Hari ini aku kembali diperlihatkan oleh-Nya, betapa Dia menciptakan
ketangguhan dari hati seorang perempuan. Ketika pengharapannya yang jelas
tergantung pada satu nadi terpaksa dia
lemparkan dari genggam keinginannya. Merelakan dengan sebuah pejaman ikhlas.
Dalam keadaan pisau telah terhunus sangat dalam pada hatinya, dia mencoba
tersenyum tulus dan berujar “Terima kasih atas rasa sakit yang dapat aku
pelajari untuk hari esok.”
Senyum itu terkulum penuh makna, tak ada kata “aku menyesal bertemu
dengan sosok itu” malah dalam matanya nyata tersirat “aku justru akan sangat
menyesal jika tak di beri kesempatan mengenyam rasa pedih, ya… rasa yang
terlampau pedih ini” Aku tak yakin semua perempuan akan sanggup memikul sesuatu
yang amat mereka kehendaki lalu tak lama kemudian realita merampas dan
menghempaskannya sambil berbisik lirih “Dia bukan untukmu.”
Aku tak pernah tahu apa yang perempuan itu lakukan ketika sepi
menyergap dirinya sendirian. Apakah dia menangis? Atau apakah dia masih tetap
terjaga dengan senyum yang sama ikhlas dan tulusnya. Aku benar-benar tak tahu.
Namun, satu hal yang aku yakini, dia tak kan
jatuh dan mengeluh serta menyalahkan seseorang yang tak bisa jadi teman
hidupnya.
Takdir dari-Nya sudah ditunjukkan, apalagi yang
dapat dia sangkal. Di dalam hatinya tak akan kerap lupa pada bualan “keajaiban
yang sewaktu-waktu akan tiba”, karena itu hanya mimpi dan pengharapan dari
anak-anak kecil. Baginya sekarang “semua adalah keteraturan yang telah
diagendakan-Nya.” Permainan hidup inilah yang harus dia menangkan meski
terseret-seret dengan kesakitan yang klise.
Dan untuk dia yang kulihat sama dari depan cermin
yang kupandangi, seuntai doa aku kirimkan sebagai penguat agar dirinya tetap
berdiri tegar. Dalam doa, aku berkata, “Inilah jawaban yang selama ini dia
cari, akhirnya dia temukan juga pada momentum yang tepat dimana hatinya berada
pada posisi paling bawah sehingga dia dapat menatap-Nya dengan rasa kerdil
dirinya itu. Terima kasih atas titik balik yang sungguh
indah.”
No comments:
Post a Comment