Monday, 30 June 2014

MATAHARI DI BALIK SENJA

NADIKU...

Aku tak pernah mengerti bagaimana hidup coba rekatkan erat dua pasang mata ini ketika nadi yang berjalan tak jauh –dari penantian akan helaan nafas ikhlas – itu muncul dan menjadi candu.

Aku tak tahu siapa namamu? Bagaimana perangaimu? Yang kuketahui adalah setiap kali nadi itu berjalan didekatku, aku tersinari rona jingga yang cerah.

Doaku tercetus di situ... Tuhan, terima kasih karena masih memberiku keindahan itu.

Berkaca pada masa silam yang mendewasakanku, aku berpikir untuk menyita daya upayaku. Bagaimana aku bisa tahu namanya? Atau hal-hal lain yang bersangkutan dengan perangainya sehari-hari?

Aku pun terbiasa hanya diam dan tersipu sendiri saat nadi itu berjalan disekitarku.

Namun, Tuhan punya rancangannya sendiri. Satu moment di tengah riak air yang membahana. Nadi itu benar-benar menjadi detak jantungku karena dia berada dalam satu nafas di tengah gelombang dan hantaman sungai. Aku bersamanya dalam jarak yang sangat dekat. Semoga detak jantungku tak terdengar olehnya.

Tuhan, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas keindahan hidup dalam hatiku. Debar jantungku. Dan sipu malu pipiku. Untuknya... disitulah aku tahu namanya.

Aku menemukan hatiku yang berserakan kala itu. Dialah perekat dan penjaga hatiku yang baru. Dia bersemayam seolah-olah hatiku dilindungi. Aku tahu pijarnya akan membuatku bertahan. Meski dalam diamku.

Diamku kala itu... tercatat oleh garis tanganku. Menanti walaupun tahu tak harus berharap.

Dawai itu sudah melengkapi ketenanganku. Imajiku terampas serta merta ketika satu peristiwa coba mempertemukan aku dengan sang pemilik nadi itu. Sebuah pintu. Dibaliknya ada aku. Dan diseberang tempatnya berdiri, dia tersenyum kaget.

Akankah gejolak ini terus pada ritmenya. Sementara lidahku terus kelu saat tahu aku berada dalam zonanya. Ingin aku sapa tapi terasa mulut ini menggagu... suaruku lenyap tertelan ludah.

Dan aku hanya menatap apa yang dilakukannya dari seberang. Berharap dia menoleh walau hanya untuk ikut menertawai lelucon yang tertuju padaku.

Oh, Tuhan, manakala itu terjadi pegang kuat jiwaku agar tak terbang karena bahagia.
Jingga menjadi warna nadi yang hidup dihatiku. Tubuhnya terbungkus emosi datar tanpa ekspresi. Ataukah dia malu?

Dunia serasa mati, saat rindu ini kadung membuncah terhadap keberadaannya yang entah dimana?

Aku lagi-lagi hanya berharap di setiap malam namanya muncul dalam dunia maya. Agar aku bisa bersua dan menelanjangi hatinya.

Bermalam-malam aku tunggu bahkan hingga aku lepaskan egoku untuk tahu bahwa dia tidak sedang berada di ruang itu.

Mataku tidak bisa menembus kecanggihan logika. Baik buruknya rasa ini tak bisa diukur hanya dari gelagat tertunduk malu dan sebuah senyuman.

Kepastian! Ya, kepastian itu kapan datang. Tidak... tidak... harus ada hal lain sebelum kepastian yaitu intensitas dan kecocokan. Akankah?

Tuhan, hanya tangan-Mu...

Yang sanggup membelai hatinya. Yang sanggup menggetarkan nalurinya. Yang sanggup memberi pertolongan lewat tangan-tangan tak terlihat.

Karena hanya Engkaulah pemilik hati dari nadi yang menghidupi resah di dada ini.

Bila mana Kau berkenan, dekatkanlah dia padaku. Dengan baik-baik. Dengan cara-Mu yang baik.

Amin.


SENJA...

Mmm... aroma senja hari ini terlalu pekat dihidungku... angin semilir yang mendayu-dayu menggoda tengkukku untuk semakin merapat pada kerah kemejaku.

Meski tampak langit senja tak menjanjikan apapun... tapi setidaknya merah merona di atas sana cukup melambangkan apa yang tergambar “di dalam sini”.

Sebuah rasa tanpa nama...

Senandung musik dari derap kaki di ibu kota juga semakin menghidupkan nuansa malam. Alunan dari air mancur yang menyemburkan ketingginya udara memperjelas kekagumanku pada beningnya pantulan air.

Lagi-lagi meski banyak armada yang memperlambat laju di jalan yang seakan mengisyaratkan halangan...

Aku cukup menikmati nuansa ini. Kisah dibalik satu senyuman malu. Dan kepala yang tertunduk gelisah.

Semoga langit senja malam ini membawa kabar yang membahagiakan. Karena aku tak bisa selamanya menatap langit dengan leluasa seperti pelukis yang sanggup menatap langit demi sebuah maha karya lukisannya. Demikian pula rasa tanpa nama ini.


SUBUH DAN SENJA...

Jelas embun masih membasahi rerumputan. Semerbak wangi tanah yang menyengat mengingatkan kita akan dawai langkah. Melangkah lalu bertahan. Atau bertahan lalu melangkah lagi.

Subuh ini ketika aku buka mata, aku ingat langit senjaku yang menjingga. Semoga senyum menelurkan bahagia di bawah naungan-Nya. Dan aku mendoakanmu di kala subuh ini. Dan kelak  jaga aku di kala langit menjadi senjamu.

Sesederhana itu harapku. Dan melangkahlah ketika aku bertahan karena aku pun akan melangkah disampingmu ketika kamu terhenti saat bertahan.


UNTITLE

Sadarkah... ini sudah kali keberapa senyum itu menemani hari-hariku?

Dalam hening masih saja terdiam..

Bagaimana ini? Aku sudah memulainya... aku sudah mulai mengarsir sebagian ruang itu dengan nuansa jingganya...

Semua terjadi tanpa komandoku... Benar-benar diluar dugaan.

Sesungguhnya, aku tak bisa melangkah lebih jauh jika hentakan kakinya masih jatuh dibawah tempatnya berdiri. Bukan maju. Jangan pula mundur.

Ya Tuhan... jaga ia untukku... siapapun ia... bagaimana pun ia... karena aku tidak bisa menjangkau asanya disaat malam tiba... maupun menjelang fajar menyingsing.

Taukah ia... senyumnya itu pelitaku... meskipun hanya tersirat lewat pembicaraan.

Melangkah majulah... aku tak selamanya punya nyali... tak memliki daya... cuma harapan dan doa di setiap sujudku.

Hanya itu...


JINGGAKU MASIH TERDIAM...

Jinggaku terdiam dan itu sangat mencekik leherku. Sulit bagiku bernafas. Kamu adalah porosku saat ini setelah banyak orang melepasku. Jangan melepasku dari genggamanmu wahai jingga.

Aku memang bukan matahari yang sedari dulu hidup dihatimu. Mungkin belum pula saat ini. Aku tahu cinta tak serta merta kau ukir. Aku tahu aku bukan apa-apa. Tapi aku takut berlari darimu. Nafasku selalu sesak memikirkan hal itu. Aku takut... benar-benar takut. Karena kamu aku berani lagi memulai, berani melangkahkan kaki keluar dari zona ketakutanku akan masa laluku.

Jinggaku, tidakkah kau dengar teriakan hatiku kala kau justru diam saat aku berada disekitarmu? Tidakkah kau tahu saat pesan itu hanya terbalas singkat dan seadanya, sesuai dengan apa yang aku tanyakan? Tidakkah kau tahu aku hampir menangis. Sejujurnya aku tidak bisa membohongi bahwa aku tidak bisa menikmati momen menantimu. Karena aku belum tahu isi hatimu. Karena kamu masih terdiam dalam kesendirianmu.


CUACA TAK MENENTU DI SORE HARI...

Setelah kabut yang cukup pekat itu, aku menemukan senyum yang lama hilang. Kata-kata yang begitu hangat membalut rasa dingin yang kerap kali mengigit kulit-kulit ariku. Sungguh anugerah yang tiada terkira. Aku bahagia, Tuhan. Kau kembalikan pencair dahaga dikala haus mendera.
Jatuh bangun, sikap acuh, dan pengabaian mungkin sering kali aku hadapi. Itu kadang menyakitkan hati. Sulit bagiku bernafas. Kebodohanku yang tak pernah hilang adalah kerap kali memberi hati yang penuh untuk orang yang aku sayang. Aku lupa kadang dalam perjalanannya, perasaan akan tenggelam dan hilang perlahan. Aku lupa akan hal itu.
Aku tahu mata itu pasti menyimak apa yang aku lakukan. Aku juga yakin bahwa perhatian itu tak pernah surut sebetulnya. Hanya saja, rasa ego dan malu itu lebih diunggulkan. Maka, hatilah yang berperang.


BADAI BERGEMURUH...

Sudahlah, aku sudah melihat awan gelap di timur sana. Tak sejengkal pun memperbolehkan aku masuk ke pintu diseberang. Aku tak kan melawan lawan. Badai ini akan semakin besar. Tenagaku tak sebesar pusaran badai itu. Sepertinya aku tahu, kemana badai akan menyeretku. Ke akhir yang menyedihkan. Badai itu sudah didepan mata. Dan aku mencium gelagat menghilang dan ingin dihilangkan. Baiklah, badai silahkan hujam aku hingga tak berdaya. Aku sudah pasrah. Aku sudah semakin yakin bahwa sosok itu tak akan bisa kudekap lagi.


MATAHARI PUN TENGGELAM...


Habis sudah masaku padamu. Baik-baiklah dengan kehidupanmu. Aku tak akan lagi menemani hari-harimu lagi. Mengganggumu lagi. Melihat senyummu lagi. Rantai itu terputus. Tak bisa kusambung lagi. Jangkarnya tak kau izinkan menancap terlalu lama di dasar lautan. Kapalmu pun pergi menjauh seiring matahari yang kian tenggelam. Selamat tinggal. Maaf, jika aku bertahan untuk tak menangis. Tangisan ini bukan untuk airmata sedih tapi mungkin untuk tangis bahagiaku dengan pribadi yang lebih membutuhkan aku.

No comments:

Post a Comment