Part 11
RENCANA PENJEBAKAN TERHADAP PANGERAN DEKIK DAN PASUKANNYA
Perjamuan makan malam pun berakhir. Kelelahan
pun terpampang jelas pada wajah Nyai Dempul. Tapi dia tidak ingin pergi tidur.
Ada yang dia ingin lakukan. Sangat bahkan teramat ingin. Sementara, Pangeran
Dewo masih berada disampingnya cukup mempersulit geraknya. "Ada apa,
Nimas? Kau nampak gelisah." tegur Pangeran Dewo.
"Ngg... Sebenarnya aku sudah sangat lelah.
Bolehkah aku lebih dulu kembali ke Paviliunku?" dalihnya.
"Baiklah. Sebentar, aku pamit terlebih
dahulu pada Ayahku. Aku hendak mengantarmu hingga ke Paviliun." ujar
Pangeran Dewo bersiap-siap melangkah ke arah Raja Arji. Tapi buru-buru tangan
Nyai Dempul mencekam lengan Pangeran Dewo.
"Tidak usah. Aku bisa sendiri."
jawabnya menolak.
"Tidak apa-apa. Aku akan menemanimu."
balas Pangeran Dewo pada pendiriannya.
"Tidak, Kang Mas. Tetaplah disini, ayahmu
pasti membutuhkanmu."
"Tidak apa-apa, Nimas. Biarkan aku
mengantarmu hingga ke mulut pintu Paviliunmu. Setelah itu, aku janji akan
langsung kembali menemani ayahku." ujar Pangeran Dewo yang juga tak mau
mengalah. Nyai Dempul hafal betul tabiat keras kepala Pangeran Dewo. Nyai
Dempul yang akhirnya mengalah. "Baiklah." jawabnya lirih.
"Sebentar, aku pamit permisi kepada ayahku."
Pangeran Dewo berjalan menuju Raja Arji. Tampak
keduanya berbicara. Tak lama kemudian, Pangeran Dewo kembali menghampiri Nyai
Dempul lagi. "Ayo." ajak Pangeran Dewo. Wajah Pangeran Dewo sedikit
berubah aneh pasca berbincang dengan Raja Arji. Nyai Dempul melihat perubahan
itu. Tapi diurungkan rasa ingin tahunya melalui sebuah pertanyaan. Mereka pun
akhirnya berjalan ke arah Paviliun Nyai Dempul.
Sepeninggalan Pangeran Dewo, Raja Arji pun
meninggalkan ruang tersebut dan bergegas menuju Paviliun anaknya. Ketika
Pangeran Dewo tiba di Paviliunnya, Raja Arji tengah terlihat duduk menunggunya.
"Duduk. Ada hal penting yang ingin kubicarakan." sahut Raja Arji
dengan wajah sangat serius.
"Ada apa ayah?" tanya Pangeran Dewo
yang mendadak tak senang dengan suasana ini.
"Dengarkan ini baik-baik. Aku ingin kau
melakukan sesuatu pada saat di bukit utara nanti. Aku ingin kau memimpin
pasukan untuk menjebak Sapardi beserta pasukannya." tandas Raja Arji
telak.
"Apa?! Mengapa? Bukankah kita sudah
kembali bekerja sama dengan Sapardi dan kerajaannya." sahut Pangeran
terkaget-kaget.
"Apa kau sudah gila membiarkan setengah
harta itu menjadi bagian kerajaannya?" ujar Raja Arji mengingatkan.
"Ayah. Ini konyol. Urungkan saja niatmu
ini. Aku tidak mau." tolak Pangeran Dewo.
"DEWO!! Ini perintah. Ingat, aku tidak
segan-segan menghabisi Nimas Naratih kesayanganmu itu. Jadi, ikuti perintahku
untuk menjebak Sapardi dan pasukan. Habisi mereka jika mereka melawan. Bunuh
mereka. Sudah waktunya sahabat Adipta sialan itu merasakan akibat karena
menolak kerja sama denganku selama ini." ujar Raja Arji penuh kebencian.
"Ayah... Sadarlah! Kau hanya akan
menciptakan sebuah perang." kecam Pangeran Dewo terhadap rencana gila
ayahnya.
"Perang? Hahaha... Bahkan jika perlu akan
aku angkat tinggi-tinggi panji kerajaanku dan menebas kepala Sapardi di atas
bukit nanti. Hahahaha..." Raja Arji menyeringai senang. Tawanya bak
raksasa jahat. "Latih pasukanmu seminggu ini. Lakukan perintahku."
lanjut Raja Arji lagi.
Raja Arji benar-benar membuat Pangeran Dewo
dilema besar. Dia ingin sekali Pangeran Dekik enyah sejauh mungkin dari Nyai
Dempul. Tapi dia tahu Nyai Dempul bahkan tak mengizinkan laki-laki itu enyah
dari hatinya. Sementara itu, dia juga ingin mengembalikan kerajaan ini seperti
dahulu kala. Namun kelakuan ayahnya sudah terlalu melampaui batas. Dia tidak
bisa memberikan toleransi lagi.
Pangeran Dewo harus segera mencari cara
menggagalkan penjebakan itu. Dia mulai menyusun rencananya sendiri. Ditempat
lain, Pangeran Dekik sedang bersiap-siap hendak menyusup keluar. Namun, hatinya
mendadak dirundung gelisah. Kakinya seakan berat melangkahkan kaki.
Berkali-kali dia bulatkan tekad seperti malam-malam sebelumnya bahwa semua akan
aman-aman saja. Tapi kali ini tidak berhasil. Hatinya semakin meragu.
Pangeran Dekik dengan hati yang tidak tenang,
akhirnya mengambil pedang dan berusaha menyelinap keluar. Namun, satu suara
yang dia kenal baik menggema ditelinganya. "Mau sampai kapan kau
membohongiku. Kau mungkin bisa mengelabui banyak orang tapi tidak
denganku." Pangeran Dekik menoleh dan terkejut mendapatkan Nyai Dempul telah
berada dibelakangnya.
"Nimas." ucapnya terbelalak.
"Kau terkejut, hah?" tanya Nyai
Dempul dengan lantangnya.
Pangeran Dekik tersentak kaget. Nyai Dempul
mendekat, menarik kedua lengan baju Pangeran Dekik. "Mengapa kau
membohongiku?" ujar Nyai Dempul dengan kesalnya. Kesal yang tertahan yang
merubah amarahnya jadi linangan air mata yang tumpah begitu saja. Pangeran
Dekik akhirnya paham mengapa hatinya mendadak bimbang barusan. Hati Nyai Dempul
rupanya.
"Mengapa harus berucap kau tidak peduli
padaku, hah? Mengapa kau harus berpura-pura senang mendengar rencana
pernikahanku dengan Pangeran Dewo. Sementara aku menyaksikan tatapan mata yang
sedih itu. Mengapa kau malah menggiring Raja Arji ke bukit itu. Kau bisa saja
dijebak dan dibunuh. Mengapaaa???" desak Nyai Dempul berurai air mata dan
terus memukuli lengan dan bahu Pangeran Dekik.
Pangeran Dekik membiarkan lengan dan bahunya
menjadi sasaran kemarahan dan kekhawatiran Nyai Dempul. Perempuan didepannya
ini sedang menangis untuknya. Tapi dia belum bisa menjelaskannya saat ini pada
Nyai Dempul. "Dengarkan ini baik-baik, Nimas. Tidak sedikitpun, aku
menyimpan asa padamu. Yang aku tahu aku harus membayar hutang Romoku atas
Bopokmu. Inilah yang kulakukan saat ini. Maaf membuatmu kecewa.
Pulanglah."
"Bohong! Katakan itu sekali lagi. Katakan
kau tidak peduli padaku." desaknya lagi.
Pangeran Dekik membuang mukanya, lalu berkata
"Aku tidak peduli padamu." Nyai Dempul menarik paksa bahu Pangeran
Dekik agar dia menghadap kearahnya.
"Tatap aku, Mas. Dan katakan itu sekali
lagi." ujarnya melemah.
Tapi apa yang terjadi, Pangeran Dekik malah
memaki dan mengusirnya, "Sudahlah. Kau menggangguku. Pergilah dari
hadapanku."
Dunia Nyai Dempul terasa terbalik. Kata-kata
Pangeran Dekik masih terngiang-ngiang dipikirannya. "Tidak ada asa sedikitpun
untukku. Meskipun dia tidak peduli padaku. Tapi dia tetap berada dipihakku.
Setidaknya itu cukup menjadi peganganku. Ya, dalam misi ini, aku yakin dia
bersamaku. Dia pasti menyiapkan sebuah rencana besar agar ramalan mengenai
perang angin utara itu tidak terjadi." gumam Nyai Dempul menguatkan diri.
Satu minggu ini, Baik Pangeran Dekik, Nyai
Dempul, dan Pangeran Dewo sama-sama disibukkan dengan misi bawah tanahnya
masing-masing. Meskipun berat membawa beban hati, toh mereka tetap fokus pada
tujuan yang sama. Saling berharap agar semua selamat. Saling berdoa agar tidak
terjadi perang seperti yang diramalkan. Bahkan terselip mimpi di antara dua
hati yang diam-diam masih saling mendoa.
Di sebuah lorong, saat Pangeran Dewo sedang
mengajak Nyai Dempul menuju taman bunga. Mereka berdua berpapasan dengan
rombongan Pangeran Dekik. Pangeran Dekik tetap melaju tanpa henti. Hanya
sekedar menoleh untuk melempar senyum kepada mereka. Lalu kembali fokus pada
perjalanannya. Sementara, Nyai Dempul menghentikan langkah kakinya dan
pandangan matanya mengikuti kemanapun Pangeran Dekik menuju.
Pangeran Dewo menyadari satu hal. Bukankah,
sinar mata itu memang bukan untukku sejak awal? Dasar kau bodoh, Dewo. gumamnya
dalam hati. Pangeran Dewo tersenyum mengakui kekalahannya. Sudah saatnya
kukembalikan dia kepada nadi yang berharap dia hidupi. Bukan nadiku. Bukan nadi
orang lain. Tapi nadi orang yang memaku hatinya sejak dulu. Seseorang yang
tengah mematungkan pandangan perempuan yang kusayangi saat ini. Sapardi, kau
menang.
■■■■
No comments:
Post a Comment