Monday, 30 June 2014

Cerbung: Pangeran Dekik dan Nyai Dempul (part 11)

Part 11

RENCANA PENJEBAKAN TERHADAP PANGERAN DEKIK DAN PASUKANNYA


Perjamuan makan malam pun berakhir. Kelelahan pun terpampang jelas pada wajah Nyai Dempul. Tapi dia tidak ingin pergi tidur. Ada yang dia ingin lakukan. Sangat bahkan teramat ingin. Sementara, Pangeran Dewo masih berada disampingnya cukup mempersulit geraknya. "Ada apa, Nimas? Kau nampak gelisah." tegur Pangeran Dewo.

"Ngg... Sebenarnya aku sudah sangat lelah. Bolehkah aku lebih dulu kembali ke Paviliunku?" dalihnya.

"Baiklah. Sebentar, aku pamit terlebih dahulu pada Ayahku. Aku hendak mengantarmu hingga ke Paviliun." ujar Pangeran Dewo bersiap-siap melangkah ke arah Raja Arji. Tapi buru-buru tangan Nyai Dempul mencekam lengan Pangeran Dewo.

"Tidak usah. Aku bisa sendiri." jawabnya menolak.

"Tidak apa-apa. Aku akan menemanimu." balas Pangeran Dewo pada pendiriannya.

"Tidak, Kang Mas. Tetaplah disini, ayahmu pasti membutuhkanmu."

"Tidak apa-apa, Nimas. Biarkan aku mengantarmu hingga ke mulut pintu Paviliunmu. Setelah itu, aku janji akan langsung kembali menemani ayahku." ujar Pangeran Dewo yang juga tak mau mengalah. Nyai Dempul hafal betul tabiat keras kepala Pangeran Dewo. Nyai Dempul yang akhirnya mengalah. "Baiklah." jawabnya lirih. "Sebentar, aku pamit permisi kepada ayahku."

Pangeran Dewo berjalan menuju Raja Arji. Tampak keduanya berbicara. Tak lama kemudian, Pangeran Dewo kembali menghampiri Nyai Dempul lagi. "Ayo." ajak Pangeran Dewo. Wajah Pangeran Dewo sedikit berubah aneh pasca berbincang dengan Raja Arji. Nyai Dempul melihat perubahan itu. Tapi diurungkan rasa ingin tahunya melalui sebuah pertanyaan. Mereka pun akhirnya berjalan ke arah Paviliun Nyai Dempul.

Sepeninggalan Pangeran Dewo, Raja Arji pun meninggalkan ruang tersebut dan bergegas menuju Paviliun anaknya. Ketika Pangeran Dewo tiba di Paviliunnya, Raja Arji tengah terlihat duduk menunggunya. "Duduk. Ada hal penting yang ingin kubicarakan." sahut Raja Arji dengan wajah sangat serius.

"Ada apa ayah?" tanya Pangeran Dewo yang mendadak tak senang dengan suasana ini.

"Dengarkan ini baik-baik. Aku ingin kau melakukan sesuatu pada saat di bukit utara nanti. Aku ingin kau memimpin pasukan untuk menjebak Sapardi beserta pasukannya." tandas Raja Arji telak.

"Apa?! Mengapa? Bukankah kita sudah kembali bekerja sama dengan Sapardi dan kerajaannya." sahut Pangeran terkaget-kaget.

"Apa kau sudah gila membiarkan setengah harta itu menjadi bagian kerajaannya?" ujar Raja Arji mengingatkan.

"Ayah. Ini konyol. Urungkan saja niatmu ini. Aku tidak mau." tolak Pangeran Dewo.

"DEWO!! Ini perintah. Ingat, aku tidak segan-segan menghabisi Nimas Naratih kesayanganmu itu. Jadi, ikuti perintahku untuk menjebak Sapardi dan pasukan. Habisi mereka jika mereka melawan. Bunuh mereka. Sudah waktunya sahabat Adipta sialan itu merasakan akibat karena menolak kerja sama denganku selama ini." ujar Raja Arji penuh kebencian.

"Ayah... Sadarlah! Kau hanya akan menciptakan sebuah perang." kecam Pangeran Dewo terhadap rencana gila ayahnya.

"Perang? Hahaha... Bahkan jika perlu akan aku angkat tinggi-tinggi panji kerajaanku dan menebas kepala Sapardi di atas bukit nanti. Hahahaha..." Raja Arji menyeringai senang. Tawanya bak raksasa jahat. "Latih pasukanmu seminggu ini. Lakukan perintahku." lanjut Raja Arji lagi.

Raja Arji benar-benar membuat Pangeran Dewo dilema besar. Dia ingin sekali Pangeran Dekik enyah sejauh mungkin dari Nyai Dempul. Tapi dia tahu Nyai Dempul bahkan tak mengizinkan laki-laki itu enyah dari hatinya. Sementara itu, dia juga ingin mengembalikan kerajaan ini seperti dahulu kala. Namun kelakuan ayahnya sudah terlalu melampaui batas. Dia tidak bisa memberikan toleransi lagi.

Pangeran Dewo harus segera mencari cara menggagalkan penjebakan itu. Dia mulai menyusun rencananya sendiri. Ditempat lain, Pangeran Dekik sedang bersiap-siap hendak menyusup keluar. Namun, hatinya mendadak dirundung gelisah. Kakinya seakan berat melangkahkan kaki. Berkali-kali dia bulatkan tekad seperti malam-malam sebelumnya bahwa semua akan aman-aman saja. Tapi kali ini tidak berhasil. Hatinya semakin meragu.

Pangeran Dekik dengan hati yang tidak tenang, akhirnya mengambil pedang dan berusaha menyelinap keluar. Namun, satu suara yang dia kenal baik menggema ditelinganya. "Mau sampai kapan kau membohongiku. Kau mungkin bisa mengelabui banyak orang tapi tidak denganku." Pangeran Dekik menoleh dan terkejut mendapatkan Nyai Dempul telah berada dibelakangnya.

"Nimas." ucapnya terbelalak.

"Kau terkejut, hah?" tanya Nyai Dempul dengan lantangnya.

Pangeran Dekik tersentak kaget. Nyai Dempul mendekat, menarik kedua lengan baju Pangeran Dekik. "Mengapa kau membohongiku?" ujar Nyai Dempul dengan kesalnya. Kesal yang tertahan yang merubah amarahnya jadi linangan air mata yang tumpah begitu saja. Pangeran Dekik akhirnya paham mengapa hatinya mendadak bimbang barusan. Hati Nyai Dempul rupanya.

"Mengapa harus berucap kau tidak peduli padaku, hah? Mengapa kau harus berpura-pura senang mendengar rencana pernikahanku dengan Pangeran Dewo. Sementara aku menyaksikan tatapan mata yang sedih itu. Mengapa kau malah menggiring Raja Arji ke bukit itu. Kau bisa saja dijebak dan dibunuh. Mengapaaa???" desak Nyai Dempul berurai air mata dan terus memukuli lengan dan bahu Pangeran Dekik.

Pangeran Dekik membiarkan lengan dan bahunya menjadi sasaran kemarahan dan kekhawatiran Nyai Dempul. Perempuan didepannya ini sedang menangis untuknya. Tapi dia belum bisa menjelaskannya saat ini pada Nyai Dempul. "Dengarkan ini baik-baik, Nimas. Tidak sedikitpun, aku menyimpan asa padamu. Yang aku tahu aku harus membayar hutang Romoku atas Bopokmu. Inilah yang kulakukan saat ini. Maaf membuatmu kecewa. Pulanglah."

"Bohong! Katakan itu sekali lagi. Katakan kau tidak peduli padaku." desaknya lagi.

Pangeran Dekik membuang mukanya, lalu berkata "Aku tidak peduli padamu." Nyai Dempul menarik paksa bahu Pangeran Dekik agar dia menghadap kearahnya.

"Tatap aku, Mas. Dan katakan itu sekali lagi." ujarnya melemah.

Tapi apa yang terjadi, Pangeran Dekik malah memaki dan mengusirnya, "Sudahlah. Kau menggangguku. Pergilah dari hadapanku."

Dunia Nyai Dempul terasa terbalik. Kata-kata Pangeran Dekik masih terngiang-ngiang dipikirannya. "Tidak ada asa sedikitpun untukku. Meskipun dia tidak peduli padaku. Tapi dia tetap berada dipihakku. Setidaknya itu cukup menjadi peganganku. Ya, dalam misi ini, aku yakin dia bersamaku. Dia pasti menyiapkan sebuah rencana besar agar ramalan mengenai perang angin utara itu tidak terjadi." gumam Nyai Dempul menguatkan diri.

Satu minggu ini, Baik Pangeran Dekik, Nyai Dempul, dan Pangeran Dewo sama-sama disibukkan dengan misi bawah tanahnya masing-masing. Meskipun berat membawa beban hati, toh mereka tetap fokus pada tujuan yang sama. Saling berharap agar semua selamat. Saling berdoa agar tidak terjadi perang seperti yang diramalkan. Bahkan terselip mimpi di antara dua hati yang diam-diam masih saling mendoa.

Di sebuah lorong, saat Pangeran Dewo sedang mengajak Nyai Dempul menuju taman bunga. Mereka berdua berpapasan dengan rombongan Pangeran Dekik. Pangeran Dekik tetap melaju tanpa henti. Hanya sekedar menoleh untuk melempar senyum kepada mereka. Lalu kembali fokus pada perjalanannya. Sementara, Nyai Dempul menghentikan langkah kakinya dan pandangan matanya mengikuti kemanapun Pangeran Dekik menuju.

Pangeran Dewo menyadari satu hal. Bukankah, sinar mata itu memang bukan untukku sejak awal? Dasar kau bodoh, Dewo. gumamnya dalam hati. Pangeran Dewo tersenyum mengakui kekalahannya. Sudah saatnya kukembalikan dia kepada nadi yang berharap dia hidupi. Bukan nadiku. Bukan nadi orang lain. Tapi nadi orang yang memaku hatinya sejak dulu. Seseorang yang tengah mematungkan pandangan perempuan yang kusayangi saat ini. Sapardi, kau menang.

■■■■

No comments:

Post a Comment