Monday, 30 June 2014

Cerbung: Pangeran Dekik dan Nyai Dempul (part 5)

Part 5

STRATEGI PANGERAN DEKIK


Diluar pertemuan penting itu, Pangeran Dekik mulai menjalankan misi mendiang Raja Adipta. Ditangannya telah tergenggam lembaran kayu kering bertintakan emas tulisan sang raja. "Pergilah ke dapur kerajaan dan temukan sebuah buku masakan yang bukan buku masakan. Disanalah kau akan temukan strategi yang telah kubuat." Pangeran Dekik bergegas ke dapur kerajaan.

Hiruk pikuk semua pelayan yang tengah menyiapkan makanan hidangan untuk pertemuan khusus tersebut sangat menguntungkan Pangeran Dekik karena leluasa masuk ke ruang resep masakan tanpa dicurigai atau banyak ditanya ini-itu. Pangeran Dekik menyelinap masuk semakin dalam kedalam ruang khusus resep kerajaan. Pangeran Dekik terbengong seketika karena melihat sebuah lorong panjang yang hanya berisi buku dan buku.

Pangeran Dekik masih terdiam di posisinya. Lorong ini tidak hanya memuat ratusan buku resep masakan tapi ribuan, batinnya. "Ini gila. Bagaimana caranya aku bisa menemukan buku yang dimaksud raja." tandas Pangeran Dekik yang kesal karena kebingungan. Tapi sedetik kemudian, dia lebih memilih untuk memejamkan mata dan kembali mengingat percakapannya dengan mendiang Raja Adipta. Kembali suara raja terasa menuntunnya.

"Benda itu bagai matahari yang tidak berada di timur maupun di barat. Benda itu menetap tidak di langit juga bukan di bawah permukaan laut. Benda itu meninggi sejajar pada urutan angka ganjil ke 15. Benda itu bagai keruh berkilauan dideretan musim-musim. Benda itu berkaitan dengan lebah pekerja." Pangeran Dekik mulai meraba satu demi satu petunjuk tersebut.

Di lorong panjang itu tersekat berjejer 6 lemari buku yg terpisah, ketiganya saling berhadapan. Pangeran Dekik pun langsung teringat kata-kata "tidak berada di timur maupun di barat." Maka, lemari tengahlah jawabannya. Dia bergerak kearah lemari kedua yang berada ditengah dua lemari lainnya. "Sepertinya ada petunjuk yang terlupa. Petunjuk di sisi mana buku itu harus kutemukan?" Pangeran Dekik kembali mencoba mengingat.

Pangeran Dekik menempelkan tangannya ke rak buku didepannya sambil terus berpikir, "Benda itu tidak berada pada inti tapi pada sisi dimana ibu dari segala ikan di dunia terbang memutar, berbunyi." Pangeran Dekik masih belum paham, hingga tiba-tiba dia mendengar bunyi kerincing dari atas. Dia sontak melompat kegirangan. "Ikan paus! Rupanya kau bersembunyi di sudut rak ini." Buru-buru dia menjalankan petunjuk lainnya.

Pangeran Dekik mulai mengurutkan angka ganjil yang ke lima belas. "...23, 25, 27, dan 30." Dia segera menghitung dari ke tiga puluh dari bawah ke atas. Dicapainya tangga kayu khusus untuk menggapai rak ke 30. "Saatnya mencari buku itu." Pangeran mulai menyusuri satu demi satu buku demi buku. Sudah 3 kali dia menyisir tiap buku tersebut tapi tak juga mengerti buku mana yang harus diambilnya.

Pangeran Dekik kembali mengheningkan pikirannya. "Keruh kemilau disetiap musim lebah pekerja. Buku apa yang raja maksud?" Pangeran Dekik akhirnya mencoba sekali lagi menyisir buku-buku resep itu. Tangannya dicoba untuk mensinkronisasi dengan suara dipikirannya. Tangannya terhenti disatu buku berwarna merah bata berjudul Madu Mongso. "Madu mongso. Keruh kemilau disetiap musim lebah pekerja. Tak salah lagi." tandasnya.

Pangeran Dekik langsung memasukkan buku tersebut kedalam bajunya dan bergegas keluar ruangan resep tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Dia menyelinap lewat jalan yang berbeda, sehingga tak ada orang yang curiga terhadapnya. Pangeran Dekik buru-buru berjalan cepat menuju kamarnya. Masuk dan lantas menghela nafas panjang pertanda lega. Pangeran Dekik segera membuka buku resep tersebut perlahan.

Buku itu bukan berupa lembaran kertas tapi seperti kotak yang ketika dibuka terdapat didalamnya dua gulungan kayu lontar kering. Pangeran Dekik membuka gulungan pertama. Disana tertulis: Berpikir seperti cara mereka berpikir. Namun, bergelagatlah seperti melawan arus aliran air'". Pangeran lalu membuka gulungan kedua, tapi tidak ditemukannya satu goresanpun. Tidak ada tulisan apapun. Hanya tercium wewangian aneh.

"Kosong? Tidak mungkin raja hanya meninggalkan surat kosong seperti ini. Ini pasti sebuah rahasia penting. Aku harus menemui Nimas nanti malam." sahut Pangeran Dekik. Pangeran Dekik kemudian memasukkan kembali semua gulungan tersebut kedalan buku resep Madu Mongso. Lalu di bungkus buku itu dengan kain batik kecil dan disimpannya ditempat yang lebih aman.

Langit sore sudah berubah semakin pekat menghitam. Malam telah datang, Pangeran Dekik juga masih menunggu Nyai Dempul di bawah pohon didekat kamarnya. Beberapa waktu kemudian, terlihat Nyai Dempul memasuki lorong menuju kamarnya, sendirian. Pangeran Dekik bergegas berlari mengejar Nyai Dempul begitu hendak melangkah masuk kedalam kamarnya. Dicekalnya tangan Nyai Dempul. "Nimas... Ikut aku sebentar." Pangeran Dekik menarik tangan Nyai Dempul.

"Sapardi, kita mau kemana? Ini sudah tengah malam. Tidak baik jika ada yang melihat." bisik Nyai Dempul.

"Aku harus memberitahu sesuatu yang penting. Tidak bisa menunggu hingga esok pagi." Sahut Pangeran Dekik yang terus menariknya ke suatu tempat. Pangeran Dekik membawanya ke Telaga Jingga. Beberapa obor menerangi gelapnya yang memeluk telaga tersebut.

Pangeran Dekik lantas menyerahkan Buku Madu Mongso ke tangan Nyai Dempul. "Itu dari Bopokmu." ujar Pangeran Dekik, "Ada dua gulungan. Satu, tertulis pesan Bopokmu, bisa kau baca sendiri. Tapi masalahnya pada gulungan kedua hanya berisi lembaran kosong." lanjut Pangeran Dekik sambil menunjuk gulungan kedua yang tengah dibuka Nyai Dempul.

Nyai Dempul terkikik sendiri, "Bopok... Bopok... Selalu saja membuat misteri."

"Kenapa kau tertawa Nimas?" tanya Pangeran Dekik heran.

"Tidak. Dulu Bopok sering sekali membuat pesan tersembunyi seperti ini." ujar Nyai Dempul menyelesaikan tawanya.

"Jadi kau tahu bagaimana cara membaca pesan rahasia itu?" tanya Pangeran Dekik.

"Untuk membaca pesan itu bukan hal yang sulit. Yang jadi masalah adalah cawan emas yang akan kita gunakan untuk menampung air ada di kamar Raja Arji." balas Nyai Dempul.

"Harus cawan emas yang itu? Bukankah banyak sekali cawan emas dikerajaanmu?" Pangeran Dekik menggaruk-garuk kepalanya.

"Itu bukan sembarang cawan emas. Cawan itu memang sengaja Bopok buat sebagai penampung air yang nanti akan digunakan untuk membaca tulisan Bopok." kata Nyai Dempul menjelaskan.

"Jangan kau bilang, airnya pun harus dari tujuh mata air?" tanya Pangeran Dekik menyelidik.

"Kalau aku bilang, iya. Apakah kau akan berlari ke tujuh mata air yang ada di sekitar kerajaanku?" balas Nyai Dempul yang lalu memasang wajah serius.

Pangeran Dekik menarik nafas panjang, "Kalau memang harus, akan aku lakukan."

Nyai Dempul tersenyum, "Tidak perlu. Air mana saja, yang penting jernih." tutur Nyai Dempul melerai wajah tegang laki-laki didepannya. Hembusan nafas lega terdengar dari Pangeran Dekik.

"Lucu sekali kamu, Mas." Nyai Dempul kembali tertawa sambil tak sadar menepuk bahu Pangeran Dekik. Lama juga tangan itu mendarat dibahunya, membuat perasaan Pangeran Dekik mendadak berdesir. Dengan ragunya tangan Pangeran Dekik meraih tangan yang singgah dibahunya itu. Namun, selisih beberap detik tangan itu sudah menjauhi bahunya. Dan Pangeran Dekik pun mengurungkan niatnya.

Pangeran Dekik hanya bisa melihat rona ceria dipipi Nyai Dempul. Melihat tanpa bisa memberitahu bahwa betapa keceriannya itu menentramkan jiwanya yang bergejolak. Nyai Dempul mendapati orang disampingnya itu menikmati renyah tertawa yang sedari tadi mengalun. "Ada apa? Mengapa melihatku seperti itu?" ujar Nyai Dempul telak.

Pangeran Dekik buru-buru mengalihkan pandangannya. "Tidak." sangkalnya.

"Lalu?" cecar Nyai Dempul.

"Lalu... lalu apa maksudnya?" tanya Pangeran Dekik.

"Lalu apa strateginya agar kita bisa mengambil cawan emas itu?" jawab Nyai Dempul.

"Astaga, sampai lupa aku. Sebentar, biarkan aku berpikir." Pangeran Dekik lalu duduk dipinggiran telaga. Nyai Dempul hanya mengikuti dan ikutan duduk disebelah Pangeran Dekik.

"Aku punya ide." tandasnya mantap.

"Apa rencananya?" tanya Nyai Dempul antusias.

Pangeran Dekik membisikkan sesuatu ke telinga Nyai Dempul. Nyai Dempul mendengarkan dengan seksama sambil menggangguk-angguk pertanda mengerti.

"Besok malam kita akan bergerak. Paham?" seru Pangeran Dekik memastikan.

"Paham!" jawab Nyai Dempul nyaris teriak.

"Semangat!!" lanjutnya lagi.

"Hehe.. Semangaaattt." balas Pangeran Dekik tersipu.

Dari balik semak didekat telaga jingga terdapat seseorang yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Pangeran Dekik dan Nyai Dempul. Dia mengawasi dan menguping semua percakapan keduanya. Si Pengintai itu hanya berdiri ditempat persembunyiannya tanpa berniat memergokinya. Dia hanya ingin memberikan sedikit kejutan untuk rencana mereka esok malam. "Nyai Dempul, tak kan kubiarkan kau bertindak sejauh itu."

Keesokkan malamnya, ketika semua hampir terlelap. Terdengar bunyi ledakan dari arah paviliun Pangeran Dekik dan Pangeran Dewo. Semua orang langsung bergerak kearah tempat tersebut. Tak terkecuali Raja Arji bergegas keluar begitu mendapat kabar bahwa terdapat ledakan didekat paviliun Pangeran Dewo. Raja Arji yang panik menarik semua pengawalnya untuk ikut kesana.

Paviliun Raja Arji kosong. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh seseorang untuk menyelinap masuk kedalamnya. Seseorang itu memakai cadar hitam seperti kebanyakan ninja. Dia keluar masuk mencari sesuatu. Tak perlu waktu lama untuk menemukan yang dia inginkan. Hanya saja begitu dia ingin menyelinap keluar, salah seorang penjaga kembali dan menemukan pintu paviliun Raja Arji telah terbuka. Pengawal itu berinisiatif masuk.

Seseorang bercadar itu mendadak panik ketika mendengar bunyi derap langkah dari orang yang masuk. Dia mencoba mencari jalan keluar tapi langkah kaki yang masuk itu semakin dekat ke tempatnya berada. Dia harus segera keluar. Mendadak sebuah tangan membekapnya dari belakang dan menariknya masuk kesebuah celah kecil tepat didetik pengawal itu tiba. Pengawal celingak-celinguk heran, "mungkin lupa menutup pintu saja."

Pengawal tadi segera keluar dan menutup pintu. Seseorang bercadar itu menghela nafas lega. Entah apa yang dilakukan orang dibelakangnya ini, yang pasti dia selamat. Sang penolong itu mendorongnya keluar dari celah. Perlahan sinar lampu di ruangan itu menunjukkan siapa sebenarnya dirinya. Seseorang bercadar itu sontak mudur beberapa langkah karena terperanjat. "Kamu."

Pangeran Dekik menahan rasa sakit akibat pecahan kaca yang menempel di lengan kirinya. Inilah strategi Pangeran Dekik. Saat senja menghiasi langit, Pangeran Dekik mulai bergerak dengan hati-hati memasangkan petasan yang berdaya ledak sedang di dekat paviliunnya dan Pangeran Dewo. Dia sengaja meletakkan petasan di kedua titik tersebut karena Raja Arji pasti akan segera bergerak jika terjadi sesuatu dikedua tempat itu.

Saat petasan-petasan itu meledak dan semua orang terfokus pada kedua tempat tersebut, barulah Nyai Dempul menyelinap masuk kedalam Pavilium Raja Arji untuk mengambil cawan emas milik Bopoknya. Begitu mendapati Raja Arji dan pengawal-pengawal berada disekitarnya, Pangeran Dekik langsung tenang. Itu artinya rencananya berhasil. Nyai Dempul bisa leluasa masuk tanpa harus berjibaku.

■■■■

No comments:

Post a Comment