Monday, 30 June 2014

Cerbung: Pangeran Dekik dan Nyai Dempul (part 3)

Part 3

TAMU PENTING RAJA ARJI


Nyai Dempul mengerjapkan matanya saat kicau burung membelai ketentraman tidurnya. Matanya masih sembab bekas tangis kemarin. Namun, belum sempat dia membersihkan diri, ketukan di pintu sudah mengusiknya. "Yang Mulia Nyai... Maaf hamba mengganggu." teriak seorang abdi dari balik pintu.

Nyai Dempul memakai jubah sutranya sambil berjalan menu "Ada apa? Tidakkah kau tahu fajar pun belum genap menyingsing?" Nyai Dempul membuka pintu kamarnya, dilihatnya sang abdi membungkuk sambil membungkukkan badannya. "Bangunlah, tak usah membungkuk seperti itu. Katakan apa yang membawamu sepagi ini kesini."

Sang abdi langsung menyampaikan pesan penting tersebut, "Yang Mulia Raja Arji meminta Nyai bersiap, akan ada pertemuan penting. Seorang tamu penting akan datang."

Nyai Dempul mengangguk, "Baiklah. Kau boleh pergi sekarang."

Sang abdi undur diri. Nyai Dempul menutup kembali pintu kamarnya. Nyai Dempul seperti sudah tau siapa tamu penting akan akan datang itu. Segera dia bersihkan diri. Tak lama kemudian, Nyai Dempul sudah siap dengan gaun sutra birunya. Tapi sesaat dia akan beranjak keluar, terdengar bunyi kerikil dari arah jendela. "Sssstttt... Nimas. Ini aku, Sapardi." sahut Pangeran Dekik berbisik. Nyai Dempul beranjak mendekat.

Nyai Dempul membuka jendelanya. Didapatkannya Pangeran Dekik yang sedang waspada, menengok ke kanan menengok ke kiri. "Apa kau sudah gila, Sapardi. Mengapa kau nekat berada disini."

Pangeran Dekik segera melompat kedalam kamar, Nyai Dempul buru-buru menutup jendela. "Aku terpaksa, Nimas. Hari ini, Raja Arji akan mengadakan pertemuan khusus. Akan hadir tamu penting. Dan tahu siapa tamu itu, Nimas? Dewo." tandasnya.

Nyai Dempul yang sudah menduga sebelumnya, menggangguk lemah. "Ya, aku sudah menduganya."

Pangeran Dekik memegang bahu Nyai Dempul, "Kita harus menjalankan rencana Bopokmu." Nyai Dempul mengangguk kembali, kali ini dia membuang pandangannya kebawah. "Nimas lihat aku. Kau harus tetap menjadi Nyai Dempul hingga semua berakhir." Dia mengangkat wajahnya dan didapatkan Pangeran Dekik tengah memandanginya penuh cemas.

"Kau baik-baik saja, Nimas?" tanya Pangeran Dekik bersimpu dihadapan Nyai Dempul. Nyai Dempul membisu. 

"Apa kau yakin kau baik-baik saja, Nimas Naratih?" ulang Pangeran Dekik.

Nyai Dempul menggeleng, "Aku takut, Sapardi. Sungguh aku takut."

Pangeran Dekik menepuk lutut yang dilihatnya gemetar. "Aku tahu ini teramat berat untukmu. Tapi hanya hal inilah yang bisa kita lakukan sekarang. Ingat, aku selalu menjagamu."

Tak lama kemudian, Raja Arji memasuki ruangan tersebut. Tampak semua penasehat berdiri, Nyai Dempul pun ikut serta. "Duduklah wahai kalian para penasehatku." seru Raja Arji. Semuanya kembali duduk. Raja Arji sudah berada di singgahsananya, tapi beliau juga belum mau duduk. "Hari ini sengaja aku kumpulkan kalian semua disini untuk kuperkenalkan calon penerusku. Silahkan masuk anakku." Sahut Raja mengumumkan.

Pertemuan itu pun akhirnya digelar. Nyai Dempul memasuki ruangan khusus yang berada di ujung gedung paling timur kerajaan. Nyai Dempul duduk di salah satu deretan terdekat dengan Raja Arji. Semua penasehat sudah duduk di posisinya.

Sesosok laki-laki tinggi dan berbadan tegap tiba-tiba memasuki ruangan itu. Nyai Dempul mengenali wajah itu. Itu Dewo. Ya, itu benar-benar Dewo, batinnya. Semua penasehat tampak beradu pandang dan mulai berbisik pelan kaget. Dewo mengambil tempat persis disebelah Nyai Dempul. Dewo duduk tanpa berniat berbasa-basi menegur para petinggi diruangan itu. Dewo hanya menengok sesaat kearah Nyai Dempul dengan dinginnya. Deg!

Raja Arji mulai kembali percakapannya, "Wahai kalian para petinggi dan penasehat. Inilah tamu penting untukku. Hari ini akan kuresmikan dia sebagai calon penerusku disini. Dia akan kuangkat sebagai pengawas kerajaan dan Nyai Dempul akan menjadi wakilnya." Sontak Nyai Dempul menoleh kaget saat namanya disebutkan. Dewo pun terperanjat begitu nama Nyai Dempul yang tercetus dari bibir ayahnya bukan malah Nimas Naratih.


■■■■

No comments:

Post a Comment