Monday, 30 June 2014

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Tampil (part 16)

Part 16

GAWAT


Pagi ini, Nadala terlihat sangat sibuk menyiapkan buku-buku pelajarannya dan perlengkapan tambahan yang akan dibawanya. Sebuah dress panjang selutut dengan gradasi warna peach dan sepasang flat shoes yang berwarna senada. Nadala selalu menantikan hari ini. Sejak semalam, Nadala terus mengecek kalender yang terpajang dimeja belajarnya. Bulatan kecil berwarna merah yang melingkar pada salah satu tanggal terus ditunjuk-tunjuknya. Ia akan menempuh audisi terakhirnya untuk bisa mendapatkan posisi ratu peri dalam pementasan drama peri menangis. Sepulang sekolah nanti, sekitar jam 5 sore audisinya akan dilaksanakan disalah satu gedung serba guna, dekat dengan radio tempat kakaknya bekerja.

Mandala yang juga sudah tahu mengenai lokasi audisi terakhir dan keikutsertaan adiknya nanti sore, akhirnya tergugah untuk menanyakan persiapan adiknya. Saat Nadala bergabung di meja makan untuk sarapan pagi, Mandala langsung bertanya seperti tidak ada apapun yang terjadi sebelumnya. “Nad... Kemarin Mas lihat namamu lolos untuk bisa ikut audisi terakhir hari ini. Gimana persiapan kamu untuk audisi kamu?” tanya Mandala. Nadala tak menjawab, malah menyibukkan diri dengan mengambil nasi dan lauk pauk yang kemudian dipindahkannya keatas piring makannya. Mandala mengulangi pertanyaannya sekali. “Gimana persiapannya, Dek?” Nadala masih juga enggan menjawab pertanyaan itu. Lagi-lagi dia mencari kesibukan dengan melihat handphone-nya. Rupanya Nadala masih marah padanya. Mandala memilih diam tak menuntut lagi dengan pertanyaan apapun, kecuali hanya sebuah doa darinya yang meluncur pelan tanpa tendensi apapun. Semata-mata doa itu terlontar agar adiknya sukses hari ini. “Sukses ya.” Nadala hanya mengangkat gelas minumannya sebagai respon dari ucapan kakaknya.

Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Nadala pamit untuk segera berangkat ke sekolah. “Buuuu...” teriak Nadala memanggil Ibunya, “Ibu dimana? Aku mau berangkat.” Nadala beranjak dari bangku yang didudukinya. “Ibu lagi dikamar mandi, Nak.” Balas sang Ibu menyahut. “Oh, ok. Aku jalan ya, Bu.” Pamit Nadala singkat. “Ya, hati-hati. Pamit sama kakakmu juga.” Teriak ibunya lagi. Aduh males banget sih ngomong sama kakak. Dengan langkah gontai dan malas-malasan, Nadala menyambangi kembali kakaknya untuk sekedar mencium tangan dan berpamitan. “Aku jalan.” Nadala buru-buru meninggalkan ruang makan dan berangkat tanpa menunggu jawaban dari kakaknya.

Nadala berjalan keluar rumah menuju halte bus terdekat. Meski sejujurnya dia ribet sekali dengan barang bawaannya namun mengingat ia sedang menjalankan aksi mogok ngomong karena masih kesal dengan perbuatannya alhasil Nadala berangkat sekolah dengan menaiki bus kota. Tidak membutuhkan waktu yang lama, bus yang ditunggunya akhirnya datang. Bus itu masih kosong. Nadala mengucap syukur tiada henti pasalnya jika bus tersebut penuh sesak, bisa dibayangkan ia harus berjejal bagai cendol dengan gemblokan seberat ini.

Nadala buru-buru naik kedalam bus. Ia mengambil tempat di dua deratan sebelum bangku terakhir. Sadar bus yang dinaikinya bukanlah bus dengan full air conditioner, ia lalu membuka jendela. Angin sepoi-sepoi mulai perlahan masuk dan memberikan kesejukan untuknya. Perjalanan yang ditempuhnya ke sekolah kini memakan waktu yang lebih lama, maklum terkadang bus harus beberapa kali ngetem untuk membuat isi bus penuh dengan penumpang. Begitupula hari ini, sudah 10 menit bus itu bertengger di salah satu halte. Ia mulai mengeluh dalam hati. Bus udah penuh masih aja dibilang kosong. Duh, Si abang supir sama keneknya kayaknya pingin banget bikin gue jadi pepes. Tapi tak lama kemudian, bus itu kembali melanjutkan perjalannya dan membawa Nadala dan penumpang lainnya ke tujuan. Saat bus yang ditumpangi oleh Nadala jalan, ternyata ada seorang penumpang yang tengah berlari kecil mengejar. Dengan dibantu uluran tangan beberapa penumpang lainnya, akhirnya orang tersebut berhasil terangkut.

***
Prisma berpamitan dengan orang tuanya lalu bergegas berangkat kesekolah. Pagi ini, ia membiarkan motornya terparkir dengan baik di garasi rumahnya. Ia ingin sekali naik bus pagi ini, entah dorongan dari mana. Prisma berjalan menuju halte bus yang berada diujung jalan besar sana. Saat berada di mulut jalan tersebut, bus yang Prisma akan naiki ternyata sudah mau jalan. Prisma buru-buru mengejarnya dari belakang, dengan segenap kekuatan ia berlari sambil tetap berusaha menggapai tangan-tangan penumpang yang mencoba membantunya. Hup! Prisma berhasil menggapai salah satu tangan dan ia segera meloncat ke pintu bus dimana hanya tersisa satu pijakan kecil untuknya bertengger disana. Prisma mengucapkan terima kasih kepada penumpang-penumpang yang telah membantunya. “Makasih ya, Pak” sahut Prisma sambil tersenyum.

Hampir setengah jam bergelangtungan di mulut pintu bus, akhirnya Prisma mendapatkan tempat duduk di deretan paling belakang. Prisma tidak langsung dapat duduk tenang karena beberapa penumpang lainnya juga masih berusaha untuk turun. Ia masih harus bersabar menunggu penumpang-penumpang tersebut turun satu persatu, ia bahkan sampai tak bisa melihat kedepan karena pandangannya terhadang badan-badan orang didepannya. Setelah beberapa waktu, barulah kondisi kembali normal. Ia dapat duduk tenang dengan sedikit memerdekakan kakinya yang sedari tadi ditekut untuk memberi jalan bagi mereka yang hendak turun. Dan ketenangan itu mendadak raib saat dilihatnya seseorang yang beberapa hari ini membuatnya merasa bersalah sedang duduk tak jauh didepannya. Matanya terbelalak saat dilihatnya Nadala tengah duduk sambil mendekap tasnya.

Prisma tergeragap mendapati dirinya sebentar lagi harus berpapasan dengan Nadala saat turun nanti, mengingat sekolahnya hanya tinggal berjarak dua halte bus lagi. Ia bukannya takut untuk bertemu, hanya saja ia rasa waktu yang tepat untuk hal itu bukanlah hari ini. Tapi ternyata takdir malah mempertemukannya dengan gadis ini disini saat ini. Bagaimana kalau keberadaan dirinya justru malah mengusik kenyamanan Nadala? Gue musti gimana nih? Gawaaaattt!!!!  batinnya sambil terus memikirkan jalan keluar. Akhirnya, ia memutuskan untuk turun lebih awal di halte sebelum halte bus yang ada di depan sekolahnya. Sebelum turun ia sempat memandangi Nadala sekali lagi. Kemudian Prisma pun turun. 

Nadala mulai bersiap-siap untuk turun, ia beranjak sambil menggemblok tas punggungnya dan mendekap satu tas ekstranya. Ia melipir hingga ke pintu bus, “Bang, halte depan kiri ya, Pak.” seru Nadala sambil mengetuk-ngetuk kaca pintu belakang bus tersebut. Sang supir akhirnya menghentikan laju jalan bus itu dan Nadala akhirnya turun. Nadala berjalan tanpa tahu sedikitpun tentang kejadian yang sesaat lalu terjadi dibelakangnya. Sementara, selang beberapa menit kemudian, Prisma tiba di halte bus depan sekolahnya tersebut. Dengan waspada, ia melihat ke berbagai penjuru arah seperti hendak memastikan bahwa Nadala memang sudah masuk kedalam gedung sekolah. Bersih, nampaknya memang Nadala sudah masuk.  

Nadala baru saja sampai ke kelasnya dan Noni sudah menunggunya sebagai bala bantuan. “Widih... Lo mau ke sekolah atau mau liburan? Banyak bener bawaannya.” ujar Noni yang langsung mengambil tas yang berada dalam dekapan Nadala. “Ngaco lo. Ini buat audisi ntar sore. Eh, lo jadi kan anterin gue ke tempat audisi gue?” tanya Nadala serius. “Nggg... maaf ya, kayaknya gue nggak bisa. Asli bukannya nggak mau, cuma tadi pagi nyokap nyuruh gue untuk langsung pulang karena ada saudara yang sakit gitu jadi musti ngejenguk. Atau lo mau pake motor gue aja? gue nanti bisa pulang naik angkot. Nggak apa-apa kok.” Jawab Noni. “Ih apaan sih. Nggak usah, ngerepotin lo sampe harus pinjem motor segala. Nggak apa-apa, gue nanti naik ojek aja deh.” Sahut Nadala menolak. “Bener nggak apa-apa nih? Lagian kenapa sih lo nggak berdamai sama kakak lo? Kan jadi repot begini. Maafin kali Mas Manda. Dia kan ngelakuin ini juga demi lo, cuma aja caranya yang masih belum bener.” tukas Noni yang sebenarnya juga gerah mendengar cerita Nadala setiap hari yang selalu dipenuhi amarah terhadap kakaknya. Nadala terdiam. “Tau ah. Gue masih nggak abis pikir aja kenapa Mas Manda bisa ngelakuin hal itu dan kenapa pula musti Prisma?”

“Nad, terkadang kita nggak pernah tau apa maksud dari semua ini. Tapi yang pasti ada suatu hikmah, dan itu pasti. Gue yakin. Dan soal kenapa musti Prisma? Cuma Tuhan yang tau. Coba deh, sekarang gue mau tanya sama elo. Pernah nggak sedikiiiiit aja terlintas didalam benak lo kenapa Prisma mau terima ajakan kakak lo untuk jadi secret guardian lo? Pernah nggak? Kenapa dia sampai rela ngeluangin waktu nguntit lo kemana-mana. Terlepas dari masalah uang yang mungkin dijanjiin sama dia ya. Gue rasa apa yang dilakuin dia ke elo itu something. Mungkin bukan perasaan suka atau gimana ya karena gue juga nggak tau persisnya hatinya si Prisma. Tapi yang pasti dia pasti ngerasa bersalah banget karena mungkin pada akhirnya dia sadar dia kehilangan elo.” Tandas Noni panjang lebar.

“Jangan sok tau. Tau dari mana lo kalo dia kehilangan gue?” serang Nadala tak percaya. “Nad, gue nggak buta-buta amat kali. Beberapa hari ini, elo ngindarin dia kan? Gue itu sering banget ngeliatin lo lagi minum es jeruk dikantin dari balik tembok disana itu.” Balas Noni sambil menunjuk tembok pilar di lantai bawah yang persis berada diseberang kantin. “Dia nggak pernah absen berdiri disana cuma untuk ngeliatin lo. Sama kayak lo, nggak pernah absen untuk duduk dibangku yang sama sambil minum segelas es jeruk.” ujar Noni pelan tapi cukup menyentak hati kecil Nadala. “Jadi, bener dong kalo lo emang sengaja duduk ditempat yang sama setiap istirahat  cuma sekedar untuk nginget Prisma.” Nadala terdiam sebentar, namun kemudian buru-buru menolak “Nggak, kata siapa? Ngaco.” Sangkal Nadala.

“Hahaha... Nad... Nad... Masih aja nyangkal. Oke kalo memang lo nggak mau ngaku sama gue. Tapi inget, gue ini udah jadi temen lo dari kita masih duduk bareng di kereta dorongan bayi. Gue kenal lo banget sampe ke jeroan lo. Jadi... kalo sama gue juga lo masih nyangkal juga sih namanya cicak ngadalin buaya. Daya sangkal lo nggak mempan sama gue, gue punya jimat tolak sangkalan lo. Hahahaha...” sahut Noni terbahak.

“Non... Tapi dia beneran nggak ada apa-apa sama gue.” Tandas Nadala yang masih keukeuh untuk menyangkal hatinya. “Hahaha... yang nanyain dia ada apa-apa sama lo, siapa? Orientasi pertanyaan gue itu ke lo. Hahaha...” Noni habis-habisan tertawa hingga nyaris tersedak. Nadala mulai manyun melihat dirinya kian terpojok dengan pernyataan Noni. “Uhuk...uhuk... Aduh, sampe keselek kan gue ngetawain lo.” Noni menyelesaikan batuknya dan mengambil nafas panjang. “Gini aja deh. Gue kasih tau ini biar lo ngerti. Posisi gue sekarang ini netral, nggak ngebela elo ataupun ngebela Mas Manda dan Prisma. Lo berhak marah. Itu wajar. Gue rasa siapapun yang berada di posisi lo waktu itu pasti akan ngelakuin hal yang sama seperti apa yang lo lakuin yaitu marah dan kesel akut. Tapiiii... cobalah bijak. Cobalah untuk memakai kaca mata Mas Manda untuk melihat semua ini. Dia mungkin hanya ingin lo aman, apapun caranya bakal dia tempuh. Sayangnya cara ini ternyata salah. Oke, dia salah. Oke, bohong itu tetap tak bisa ditolerir. Tapiiiii.... apakah lo sampai harus mengabaikan upaya kakak lo selama ini untuk memberikan penjagaan buat lo? Gue rasa ini nggak fair. Lo harusnya bersyukur masih memiliki seorang kakak yang peduli sama lo. Bisa lo bayangin betapa menjenuhkannya bagi seorang cowok untuk berjam-jam mendengarkan adik ceweknya curhat ini itu, bahkan hal-hal kecil yang nyaris nggak penting untuk diomongin. Pernah nggak lo bayangin? Jujur aja ya, gue aja bete banget dengerin curhatan adik gue. Padahal gue cewek. Nah gimana kakak lo yang cowok. Jadi, jangan lo skip sesi itu sampai seolah-olah kakak lo bersalah banget.” Noni mulai menangkap gelagap Nadala. Nadala jadi lebih banyak diam.

“Teruuuusss, soal posisi Prisma sebagai eksekutor pun juga harus lo selami juga dengan menggunakan kaca mata Mas Manda. Kenapa? Karena Mas Manda pasti punya penilaian khusus yang pada akhirnya membuat dia memutuskan bahwa Prisma is the choosen one. Kalo kita flashback waktu elo sama mantan pacar lo yang super duper egois bin celamitan bin jelalatan yang udah bikin lo di opname seminggu gara-gara berantem dijalanan dan elo ketabrak mobil serta dengan sangat tidak gentlement-nya dia meninggalkan lo dengan sukses sendirian dijalanan dengan luka disana-sini, syukur-syukur lo nggak koi’t di jalanan gara-gara kehabisan darah. Inget, Kan?” ujar Noni dengan gamblangnya mengingatkan kembali episode paling mengenaskan dari hidupnya, Nadala terpaksa mengiyakan dengan tidak rela. “Iye inget. Ngapain sih dibahas yang itu.” Sungut Nadala yang sedikit kesal. “Bukan bermaksud ngungkit. Cuma selama Prisma ada di sisi lo beberapa waktu kemarin itu apakah dia memperlakukan lo dengan buruk? Nggak usah jauh-jauh deh, apakah lo nggak lihat mata itu tulus?” Noni menambahkan. “Aduh, Non. Gue nggak tau. Asli bener-bener nggak tau. Gue bingung.” Protes Nadala yang lalu meninggalkan Noni untuk masuk kedalam kelasnya. “Sangkal terus.” Sambil mengejar Nadala dari belakang, Noni kemudian meletakkan tas Nadala dimeja sang empunya lalu tanpa segan-segan meledeknya.

Kata-kata Noni barusan ternyata membuat Nadala berpikir. Mungkin benar ia marah dengan kakaknya dan juga Prisma. Tapi apakah ia sudah benar menghukum mereka sejauh ini? Mungkin benar cara yang mereka tempuh itu salah. Tapi apakah ia sadar bahwa apa yang mereka upayakan itu semata-mata hanya untuknya? Untuk membuatnya aman dan terjaga. Nadala mulai diserang rasa penyesalan. Harusnya ia tidak bersikap seperti ini. Bagaimana kalau mereka juga berbalik marah padanya? Bagaimana jika mereka tidak mau mendengarkannya lagi? Bagaimana jika mereka tidak ada untuknya lagi? Ini gawat!! Ia belum siap untuk kehilangan separah itu. Tapi ia benar-benar tidak tahu bagaimana untuk memulai perdamaian itu? “Gawaatttt...” ujarnya lirih.

Selang beberapa jam kemudian, bel istirahat berbunyi. Kehebohan bagi perut-perut yang kelaparan seperti telah menemukan waktu yang tepat untuk menyumpal dengan sedikit makanan enak di kantin. Tak terkecuali Prisma. Ia memesan nasi goreng dan duduk ditempat biasa, tempatnya bersama Nadala dulu. Ia tidak sedang berniat menunggu Nadala, makanya ia mempercepat suapan makannya. Ia masih tidak ingin mengganggu. Dibenaknya, Nadala masih marah dan enggan bertemu dengannya. Ia sadar keberadaannya masih tak berarti dihadapan Nadala. Jadi, sebelum diusir dengan tatapan mata ketidaksukaan Nadala, ia lebih baik pergi sebelum Nadala mampir dan makan siang disini.

***
Belum usai suapan nasi gorengnya, Noni sang teman Nadala sudah lebih dulu hadir dihadapannya dengan sepiring nasi goreng yang sama. Tak berhasil mengelak karena Noni ternyata lebih cekatan mencekalnya dengan satu sapaan. “Eh, Kak Prisma.” Noni menyapanya dengan sopan. “Eh, Noni. Makan.” Prisma membalas sapaan itu sambil mengayunkan sendoknya keudara seraya menyampaikan ucapan selamat makan. “Iya, Kak. Makan.” ujar Noni yang mulai makan. Ia tidak tahu bahwa cewek didepannya itu penasaran setengah mati dengan perasaannya. Terlihat sekali ada rasa canggung yang membuatnya melempar pandangan kemanapun tapi sekali-kali mencuri pandangan kearahnya diam-diam. “Kenapa Non? Kok gelisah amat.” tembak Prisma tiba-tiba, Noni gelagapan saat tatapan matanya terbaca Prisma. “Nggg... Nggak kenapa-napa, Kak.” jawab Noni salah tingkah. “Bener nggak ada apa-apa? Atau ada yang mau lo tanyain ke gue?” tandas Prisma , lagi-lagi seperti menyergap Noni. Noni cuma bisa ternganga. Eh, buset ini orang pakar mikro ekspresi kali ya. Perasaan dari  tadi kayak bisa baca gue. “Nggg... gini sih, Kak. Aku pingin nanya sesuatu sama kakak. Cuma kalo kakak nggak mau jawab juga nggak apa-apa sih.” Ujar Noni pelan. “Mau tanya soal apa?” tanyanya singkat. Pasti soal gue sama Nadala. “Mau tanya soal kakak sama Nadala.” Sahut Noni yang makin hati-hati dalam menanyakan hal ini. Tuh kan! Batin Prisma.

“Silahkan tanya.” Prisma mempersilahkan adik kelasnya itu bertanya tentang apa yang diinginkan. Baginya, ini bisa jadi peluang agar Nadala tidak semakin berlarut-larut marah padanya. Noni pasti pada akhirnya akan mendistribusikan informasi ini kepada temannya itu. Nadala pasti akan tahu yang sebenarnya. Semakin cepat Nadala tahu tentangnya semakin bagus. “Kak, aku udah tahu kalo kakak sama Nadala lagi berantem. Bukan maksud aku ikut campur sih. Nadala sih pernah ceritain masalahnya sama aku. Cuma nggak tahu kenapa ya, aku yakin banget sebenarnya masalah ini bisa diselesaikan secara baik-baik, bukan dengan cara perang dingin begini. Aku pingin tanya bener kakak ngelakuin ini hanya karena permintaan dari kakaknya Nadala?” Noni menyudahi kalimat tanyanya. Prisma tak menyangka akan ditodong pertanyaan seberat ini. Sambil mengambil nafas panjang, ia mulai menyiapkan jawaban dari pertanyaan Noni.

“Gue nggak tahu ya apa persepsi Nadala sama gue sekarang. Mungkin di mata dia, gue ini jahat atau apalah yang buruk-buruk. Tapi ada banyak hal yang mungkin dia belum tahu dari permasalahan ini. Awalnya emang gue nggak tahu siapa itu Nadala. Sampai suatu hari, waktu gue main kerumah tante gue yang kebetulan lokasinya nggak jauh dari rumah Nadala. Dia waktu itu lagi nyiram tanaman dan gue kebetulan lagi main sepeda diseputaran kompleksnya. Sekali dua kali, gue selalu nemuin dia lagi asyik nyiram tanaman setiap sore. Gue seneng ngeliatin dia. Akhirnya, gue diam-diam jadi keranjingan main kerumah tante gue untuk main sepeda disana demi bisa ketemu dia. Cuma sayangnya gue terlalu takut untuk bisa kenalan sama dia.” Prisma menjeda kalimatnya untuk menyeruput es teh manisnya lewat sedotan. Lantaran mendengar cerita tersebut, Noni jadi latah dan ikut-ikutan menenggak habis minumannya.

Tak beberapa lama, Prisma kembali melanjutkan perkataannya, “Sampai akhirnya, gue ngeliat dia dideretan paduan suara waktu upacara bendera waktu gue jadi pemimpin upacara. Gue kaget sekaligus seneng banget karena ternyata dia itu sekolah disini juga. Nggak nyangka, bener-bener nggak nyangka. Cuma keterkejutan gue nggak berhenti sampai disitu, selama gue diam-diam ngeliatin dia ternyata Mas Manda udah jauh lebih dulu sadar kalo gue lagi jadi secret admirer adiknya. Suatu sore, Mas Manda ngejar gue dengan sepedanya ke taman terdekat. Ya... Mas Manda intregosain gue panjang lebar. Cuma setelah dia jelasin maksudnya barulah gue paham. Disitulah awal mulanya kenapa gue mau jagain Nadala. Cuma sayangnya saat itu gue sebenarnya baru putus dari pacar gue. Jujur, ditengah perjalanan gue jadi penjaga Nadala. Gue jadi bingung memilah-milih perasaan gue. Apakah gue bener-bener sayang sama dia atau cuma jadi pengalihan gue dari segala bentuk patah hati gue? Cerita selanjutnya seperti yang lo tahu.” Prisma menyelesaikan kalimatnya dan menyerahkan semuanya pada Noni.

Noni masih dalam keadaan menganga tidak menyangka ada sebuah cerita yang sangat romantis dibalik perseteruan ini. So sweet banget. Gue juga mauuuu... “Non... Kok bengong?” suara Prisma memecahkan keterkejutannya. Noni yang tersadar bahwa ekspresinya barusan seperti orang norak yang terhipnotis cerita dongeng dari negeri antah berantah. Ia buru-buru membetulkan posisi duduknya sembari membetulkan ekspresinya barusan. “Hah? Nggak kok. Cuma agak terkejut aja. Nggak nyangka aja kalo kakak sebenernya udah naksir Nadala bahkan sebelum adanya permintaan sandiwara ini.” Tapi tiba-tiba Noni jadi teringat sesuatu, wajahnya berubah waspada... kalo kemarin ini orang bisa sandiwara didepan Nadala bisa jadi kan sekarang dia juga sandiwara sama gue. “Kakak, nggak coba lagi sandiwara didepan aku, Kan?” selidik Noni.

Prisma tersenyum lembut kemudian tawa kecilnya meluncur, “Takut amat sih, Non. Gue nggak lagi pura-pura kok. Kalo emang lo nggak percaya, lo bisa kroscek sama Mas Manda. Pasti jawabannya sama.” Namun, wajah Prisma mendadak berubah. Tergambar raut kesedihan disitu, Noni bisa melihatnya dengan jelas. “Sekarang gue takut kehilangan temen lo. Beberapa minggu sama dia, ternyata ngangenin. Banyak hal didiri dia yang bikin gue pingin banget terus-terusan jadi pelindungnya.” Ungkap Prisma dengan sedih yang tertahan. “Kakak sayang sama Nadala?” tanya Noni dengan sangat ekstra hati-hati. Sambil menahan nafas, Noni jadi dag-dig-dug menunggu jawaban yang akan dilontarkan Prisma. Dengan tegas akhirnya Prisma menjawab, “Lebih tepatnya gue udah mulai sayang sama dia. Cuma gue tahu kok mungkin sekarang dimata dia, gue itu brengsek banget. Wajar banget kalo dia nggak mau maafin gue.” Noni langsung berceletuk ria didalam hati, sumpah kalo sampai Nadala masih nolak juga untuk berdamai sama Prisma setelah dia tahu kenyataannya kayak gini, asli gue bakal kutuk dia jadi katak buduk rupa.

“Tenang aja, Kak. Anda telah bertemu dengan juru damai yang paling handal disini.” Noni mengangkat bahu kirinya seraya menepuk-nepuk bangga. “Aku pasti bantuin kakak. Dengan catatan kakak nggak akan sakitin dan bohongin teman aku lagi. Kalo sampai nyakitin lagi, awas aja.” ancam Noni serius. “Makasih ya. Iyaaaa, gue bakal jujur sama temen lo.”

“Gini, Kak... sepulang sekolah nanti, Nadala itu ada audisi terakhir untuk pementasan peri menangis. Kakak tahu dong seberapa pentingnya peran ratu peri yang dia incer. Iya dong iya dong...” mata Noni berkedap-kedip imut. “Nah, tadinya itu dia bakalan nebeng sama aku. Cuma karena aku ada urusan lain, makanya batal. Jadiiii... kakak masih punya kesempatan untuk berbaikan hari ini. Itu juga kalo kakak berani.” tantang Noni. “Nggg, tunggu deh... Lo beneran ada urusan? Jangan-jangan lo ngibulin temen lo juga lagi.” Selidik Prisma. “Yaelah, emang orang kayak aku nggak boleh punya urusan penting apa. Ya beneranlah.” Sungut Noni manyun. “Trus kenapa lo sebegitu niatnya bantuin gue biar bisa baikan sama Nadala?” tanya Prisma sambil memicingkan kedua matanya pertanda mulai curiga. “Yaelah... Sederhana aja kali, Kak. Ini semua aku lakuin buat Nadala. Ini karena Nadala juga sayang sama kakak. Dia itu otak dan gelagatnya transparan banget. Jadi gampang banget buat aku untuk nebak isi hati, meskipun dia nyangkal abis-abis. Lagian, aku tuh kenal sama Nadala dari kita berdua masih kecil. Percaya deh sama aku. Kakak itu udah punya tempat spesial di hatinya Nadala. Kalo nggak percaya tanya aja langsung sama orangnya. Hahaha...” sahut Noni dengan pedenya.

Setelah mendengarkan cerita dari Noni, Prisma memang jauh lebih tenang. Tapi yang jadi sekarang adalah apakah ia siap untuk berhadapan langsung dengan Nadala dan menyelesaikan semuanya. Bagaimana kalo ternyata lagi-lagi ia diabaikan. Gawat, hati gue nggak karuan. Kenapa nyali gue jadi cemen begini sih. Gawaaaattttttt....!!!  Ia memilih untuk berpikir sejenak untuk bisa tahu dengan pasti apa yang harus dilakukan untuk misi sepulang sekolah nanti.     

***

Ditempat lain... Lagi-lagi, Vero kalah cepat untuk bisa menyambangi Andria dikelasnya. Orang yang dicari sudah raib dari kelasnya sebelum bisa ditemui. Vero gagal lagi. Gani yang melihat wajah kusut Vero dari balik jendela kelasnya langsung beranjak mendekati temannya itu. “Udah cabut kali orangnye dari tadi. Telat lho... Kayaknya sih doi ngerasa lo lagi nyariin dia.” ujar Gani menepuk bahu Vero. “Dia beneran nggak mau ya ketemu gue?” tanya Vero dengan nada pasrah. “Bukan nggak mau tapi belum mau.” Gani mencoba menenangkan Vero. “Yaudah sih... lagian kan lo masih bisa nungguin doi masuk lagi ke kelas. Bentar lagi istirahatnya juga kelar.”  Vero mengangguk setuju dengan saran Gani.

Benar saja, tak berapa lama kemudian orang yang ditunggu datang. Gani menyenggol pelan lengan Vero, “Tuh, anaknya datang. Goodluck ye.” Gani berbisik pelan yang lalu memilih menyingkir karena tak ingin mengganggu acara Vero yang entah mendapat sambutan macam apa kali ini. Vero buru-buru bersiap. Baginya ini kesempatan, apapun reaksinya tak jadi soal. Yang penting usaha, dengusnya dalam hati.

Andria yang berjalan menunduk itu, masih belum sadar bahwa dipintu kelasnya sedang ada seseorang yang menunggunya. Ia berjalan seperti tengah menghitung keramik ubin yang ada dilantai. Matanya terus-menerus menyisir setiap inci lantai yang dilihatnya, hingga ada satu cekalan yang menghentikan kegiatannya. Cekalan itu sangat kuat, Ia bahkan tidak bisa sedikitpun melangkahkan kakinya untuk bisa segera masuk kedalam kelasnya. Ia tahu ulah siapa ini. Vero ngapain lagi sih, Lo? Matanya kembali memanas menahan nyeri yang muncul dihatinya. “Gue nyariin lo dari kemarin.” Tandas Vero tegas. “Ada perlu apa?” balas Andria datar.

“Banyak! Banyak banget. Tapi lo nggak pernah ada. Lo ngindar dari gue lagi. Ya, Kan?” ujar Vero yang tak sadar menguncang-guncang pelan cekalan tangannya kepada Andria. “Jangan berlebihanlah. Buat apa gue ngindar dari lo.” Jawab Andria sambil melayangkan tatapan serius. Namun, sedetik kemudian tatapannya bergeser menghindari manik mata Vero yang tak disangka akan berbalik menatapnya tajam. Andria menunduk lagi, ia kebingungan karena airmatanya sudah berlinangan nyaris tak tertampung lagi di cekungan kelopak bawah matanya.

See.. bahkan lo nggak berani ngeliat gue lama-lama. Liat gue.” Vero menarik tangan yang ada digenggamannya. Andria bersih keras mati-matian menahan. “Gue bilang liat gue, An.” Vero ternyata masih belum menyerah, dipegangnya bahu Andria dan menarik tubuh yang lebih kecil itu sejajar berhadapan dengannya. Andria masih merunduk tak ingin melihat Vero. Bukan karena tidak ingin melihat orang didepannya itu. Tapi ia tidak ingin Vero melihatnya dalam keadaan menangis begini. “Liat mata gue, An. Biar gue nggak perlu nuduh lo itu ngindarin gue.” Ujar Vero melunak.

Andria akhirnya menyerah, diangkat wajahnya. Namun, ganti Vero yang dibuatnya terkaget-kaget. Vero tak menyangka ada jejak airmata di pipi Andria. Matanya pun memerah dan sembab. “Lo nangis?” tanya Vero terperanjat, super kaget. Andria hanya mematung menatapnya. “Lepasin gue, Ver.” Pinta Andria lirih. “Lepasin gue... Sakiiiit...” ulangnya pelan. Vero melepaskan cekalannya. Ia masih kaget melihat Andria menangis. Ia tak menyangka bahwa kesalahpahaman ini memang sudah benar-benar parah dan terbukti membuat orang yang disayanginya sakit. Vero bahkan masih terbengong sepeninggalan Andria. Tak jauh dari sana, Gani memandangi kelakukan dua temannya sambil geleng-geleng. “Gawat, itu bocah dua bener-bener salah paham.” sahutnya pelan.

Sebelum bel istirahat benar-benar berbunyi, Vero mengambil handphone-nya kemudian segera menghubungi seseorang. “Halo.” Sapa orang diseberang. “Gue butuh bantuan lo.” Todong Vero telak-telak. “Hah?” orang diseberang yang sedang diajak ngobrol Vero ternganga heran. “Gue bener-bener butuh bantuan lo. Ini super penting super gawat buat hidup gue. Gue jemput lo dikantor abis gue pulang sekolah trus kita ke suatu tempat. Selama diperjalanan nanti gue ceritain masalahnya.” jelas Vero yang lalu menutup sambungan telponnya. Sementara orang diseberang sana cuma bisa berdecak kesal karena belum apa-apa telponnya sudah diputus, “Dasar.”

***

Sore hari ini ditandai dengan meredupnya terik cahaya matahari. Gorden dikelas nampak juga sudah mulai dibuka kembali. Anak-anak dikelas juga sudah mulai tidak betah duduk dibangkunya masing-masing. Semua sudah mulai membenahi peralatan tulis yang bertebaran diatas meja. Bolak-balik mata mereka melirik jam dinding yang tergantung di depan ruangan, persis beberapa sentimeter diatas papan tulis. Nadala juga tak ingin ketinggalan kegiatan yang menyenangkan ini. Bersiap-siap untuk merayakan usainya jam mata pelajaran terakhir. Nadala sudah sibuk memasukkan pensil, pulpen, dan buku-buku diatas mejanya. Lalu mengecek ke laci meja sekedar untuk memastikan apakah ada barang miliknya yang tertinggal.

Bel pulang sudah berbunyi, sontak hal itu disambut dengan suka cita oleh Nadala dan teman-temannya. Sambil mulai menggemblokkan tas ke punggungnya, Ia membalas sahutan selamat sore dari sang guru. Setelah gurunya keluar dari kelas, Ia juga bergegas keluar dari sana namun teriakan Noni menghentikan langkahnya. “Nad.” Ia terpaksa menoleh sebentar, “Nggg... apaan? Gue buru-buru nih.” sahut Nadala menunggu Noni yang sedang berjalan kearahnya. “Yaelah, tenang aja kali. Masih jam setengah empat ini.” Noni berujar santai. “Pale looo... Kayak nggak tahu aja daerahnya. Macet kaleee...” protes Nadala sambil melotot. “Eh, Nad. Gue doain ya semoga lo lolos audisi terakhirnya. Semoga besok lo udah resmi jadi ratu peri. Pake sayap ama mahkota kemana-mana. Hahaha...” ucap noni mendoakan. “Oncom! Lo ngedoain gue yang tulus kenapa.” balas Nadala seraya menjitak kepala Noni pelan namun sang sasaran berhasil menghindar. “Weits, gue tulus. Tuluuuuus buanget. Hahahaha...” goda Noni. “Yaudah, gue jalan ya. Doain gue.” Nadala berpamitan. “Yes, Ratu Peri. Kutunggu kedatanganmu dengan sayap barumu esok hari.” Noni memberikan penghormatan ala negeri dongeng dengan sedikit membungkuk dan menarik sebelah roknya lebih tinggi. “Yes, I am.” balas Nadala sambil mengibaskan rambutnya begitu Noni menegakkan tubuhnya lagi. Saking kagetnya Noni dengan serangan rambut Nadala yang mendadak, Ia hingga terhuyung mundur. “Nadala... Kebiasaan!” maki Noni yang kaget. Namun, sang pelaku sudah lebih dulu kabur sambil menjulurkan lidahnya meledek korbannya yang hanya bisa menahan kesal.         

Nadala berjalan menuju pangkalan ojek terdekat dari sekolahnya. “Bang, gedung serba guna yang deket radio tamusema ya.” Setelah bersepakat dengan ongkos, barulah Nadala berangkat diantarkan sang tukang ojek ke tujuannya. Perjalanan sore itu agak cukup tersendat lantaran daerah yang hendak dituju Nadalah merupakan kawasan yang terkenal dengan kemacetannya. Meskipun menggunakan motor, ia juga sesekali bersabar diri karena tetap tak bisa menyalip saking macetnya. “Sabar ya, Neng. Macet banget nih.” Nadala yang takut akan telat sang tukang ojek yang merasa penumpang dibelakangnya gelisah akhirnya berupaya menenangkan. Nadala mulai bete saat sudah lebih dari 10 menit terjebak didalam kemacetan itu. Tapi ia tak sadar dengan seorang pengendara motor yang juga tengah berhenti persis disebelah kanannya. Pengendara motor yang menggunakan jaket kulit berwarna hitam itu terus menoleh kearahnya, Ia mulai risih karena terus-menerus diperhatikan. Sayangnya ia tidak bisa wajah si pengendara motor itu karena helm yang dikenakan oleh orang itu memiliki kaca yang sangat gelap.

Namun ia memilih untuk mengabaikan si pengendara itu. “Sok misterius amat sih, Pak.” Ujar Nadala pelan sambil bergidik ngeri. Berhubung rasa penasarannya berhenti disitu, jadi ia tidak terlalu peduli dengan kelanjutan nasib si pengendara motor aneh tersebut. Padahal si pengendara yang sedari tadi melihat kearah Nadala justru tengah mengikuti kemana pun laju motor didepannya bergerak.

Setelah berkutat dengan kemacetan, akhirnya Nadala tiba di Gedung Serba Guna. Ia turun dari motor, lalu membuka helm yang dikenakannya. Kemudian, ia merogoh kantung kemejanya untuk mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya bersamaan dengan helm barusan kepada sang tukang ojek, “Ini, Bang. Makasih ya.” Kata Nadala singkat. Sang tukang ojek pun langsung menerimanya sambil berkata hal yang serupa, “Makasih juga ya, Neng.”

Nadala melihat jam ditangannya, masih tersisa waktu lima belas menit. Ia tidak telat. Ia langsung berlari untuk segera melapor ulang kepada pihak panitia bahwa hari ini ia akan mengikuti seleksi akhir. Setelah urusan administrasi, ia lalu bergegas keruang ganti untuk bersiap-siap. Saat memasuki ruang ganti, ternyata sudah banyak sekali para peserta audisi yang sedang bersiap-siap. Atmosfir ketegangan mulai menyerang Nadala. Didalam ruang ganti itu, setiap peserta diberikan satu spot tempat duduk dan meja lengkap kaca untuk berhias yang telah ditempeli kertas dengan masing-masing nama peserta. Nadala berjalan menyusuri satu demi satu, hingga ia menemukan namanya tertulis disalah satu meja rias. 

Nadala langsung memilih untuk berganti kostum dan mempersiapkan diri dengan waktu yang tersisa. Menyapu bagian-bagian wajah yang terhantam lembut debu jalan dengan beberapa tisu basah dan mendempulnya dengan beberapa polesan bedak dan kosmetik lainnya. Nadala baru menyadari bahwa ialah satu-satunya peserta audisi yang datang tanpa pendamping. Sementara ia lihat disekitarnya, para peserta audisi sibuk mengeluhkan rasa tegang mereka kepada para pendampingnya. Sedangkan dirinya sendirian dan hanya bisa menguatkan diri agar rasa tegangnya tidak terlalu mendominasi otaknya saat ini. Ia tak ingin ketegangan itu justru menemukan celah dan menghambatnya saat audisinya nanti.

Mas Mandala pernah bilang, “Rasa tegang adalah satu indikator bagus karena itu berarti kamu diingatkan untuk tampil maksimal... tapi jika berlebihan justru berubah menjadi sebuah bahaya yang akan mengganggu fokusmu dalam melakukan sesuatu. Kalau kamu tegang, pejamkan matamu sejenak, tarik nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan, lakukan itu hingga beberapa kali hingga degup jatungmu lebih stabil.”  Nadala mencoba melakukan kata-kata kakaknya itu. Betul adanya. Ketegangan yang semula mendekapnya mendadak hilang dengan sendirinya. Entah mengapa rasanya jadi rindu dengan kakaknya. Tapi meminta kakaknya untuk duduk manis dideretan bangku penonton saat ini adalah hal mustahil mengingat berkat ulahnya sendiri di hari kemarin yang membuatnya harus kehilangan kesempatan untuk ditemani oleh kakaknya hari ini. Padahal radio tamusema cukup dekat dengan lokasi audisinya. Tapi, sekali lagi... ya sudahlah.

***

Sore hari ini, Mandala rasanya ingin sekali membagi tubuhnya menjadi dua. Dia ingin berada di tempat dimana adiknya tengah di audisi. Meskipun belum ada gencatan senjata secara nyata antara dirinya dan Nadala, dia ingin memberikan dukungan bahkan berteriak jika perlu. Disisi lain, dia sadar bahwa raganya harus tetap berada ditempat siarannya saat ini. Selain itu, ada hal lain yang menahannya disini. Seseorang yang berada disampingnya saat ini - seorang yang belakangan ini mendominasi ruang-ruang imaji didalam pikirannya. Entah mengapa langkahnya lebih berat disini. Apalagi saat dilihat wajahnya tampak sedih dan tak secerah biasanya. Lusuh. Bahkan ketika Mandala bertanya kepadanya, hanya anggukan atau gelengan sebagai simbol jawaban lalu kembali terdiam seperti tenggelam dalam pusaran masalahnya.

“Ini anak kenapa lagi? Ditanya jawabnya ngangguk. Ditanya lagi malah geleng. Suaranya ilang dicolong siapa sih, Andria?” tanya Mandala sambil menyeret roda bangku yang didudukinya mendekati Andria. Andria yang sedang duduk menopang dagu akhirnya memunculkan raut wajah lemasnya dan menjawab pertanyaan Mandala itu dengan kata-kata seadanya, “Dicolong kancil.” jawab Andria singkat. “Itu suaranya ada. Katanya dicolong...” Mandala mensejajarkan wajahnya dengan wajah Andria. Mata itu tampak begitu layu, seperti tak ada sinar keceriaan khas miliknya. Ingin sekali dia rengkuh perempuan ini kedalam pelukan hanya untuk sekedar menghapus kesedihan itu.

“Kenapa?” meski ragu, akhirnya Mandala memberanikan diri mengacak-acak rambut Andria pelan, “Kalo lo memang punya masalah, lo cerita dong ke gue. Gue siap jadi tong sampah lo.”  Setiap hari bahkan kapan pun lo butuh, An... Gue pasti ada buat lo. Andria menggeleng. “Nggak ada apa-apa kok kak.” Jawab Andria lagi. “Gue kenal betul siapa elo, An. Elo itu orangnya cerewet banget. Jadi kalo diem kayak gini pasti lagi ada apa-apa.” Mandala kembali membelai rambut di pucuk kepala Andria. “Jangan dipendam kayak gini, nanti yang ada lo sakit. Gue nggak mau lo sakit. Cerita ya, An.”

Andria menjawab pertanyaan itu dengan tetesan air mata yang perlahan berjatuhan di pipinya. “An, lo kenapa? Kok malah nangis.” tanya Mandala khawatir yang tiba-tiba mendapati Andria menangis. “Pinjem pundaknya.” Sahutnya pelan. Mandala langsung memutar bangkunya dan membiarkan Andria menangis dibalik punggungnya. Mandala tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun dari isakan tangis Andria yang semakin kencang, dia mengerti bahwa masalah yang dihadapi rekan sepenyiarannya ini sepertinya serius. Tak berapa lama, tangisan Andria mulai mereda, Andria pun mulai menarik wajahnya dari punggung Mandala. “Makasih ya, Kak.” Ujar Andria.

Seperti adegan klasik di film-film romantis tatkala pemeran pria menyapu bekas air mata dipipi pemeran wanitanya. Mandala pun ingin memiliki momen itu bersama Andria. Dengan hati-hati, Mandala menghapus jejak tangisan yang membekas dipipi Andria dengan tangannya. Andria sempat terkejut dengan perlakuan Mandala barusan. Cuma entah mengapa, hatinya yang gersang itu seperti diberi tetesan embun yang menyejukkan. Sedikit meredakan meski tidak akan bisa menghilangkan seluruhnya.

Tangan Mandala masih memegang lembut pipi Andria. Bahkan sesekali Mandala membelainya. Keduanya terdiam saling menatap seakan menikmati suasana itu. Mandala melempar senyum dan berupaya agar wajah lebih dekat lagi dengan Andria. Andria kembali dikejutkan dengan ulah super manis Mandala kepadanya. Hanya saja, kali ini Andria agak sedikit menunjukkan sikap tidak nyaman. Andria mengelak pelan “maaf, Kak.”

Sadar bahwa perlakuannya membuat Andria tak nyaman, Mandala buru-buru meminta maaf. “Sorry, An. Gue nggak ada maksud apa-apa. Gue cuma... cuma... cuma mau bilang kalo gue itu care banget sama lo. Bukan sekedar rekan kerja tapi lebih dari itu.” Sebuah pengakuan lagi. Raut wajah Andria berubah kaku. Belum selesai satu masalahnya dengan Vero, kini Mandala menyeretnya kedalam kekacauan baru. “Kak...” Andria mencoba menanggapi pernyataan Mandala barusan, namun Mandala yang justru mengalihkan pembicaraannya. “Kalo lo belum siap, jangan dijawab. Gue ngerti kok kalo mungkin lo kaget. Gue cuma mau lo tahu.” balas Mandala lembut sembari mengusap lengan Andria. Andria memilih diam, tak melanjutkan apa yang ingin disampaikannya.

Ini gawat. Pekik Andria dalam hati. Ia tidak menyangka bahwa Mandala ternyata menyukainya. Bagaimana ia harus menghadapi keadaan ini? Apa ini pertanda bahwa ia harus menerima Mandala yang jelas-jelas menyayanginya dengan sepenuh hati? Tapi hatinya enggan menyanggupi kenyataan yang telah terhidang didepannya. Dan Andria tidak ingin jadi pendusta untuk hati yang datang dengan sejuta ketulusan. Pecinta bukan pendusta. 

■■■■

No comments:

Post a Comment