa. Semua juga menghela nafas panjang karena lega. Tak terkecuali Mandala yang lebih-lebih mengucap syukur karena tidak beneran harus menghadapi Andria yang marah. "Andriaaa... Kebiasaan deh. Bikin orang jantungan." sahut Mandala geregetan. "Sapa suruh buka aib gue. Wee..." tandas Andria nggak mau kalah. Mereka pun kemudian keluar dari ruang meeting mengikuti yang lain.

Diluar ruangan, Sang nyonya make over lalu memanggil mereka berdua, "Hai marilah cepat kemari hai hai." Namun, panggilan itu pun serasa bak angin yang hanya sekedar lewat dan berhembus. Kenyataannya, Mandala dan Andria masih melanjutkan sesi bercandanya, bahkan sekarang mereka sesi jitak-menjitak. Akhirnya sang nyonya make over kesal, dipanggilnya mereka berdua dengan sedikit nada mengancam.

"Hai, kalian berdua! Cepetan nggak masuk ruang make up. Waktu kita nggak banyak. Kalian pilih gue make over atau pilih gue lempar dari fly over. Trus abis itu lo berdua game over." Begitu ancaman itu dilisankan oleh sang nyonya make over, Mandala dan Andria justru berubah kompak, "Nggak. Iye... Iye... Make over aje." Mandala dan Andria langsung kocar-kacir lari ke ruang make up. Sang nyonya make over tertawa puas.

Cukup dalam waktu singkat, Mandala dan Andria disulap jadi agak sedikit berbeda. Dosis dempulan kosmetik yang pas di beberapa titik wajah dan sedikit mix and match untuk pakaian mereka, akhirnya menghasilkan suatu karya fenomenal dari tangan dingin sang nyonya make over. Begitu Mandala dan Andria keluar dari ruang make up, semua mata tertuju pada mereka. "Widiiiih... Lo apain ini anak dua? Kenapa jadi kayak begini?"

"Cakep kan mereka?" jawab sang nyonya make over bangga. "Cakep sih. Cuma apa nggak kemenoran tuh dempulannya si Andria?" protes rekan kerjanya mereka. "Nggak. Lagian kan ini make up buat acara malam. Nggaklah, aman. Mungkin karena Andria jarang dandan, sekalinya dandan jadi sesuatu gitu." bela sang nyonya make over. Andria sendiri cuma bisa meringis tanpa bisa berkata-kata menyuarakan isi hatinya yang sumbang.

Melihat reaksi tak karuan dari wajah Andria. Rekan-rekan penyiarnya yang lain hanya bisa menyumbangkan semangat baginya sembari menepuk bahu, menguatkan jiwa dan raga Andria. "Yang tabah ya, An." Sang nyonya make over melirik tajam. "Hei... jangan menjatuhkan mental Andria. Udah An, jangan didengerin. Elo cantik kok. Kalau nggak percaya tanya aja Mandala. Andria cantik kan, Man?" tanyanya tanpa tedeng aling-aling.

Tidak menjawab, Mandala cuma nyengar-nyengir tak jelas. Baginya, dempulan itu memang terlihat berat untuk seumuran Andria. Tapi tidak mengiyakan pertanyaan barusan adalah bencana yang berdampak sistemik bagi kelancaran kariernya, terutama masalah isi dompetnya tiap bulan. Dari pada gajiannya seret mending lempar senyum aja deh sebagai jawaban. "Eh, buruan cabut yuk. Udah jam segini." sahut Mandala mengalihkan.

"Oke. Siapa yang mau nebeng naik vespa aku?" ajak Andria bersemangat. "Hai nona cantik... Maaf, kali ini kamu tidak diizinkan berangkat bareng si coki-coki. Vespamu biar dibawa sama yang lain. Aku tidak akan membiarkanmu merusak maha karyaku. Tidak akan kuizinkan angin memowhakkan rambutmu atau soulmate debumu merusak dempulan make up yang ada di wajahmu." tandas sang nyonya make over tujuh rius. Andria ternganga.

Mandala mengusap punggung Andria, mencoba menyabarkan. "Udah kasih aja kunci si coki-coki ke Mamet biar dia yang bawa. Terus nanti kamu ikut mobil gue." Andria membuka resleting tasnya dan mengambil kunci vespanya, lalu dia berikan benda kecil itu kepada Mamet. "Mas Mamet, ati-ati ya bawa si coki-coki." ujar Andria dengan tatapan sedih dan tak rela. "Iye, tenang aje kenape. Si coki-coki aman sama gue." janji Mamet.

Andria masih terlihat benar-benar tak tenang pergi tanpa mengendarai si coki-coki. Sementara yang lain sudah berjalan menuju mobil, Andria masih terdiam ditempatnya. Mandala yang sudah berjalan beberapa langkah, akhirnya memilih kembali mendekat ke Andria saat dilihatnya cewek itu masih berdiri di posisi yang sama. "Kenapa lagi?" tanya Mandala. "Mas Mamet beneran bisa naik vespa kan?" Andria malah balik bertanya.

"Bisa kok." jawab Mandala santai. "Serius nih?" tanya Andria lagi sambil menarik lengan bajunya berkali-kali. "Ya ampun, Andria. Tenang aja ah." ujar Mandala menenangkan yang akhirnya terpaksa mengapit tangan Andria untuk membuatnya berjalan menuju mobilnya. Mandala tidak sadar bahwa Andria terkejut tangannya disambar begitu saja oleh Mandala. Sambil terus berjalan, Andria tak melepaskan pandangannya kepada Mandala.

Hingga tiba di depan pintu mobil, barulah apitan tangan itu dilepaskan Mandala. Sayangnya, Andria masih belum sadar kalau dia masih memandangi Mandala dengan jidat mengkerut keheranan. "An, ngapain ngeliatin gue sampe segitunya? Baru sadar gue ganteng ya?" tanya Mandala dengan narsisnya. "Hah? Ngeliat... Siapa juga yang ngeliatin Mas. Gue tuh cuma heran aja, Mas itu sadar nggak tadi narik tangan gue?" tanya Andria.

"Sadar. Emang kenapa sih?" tanya Mandala yang sekarang jadi ikut-ikutan heran. "Mas itu nyadar nggak sih... Gue itu belum pake sepatu. Sepatu gue tuh masih ketinggalan disana. Gue nyeker nih." sungut Andria. "Jiaaah... Lagian kenapa nggak ngomong dari tadi? Kenapa pas tadi ditarik diem aja? Hayo, lo jangan-jangan ngeliatin gue terus ya sampe nggak bisa ngomong." tuduh Mandala kegirangan. "Ya ampun, narsis aja."

"Iya... Iya... Gue ambilin sepatu lo. Lo buruan masuk ke mobil. Pake sepatunya nanti di dalam aja." ujar Mandala menyuruh. Mandala berlari ke dalam kantornya lagi dan mengambil sepasang sepatu kets berwarna coklat yang teronggok rapi di lantai lobby kantor. "Udah kayak dongeng cinderella aja, bedanya cuma di tipe sepatunya. Di dongeng sepatu kaca, di realita sepatu kets. Ckckck... Kadang-kadang." gumam Mandala pelan.

Mandala berlari menuju mobilnya. Segera masuk dan duduk, serta diberikan sepatu kets itu pada pemiliknya. "Nih sepatunya." sahut Mandala singkat yang lalu menjalankankan kemudi mobilnya. "Makasih." jawab Andria. Sepatu itu langsung dikenakannya. Diangkatnya kakinya bergantian ke kursi mobil saat berusaha mengikat tali sepatunya. "Maaf diinjek. Sengaja. Dari pada jidatku yang benjol kejedot dashboard." ujarnya polos.

Mandala benar-benar dikerjain sama Andria. Mandala dibuat tak berkutik dengan tingkah ajaib cewek ini. "Cuma elo nih satu-satunya makhluk yang nekat angkat kaki terus ngiket sepatu kayak gitu di mobil gue. Kalau bukan elo, pasti udah gue suruh turun." jelas Mandala tersenyum namun di satu detik berikutnya dia kebingungan sendiri. Kalau bukan Andria? Berarti cuma Andria dong. Kenapa Andria? Lho... Kenapa lagi ini gue.

Andria tidak terlalu menanggapi pernyataan Mandala barusan, bahkan Andria tidak sempat melihat perubahan ekspresi di wajah Mandala. Andria sedang mencoba meminimalisir kegrogiannya menghadapi sejumlah massa yang akan hadir di Cafe Diagonal nanti. Sekarang saja dirinya sudah dihinggapi krisis percaya diri. Oke... Oke... Tarik nafas Andria. Tarik nafas. Buang perlahan. "Haaaa..." sahut Andria menghela nafas panjang.

Senja sudah berganti malam. Semua rombongan dari Radio Tamusema pun tiba di Cafe Diagonal. Sebuah cafe baru di pusat kota. Small but totally cozy. Dan yang paling gokil adalah bentuk dan furniture cafe ini ternyata sama persis dibuat sesuai dengan namanya. Diagonal. Tidak hanya, Andria yang terkagum-kagum dengan arsitektur cafe itu, tapi semua rekannya pun sampai geleng-geleng melihat cafe ajaib ini. "Wow."

Tim promosi dari Radio Tamusema sudah berkoordinasi dengan pihak pengelola cafe. Setengah jam lagi, Mandala dan Andria beserta salah seorang penulis muda akan tampil mengisi acara meet and greet. "Oke, setengah jam lagi meet and greet di mulai." seru tim promosi mengingatkan. Andria melongok dari atas ruangan khusus di cafe itu. Dibawah sana ada banyak anak-anak remaja tengah menunggu detik-detik acara tersebut.

"Ya ampun, itu kenapa banyak banget orangnya ya?" sahut Andria melotot sambil menempelkan tepian wajahnya ke kaca jendela. "Liat deh, Mas Manda. Banyak banget kan orangnya. Aduh, kalo gue tiba-tiba speechless gimana?" ujar Andria panik. "Udah tenang aja. Groginya paling menit-menit di awal. Abis gitu juga lo bakalan bisa beradaptasi. Ikutin arahan gue aja nanti. Lagian bukan kita kok MC-nya." jawab Mandala santai.

Beberapa menit kemudian, MC yang ditunggu pun tiba bersama dengan penulis muda yang menjadi otak dibalik hadirnya kisah drama pementasan "Peri Menangis". "Hai... Kalian Manda dan Andria ya?" tanya seorang perempuan dengan gaya super casual. "Gue Pelita, MC acara ini." Pelita mengulurkan tangannya sebagai ucapan perkenalan. Mandala dan Andria bergantian menyalaminya.

"Oh iya, Ini Langit. Pasti kalian berdua udah tahu dong ya dia penulis naskah drama peri menangis itu." sahut Pelita memperkenalkan Langit kepada Mandala dan Andria. Langit nampak melambaikan tangannya dan tersenyum ramah "Halo." Mandala dan Andria membalas sama ramahnya. "Oke, udah siap semua kan? Kita turun sekarang ya. Pokoknya denger aba-aba gue aja ya." ujar Pelita tersenyum. Semua bersiap turun.

Pelita turun lebih dulu kemudian disusul oleh Langit. Lalu Mandala yang sambil mendorong lembut laju jalan Andria yang menyusul berikutnya. Pekikan heboh dari para fans sudah semakin terdengar. Apalagi saat Pelita menyapa mereka sebagai pembukaan, teriakan mereka menggema dengan kerasnya. Saat yang ditunggu, Pelita akhirnya mempersilahkan Mandala dan Andria untuk naik ke stage. Suasana mendadak hening.

Suasana benar-benar hening tatkala langkah kaki Mandala dan Andria menaiki panggung kecil yang ada di sudut tengah Cafe Diagonal. Semua mata hadirin yang ada dibawah sana seakan bertanya-tanya siapakah gerangan dua orang ini. Kaos yang tadi baru mereka kenakan - yang memang diperuntukan untuk acara ini dan dikenakan oleh semua tim penyelenggara termasuk Pelita dan Langit - pun tidak cukup membantu mata-mata yang penasaran dengan sosok Mandala dan Andria. Namun, begitu Pelita menyebutkan bahwa Mandala dan Andria adalah sosok penyiar 123,4 FM Tamusema Radio khusus untuk segmen dongeng malam, sontak kebisuan itu berubah teriakan histeris. "HUAAAA... KAK MANDAAAAA.... KAK MEDAAAAA...."

Pelita jadi ikut-ikutan berteriak mengikuti ritme semua hadirin yang kebanyakan anak-anak remaja yang baru gede. Mandala yang sudah jauh lebih bisa menyesuaikan diri melempar senyum dan lambaian tangan ke arah penonton. Anak-anak remaja didepannya semakin histeris memanggil-memanggil nama Mandala. Setengah dari mereka berbisik-bisik kecil mengagumi ketampanan penyiar dongeng mereka. Sementara Andria dengan kakunya menyuguhkan senyum ala kadarnya dengan sederet giginya yang sengaja dipampang. Suasana yang tadi heboh mendadak bisu lagi saat tingkah kaku Andria yang mencoba menimpali aksi sapaan Mandala yang ciamik. Kayaknya aksi sapaan gue gagal deh, batin Andria. Wajar sih, mayoritas anak-anak remajanya perempuan. Pasti lebih ngefans sama penyiar Mandalalah. Hahaha... Nasib... Andria akhirnya melambaikan tangan juga serta membungkukkan setengah tubuhnya seperti menghormati para penonton. Namun, justru pekikan untuknya lebih dahsyat dari yang Mandala terima. "KAK MEDAAAAAAAAA... Huaaaaa... Cantiiiiiik...." Andria membeku mendapati kenyataan bahwa dirinya memiliki fans. Matanya melirik ke arah Mandala, lalu berkedip membanggakan diri. Mandala tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya pertanda setuju.

Setelah itu, Pelita bertanya-tanya sedikit kepada Mandala dan Andria seputar aktivitas siaran dan kehidupan pribadi mereka selama ini. Gelak tawa saat Mandala lagi-lagi menceritakan ritual konyol mereka sebelum memulai siaran dongeng malam. Namun, decak kagum dan tepukan tangan salut ketika kebanyakan dari mereka akhirnya tahu bahwa Andria masih berstatus siswa SMA. Andria cuma bisa tersenyum sambil mengiyakan dan menceritakan sedikit tentang satu peristiwa yang membawanya menjadi salah satu penyiar yang diperhitungkan di Radio Tamusema. "Andriameda, you are so cool. Give applause for her... " sahut Pelita yang lalu memprofokatori para penonton untuk berteouk tangan. Tepukan tangan pun lalu kembali pecah sambil diiringi dengan siulan dan teriakan tiada henti.

Mata Pelita kemudian fokus pada satu arahan time keeper yang mengisyaratkan bahwa sekarang adalah waktunya Langit sang penulis untuk bergabung bersama Mandala dan Andria di atas panggung. Pelita kemudian bangkit dari duduknya dan sedikit mengumbar profil dari Langit. "Hayo, kira-kira profil siapa nih?" lempar Pelita kepada penonton didepannya. "Langiiiiittttt." sahut mereka. "Siapa? Nggak kedengeran?" tanya Pelita sekali lagi. "Langiiiiiiiittttttt." teriak mereka dengan semakin keras. "Please welcome Langiiiiiiittttt..." seru Pelita yang mempersilahkan Langit untuk naik ke atas panggung. Langit berjalan setengah berlari menaiki tangga-tangga kecil menuju panggung, lalu dia mengangkat kedua tangannya ke udara dan memberikan lambaian yang cukup lama ke segala arah, tak lupa dilengkapi dengan senyum manis khasnya. Lagi-lagi mata anak-anak remaja itu dimanjakan dengan sosok-sosok indah nan cakep.

Pelita yang tak tahan mengomentari ketampanan Langit akhirnya ikut buka suara. "Haduh, udah cakep pinter nulis. Paket plus-plus deh. Hahaha..." Goda Pelita. Langit hanya menjawab pujian itu dengan senyuman malu. "Well, Langit lagi sibuk apa nih sekarang?" tanya Pelita. "Kebetulan masih sibuk menyelesaikan novel ketiga saya. Tapi sekarang lagi fokus dulu bantu menyeleksi calon pemeran tokoh-tokoh di drama pementasan Peri Menangis." jawab Langit. "Hmm... ngomong-ngomong soal drama pementasan nih. Sebenarnya drama Peri Menangis itu menceritakan tentang apa sih? Ini kan kalo nggak salah adalah novel kamu yang kedua ya? Tapi kenapa akhirnya diputuskan untuk dibuat ke dalam drama teater dibandingkan menjadi sebuah film seperti novel pertama kamu?" tanya Pelita dengan lebih rinci sesuai dengan script pertanyaan di kertas kecil yang digenggamnya.

"Drama pementasan ini memang diambil dari novel kedua saya yang berjudul sama yaitu Peri Menangis. Kenapa akhirnya dituangkan kedalam format drama teater ini lebih kepada konten cerita yang menurut beberapa pihak justru akan lebih bagus dan lebih hidup. Dan saya rasa saya sependapat dengan mereka, karena pada saat saya dulu menulis novel ini pun saya sudah membayangkan sebuah panggung teater yang besar dimana tokoh-tokoh imajinasi yang ada didalamnya akan diperankan dengan anggun dan dengan balutan kostum-kostum dunia peri yang klasik dan elegan. Untuk ceritanya sendiri sih lebih kepada perjuangan seorang peri terhadap hak dan keberadaannya yang tertindas dan terbuang sebagai seorang peri terpilih di kerajaan peri langit." ungkap Langit antusias.

Acara meet and greet itu terus berlangsung dengan begitu seru. Termasuk saat sesi tanya-jawab dengan para penonton yang selalu diakhiri dengan jeritan heboh dan senyum sumringah dari mereka. Akhirnya, Pelita mengakhiri acara tersebut. Pelita beserta seluruh bintang tamu menutup acara tersebut. Para penonton pun menyerbu untuk meminta foto bersama Langit. Mandala dan Andria pun ikut kecipratan serbuan itu.

Akhirnya sesi serbuan foto bareng itu selesai. Mandala pingin ngakak sebenarnya saat melihat antusiasme berlebihan para remaja itu saat menggelu-elukan namanya, bahkan ada yang menjerit-jerit tak jelas begitu berhadapan dengannya. Sebaliknya, Andria malah jadi sasaran para remaja itu bertanya lebih lanjut tentang kehidupannya sebagai penyiar muda. "Cie... Penyiar muda... Cie... Ciee" goda Mandala.

 “Ah Mas Manda... ngeledekin gue mulu. Nggak tahu apa gue grogi banget.” Jawab Andria malu. “Hahaha... Tahu deh yang grogi.” Sahut Mandala yang makin usil. Andria manyun, Mandala langsung merangkul dan mengacak-acak rambut Andria. “Balik ke atas dulu yuk buat ambil tas. Abis itu kita evaluasi sebentar.” Ujar Mandala ke Andria. Andria terdiam. “Lho kenapa? Kok lo diam?” Tanya Mandala heran.

Andria memegangi perutnya, menahan sakit yang tiba-tiba menyerang. Seperti perutnya terkena maag berkat tidak makan siang secara benar. Hanya setangkup roti dari Vero yang sempat dihabiskannya sebelum bel istirahat siang berakhir. “An, lo kenapa?” Mandala berubah cemas setelah melihat Andria mulai membungkuk seperti menahan sakit di bagian perutnya. “Kayaknya maag gue kambuh, Mas.” Ujar Andria pelan.

“Lah, kok bisa? Ya udah, lo duduk dulu disana. Gue cariin obat maag buat lo.” Ujar Mandala yang langsung memapah Andria ke salah satu bangku kosong di dekat tangga. Andria duduk. “Bentar ya, An. Gue cari obat maag-nya. Sekalian gue pamit sama Pelita dan Langit di atas.” Seru Mandala. “Iya, Mas. Makasih ya.” sahut Andria terbata-bata. Perutnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Sakitnya seperti menekan keras ulu hatinya hingga membuatnya langsung tak berdaya.

“Nah ini dia si bocah pemiliki si coki-coki. Nih kunci motor vespa lo.” Sahut Mamet memberikan kunci vespa milik Andria. “Makasih ya, Met.” Jawab Andria pelan. “Eh, kenapa lo? Muka lo kok pucet banget.” Tanya Mamet heran. “Biasanya perut di cacing aku lagi main roller coaster.” Jawab Andria mencoba melucu. “Udah pucet begitu masih bisa ngebanyol. Lo nggak apa-apa kan ditinggal sendirian. Gue musti ke atas dulu.” Seru Mamet. “Iya, nggak apa-apa.” Balas Andria.

Sepeninggalan Mamet, Mandala datang membawa obat dan sebotol air mineral untuk Andria. “Nih, minum dulu obatnya.” Mandala memberikan obat maag ke tangan Andria. Andria menerimanya dan segera menelannya. “Nih air putihnya.” Mandala kemudian memberikan sebotol air mineral kepada Andria. “Makasih ya, Mas.” Ujar Andria berterima kasih. “Mau langsung makan?” tanya Mandala. Andria menggeleng. “Nggak, Mas. Ntar malah muntah lagi.” Jawab Andria.

“Lo mau makan apa? Biar gue pesenin.” Mandala lagi-lagi menawarkannya ini-itu. “Gue mau pulang aja, Mas.” Tolak Andria. “Tapi lo musti makan dulu, ntar lo nggak kuat bawa vespa lo lagi.” sahut Mandala cemas. “Nggak apa-apa. Gue bisa kok.” Ujar Andria menenangkan. “Nggak deh. Gue yang anter lo pulang naik mobil kalo gitu. Motor lo biar gue minta tolong Mamet lagi untuk bawa kerumah lo.” Sahut Mandala mencegah.

Andria buru-buru menggeleng, “Jangan, Kak. Ngerepotin lo lagi. Gue bisa pulang sendiri kok. Aduh.” Perut Andria mendadak sakit lagi. “Tuh kan. Sakit lagi.” Sentak Mandala khawatir. “Nggak pake nolak-nolakan deh. Gue yang anter lo. Mana kunci motor lo? Biar gue kasih lagi ke Mamet.” Seru Mandala serius. Andria tidak punya pilihan lain selain memberikan kunci motornya kepada Mandala. “Mas, gue tunggu di depan cafe ya.” Ujar Andria pelan. “Oke.”

Andria berjalan menuju ke pintu keluar cafe. Dengan perlahan dan pasti, Andria sampai di depan cafe. Andria lalu menyender di salah satu dinding bertuliskan cafe diagonal. Andria mengusap-usap perutnya, berharap rasa sakitnya kian menghilang. Andria mengedari pandangannya ke seluruh sudut di depannya. Pengunjung yang lalu lalang, keluar masuk, hingga pandangannya terhenti pada satu pemandangan yang mengejutkan.

Andria terhenyak pada satu pemandangan didepannya itu. Seseorang yang belakangan ini berada didekatnya, yang entah sebagai teman atau pengganggunya, sekarang justru tengah berjalan dari arah parkiran. Tapi ada yang membuat lidahnya kelu kehabisan kata-kata saat dilihatnya orang itu berjalan dengan lengan terapit oleh mesranya sebuah gandengan tangan lainnya. Orang itu Vero. Vero tengah berjalan menuju ke arahnya dengan lengannya yang terapit mesra oleh tangan seorang cewek.

Baru kali itu, Andria melihat Vero begitu lembut menghadapi seorang cewek. Tanpa risih lengannya Vero menopang apitan lengan orang disampingnya itu. Tidak seperti Vero yang biasa dikenalnya, Vero yang usil, suka mengganggu, dan terkadang ketus. Andria tidak tahu kalau ternyata Vero sudah memiliki seseorang yang spesial. Bahkan Andria lupa menanyakan itu karena terlalu sibuk dengan kedatangannya Vero saat itu.

Andria sadar ada bagian hatinya yang menguap lenyap. Seluruh memori yang rapi tersimpan yang Andria kira akan menjadi sesuatu yang tidak biasa, kini terpaksa dijebol paksa lalu dibuangnya semua. Sedetik sebelum Vero menyadari keberadaan Andria, Andria sudah lebih dulu membalikkan badan dan membelakangi Vero. Air mata pertama yang jatuh membasahi pipinya adalah tanda bahwa Vero hanyalah angin yang datang lalu pergi dari hidupnya.

Andria setengah mati menahan agar tak lebih banyak lagi air matanya yang jatuh. Sebelum tangis Andria pecah, Mandala keburu datang dan mengajaknya pulang. “Yuk, kita langsung pulang.” Tanpa kentara, Andria menghapus jejak air matanya. Kemudian Andria memengangguk dan menurutin ajakan Mandala. Andria mengikuti ritme langkah Mandala menuju parkiran mobil. Andria sempat menoleh dan melihat punggung Vero yang kian menjauh masuk kedalam cafe. Apitan tangan itu tetap menjadi misteri diiringi oleh air mata Andria yang kembali berayun di pipinya. 

■■■■

No comments:

Post a Comment