Monday, 30 June 2014

Cerbung: Pangeran Dekik dan Nyai Dempul (part 4)

Part 4

KENANGAN NYAI DEMPUL DAN DEWO SEMASA KECIL


Dewo benar-benar tak habis pikir apa yang sebenarnya ayahnya inginkan dari rentetan kejadian ini. Rasanya dia ingin marah dan menghakimi sendiri ayahnya. Tapi sekarang beliau adalah Raja. Raja dari kerajaan yang dulu Paman Adipta miliki. Tak bisa dia sentuh ayahnya. Tapi ingin sekali dia tanyakan banyak hal mengenai sosok Nyai Dempul. Sosok yang seharusnya bernama Nimas Naratih, seorang teman mainnya dikala kecil.

Tapi bertanya dipertemuan ini adalah hal tabu. Lebih baik aku tanya sendiri nanti pada ayah dan selidiki perlahan, ujar Dewo membatin.

Sementara dilain pihak, Nyai Dempul setengah mati bertahan dibalik segala sosoknya saat ini. Nyai Dempul mencoba memulai amanah Bopoknya. Nyai Dempul membuka suara, dan berbisik ke Dewo. "Mulai hari ini, kita akan bertugas bersama. Kau sudah tahu namaku kan?" Aku Nyai Dempul pura-pura.

"Ni...mas." Jawab Dewo tertahan.

Hati Nyai Dempul seperti di pukul gada besar mendengar Dewo masih menyebutkan namanya. Tapi Nyai Dempul tidak boleh bergeming, dia harus tetap terlihat acuh. "Siapa Nimas? Aku Nyai Dempul, Yang Mulia Dewo." ujarnya dibuat senatural mungkin.

Ganti Dewo yang menatap perempuan masa kecilnya itu dengan nanar. "Oh maaf, aku salah. Iya, maksudku Nyai Dempul."

Kemarahan yang diam-diam Dewo pendam itu tak sengaja Nyai Dempul lihat kilatnya. Benar kata Bopok, sepertinya memang Dewo dan ayahnya tidak sejalan, batinnya. "Baiklah, semoga kerja sama kita akan berlangsung lancar." sahut Dewo mengulurkan tangan kanannya.

Terlihat jelas bekas luka panjang di punggung tangan Dewo, dan Nyai Dempul tahu betul penyembabnya. Renungan kecil pun menarik ke masa kecil Nyai Dempul.

Nyai Dempul kecil adalah anak yang memiliki hobi menyelinap di taman bunga belakang. Nyai Dempul kecil berkeinginan untuk melihat dunia di luar kerajaannya. Hanya dengan memanjat tembok tinggi itulah dia bisa mewujudkan mimpinya. Berkali-kali dia memanjat, berkali-kali itulah dia gagal. Ketika usahanya dirasa benar-benar gagal, dia menangis sesegukan. Tangisan itulah yang akhirnya membawa Dewo kecil datang kepadanya.

Dewo kecil adalah anak seorang penasehat kepercayaan Raja Adipta, Bopok Nyai Dempul kecil. Tapi entah mengapa, sejak kecil justru Dewo kecil lebih nyaman bercerita dengan Raja Adipta. Dia bahkan berharap memiliki ayah seperti Raja Adipta yang sangat welas asih. Maka ketika mendapatkan Nyai Dempul kecil menangis, naluri seorang kakak pun muncul. Dewo kecil pun menjelma menjadi malaikat penjaga Nyai Dempul kecil.

Dewo kecil sering sekali membantu pelarian itu. Dia membantu Nyai Dempul kecil memanjat tembok kokoh yang lebih tinggi berkali-kali meter dari tinggi mereka. Dewo kecil mengajari Nyai Dempul Kecil untuk memanjat dan berlari kencang untuk menghindari kejaran penjaga kerajaan. Nyai Dempul Kecil selalu berada dalam perlindungannya. Hingga suatu saat dalam pelarian mereka, mereka masuk kedalam hutan mawar duri.

Hutan mawar duri adalah hutan terindah yang pernah ada dalam penglihatan Nyai Dempul kecil. Mawar yang tumbuh bebas dan tertata cantik oleh tangan Tuhan. Nyai Dempul kecil terkesima. Kegirangan hingga berlarian kesana kesini. Dewo kecil hanya memandanginya dari jauh. "Dasar anak perempuan. Tak boleh melihat taman bunga." ujar Dewo kecil terkekeh.

"Mas Dewo lihat bunganya banyak sekali." teriak Nyai Dempul kecil.
Dewo kecil hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum. "Iya. Hati-hati bunga mawarnya berduri." ujar Dewo kecil.

"Iya, durinya gede-gede. Pasti tajam." sahut Nyai Dempul kecil setuju.

"Iya, makanya dilihat aja, tidak usah dipegang. Nanti tangan kamu bisa luka." ujar Dewo kecil mengingatkan lagi.

"Siap Mas Dewo." seru Nyai Dempul.

"Ya sudah. Mas Dewo tunggu disini ya. Ingat mainnya jangan jauh-jauh. Ingat..." sahutnya.

Namun, setelah itu justru peristiwa yang tak diinginkan terjadi. Nyai Dempul kecil yang berlari kelewat jauh, justru dipertemukan dengan kucing hutan. Dia berpikiran bahwa semua kucing itu sama. Lembut dan tidak galak seperti kucing yang ada di lingkungan kerajaan. Tapi ternyata kucing hutan ini mengejarnya. Sontak Nyai Dempul kecil berlari menghindar. Dia berteriak ketakutan. Berlari sambil setengah menangis. "Aaaa"

Teriakan itu terdengar oleh Dewo kecil. Dengan sigapnya dia berlari mendekat ke asal suara. Dilihatnya Nyai Dempul kecil tengah dikejar-kejar oleh seekor kucing hutan yang cukup besar. Dewo kecil mengambil ranting berukuran besar untuk mengusir kucing hutan tersebut. Begitu Nyai Dempul kecil sudah persis dihadapan, dia bergegas menarik kebelakangnya. Dewo kecil langsung menghalau dengan ranting yang dibawanya.

Dewo kecil hampir berhasil memukul mundur kucing hutan itu, namun didetik terakhir kucing hutan itu berbalik arah dan mencakar punggung tangan kanan Dewo kecil. Dewo kecil terpaksa memukulnya kembali hingga tak berdaya. Darah segar mengucur dari luka cakar tersebut. Nyai Dempul masih histeris dengan peristiwa itu terutama luka yang didapatkan Dewo kecil. "Tangan Mas berdarah." ujar Nyai Dempul lirih.

Nyai Dempul terbangun dari lamunannya. Masih dengan tangan yang terjabat, Dewo masih menatapnya sedih. Seperti ingin menanyakan banyak hal tapi tertahan. Dewo mengutuk sendiri dirinya karena melalaikan janjinya sendiri untuk menjaga perempuan dihadapannya ini.

■■■■

No comments:

Post a Comment