Part 8
DARI
KEBETULAN YANG SATU HINGGA KEBETULAN LAINNYA
Fajar subuh telah menyingsing, Nadala masih
tertidur pulas dikamarnya. Semalaman dia menunggu kakaknya tapi tak kunjung
pulang. Akhirnya dia memutuskan untuk lebih dahulu beristirahat. Seperti
biasanya, Nadala baru akan bangun kalau kakaknya yang membangunkan. Nadala
sayup-sayup mendengar panggilan dari Mandala. "Nad... Bangun, Nad."
panggil Mandala sambil menarik gorden kamar Nadala. Nadala membuka matanya.
Mandala duduk di tepi tempat tidur adiknya.
Dilihatnya Nadala mengulet dan menguap panjang. Lalu ditarik selimut yang
menutupi Nadala. "Bangun, Nad. Udah subuh. Buruan shalat." sahut
Mandala. Nadala menarik kembali selimutnya. Mandala menarik lagi selimut ini
dan menjauhkan dari Nadala. Nadala bete. "Mas Manda ih. Hobi banget maling
selimutku." gerutu Nadala yang langsung duduk dan mengacak-acak rambutnya
sendiri.
"Idih, mirip kayak singa." Ledek
Mandala ringan. Nadala melotot. "Mas Mandaaaaa... Masa aku disamain sama
singa." Tandas Nadala kesal. "Coba sana ngaca. Rambutmu wow sekali
megarnya." Jelas Mandala sambil menunjuk ke arah rambut Nadala.
"Nggak ah. Nanti retak lagi kacanya." Jawab Nadala ngasal.
"Deeeuuuuhhh, ngambek." balas Mandala. "Nggak siapa yang
ngambek. Aku nggak ngambek." ujar Nadala. "Mas.. Mas..."
lanjutnya.
"Hmmm... Shalat dulu baru nanya. Gih sana
wudhu dulu." Jawab Mandala. "Iya... Iya... Aku shalat dulu. Bentar,
jangan kemana-mana." sahut Nadala sampai menunjuk-nunjuk kakaknya untuk
tetap duduk disana. "Heh jari telunjukmu turunin. Nggak sopan."
tandas Mandala pelan tapi dalam. Nadala kaget, meskipun kata-kata Mandala hanya
bernada teguran ringan tetap saja air mukanya berubah sedih. Nadala menurunkan
tangannya.
"Kenapa sih gitu aja Mas Manda
marah?" tanya Nadala sedih. Nadala memang perasaannya halus sekali. Jadi
sekali dikerasin, dia akan langsung terlihat meratap sedih. "Mas Manda
nggak marah. Cuma ituuuu... Kalo diangkat-angkat" Mandala menunjuk balik
ke arah ketiak Nadala. "Bauuuu. Hahaha." Mandala tertawa guna
mencairkan kemurungan diwajah Nadala. Nadala yang merasa dikerjai sontak
menjerit kesal lalu ikutan tertawa.
"Mas Mandaaaaaa... Jahil banget sih."
Jerit Nadala sampai berjingkrak-jingkrak kesal tapi sekaligus lega karena
ternyata kakaknya tidak marah. "Udah sana wudhu. Kakak keluar nih."
ancam Mandala halus. Nadala langsung berlari ke kamar mandi untuk mengambil
wudhu lalu setelah itu segera melaksanakan shalat subuh. Sementara Mandala
iseng berjalan menuju meja belajar Nadala. Diatas sana berjajar buku-buku
musik.
Buku-buku musik dari berbagai genre musik
dilihatnya ada. Mandala tahu betul kesukaan Nadala terhadap musik. Setali tiga
uang dengannya, Nadala pun mendapatkan kesukaannya terhadap musik dari sang
ayah. Sejak kecil, mereka berdua sudah dijejeli segala jenis musik. Mandala
kembali menyisiri benda-benda di meja belajar Nadala. Matanya tertarik pada
satu buku berwarna putih, nampaknya buku diary Nadala.
Mandala menarik bangku belajar Nadala dan
perlahan mendudukinya. Lembar pertama dari buku itu dibukanya. Nama sang adik
terukir indah oleh warna-warninya spidol. Lembar demi lembar dibukanya. Tapi
Mandala langsung menuju ke beberapa lembar terakhir. Persis dilembar terakhir,
Nadala mencatat sebuah nama baru yang belum pernah diceritakan pada Mandala.
Nama Prisma hampir berkali-kali disebutkan oleh Nadala.
Mandala membaca dengan seksama setiap kata yang
tertulis pada lembar itu. Mandala tersenyum. Hari itu tiba juga, batinnya.
Ditengah keasyikan itu, tiba-tiba Nadala datang. "Mas Mandaaa kenapa
baca-baca diary aku?" sahut Nadala manyum. "Eh, sorry... sorry...
Nggak sengaja. Abis Mas penasaran. Lagian tumben kamu nggak cerita ke Mas kalo
lagi naksir orang?" tanya Mandala terang-terangan. Pipi Nadala merona.
"Idiiiiih... Siapa yang lagi naksir
orang?" Sangkal Nadala. "Bener nggak naksir orang? Terus Prisma siapa
kalo gitu?" Todong Mandala telak. Nadala langsung memeluk leher kakaknya.
"Aaah... Mas Manda gosip aja deh. Orang aku baru kenal doang. Nggak naksir
kok." jawab Nadala. "Beneeer? Terus kalo nggak naksir kenapa pipinya
merah. Hayooo..." Goda Mandala. Nadala langsung membenamkan wajahnya
dibahu kakaknya itu. Malu.
"Aku nggak naksir dia, Mas
Mandaaaaaa." Jelas Nadala sekali lagi yang makin erat memeluk leher
Mandala, sekalian aksi mencekek kalau-kalau kakaknya itu masih saja menggodanya
soal Prisma. "Iya juga nggak apa-apa, kok. Mas Manda bilang ke Ibu,
ah." goda Mandala yang insting jahilnya mulai keluar.
"Ah...ah...ah... Apaan sih Mas Manda. Jangan dong." rengek Nadala
memohon. "Ibuuuuu... Adek lagi naksir orang nih, Bu."
Nadala spontan membekap mulut kakaknya.
"Mas Manda... Berisik ih. Awas ya kalo sampai ibu jadi bawel abis ini. Mas
Manda yang musti tanggung jawab ya." Nadala mengancam kakaknya
sungguh-sungguh. Mandala menggeleng, lalu berusaha melepas tangan Nadala.
"Ogah ah. Kapan lagi liat kamu digodain ibu. Paling-paling ibu nyuruh kamu
kenalin si Prisma itu. Hahahaha..." sahut Mandala sembari memegangi kedua
tangan Nadala.
"Mas Mandaaaaa, Prisma tuh bukan
siapa-siapa aku. Orang baru kenal kemarin. Please... Jangan mulai berkhayal.
Mentang-mentang pendongeng, imajinasinya berlebihan deh." teriak Nadala
sambil meronta, melepaskan tangannya yang sengaja dikunci Mandala. Mandala
akhirnya melepaskan tangan Nadala. "Eh, ngomong-ngomong soal dongeng. Udah
tahu belum, Nad kalo audisi peri menangis udah mulai dipublikasiin ke sekolah-sekolah?"
Nadala lompat ke tempat tidurnya dan langsung
duduk persis disamping Mandala. "Iya...iya... Udah ada di mading sekolah
aku. Aku udah liat. Mau bangeeeet ikut, Mas. Boleh kan?" tanya Nadala
sambil menempelkan pipinya ke bahu kakaknya itu. "Masa nggak boleh. Itu
kan yang kamu tunggu-tunggu. Cuma kamu akan tetap diperlakukan sama saat
audisi. Tidak ada perlakuan spesial hanya karena kamu adiknya mas." tegas Mandala.
"Ya iyalah, Mas. Aku juga maunya begitu.
Aku mau lolos karena usahaku sendiri. Aku mau terpilih karena kualitas aku
bukan karena Mas Manda itu kakak aku. Jadi tenang aja, adikmu ini akan
mengeluarkan potensi semaksimal mungkin." Jawab Nadala dengan segala
idealismenya. "Bagus. Yang penting kamu juga harus siap untuk segala
kemungkinan. Untuk kemenanganmu ataupun kekalahanmu." ujar Mandala
mengingatkan.
Saatnya berangkat untuk beraktifitas. Mandala
sudah menstater mobilnya. Tapi berkali-kali distater, mesin mobilnya itu tidak
mau hidup juga. Tidak seperti hari-hari biasanya, Mobil Mandala mendadak mogok.
Nadala yang sudah duduk manis di dalam mobil pun mendadak ikutan mogok senyum,
gelisah karena takut terlambat sampai di Sekolah. "Mobil Mas Manda kenapa?
Nggak biasa-biasanya begini?" tanya Nadala panik.
"Nggak tahu nih, Nad. Liat sendiri kan, distater berkali-kali juga nggak mau nyala juga mesinnya." jawab Mandala sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Bensinnya?" tanya Nadala lagi. "Masih ada." Tunjuk Manda ke arah indikator bensinnya. Telihat jarum masih berada dipertengahan. "Nad, kayaknya kamu musti naik kendaraan umum deh. Daripada telat. Ini kayaknya musti dibawa ke bengkel." ujar Mandala memberi saran.
Nadala menarik tangan Mandala, "Ya udah, deh. Aku berangkat, ya. Nanti bilangin Ibu, aku nggak bareng Mas." Sahut Nadala yang buru-buru pamit mencium tangan Mandala dan membuka pintu. "Eh...eh... Tunggu...tunggu." tahan Mandala. Nadala berhenti. "Ada apa lagi, Mas? Aku musti buru-buru, nih." jawab Nadala singkat. "Bentar. Aku temenin kamu nunggu kendaraan umumnya." balas Mandala yang ikut menyusul mengambil tas.
"Nggak tahu nih, Nad. Liat sendiri kan, distater berkali-kali juga nggak mau nyala juga mesinnya." jawab Mandala sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Bensinnya?" tanya Nadala lagi. "Masih ada." Tunjuk Manda ke arah indikator bensinnya. Telihat jarum masih berada dipertengahan. "Nad, kayaknya kamu musti naik kendaraan umum deh. Daripada telat. Ini kayaknya musti dibawa ke bengkel." ujar Mandala memberi saran.
Nadala menarik tangan Mandala, "Ya udah, deh. Aku berangkat, ya. Nanti bilangin Ibu, aku nggak bareng Mas." Sahut Nadala yang buru-buru pamit mencium tangan Mandala dan membuka pintu. "Eh...eh... Tunggu...tunggu." tahan Mandala. Nadala berhenti. "Ada apa lagi, Mas? Aku musti buru-buru, nih." jawab Nadala singkat. "Bentar. Aku temenin kamu nunggu kendaraan umumnya." balas Mandala yang ikut menyusul mengambil tas.
Mandala juga tak lupa mengambil beberapa buku
kuliahnya yang berserakan di bangku belakang. "Buruan..." ujar
Nadala. Mandala bergegas. Mandala memencet tombol lock pada remot yang
digenggamnya untuk mengunci pintu mobilnya. "Yuk, jalan." ajak
Mandala. Kelihatan Mandala kerepotan membawa ini itu, Nadala menawarkan
bantuan, "Sini aku bawain bukunya, Mas." ujar Nadala menarik
buku-buku yang terapit di lengan Mandala.
"Nggak usah. Mas aja yang bawa. Ntar kalo
kebawa kamu. Mas belajarnya gimana, hayo?" tolak Mandala ramah. Nadala
mengangkat bahu, menerima penolakan dengan ekspresi seolah-olah mengatakan kata
"terserah". Mandala melingkarkan lengannya di leher Nadala saking
gemasnya lalu mengacak-acak rambut adiknya itu. "Ah, Mas Mandala. Jangan
jadikan aku singa lagiiii..." Teriak Nadala kesal, segera merapihkan
tatanan rambutnya.
Mandala dan Nadala berjalan menuju ujung
kompleks. Tapi belum sampai diujung kompleks, tiba-tiba Nadala seperti mengenal
sosok cowok yang berdiri mengantarkan bungkusan kue. Nadala mendadak
menghentikan langkahnya seraya memastikan matanya tak salah melihat. Mandala
yang bingung dengan tingkah Nadala jadi ikutan berhenti. "Kenapa, Nad? Kok
berhenti?" tanya Manda. "Nggg... Itu kayaknya kakak kelasku
deh." jawabnya.
"Yang bawa bungkusan kue itu? Siapa?" tanya Mandala lebih jauh. "Nggg... Itu... Itu... Nggg..." Lidah Nadala terasa kelu. Dia tidak mau kalau sampai kakaknya tahu bahwa cowok itu Prisma. Alamat digodain secara jiwa dan raga dengan cara sesadis-sadisnya dan semalu-maluinnya ini mah namanya. Nadala mulai menggigit-gigit kukunya, panik. "Kok jadi grogi gitu, Padahal aku cuma tanya namanya doang?" todong Mandala.
Nadala masih membisu seakan enggan menyebutkan nama kakak kelasnya itu kepada Mandala. Sinyal kepanikan dengan ekspresi yang serba membingungkan itu terbaca jelas di wajah Nadala. Mandala mulai curiga dengan gejala-gejala anak ABG macam ini. Mandala melirik sekali lagi ke arah Nadala lalu menyenggol lengan adiknya itu, "Jangan-jangan... Cowok itu yang namanya Prisma ya?" tanya Mandala telak, tepat sasaran.
Nadala langsung menoleh dan langsung membekap mulut Mandala. "Ssssssttttt..." desis Nadala yang menyuruh kakaknya untuk diam. Mandala buru-buru menurunkan tangan Nadala yang membekap mulutnya. "Jadi betul itu Prisma? Cieeeee... Ahahaha." goda Mandala dengan suara yang keras. "Mas Mandala, jangan berisik. Ntar dia denger gimana?" Sahut Nadala panik.
"Yang bawa bungkusan kue itu? Siapa?" tanya Mandala lebih jauh. "Nggg... Itu... Itu... Nggg..." Lidah Nadala terasa kelu. Dia tidak mau kalau sampai kakaknya tahu bahwa cowok itu Prisma. Alamat digodain secara jiwa dan raga dengan cara sesadis-sadisnya dan semalu-maluinnya ini mah namanya. Nadala mulai menggigit-gigit kukunya, panik. "Kok jadi grogi gitu, Padahal aku cuma tanya namanya doang?" todong Mandala.
Nadala masih membisu seakan enggan menyebutkan nama kakak kelasnya itu kepada Mandala. Sinyal kepanikan dengan ekspresi yang serba membingungkan itu terbaca jelas di wajah Nadala. Mandala mulai curiga dengan gejala-gejala anak ABG macam ini. Mandala melirik sekali lagi ke arah Nadala lalu menyenggol lengan adiknya itu, "Jangan-jangan... Cowok itu yang namanya Prisma ya?" tanya Mandala telak, tepat sasaran.
Nadala langsung menoleh dan langsung membekap mulut Mandala. "Ssssssttttt..." desis Nadala yang menyuruh kakaknya untuk diam. Mandala buru-buru menurunkan tangan Nadala yang membekap mulutnya. "Jadi betul itu Prisma? Cieeeee... Ahahaha." goda Mandala dengan suara yang keras. "Mas Mandala, jangan berisik. Ntar dia denger gimana?" Sahut Nadala panik.
Tapi justru kepanikan Nadala itulah yang
mengundang orang yang dari tadi dibicarakan untuk datang ke arah mereka. Nadala
yang belum sadar bahwa Prisma sudah berdiri di sebelahnya, masih saja sibuk
membekap mulut kakaknya. Mandala berusaha memberik kode kepada Nadala tapi tak
berhasil. "Nad..." Satu panggilan singkat yang berasal dari orang
lain, akhirnya menyadarkan Nadala bahwa Prisma sudah ada di sebelahnya.
Nadala membelalak tak berani menoleh ke sampingnya. Nadala terus-terusan memberi kode menanyakan perihal sosok orang disampingnya itu kepada kakaknya. Mandala cuma bisa manggut-manggut sambil nyengir. Kepala Nadala langsung tertunduk. Prisma kembali memanggilnya, "Nadala, kan?" Tanyanya lagi. Nadala menarik nafas panjang dan lalu menoleh sambil ikutan nyengir kuda. "Eh, Kak Prisma. Iya, ini aku. Kita ketemu lagi."
Nadala membelalak tak berani menoleh ke sampingnya. Nadala terus-terusan memberi kode menanyakan perihal sosok orang disampingnya itu kepada kakaknya. Mandala cuma bisa manggut-manggut sambil nyengir. Kepala Nadala langsung tertunduk. Prisma kembali memanggilnya, "Nadala, kan?" Tanyanya lagi. Nadala menarik nafas panjang dan lalu menoleh sambil ikutan nyengir kuda. "Eh, Kak Prisma. Iya, ini aku. Kita ketemu lagi."
Mandala langsung buang muka karena tak sanggup
untuk meledakkan tawanya yang tertahan sejak tadi. Sapaan model apa itu?
pekiknya geli dalam hati. Sementara, Prisma hanya tersenyum. "Mau
berangkat ke sekolah, kan? Mau bareng gue nggak? Kebetulan gue bawa
motor." tanya Prisma yang tanpa basa-basi. Tidak permisi pula dengan
seseorang yang sedang bersamanya. Pede bener siiih. Nggak takut apa sama Mas
Manda. Batin Nadala.
Tapi anehnya, Mandala yang biasanya cerewet,
pura-pura angker di depan setiap teman cowok Nadala, bahkan suka ngerjain
mereka sampai kapok ngedeketin Nadala lagi. Kali ini mendadak jinak dan justru
kooperatif dengan keberadaan Prisma. "Kamu temannya Nadala? Saya kakaknya,
Mandala." Ujar Mandala memperkenalkan diri. Prisma langsung membalas
jabatan tangan Mandala, "Iya, Mas. Saya Prisma, kakak kelasnya
Nadala."
Nadala di buat takjub dengan perkenalan itu. Mereka berdua tampak nyambung dengan percakapan singkat itu. Mandala tiba-tiba memberi izin Nadala untuk diantar oleh Prisma. Nadala sampai ternganga. "Serius Mas? Aku boleh bareng dia, Mas?" bisiknya pelan. "Iya, buruan sana. Nggak liat udah jam berapa?" Desak Mandala. "Cuma kali ini aja. Inget, ini karena mobil Mas mogok dan karena Mas juga ada ujian. " tandasnya lagi.
Harapan Nadala yang sudah melambung tinggi ke langit mendadak jatuh mendarat dengan posisi nyusruk mencium aspal dan tertimpa reruntuhan tiang kabel listrik. Ternyata kakaknya masih belum jera juga mengerjai teman cowok Nadala. Kalau tidak karena kepepet, pasti nasib Prisma juga akan berakhir sama tragisnya dengan teman-teman cowok yang pernah mendekatinya dahulu. "Inget ya, Nad. Sampe sekolah, langsung kabarin Mas."
"Dan kamu, Prisma... Saya titip adik saya." Pelan, tegas, tapi kata-katanya menusuk. Bahkan lebih terdengar seperti ancaman bagi Prisma. "Pasti, Mas. Saya bakal anter dia dengan selamat ke sekolah. Mas bisa pegang omongan saya." jawab Prisma yang tak kalah seriusnya. Nadala bengong. Ini apaan sih, lagaknya kayak prosesi serah terima penugasan aja. Runtuknya dalam hati. "Ya udah. Hati-hati dijalan, Nad." ujar Mandala.
Nadala mengangguk, kembali mencium tangan Mandala seraya pamit. Prisma juga berpamitan dengan Mandala. Mandala mengikuti Nadala dan Prisma dengan pandangannya yang tak henti-hentinya mengawasi. Mata Mandala benar-benar mengunci setiap gerak-gerik Prisma terhadap Nadala. Sekecil apapun. Hingga akhirnya, motor Prisma membawa Nadala menghilang dari pandangannya. Barulah, Mandala melanjutkan perjalannya sendirian ke kampus.
Nadala di buat takjub dengan perkenalan itu. Mereka berdua tampak nyambung dengan percakapan singkat itu. Mandala tiba-tiba memberi izin Nadala untuk diantar oleh Prisma. Nadala sampai ternganga. "Serius Mas? Aku boleh bareng dia, Mas?" bisiknya pelan. "Iya, buruan sana. Nggak liat udah jam berapa?" Desak Mandala. "Cuma kali ini aja. Inget, ini karena mobil Mas mogok dan karena Mas juga ada ujian. " tandasnya lagi.
Harapan Nadala yang sudah melambung tinggi ke langit mendadak jatuh mendarat dengan posisi nyusruk mencium aspal dan tertimpa reruntuhan tiang kabel listrik. Ternyata kakaknya masih belum jera juga mengerjai teman cowok Nadala. Kalau tidak karena kepepet, pasti nasib Prisma juga akan berakhir sama tragisnya dengan teman-teman cowok yang pernah mendekatinya dahulu. "Inget ya, Nad. Sampe sekolah, langsung kabarin Mas."
"Dan kamu, Prisma... Saya titip adik saya." Pelan, tegas, tapi kata-katanya menusuk. Bahkan lebih terdengar seperti ancaman bagi Prisma. "Pasti, Mas. Saya bakal anter dia dengan selamat ke sekolah. Mas bisa pegang omongan saya." jawab Prisma yang tak kalah seriusnya. Nadala bengong. Ini apaan sih, lagaknya kayak prosesi serah terima penugasan aja. Runtuknya dalam hati. "Ya udah. Hati-hati dijalan, Nad." ujar Mandala.
Nadala mengangguk, kembali mencium tangan Mandala seraya pamit. Prisma juga berpamitan dengan Mandala. Mandala mengikuti Nadala dan Prisma dengan pandangannya yang tak henti-hentinya mengawasi. Mata Mandala benar-benar mengunci setiap gerak-gerik Prisma terhadap Nadala. Sekecil apapun. Hingga akhirnya, motor Prisma membawa Nadala menghilang dari pandangannya. Barulah, Mandala melanjutkan perjalannya sendirian ke kampus.
Selama perjalanan, Prisma terlihat diam dan tidak
seramah biasanya. Nadala jadi tidak enak hati. Perasaannya mulai tidak nyaman,
jangan-jangan Prisma tersinggung dengan perlakuan kakaknya barusan. Nadala
berusaha memberanikan diri untuk menegur Prisma. "Kak Pris-ma." tegur
Nadala ragu-ragu. "Ya." jawabnya singkat. Tuh kan! Pasti marah deh.
batin Nadala. "Nggg... Kakak jangan marah ya soal yang tadi." ujar
Nadala.
"Soal?" jawab Prisma yang semakin singkat. Nadala kembali menghembuskan nafas panjang. Sepertinya Prima benar-benar merasa tersinggung, pikir Nadala. "Soal perlakuan kakakku tadi. Maaf ya kalo Kak Prisma jadi tersinggung. Mas Manda memang begitu kalo berhadapan dengan teman-teman cowok aku." jelas Nadala takut-takut. "Kenapa harus tersinggung? Gue mungkin juga akan melakukan hal yang sama kayak kakak lo. Gue ngerti kok. Gue juga punya adik cewek. Jadi, gue tahu banget apa yang kakak lo pikirin tentang cowok-cowok yang berusaha masuk ke dalam kehidupan lo dan ingin berteman dengan lo. Dan itu wajar. Tenang aja, gue bukan tipikal orang yang suka ambil pusing dengan omongan orang. Jadi, lo santai aja. Gue sama sekali nggak tersinggung." ungkap Prisma panjang lebar. Nadala mendengarkan itu dengan seksama.
"Soal?" jawab Prisma yang semakin singkat. Nadala kembali menghembuskan nafas panjang. Sepertinya Prima benar-benar merasa tersinggung, pikir Nadala. "Soal perlakuan kakakku tadi. Maaf ya kalo Kak Prisma jadi tersinggung. Mas Manda memang begitu kalo berhadapan dengan teman-teman cowok aku." jelas Nadala takut-takut. "Kenapa harus tersinggung? Gue mungkin juga akan melakukan hal yang sama kayak kakak lo. Gue ngerti kok. Gue juga punya adik cewek. Jadi, gue tahu banget apa yang kakak lo pikirin tentang cowok-cowok yang berusaha masuk ke dalam kehidupan lo dan ingin berteman dengan lo. Dan itu wajar. Tenang aja, gue bukan tipikal orang yang suka ambil pusing dengan omongan orang. Jadi, lo santai aja. Gue sama sekali nggak tersinggung." ungkap Prisma panjang lebar. Nadala mendengarkan itu dengan seksama.
"Maaf, tapi kenapa Kak Prisma jadi diem? Biasanya kan suka heboh gitu." tanya Nadala yang penasaran dengan perubahan sikap Prisma. "Lo nggak denger tadi pesen kakak lo? Dia nitipin lo ke gue. Kalo gue ngajak lo bercanda sekarang, konsentrasi nyetir motor gue pasti terganggu. Kalo terganggu, sesuatu yang buruk bisa aja terjadi, kan? Dan gue nggak mau dituduh nggak becus jagain lo. Jadi, gue musti bisa pastiin lo sampai dengan selamat ke sekolah. Lo paham?" jelas Prisma lagi. Hati Nadala berdesir. Janggal rasanya mendapati kakak kelasnya ini selalu berubah-ubah mood. Kadang cool dan pendiam terkesan sebagai cowok misterius seperti kejadian pada saat upacara juga saat tadi dia berhadapan dengan Mas Manda, kadang juga heboh dan menyenangkan seperti waktu di kantin kemarin.
Tapi Nadala tidak habis pikir. Kenapa nada bicara Prisma benar-benar serius banget. Gelagatnya mirip bodyguard. Seperti bisa membaca pikiran Nadala, Prisma akhirnya membuka suaranya lagi. "Lo itu nggak ada kerjaan lain apa selain mikirin kenapa gue jadi diem? Kan gue udah jelasin tadi." tanya Prisma telak. Nadala langsung tersenyum kecut, "Kok Kak Prisma tahu sih?" balas Nadala.
"Otak lo transparan. Keliatan dari cara
mikir yang sampe nganga begitu." tandas Prisma datar. Nadala tertohok
seketika. Pipi Nadala langsung memerah, malu. Buru-buru dia benahi hobi
bengongnya yang sudah melewati batas kewajaran. "Maaf." ujar Nadala
lirih. "Jangan terlalu sering minta maaf untuk hal-hal yang sebenarnya
nggak membutuhkan kata maaf. Taruhlah kata-kata sesuai pada waktunya."
sahut Prisma menasehati.
Nadala seperti bertemu dengan bayangan Mas Manda
setiap kali mendengar ucapan-ucapan Prisma barusan. Aneh. Kebetulan yang aneh.
Tidak pernah Nadala merasa seperti ini. Di jaga oleh seseorang selain kakaknya.
Padahal orang itu baru dikenalnya kemarin. Dan keadaan seolah-olah
mempertemukan mereka seperti magnet. Dari satu kebetulan ke kebetulan lainnya.
Aneh.
No comments:
Post a Comment