Part 6
PERTEMUAN MENGEJUTKAN NYAI DEMPUL DENGAN SANG PENOLONG MISTERIUS
Nyai Dempul didera kepanikan tatkala mendengar
suara derap kaki yang semakin dekat menuju kearahnya. Dia mondar mandir kesana
kesini tapi juga menemukan jalan keluar. Ketika bayangan dari sang pengawal
sudah mulai terlihat, didetik itulah tangan seseorang membekapnya dari belakang
dan menariknya masuk kedalam celah kecil diantara ruang kerja dan ruang
buku-buku Raja.
"Ssssstttt..." Terdengar desisan
pelan ditelinga Nyai Dempul yang akhirnya mendiamkan rontaannya. Nyai Dempul
melihat pengawal itu melintas didepan mereka. Mata Nyai Dempul langsung
terpejam. Napasnya juga sontak tertahan. Pengawal itu hanya melintas sebentar
dan langsung kembali menutup pintu. Nyai Dempul menghela nafas lega. Namun, tak
lama kemudian, dia merasa didorong keluar dari celah itu.
Nyai Dempul terhuyung menjauh dari celah
tersebut. Dia buru-buru mempersiapkan kuda-kuda, barangkali akan terjadi
perkelahian dengan sesorang yang membekapnya tadi. Seseorang tersebut akhirnya
keluar dari tempat persembunyian mereka tadi. Tapi alangkah terkejutnya ketika
seseorang itu justru datang dari masa lalunya, "Kamu." sahut Nyai Dempul
terbelalak. Seseorang itu hanya berdiri terdiam menatapnya. Dalam.
Nyai Dempul meleraikan pelukan Pangeran Dewo.
Nyai Dempul balas menatap mata Pangeran Dewo yang nanar itu. "Bagaimana
Mas Dewo bisa tahu aku disini."
Tangan Pangeran Dewo membelai pucuk kepala Nyai
Dempul dengan lembut. "Nanti saja aku ceritakan. Kita harus segera keluar.
Ayahku bisa curiga jika kau dan aku tidak ada disekitar ledakan itu. Ayo, ikuti
aku, Nimas." ujar Pangeran Dewo sambil menarik tangan Nyai Dempul.
Pangeran Dewo langsung melesat ke Paviliunnya.
Mendapati bagian belakang dari kediamannya retak karena ledakan. Pangeran Dewo
pun ikut memainkan sandiwara yang dibuat Pangeran Dekik secara tidak langsung.
"Apa yang terjadi, Ayah?" ujarnya berpura-pura kepada Raja Arji.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Telah
terjadi ledakan di Paviliunmu dan Pangeran Dekik." sahut Raja Arji yang
begitu lega mendapati anaknya selamat.
"Astaga. Bagaimana semua ini bisa terjadi?
Bagaimana dengan kondisi Pangeran Dekik? Apakah dia baik-baik saja?" tanya
Pangeran Dewo dengan ekspresi yang semakin dibuat nelangsa.
"Pangeran Dekik mungkin tidak seberuntung
dirimu. Lengannya terluka akibat ledakan tersebut." jelas Raja Arji sekali
lagi. Pangeran Dewo sebenarnya tidak mempedulikan jawaban atas pertanyaannya
tadi. Toh, dia sudah tahu bahwa ini sandiwara.
Pangeran Dekik segera dibawa ke tabib kerajaan.
Nampaknya, strateginya kali ini berhasil. Sampai di detik, dia dilarikan ke
tabib kerajaan, dia tidak mendengar adanya seseorang yang mencoba menyelinap masuk
ke dalam Paviliun Raja Arji. "Nimas, kita berhasil." sahutnya pelan.
Pangeran Dekik pun memilih tidur setelah lukanya diobati dan dibebat. Pangeran
Dekik memejamkan matanya dan berusaha tidur dengan nyenyak.
Nyai Dempul pun tak lama kemudian sudah tiba
disekitar Raja Arji. Dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan
Pangeran Dewo, yaitu berpura-pura tidak tahu. "Ya Tuhan, ada apa
ini?" tanya Nyai Dempul panik. Raja Arji lalu menjelaskan kembali perihal ledakan
itu. "Astaga. Apakah terdapat korban?" sahutnya lagi.
"Ya, Pangeran Dekik terluka. Kau tak
mendengarnya?" tandas Raja Arji.
Nyai Dempul sedikit tergeragap ketika
pertanyaan Raja Arji meluncur kepadanya, "Aku... Aku..."
Tiba-tiba suara Pangeran Dewo memotong
kebingungan itu. "Dia tadi sedang bersamaku, Ayah. Aku memintanya
membantuku untuk membuat agenda kerja."
Nyai Dempul sontak menoleh dan langsung
bergumam dalam hati "Lagi-lagi dia membantuku. Dia selalu saja
menjagaku." Raja Arji terlihat sepertinya tak menaruh curiga sedikit pun.
"Benar, Yang Mulia Raja. Saya sedang
bersama Pangeran Dewo untuk mendiskusikan agenda kerja kami." ujar Nyai
Dempul mengulangi percakapan Pangeran Dewo.
Raja Arji mengiyakan pernyataan keduanya. Raja
Arji lantas menyuruh para abdinya untuk membereskan Paviliun yang terkena
ledakan. Nyai Dempul memohon izin untuk menjenguk Pangeran Dekik yang menjadi
korban ledakan. Raja Arji juga memilih untuk kembali ke Paviliunnya.
Sementara Pangeran Dewo memilih tinggal dan
membantu para abdi yang tengah membenahi serpihan ledakan di Paviliunnya.
Sambil memandangi Nyai Dempul yang perlahan menjauh, Pangeran Dewo hanya bisa
membisu. Matanya memanas. Tapi setengah mati dia tahan airmatanya agar tak
jatuh. Malam ini, entah dia harus sedih atau bahagia mengetahui bahwa Nyai
Dempul baik-baik saja. Pangeran Dewo pun akhirnya masuk ke dalam Paviliun.
Sementara itu, Nyai Dempul mendapati dirinya
berlari ke tempat dimana Pangeran Dekik sedang diobati. Sebenarnya hatinya
langsung ketar-ketir, ketika Raja Arji mengabari bahwa Pangeran Dekik terluka.
Sesampainya di ruangan tabib. Dia langsung bertanya kepada tabib tersebut
dimana Pangeran Dekik berada. Sang tabib menunjukkan ruangan yang dimaksud.
Nyai Dempul pun berjalan masuk kesana.
Nyai Dempul harus mengontrol emosinya. Dia tak
boleh terlihat sangat berempati dengan kondisi Pangeran Dekik. Ini bisa menjadi
batu sandungannya dikemudian hari. Dia kembali memasang muka angkuh ala
porselen. Dia hanya bisa memandangi Pangeran Dekik yang terbujur lemas.
Ragu-ragu tangan Nyai Dempul ingin menyentuh bebatan luka Pangeran Dekik, namun
tak disentuhnya juga.
Dibiarkannya Pangeran Dekik tenggelam dalam
tidurnya yang nyenyak itu sedetik, semenit, hingga beberapa waktu kemudian.
Nyai Dempul masih berdiri disampingnya. Hanya bisa terdiam dalam gelagat
asanya. Nyai Dempul tertunduk sedih, menyesal mengapa rencana itu harus menjadi
bumerang buat Pangeran Dekik sendiri.
"Aku tak tahu bahwa kau begitu jelek, saat
kau menangis seperti itu." sahut Pangeran Dekik tiba-tiba.
"Haaa..." jawab Nyai Dempul dengan
ekspresi kaget.
"Haaa... Haaa... selalu saja bodoh seperti
itu. Cengeng sekali. Sudah kubilang ini bagian dari rencana. Masih saja
menangis untukku. Bodoh." ujar Pangeran Dekik pura-pura kesal.
"Aku tidak menangis." kilah Nyai
Dempul tak mau kalah.
"Lalu apa itu di pipimu? Air hujan?
Bodoh." sahut Pangeran Dekik yang masih saja menggodanya. Nyai Dempul
justru menangis kejar.
Melihat Nyai Dempul menangis, Pangeran Dekik
malah tertawa terbahak-bahak. "Kau ini memang bodoh. Aku tidak akan mati
hanya gara-gara petasan kecil itu. Sudah, jangan menangis lagi. Nanti banyak
orang yang iri kepadaku karena ditangisi oleh putri cantik sepertimu."
sahut Pangeran Dekik yang tetap menggoda perempuan yang menangis itu.
"Sudah... aku jadi kesenangan ditangisi olehmu." Nyai Dempul langsung
tersipu.
Malam yang gaduh itu ditutup dengan senyum
tersipu, senyum yang malu-malu dari wajah ayu sang putri, ditambah perasaan
yang melapang lega yang terdengar dari helaan nafas panjang sang pangeran.
Mereka tahu strategi itu berhasil. Cawan itu sudah ada pada mereka. Satu
langkah lagi untuk mengungkap pesan rahasia Raja Arji. Namun, ada yang
mengganggu pikiran Nyai Dempul yaitu keterlibatan Pangeran Dewo diantara
mereka.
■■■■
No comments:
Post a Comment