Part 11
IRISAN
PELANGI SENDU
Nadala sebenarnya penasaran dengan tingkah aneh
Prisma, namun dia enggan menanyakan apa yang kiranya terjadi dengan kakak
kelasnya itu karena dia sedang setengah mati mengumpulkan energi untuk tetap
bisa berdiri lebih lama menunggu Prisma yang mendadak diam. Nadala bertahan
menjaga kesadarannya yang nyaris tiada. Prisma masih terdiam. Tubuh Nadala
sudah kian merapat perlahan ke tembok. Seseorang dari belakang rupanya sudah
melihat gelagat mencurigakan dari Nadala, kontan ketika tubuh itu roboh.
Seseorang itu meraih dan menahan tubuh Nadala agar tidak jatuh membentur
lantai. Prisma terkesiap dan langsung kegelagapan mendapati Nadala sudah jatuh
pingsan.
Prisma terpaku ditempatnya, ia masih tak
percaya menyaksikan tubuh Nadala roboh begitu saja dihadapannya. Sementara,
murid-murid sudah mulai ramai berkerubung. Akhirnya, satu teriakan dari murid
cewek yang sigap tadilah yang membangunkan Prisma dari keterpakuannya.
"Woiii... temen lo pingsan begini, malah bengong. Bantuin angkat
kek." teriak cewek itu sambil masih menahan tubuh Nadala. "Sorry... Sorry..." ujar Prisma yang langsung membantu cewek
itu untuk menggendong Nadala. "Buruan kita bawa ini anak ke ruang
UKS." sahut cewek itu lagi. "Iya... iya..." jawab Prisma
manggut-manggut. "Misi... misi..." teriak cewek itu yang meminta
jalan untuk mereka lewat diantara kerumunan murid-murid yang hendak melihat
kejadian itu.
Prisma yang sudah mengambil
alih menggendong Nadala sepenuhnya itu mengikuti setiap langkah orang di
depannya itu. Cewek itu kembali dengan sigapnya membuka pintu ruang UKS.
Kemudian dia buru-buru membantu Prisma yang hendak akan merebahkan tubuh Nadala
di tempat tidur. "Pelan... pelan... Awas kepalanya." sahut cewek itu
memberikan instruksi. "Oke, done." Prisma langsung mengucapkan terima
kasih. "Thanks ya. Sorry jadi ngerepotin lo." Cewek itu
mengibas-ngibaskan tangannya pelan, "Santai aja kali. Gue malah yang
harusnya minta maaf tadi udah teriak-teriak sama lo. Sorry ya." ujar cewek
itu. "Prisma." ujar Prisma mantap seraya memperkenalkan diri.
"Oh, gue Andria." balas cewek itu memperkenalkan diri.
"Mmm... An, lo anak
kelas berapa? Anak kelas 3 bukan sih?" tanya Prisma hati-hati.
"Hahaha... Kenapa? Muka gue terlalu asing ya? Iya, gue anak kelas 3 kok.
Tapi nggak setenar lo lah, Pak Pemimpin Upacara." ujar Andria mencairkan
suasana. "Ah, bisa aja lo. Hahaha... Iya, gue pikir lo adik kelas. Tapi
pas gaya ngomong lo yang ela elo sama gue, kayaknya nggak mungkin deh. Sopan
amat itu mah." balas Prisma lembut.
"Sopan apa sopaaaan..
Jangan bilang lo kakak kelas yang gila hormat lagi? Ahahaha..." ledek
Andria. "Ya, nggak gitu jugalah. Gue ini kakak kelas yang baik hati dan
tidak sombong." jawab Prisma yang ikut-ikutan ngelawak. "Jiaaah dia
promosi. Ahahaha... Eh, Ma. Kayaknya dokternya lagi makan siang. Anak-anak
PMR-nya yang harusnya jaga juga deh kayaknya. Nih, temen lo nggak apa-apa? Lo
coba hubungin siapanya kek."
"Nah itu dia. Gue nggak
tahu. Bentar deh ya. Gue cari temen-temen sekelasnya dulu. Biar mereka yang
hubungin keluarganya." jawab Prisma berdalih. Dia enggan berpanjang lebar
mengenai Nadala. Prisma hanya jaga-jaga agar tidak ada orang lain yang tahu soal
rahasianya, termasuk dengan Andria. "Oke. Biar gue yang jagain di..."
kata-kata Andria menggantung, "siapa namanya?" tanyanya memastikan.
"Nadala."
Sepeninggalan Prisma keluar,
sekarang hanya Andria yang menjaga Nadala. Andria duduk tak jauh dari tempat tidur
yang Nadala tempati saat ini. Sekilas, Andria seperti familiar dengan wajah
Nadala. "Perasaan ini anak mukanya mirip siapa ya? Kayak gue kenal
gitu." ujar Andria pelan saat melihat wajah Nadala dari tempat dimana ia
sedang duduk. "Mirip doang kali ye." jawabnya sendiri seperti meralat
sangkaannya.
Andria mulai celingak celinguk ke jendela luar.
Ia mulai jenuh menunggu sendirian di ruangan UKS ini. Perutnya juga sedari tadi
main keroncongan, berbunyi meminta asupan gizi barang sedikit. "Haduh itu
cowok kemana lagi? Lama banget. Mana udah mau setengah jam lagi." sahutnya
yang melirik jam di tangannya. "Gue lapeeeer." ungkapnya dengan
tatapan nelangsa sambil memegangi perutnya yang kelaparan.
Andria merogoh saku roknya, mengambil
handphone-nya. "Haduh, minta tolong siapa ya?" Andria berpikir sambil
menimang-nimang handphone yang ada dalam genggaman tangan kanannya. Ia
menyebutkan beberapa nama sambil melihat list panggilan masuk-keluar
handphone-nya. Ibu jarinya berhenti pada satu nama. Lama, Andria terdiam. Lalu
akhirnya ia putuskan untuk men-dial nomor handphone dari kontak tersebut.
Andria mendengar telepon diseberang sana telah
diangkat oleh sang pemiliki. "Andria?" tanya orang itu tak percaya.
Buru-buru, Andria menginterupsi sebelum lawan bicaranya mendominasi.
"Verooo... Beliin gue roti dong. Toloooong, gue laper banget. Gue lagi di
UKS, lagi..." Sambungan teleponnya tiba-tiba terputus. "Abis lagi
pulsa gue... Tadi denger nggak ya itu anak? Pasrah deh gue." ujar Andria
lemas.
Vero yang baru saja selesai menyantap habis
makan siangnya dikantin, sengaja menghabiskan waktu lebih lama dengan mengobrol
dengan teman-temannya disana. Tiba-tiba, ring tone panggilan masuk dari
handphone-nya berbunyi. Betapa kagetnya ia mendapati dirinya di telepon oleh
Andria. Bahkan kata pertama yang tercetus dari bibirnya setelah mengangkat
telepon itu adalah menyebutkan nama Andria seperti hendak memastikan.
Tapi belum sempat kepastian itu terjawab,
Andria sudah lebih dulu cas cis cus ngomong ini itu. Tapi belum selesai kalimat
itu, sambungan teleponnya mendadak terputus. Vero terdiam. Mengingat kembali
setiap kata yang diucapkan Andria. "Roti? Laper? UKS?" tanyanya
heran. Tapi sedetik kemudian, Vero malah langsung berdiri dan berlari
kocar-kacir. Teman-temannya dibuat kebingungan, "Woi, lo mau kemana?"
teriak mereka.
Vero buru-buru membeli roti dan air mineral
untuk Andria pada salah satu pedagang di kantin. "Itu anak sakit?
Jangan-jangan tadi dia pingsan lagi saking kelaparannya?" sahut Vero
menarik kesimpulan sendiri. Vero jadi diserang rasa cemas. Dengan langkah yang
sudah setangah berlari, Vero melanjutkan perjalanannya ke UKS. Roti dan air
mineralnya dipegang kuat-kuat, ia berlari juga akhirnya.
Prisma baru saja selesai meminta Nona untuk
menghubungi keluarga Nadala. Nona sendiri langsung panik begitu mengetahui
Nadala pingsan, tapi Prisma berhasil menenangkannya. Prisma sendiri sebenarnya
juga sudah mengirim kabar secara langsung kepada Mandala melalui pesan singkat
dari handphone-nya. Akhirnya, Prisma bergegas kembali ke ruang UKS bersama
dengan Nona yang memaksa untuk Ikut. Mereka berlari.
Sementara itu, di ruang UKS... Andria masih
menunggu dengan hikmad meski cacing-cacing di perutnya sudah mulai nampak
berunjuk rasa karena belum diberi makanan. Andria sesekali mengecek pasien
dadakannya itu. Nadala pun tak kunjung siuman. Sepertinya anak itu benar-benar
kelelahan, pikir Andria. Andria kembali duduk dan menyenderkan kepalanya ke
tembok. Tapi tiba-tiba terdengar sebuah bunyi yang keras, 'Brruuukkk'.
Andria nyaris saja melompat karena kaget
mendengar bunyi tersebut. Ia buru-buru berdiri dan melongok ke luar jendela.
Betapa terkejutnya saat dilihatnya, Vero dan Prisma sedang tersungkur di bawah
sambil saling mengaduh memegangi tubuh yang kesakitan akibat berbenturan dengan
lantai. "Ya ampun. Kok bisa begitu?" sahut Andria yang sampai tidak
bisa mengatup bibirnya karena keheranan. Ia lantas keluar untuk membantu.
"Kalian kok bisa sampai jatuh begitu
sih?" tanya Andria sambil membantu Vero untuk berdiri. Sementara Prisma
sudah lebih dulu bangkit berkat uluran tangan Nona. "Gue tadi lari-lari
kesini bawain roti pesenan lo. Terus nabrak dia." aku Vero seraya
memunguti roti dan air mineral yg terlempar dari genggamannya. "Eh,
tunggu..." sahut Vero yang memotong obrolannya sendiri, "Elo sakit
ya?"
Vero bergerak cepat mengecek kening Andria
dengan menempelkan punggung tangannya disana. Andria sempat tersentak kaget
menemukan tangan Vero sudah mendarat di keningnya. "Ih, apaan sih
lo." keluh Andria menurunkan tangan lawan bicaranya. "Bukan gue yang
sakit. Noh, yang di dalam. Kebetulan gue tadi yang jagain dia. Cuma karena gue
lapar sangat. Hehe... Gue telepon elo. Eh, pulsanya keburu abis." jelasnya
lagi.
Vero menyentil lembut kening Andria.
"Bikin orang panik." ujar Vero yang bisa bernafas lega. "Nih,
roti sama air minumnya. Makan dulu. Ntar elo pingsan juga lagi." lanjut
Vero sambil memindahkan roti dan air mineralnya ke tangan Andria.
"Hehehe... Makasih ya." jawab Andria terkekeh. Lalu, Andria berganti
fokus ke Prisma. "Oia, Prisma... Gue udahan ya jagain temen lo. Laper
gue." sahut Andria.
"Lagian udah ada temennya juga kan?"
tanya Andria lagi. Prisma menggangguk. "Makasih ya lo udah nolongin
Nadala." balas Prisma singkat. "Yaelah, gitu doang. Santai aja kali.
Kebetulan gue ada disitu ya masa nggak gue tolongin." sahut Andria. Nona
menengok saat sama didengarnya suara Nadala. "Kak Prisma, kayaknya Nadala
udah bangun deh." Nona menunjuk ke arah ruang UKS. Prisma dan Nona
langsung masuk ke dalam.
Andria sebenarnya ingin sekali menyapa si anak
pingsan itu. Kalau tidak ingat perutnya sudah main keroncongan dari tadi, pasti
ia sudah ikutan masuk juga kedalam bersama Prisma dan temannya si anak itu.
Akhirnya, Andria cuma bisa melihat sekilas dari kaca jendela yang persis
menghadap ke arah tempat tidur UKS. Andria sempat melihat Nadala yang tengah
menatapnya. Namun, tangan Vero keburu menariknya menjauh dari UKS.
"Buruan makan dulu. Bentar lagi bel
masuk." ujar Vero yang menariknya ke kantin. Andria masih sempat melihat
tangan Nadala menunjuk ke arahnya, seperti hendak bertanya siapa dirinya kepada
Prisma. Tapi, ya sudahlah. Itu bukan lagi urusannya. Toh, anak itu sudah
siuman. Sementara, Nadala yang baru saja membuka mata hanya bisa menatap keluar
jendela karena menemukan pandangan aneh dari sosok yang berdiri diluar itu.
Nadala menunjuk ke arah jendela, "Kak, itu
siapa?" Nadala bertanya kepada Prisma sambil mengarahkan telunjuknya ke
arah Andria dan Vero yang sudah perlahan meninggalkan UKS. "Oh... Itu
namanya Andria, tadi dia yang nolongin lo pas jatuh pingsan." jelas
Prisma. "Naaad.. Akhirnya lo bangun juga." teriak Nona lega. "Lo
balik aja ya. Daripada nanti malah kenapa-napa. Gue tadi udah kabarin nyokap lo
kalo elo sakit."
"Ya ampun, Ibu pasti panik deh."
sahut Nadala. "Gitu deh. Namanya juga nyokap, ya paniklah denger anaknya
sampe pingsan. Eh, cuma katanya nanti yang jemput abang lo." ujar Nona.
Mendengar kata 'abang lo', Prisma sedikit bergeming. Mandala yang akan jemput
kesini, ulang Prisma dalam hatinya. "Ya udah, gue beresin isi tas lo dulu
ya. Nanti gue kesini lagi sambil bawa tas lo." sahut Nona yang langsung
bergerak keluar.
"Kakak, pasti belum makan siang kan?"
tanya Nadala tiba-tiba. "Kakak kalo mau, makan siang aja. Aku nggak
apa-apa kok ditinggal. Lagian Nona juga bentar lagi juga kesini."
lanjutnya lagi. Prisma diam, tak menjawab seperti orang yang sedang berpikir.
Nadala mengulangi lagi kata-katanya. "Kak, aku nggak apa-apa kok kalo
kakak mau makan siang." Prisma yang tersadar langsung merespon "Hah?
Apa? Mmm... Gampang-gampang."
Prisma lagi-lagi terdiam. Benar-benar tak tahu
harus bersikap seperti apa dengan targetnya yang satu ini. Nadala kembali
memecahkan lamunan Prisma. "Kak..." panggil Nadala lirih. "Eh,
kenapa? Lo sakit lagi ya..." seru Prisma panilk. "Nggak... Cuma mau
bilang makasih." ujar Nadala pelan. Entah mengapa Nadala merasa hatinya
hangat. Prisma mengacak-acak rambut Nadala pelan. "Sama-sama." jawab
Prisma mantap.
Tak terkecuali, Andria pun merasa hatinya mendadak
aneh. Kenapa saat ia butuh sesuatu, ia berlari ke cowok satu itu. Dan entah
mengapa Vero selalu ada disaat ia membutuhkannya. Siang itu, meski tak ada
hujan. Namun, badai kecil seperti menyapa hati para putri terhadap sosok
bintang yang jatuh dulu. Mereka pun mulai dihadapkan pada irisan pelangi sendu dimana
keduanya mulai dipertemukan. Nadala dan Andria.
No comments:
Post a Comment