Monday, 30 June 2014

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 11)

Part 11

IRISAN PELANGI SENDU


Nadala sebenarnya penasaran dengan tingkah aneh Prisma, namun dia enggan menanyakan apa yang kiranya terjadi dengan kakak kelasnya itu karena dia sedang setengah mati mengumpulkan energi untuk tetap bisa berdiri lebih lama menunggu Prisma yang mendadak diam. Nadala bertahan menjaga kesadarannya yang nyaris tiada. Prisma masih terdiam. Tubuh Nadala sudah kian merapat perlahan ke tembok. Seseorang dari belakang rupanya sudah melihat gelagat mencurigakan dari Nadala, kontan ketika tubuh itu roboh. Seseorang itu meraih dan menahan tubuh Nadala agar tidak jatuh membentur lantai. Prisma terkesiap dan langsung kegelagapan mendapati Nadala sudah jatuh pingsan.

Prisma terpaku ditempatnya, ia masih tak percaya menyaksikan tubuh Nadala roboh begitu saja dihadapannya. Sementara, murid-murid sudah mulai ramai berkerubung. Akhirnya, satu teriakan dari murid cewek yang sigap tadilah yang membangunkan Prisma dari keterpakuannya. "Woiii... temen lo pingsan begini, malah bengong. Bantuin angkat kek." teriak cewek itu sambil masih menahan tubuh Nadala. "Sorry... Sorry..." ujar Prisma yang langsung membantu cewek itu untuk menggendong Nadala. "Buruan kita bawa ini anak ke ruang UKS." sahut cewek itu lagi. "Iya... iya..." jawab Prisma manggut-manggut. "Misi... misi..." teriak cewek itu yang meminta jalan untuk mereka lewat diantara kerumunan murid-murid yang hendak melihat kejadian itu.

Prisma yang sudah mengambil alih menggendong Nadala sepenuhnya itu mengikuti setiap langkah orang di depannya itu. Cewek itu kembali dengan sigapnya membuka pintu ruang UKS. Kemudian dia buru-buru membantu Prisma yang hendak akan merebahkan tubuh Nadala di tempat tidur. "Pelan... pelan... Awas kepalanya." sahut cewek itu memberikan instruksi. "Oke, done." Prisma langsung mengucapkan terima kasih. "Thanks ya. Sorry jadi ngerepotin lo." Cewek itu mengibas-ngibaskan tangannya pelan, "Santai aja kali. Gue malah yang harusnya minta maaf tadi udah teriak-teriak sama lo. Sorry ya." ujar cewek itu. "Prisma." ujar Prisma mantap seraya memperkenalkan diri. "Oh, gue Andria." balas cewek itu memperkenalkan diri.

"Mmm... An, lo anak kelas berapa? Anak kelas 3 bukan sih?" tanya Prisma hati-hati. "Hahaha... Kenapa? Muka gue terlalu asing ya? Iya, gue anak kelas 3 kok. Tapi nggak setenar lo lah, Pak Pemimpin Upacara." ujar Andria mencairkan suasana. "Ah, bisa aja lo. Hahaha... Iya, gue pikir lo adik kelas. Tapi pas gaya ngomong lo yang ela elo sama gue, kayaknya nggak mungkin deh. Sopan amat itu mah." balas Prisma lembut.

"Sopan apa sopaaaan.. Jangan bilang lo kakak kelas yang gila hormat lagi? Ahahaha..." ledek Andria. "Ya, nggak gitu jugalah. Gue ini kakak kelas yang baik hati dan tidak sombong." jawab Prisma yang ikut-ikutan ngelawak. "Jiaaah dia promosi. Ahahaha... Eh, Ma. Kayaknya dokternya lagi makan siang. Anak-anak PMR-nya yang harusnya jaga juga deh kayaknya. Nih, temen lo nggak apa-apa? Lo coba hubungin siapanya kek."

"Nah itu dia. Gue nggak tahu. Bentar deh ya. Gue cari temen-temen sekelasnya dulu. Biar mereka yang hubungin keluarganya." jawab Prisma berdalih. Dia enggan berpanjang lebar mengenai Nadala. Prisma hanya jaga-jaga agar tidak ada orang lain yang tahu soal rahasianya, termasuk dengan Andria. "Oke. Biar gue yang jagain di..." kata-kata Andria menggantung, "siapa namanya?" tanyanya memastikan. "Nadala."

Sepeninggalan Prisma keluar, sekarang hanya Andria yang menjaga Nadala. Andria duduk tak jauh dari tempat tidur yang Nadala tempati saat ini. Sekilas, Andria seperti familiar dengan wajah Nadala. "Perasaan ini anak mukanya mirip siapa ya? Kayak gue kenal gitu." ujar Andria pelan saat melihat wajah Nadala dari tempat dimana ia sedang duduk. "Mirip doang kali ye." jawabnya sendiri seperti meralat sangkaannya.

Andria mulai celingak celinguk ke jendela luar. Ia mulai jenuh menunggu sendirian di ruangan UKS ini. Perutnya juga sedari tadi main keroncongan, berbunyi meminta asupan gizi barang sedikit. "Haduh itu cowok kemana lagi? Lama banget. Mana udah mau setengah jam lagi." sahutnya yang melirik jam di tangannya. "Gue lapeeeer." ungkapnya dengan tatapan nelangsa sambil memegangi perutnya yang kelaparan.

Andria merogoh saku roknya, mengambil handphone-nya. "Haduh, minta tolong siapa ya?" Andria berpikir sambil menimang-nimang handphone yang ada dalam genggaman tangan kanannya. Ia menyebutkan beberapa nama sambil melihat list panggilan masuk-keluar handphone-nya. Ibu jarinya berhenti pada satu nama. Lama, Andria terdiam. Lalu akhirnya ia putuskan untuk men-dial nomor handphone dari kontak tersebut.

Andria mendengar telepon diseberang sana telah diangkat oleh sang pemiliki. "Andria?" tanya orang itu tak percaya. Buru-buru, Andria menginterupsi sebelum lawan bicaranya mendominasi. "Verooo... Beliin gue roti dong. Toloooong, gue laper banget. Gue lagi di UKS, lagi..." Sambungan teleponnya tiba-tiba terputus. "Abis lagi pulsa gue... Tadi denger nggak ya itu anak? Pasrah deh gue." ujar Andria lemas.

Vero yang baru saja selesai menyantap habis makan siangnya dikantin, sengaja menghabiskan waktu lebih lama dengan mengobrol dengan teman-temannya disana. Tiba-tiba, ring tone panggilan masuk dari handphone-nya berbunyi. Betapa kagetnya ia mendapati dirinya di telepon oleh Andria. Bahkan kata pertama yang tercetus dari bibirnya setelah mengangkat telepon itu adalah menyebutkan nama Andria seperti hendak memastikan.

Tapi belum sempat kepastian itu terjawab, Andria sudah lebih dulu cas cis cus ngomong ini itu. Tapi belum selesai kalimat itu, sambungan teleponnya mendadak terputus. Vero terdiam. Mengingat kembali setiap kata yang diucapkan Andria. "Roti? Laper? UKS?" tanyanya heran. Tapi sedetik kemudian, Vero malah langsung berdiri dan berlari kocar-kacir. Teman-temannya dibuat kebingungan, "Woi, lo mau kemana?" teriak mereka.

Vero buru-buru membeli roti dan air mineral untuk Andria pada salah satu pedagang di kantin. "Itu anak sakit? Jangan-jangan tadi dia pingsan lagi saking kelaparannya?" sahut Vero menarik kesimpulan sendiri. Vero jadi diserang rasa cemas. Dengan langkah yang sudah setangah berlari, Vero melanjutkan perjalanannya ke UKS. Roti dan air mineralnya dipegang kuat-kuat, ia berlari juga akhirnya.

Prisma baru saja selesai meminta Nona untuk menghubungi keluarga Nadala. Nona sendiri langsung panik begitu mengetahui Nadala pingsan, tapi Prisma berhasil menenangkannya. Prisma sendiri sebenarnya juga sudah mengirim kabar secara langsung kepada Mandala melalui pesan singkat dari handphone-nya. Akhirnya, Prisma bergegas kembali ke ruang UKS bersama dengan Nona yang memaksa untuk Ikut. Mereka berlari.

Sementara itu, di ruang UKS... Andria masih menunggu dengan hikmad meski cacing-cacing di perutnya sudah mulai nampak berunjuk rasa karena belum diberi makanan. Andria sesekali mengecek pasien dadakannya itu. Nadala pun tak kunjung siuman. Sepertinya anak itu benar-benar kelelahan, pikir Andria. Andria kembali duduk dan menyenderkan kepalanya ke tembok. Tapi tiba-tiba terdengar sebuah bunyi yang keras, 'Brruuukkk'.

Andria nyaris saja melompat karena kaget mendengar bunyi tersebut. Ia buru-buru berdiri dan melongok ke luar jendela. Betapa terkejutnya saat dilihatnya, Vero dan Prisma sedang tersungkur di bawah sambil saling mengaduh memegangi tubuh yang kesakitan akibat berbenturan dengan lantai. "Ya ampun. Kok bisa begitu?" sahut Andria yang sampai tidak bisa mengatup bibirnya karena keheranan. Ia lantas keluar untuk membantu.

"Kalian kok bisa sampai jatuh begitu sih?" tanya Andria sambil membantu Vero untuk berdiri. Sementara Prisma sudah lebih dulu bangkit berkat uluran tangan Nona. "Gue tadi lari-lari kesini bawain roti pesenan lo. Terus nabrak dia." aku Vero seraya memunguti roti dan air mineral yg terlempar dari genggamannya. "Eh, tunggu..." sahut Vero yang memotong obrolannya sendiri, "Elo sakit ya?"

Vero bergerak cepat mengecek kening Andria dengan menempelkan punggung tangannya disana. Andria sempat tersentak kaget menemukan tangan Vero sudah mendarat di keningnya. "Ih, apaan sih lo." keluh Andria menurunkan tangan lawan bicaranya. "Bukan gue yang sakit. Noh, yang di dalam. Kebetulan gue tadi yang jagain dia. Cuma karena gue lapar sangat. Hehe... Gue telepon elo. Eh, pulsanya keburu abis." jelasnya lagi.

Vero menyentil lembut kening Andria. "Bikin orang panik." ujar Vero yang bisa bernafas lega. "Nih, roti sama air minumnya. Makan dulu. Ntar elo pingsan juga lagi." lanjut Vero sambil memindahkan roti dan air mineralnya ke tangan Andria. "Hehehe... Makasih ya." jawab Andria terkekeh. Lalu, Andria berganti fokus ke Prisma. "Oia, Prisma... Gue udahan ya jagain temen lo. Laper gue." sahut Andria.

"Lagian udah ada temennya juga kan?" tanya Andria lagi. Prisma menggangguk. "Makasih ya lo udah nolongin Nadala." balas Prisma singkat. "Yaelah, gitu doang. Santai aja kali. Kebetulan gue ada disitu ya masa nggak gue tolongin." sahut Andria. Nona menengok saat sama didengarnya suara Nadala. "Kak Prisma, kayaknya Nadala udah bangun deh." Nona menunjuk ke arah ruang UKS. Prisma dan Nona langsung masuk ke dalam.

Andria sebenarnya ingin sekali menyapa si anak pingsan itu. Kalau tidak ingat perutnya sudah main keroncongan dari tadi, pasti ia sudah ikutan masuk juga kedalam bersama Prisma dan temannya si anak itu. Akhirnya, Andria cuma bisa melihat sekilas dari kaca jendela yang persis menghadap ke arah tempat tidur UKS. Andria sempat melihat Nadala yang tengah menatapnya. Namun, tangan Vero keburu menariknya menjauh dari UKS.

"Buruan makan dulu. Bentar lagi bel masuk." ujar Vero yang menariknya ke kantin. Andria masih sempat melihat tangan Nadala menunjuk ke arahnya, seperti hendak bertanya siapa dirinya kepada Prisma. Tapi, ya sudahlah. Itu bukan lagi urusannya. Toh, anak itu sudah siuman. Sementara, Nadala yang baru saja membuka mata hanya bisa menatap keluar jendela karena menemukan pandangan aneh dari sosok yang berdiri diluar itu.

Nadala menunjuk ke arah jendela, "Kak, itu siapa?" Nadala bertanya kepada Prisma sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Andria dan Vero yang sudah perlahan meninggalkan UKS. "Oh... Itu namanya Andria, tadi dia yang nolongin lo pas jatuh pingsan." jelas Prisma. "Naaad.. Akhirnya lo bangun juga." teriak Nona lega. "Lo balik aja ya. Daripada nanti malah kenapa-napa. Gue tadi udah kabarin nyokap lo kalo elo sakit."

"Ya ampun, Ibu pasti panik deh." sahut Nadala. "Gitu deh. Namanya juga nyokap, ya paniklah denger anaknya sampe pingsan. Eh, cuma katanya nanti yang jemput abang lo." ujar Nona. Mendengar kata 'abang lo', Prisma sedikit bergeming. Mandala yang akan jemput kesini, ulang Prisma dalam hatinya. "Ya udah, gue beresin isi tas lo dulu ya. Nanti gue kesini lagi sambil bawa tas lo." sahut Nona yang langsung bergerak keluar.

"Kakak, pasti belum makan siang kan?" tanya Nadala tiba-tiba. "Kakak kalo mau, makan siang aja. Aku nggak apa-apa kok ditinggal. Lagian Nona juga bentar lagi juga kesini." lanjutnya lagi. Prisma diam, tak menjawab seperti orang yang sedang berpikir. Nadala mengulangi lagi kata-katanya. "Kak, aku nggak apa-apa kok kalo kakak mau makan siang." Prisma yang tersadar langsung merespon "Hah? Apa? Mmm... Gampang-gampang."

Prisma lagi-lagi terdiam. Benar-benar tak tahu harus bersikap seperti apa dengan targetnya yang satu ini. Nadala kembali memecahkan lamunan Prisma. "Kak..." panggil Nadala lirih. "Eh, kenapa? Lo sakit lagi ya..." seru Prisma panilk. "Nggak... Cuma mau bilang makasih." ujar Nadala pelan. Entah mengapa Nadala merasa hatinya hangat. Prisma mengacak-acak rambut Nadala pelan. "Sama-sama." jawab Prisma mantap.

Tak terkecuali, Andria pun merasa hatinya mendadak aneh. Kenapa saat ia butuh sesuatu, ia berlari ke cowok satu itu. Dan entah mengapa Vero selalu ada disaat ia membutuhkannya. Siang itu, meski tak ada hujan. Namun, badai kecil seperti menyapa hati para putri terhadap sosok bintang yang jatuh dulu. Mereka pun mulai dihadapkan pada irisan pelangi sendu dimana keduanya mulai dipertemukan. Nadala dan Andria. 

■■■■

No comments:

Post a Comment