Part 16
GAWAT
Pagi ini, Nadala terlihat sangat sibuk
menyiapkan buku-buku pelajarannya dan perlengkapan tambahan yang akan
dibawanya. Sebuah dress panjang selutut dengan gradasi warna peach dan sepasang flat shoes yang berwarna senada. Nadala selalu menantikan hari ini.
Sejak semalam, Nadala terus mengecek kalender yang terpajang dimeja belajarnya.
Bulatan kecil berwarna merah yang melingkar pada salah satu tanggal terus
ditunjuk-tunjuknya. Ia akan menempuh audisi terakhirnya untuk bisa mendapatkan
posisi ratu peri dalam pementasan drama peri menangis. Sepulang sekolah nanti,
sekitar jam 5 sore audisinya akan dilaksanakan disalah satu gedung serba guna,
dekat dengan radio tempat kakaknya bekerja.
Mandala yang juga sudah tahu mengenai lokasi
audisi terakhir dan keikutsertaan adiknya nanti sore, akhirnya tergugah untuk
menanyakan persiapan adiknya. Saat Nadala bergabung di meja makan untuk sarapan
pagi, Mandala langsung bertanya seperti tidak ada apapun yang terjadi sebelumnya.
“Nad... Kemarin Mas lihat namamu lolos untuk bisa ikut audisi terakhir hari
ini. Gimana persiapan kamu untuk audisi kamu?” tanya Mandala. Nadala tak
menjawab, malah menyibukkan diri dengan mengambil nasi dan lauk pauk yang
kemudian dipindahkannya keatas piring makannya. Mandala mengulangi
pertanyaannya sekali. “Gimana persiapannya, Dek?” Nadala masih juga enggan
menjawab pertanyaan itu. Lagi-lagi dia mencari kesibukan dengan melihat
handphone-nya. Rupanya Nadala masih marah padanya. Mandala memilih diam tak
menuntut lagi dengan pertanyaan apapun, kecuali hanya sebuah doa darinya yang
meluncur pelan tanpa tendensi apapun. Semata-mata doa itu terlontar agar
adiknya sukses hari ini. “Sukses ya.” Nadala hanya mengangkat gelas minumannya
sebagai respon dari ucapan kakaknya.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Nadala
pamit untuk segera berangkat ke sekolah. “Buuuu...” teriak Nadala memanggil
Ibunya, “Ibu dimana? Aku mau berangkat.” Nadala beranjak dari bangku yang
didudukinya. “Ibu lagi dikamar mandi, Nak.” Balas sang Ibu menyahut. “Oh, ok.
Aku jalan ya, Bu.” Pamit Nadala singkat. “Ya, hati-hati. Pamit sama kakakmu
juga.” Teriak ibunya lagi. Aduh males banget sih ngomong sama kakak. Dengan
langkah gontai dan malas-malasan, Nadala menyambangi kembali kakaknya untuk
sekedar mencium tangan dan berpamitan. “Aku jalan.” Nadala buru-buru
meninggalkan ruang makan dan berangkat tanpa menunggu jawaban dari kakaknya.
Nadala berjalan keluar rumah menuju halte bus
terdekat. Meski sejujurnya dia ribet sekali dengan barang bawaannya namun
mengingat ia sedang menjalankan aksi mogok ngomong karena masih kesal dengan
perbuatannya alhasil Nadala berangkat sekolah dengan menaiki bus kota. Tidak
membutuhkan waktu yang lama, bus yang ditunggunya akhirnya datang. Bus itu masih
kosong. Nadala mengucap syukur tiada henti pasalnya jika bus tersebut penuh
sesak, bisa dibayangkan ia harus berjejal bagai cendol dengan gemblokan seberat
ini.
Nadala buru-buru naik kedalam bus. Ia mengambil
tempat di dua deratan sebelum bangku terakhir. Sadar bus yang dinaikinya
bukanlah bus dengan full air conditioner,
ia lalu membuka jendela. Angin sepoi-sepoi mulai perlahan masuk dan
memberikan kesejukan untuknya. Perjalanan yang ditempuhnya ke sekolah kini
memakan waktu yang lebih lama, maklum terkadang bus harus beberapa kali ngetem
untuk membuat isi bus penuh dengan penumpang. Begitupula hari ini, sudah 10
menit bus itu bertengger di salah satu halte. Ia mulai mengeluh dalam hati. Bus udah penuh masih aja dibilang kosong.
Duh, Si abang supir sama keneknya kayaknya pingin banget bikin gue jadi pepes.
Tapi tak lama kemudian, bus itu kembali melanjutkan perjalannya dan membawa
Nadala dan penumpang lainnya ke tujuan. Saat bus yang ditumpangi oleh Nadala
jalan, ternyata ada seorang penumpang yang tengah berlari kecil mengejar.
Dengan dibantu uluran tangan beberapa penumpang lainnya, akhirnya orang
tersebut berhasil terangkut.
***
Prisma berpamitan dengan orang tuanya lalu
bergegas berangkat kesekolah. Pagi ini, ia membiarkan motornya terparkir dengan
baik di garasi rumahnya. Ia ingin sekali naik bus pagi ini, entah dorongan dari
mana. Prisma berjalan menuju halte bus yang berada diujung jalan besar sana.
Saat berada di mulut jalan tersebut, bus yang Prisma akan naiki ternyata sudah
mau jalan. Prisma buru-buru mengejarnya dari belakang, dengan segenap kekuatan
ia berlari sambil tetap berusaha menggapai tangan-tangan penumpang yang mencoba
membantunya. Hup! Prisma berhasil menggapai salah satu tangan dan ia segera
meloncat ke pintu bus dimana hanya tersisa satu pijakan kecil untuknya
bertengger disana. Prisma mengucapkan terima kasih kepada penumpang-penumpang
yang telah membantunya. “Makasih ya, Pak” sahut Prisma sambil tersenyum.
Hampir setengah jam bergelangtungan di mulut
pintu bus, akhirnya Prisma mendapatkan tempat duduk di deretan paling belakang.
Prisma tidak langsung dapat duduk tenang karena beberapa penumpang lainnya juga
masih berusaha untuk turun. Ia masih harus bersabar menunggu
penumpang-penumpang tersebut turun satu persatu, ia bahkan sampai tak bisa
melihat kedepan karena pandangannya terhadang badan-badan orang didepannya.
Setelah beberapa waktu, barulah kondisi kembali normal. Ia dapat duduk tenang
dengan sedikit memerdekakan kakinya yang sedari tadi ditekut untuk memberi
jalan bagi mereka yang hendak turun. Dan ketenangan itu mendadak raib saat
dilihatnya seseorang yang beberapa hari ini membuatnya merasa bersalah sedang
duduk tak jauh didepannya. Matanya terbelalak saat dilihatnya Nadala tengah
duduk sambil mendekap tasnya.
Prisma tergeragap mendapati dirinya sebentar
lagi harus berpapasan dengan Nadala saat turun nanti, mengingat sekolahnya
hanya tinggal berjarak dua halte bus lagi. Ia bukannya takut untuk bertemu,
hanya saja ia rasa waktu yang tepat untuk hal itu bukanlah hari ini. Tapi ternyata
takdir malah mempertemukannya dengan gadis ini disini saat ini. Bagaimana kalau
keberadaan dirinya justru malah mengusik kenyamanan Nadala? Gue musti gimana nih? Gawaaaattt!!!! batinnya sambil terus memikirkan jalan
keluar. Akhirnya, ia memutuskan untuk turun lebih awal di halte sebelum halte
bus yang ada di depan sekolahnya. Sebelum turun ia sempat memandangi Nadala
sekali lagi. Kemudian Prisma pun turun.
Nadala mulai bersiap-siap untuk turun, ia
beranjak sambil menggemblok tas punggungnya dan mendekap satu tas ekstranya. Ia
melipir hingga ke pintu bus, “Bang, halte depan kiri ya, Pak.” seru Nadala
sambil mengetuk-ngetuk kaca pintu belakang bus tersebut. Sang supir akhirnya
menghentikan laju jalan bus itu dan Nadala akhirnya turun. Nadala berjalan
tanpa tahu sedikitpun tentang kejadian yang sesaat lalu terjadi dibelakangnya.
Sementara, selang beberapa menit kemudian, Prisma tiba di halte bus depan
sekolahnya tersebut. Dengan waspada, ia melihat ke berbagai penjuru arah
seperti hendak memastikan bahwa Nadala memang sudah masuk kedalam gedung
sekolah. Bersih, nampaknya memang Nadala sudah masuk.
Nadala baru saja sampai ke kelasnya dan Noni
sudah menunggunya sebagai bala bantuan. “Widih... Lo mau ke sekolah atau mau
liburan? Banyak bener bawaannya.” ujar Noni yang langsung mengambil tas yang
berada dalam dekapan Nadala. “Ngaco lo. Ini buat audisi ntar sore. Eh, lo jadi
kan anterin gue ke tempat audisi gue?” tanya Nadala serius. “Nggg... maaf ya,
kayaknya gue nggak bisa. Asli bukannya nggak mau, cuma tadi pagi nyokap nyuruh
gue untuk langsung pulang karena ada saudara yang sakit gitu jadi musti
ngejenguk. Atau lo mau pake motor gue aja? gue nanti bisa pulang naik angkot.
Nggak apa-apa kok.” Jawab Noni. “Ih apaan sih. Nggak usah, ngerepotin lo sampe
harus pinjem motor segala. Nggak apa-apa, gue nanti naik ojek aja deh.” Sahut
Nadala menolak. “Bener nggak apa-apa nih? Lagian kenapa sih lo nggak berdamai
sama kakak lo? Kan jadi repot begini. Maafin kali Mas Manda. Dia kan ngelakuin
ini juga demi lo, cuma aja caranya yang masih belum bener.” tukas Noni yang
sebenarnya juga gerah mendengar cerita Nadala setiap hari yang selalu dipenuhi
amarah terhadap kakaknya. Nadala terdiam. “Tau ah. Gue masih nggak abis pikir
aja kenapa Mas Manda bisa ngelakuin hal itu dan kenapa pula musti Prisma?”
“Nad, terkadang kita nggak pernah tau apa
maksud dari semua ini. Tapi yang pasti ada suatu hikmah, dan itu pasti. Gue
yakin. Dan soal kenapa musti Prisma? Cuma Tuhan yang tau. Coba deh, sekarang
gue mau tanya sama elo. Pernah nggak sedikiiiiit aja terlintas didalam benak lo
kenapa Prisma mau terima ajakan kakak lo untuk jadi secret guardian lo? Pernah nggak? Kenapa dia sampai rela ngeluangin
waktu nguntit lo kemana-mana. Terlepas dari masalah uang yang mungkin dijanjiin
sama dia ya. Gue rasa apa yang dilakuin dia ke elo itu something. Mungkin bukan perasaan suka atau gimana ya karena gue
juga nggak tau persisnya hatinya si Prisma. Tapi yang pasti dia pasti ngerasa
bersalah banget karena mungkin pada akhirnya dia sadar dia kehilangan elo.”
Tandas Noni panjang lebar.
“Jangan sok tau. Tau dari mana lo kalo dia
kehilangan gue?” serang Nadala tak percaya. “Nad, gue nggak buta-buta amat
kali. Beberapa hari ini, elo ngindarin dia kan? Gue itu sering banget ngeliatin
lo lagi minum es jeruk dikantin dari balik tembok disana itu.” Balas Noni
sambil menunjuk tembok pilar di lantai bawah yang persis berada diseberang
kantin. “Dia nggak pernah absen berdiri disana cuma untuk ngeliatin lo. Sama
kayak lo, nggak pernah absen untuk duduk dibangku yang sama sambil minum
segelas es jeruk.” ujar Noni pelan tapi cukup menyentak hati kecil Nadala.
“Jadi, bener dong kalo lo emang sengaja duduk ditempat yang sama setiap
istirahat cuma sekedar untuk nginget
Prisma.” Nadala terdiam sebentar, namun kemudian buru-buru menolak “Nggak, kata
siapa? Ngaco.” Sangkal Nadala.
“Hahaha... Nad... Nad... Masih aja nyangkal.
Oke kalo memang lo nggak mau ngaku sama gue. Tapi inget, gue ini udah jadi
temen lo dari kita masih duduk bareng di kereta dorongan bayi. Gue kenal lo
banget sampe ke jeroan lo. Jadi... kalo sama gue juga lo masih nyangkal juga
sih namanya cicak ngadalin buaya. Daya sangkal lo nggak mempan sama gue, gue
punya jimat tolak sangkalan lo. Hahahaha...” sahut Noni terbahak.
“Non... Tapi dia beneran nggak ada apa-apa sama
gue.” Tandas Nadala yang masih keukeuh untuk menyangkal hatinya. “Hahaha...
yang nanyain dia ada apa-apa sama lo, siapa? Orientasi pertanyaan gue itu ke
lo. Hahaha...” Noni habis-habisan tertawa hingga nyaris tersedak. Nadala mulai
manyun melihat dirinya kian terpojok dengan pernyataan Noni. “Uhuk...uhuk...
Aduh, sampe keselek kan gue ngetawain lo.” Noni menyelesaikan batuknya dan
mengambil nafas panjang. “Gini aja deh. Gue kasih tau ini biar lo ngerti.
Posisi gue sekarang ini netral, nggak ngebela elo ataupun ngebela Mas Manda dan
Prisma. Lo berhak marah. Itu wajar. Gue rasa siapapun yang berada di posisi lo
waktu itu pasti akan ngelakuin hal yang sama seperti apa yang lo lakuin yaitu
marah dan kesel akut. Tapiiii... cobalah bijak. Cobalah untuk memakai kaca mata
Mas Manda untuk melihat semua ini. Dia mungkin hanya ingin lo aman, apapun
caranya bakal dia tempuh. Sayangnya cara ini ternyata salah. Oke, dia salah.
Oke, bohong itu tetap tak bisa ditolerir. Tapiiiii.... apakah lo sampai harus mengabaikan
upaya kakak lo selama ini untuk memberikan penjagaan buat lo? Gue rasa ini
nggak fair. Lo harusnya bersyukur
masih memiliki seorang kakak yang peduli sama lo. Bisa lo bayangin betapa
menjenuhkannya bagi seorang cowok untuk berjam-jam mendengarkan adik ceweknya
curhat ini itu, bahkan hal-hal kecil yang nyaris nggak penting untuk diomongin.
Pernah nggak lo bayangin? Jujur aja ya, gue aja bete banget dengerin curhatan
adik gue. Padahal gue cewek. Nah gimana kakak lo yang cowok. Jadi, jangan lo skip sesi itu sampai seolah-olah kakak
lo bersalah banget.” Noni mulai menangkap gelagap Nadala. Nadala jadi lebih
banyak diam.
“Teruuuusss, soal posisi Prisma sebagai
eksekutor pun juga harus lo selami juga dengan menggunakan kaca mata Mas Manda.
Kenapa? Karena Mas Manda pasti punya penilaian khusus yang pada akhirnya
membuat dia memutuskan bahwa Prisma is
the choosen one. Kalo kita flashback
waktu elo sama mantan pacar lo yang super duper egois bin celamitan bin
jelalatan yang udah bikin lo di opname seminggu gara-gara berantem dijalanan
dan elo ketabrak mobil serta dengan sangat tidak gentlement-nya dia meninggalkan lo dengan sukses sendirian
dijalanan dengan luka disana-sini, syukur-syukur lo nggak koi’t di jalanan
gara-gara kehabisan darah. Inget, Kan?” ujar Noni dengan gamblangnya
mengingatkan kembali episode paling mengenaskan dari hidupnya, Nadala terpaksa
mengiyakan dengan tidak rela. “Iye inget. Ngapain sih dibahas yang itu.” Sungut
Nadala yang sedikit kesal. “Bukan bermaksud ngungkit. Cuma selama Prisma ada di
sisi lo beberapa waktu kemarin itu apakah dia memperlakukan lo dengan buruk?
Nggak usah jauh-jauh deh, apakah lo nggak lihat mata itu tulus?” Noni
menambahkan. “Aduh, Non. Gue nggak tau. Asli bener-bener nggak tau. Gue
bingung.” Protes Nadala yang lalu meninggalkan Noni untuk masuk kedalam
kelasnya. “Sangkal terus.” Sambil mengejar Nadala dari belakang, Noni kemudian
meletakkan tas Nadala dimeja sang empunya lalu tanpa segan-segan meledeknya.
Kata-kata Noni barusan ternyata membuat Nadala
berpikir. Mungkin benar ia marah dengan kakaknya dan juga Prisma. Tapi apakah
ia sudah benar menghukum mereka sejauh ini? Mungkin benar cara yang mereka
tempuh itu salah. Tapi apakah ia sadar bahwa apa yang mereka upayakan itu
semata-mata hanya untuknya? Untuk membuatnya aman dan terjaga. Nadala mulai
diserang rasa penyesalan. Harusnya ia tidak bersikap seperti ini. Bagaimana
kalau mereka juga berbalik marah padanya? Bagaimana jika mereka tidak mau
mendengarkannya lagi? Bagaimana jika mereka tidak ada untuknya lagi? Ini
gawat!! Ia belum siap untuk kehilangan separah itu. Tapi ia benar-benar tidak
tahu bagaimana untuk memulai perdamaian itu? “Gawaatttt...” ujarnya lirih.
Selang beberapa jam kemudian, bel istirahat
berbunyi. Kehebohan bagi perut-perut yang kelaparan seperti telah menemukan
waktu yang tepat untuk menyumpal dengan sedikit makanan enak di kantin. Tak
terkecuali Prisma. Ia memesan nasi goreng dan duduk ditempat biasa, tempatnya
bersama Nadala dulu. Ia tidak sedang berniat menunggu Nadala, makanya ia mempercepat
suapan makannya. Ia masih tidak ingin mengganggu. Dibenaknya, Nadala masih
marah dan enggan bertemu dengannya. Ia sadar keberadaannya masih tak berarti
dihadapan Nadala. Jadi, sebelum diusir dengan tatapan mata ketidaksukaan
Nadala, ia lebih baik pergi sebelum Nadala mampir dan makan siang disini.
***
Belum usai suapan nasi gorengnya, Noni sang
teman Nadala sudah lebih dulu hadir dihadapannya dengan sepiring nasi goreng
yang sama. Tak berhasil mengelak karena Noni ternyata lebih cekatan mencekalnya
dengan satu sapaan. “Eh, Kak Prisma.” Noni menyapanya dengan sopan. “Eh, Noni.
Makan.” Prisma membalas sapaan itu sambil mengayunkan sendoknya keudara seraya
menyampaikan ucapan selamat makan. “Iya, Kak. Makan.” ujar Noni yang mulai
makan. Ia tidak tahu bahwa cewek didepannya itu penasaran setengah mati dengan
perasaannya. Terlihat sekali ada rasa canggung yang membuatnya melempar
pandangan kemanapun tapi sekali-kali mencuri pandangan kearahnya diam-diam.
“Kenapa Non? Kok gelisah amat.” tembak Prisma tiba-tiba, Noni gelagapan saat
tatapan matanya terbaca Prisma. “Nggg... Nggak kenapa-napa, Kak.” jawab Noni
salah tingkah. “Bener nggak ada apa-apa? Atau ada yang mau lo tanyain ke gue?”
tandas Prisma , lagi-lagi seperti menyergap Noni. Noni cuma bisa ternganga. Eh, buset ini orang pakar mikro ekspresi
kali ya. Perasaan dari tadi kayak bisa
baca gue. “Nggg... gini sih, Kak. Aku pingin nanya sesuatu sama kakak. Cuma
kalo kakak nggak mau jawab juga nggak apa-apa sih.” Ujar Noni pelan. “Mau tanya
soal apa?” tanyanya singkat. Pasti soal
gue sama Nadala. “Mau tanya soal kakak sama Nadala.” Sahut Noni yang makin
hati-hati dalam menanyakan hal ini. Tuh
kan! Batin Prisma.
“Silahkan tanya.” Prisma mempersilahkan adik
kelasnya itu bertanya tentang apa yang diinginkan. Baginya, ini bisa jadi
peluang agar Nadala tidak semakin berlarut-larut marah padanya. Noni pasti pada
akhirnya akan mendistribusikan informasi ini kepada temannya itu. Nadala pasti
akan tahu yang sebenarnya. Semakin cepat Nadala tahu tentangnya semakin bagus.
“Kak, aku udah tahu kalo kakak sama Nadala lagi berantem. Bukan maksud aku ikut
campur sih. Nadala sih pernah ceritain masalahnya sama aku. Cuma nggak tahu
kenapa ya, aku yakin banget sebenarnya masalah ini bisa diselesaikan secara
baik-baik, bukan dengan cara perang dingin begini. Aku pingin tanya bener kakak
ngelakuin ini hanya karena permintaan dari kakaknya Nadala?” Noni menyudahi
kalimat tanyanya. Prisma tak menyangka akan ditodong pertanyaan seberat ini.
Sambil mengambil nafas panjang, ia mulai menyiapkan jawaban dari pertanyaan
Noni.
“Gue nggak tahu ya apa persepsi Nadala sama gue
sekarang. Mungkin di mata dia, gue ini jahat atau apalah yang buruk-buruk. Tapi
ada banyak hal yang mungkin dia belum tahu dari permasalahan ini. Awalnya emang
gue nggak tahu siapa itu Nadala. Sampai suatu hari, waktu gue main kerumah
tante gue yang kebetulan lokasinya nggak jauh dari rumah Nadala. Dia waktu itu
lagi nyiram tanaman dan gue kebetulan lagi main sepeda diseputaran kompleksnya.
Sekali dua kali, gue selalu nemuin dia lagi asyik nyiram tanaman setiap sore.
Gue seneng ngeliatin dia. Akhirnya, gue diam-diam jadi keranjingan main kerumah
tante gue untuk main sepeda disana demi bisa ketemu dia. Cuma sayangnya gue
terlalu takut untuk bisa kenalan sama dia.” Prisma menjeda kalimatnya untuk
menyeruput es teh manisnya lewat sedotan. Lantaran mendengar cerita tersebut,
Noni jadi latah dan ikut-ikutan menenggak habis minumannya.
Tak beberapa lama, Prisma kembali melanjutkan
perkataannya, “Sampai akhirnya, gue ngeliat dia dideretan paduan suara waktu
upacara bendera waktu gue jadi pemimpin upacara. Gue kaget sekaligus seneng
banget karena ternyata dia itu sekolah disini juga. Nggak nyangka, bener-bener
nggak nyangka. Cuma keterkejutan gue nggak berhenti sampai disitu, selama gue
diam-diam ngeliatin dia ternyata Mas Manda udah jauh lebih dulu sadar kalo gue
lagi jadi secret admirer adiknya.
Suatu sore, Mas Manda ngejar gue dengan sepedanya ke taman terdekat. Ya... Mas
Manda intregosain gue panjang lebar. Cuma setelah dia jelasin maksudnya barulah
gue paham. Disitulah awal mulanya kenapa gue mau jagain Nadala. Cuma sayangnya
saat itu gue sebenarnya baru putus dari pacar gue. Jujur, ditengah perjalanan
gue jadi penjaga Nadala. Gue jadi bingung memilah-milih perasaan gue. Apakah
gue bener-bener sayang sama dia atau cuma jadi pengalihan gue dari segala
bentuk patah hati gue? Cerita selanjutnya seperti yang lo tahu.” Prisma
menyelesaikan kalimatnya dan menyerahkan semuanya pada Noni.
Noni masih dalam keadaan menganga tidak
menyangka ada sebuah cerita yang sangat romantis dibalik perseteruan ini. So sweet banget. Gue juga mauuuu... “Non... Kok bengong?” suara Prisma memecahkan
keterkejutannya. Noni yang tersadar bahwa ekspresinya barusan seperti orang
norak yang terhipnotis cerita dongeng dari negeri antah berantah. Ia buru-buru
membetulkan posisi duduknya sembari membetulkan ekspresinya barusan. “Hah?
Nggak kok. Cuma agak terkejut aja. Nggak nyangka aja kalo kakak sebenernya udah
naksir Nadala bahkan sebelum adanya permintaan sandiwara ini.” Tapi tiba-tiba
Noni jadi teringat sesuatu, wajahnya berubah waspada... kalo kemarin ini orang bisa sandiwara didepan Nadala bisa jadi kan
sekarang dia juga sandiwara sama gue. “Kakak, nggak coba lagi sandiwara
didepan aku, Kan?” selidik Noni.
Prisma tersenyum lembut kemudian tawa kecilnya
meluncur, “Takut amat sih, Non. Gue nggak lagi pura-pura kok. Kalo emang lo
nggak percaya, lo bisa kroscek sama Mas Manda. Pasti jawabannya sama.” Namun,
wajah Prisma mendadak berubah. Tergambar raut kesedihan disitu, Noni bisa
melihatnya dengan jelas. “Sekarang gue takut kehilangan temen lo. Beberapa
minggu sama dia, ternyata ngangenin. Banyak hal didiri dia yang bikin gue
pingin banget terus-terusan jadi pelindungnya.” Ungkap Prisma dengan sedih yang
tertahan. “Kakak sayang sama Nadala?” tanya Noni dengan sangat ekstra
hati-hati. Sambil menahan nafas, Noni jadi dag-dig-dug menunggu jawaban yang
akan dilontarkan Prisma. Dengan tegas akhirnya Prisma menjawab, “Lebih tepatnya
gue udah mulai sayang sama dia. Cuma gue tahu kok mungkin sekarang dimata dia,
gue itu brengsek banget. Wajar banget kalo dia nggak mau maafin gue.” Noni
langsung berceletuk ria didalam hati, sumpah
kalo sampai Nadala masih nolak juga untuk berdamai sama Prisma setelah dia tahu
kenyataannya kayak gini, asli gue bakal kutuk dia jadi katak buduk rupa.
“Tenang aja, Kak. Anda telah bertemu dengan
juru damai yang paling handal disini.” Noni mengangkat bahu kirinya seraya
menepuk-nepuk bangga. “Aku pasti bantuin kakak. Dengan catatan kakak nggak akan
sakitin dan bohongin teman aku lagi. Kalo sampai nyakitin lagi, awas aja.”
ancam Noni serius. “Makasih ya. Iyaaaa, gue bakal jujur sama temen lo.”
“Gini,
Kak... sepulang sekolah nanti, Nadala itu ada audisi terakhir untuk pementasan
peri menangis. Kakak tahu dong seberapa pentingnya peran ratu peri yang dia
incer. Iya dong iya dong...” mata Noni berkedap-kedip imut. “Nah, tadinya itu
dia bakalan nebeng sama aku. Cuma karena aku ada urusan lain, makanya batal.
Jadiiii... kakak masih punya kesempatan untuk berbaikan hari ini. Itu juga kalo
kakak berani.” tantang Noni. “Nggg, tunggu deh... Lo beneran ada urusan?
Jangan-jangan lo ngibulin temen lo juga lagi.” Selidik Prisma. “Yaelah, emang
orang kayak aku nggak boleh punya urusan penting apa. Ya beneranlah.” Sungut
Noni manyun. “Trus kenapa lo sebegitu niatnya bantuin gue biar bisa baikan sama
Nadala?” tanya Prisma sambil memicingkan kedua matanya pertanda mulai curiga.
“Yaelah... Sederhana aja kali, Kak. Ini semua aku lakuin buat Nadala. Ini
karena Nadala juga sayang sama kakak. Dia itu otak dan gelagatnya transparan
banget. Jadi gampang banget buat aku untuk nebak isi hati, meskipun dia
nyangkal abis-abis. Lagian, aku tuh kenal sama Nadala dari kita berdua masih
kecil. Percaya deh sama aku. Kakak itu udah punya tempat spesial di hatinya
Nadala. Kalo nggak percaya tanya aja langsung sama orangnya. Hahaha...” sahut
Noni dengan pedenya.
Setelah mendengarkan cerita dari Noni, Prisma
memang jauh lebih tenang. Tapi yang jadi sekarang adalah apakah ia siap untuk
berhadapan langsung dengan Nadala dan menyelesaikan semuanya. Bagaimana kalo
ternyata lagi-lagi ia diabaikan. Gawat,
hati gue nggak karuan. Kenapa nyali gue
jadi cemen begini sih. Gawaaaattttttt....!!! Ia memilih untuk berpikir sejenak untuk bisa
tahu dengan pasti apa yang harus dilakukan untuk misi sepulang sekolah nanti.
***
Ditempat lain... Lagi-lagi, Vero kalah cepat
untuk bisa menyambangi Andria dikelasnya. Orang yang dicari sudah raib dari
kelasnya sebelum bisa ditemui. Vero gagal lagi. Gani yang melihat wajah kusut
Vero dari balik jendela kelasnya langsung beranjak mendekati temannya itu.
“Udah cabut kali orangnye dari tadi. Telat lho... Kayaknya sih doi ngerasa lo
lagi nyariin dia.” ujar Gani menepuk bahu Vero. “Dia beneran nggak mau ya
ketemu gue?” tanya Vero dengan nada pasrah. “Bukan nggak mau tapi belum mau.”
Gani mencoba menenangkan Vero. “Yaudah sih... lagian kan lo masih bisa nungguin
doi masuk lagi ke kelas. Bentar lagi istirahatnya juga kelar.” Vero mengangguk setuju dengan saran Gani.
Benar saja, tak berapa lama kemudian orang yang
ditunggu datang. Gani menyenggol pelan lengan Vero, “Tuh, anaknya datang. Goodluck ye.” Gani berbisik pelan yang
lalu memilih menyingkir karena tak ingin mengganggu acara Vero yang entah
mendapat sambutan macam apa kali ini. Vero buru-buru bersiap. Baginya ini
kesempatan, apapun reaksinya tak jadi soal. Yang penting usaha, dengusnya dalam
hati.
Andria yang berjalan menunduk itu, masih belum
sadar bahwa dipintu kelasnya sedang ada seseorang yang menunggunya. Ia berjalan
seperti tengah menghitung keramik ubin yang ada dilantai. Matanya terus-menerus
menyisir setiap inci lantai yang dilihatnya, hingga ada satu cekalan yang
menghentikan kegiatannya. Cekalan itu sangat kuat, Ia bahkan tidak bisa
sedikitpun melangkahkan kakinya untuk bisa segera masuk kedalam kelasnya. Ia
tahu ulah siapa ini. Vero ngapain lagi
sih, Lo? Matanya kembali memanas menahan nyeri yang muncul dihatinya. “Gue
nyariin lo dari kemarin.” Tandas Vero tegas. “Ada perlu apa?” balas Andria
datar.
“Banyak! Banyak banget. Tapi lo nggak pernah
ada. Lo ngindar dari gue lagi. Ya, Kan?” ujar Vero yang tak sadar
menguncang-guncang pelan cekalan tangannya kepada Andria. “Jangan
berlebihanlah. Buat apa gue ngindar dari lo.” Jawab Andria sambil melayangkan
tatapan serius. Namun, sedetik kemudian tatapannya bergeser menghindari manik
mata Vero yang tak disangka akan berbalik menatapnya tajam. Andria menunduk lagi,
ia kebingungan karena airmatanya sudah berlinangan nyaris tak tertampung lagi
di cekungan kelopak bawah matanya.
“See..
bahkan lo nggak berani ngeliat gue lama-lama. Liat gue.” Vero menarik tangan
yang ada digenggamannya. Andria bersih keras mati-matian menahan. “Gue bilang
liat gue, An.” Vero ternyata masih belum menyerah, dipegangnya bahu Andria dan
menarik tubuh yang lebih kecil itu sejajar berhadapan dengannya. Andria masih
merunduk tak ingin melihat Vero. Bukan karena tidak ingin melihat orang didepannya
itu. Tapi ia tidak ingin Vero melihatnya dalam keadaan menangis begini. “Liat
mata gue, An. Biar gue nggak perlu nuduh lo itu ngindarin gue.” Ujar Vero
melunak.
Andria akhirnya menyerah, diangkat wajahnya.
Namun, ganti Vero yang dibuatnya terkaget-kaget. Vero tak menyangka ada jejak
airmata di pipi Andria. Matanya pun memerah dan sembab. “Lo nangis?” tanya Vero
terperanjat, super kaget. Andria hanya mematung menatapnya. “Lepasin gue, Ver.”
Pinta Andria lirih. “Lepasin gue... Sakiiiit...” ulangnya pelan. Vero
melepaskan cekalannya. Ia masih kaget melihat Andria menangis. Ia tak menyangka
bahwa kesalahpahaman ini memang sudah benar-benar parah dan terbukti membuat
orang yang disayanginya sakit. Vero bahkan masih terbengong sepeninggalan
Andria. Tak jauh dari sana, Gani memandangi kelakukan dua temannya sambil
geleng-geleng. “Gawat, itu bocah dua bener-bener salah paham.” sahutnya pelan.
Sebelum bel istirahat benar-benar berbunyi,
Vero mengambil handphone-nya kemudian
segera menghubungi seseorang. “Halo.” Sapa orang diseberang. “Gue butuh bantuan
lo.” Todong Vero telak-telak. “Hah?” orang diseberang yang sedang diajak
ngobrol Vero ternganga heran. “Gue bener-bener butuh bantuan lo. Ini super
penting super gawat buat hidup gue. Gue jemput lo dikantor abis gue pulang
sekolah trus kita ke suatu tempat. Selama diperjalanan nanti gue ceritain
masalahnya.” jelas Vero yang lalu menutup sambungan telponnya. Sementara orang
diseberang sana cuma bisa berdecak kesal karena belum apa-apa telponnya sudah
diputus, “Dasar.”
***
Sore hari ini ditandai dengan meredupnya terik
cahaya matahari. Gorden dikelas nampak juga sudah mulai dibuka kembali.
Anak-anak dikelas juga sudah mulai tidak betah duduk dibangkunya masing-masing.
Semua sudah mulai membenahi peralatan tulis yang bertebaran diatas meja.
Bolak-balik mata mereka melirik jam dinding yang tergantung di depan ruangan,
persis beberapa sentimeter diatas papan tulis. Nadala juga tak ingin
ketinggalan kegiatan yang menyenangkan ini. Bersiap-siap untuk merayakan
usainya jam mata pelajaran terakhir. Nadala sudah sibuk memasukkan pensil,
pulpen, dan buku-buku diatas mejanya. Lalu mengecek ke laci meja sekedar untuk
memastikan apakah ada barang miliknya yang tertinggal.
Bel pulang sudah berbunyi, sontak hal itu
disambut dengan suka cita oleh Nadala dan teman-temannya. Sambil mulai
menggemblokkan tas ke punggungnya, Ia membalas sahutan selamat sore dari sang
guru. Setelah gurunya keluar dari kelas, Ia juga bergegas keluar dari sana
namun teriakan Noni menghentikan langkahnya. “Nad.” Ia terpaksa menoleh
sebentar, “Nggg... apaan? Gue buru-buru nih.” sahut Nadala menunggu Noni yang
sedang berjalan kearahnya. “Yaelah, tenang aja kali. Masih jam setengah empat
ini.” Noni berujar santai. “Pale looo... Kayak nggak tahu aja daerahnya. Macet
kaleee...” protes Nadala sambil melotot. “Eh, Nad. Gue doain ya semoga lo lolos
audisi terakhirnya. Semoga besok lo udah resmi jadi ratu peri. Pake sayap ama
mahkota kemana-mana. Hahaha...” ucap noni mendoakan. “Oncom! Lo ngedoain gue
yang tulus kenapa.” balas Nadala seraya menjitak kepala Noni pelan namun sang
sasaran berhasil menghindar. “Weits, gue tulus. Tuluuuuus buanget. Hahahaha...”
goda Noni. “Yaudah, gue jalan ya. Doain gue.” Nadala berpamitan. “Yes, Ratu Peri. Kutunggu kedatanganmu
dengan sayap barumu esok hari.” Noni memberikan penghormatan ala negeri dongeng
dengan sedikit membungkuk dan menarik sebelah roknya lebih tinggi. “Yes, I am.”
balas Nadala sambil mengibaskan rambutnya begitu Noni menegakkan tubuhnya lagi.
Saking kagetnya Noni dengan serangan rambut Nadala yang mendadak, Ia hingga
terhuyung mundur. “Nadala... Kebiasaan!” maki Noni yang kaget. Namun, sang
pelaku sudah lebih dulu kabur sambil menjulurkan lidahnya meledek korbannya
yang hanya bisa menahan kesal.
Nadala berjalan menuju pangkalan ojek terdekat
dari sekolahnya. “Bang, gedung serba guna yang deket radio tamusema ya.”
Setelah bersepakat dengan ongkos, barulah Nadala berangkat diantarkan sang
tukang ojek ke tujuannya. Perjalanan sore itu agak cukup tersendat lantaran
daerah yang hendak dituju Nadalah merupakan kawasan yang terkenal dengan
kemacetannya. Meskipun menggunakan motor, ia juga sesekali bersabar diri karena
tetap tak bisa menyalip saking macetnya. “Sabar ya, Neng. Macet banget nih.”
Nadala yang takut akan telat sang tukang ojek yang merasa penumpang
dibelakangnya gelisah akhirnya berupaya menenangkan. Nadala mulai bete saat
sudah lebih dari 10 menit terjebak didalam kemacetan itu. Tapi ia tak sadar
dengan seorang pengendara motor yang juga tengah berhenti persis disebelah
kanannya. Pengendara motor yang menggunakan jaket kulit berwarna hitam itu
terus menoleh kearahnya, Ia mulai risih karena terus-menerus diperhatikan.
Sayangnya ia tidak bisa wajah si pengendara motor itu karena helm yang
dikenakan oleh orang itu memiliki kaca yang sangat gelap.
Namun ia memilih untuk mengabaikan si
pengendara itu. “Sok misterius amat sih, Pak.” Ujar Nadala pelan sambil
bergidik ngeri. Berhubung rasa penasarannya berhenti disitu, jadi ia tidak
terlalu peduli dengan kelanjutan nasib si pengendara motor aneh tersebut.
Padahal si pengendara yang sedari tadi melihat kearah Nadala justru tengah
mengikuti kemana pun laju motor didepannya bergerak.
Setelah berkutat dengan kemacetan, akhirnya
Nadala tiba di Gedung Serba Guna. Ia turun dari motor, lalu membuka helm yang
dikenakannya. Kemudian, ia merogoh kantung kemejanya untuk mengambil beberapa
lembar uang dan memberikannya bersamaan dengan helm barusan kepada sang tukang
ojek, “Ini, Bang. Makasih ya.” Kata Nadala singkat. Sang tukang ojek pun
langsung menerimanya sambil berkata hal yang serupa, “Makasih juga ya, Neng.”
Nadala melihat jam ditangannya, masih tersisa
waktu lima belas menit. Ia tidak telat. Ia langsung berlari untuk segera
melapor ulang kepada pihak panitia bahwa hari ini ia akan mengikuti seleksi
akhir. Setelah urusan administrasi, ia lalu bergegas keruang ganti untuk
bersiap-siap. Saat memasuki ruang ganti, ternyata sudah banyak sekali para
peserta audisi yang sedang bersiap-siap. Atmosfir ketegangan mulai menyerang
Nadala. Didalam ruang ganti itu, setiap peserta diberikan satu spot tempat
duduk dan meja lengkap kaca untuk berhias yang telah ditempeli kertas dengan
masing-masing nama peserta. Nadala berjalan menyusuri satu demi satu, hingga ia
menemukan namanya tertulis disalah satu meja rias.
Nadala langsung memilih untuk berganti kostum
dan mempersiapkan diri dengan waktu yang tersisa. Menyapu bagian-bagian wajah
yang terhantam lembut debu jalan dengan beberapa tisu basah dan mendempulnya
dengan beberapa polesan bedak dan kosmetik lainnya. Nadala baru menyadari bahwa
ialah satu-satunya peserta audisi yang datang tanpa pendamping. Sementara ia
lihat disekitarnya, para peserta audisi sibuk mengeluhkan rasa tegang mereka
kepada para pendampingnya. Sedangkan dirinya sendirian dan hanya bisa
menguatkan diri agar rasa tegangnya tidak terlalu mendominasi otaknya saat ini.
Ia tak ingin ketegangan itu justru menemukan celah dan menghambatnya saat
audisinya nanti.
Mas Mandala pernah bilang, “Rasa tegang adalah satu indikator bagus karena itu berarti kamu
diingatkan untuk tampil maksimal... tapi jika berlebihan justru berubah menjadi
sebuah bahaya yang akan mengganggu fokusmu dalam melakukan sesuatu. Kalau kamu
tegang, pejamkan matamu sejenak, tarik nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan,
lakukan itu hingga beberapa kali hingga degup jatungmu lebih stabil.” Nadala mencoba melakukan kata-kata kakaknya
itu. Betul adanya. Ketegangan yang semula mendekapnya mendadak hilang dengan
sendirinya. Entah mengapa rasanya jadi rindu dengan kakaknya. Tapi meminta
kakaknya untuk duduk manis dideretan bangku penonton saat ini adalah hal
mustahil mengingat berkat ulahnya sendiri di hari kemarin yang membuatnya harus
kehilangan kesempatan untuk ditemani oleh kakaknya hari ini. Padahal radio
tamusema cukup dekat dengan lokasi audisinya. Tapi, sekali lagi... ya sudahlah.
***
Sore hari ini, Mandala rasanya ingin sekali
membagi tubuhnya menjadi dua. Dia ingin berada di tempat dimana adiknya tengah
di audisi. Meskipun belum ada gencatan senjata secara nyata antara dirinya dan
Nadala, dia ingin memberikan dukungan bahkan berteriak jika perlu. Disisi lain,
dia sadar bahwa raganya harus tetap berada ditempat siarannya saat ini. Selain
itu, ada hal lain yang menahannya disini. Seseorang yang berada disampingnya
saat ini - seorang yang belakangan ini mendominasi ruang-ruang imaji didalam
pikirannya. Entah mengapa langkahnya lebih berat disini. Apalagi saat dilihat
wajahnya tampak sedih dan tak secerah biasanya. Lusuh. Bahkan ketika Mandala
bertanya kepadanya, hanya anggukan atau gelengan sebagai simbol jawaban lalu
kembali terdiam seperti tenggelam dalam pusaran masalahnya.
“Ini anak kenapa lagi? Ditanya jawabnya
ngangguk. Ditanya lagi malah geleng. Suaranya ilang dicolong siapa sih,
Andria?” tanya Mandala sambil menyeret roda bangku yang didudukinya mendekati
Andria. Andria yang sedang duduk menopang dagu akhirnya memunculkan raut wajah
lemasnya dan menjawab pertanyaan Mandala itu dengan kata-kata seadanya,
“Dicolong kancil.” jawab Andria singkat. “Itu suaranya ada. Katanya
dicolong...” Mandala mensejajarkan wajahnya dengan wajah Andria. Mata itu
tampak begitu layu, seperti tak ada sinar keceriaan khas miliknya. Ingin sekali
dia rengkuh perempuan ini kedalam pelukan hanya untuk sekedar menghapus
kesedihan itu.
“Kenapa?” meski ragu, akhirnya Mandala
memberanikan diri mengacak-acak rambut Andria pelan, “Kalo lo memang punya
masalah, lo cerita dong ke gue. Gue siap jadi tong sampah lo.” Setiap
hari bahkan kapan pun lo butuh, An... Gue pasti ada buat lo. Andria
menggeleng. “Nggak ada apa-apa kok kak.” Jawab Andria lagi. “Gue kenal betul
siapa elo, An. Elo itu orangnya cerewet banget. Jadi kalo diem kayak gini pasti
lagi ada apa-apa.” Mandala kembali membelai rambut di pucuk kepala Andria.
“Jangan dipendam kayak gini, nanti yang ada lo sakit. Gue nggak mau lo sakit.
Cerita ya, An.”
Andria menjawab pertanyaan itu dengan tetesan
air mata yang perlahan berjatuhan di pipinya. “An, lo kenapa? Kok malah
nangis.” tanya Mandala khawatir yang tiba-tiba mendapati Andria menangis.
“Pinjem pundaknya.” Sahutnya pelan. Mandala langsung memutar bangkunya dan
membiarkan Andria menangis dibalik punggungnya. Mandala tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi, namun dari isakan tangis Andria yang semakin kencang, dia
mengerti bahwa masalah yang dihadapi rekan sepenyiarannya ini sepertinya
serius. Tak berapa lama, tangisan Andria mulai mereda, Andria pun mulai menarik
wajahnya dari punggung Mandala. “Makasih ya, Kak.” Ujar Andria.
Seperti adegan klasik di film-film romantis
tatkala pemeran pria menyapu bekas air mata dipipi pemeran wanitanya. Mandala
pun ingin memiliki momen itu bersama Andria. Dengan hati-hati, Mandala
menghapus jejak tangisan yang membekas dipipi Andria dengan tangannya. Andria
sempat terkejut dengan perlakuan Mandala barusan. Cuma entah mengapa, hatinya
yang gersang itu seperti diberi tetesan embun yang menyejukkan. Sedikit
meredakan meski tidak akan bisa menghilangkan seluruhnya.
Tangan Mandala masih memegang lembut pipi
Andria. Bahkan sesekali Mandala membelainya. Keduanya terdiam saling menatap
seakan menikmati suasana itu. Mandala melempar senyum dan berupaya agar wajah
lebih dekat lagi dengan Andria. Andria kembali dikejutkan dengan ulah super
manis Mandala kepadanya. Hanya saja, kali ini Andria agak sedikit menunjukkan
sikap tidak nyaman. Andria mengelak pelan “maaf, Kak.”
Sadar bahwa perlakuannya membuat Andria tak
nyaman, Mandala buru-buru meminta maaf. “Sorry, An. Gue nggak ada maksud apa-apa.
Gue cuma... cuma... cuma mau bilang kalo gue itu care banget sama lo. Bukan sekedar rekan kerja tapi lebih dari
itu.” Sebuah pengakuan lagi. Raut wajah Andria berubah kaku. Belum selesai satu
masalahnya dengan Vero, kini Mandala menyeretnya kedalam kekacauan baru.
“Kak...” Andria mencoba menanggapi pernyataan Mandala barusan, namun Mandala
yang justru mengalihkan pembicaraannya. “Kalo lo belum siap, jangan dijawab.
Gue ngerti kok kalo mungkin lo kaget. Gue cuma mau lo tahu.” balas Mandala
lembut sembari mengusap lengan Andria. Andria memilih diam, tak melanjutkan apa
yang ingin disampaikannya.
Ini gawat. Pekik Andria dalam hati. Ia tidak menyangka bahwa
Mandala ternyata menyukainya. Bagaimana ia harus menghadapi keadaan ini? Apa
ini pertanda bahwa ia harus menerima Mandala yang jelas-jelas menyayanginya
dengan sepenuh hati? Tapi hatinya enggan menyanggupi kenyataan yang telah
terhidang didepannya. Dan Andria tidak ingin jadi pendusta untuk hati yang
datang dengan sejuta ketulusan. Pecinta bukan pendusta.
No comments:
Post a Comment