Ditulis
tanggal 29 Januari 2010 pukul 18:48
Betapa
perempuan itu berusaha mengingat kembali beberapa pertanyaan seorang lelaki tua
renta berbalut baju koko lusuh dan peci yang sudah di jahit sana sini, yang
pada akhirnya membuat lidahnya kelu, “Apa kau sudah melakukan kebaikan pada
orang lain?”
Dengan
bangganya dia katakan dengan setengah berteriak, “Banyak. Banyak hal kebaikan
yang telah aku lakukan untuk orang lain.”
Lelaki tua
itu kembali mengajukan kembali sebuah pertanyaan. “Apakah kau ikhlas?”
“Aku ikhlas.
Itu sudah pasti. Setiap kebaikan bukankah harus selalu dilandaskan keikhlasan.”
Lelaki tua
itu tetap tenang tak bergeming sedikitpun, dia justru tersenyum melihat
perempuan itu berdiri dan mengetuk-ngetukkan sepatunya tak sabar, “Jawablah
pertanyaan terakhirku, jika kau bisa menjawabnya dengan percaya diri seperti
sebelumnya maka aku akan segera pergi dari hadapanmu.
“Baiklah”
Tantang perempuan itu.
“Kau telah
melakukan banyak kebaikan, itu bagus. Kaupun juga telah ikhlas dalam setiap
kebaikan tersebut, itu lebih bagus. Tapi apakah kau telah mengunci lisanmu
untuk tidak memamerkan perbuatan baikmu? Jika iya, itu sangat bagus. Tapi jika
tidak, dua perkara sebelumnya menjadi sia-sia. Kau telah merobohkan sendiri
bangunan yang kau bangun.”
Perempuan
itu terdiam. Dia memang telah banyak melakukan kebaikan. Sedari kecil dia sudah
diajarkan untuk selalu berbuat baik kepada banyak orang. Dan dia selalu ikhlas
melakukannya. Tapi jantungnya mendadak terpompa cepat tatkala teringat bahwa
hampir sebagian besar dari perbuatan baiknya dia ceritakan kembali ke saudara,
sahabat, atau sekedar orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya. Egonya
yang melambung tinggi langsung surut seperti terseret ombak. Hatinya menciut.
Malu. Tertunduklah ia didepan lelaki tua yang sedari tadi dilihatnya dengan
perasaan angkuh.
“Mengapa
engkau diam?”
“Aku… aku…
aku belum bisa mengunci lisanku untuk tidak berbuat riya.”
“Sadarkah
kau telah menghancurkan istanamu dengan tanganmu sendiri. Bahkan sebelum hari
ini kau menyadarinya, bangunan megah itu sudah retak parah.”
Perempuan
itu tertunduk kian lesu. Ia menyesal. Lelaki tua itu benar. “Kau benar, pak.
Aku sekarang perempuan yang tanpa pelindung dari hujan dan panas.”
“Segeralah
bangun kembali istanamu dengan lengkap, dengan tiga perkara yang lengkap.
Perbuatan baikmu, ikhlasmu, dan lisanmu yang terkunci.” Lelaki tua itu
tersenyum, lalu pergi.
Perempuan
itu kini telah sukses membangun istana pahala dan istana megah nyatanya. Berkat
pertanyaan-pertanyaan itu, ia mengerti satu hal bahwa sebuah riya bisa
menyebabkan tercorengnya perbuatan baiknya. Cukuplah dirinya yang tau kebaikan
yang telah ia lakukan, jikalau ia harus membuka lisannya itu pun semata-mata
untuk pelajaran. Ya, sebuah pelajaran untuk orang lain agar mereka tau tiga
perkara ini dan kebaikan yang harus mereka contoh. Dan sama sekali bukan sebuah
riya untuk mengukuhkan posisi sebagai orang baik.
“Terima
kasih, Pak. Dimanapun engkau kini, kuharap engkau tetap mengunci lisanmu
terhadap perbuatan baikmu padaku didepan orang lain.”
-tamat-
No comments:
Post a Comment