Part 13
MISTERI
APITAN TANGAN MESRA
Sebuah mobil baru saja terparkir baik di
parkiran suatu rumah. Seorang laki-laki keluar dari dalam mobil dengan
tergesa-gesa karena hendak membukakan pintu untuk seseorang lainnya yang masih
duduk didalam. Namun sebelum sampai di posisi, pintu itu justru sudah lebih
dulu dibuka oleh orang yang ada didalamnya. Lalu orang itu berjalan masuk ke
dalam rumah tanpa mempedulikan laki-laki yang hendak menolongnya barusan.
Mandala mematung mendapati Nadala berjalan
begitu saja melewatinya tanpa mengucapkan sepatah katapun, bahkan sebentuk
senyuman yang kerap dia berikan sebagai pengganti ucapan terima kasih pun tak
ada. "Nad... Kamu kenapa sih?" tanya Mandala yang tiba-tiba sudah
mengekor dibelakang adiknya. Nadala tak mengubris pertanyaan kakaknya. Mandala
kembali bertanya. "Kamu kenapa, Dek? Kok daritadi diem aja?" desaknya
lagi.
"Kepalaku pusing. Aku mau tidur,
Mas." jawab Nadala singkat. "Bener cuma karena kurang tidur?
Jangan-jangan lagi ada yang kamu sembunyiin. Aku hafal banget gelagatmu, Dek.
Lagian perasaan tadi disana masih baik-baik. Kok sekarang aneh begini."
ujar Mandala yang merasa ganjil dengan perubahan sikap Nadala yang mendadak
itu. "Aku tidur dulu ya, Mas." sahut Nadala yang lalu segera menutup
pintu kamarnya dan menguncinya.
Mandala terpaku di balik pintu kamar Nadala.
Dia sungguh-sungguh dibuat kebingungan atas perubahan sikap adiknya yang
drastis. "Nadala kenapaaa lagi?" keluhnya heran, "Aneh banget.
Mandala akhirnya memilih berlalu dari sana. Dia menghampiri Ibunya yang lagi
membuatkan bubur untuk Nadala. "Gimana adekmu, Mas? Kenapa dia tadi
pingsan?" tanya sang ibu khawatir. "Cuma kecapean gara-gara kurang
tidur, Bu." Jawab Mandala.
"Adekmu sekarang dimana? Ibu bikinin dia
bubur ini." ujar sang ibu sembari mematikan kompor dan lalu menuangkan
beberapa sendok bubur ke sebuah mangkok kaca. "Anaknya langsung ke kamar,
Bu. Katanya mau tidur." jawab Mandala seadanya tanpa mencoba menceritakan
keanehan apa yang sedang dia rasakan terhadap adiknya, semata-mata agar sang
ibu tidak bertambah cemas. "Ya udah, nanti aja dikasihnya." ujar sang
ibu.
"Kalau begitu, aku pamit lagi ya. Sore ini
aku ada siaran trus malamnya ada meet and greet anak-anak penyiar di cafe apa
gitu bu, aku lupa. Nanti aku kabarin lagi dimananya." ujar Mandala
merangkul ibunya. "Kamu udah makan toh, Mas?" tanya sang ibu.
"Udah, Bu. Tadi sebelum jemput Nadala, aku makan dulu di kampus. Ya udah,
aku pamit ya, Bu." jawab Mandala yang lalu mencium tangan ibunya dan pamit
pergi. "Hati-hati."
Di sudut lain, Andria baru saja menyelesaikan
jam pelajaran terakhirnya. Buru-buru dia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas
punggungnya, lalu segera bergegas mengambil motor vespanya dan pergi ke tempat
siarannya. Malam ini beberapa penyiar Radio Tamusema, yang termasuk ia
didalamnya, akan bertolak ke sebuah cafe untuk meet and greet dalam rangka
sosialisasi pencarian pemain untuk drama pementasan "Peri Menangis".
Andria akhirnya tiba di Radio Tamusema. Dia
melongok ke masing-masing ruangan. Kebanyakan ruangan sudah kosong. Tersisa
tinggal Mandala yang sedang standby di ruang siarannya. Mandala tersenyum lebar
sambil melambaikan tangan menyapa Andria yang baru datang. Andria menanyakan
keberadaan rekan-rekan yang lainnya. Mandala memberi kode lewat arahan
tangannya yang menunjuk ke ruang meeting besar. "Oke." Jawab Andria.
Andria lalu pergi menuju ruang meeting besar.
Diketuknya pelan lalu dibukanya pintu besar dihadapannya.
"Permisi..." sahut Andria dengan gaya andalannya, nyengengesan. "Maaf,
Pak Bos. Baru pulang sekolah. Hehe..." ujarnya polos. Semua rekan-rekan
penyiarnya plus Pak Bos sudah paham sekali dengan kondisi penyiar terkecilnya
yang masih duduk di SMA. "Ayo duduk, An. Kita juga baru mulai kok
briefing-nya." seru Pak Bos.
"Makasih, Pak Bos." jawab Andria
sambil mengambil tempat di salah satu bangku yang masih tak berpenghuni. Andria
terduduk dan langsung mengambil buku catatan kecilnya. Pak Bos memulai kembali
pembicaraannya mengenai acara meet and greet malam ini. "Berhubung acara
ini lebih ke arah dongeng, maka seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa
Mandala dan Andria yang akan menjadi garda terdepan." ungkap Pak Bos.
"Gimana, An? Siap nggak buat acara nanti
malam?" tanya salah satu rekan seniornya Andria yang terkenal dengan
wibawa kebapakannya. "Ngg... Grogi sih, Pak. Saya kan harus tampil di
depan banyak orang. Biasanya kan cuma didepan para kaum duile Tamusema. Nanti
kalo saya terkenal gimana, Pak? Hehehe..." timpal Andria yang mencoba
mencairkan suasana. Seisi ruangan sontak hingar bingar dengan tawa.
"Wah, hebat... Si penyiar kecil kita mulai
ada peningkatan. Bisa mulai ngebanyol juga dia. Siapa nih tersangka utama yang
mengkontaminasi makhluk kecil ini." sahut rekan Andria lainnya. Tawa-tawa
kembali membahana. Seiring dengan semakin hebohnya suasana meeting, Mandala
masuk ke dalam. "Nah, ini dia nih orang yang kayaknya paling berjasa
mempengaruhi Andria sampai jadi korslet begini." Mandala terbengong,
"Hah?!"
"Haduh, ada apa ini? Kok nama saya
tiba-tiba dibawa-bawa." tanya Mandala yang bingung. "Duduk dulu...
duduk dulu... Ini lho, tadi kita lagi godain Andria, eh ternyata dia udah bisa
menggoda balik. Terus kata anak-anak, kamu biang keroknya sampe Andria jadi
kocak begini." jelas Pak Bos menceritakan detail kejadian barusan.
"Idih... Bukan saya, Pak. Andria emang udah korslet dari sananya, Pak.
Pada nggak tahu aja sih."
Semua anak-anak berubah fokus mendengarkan
penjelasan Mandala yang sepertinya akan jauh lebih menarik. "Tahu apa...
Apa-apa? Ceritain dong." desak yang lain. "Iya... Iya... Cepetan
ceritain" timpal yang lainnya juga. "Asal tahu aja ya, Andria itu
sebelum siaran hobi melakukan kegiatan yang aneh bin ajaib. Saya sering jadi
korbannya." ungkap Mandala yang memamerkan sederet gigi putihnya ke arah
Andria, meledek.
"Emang kamu diapain, Man?" tanya Pak
Bos. "Masa saya disuruh jadi wayang trus dia jadi dalangnya. Kalo
dalanginnya bener, nah ini... Masa wayangnya disuruh senam SKJ sembilan enam,
Pak." sahut Mandala menepuk jidatnya pura-pura nelangsa, padahal dalam
hatinya itu jadi momen terlucu yang pernah dia alami bersama seseorang.
"Hihi... Sekali-kali nyuruh senior senam nggak apa-apa kan, Bos. Biar
sehat." timpal Andria.
Semua kembali terbahak-bahak mendengar fakta
yang selama ini terpendam. "Sudah-sudah... Ayo sudahan sesi
ketawa-ketiwinya. Kita harus segera meluncur ke Cafe Diagonal bergabung dengan
tim promosi yang sudah standby disana daritadi siang. Oh iya, siapa yang
kebagian jadi tim wardrobe dan make up kemarin? Tolong bantu Mandala dan Andria
supaya bisa tampil oke. Terutama Andria, dandanin yang cantik." Titah sang
Pak Bos.
"Saya, Pak Bos. Beres, Pak. Nanti saya
sulap mereka supaya cakepan dikit." acung salah seorang penyiar yang punya
hobi memake-over penampilan orang. "Wah, kalo nyonya make over yang turun
tangan jadi penasaran gimana hasil akhirnya si Andria. Emang elo bisa, Mba? Dia
ini sama debu jalanan itu sahabatan. Liat nempelnya aja udah kayak magnet.
Hehe..." goda Mandala.
Andria tiba-tiba berdiri dengan muka bete.
"Wah, Mas Manda... Nggak sopan ngomongnya. Gue nggak terima dihina
begini." "Eh... Sorry... Sorry... Cuma bercanda." ralat Mandala
yang takut menyinggung perasaan Andria. Wajah-wajah yang lainnya pun ikutan
menegang, takut Andria beneran tersinggung. "Eh, aku nggak terima ya, Mas.
Apa mas bilang cuma sahabatan? Aku sama debu jalanan ini soulmate.
Hehehe..." sahut Andria.
Ketegangan itu mendadak luruh berganti dengan
tawa. Semua juga menghela nafas panjang karena lega. Tak terkecuali Mandala
yang lebih-lebih mengucap syukur karena tidak beneran harus menghadapi Andria
yang marah. "Andriaaa... Kebiasaan deh. Bikin orang jantungan." sahut
Mandala geregetan. "Sapa suruh buka aib gue. Wee..." tandas Andria
nggak mau kalah. Mereka pun kemudian keluar dari ruang meeting mengikuti yang lain.
Diluar ruangan, Sang nyonya make over lalu
memanggil mereka berdua, "Hai marilah cepat kemari hai hai." Namun,
panggilan itu pun serasa bak angin yang hanya sekedar lewat dan berhembus.
Kenyataannya, Mandala dan Andria masih melanjutkan sesi bercandanya, bahkan
sekarang mereka sesi jitak-menjitak. Akhirnya sang nyonya make over kesal,
dipanggilnya mereka berdua dengan sedikit nada mengancam.
"Hai, kalian berdua! Cepetan nggak masuk
ruang make up. Waktu kita nggak banyak. Kalian pilih gue make over atau pilih
gue lempar dari fly over. Trus abis itu lo berdua game over." Begitu
ancaman itu dilisankan oleh sang nyonya make over, Mandala dan Andria justru
berubah kompak, "Nggak. Iye... Iye... Make over aje." Mandala dan
Andria langsung kocar-kacir lari ke ruang make up. Sang nyonya make over
tertawa puas.
Cukup dalam waktu singkat, Mandala dan Andria
disulap jadi agak sedikit berbeda. Dosis dempulan kosmetik yang pas di beberapa
titik wajah dan sedikit mix and match untuk pakaian mereka, akhirnya
menghasilkan suatu karya fenomenal dari tangan dingin sang nyonya make over.
Begitu Mandala dan Andria keluar dari ruang make up, semua mata tertuju pada
mereka. "Widiiiih... Lo apain ini anak dua? Kenapa jadi kayak
begini?"
"Cakep kan mereka?" jawab sang nyonya
make over bangga. "Cakep sih. Cuma apa nggak kemenoran tuh dempulannya si
Andria?" protes rekan kerjanya mereka. "Nggak. Lagian kan ini make up
buat acara malam. Nggaklah, aman. Mungkin karena Andria jarang dandan,
sekalinya dandan jadi sesuatu gitu." bela sang nyonya make over. Andria
sendiri cuma bisa meringis tanpa bisa berkata-kata menyuarakan isi hatinya yang
sumbang.
Melihat reaksi tak karuan dari wajah Andria.
Rekan-rekan penyiarnya yang lain hanya bisa menyumbangkan semangat baginya
sembari menepuk bahu, menguatkan jiwa dan raga Andria. "Yang tabah ya,
An." Sang nyonya make over melirik tajam. "Hei... jangan menjatuhkan
mental Andria. Udah An, jangan didengerin. Elo cantik kok. Kalau nggak percaya
tanya aja Mandala. Andria cantik kan, Man?" tanyanya tanpa tedeng
aling-aling.
Tidak menjawab, Mandala cuma nyengar-nyengir
tak jelas. Baginya, dempulan itu memang terlihat berat untuk seumuran Andria.
Tapi tidak mengiyakan pertanyaan barusan adalah bencana yang berdampak sistemik
bagi kelancaran kariernya, terutama masalah isi dompetnya tiap bulan. Dari pada
gajiannya seret mending lempar senyum aja deh sebagai jawaban. "Eh, buruan
cabut yuk. Udah jam segini." sahut Mandala mengalihkan.
"Oke. Siapa yang mau nebeng naik vespa
aku?" ajak Andria bersemangat. "Hai nona cantik... Maaf, kali ini
kamu tidak diizinkan berangkat bareng si coki-coki. Vespamu biar dibawa sama
yang lain. Aku tidak akan membiarkanmu merusak maha karyaku. Tidak akan
kuizinkan angin memowhakkan rambutmu atau soulmate debumu merusak dempulan make
up yang ada di wajahmu." tandas sang nyonya make over tujuh rius. Andria
ternganga.
Mandala mengusap punggung Andria, mencoba
menyabarkan. "Udah kasih aja kunci si coki-coki ke Mamet biar dia yang
bawa. Terus nanti kamu ikut mobil gue." Andria membuka resleting tasnya
dan mengambil kunci vespanya, lalu dia berikan benda kecil itu kepada Mamet.
"Mas Mamet, ati-ati ya bawa si coki-coki." ujar Andria dengan tatapan
sedih dan tak rela. "Iye, tenang aje kenape. Si coki-coki aman sama gue."
janji Mamet.
Andria masih terlihat benar-benar tak tenang
pergi tanpa mengendarai si coki-coki. Sementara yang lain sudah berjalan menuju
mobil, Andria masih terdiam ditempatnya. Mandala yang sudah berjalan beberapa
langkah, akhirnya memilih kembali mendekat ke Andria saat dilihatnya cewek itu
masih berdiri di posisi yang sama. "Kenapa lagi?" tanya Mandala.
"Mas Mamet beneran bisa naik vespa kan?" Andria malah balik bertanya.
"Bisa kok." jawab Mandala santai.
"Serius nih?" tanya Andria lagi sambil menarik lengan bajunya berkali-kali.
"Ya ampun, Andria. Tenang aja ah." ujar Mandala menenangkan yang
akhirnya terpaksa mengapit tangan Andria untuk membuatnya berjalan menuju
mobilnya. Mandala tidak sadar bahwa Andria terkejut tangannya disambar begitu
saja oleh Mandala. Sambil terus berjalan, Andria tak melepaskan pandangannya
kepada Mandala.
Hingga tiba di depan pintu mobil, barulah
apitan tangan itu dilepaskan Mandala. Sayangnya, Andria masih belum sadar kalau
dia masih memandangi Mandala dengan jidat mengkerut keheranan. "An, ngapain
ngeliatin gue sampe segitunya? Baru sadar gue ganteng ya?" tanya Mandala
dengan narsisnya. "Hah? Ngeliat... Siapa juga yang ngeliatin Mas. Gue tuh
cuma heran aja, Mas itu sadar nggak tadi narik tangan gue?" tanya Andria.
"Sadar. Emang kenapa sih?" tanya
Mandala yang sekarang jadi ikut-ikutan heran. "Mas itu nyadar nggak sih...
Gue itu belum pake sepatu. Sepatu gue tuh masih ketinggalan disana. Gue nyeker
nih." sungut Andria. "Jiaaah... Lagian kenapa nggak ngomong dari
tadi? Kenapa pas tadi ditarik diem aja? Hayo, lo jangan-jangan ngeliatin gue
terus ya sampe nggak bisa ngomong." tuduh Mandala kegirangan. "Ya
ampun, narsis aja."
"Iya... Iya... Gue ambilin sepatu lo. Lo
buruan masuk ke mobil. Pake sepatunya nanti di dalam aja." ujar Mandala
menyuruh. Mandala berlari ke dalam kantornya lagi dan mengambil sepasang sepatu
kets berwarna coklat yang teronggok rapi di lantai lobby kantor. "Udah
kayak dongeng cinderella aja, bedanya cuma di tipe sepatunya. Di dongeng sepatu
kaca, di realita sepatu kets. Ckckck... Kadang-kadang." gumam Mandala
pelan.
Mandala berlari menuju mobilnya. Segera masuk
dan duduk, serta diberikan sepatu kets itu pada pemiliknya. "Nih
sepatunya." sahut Mandala singkat yang lalu menjalankankan kemudi
mobilnya. "Makasih." jawab Andria. Sepatu itu langsung dikenakannya.
Diangkatnya kakinya bergantian ke kursi mobil saat berusaha mengikat tali
sepatunya. "Maaf diinjek. Sengaja. Dari pada jidatku yang benjol kejedot
dashboard." ujarnya polos.
Mandala benar-benar dikerjain sama Andria.
Mandala dibuat tak berkutik dengan tingkah ajaib cewek ini. "Cuma elo nih
satu-satunya makhluk yang nekat angkat kaki terus ngiket sepatu kayak gitu di
mobil gue. Kalau bukan elo, pasti udah gue suruh turun." jelas Mandala
tersenyum namun di satu detik berikutnya dia kebingungan sendiri. Kalau bukan
Andria? Berarti cuma Andria dong. Kenapa Andria? Lho... Kenapa lagi ini gue.
Andria tidak terlalu menanggapi pernyataan
Mandala barusan, bahkan Andria tidak sempat melihat perubahan ekspresi di wajah
Mandala. Andria sedang mencoba meminimalisir kegrogiannya menghadapi sejumlah
massa yang akan hadir di Cafe Diagonal nanti. Sekarang saja dirinya sudah
dihinggapi krisis percaya diri. Oke... Oke... Tarik nafas Andria. Tarik nafas.
Buang perlahan. "Haaaa..." sahut Andria menghela nafas panjang.
Senja sudah berganti malam. Semua rombongan
dari Radio Tamusema pun tiba di Cafe Diagonal. Sebuah cafe baru di pusat kota. Small but totally cozy. Dan yang paling
gokil adalah bentuk dan furniture
cafe ini ternyata sama persis dibuat sesuai dengan namanya. Diagonal. Tidak
hanya, Andria yang terkagum-kagum dengan arsitektur cafe itu, tapi semua
rekannya pun sampai geleng-geleng melihat cafe ajaib ini. "Wow."
Tim promosi dari Radio Tamusema sudah
berkoordinasi dengan pihak pengelola cafe. Setengah jam lagi, Mandala dan
Andria beserta salah seorang penulis muda akan tampil mengisi acara meet and
greet. "Oke, setengah jam lagi meet and greet di mulai." seru tim
promosi mengingatkan. Andria melongok dari atas ruangan khusus di cafe itu.
Dibawah sana ada banyak anak-anak remaja tengah menunggu detik-detik acara
tersebut.
"Ya ampun, itu kenapa banyak banget
orangnya ya?" sahut Andria melotot sambil menempelkan tepian wajahnya ke
kaca jendela. "Liat deh, Mas Manda. Banyak banget kan orangnya. Aduh, kalo
gue tiba-tiba speechless
gimana?" ujar Andria panik. "Udah tenang aja. Groginya paling
menit-menit di awal. Abis gitu juga lo bakalan bisa beradaptasi. Ikutin arahan
gue aja nanti. Lagian bukan kita kok MC-nya." jawab Mandala santai.
Beberapa menit kemudian, MC yang ditunggu pun
tiba bersama dengan penulis muda yang menjadi otak dibalik hadirnya kisah drama
pementasan "Peri Menangis". "Hai... Kalian Manda dan Andria
ya?" tanya seorang perempuan dengan gaya super casual. "Gue Pelita,
MC acara ini." Pelita mengulurkan tangannya sebagai ucapan perkenalan.
Mandala dan Andria bergantian menyalaminya.
"Oh iya, Ini Langit. Pasti kalian berdua
udah tahu dong ya dia penulis naskah drama peri menangis itu." sahut
Pelita memperkenalkan Langit kepada Mandala dan Andria. Langit nampak
melambaikan tangannya dan tersenyum ramah "Halo." Mandala dan Andria
membalas sama ramahnya. "Oke, udah siap semua kan? Kita turun sekarang ya.
Pokoknya denger aba-aba gue aja ya." ujar Pelita tersenyum. Semua bersiap
turun.
Pelita turun lebih dulu kemudian disusul oleh
Langit. Lalu Mandala yang sambil mendorong lembut laju jalan Andria yang
menyusul berikutnya. Pekikan heboh dari para fans sudah semakin terdengar.
Apalagi saat Pelita menyapa mereka sebagai pembukaan, teriakan mereka menggema
dengan kerasnya. Saat yang ditunggu, Pelita akhirnya mempersilahkan Mandala dan
Andria untuk naik ke stage. Suasana mendadak hening.
Suasana benar-benar hening tatkala langkah kaki
Mandala dan Andria menaiki panggung kecil yang ada di sudut tengah Cafe
Diagonal. Semua mata hadirin yang ada dibawah sana seakan bertanya-tanya
siapakah gerangan dua orang ini. Kaos yang tadi baru mereka kenakan - yang
memang diperuntukan untuk acara ini dan dikenakan oleh semua tim penyelenggara
termasuk Pelita dan Langit - pun tidak cukup membantu mata-mata yang penasaran
dengan sosok Mandala dan Andria. Namun, begitu Pelita menyebutkan bahwa Mandala
dan Andria adalah sosok penyiar 123,4 FM Tamusema Radio khusus untuk segmen
dongeng malam, sontak kebisuan itu berubah teriakan histeris. "HUAAAA...
KAK MANDAAAAA.... KAK MEDAAAAA...."
Pelita jadi ikut-ikutan berteriak mengikuti
ritme semua hadirin yang kebanyakan anak-anak remaja yang baru gede. Mandala
yang sudah jauh lebih bisa menyesuaikan diri melempar senyum dan lambaian
tangan ke arah penonton. Anak-anak remaja didepannya semakin histeris
memanggil-memanggil nama Mandala. Setengah dari mereka berbisik-bisik kecil
mengagumi ketampanan penyiar dongeng mereka. Sementara Andria dengan kakunya
menyuguhkan senyum ala kadarnya dengan sederet giginya yang sengaja dipampang.
Suasana yang tadi heboh mendadak bisu lagi saat tingkah kaku Andria yang
mencoba menimpali aksi sapaan Mandala yang ciamik. Kayaknya aksi sapaan gue
gagal deh, batin Andria. Wajar sih, mayoritas anak-anak remajanya perempuan.
Pasti lebih ngefans sama penyiar Mandalalah. Hahaha... Nasib... Andria akhirnya
melambaikan tangan juga serta membungkukkan setengah tubuhnya seperti
menghormati para penonton. Namun, justru pekikan untuknya lebih dahsyat dari
yang Mandala terima. "KAK MEDAAAAAAAAA... Huaaaaa... Cantiiiiiik...."
Andria membeku mendapati kenyataan bahwa dirinya memiliki fans. Matanya melirik
ke arah Mandala, lalu berkedip membanggakan diri. Mandala tersenyum sambil
mengacungkan ibu jarinya pertanda setuju.
Setelah itu, Pelita bertanya-tanya sedikit
kepada Mandala dan Andria seputar aktivitas siaran dan kehidupan pribadi mereka
selama ini. Gelak tawa saat Mandala lagi-lagi menceritakan ritual konyol mereka
sebelum memulai siaran dongeng malam. Namun, decak kagum dan tepukan tangan
salut ketika kebanyakan dari mereka akhirnya tahu bahwa Andria masih berstatus
siswa SMA. Andria cuma bisa tersenyum sambil mengiyakan dan menceritakan
sedikit tentang satu peristiwa yang membawanya menjadi salah satu penyiar yang
diperhitungkan di Radio Tamusema. "Andriameda, you are so cool. Give
applause for her... " sahut Pelita yang lalu memprofokatori para penonton
untuk berteouk tangan. Tepukan tangan pun lalu kembali pecah sambil diiringi
dengan siulan dan teriakan tiada henti.
Mata Pelita kemudian fokus pada satu arahan
time keeper yang mengisyaratkan bahwa sekarang adalah waktunya Langit sang
penulis untuk bergabung bersama Mandala dan Andria di atas panggung. Pelita
kemudian bangkit dari duduknya dan sedikit mengumbar profil dari Langit.
"Hayo, kira-kira profil siapa nih?" lempar Pelita kepada penonton
didepannya. "Langiiiiittttt." sahut mereka. "Siapa? Nggak
kedengeran?" tanya Pelita sekali lagi. "Langiiiiiiiittttttt."
teriak mereka dengan semakin keras. "Please welcome
Langiiiiiiittttt..." seru Pelita yang mempersilahkan Langit untuk naik ke
atas panggung. Langit berjalan setengah berlari menaiki tangga-tangga kecil
menuju panggung, lalu dia mengangkat kedua tangannya ke udara dan memberikan
lambaian yang cukup lama ke segala arah, tak lupa dilengkapi dengan senyum
manis khasnya. Lagi-lagi mata anak-anak remaja itu dimanjakan dengan
sosok-sosok indah nan cakep.
Pelita yang tak tahan mengomentari ketampanan
Langit akhirnya ikut buka suara. "Haduh, udah cakep pinter nulis. Paket
plus-plus deh. Hahaha..." Goda Pelita. Langit hanya menjawab pujian itu
dengan senyuman malu. "Well, Langit lagi sibuk apa nih sekarang?"
tanya Pelita. "Kebetulan masih sibuk menyelesaikan novel ketiga saya. Tapi
sekarang lagi fokus dulu bantu menyeleksi calon pemeran tokoh-tokoh di drama
pementasan Peri Menangis." jawab Langit. "Hmm... ngomong-ngomong soal
drama pementasan nih. Sebenarnya drama Peri Menangis itu menceritakan tentang
apa sih? Ini kan kalo nggak salah adalah novel kamu yang kedua ya? Tapi kenapa
akhirnya diputuskan untuk dibuat ke dalam drama teater dibandingkan menjadi
sebuah film seperti novel pertama kamu?" tanya Pelita dengan lebih rinci
sesuai dengan script pertanyaan di kertas kecil yang digenggamnya.
"Drama pementasan ini memang diambil dari
novel kedua saya yang berjudul sama yaitu Peri Menangis. Kenapa akhirnya
dituangkan kedalam format drama teater ini lebih kepada konten cerita yang
menurut beberapa pihak justru akan lebih bagus dan lebih hidup. Dan saya rasa
saya sependapat dengan mereka, karena pada saat saya dulu menulis novel ini pun
saya sudah membayangkan sebuah panggung teater yang besar dimana tokoh-tokoh
imajinasi yang ada didalamnya akan diperankan dengan anggun dan dengan balutan
kostum-kostum dunia peri yang klasik dan elegan. Untuk ceritanya sendiri sih
lebih kepada perjuangan seorang peri terhadap hak dan keberadaannya yang
tertindas dan terbuang sebagai seorang peri terpilih di kerajaan peri
langit." ungkap Langit antusias.
Acara meet and greet itu terus berlangsung dengan
begitu seru. Termasuk saat sesi tanya-jawab dengan para penonton yang selalu
diakhiri dengan jeritan heboh dan senyum sumringah dari mereka. Akhirnya,
Pelita mengakhiri acara tersebut. Pelita beserta seluruh bintang tamu menutup
acara tersebut. Para penonton pun menyerbu untuk meminta foto bersama Langit.
Mandala dan Andria pun ikut kecipratan serbuan itu.
Akhirnya sesi serbuan foto bareng itu selesai. Mandala pingin ngakak sebenarnya saat melihat antusiasme berlebihan para remaja itu saat menggelu-elukan namanya, bahkan ada yang menjerit-jerit tak jelas begitu berhadapan dengannya. Sebaliknya, Andria malah jadi sasaran para remaja itu bertanya lebih lanjut tentang kehidupannya sebagai penyiar muda. "Cie... Penyiar muda... Cie... Ciee" goda Mandala.
Akhirnya sesi serbuan foto bareng itu selesai. Mandala pingin ngakak sebenarnya saat melihat antusiasme berlebihan para remaja itu saat menggelu-elukan namanya, bahkan ada yang menjerit-jerit tak jelas begitu berhadapan dengannya. Sebaliknya, Andria malah jadi sasaran para remaja itu bertanya lebih lanjut tentang kehidupannya sebagai penyiar muda. "Cie... Penyiar muda... Cie... Ciee" goda Mandala.
“Ah Mas
Manda... ngeledekin gue mulu. Nggak tahu apa gue grogi banget.” Jawab Andria
malu. “Hahaha... Tahu deh yang grogi.” Sahut Mandala yang makin usil. Andria
manyun, Mandala langsung merangkul dan mengacak-acak rambut Andria. “Balik ke
atas dulu yuk buat ambil tas. Abis itu kita evaluasi sebentar.” Ujar Mandala ke
Andria. Andria terdiam. “Lho kenapa? Kok lo diam?” Tanya Mandala heran.
Andria memegangi perutnya, menahan sakit yang
tiba-tiba menyerang. Seperti perutnya terkena maag berkat tidak makan siang
secara benar. Hanya setangkup roti dari Vero yang sempat dihabiskannya sebelum
bel istirahat siang berakhir. “An, lo kenapa?” Mandala berubah cemas setelah
melihat Andria mulai membungkuk seperti menahan sakit di bagian perutnya.
“Kayaknya maag gue kambuh, Mas.” Ujar Andria pelan.
“Lah, kok bisa? Ya udah, lo duduk dulu disana.
Gue cariin obat maag buat lo.” Ujar Mandala yang langsung memapah Andria ke
salah satu bangku kosong di dekat tangga. Andria duduk. “Bentar ya, An. Gue
cari obat maag-nya. Sekalian gue pamit sama Pelita dan Langit di atas.” Seru
Mandala. “Iya, Mas. Makasih ya.” sahut Andria terbata-bata. Perutnya
benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Sakitnya seperti menekan keras ulu
hatinya hingga membuatnya langsung tak berdaya.
“Nah ini dia si bocah pemiliki si coki-coki. Nih
kunci motor vespa lo.” Sahut Mamet memberikan kunci vespa milik Andria.
“Makasih ya, Met.” Jawab Andria pelan. “Eh, kenapa lo? Muka lo kok pucet
banget.” Tanya Mamet heran. “Biasanya perut di cacing aku lagi main roller
coaster.” Jawab Andria mencoba melucu. “Udah pucet begitu masih bisa ngebanyol.
Lo nggak apa-apa kan ditinggal sendirian. Gue musti ke atas dulu.” Seru Mamet.
“Iya, nggak apa-apa.” Balas Andria.
Sepeninggalan Mamet, Mandala datang membawa obat
dan sebotol air mineral untuk Andria. “Nih, minum dulu obatnya.” Mandala
memberikan obat maag ke tangan Andria. Andria menerimanya dan segera
menelannya. “Nih air putihnya.” Mandala kemudian memberikan sebotol air mineral
kepada Andria. “Makasih ya, Mas.” Ujar Andria berterima kasih. “Mau langsung
makan?” tanya Mandala. Andria menggeleng. “Nggak, Mas. Ntar malah muntah lagi.”
Jawab Andria.
“Lo mau makan apa? Biar gue pesenin.” Mandala
lagi-lagi menawarkannya ini-itu. “Gue mau pulang aja, Mas.” Tolak Andria. “Tapi
lo musti makan dulu, ntar lo nggak kuat bawa vespa lo lagi.” sahut Mandala
cemas. “Nggak apa-apa. Gue bisa kok.” Ujar Andria menenangkan. “Nggak deh. Gue
yang anter lo pulang naik mobil kalo gitu. Motor lo biar gue minta tolong Mamet
lagi untuk bawa kerumah lo.” Sahut Mandala mencegah.
Andria buru-buru menggeleng, “Jangan, Kak.
Ngerepotin lo lagi. Gue bisa pulang sendiri kok. Aduh.” Perut Andria mendadak
sakit lagi. “Tuh kan. Sakit lagi.” Sentak Mandala khawatir. “Nggak pake
nolak-nolakan deh. Gue yang anter lo. Mana kunci motor lo? Biar gue kasih lagi
ke Mamet.” Seru Mandala serius. Andria tidak punya pilihan lain selain
memberikan kunci motornya kepada Mandala. “Mas, gue tunggu di depan cafe ya.”
Ujar Andria pelan. “Oke.”
Andria berjalan menuju ke pintu keluar cafe.
Dengan perlahan dan pasti, Andria sampai di depan cafe. Andria lalu menyender
di salah satu dinding bertuliskan cafe diagonal. Andria mengusap-usap perutnya,
berharap rasa sakitnya kian menghilang. Andria mengedari pandangannya ke
seluruh sudut di depannya. Pengunjung yang lalu lalang, keluar masuk, hingga
pandangannya terhenti pada satu pemandangan yang mengejutkan.
Andria terhenyak pada satu pemandangan didepannya
itu. Seseorang yang belakangan ini berada didekatnya, yang entah sebagai teman
atau pengganggunya, sekarang justru tengah berjalan dari arah parkiran. Tapi
ada yang membuat lidahnya kelu kehabisan kata-kata saat dilihatnya orang itu
berjalan dengan lengan terapit oleh mesranya sebuah gandengan tangan lainnya.
Orang itu Vero. Vero tengah berjalan menuju ke arahnya dengan lengannya yang
terapit mesra oleh tangan seorang cewek.
Baru kali itu, Andria melihat Vero begitu lembut
menghadapi seorang cewek. Tanpa risih lengannya Vero menopang apitan lengan
orang disampingnya itu. Tidak seperti Vero yang biasa dikenalnya, Vero yang
usil, suka mengganggu, dan terkadang ketus. Andria tidak tahu kalau ternyata
Vero sudah memiliki seseorang yang spesial. Bahkan Andria lupa menanyakan itu
karena terlalu sibuk dengan kedatangannya Vero saat itu.
Andria sadar ada bagian hatinya yang menguap
lenyap. Seluruh memori yang rapi tersimpan yang Andria kira akan menjadi
sesuatu yang tidak biasa, kini terpaksa dijebol paksa lalu dibuangnya semua.
Sedetik sebelum Vero menyadari keberadaan Andria, Andria sudah lebih dulu
membalikkan badan dan membelakangi Vero. Air mata pertama yang jatuh membasahi
pipinya adalah tanda bahwa Vero hanyalah angin yang datang lalu pergi dari
hidupnya.
Andria setengah mati menahan agar tak lebih banyak
lagi air matanya yang jatuh. Sebelum tangis Andria pecah, Mandala keburu datang
dan mengajaknya pulang. “Yuk, kita langsung pulang.” Tanpa kentara, Andria
menghapus jejak air matanya. Kemudian Andria memengangguk dan menurutin ajakan
Mandala. Andria mengikuti ritme langkah Mandala menuju parkiran mobil. Andria
sempat menoleh dan melihat punggung Vero yang kian menjauh masuk kedalam cafe.
Apitan tangan itu tetap menjadi misteri diiringi oleh air mata Andria yang
kembali berayun di pipinya.
No comments:
Post a Comment