Monday, 30 June 2014

Cerbung: Pangeran Dekik dan Nyai Dempul (part 2)

Part 2

SURAT TERAKHIR BOPOK UNTUK NYAI DEMPUL


Kejadian sore itu dimana Pangeran Dekik dan Nyai Dempul akhirnya membuka topeng mereka masing-masing pun, terpaksa dirahasiakan dari siapapun. Termasuk kepada Raja Arji, seorang penasehat yang mengambil paksa kedudukan Raja Adipta, Raja sebenarnya. Mereka berdua berjanji untuk membongkar kebusukan Raja Arji dan mengembalikan kerajaan Elang Putih seperti dulu.

Dipertemuan berikutnya, Pangeran Dekik memenuhi janjinya untuk memberikan sesuatu yang penting bagi Nyai Dempul. Satu-satunya hal yang sangat dinanti olehnya, Surat terakhir mendiang Bopok. Diatas surat tersebut terdapat inisial "NA", sama seperti puisi-puisi yang selalu dibuat Pangeran Dekik untuknya. Nyai Dempul membuka perlahan surat itu. "Tertanda untuk Nimas Anakku" Nyai Dempul sontak meneteskan airmatanya.

Nimas Anakku, tahukah betapa Bopok merindukanmu. Ingin rasanya Bopok merebutmu tapi raga Bopok telah rapuh. Tiada daya bagi Bopok untuk menantang Arji saat ini. Nimas Anakku, kelak jika Bopokmu ini mati, aku titipkan kerajaan Elang Putih dipundakmu. Kau tidak sendiri anakku. Telah kuamanahkan penjagaanku melalui Pangeran Sapardi, teman semasa kecilmu. Temukan kelemahan Arji. Hati-hati, dia sungguh licik.
Seingat Bopok, Arji memiliki putera bernama Dewo. Dewo tidak seperti ayahandanya. Dewo anak baik. Bopok sering melihat Dewo berselisih pendapat terhadap apa yang dilakukan Arji. Gunakan Dewo sebagai pintu masukmu, Nak. Berpura-puralah kau ingin mengenal Dewo lebih dalam. Jadilah orang yang diperhitungkan Arji. Masuk kedalam barisan penasehat.
Segera petakan siapa penasehat-penasehat Bopok yang masih membela Bopok dan siapa yang sudah benar-benar menjadi anteknya Arji. Tarik mereka kembali ke sisimu. Sementara itu, Pangeran Dekik akan mencoba membantumu lewat jalur diplomasi kerajaan ayahandanya. Dia seolah-olah akan tergiur dengan tawaran Arji untuk menikahimu jika Pangeran Dekik berhasil mengajak ayahandanya untuk kembali bermitra dengan Arji.
Nimas Anakku, ingatlah baik-baik bahwa Bopokmu ini selalu menyayangimu. Begitu pula mendiang Ibumu. Kami percaya suatu hari nanti Kerajaan Elang Putih akan kembali seperti dahulu. Kuberikan tongkat toya yang selalu kau inginkan sejak kecil. Kini saatnya benda ini menjadi pelindungmu. Jika kau mulai ragu dengan semua orang, gunakan hati kecilmu, Nak. Sekian surat Bopok. Semoga Bopok sempat berjumpa denganmu.

Air mata Nyai Dempul mengalir deras. Rangkulan Pangeran Dekik pun kian mengerat, "Nimas, usap air matamu. Jangan sia-siakan kematian Bopokmu. Kita harus bergegas menjalankan misi ini. Kudengar Dewo akan kembali dari perjalanannya. Kau harus bersiap."

Nyai Dempul mendongakkan kepalanya ke Pangeran Dekik, "Kau harus janji padaku, Kang Mas. Jangan izinkan Dewo merebut hatiku darimu."

Pangeran Dekik mengangguk, "Pasti."

■■■■

No comments:

Post a Comment