Monday, 30 June 2014

Cerbung: Pangeran Dekik dan Nyai Dempul (part 6)

Part 6

PERTEMUAN MENGEJUTKAN NYAI DEMPUL DENGAN SANG PENOLONG MISTERIUS


Nyai Dempul didera kepanikan tatkala mendengar suara derap kaki yang semakin dekat menuju kearahnya. Dia mondar mandir kesana kesini tapi juga menemukan jalan keluar. Ketika bayangan dari sang pengawal sudah mulai terlihat, didetik itulah tangan seseorang membekapnya dari belakang dan menariknya masuk kedalam celah kecil diantara ruang kerja dan ruang buku-buku Raja.

"Ssssstttt..." Terdengar desisan pelan ditelinga Nyai Dempul yang akhirnya mendiamkan rontaannya. Nyai Dempul melihat pengawal itu melintas didepan mereka. Mata Nyai Dempul langsung terpejam. Napasnya juga sontak tertahan. Pengawal itu hanya melintas sebentar dan langsung kembali menutup pintu. Nyai Dempul menghela nafas lega. Namun, tak lama kemudian, dia merasa didorong keluar dari celah itu.

Nyai Dempul terhuyung menjauh dari celah tersebut. Dia buru-buru mempersiapkan kuda-kuda, barangkali akan terjadi perkelahian dengan sesorang yang membekapnya tadi. Seseorang tersebut akhirnya keluar dari tempat persembunyian mereka tadi. Tapi alangkah terkejutnya ketika seseorang itu justru datang dari masa lalunya, "Kamu." sahut Nyai Dempul terbelalak. Seseorang itu hanya berdiri terdiam menatapnya. Dalam.

Nyai Dempul meleraikan pelukan Pangeran Dewo. Nyai Dempul balas menatap mata Pangeran Dewo yang nanar itu. "Bagaimana Mas Dewo bisa tahu aku disini."

Tangan Pangeran Dewo membelai pucuk kepala Nyai Dempul dengan lembut. "Nanti saja aku ceritakan. Kita harus segera keluar. Ayahku bisa curiga jika kau dan aku tidak ada disekitar ledakan itu. Ayo, ikuti aku, Nimas." ujar Pangeran Dewo sambil menarik tangan Nyai Dempul.

Pangeran Dewo langsung melesat ke Paviliunnya. Mendapati bagian belakang dari kediamannya retak karena ledakan. Pangeran Dewo pun ikut memainkan sandiwara yang dibuat Pangeran Dekik secara tidak langsung. "Apa yang terjadi, Ayah?" ujarnya berpura-pura kepada Raja Arji.

"Syukurlah kau baik-baik saja. Telah terjadi ledakan di Paviliunmu dan Pangeran Dekik." sahut Raja Arji yang begitu lega mendapati anaknya selamat.

"Astaga. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Bagaimana dengan kondisi Pangeran Dekik? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Pangeran Dewo dengan ekspresi yang semakin dibuat nelangsa.

"Pangeran Dekik mungkin tidak seberuntung dirimu. Lengannya terluka akibat ledakan tersebut." jelas Raja Arji sekali lagi. Pangeran Dewo sebenarnya tidak mempedulikan jawaban atas pertanyaannya tadi. Toh, dia sudah tahu bahwa ini sandiwara.

Pangeran Dekik segera dibawa ke tabib kerajaan. Nampaknya, strateginya kali ini berhasil. Sampai di detik, dia dilarikan ke tabib kerajaan, dia tidak mendengar adanya seseorang yang mencoba menyelinap masuk ke dalam Paviliun Raja Arji. "Nimas, kita berhasil." sahutnya pelan. Pangeran Dekik pun memilih tidur setelah lukanya diobati dan dibebat. Pangeran Dekik memejamkan matanya dan berusaha tidur dengan nyenyak.

Nyai Dempul pun tak lama kemudian sudah tiba disekitar Raja Arji. Dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Pangeran Dewo, yaitu berpura-pura tidak tahu. "Ya Tuhan, ada apa ini?" tanya Nyai Dempul panik. Raja Arji lalu menjelaskan kembali perihal ledakan itu. "Astaga. Apakah terdapat korban?" sahutnya lagi.

"Ya, Pangeran Dekik terluka. Kau tak mendengarnya?" tandas Raja Arji.

Nyai Dempul sedikit tergeragap ketika pertanyaan Raja Arji meluncur kepadanya, "Aku... Aku..."

Tiba-tiba suara Pangeran Dewo memotong kebingungan itu. "Dia tadi sedang bersamaku, Ayah. Aku memintanya membantuku untuk membuat agenda kerja."

Nyai Dempul sontak menoleh dan langsung bergumam dalam hati "Lagi-lagi dia membantuku. Dia selalu saja menjagaku." Raja Arji terlihat sepertinya tak menaruh curiga sedikit pun.

"Benar, Yang Mulia Raja. Saya sedang bersama Pangeran Dewo untuk mendiskusikan agenda kerja kami." ujar Nyai Dempul mengulangi percakapan Pangeran Dewo.

Raja Arji mengiyakan pernyataan keduanya. Raja Arji lantas menyuruh para abdinya untuk membereskan Paviliun yang terkena ledakan. Nyai Dempul memohon izin untuk menjenguk Pangeran Dekik yang menjadi korban ledakan. Raja Arji juga memilih untuk kembali ke Paviliunnya.

Sementara Pangeran Dewo memilih tinggal dan membantu para abdi yang tengah membenahi serpihan ledakan di Paviliunnya. Sambil memandangi Nyai Dempul yang perlahan menjauh, Pangeran Dewo hanya bisa membisu. Matanya memanas. Tapi setengah mati dia tahan airmatanya agar tak jatuh. Malam ini, entah dia harus sedih atau bahagia mengetahui bahwa Nyai Dempul baik-baik saja. Pangeran Dewo pun akhirnya masuk ke dalam Paviliun.

Sementara itu, Nyai Dempul mendapati dirinya berlari ke tempat dimana Pangeran Dekik sedang diobati. Sebenarnya hatinya langsung ketar-ketir, ketika Raja Arji mengabari bahwa Pangeran Dekik terluka. Sesampainya di ruangan tabib. Dia langsung bertanya kepada tabib tersebut dimana Pangeran Dekik berada. Sang tabib menunjukkan ruangan yang dimaksud. Nyai Dempul pun berjalan masuk kesana.

Nyai Dempul harus mengontrol emosinya. Dia tak boleh terlihat sangat berempati dengan kondisi Pangeran Dekik. Ini bisa menjadi batu sandungannya dikemudian hari. Dia kembali memasang muka angkuh ala porselen. Dia hanya bisa memandangi Pangeran Dekik yang terbujur lemas. Ragu-ragu tangan Nyai Dempul ingin menyentuh bebatan luka Pangeran Dekik, namun tak disentuhnya juga.

Dibiarkannya Pangeran Dekik tenggelam dalam tidurnya yang nyenyak itu sedetik, semenit, hingga beberapa waktu kemudian. Nyai Dempul masih berdiri disampingnya. Hanya bisa terdiam dalam gelagat asanya. Nyai Dempul tertunduk sedih, menyesal mengapa rencana itu harus menjadi bumerang buat Pangeran Dekik sendiri.

"Aku tak tahu bahwa kau begitu jelek, saat kau menangis seperti itu." sahut Pangeran Dekik tiba-tiba.

"Haaa..." jawab Nyai Dempul dengan ekspresi kaget.

"Haaa... Haaa... selalu saja bodoh seperti itu. Cengeng sekali. Sudah kubilang ini bagian dari rencana. Masih saja menangis untukku. Bodoh." ujar Pangeran Dekik pura-pura kesal.

"Aku tidak menangis." kilah Nyai Dempul tak mau kalah.

"Lalu apa itu di pipimu? Air hujan? Bodoh." sahut Pangeran Dekik yang masih saja menggodanya. Nyai Dempul justru menangis kejar.

Melihat Nyai Dempul menangis, Pangeran Dekik malah tertawa terbahak-bahak. "Kau ini memang bodoh. Aku tidak akan mati hanya gara-gara petasan kecil itu. Sudah, jangan menangis lagi. Nanti banyak orang yang iri kepadaku karena ditangisi oleh putri cantik sepertimu." sahut Pangeran Dekik yang tetap menggoda perempuan yang menangis itu. "Sudah... aku jadi kesenangan ditangisi olehmu." Nyai Dempul langsung tersipu.

Malam yang gaduh itu ditutup dengan senyum tersipu, senyum yang malu-malu dari wajah ayu sang putri, ditambah perasaan yang melapang lega yang terdengar dari helaan nafas panjang sang pangeran. Mereka tahu strategi itu berhasil. Cawan itu sudah ada pada mereka. Satu langkah lagi untuk mengungkap pesan rahasia Raja Arji. Namun, ada yang mengganggu pikiran Nyai Dempul yaitu keterlibatan Pangeran Dewo diantara mereka.

■■■■

No comments:

Post a Comment