NADIKU...
Aku tak pernah mengerti bagaimana
hidup coba rekatkan erat dua pasang mata ini ketika nadi yang berjalan tak jauh
–dari penantian akan helaan nafas ikhlas – itu muncul dan menjadi candu.
Aku tak tahu siapa namamu?
Bagaimana perangaimu? Yang kuketahui adalah setiap kali nadi itu berjalan
didekatku, aku tersinari rona jingga yang cerah.
Doaku tercetus di situ... Tuhan,
terima kasih karena masih memberiku keindahan itu.
Berkaca pada masa silam yang
mendewasakanku, aku berpikir untuk menyita daya upayaku. Bagaimana aku bisa
tahu namanya? Atau hal-hal lain yang bersangkutan dengan perangainya
sehari-hari?
Aku pun terbiasa hanya diam dan
tersipu sendiri saat nadi itu berjalan disekitarku.
Namun, Tuhan punya rancangannya
sendiri. Satu moment di tengah riak air yang membahana. Nadi itu benar-benar
menjadi detak jantungku karena dia berada dalam satu nafas di tengah gelombang
dan hantaman sungai. Aku bersamanya dalam jarak yang sangat dekat. Semoga detak
jantungku tak terdengar olehnya.
Tuhan, sekali lagi aku
mengucapkan terima kasih atas keindahan hidup dalam hatiku. Debar jantungku.
Dan sipu malu pipiku. Untuknya... disitulah aku tahu namanya.
Aku menemukan hatiku yang
berserakan kala itu. Dialah perekat dan penjaga hatiku yang baru. Dia
bersemayam seolah-olah hatiku dilindungi. Aku tahu pijarnya akan membuatku
bertahan. Meski dalam diamku.
Diamku kala itu... tercatat oleh
garis tanganku. Menanti walaupun tahu tak harus berharap.
Dawai itu sudah melengkapi
ketenanganku. Imajiku terampas serta merta ketika satu peristiwa coba
mempertemukan aku dengan sang pemilik nadi itu. Sebuah pintu. Dibaliknya ada
aku. Dan diseberang tempatnya berdiri, dia tersenyum kaget.
Akankah gejolak ini terus pada
ritmenya. Sementara lidahku terus kelu saat tahu aku berada dalam zonanya.
Ingin aku sapa tapi terasa mulut ini menggagu... suaruku lenyap tertelan ludah.
Dan aku hanya menatap apa yang
dilakukannya dari seberang. Berharap dia menoleh walau hanya untuk ikut
menertawai lelucon yang tertuju padaku.
Oh, Tuhan, manakala itu terjadi
pegang kuat jiwaku agar tak terbang karena bahagia.
Jingga menjadi warna nadi yang
hidup dihatiku. Tubuhnya terbungkus emosi datar tanpa ekspresi. Ataukah dia
malu?
Dunia serasa mati, saat rindu ini
kadung membuncah terhadap keberadaannya yang entah dimana?
Aku lagi-lagi hanya berharap di
setiap malam namanya muncul dalam dunia maya. Agar aku bisa bersua dan
menelanjangi hatinya.
Bermalam-malam aku tunggu bahkan
hingga aku lepaskan egoku untuk tahu bahwa dia tidak sedang berada di ruang
itu.
Mataku tidak bisa menembus
kecanggihan logika. Baik buruknya rasa ini tak bisa diukur hanya dari gelagat
tertunduk malu dan sebuah senyuman.
Kepastian! Ya, kepastian itu
kapan datang. Tidak... tidak... harus ada hal lain sebelum kepastian yaitu
intensitas dan kecocokan. Akankah?
Tuhan, hanya tangan-Mu...
Yang sanggup membelai hatinya.
Yang sanggup menggetarkan nalurinya. Yang sanggup memberi pertolongan lewat
tangan-tangan tak terlihat.
Karena hanya Engkaulah pemilik
hati dari nadi yang menghidupi resah di dada ini.
Bila mana Kau berkenan,
dekatkanlah dia padaku. Dengan baik-baik. Dengan cara-Mu yang baik.
Amin.
SENJA...
Mmm... aroma senja hari ini
terlalu pekat dihidungku... angin semilir yang mendayu-dayu menggoda tengkukku
untuk semakin merapat pada kerah kemejaku.
Meski tampak langit senja tak
menjanjikan apapun... tapi setidaknya merah merona di atas sana cukup
melambangkan apa yang tergambar “di dalam sini”.
Sebuah rasa tanpa nama...
Senandung musik dari derap kaki
di ibu kota juga semakin menghidupkan nuansa malam. Alunan dari air mancur yang
menyemburkan ketingginya udara memperjelas kekagumanku pada beningnya pantulan
air.
Lagi-lagi meski banyak armada
yang memperlambat laju di jalan yang seakan mengisyaratkan halangan...
Aku cukup menikmati nuansa ini.
Kisah dibalik satu senyuman malu. Dan kepala yang tertunduk gelisah.
Semoga langit senja malam ini
membawa kabar yang membahagiakan. Karena aku tak bisa selamanya menatap langit
dengan leluasa seperti pelukis yang sanggup menatap langit demi sebuah maha
karya lukisannya. Demikian pula rasa tanpa nama ini.
SUBUH DAN SENJA...
Jelas embun masih membasahi
rerumputan. Semerbak wangi tanah yang menyengat mengingatkan kita akan dawai
langkah. Melangkah lalu bertahan. Atau bertahan lalu melangkah lagi.
Subuh ini ketika aku buka mata,
aku ingat langit senjaku yang menjingga. Semoga senyum menelurkan bahagia di
bawah naungan-Nya. Dan aku mendoakanmu di kala subuh ini. Dan kelak jaga aku di kala langit menjadi senjamu.
Sesederhana itu harapku. Dan
melangkahlah ketika aku bertahan karena aku pun akan melangkah disampingmu
ketika kamu terhenti saat bertahan.
UNTITLE
Sadarkah... ini sudah kali
keberapa senyum itu menemani hari-hariku?
Dalam hening masih saja terdiam..
Bagaimana ini? Aku sudah
memulainya... aku sudah mulai mengarsir sebagian ruang itu dengan nuansa
jingganya...
Semua terjadi tanpa komandoku...
Benar-benar diluar dugaan.
Sesungguhnya, aku tak bisa
melangkah lebih jauh jika hentakan kakinya masih jatuh dibawah tempatnya
berdiri. Bukan maju. Jangan pula mundur.
Ya Tuhan... jaga ia untukku...
siapapun ia... bagaimana pun ia... karena aku tidak bisa menjangkau asanya
disaat malam tiba... maupun menjelang fajar menyingsing.
Taukah ia... senyumnya itu
pelitaku... meskipun hanya tersirat lewat pembicaraan.
Melangkah majulah... aku tak
selamanya punya nyali... tak memliki daya... cuma harapan dan doa di setiap
sujudku.
Hanya itu...
JINGGAKU MASIH TERDIAM...
Jinggaku terdiam dan itu sangat
mencekik leherku. Sulit bagiku bernafas. Kamu adalah porosku saat ini setelah
banyak orang melepasku. Jangan melepasku dari genggamanmu wahai jingga.
Aku memang bukan matahari yang
sedari dulu hidup dihatimu. Mungkin belum pula saat ini. Aku tahu cinta tak
serta merta kau ukir. Aku tahu aku bukan apa-apa. Tapi aku takut berlari
darimu. Nafasku selalu sesak memikirkan hal itu. Aku takut... benar-benar
takut. Karena kamu aku berani lagi memulai, berani melangkahkan kaki keluar
dari zona ketakutanku akan masa laluku.
Jinggaku, tidakkah kau dengar
teriakan hatiku kala kau justru diam saat aku berada disekitarmu? Tidakkah kau
tahu saat pesan itu hanya terbalas singkat dan seadanya, sesuai dengan apa yang
aku tanyakan? Tidakkah kau tahu aku hampir menangis. Sejujurnya aku tidak bisa
membohongi bahwa aku tidak bisa menikmati momen menantimu. Karena aku belum
tahu isi hatimu. Karena kamu masih terdiam dalam kesendirianmu.
CUACA TAK MENENTU DI SORE HARI...
Setelah kabut yang cukup pekat
itu, aku menemukan senyum yang lama hilang. Kata-kata yang begitu hangat
membalut rasa dingin yang kerap kali mengigit kulit-kulit ariku. Sungguh
anugerah yang tiada terkira. Aku bahagia, Tuhan. Kau kembalikan pencair dahaga
dikala haus mendera.
Jatuh bangun, sikap acuh, dan
pengabaian mungkin sering kali aku hadapi. Itu kadang menyakitkan hati. Sulit
bagiku bernafas. Kebodohanku yang tak pernah hilang adalah kerap kali memberi
hati yang penuh untuk orang yang aku sayang. Aku lupa kadang dalam
perjalanannya, perasaan akan tenggelam dan hilang perlahan. Aku lupa akan hal
itu.
Aku tahu mata itu pasti menyimak
apa yang aku lakukan. Aku juga yakin bahwa perhatian itu tak pernah surut
sebetulnya. Hanya saja, rasa ego dan malu itu lebih diunggulkan. Maka, hatilah
yang berperang.
BADAI BERGEMURUH...
Sudahlah, aku sudah melihat awan
gelap di timur sana. Tak sejengkal pun memperbolehkan aku masuk ke pintu
diseberang. Aku tak kan melawan lawan. Badai ini akan semakin besar. Tenagaku
tak sebesar pusaran badai itu. Sepertinya aku tahu, kemana badai akan
menyeretku. Ke akhir yang menyedihkan. Badai itu sudah didepan mata. Dan aku
mencium gelagat menghilang dan ingin dihilangkan. Baiklah, badai silahkan hujam
aku hingga tak berdaya. Aku sudah pasrah. Aku sudah semakin yakin bahwa sosok
itu tak akan bisa kudekap lagi.
MATAHARI PUN TENGGELAM...
Habis sudah masaku padamu.
Baik-baiklah dengan kehidupanmu. Aku tak akan lagi menemani hari-harimu lagi.
Mengganggumu lagi. Melihat senyummu lagi. Rantai itu terputus. Tak bisa
kusambung lagi. Jangkarnya tak kau izinkan menancap terlalu lama di dasar
lautan. Kapalmu pun pergi menjauh seiring matahari yang kian tenggelam. Selamat
tinggal. Maaf, jika aku bertahan untuk tak menangis. Tangisan ini bukan untuk
airmata sedih tapi mungkin untuk tangis bahagiaku dengan pribadi yang lebih membutuhkan
aku.
No comments:
Post a Comment