Part 5
VESPA
COKLAT ANDRIA DAN PENUMPANG TAK DIUNDANG
Seusai jam pelajaran sekolah, Andria langsung
buru-buru berlari ke parkiran motor. Hari ini dia ada siaran radio malam.
Begitu sampai di muka gerbang parkiran, Andria sempat terhenti sejenak
melakukan screening terhadap banyak motor. Andria mencari motor vespa
coklatnya. Perasaan tadi dia parkir nggak jauh-jauh. Dia akhirnya memutuskan
untuk masuk dan memeriksa satu persatu deretan motor itu.
Parkiran motor di sekolahnya memang lumayan
besar. Tapi sepertinya dia belum pikun-pikun amat meletakkan vespa
kesayangannya disana. Saat sedang mencari vespanya. Tiba-tiba Gatot Kaca
dadakan memanggilnya dari arah depan. Vero. Cowok itu terlihat sedang asyik
duduk disalah satu motor. Motor Vespa. "Lah, itu kan vespa gue."
pekik Andria. Buru-buru dia lari ke arah Vero dan langsung berusaha
mengusirnya.
"Verooooo... ngapain lo di vespa gue.
Sana... Sana..." sahut Andria sembari mengusir Vero yang tengah anteng
duduk di singgasana vespanya. "An, gue nebeng dong." todong Vero.
"Lah, motor lo mana? Nggak ah. Gue nggak langsung pulang. Gue mau...
mau..." sahutnya terhenti. Kalau Vero tahu gue penyiar, bisa ribet satu
sekolah. Jangan kasih tahu dia. Bahaya! "Ah, mau tahu aja lo." lanjut
Andria lagi.
Vero mendekap vespa Andria erat-erat,
"Tolonglah saya, Nyonyah..." rayu Vero. "Motor gue lagi di
bengkel. Kemarin abis cium bemper mobil orang." sahut Vero lagi.
"Terus masalah buat gue. Deritamu, Nak" tolak Andria. "An, liat
nih dompet gue. Kosong. Bokek. Kere. Pliiissss... Masa lo tega ngeliat gue
ngesot sampe rumah." Vero tak kehilangan akal, dia buka dompetnya. Memang
benar-benar kosong. Andria terdiam kasihan.
Nggg... Andria paling tidak tega. Tapi tidak!
Kali ini dia harus jadi ratu tega. "Nggak mau ah. Tadi gue kan udah
bilang, gue nggak langsung balik. Tambeng banget." tolak Andria
mentah-mentah. Vero kembali mendekap vespa coklat itu. "Tega banget sih.
Lo nggak liat nih si coklat ama gue udah tidak bisa dipisahkan lagi. Makanya
gue nebeng yaaa..." desak Vero dengan perangai dan ucapan yang semakin
ngaco.
"Aduh, Ver. Sumpah deh gue nggak bisa. Gue
ada janji." tolak Andri sekali lagi. Vero manyun, "Pasti mau nge-date." selidik Vero.
"Sembarangan. Jangan ngomong ngaco deh. Nge-date apaan coba. Emang gue nggak ada kerjaan lain apa?" jawab
Andria kesal. "Trus ngapain dong?" tanya Vero. "Kepo banget,
Pak? Gue mau ngapain kek. Urusan gue." sahut Andria menahan emosinya yang
sudah nyaris meledak.
"Ya udah, kalo bukan nge-date. Gue nebeng
makanyaaa. Tega banget lo, An. Sekali ini aja." ujar Vero memohon-mohon.
"Ver, gue itu nggak langsung pulang." jelas Andria. "Nggak
apa-apa deh. Yang penting gue bisa pulang bareng lo. Eh, maksudnya nebeng lo.
Pliiisss..." Vero sudah sampai membungkuk memohon segala. Andria bingung.
Antara nggak tega sama nggak mau. Andria menghentakkan kakinya, kesal.
"Ah, elo nih ya. Ya udah, lo boleh nebeng
gue. Nggak pake bawel, nggak banyak nanya, duduk manis. Gue ada janji sampe
malem jadi siap-siap pulang malem. Mengerti?" sahut Andria dengan nada
penuh ancaman. Sebuah senyum menyembul dari sudut bibir Vero, cowok itu
langsung berdiri tegak bak prajurit. "Mengerti, Komandan." jawab Vero
sambil memberi hormat kepada Andria.
"Nih ambil helm buat lo di box vespa
gue." ujar Andria memberikan kunci box vespanya. Vero mengambil dan
langsung mengambil helm satunya lagi. Betapa terkejutnya vero melihat wujud
helm yang akan digunakannya. "An, lo yakin gue harus pake ini. Masa gue
pake helm warna pink terus coraknya lope lope begini." protes Vero.
"Dilarang protes. Pake atau lo batal nebeng." Ancam Andria. Vero
menyerah. Dipakainya helm itu.
Vero akhirnya memakai helm berwarna pink itu.
Andria sudah siap dibalik kemudi motornya. Mulai menstater vespanya. Mendengar
bunyi stater, Vero langsung mendelik takjub. "Aje gileee... Gue pikir lo
bakal pake acara nyelah dulu ini vespa. Ternyata udah ada staternya, ya?
Canggih... Canggih..." sahut Vero kagum. Nyaris saja tawa Andria meledak.
"Haha.. Udah deh, jangan norak-norak banget. Cepetan naik." balas
Andria.
Vero langsung loncat ke jok belakang.
"Jalan, Bang." sahut Vero menepuk bahu Andria. Andria mendelik,
"Sial. Lo kira gue abang-abang." Vero ngakak tapi langsung buru-buru
meralat ucapannya. "Baik, Nyonyah. Ayo kita segera jalan. Hari sudah
nampak sore." ralatnya seperti membaca sajak. Andria serba salah. Bingung
harus marah atau kembali tertawa. Dia hanya tersenyum kecil melihat penumpang
tak diundangnya itu.
Motor vespa Andria beserta penumpang tak diundangnya
itu melaju ke jalan raya. Andria sebenarnya agak malu juga lantaran begitu
keluar dari sekolah, banyak mata yang menyoroti mereka apalagi kalau bukan
karena Vero nebeng lalu ditambah cowok itu mau-maunya menggunakan helm pink
bercorak hati miliknya. Tapi siapa sangka, Vero justru benar-benar menikmati
perjalanan itu dengan tenang tanpa banyak bertanya.
Disepanjang jalan, mereka menemui beberapa
pengendara vespa lainnya. Sudah tiga kali berpapasan, sudah tiga kali pula Vero
melihat Andria melempar senyum bahkan menyapa ramah pengendara tersebut. Vero
mulai tak kerasan dengan sikap Andria itu. Ditegurnya Andria saat lampur merah
di pertigaan jalan. "Lo ganjen banget sih, An. Daritadi gue liatin senyam
senyum sama pengendara vespa yang lain." tandas Vero tak suka.
"Lah?" tanya Andria bingung.
"Iya, ngapain juga sih senyum ke mereka. Kenal juga nggak, kan."
tukas Vero dengan nada kian tak enak didengar. Dituduh begitu, Andria cuma bisa
diam menunggu Vero berhenti bicara. "Kalem, Pak. Kalem. Jangan asal main
tuduh. Emang gue ada tampang ganjen apa? Gue jelasin, ada semacam aturan tak
tertulis antara sesama pengendara vespa. Salah satunya saling menyapa kalo
ketemu dijalan."
"Daritadi kan kita dijalan ketemu
pengendara vespa. Nah, kita musti nyapa mereka. Istilahnya, sesama sodara
sevespa kudu saling hormat. Paham kagak lo, Pak?" ungkap Andria
menjelaskan. Vero mengangguk-angguk mulai mengerti. "Sorry, gue nggak
tahu. Gue kira lo keganjenan, apalagi tadi mereka cowok semua lagi. Perasaan,
gue nggak pernah disenyumin." sahut Vero. "Jiiiah... Males banget gue
senyumin elo." balas Andria.
Manyun di bibir Vero sudah semakin lebar, pura-pura
bete. Andria terkikik melihat penampakan itu. Syukurin. memble-memble deh itu
bibir. Batin Andria dalam hati. Tiba-tiba, "Jalan, Nyonyah. Udah lampu
ijo." sahut Vero yang lagi-lagi menepuk bahu Andria. Andria kembali
menoleh tajam kearah Vero. "Memang dasar penumpang tak diundang.
Huh!" keluhnya. Vero menggeleng lalu berujar, "Maaf, penumpang nggak
boleh ngomong."
No comments:
Post a Comment