Sunday, 29 June 2014

Ketika Perempuan itu Paham

Ditulis tanggal 29 Januari 2010 pukul 18:48

Betapa perempuan itu berusaha mengingat kembali beberapa pertanyaan seorang lelaki tua renta berbalut baju koko lusuh dan peci yang sudah di jahit sana sini, yang pada akhirnya membuat lidahnya kelu, “Apa kau sudah melakukan kebaikan pada orang lain?”

Dengan bangganya dia katakan dengan setengah berteriak, “Banyak. Banyak hal kebaikan yang telah aku lakukan untuk orang lain.”

Lelaki tua itu kembali mengajukan kembali sebuah pertanyaan. “Apakah kau ikhlas?”

“Aku ikhlas. Itu sudah pasti. Setiap kebaikan bukankah harus selalu dilandaskan keikhlasan.”

Lelaki tua itu tetap tenang tak bergeming sedikitpun, dia justru tersenyum melihat perempuan itu berdiri dan mengetuk-ngetukkan sepatunya tak sabar, “Jawablah pertanyaan terakhirku, jika kau bisa menjawabnya dengan percaya diri seperti sebelumnya maka aku akan segera pergi dari hadapanmu.

“Baiklah” Tantang perempuan itu.

“Kau telah melakukan banyak kebaikan, itu bagus. Kaupun juga telah ikhlas dalam setiap kebaikan tersebut, itu lebih bagus. Tapi apakah kau telah mengunci lisanmu untuk tidak memamerkan perbuatan baikmu? Jika iya, itu sangat bagus. Tapi jika tidak, dua perkara sebelumnya menjadi sia-sia. Kau telah merobohkan sendiri bangunan yang kau bangun.”

Perempuan itu terdiam. Dia memang telah banyak melakukan kebaikan. Sedari kecil dia sudah diajarkan untuk selalu berbuat baik kepada banyak orang. Dan dia selalu ikhlas melakukannya. Tapi jantungnya mendadak terpompa cepat tatkala teringat bahwa hampir sebagian besar dari perbuatan baiknya dia ceritakan kembali ke saudara, sahabat, atau sekedar orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya. Egonya yang melambung tinggi langsung surut seperti terseret ombak. Hatinya menciut. Malu. Tertunduklah ia didepan lelaki tua yang sedari tadi dilihatnya dengan perasaan angkuh.

“Mengapa engkau diam?”

“Aku… aku… aku belum bisa mengunci lisanku untuk tidak berbuat riya.”

“Sadarkah kau telah menghancurkan istanamu dengan tanganmu sendiri. Bahkan sebelum hari ini kau menyadarinya, bangunan megah itu sudah retak parah.”

Perempuan itu tertunduk kian lesu. Ia menyesal. Lelaki tua itu benar. “Kau benar, pak. Aku sekarang perempuan yang tanpa pelindung dari hujan dan panas.”

“Segeralah bangun kembali istanamu dengan lengkap, dengan tiga perkara yang lengkap. Perbuatan baikmu, ikhlasmu, dan lisanmu yang terkunci.” Lelaki tua itu tersenyum, lalu pergi.

Perempuan itu kini telah sukses membangun istana pahala dan istana megah nyatanya. Berkat pertanyaan-pertanyaan itu, ia mengerti satu hal bahwa sebuah riya bisa menyebabkan tercorengnya perbuatan baiknya. Cukuplah dirinya yang tau kebaikan yang telah ia lakukan, jikalau ia harus membuka lisannya itu pun semata-mata untuk pelajaran. Ya, sebuah pelajaran untuk orang lain agar mereka tau tiga perkara ini dan kebaikan yang harus mereka contoh. Dan sama sekali bukan sebuah riya untuk mengukuhkan posisi sebagai orang baik.

“Terima kasih, Pak. Dimanapun engkau kini, kuharap engkau tetap mengunci lisanmu terhadap perbuatan baikmu padaku didepan orang lain.”


-tamat-

No comments:

Post a Comment