Part 2
SURAT TERAKHIR BOPOK UNTUK NYAI DEMPUL
Kejadian sore itu dimana Pangeran Dekik dan
Nyai Dempul akhirnya membuka topeng mereka masing-masing pun, terpaksa
dirahasiakan dari siapapun. Termasuk kepada Raja Arji, seorang penasehat yang
mengambil paksa kedudukan Raja Adipta, Raja sebenarnya. Mereka berdua berjanji
untuk membongkar kebusukan Raja Arji dan mengembalikan kerajaan Elang Putih
seperti dulu.
Dipertemuan berikutnya, Pangeran Dekik memenuhi
janjinya untuk memberikan sesuatu yang penting bagi Nyai Dempul. Satu-satunya
hal yang sangat dinanti olehnya, Surat terakhir mendiang Bopok. Diatas surat
tersebut terdapat inisial "NA", sama seperti puisi-puisi yang selalu
dibuat Pangeran Dekik untuknya. Nyai Dempul membuka perlahan surat itu.
"Tertanda untuk Nimas Anakku" Nyai Dempul sontak meneteskan
airmatanya.
Nimas Anakku, tahukah betapa Bopok
merindukanmu. Ingin rasanya Bopok merebutmu tapi raga Bopok telah rapuh. Tiada
daya bagi Bopok untuk menantang Arji saat ini. Nimas Anakku, kelak jika Bopokmu
ini mati, aku titipkan kerajaan Elang Putih dipundakmu. Kau tidak sendiri
anakku. Telah kuamanahkan penjagaanku melalui Pangeran Sapardi, teman semasa
kecilmu. Temukan kelemahan Arji. Hati-hati, dia sungguh licik.
Seingat Bopok, Arji memiliki putera bernama
Dewo. Dewo tidak seperti ayahandanya. Dewo anak baik. Bopok sering melihat Dewo
berselisih pendapat terhadap apa yang dilakukan Arji. Gunakan Dewo sebagai
pintu masukmu, Nak. Berpura-puralah kau ingin mengenal Dewo lebih dalam.
Jadilah orang yang diperhitungkan Arji. Masuk kedalam barisan penasehat.
Segera petakan siapa penasehat-penasehat Bopok
yang masih membela Bopok dan siapa yang sudah benar-benar menjadi anteknya
Arji. Tarik mereka kembali ke sisimu. Sementara itu, Pangeran Dekik akan
mencoba membantumu lewat jalur diplomasi kerajaan ayahandanya. Dia seolah-olah
akan tergiur dengan tawaran Arji untuk menikahimu jika Pangeran Dekik berhasil
mengajak ayahandanya untuk kembali bermitra dengan Arji.
Nimas Anakku, ingatlah baik-baik bahwa Bopokmu
ini selalu menyayangimu. Begitu pula mendiang Ibumu. Kami percaya suatu hari
nanti Kerajaan Elang Putih akan kembali seperti dahulu. Kuberikan tongkat toya
yang selalu kau inginkan sejak kecil. Kini saatnya benda ini menjadi
pelindungmu. Jika kau mulai ragu dengan semua orang, gunakan hati kecilmu, Nak.
Sekian surat Bopok. Semoga Bopok sempat berjumpa denganmu.
Air mata Nyai Dempul mengalir deras. Rangkulan
Pangeran Dekik pun kian mengerat, "Nimas, usap air matamu. Jangan sia-siakan
kematian Bopokmu. Kita harus bergegas menjalankan misi ini. Kudengar Dewo akan
kembali dari perjalanannya. Kau harus bersiap."
Nyai Dempul mendongakkan kepalanya ke Pangeran
Dekik, "Kau harus janji padaku, Kang Mas. Jangan izinkan Dewo merebut hatiku
darimu."
Pangeran Dekik mengangguk, "Pasti."
■■■■
No comments:
Post a Comment