Part 4
PANGERAN
JERUK NADALA
Upacara bendera telah selesai. Nadala dan teman-teman
paduan suaranya pun bubar jalan. Nadala kembali ke ruang kesehatan untuk
mengambil tasnya yang tadi dititip ke nunung. "Nung, gue mau ambil tas gue
ya." sahut Nadala yang menyembulkan kepalanya dari luar ruang kesehatan.
"Ambil aja, Nad. Gue lagi ribet nih." jawab Nunung yang lagi sibuk
merapihkan kotak P3K-nya. Nadala perlahan masuk.
Nadala mengambil tasnya dan langsung berpamitan
dengan Nunung. "Makasih ya, Nung." Nadala membuka tasnya untuk
memasukkan topinya kedalam dengan keadaan berkalan. Catat! Dalam keadaan sedang
berjalan tanpa melihat kearah depan. Lalu... 'bruuuk!" Nadala menubruk
seseorang hingga jatuh terpelanting kebelakang. Nadala mengaduh sambil
mengelus-elus lengannya yang terbentur lantai.
"Aduh, sorry banget ya. Gue nggak..."
ujar seseorang yang juga terhuyung mundur akibat tubrukan tadi. "Eh,
nggak." Nadala buru-buru memotong kalimat orang tadi. Nadala belum tahu
dengan siapa dia berbicara, karena tengah disibukin membersihkan rok putihnya
yang kotor. "Gue yang salah kok. Gue jalan nggak liat-liat kedepan."
lanjut Nadala. "Nggg... Nggak, gue kok yang salah." Dalam hati
Nadala, siapa sih nih orang?”
Setelah dirasa rok putihnya sudah kembali
bersih, akhirnya Nadala memutuskan untuk melihat sosok orang yang menabraknya
tadi. Nadala menangkat pandangannya kearah orang tersebut. Alangkah terkejutnya
Nadala ketika ternyata orang yang menabraknya adalah orang yang sama dengan
orang yang melempar senyum untuknya saat upacara pagi tadi. Hati Nadala
berdesir. Wajahnya merona merah jambu. Nadala mendadak gagu.
Nadala buru-buru bangkit dan merapihkan diri.
Nada mendadak gugup, bingung harus mengatakan apa. Alhasil, Nadala juga
ikut-ikutan minta maaf karena merasa bersalah. Lagi-lagi, cowok itu tersenyum.
"Oke. Sekali lagi sorry ya." ujar cowok itu memastikan lagi. Nadala
manggut-manggut. Setelah itu, dia pergi meninggalkan Nadala begitu saja. Begitu
sadar cowok itu sudah tidak ada dihadapannya, Nadala berkeluh kesah sendiri
"Ya ampun, Nadalaaaa. Kenapa nggak tanya
namanya sih?" gerutunya sambil mengetuk-ngetuk keningnya. Tapi mungkin
memang sudah rezeki Nadala pagi ini, seseorang menyahut memanggil nama cowok
itu, "PRISMAAAA..." Cowok itu langsung menoleh ke asal suara.
"Tungguin dong. Gue balikin ini dulu" sahut temannya itu sambil
menunjukkan kardus berisi atribut yang tadi dipakai para petugas upacara.
Dengan santainya cowok bernama Prisma itu
menghentikan laju jalannya, memilih menyender di salah satu dinding koridor
sekolah. "Iya, gue tungguin." sahut Prisma sambil melipat tangan
didepan dadanya. Nadala terkesiap, tanpa sadar kembali menahan nafas dibuatnya.
Melihat itu, Prisma sengaja berdeham dan tersenyum seperti menggoda Nadala yang
tengah terbengong menatapnya. Nadala tersadar dan buru-buru pergi dari situ.
"Bego... Bego... Bego... Masa ke gap lagi
bengong ngeliatin dia sih. Haduuuh, malu abis. Sumpah malu-maluin banget!"
maki Nadala kepada dirinya sendiri. Saking malunya dia sampai menutup wajahnya.
Setelah tenang, Nadala menarik nafas panjang. "Nggak apa-apa yang penting
gue tahu namanya sekarang. Prisma. Kayaknya, kakak kelas gue ya? Kayaknya sih
iya. Jadi namanya Kak Prisma." ujarnya senyum-senyum sendiri.
Nadala pun masuk ke kelasnya dan mendapati
dirinya berbunga-bunga. Teman sebangkunya dibuat keheranan karena dari tadi
Nadala kerjaannya nyanyi-nyanyi sendiri. Saking jenuhnya mendengarkan nyanyian
Nadala, akhirnya dia memutuskan untuk menegur Nadala. "Nad, berisik tau.
Dari tadi lo nyanyi melulu. Nggak capek apa. Udah doooong, masa nggak cukup
tadi pas upacara. Pleaseeee, gue mau belajar bukan les vokal." protesnya.
Nadala tersenyum malu, "Maaf." ucap
Nadala memohon maaf kepada teman disebelahnya itu. "Nah, gitu. Kan, nggak
berisik. Jadi kita bisa belajar." jawab teman Nadala lagi.
"Baiklah." ujar Nadala mengosok-gosok kedua tangannya bersemangat.
"Belajar apa kita hari ini?" lanjut Nadala berujar. Teman
disebelahnya langsung ber-'gubrak ria'. "Haduh, bener-bener deh ini anak.
Pak Guru udah cuap-cuap pelajaran antropologi juga."
Selang beberapa jam mata pelajaran usai,
tibalah saatnya istirahat. Jam istirahat dimulai. Saatnya makan dan mengisi
perut. Nadala sendiri sudah sejak tadi perutnya keroncongan, sirine
kelaparannya pun berbunyi kian jelas. Nadala bergegas mengantri ke kantin.
Siang ini, dia ngidam nasi goreng Bang Mi'un. "Bang Mi'un..." sapa
Nadala. "Ape, Neng." jawab Bang Mi'un. "Nasi gorengnya satu,
ya." ujar Nadala singkat.
"Cabenye segimane? Mau pedes aje atau mau
pedes banget neh?" tanya Bang Mi'un yang sok ikut-ikutan jargon anak gaul
belakangan ini. "Hihi... bisa aja, Bang. Jangan terlalu pedes. Yang
sedang-sedang aja." jawab Nadala terkikik melihat laga Bang Mi'un
kepadanya. "Sekalian minumnye nggak, Neng?" "Es jeruk aja,
Bang."
Bang Mi'un memberikan pesanan nasi goreng
Nadala tidak lama kemudian. "Neh, Neng Nadala nasi gorengnye sedeng-sedeng
aje pan cabenye?" Nadala menerimanya dengan girang hati. "Makasih ya,
Bang Mi'un. Oh iya, Nadala duduk disitu, ya. Nanti es jeruknya boleh dikirim ke
situ?" pinta Nadala setengah memohon. "Siap Neng. Nanti abang kirim
pake paket OSS." jawab Bang Mi'un. Nadala mengernyitkan keningnya,
bingung. OSS?
"OSS?" tanya Nadala penasaran.
"Hadeeeh, si eneng nggak gaul neh. OSS ntuh One Second Service."
Nadala sontak tertawa. "Hahaha... si abang bisa aja... Ya, udah. Nadala
kesana dulu." Nadala pamit dan buru-buru mengambil tempat di salah satu
bangku kosong. Nadala langsung duduk tanpa melihat-lihat sekitarnya. Nadala
juga langsung menyantap nasi goreng itu dengan lahap.
Tak berapa lama, sebuah gelas berisi es jeruk
mendarat didepan Nadala. Karena merasa itu adalah es jeruk pesanannya. Nadala
segera menyeruput es jeruk tersebut hingga habis setengahnya. Tapi tiba-tiba
seseorang didepannya memberikan sebuah pengakuan yang membuat Nadala nyaris
tersedak karena malu. "Maaf, itu es jeruk pesanan gue." Orang itu tak
lain dan tak bukan adalah Prisma. Deng! Wakwaaaawww
Nadala melotot mendapati dirinya meminum es
jeruk pesanan Prisma. "Haduh, Neng Nadala. Kok malah minum pesenannye Mas
Prisma. Ini es jeruknye Neng Nadala baru mau abang anterin." tegur Bang
Mi'un setengah meledek geli. "Aduh maaf, Kak. Aku kira ini pesenan aku.
Maaf ya, Kak." wajah Nadala berubah merah. "Hahaha... nggak apa-apa
lagi. Santai aja. Gampang, gue bisa minum yang baru." balas Prima dengan
gaya santainya.
"Sekali lagi maaf ya, Kak. Aku nggak
sengaja." sahut Nadala atas perilaku memalukannya barusan. "Yaelah,
gue bilang kan santai aja." jawab Prisma sambil mengibaskan tangannya ke
udara pertanda kejadian tadi bukan masalah besar. Prisma lalu memajukan
kursinya dan mulai fokus melihat Nadala. "Kayaknya kita hari ini ketemu
mulu, ya?" tanya Prisma sambil tersenyum penuh makna. "Nama lo
siapa?" lanjutnya lagi tanpa jeda.
Nadala langsung memastikan lagi kepada kakak
kelasnya itu bahwa dia memang betul-betul menanyakan namanya. "Saya
kak?" tanya Nadala polos. "Ya iyalah nama lo. Kan, elo yang lagi gue
ajak ngobrol." jawab Prisma nyaris tak bisa menahan tawanya. "Nadala,
Kak." sahutnya yang semakin kikuk dan malu. Lalu, Prisma mengulurkan
tangan dan mulai memperkenalkan dirinya sendiri. "Kenalin gue
Prisma." Nadala terkesima.
Prisma lagi-lagi mendapati Nadala melihatnya
dengan tatapan terkesima. Prisma melambai-lambaikan tangannya persis didepan
muka Nadala. Nadala bangun dari keterperangahannya. "Nggg... Iya,
Kak." jawabnya tergeragap kebingungan. "Setiap gue liatin kenapa lo
kayak penjahat di freeze polisi
begitu. Diam. Kaku. Nggak bergerak. Nggak berkedip." ujar Prisma
mengamati.
Nadala makin bingung, sampai-sampai dia malah
balik bertanya kepada Prisma. "Nggak tahu, Kak. Saya juga bingung. Kenapa
juga ya saya musti bengong?" jawabnya dengan muka bingung. Tapi justru
karena jawaban mengejutkan itulah yang membuat Prisma bergeming dan mulai
tersadar akan sesuatu. Cewek yang aneh tapi lucu juga, batin Prisma. Disaat
yang hampir bersamaan, mereka sama-sama kembali memesan es jeruk Bang Mi'un.
Keterkejutan itu terlihat jelas dari wajah
mereka. Tapi seketika itu tawa Prisma mencairkan kebekuan itu.
"Hahahaha... nambah juga lo. Tapi gue nggak nyangka lho lo sampe nambah.
Jangan bilang lo suka banget sama es jeruk ini kayak gue." ujar Prisma
yang kegirangan sendiri. Nadala akhirnya ikut terbawa suasana hati Prisma yang
nampak senang sekali. "Jadi, Kakak suka es jeruk ini? Sama." Deng!
Ganti Prisma terkejut.
Prisma bergumam dalam hatinya lagi,
"Bukannya itu cuma kalimat tanya sederhana, ya? Sama sebuah pengakuan
kecil yang bisa aja setiap orang melakukannya. Tadi kenapa pada saat cewek ini
yang ngomong, gue kayak dibikin jadi patung begini." Prisma menatap Nadala
tanpa kedip, heran yang menyerangnya tak bisa diabaikan. Prisma penasaran
dengan daya hipnotis yang membekukannya. Mematrinya dalam hening yang
berkepanjangan.
Kali ini Nadala yang kebingungan. "Lah,
kok jadi kakak yang bengong?" tanyanya sambil melakukan hal yang sama
seperti yang dilakukan Prisma untuk membangunkannya dari lamunan. Prisma
buru-buru kembali dari alam lamunannya, dan pura-pura beralibi sedang berpikir,
sembari mengenyahkan pernyataan yang sempat mampir ke pikirannya. "Oh,
jelas. Gue suka banget es jeruk ini. Suka bangeeet malah..."
"Sampe temen-temen gue kasih julukan tetap
sebagai Pangeran Jeruk. Kadang-kadang." jawab Prisma asal. Sungguh itu
jawaban paling ngaco abad ini yang pernah tercetus dari bibirnya. Untuk pertama
kalinya dia menciptakan pencitraan yang ajaib. Pangeran Jeruk, julukan apa tuh? selanya dalam hati. Kacau lo Pris! Sementara, Nadala masih
mendengarkan Prisma dengan kagum. "Pangeran Jeruk? Hebat." sahut
Nadala geleng-geleng.
Nadala benar-benar asli
terkagum-kagum sama kakak kelasnya satu ini. Bukan perkara masalah wajah yang
diatas rata-rata atau ketenarannya. Tapi karena pribadi Kak Prisma yang ajaib.
Hari gini jarang banget ada cowok yang mau dikasih julukan ala Dongeng. Nadala
suka sekali Dongeng. Bukan sebagai pendongeng tapi penikmat dan pemeran utama
sang Dongeng itu sendiri. Seandainya, Kak Prisma itu Pangeran Jeruknya Nadala.
No comments:
Post a Comment