Monday, 30 June 2014

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 5)

Part 5

VESPA COKLAT ANDRIA DAN PENUMPANG TAK DIUNDANG


Seusai jam pelajaran sekolah, Andria langsung buru-buru berlari ke parkiran motor. Hari ini dia ada siaran radio malam. Begitu sampai di muka gerbang parkiran, Andria sempat terhenti sejenak melakukan screening terhadap banyak motor. Andria mencari motor vespa coklatnya. Perasaan tadi dia parkir nggak jauh-jauh. Dia akhirnya memutuskan untuk masuk dan memeriksa satu persatu deretan motor itu.

Parkiran motor di sekolahnya memang lumayan besar. Tapi sepertinya dia belum pikun-pikun amat meletakkan vespa kesayangannya disana. Saat sedang mencari vespanya. Tiba-tiba Gatot Kaca dadakan memanggilnya dari arah depan. Vero. Cowok itu terlihat sedang asyik duduk disalah satu motor. Motor Vespa. "Lah, itu kan vespa gue." pekik Andria. Buru-buru dia lari ke arah Vero dan langsung berusaha mengusirnya.

"Verooooo... ngapain lo di vespa gue. Sana... Sana..." sahut Andria sembari mengusir Vero yang tengah anteng duduk di singgasana vespanya. "An, gue nebeng dong." todong Vero. "Lah, motor lo mana? Nggak ah. Gue nggak langsung pulang. Gue mau... mau..." sahutnya terhenti. Kalau Vero tahu gue penyiar, bisa ribet satu sekolah. Jangan kasih tahu dia. Bahaya! "Ah, mau tahu aja lo." lanjut Andria lagi.

Vero mendekap vespa Andria erat-erat, "Tolonglah saya, Nyonyah..." rayu Vero. "Motor gue lagi di bengkel. Kemarin abis cium bemper mobil orang." sahut Vero lagi. "Terus masalah buat gue. Deritamu, Nak" tolak Andria. "An, liat nih dompet gue. Kosong. Bokek. Kere. Pliiissss... Masa lo tega ngeliat gue ngesot sampe rumah." Vero tak kehilangan akal, dia buka dompetnya. Memang benar-benar kosong. Andria terdiam kasihan.

Nggg... Andria paling tidak tega. Tapi tidak! Kali ini dia harus jadi ratu tega. "Nggak mau ah. Tadi gue kan udah bilang, gue nggak langsung balik. Tambeng banget." tolak Andria mentah-mentah. Vero kembali mendekap vespa coklat itu. "Tega banget sih. Lo nggak liat nih si coklat ama gue udah tidak bisa dipisahkan lagi. Makanya gue nebeng yaaa..." desak Vero dengan perangai dan ucapan yang semakin ngaco.

"Aduh, Ver. Sumpah deh gue nggak bisa. Gue ada janji." tolak Andri sekali lagi. Vero manyun, "Pasti mau nge-date." selidik Vero. "Sembarangan. Jangan ngomong ngaco deh. Nge-date apaan coba. Emang gue nggak ada kerjaan lain apa?" jawab Andria kesal. "Trus ngapain dong?" tanya Vero. "Kepo banget, Pak? Gue mau ngapain kek. Urusan gue." sahut Andria menahan emosinya yang sudah nyaris meledak.

"Ya udah, kalo bukan nge-date. Gue nebeng makanyaaa. Tega banget lo, An. Sekali ini aja." ujar Vero memohon-mohon. "Ver, gue itu nggak langsung pulang." jelas Andria. "Nggak apa-apa deh. Yang penting gue bisa pulang bareng lo. Eh, maksudnya nebeng lo. Pliiisss..." Vero sudah sampai membungkuk memohon segala. Andria bingung. Antara nggak tega sama nggak mau. Andria menghentakkan kakinya, kesal.

"Ah, elo nih ya. Ya udah, lo boleh nebeng gue. Nggak pake bawel, nggak banyak nanya, duduk manis. Gue ada janji sampe malem jadi siap-siap pulang malem. Mengerti?" sahut Andria dengan nada penuh ancaman. Sebuah senyum menyembul dari sudut bibir Vero, cowok itu langsung berdiri tegak bak prajurit. "Mengerti, Komandan." jawab Vero sambil memberi hormat kepada Andria.

"Nih ambil helm buat lo di box vespa gue." ujar Andria memberikan kunci box vespanya. Vero mengambil dan langsung mengambil helm satunya lagi. Betapa terkejutnya vero melihat wujud helm yang akan digunakannya. "An, lo yakin gue harus pake ini. Masa gue pake helm warna pink terus coraknya lope lope begini." protes Vero. "Dilarang protes. Pake atau lo batal nebeng." Ancam Andria. Vero menyerah. Dipakainya helm itu.

Vero akhirnya memakai helm berwarna pink itu. Andria sudah siap dibalik kemudi motornya. Mulai menstater vespanya. Mendengar bunyi stater, Vero langsung mendelik takjub. "Aje gileee... Gue pikir lo bakal pake acara nyelah dulu ini vespa. Ternyata udah ada staternya, ya? Canggih... Canggih..." sahut Vero kagum. Nyaris saja tawa Andria meledak. "Haha.. Udah deh, jangan norak-norak banget. Cepetan naik." balas Andria.

Vero langsung loncat ke jok belakang. "Jalan, Bang." sahut Vero menepuk bahu Andria. Andria mendelik, "Sial. Lo kira gue abang-abang." Vero ngakak tapi langsung buru-buru meralat ucapannya. "Baik, Nyonyah. Ayo kita segera jalan. Hari sudah nampak sore." ralatnya seperti membaca sajak. Andria serba salah. Bingung harus marah atau kembali tertawa. Dia hanya tersenyum kecil melihat penumpang tak diundangnya itu.

Motor vespa Andria beserta penumpang tak diundangnya itu melaju ke jalan raya. Andria sebenarnya agak malu juga lantaran begitu keluar dari sekolah, banyak mata yang menyoroti mereka apalagi kalau bukan karena Vero nebeng lalu ditambah cowok itu mau-maunya menggunakan helm pink bercorak hati miliknya. Tapi siapa sangka, Vero justru benar-benar menikmati perjalanan itu dengan tenang tanpa banyak bertanya.

Disepanjang jalan, mereka menemui beberapa pengendara vespa lainnya. Sudah tiga kali berpapasan, sudah tiga kali pula Vero melihat Andria melempar senyum bahkan menyapa ramah pengendara tersebut. Vero mulai tak kerasan dengan sikap Andria itu. Ditegurnya Andria saat lampur merah di pertigaan jalan. "Lo ganjen banget sih, An. Daritadi gue liatin senyam senyum sama pengendara vespa yang lain." tandas Vero tak suka.

"Lah?" tanya Andria bingung. "Iya, ngapain juga sih senyum ke mereka. Kenal juga nggak, kan." tukas Vero dengan nada kian tak enak didengar. Dituduh begitu, Andria cuma bisa diam menunggu Vero berhenti bicara. "Kalem, Pak. Kalem. Jangan asal main tuduh. Emang gue ada tampang ganjen apa? Gue jelasin, ada semacam aturan tak tertulis antara sesama pengendara vespa. Salah satunya saling menyapa kalo ketemu dijalan."

"Daritadi kan kita dijalan ketemu pengendara vespa. Nah, kita musti nyapa mereka. Istilahnya, sesama sodara sevespa kudu saling hormat. Paham kagak lo, Pak?" ungkap Andria menjelaskan. Vero mengangguk-angguk mulai mengerti. "Sorry, gue nggak tahu. Gue kira lo keganjenan, apalagi tadi mereka cowok semua lagi. Perasaan, gue nggak pernah disenyumin." sahut Vero. "Jiiiah... Males banget gue senyumin elo." balas Andria.

Manyun di bibir Vero sudah semakin lebar, pura-pura bete. Andria terkikik melihat penampakan itu. Syukurin. memble-memble deh itu bibir. Batin Andria dalam hati. Tiba-tiba, "Jalan, Nyonyah. Udah lampu ijo." sahut Vero yang lagi-lagi menepuk bahu Andria. Andria kembali menoleh tajam kearah Vero. "Memang dasar penumpang tak diundang. Huh!" keluhnya. Vero menggeleng lalu berujar, "Maaf, penumpang nggak boleh ngomong." 

■■■■

No comments:

Post a Comment