Part 4
KENANGAN NYAI DEMPUL DAN DEWO SEMASA KECIL
Dewo benar-benar tak habis pikir apa yang
sebenarnya ayahnya inginkan dari rentetan kejadian ini. Rasanya dia ingin marah
dan menghakimi sendiri ayahnya. Tapi sekarang beliau adalah Raja. Raja dari
kerajaan yang dulu Paman Adipta miliki. Tak bisa dia sentuh ayahnya. Tapi ingin
sekali dia tanyakan banyak hal mengenai sosok Nyai Dempul. Sosok yang
seharusnya bernama Nimas Naratih, seorang teman mainnya dikala kecil.
Tapi bertanya dipertemuan ini adalah hal tabu.
Lebih baik aku tanya sendiri nanti pada ayah dan selidiki perlahan, ujar Dewo
membatin.
Sementara dilain pihak, Nyai Dempul setengah
mati bertahan dibalik segala sosoknya saat ini. Nyai Dempul mencoba memulai
amanah Bopoknya. Nyai Dempul membuka suara, dan berbisik ke Dewo. "Mulai
hari ini, kita akan bertugas bersama. Kau sudah tahu namaku kan?" Aku Nyai
Dempul pura-pura.
"Ni...mas." Jawab Dewo tertahan.
Hati Nyai Dempul seperti di pukul gada besar mendengar
Dewo masih menyebutkan namanya. Tapi Nyai Dempul tidak boleh bergeming, dia
harus tetap terlihat acuh. "Siapa Nimas? Aku Nyai Dempul, Yang Mulia
Dewo." ujarnya dibuat senatural mungkin.
Ganti Dewo yang menatap perempuan masa kecilnya
itu dengan nanar. "Oh maaf, aku salah. Iya, maksudku Nyai Dempul."
Kemarahan yang diam-diam Dewo pendam itu tak
sengaja Nyai Dempul lihat kilatnya. Benar kata Bopok, sepertinya memang Dewo
dan ayahnya tidak sejalan, batinnya. "Baiklah, semoga kerja sama kita akan
berlangsung lancar." sahut Dewo mengulurkan tangan kanannya.
Terlihat jelas bekas luka panjang di punggung
tangan Dewo, dan Nyai Dempul tahu betul penyembabnya. Renungan kecil pun
menarik ke masa kecil Nyai Dempul.
Nyai Dempul kecil adalah anak yang memiliki hobi
menyelinap di taman bunga belakang. Nyai Dempul kecil berkeinginan untuk
melihat dunia di luar kerajaannya. Hanya dengan memanjat tembok tinggi itulah
dia bisa mewujudkan mimpinya. Berkali-kali dia memanjat, berkali-kali itulah
dia gagal. Ketika usahanya dirasa benar-benar gagal, dia menangis sesegukan.
Tangisan itulah yang akhirnya membawa Dewo kecil datang kepadanya.
Dewo kecil adalah anak seorang penasehat
kepercayaan Raja Adipta, Bopok Nyai Dempul kecil. Tapi entah mengapa, sejak
kecil justru Dewo kecil lebih nyaman bercerita dengan Raja Adipta. Dia bahkan
berharap memiliki ayah seperti Raja Adipta yang sangat welas asih. Maka ketika
mendapatkan Nyai Dempul kecil menangis, naluri seorang kakak pun muncul. Dewo
kecil pun menjelma menjadi malaikat penjaga Nyai Dempul kecil.
Dewo kecil sering sekali membantu pelarian itu.
Dia membantu Nyai Dempul kecil memanjat tembok kokoh yang lebih tinggi
berkali-kali meter dari tinggi mereka. Dewo kecil mengajari Nyai Dempul Kecil
untuk memanjat dan berlari kencang untuk menghindari kejaran penjaga kerajaan.
Nyai Dempul Kecil selalu berada dalam perlindungannya. Hingga suatu saat dalam
pelarian mereka, mereka masuk kedalam hutan mawar duri.
Hutan mawar duri adalah hutan terindah yang
pernah ada dalam penglihatan Nyai Dempul kecil. Mawar yang tumbuh bebas dan
tertata cantik oleh tangan Tuhan. Nyai Dempul kecil terkesima. Kegirangan
hingga berlarian kesana kesini. Dewo kecil hanya memandanginya dari jauh.
"Dasar anak perempuan. Tak boleh melihat taman bunga." ujar Dewo
kecil terkekeh.
"Mas Dewo lihat bunganya banyak
sekali." teriak Nyai Dempul kecil.
Dewo kecil hanya menggeleng-geleng sambil
tersenyum. "Iya. Hati-hati bunga mawarnya berduri." ujar Dewo kecil.
"Iya, durinya gede-gede. Pasti
tajam." sahut Nyai Dempul kecil setuju.
"Iya, makanya dilihat aja, tidak usah
dipegang. Nanti tangan kamu bisa luka." ujar Dewo kecil mengingatkan lagi.
"Siap Mas Dewo." seru Nyai Dempul.
"Ya sudah. Mas Dewo tunggu disini ya.
Ingat mainnya jangan jauh-jauh. Ingat..." sahutnya.
Namun, setelah itu justru peristiwa yang tak
diinginkan terjadi. Nyai Dempul kecil yang berlari kelewat jauh, justru
dipertemukan dengan kucing hutan. Dia berpikiran bahwa semua kucing itu sama.
Lembut dan tidak galak seperti kucing yang ada di lingkungan kerajaan. Tapi
ternyata kucing hutan ini mengejarnya. Sontak Nyai Dempul kecil berlari
menghindar. Dia berteriak ketakutan. Berlari sambil setengah menangis.
"Aaaa"
Teriakan itu terdengar oleh Dewo kecil. Dengan
sigapnya dia berlari mendekat ke asal suara. Dilihatnya Nyai Dempul kecil
tengah dikejar-kejar oleh seekor kucing hutan yang cukup besar. Dewo kecil
mengambil ranting berukuran besar untuk mengusir kucing hutan tersebut. Begitu
Nyai Dempul kecil sudah persis dihadapan, dia bergegas menarik kebelakangnya.
Dewo kecil langsung menghalau dengan ranting yang dibawanya.
Dewo kecil hampir berhasil memukul mundur
kucing hutan itu, namun didetik terakhir kucing hutan itu berbalik arah dan
mencakar punggung tangan kanan Dewo kecil. Dewo kecil terpaksa memukulnya
kembali hingga tak berdaya. Darah segar mengucur dari luka cakar tersebut. Nyai
Dempul masih histeris dengan peristiwa itu terutama luka yang didapatkan Dewo
kecil. "Tangan Mas berdarah." ujar Nyai Dempul lirih.
Nyai Dempul terbangun dari lamunannya. Masih
dengan tangan yang terjabat, Dewo masih menatapnya sedih. Seperti ingin
menanyakan banyak hal tapi tertahan. Dewo mengutuk sendiri dirinya karena
melalaikan janjinya sendiri untuk menjaga perempuan dihadapannya ini.
■■■■
No comments:
Post a Comment