Part 5
STRATEGI PANGERAN DEKIK
Diluar pertemuan penting itu, Pangeran Dekik
mulai menjalankan misi mendiang Raja Adipta. Ditangannya telah tergenggam
lembaran kayu kering bertintakan emas tulisan sang raja. "Pergilah ke
dapur kerajaan dan temukan sebuah buku masakan yang bukan buku masakan.
Disanalah kau akan temukan strategi yang telah kubuat." Pangeran Dekik
bergegas ke dapur kerajaan.
Hiruk pikuk semua pelayan yang tengah
menyiapkan makanan hidangan untuk pertemuan khusus tersebut sangat
menguntungkan Pangeran Dekik karena leluasa masuk ke ruang resep masakan tanpa
dicurigai atau banyak ditanya ini-itu. Pangeran Dekik menyelinap masuk semakin
dalam kedalam ruang khusus resep kerajaan. Pangeran Dekik terbengong seketika
karena melihat sebuah lorong panjang yang hanya berisi buku dan buku.
Pangeran Dekik masih terdiam di posisinya.
Lorong ini tidak hanya memuat ratusan buku resep masakan tapi ribuan, batinnya.
"Ini gila. Bagaimana caranya aku bisa menemukan buku yang dimaksud
raja." tandas Pangeran Dekik yang kesal karena kebingungan. Tapi sedetik
kemudian, dia lebih memilih untuk memejamkan mata dan kembali mengingat
percakapannya dengan mendiang Raja Adipta. Kembali suara raja terasa
menuntunnya.
"Benda itu bagai matahari yang tidak
berada di timur maupun di barat. Benda itu menetap tidak di langit juga bukan
di bawah permukaan laut. Benda itu meninggi sejajar pada urutan angka ganjil ke
15. Benda itu bagai keruh berkilauan dideretan musim-musim. Benda itu berkaitan
dengan lebah pekerja." Pangeran Dekik mulai meraba satu demi satu petunjuk
tersebut.
Di lorong panjang itu tersekat berjejer 6
lemari buku yg terpisah, ketiganya saling berhadapan. Pangeran Dekik pun
langsung teringat kata-kata "tidak berada di timur maupun di barat."
Maka, lemari tengahlah jawabannya. Dia bergerak kearah lemari kedua yang berada
ditengah dua lemari lainnya. "Sepertinya ada petunjuk yang terlupa.
Petunjuk di sisi mana buku itu harus kutemukan?" Pangeran Dekik kembali
mencoba mengingat.
Pangeran Dekik menempelkan tangannya ke rak
buku didepannya sambil terus berpikir, "Benda itu tidak berada pada inti
tapi pada sisi dimana ibu dari segala ikan di dunia terbang memutar,
berbunyi." Pangeran Dekik masih belum paham, hingga tiba-tiba dia
mendengar bunyi kerincing dari atas. Dia sontak melompat kegirangan. "Ikan
paus! Rupanya kau bersembunyi di sudut rak ini." Buru-buru dia menjalankan
petunjuk lainnya.
Pangeran Dekik mulai mengurutkan angka ganjil
yang ke lima belas. "...23, 25, 27, dan 30." Dia segera menghitung
dari ke tiga puluh dari bawah ke atas. Dicapainya tangga kayu khusus untuk
menggapai rak ke 30. "Saatnya mencari buku itu." Pangeran mulai
menyusuri satu demi satu buku demi buku. Sudah 3 kali dia menyisir tiap buku
tersebut tapi tak juga mengerti buku mana yang harus diambilnya.
Pangeran Dekik kembali mengheningkan
pikirannya. "Keruh kemilau disetiap musim lebah pekerja. Buku apa yang
raja maksud?" Pangeran Dekik akhirnya mencoba sekali lagi menyisir
buku-buku resep itu. Tangannya dicoba untuk mensinkronisasi dengan suara
dipikirannya. Tangannya terhenti disatu buku berwarna merah bata berjudul Madu
Mongso. "Madu mongso. Keruh kemilau disetiap musim lebah pekerja. Tak
salah lagi." tandasnya.
Pangeran Dekik langsung memasukkan buku
tersebut kedalam bajunya dan bergegas keluar ruangan resep tanpa meninggalkan
jejak sedikitpun. Dia menyelinap lewat jalan yang berbeda, sehingga tak ada
orang yang curiga terhadapnya. Pangeran Dekik buru-buru berjalan cepat menuju
kamarnya. Masuk dan lantas menghela nafas panjang pertanda lega. Pangeran Dekik
segera membuka buku resep tersebut perlahan.
Buku itu bukan berupa lembaran kertas tapi
seperti kotak yang ketika dibuka terdapat didalamnya dua gulungan kayu lontar
kering. Pangeran Dekik membuka gulungan pertama. Disana tertulis: “Berpikir seperti cara
mereka berpikir. Namun, bergelagatlah seperti melawan arus aliran air'". Pangeran lalu membuka gulungan kedua, tapi
tidak ditemukannya satu goresanpun. Tidak ada tulisan apapun. Hanya tercium
wewangian aneh.
"Kosong? Tidak mungkin raja hanya
meninggalkan surat kosong seperti ini. Ini pasti sebuah rahasia penting. Aku
harus menemui Nimas nanti malam." sahut Pangeran Dekik. Pangeran Dekik
kemudian memasukkan kembali semua gulungan tersebut kedalan buku resep Madu
Mongso. Lalu di bungkus buku itu dengan kain batik kecil dan disimpannya
ditempat yang lebih aman.
Langit sore sudah berubah semakin pekat
menghitam. Malam telah datang, Pangeran Dekik juga masih menunggu Nyai Dempul
di bawah pohon didekat kamarnya. Beberapa waktu kemudian, terlihat Nyai Dempul
memasuki lorong menuju kamarnya, sendirian. Pangeran Dekik bergegas berlari
mengejar Nyai Dempul begitu hendak melangkah masuk kedalam kamarnya. Dicekalnya
tangan Nyai Dempul. "Nimas... Ikut aku sebentar." Pangeran Dekik
menarik tangan Nyai Dempul.
"Sapardi, kita mau kemana? Ini sudah
tengah malam. Tidak baik jika ada yang melihat." bisik Nyai Dempul.
"Aku harus memberitahu sesuatu yang
penting. Tidak bisa menunggu hingga esok pagi." Sahut Pangeran Dekik yang
terus menariknya ke suatu tempat. Pangeran Dekik membawanya ke Telaga Jingga.
Beberapa obor menerangi gelapnya yang memeluk telaga tersebut.
Pangeran Dekik lantas menyerahkan Buku Madu
Mongso ke tangan Nyai Dempul. "Itu dari Bopokmu." ujar Pangeran
Dekik, "Ada dua gulungan. Satu, tertulis pesan Bopokmu, bisa kau baca
sendiri. Tapi masalahnya pada gulungan kedua hanya berisi lembaran
kosong." lanjut Pangeran Dekik sambil menunjuk gulungan kedua yang tengah
dibuka Nyai Dempul.
Nyai Dempul terkikik sendiri, "Bopok...
Bopok... Selalu saja membuat misteri."
"Kenapa kau tertawa Nimas?" tanya
Pangeran Dekik heran.
"Tidak. Dulu Bopok sering sekali membuat
pesan tersembunyi seperti ini." ujar Nyai Dempul menyelesaikan tawanya.
"Jadi kau tahu bagaimana cara membaca
pesan rahasia itu?" tanya Pangeran Dekik.
"Untuk membaca pesan itu bukan hal yang
sulit. Yang jadi masalah adalah cawan emas yang akan kita gunakan untuk
menampung air ada di kamar Raja Arji." balas Nyai Dempul.
"Harus cawan emas yang itu? Bukankah
banyak sekali cawan emas dikerajaanmu?" Pangeran Dekik menggaruk-garuk
kepalanya.
"Itu bukan sembarang cawan emas. Cawan itu
memang sengaja Bopok buat sebagai penampung air yang nanti akan digunakan untuk
membaca tulisan Bopok." kata Nyai Dempul menjelaskan.
"Jangan kau bilang, airnya pun harus dari
tujuh mata air?" tanya Pangeran Dekik menyelidik.
"Kalau aku bilang, iya. Apakah kau akan
berlari ke tujuh mata air yang ada di sekitar kerajaanku?" balas Nyai
Dempul yang lalu memasang wajah serius.
Pangeran Dekik menarik nafas panjang,
"Kalau memang harus, akan aku lakukan."
Nyai Dempul tersenyum, "Tidak perlu. Air
mana saja, yang penting jernih." tutur Nyai Dempul melerai wajah tegang
laki-laki didepannya. Hembusan nafas lega terdengar dari Pangeran Dekik.
"Lucu sekali kamu, Mas." Nyai Dempul
kembali tertawa sambil tak sadar menepuk bahu Pangeran Dekik. Lama juga tangan
itu mendarat dibahunya, membuat perasaan Pangeran Dekik mendadak berdesir.
Dengan ragunya tangan Pangeran Dekik meraih tangan yang singgah dibahunya itu.
Namun, selisih beberap detik tangan itu sudah menjauhi bahunya. Dan Pangeran
Dekik pun mengurungkan niatnya.
Pangeran Dekik hanya bisa melihat rona ceria
dipipi Nyai Dempul. Melihat tanpa bisa memberitahu bahwa betapa keceriannya itu
menentramkan jiwanya yang bergejolak. Nyai Dempul mendapati orang disampingnya
itu menikmati renyah tertawa yang sedari tadi mengalun. "Ada apa? Mengapa melihatku
seperti itu?" ujar Nyai Dempul telak.
Pangeran Dekik buru-buru mengalihkan
pandangannya. "Tidak." sangkalnya.
"Lalu?" cecar Nyai Dempul.
"Lalu... lalu apa maksudnya?" tanya
Pangeran Dekik.
"Lalu apa strateginya agar kita bisa
mengambil cawan emas itu?" jawab Nyai Dempul.
"Astaga, sampai lupa aku. Sebentar,
biarkan aku berpikir." Pangeran Dekik lalu duduk dipinggiran telaga. Nyai
Dempul hanya mengikuti dan ikutan duduk disebelah Pangeran Dekik.
"Aku punya ide." tandasnya mantap.
"Apa rencananya?" tanya Nyai Dempul
antusias.
Pangeran Dekik membisikkan sesuatu ke telinga
Nyai Dempul. Nyai Dempul mendengarkan dengan seksama sambil menggangguk-angguk
pertanda mengerti.
"Besok malam kita akan bergerak.
Paham?" seru Pangeran Dekik memastikan.
"Paham!" jawab Nyai Dempul nyaris
teriak.
"Semangat!!" lanjutnya lagi.
"Hehe.. Semangaaattt." balas Pangeran
Dekik tersipu.
Dari balik semak didekat telaga jingga terdapat
seseorang yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Pangeran Dekik dan Nyai Dempul.
Dia mengawasi dan menguping semua percakapan keduanya. Si Pengintai itu hanya
berdiri ditempat persembunyiannya tanpa berniat memergokinya. Dia hanya ingin
memberikan sedikit kejutan untuk rencana mereka esok malam. "Nyai Dempul,
tak kan kubiarkan kau bertindak sejauh itu."
Keesokkan malamnya, ketika semua hampir
terlelap. Terdengar bunyi ledakan dari arah paviliun Pangeran Dekik dan
Pangeran Dewo. Semua orang langsung bergerak kearah tempat tersebut. Tak
terkecuali Raja Arji bergegas keluar begitu mendapat kabar bahwa terdapat
ledakan didekat paviliun Pangeran Dewo. Raja Arji yang panik menarik semua
pengawalnya untuk ikut kesana.
Paviliun Raja Arji kosong. Kesempatan itu
dimanfaatkan oleh seseorang untuk menyelinap masuk kedalamnya. Seseorang itu memakai
cadar hitam seperti kebanyakan ninja. Dia keluar masuk mencari sesuatu. Tak
perlu waktu lama untuk menemukan yang dia inginkan. Hanya saja begitu dia ingin
menyelinap keluar, salah seorang penjaga kembali dan menemukan pintu paviliun
Raja Arji telah terbuka. Pengawal itu berinisiatif masuk.
Seseorang bercadar itu mendadak panik ketika
mendengar bunyi derap langkah dari orang yang masuk. Dia mencoba mencari jalan
keluar tapi langkah kaki yang masuk itu semakin dekat ke tempatnya berada. Dia
harus segera keluar. Mendadak sebuah tangan membekapnya dari belakang dan
menariknya masuk kesebuah celah kecil tepat didetik pengawal itu tiba. Pengawal
celingak-celinguk heran, "mungkin lupa menutup pintu saja."
Pengawal tadi segera keluar dan menutup pintu.
Seseorang bercadar itu menghela nafas lega. Entah apa yang dilakukan orang
dibelakangnya ini, yang pasti dia selamat. Sang penolong itu mendorongnya
keluar dari celah. Perlahan sinar lampu di ruangan itu menunjukkan siapa
sebenarnya dirinya. Seseorang bercadar itu sontak mudur beberapa langkah karena
terperanjat. "Kamu."
Pangeran Dekik menahan rasa sakit akibat
pecahan kaca yang menempel di lengan kirinya. Inilah strategi Pangeran Dekik.
Saat senja menghiasi langit, Pangeran Dekik mulai bergerak dengan hati-hati
memasangkan petasan yang berdaya ledak sedang di dekat paviliunnya dan Pangeran
Dewo. Dia sengaja meletakkan petasan di kedua titik tersebut karena Raja Arji
pasti akan segera bergerak jika terjadi sesuatu dikedua tempat itu.
Saat petasan-petasan itu meledak dan semua
orang terfokus pada kedua tempat tersebut, barulah Nyai Dempul menyelinap masuk
kedalam Pavilium Raja Arji untuk mengambil cawan emas milik Bopoknya. Begitu
mendapati Raja Arji dan pengawal-pengawal berada disekitarnya, Pangeran Dekik
langsung tenang. Itu artinya rencananya berhasil. Nyai Dempul bisa leluasa
masuk tanpa harus berjibaku.
■■■■
No comments:
Post a Comment