Monday, 30 June 2014

Cerbung: Pangeran Dekik dan Nyai Dempul (part 10)

Part 10

PENGUMUMAN DAN TITAH PENTING RAJA ARJI


"Ini aneh. Aku benar-benar tak mengerti." ujar Nyai Dempul yang langsung mencari kemungkinan jawaban dari tatapan mata Pangeran Dewo.

"Apa yang aneh? Kau lahir pada bulan purnama ketujuh. Lalu dimana letak keanehannya?" tanya Pangeran Dewo yang juga ikut-ikutan keheranan. Wajar saja, dia tidak tahu menahu soal ramalan perang angin utara yang akan berlangsung saat bulan purnama ketujuh ditahun ini. Kecuali...

Astaga...!!! batin Pangeran Dewo tiba-tiba dalam hatinya. Nimas benar. Ini aneh. Kenapa segala sesuatunya harus bersamaan dengan bulan purnama ketujuh bersinar? Bahkan kenapa rencana ayahnya itu juga harus bertepatan dengan hal itu? gumamnya lagi masih dalam hati.

Nyai Dempul melihat perubahan air muka Pangeran Dewo. "Ada apa?" tanyanya penasaran.

"Tidak. Tidak ada apa-apa?" ujar Pangeran Dewo yang buru-buru menyangkal.

"Aku pikir kau kenapa? Wajahmu... " kata-kata Nyai Dempul menggantung begitu saja setelah dia tiba-tiba merasa kepalanya mendadak sakit. Nyai Dempul memijat-mijat keningnya sendiri.

Sadar bahwa kalimat itu terpenggal tak selesai, Pangeran Dewo menoleh dan mendapati wajah disebelahnya memucat. "Wajahmu pucat, Nimas. Kau sakit?" tanya Pangeran Dewo panik.

"Tidak. Aku tidak apa-ap..." penyangkalan itu tidak sempat dilontarkan Nyai Dempul karena tubuhnya terlanjut lemas dan tak berdaya. Dia pingsan. Namun, beberapa detik sebelumnya, Pangeran Dewo sudah bisa membaca gelagat bahwa tubuh disampingnya itu akan jatuh. Dia menangkapnya agar tubuh itu tak menyapu papan kayu telaga.

"Nimaaaaasss...." teriak Pangeran Dewo.

Pangeran Dekik yang melihat kejadian itu nyaris memunculkan diri. Dia nyaris mendapati dirinya hendak berlari kearah Nyai Dempul. Namun, lagi-lagi setengah mati dia mencoba menahan keinginan itu. Dia benar-benar tidak bisa menampakkan dirinya saat ini. Kekesalan pada dirinya disalurkan dengan memukul-mukul batang pohon disebelahnya. Setetes air matanya jatuh. Dia menangis.

Sementara itu, Pangeran Dewo segera membopong Nyai Dempul yang terkulai lemas. "Nimas... Nimas... Ayo bangunlah. Kau kenapa?" sahutnya sambil berlari sekencang mungkin ke arah Paviliun Nyai Dempul.

Begitu jarak semakin dekat, Pangeran Dewo yang masih dalam kepanikan lalu berteriak kepada para pengawal untuk segera membukakan pintu Paviliun. "Cepat buka pintunya." Dengan sigap para pengawal itu membuka pintu.

Pangeran Dewo berlari semakin cepat. Dilewatinya pintu masuk Paviliun. Kemudian menorobos masuk ke kamar Nyai Dempul. Direbahkannya Nyai Dempul pelan-pelan ke atas tempat tidur. Wajah semakin pucat, keringat berkucuran di kening Nyai Dempul. "Cepat tolong panggilkan tabib kesini. Nyai Dempul sakit." ujar Pangeran Dewo.

"Baik, Tuan Muda"

Wajah itu semakin pucat. Tak ada tanda-tanda bahwa Nyai Dempul akan siuman. Sedari tadi Pangeran Dewo memegangi tangan Nyai Dempul yang dingin sedingin es. Sesekali, dia cek detak nadinya. Lemah. "Nimas, ayo bangunlah." sahut Pangeran Dewo lirih. Seorang abdi perempuan kemudian lari tergopoh-gopoh membawa baki air untuk mengompres kening Nyai Dempul dan selimut tebal. Pangeran Dewo langsung menyelimuti Nyai Dempul.
Selang tak berapa lama, sang tabib pun tiba di Paviliun Nyai Dempul. Dia langsung mengecek keseluruhan kesehatan Nyai Dempul. Sang tabib pun langsung menoleh ke Pangeran Dewo. "Sepertinya dia kelelahan. Tapi dia harus benar-benar beristirahat total." ujar tabib itu.

Pangeran Dewo mengangguk mengerti. "Baik tabib. Aku akan menyuruhnya istirahat." jawab Pangeran Dewo.

Sang tabib berpamitan dan undur diri untuk pulang ke kediamannya. Pangeran Dewo mengantarkannya hingga ke mulut pintu. Lalu dia kembali lagi ke dekat Nyai Dempul. Nyai Dempul belum juga menunjukkan tanda-tanda akan siuman. "Nimas, tidak tahu apa sedang kau pikirkan. Tidak tahu pula apa yang menjadi bebanmu, tapi kumohon bangunlah dan biarkan aku membantumu. Jangan seperti ini." ujar Pangeran Dewo sedih.

Dia melihat kearah orang itu dan kadang kearah seseorang lainnya yang tepat sedang duduk didepanku. Nyai Dempul menangis tidak bisa menerima kepergian orang itu. Orang itu menunjuk sosok didepanku sekali lagi seperti meminta untuk pergi arahnya. "Siapa orang didepanku ini? Mengapa dia tak sekalipun berusaha melakukan sesuatu terhadap Nimas? Siapa laki-laki ini? Sepertinya aku mengenalnya? gumamnya dalam mimpinya itu.

Ditempal lain, Pangeran Dekik memilih kembali ke Paviliunnya. Dia memilih untuk tidur, merebahkan dirinya di tempat tidur. Melupakan apa yang tadi dilihatnya. Meskipun, hatinya sangat-sangat ingin tahu kondisi Nyai Dempul. Pangeran Dekik berusaha memejamkan mata. Dan dia bermimpi. Dia melihat Nyai Dempul berdiri dengan sedihnya mendengarkan seseorang mengatakan sesuatu.

Bunyi kicau burung di pagi hari, akhirnya membangunkan Pangeran Dewo. Dia tak sadar tertidur dibangku dekat tempat tidur Nyai Dempul. Tubuhnya terasa pegal. Digerakkan sedikit agar otot-ototnya yang kaku merenggang. Setelah itu, dia beralih fokus kepada seseorang yang sakit itu. Dipegangnya kening Nyai Dempul dengan punggung tangannya. Sudah tidak terlalu panas. Namun, wajahnya masih tetap sepucat semalam.

Tiba-tiba, teriakan dari para pengawal yang mengabarkan kedatangan Raja Arji dari luar Paviliun. Pangeran Dewo langsung bersiap-siap berdiri menghampiri ayahnya. "Ada apa ini? Apa yang terjadi dengannya?" tanya Raja Arji begitu memasuki Paviliun Nyai Dempul.

"Dia... dia hanya kelelahan, ayah." jawab Pangeran Dewo sedikit gugup.

"Kau berada disini semalaman?" tanya Raja Arji menyelidik.

"Iy...ya, ayah. Maafkan aku." jawab Pangeran Dewo semakin gugup.

"Hahaha..." Tawa Raja Arji meledak seketika, "Aku terkejut... Hahaha... Aku tak menyangka kau ternyata begitu mencintai perempuan ini."

"Ak... aku... " jawab Pangeran Dewo tergeragap.

"Ah sudahlah. Tak usah gugup begitu. Kau ternyata mencintai Nyai Dempul maaf, maksudku Nimas Naratih. Aku ampuni jiwanya. Lalu menikahlah." tandas Raja Arji.

"Ayah..." potong Pangeran Dewo tiba-tiba.

"Sudah. Di acara jamuan makan malam dengan seluruh keluarga kerajaan. Aku akan mengumumkan dua hal. Satu tentang rencana kerja sama kita dengan kerajaan Sapardi. Kedua, aku akan umumkan rencana pernikahanmu dengan Nimas. Bagaimana? Tentu kau sangat setuju, bukan? Hahaha..." Sahut Raja Arji dengan senangnya. Tidak dengan Pangeran Dewo yang masih belum yakin dengan semua ini.

"Berikan ini padanya." Raja Arji memberikan sebotol racikan jamu dan air rebusan gingseng, "Ini sangat bagus untuk memulihkan kondisinya." lanjutnya lagi.

Pangeran Dewo menerimanya, "Terima kasih, Ayah." jawabnya seraya mengulurkan kedua tangannya menerima bawaan sang ayah.

"Baiklah, aku harus segera pergi. Ingat perkataanku barusan. Bersiap-siaplah untuk pengumuman itu. Tidak ada penolakan." perintah Raja Arji.

Pangeran Dewo masih terpaku ditempatnya berdiri. Sedetik demi sedetik berlalu tanpa keinginannya untuk bangun dari keterkejutannya. Hingga, suara erangan lemah terdengar. "Kang Mas..." ujar Nyai Dempul lemah.
Pangeran Dewo menoleh dan segera mendekat. "Kau sudah siuman, Nimas."

Nyai Dempul melihat kesekeliling, heran. "Aku kenapa, Mas?" tanyanya heran.

"Kau pingsan. Kau kelelahan." jawab Pangeran Dewo menjelaskan.

Nyai Dempul berusaha bangun untuk duduk, tapi dia malah terhuyung jatuh. Lagi-lagi, Pangeran Dewo segera meraih bahu Nyai Dempul agar tidak jatuh dan membantunya duduk. "Kau belum kuat benar, Nimas. Istirahatlah dulu." ujar Pangeran Dewo mengingatkan. Nyai Dempul terdiam, mengiyakan bahwa dia memang sangat lelah. "Ayo, makan dulu." ujar Pangeran Dewo yang mengambil semangkuk bubur di meja.

Nyai Dempul terpaksa menerima sendok demi sendok suapan bubur dari Pangeran Dewo. "Sudah, aku kenyang..." tolak Nyai Dempul seraya mengunci bibirnya rapat-rapat.

"Satu lagiiiiii..." pinta Pangeran Dewo. Nyai Dempul menggeleng. "Ayo. satu lagi. Kasihan nanti buburnya menangis." Pangeran Dewo kembali memohon. Nyai Dempul akhinya membuka mulutnya lagi dan menerima suapan terakhir. Pangeran Dewo tersenyum.

"Sekarang istirahatlah. Nanti siang, ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu, Nimas." ujar Pangeran Dewo membantu Nyai Dempul kembali untuk merebahkan diri. Nyai Dempul memejamkan mata.

Ketika Pangeran Dewo hendak beranjak dari duduknya. Nyai Dempul langsung bergeming, "Tetaplah disini. Aku tidak ingin dia (sapardi) datang kemari." gumamnya masih dengan mata tertutup. Pangeran Dewo pun mengurungkan niatnya.

Benar saja, tak lama setelah Nyai Dempul terlelap, Pangeran Dekik datang ke Paviliun tersebut. Betapa terkejutnya dia mengetahui memasuki kamar Nyai Dempul bahwa Pangeran Dewo yang menjaganya. "Oh, rupanya kau juga ada disini." Pangeran Dewo menoleh karena mendengar sapaan Pangeran Dekik.

"Kudengar Nyai Dempul sedang sakit? Dia memang perempuan lemah." ujar Pangeran Dekik lagi. Pangeran Dewo mendelik kesal.

"Apa maksudmu, Sapardi?" tandas Pangeran Dewo penuh amarah yang tertahan. "Hahaha... Aku hanya berujar bahwa dia sangat lemah sebagai perempuan. Secara fisik dan hati. Bodoh karena percaya dengan sebuah penantian omong kosong dan aku." balas Pangeran Dekik yang melempar pandangan kasihan kearah Nyai Dempul.

Pangeran Dewo spontan berdiri dengan wajah penuh emosi. Dia menunjuk orang didepannya itu, "Kau... Kalau kau memang tidak peduli dengannya. Jangan memperalatnya. Jika kau tidak bisa menyayanginya dengan tulus, aku yang akan melakukannya. Dengar Sapardi...!! Kau sebaiknya keluar dari Paviliun ini. Dia memintaku agar kau tidak sedikitpun menjejakkan kakimu disini." ujar Pangeran Dewo menumpahkan amarahnya. Pangeran Dekik terkesiap. Matanya sempat terbelalak, tapi buru-buru dia normalkan kekagetannya.

Pangeran Dekik menatap perempuan yang terbaring lemah itu. Memohon maaf untuk segala luka yang harus diterimanya saat ini, tapi dia tidak bisa membongkarnya. Dia harus tetap terlihat tak peduli padanya. Tapi... apa sebegitu sakitnya kah? Hingga untuk menerima kehadiranku pun kau enggan. Maaf Nimas. Semoga suatu hari nanti kau melihat betapa aku peduli padamu, bahwa aku memiliki rasa yang juga serupa denganmu.

Jari telunjuk Pangeran Dewo kini mengarah ke pintu keluar Paviliun Nyai Dempul. "Silahkan kau keluar. Aku tak mau Nimas melihatmu jika bangun nanti." sahut Pangeran Dewo. Pangeran Dekik akhirnya membalikkan badan dan berjalan keluar. Baru beberapa langkah, tiba-tiba Pangeran Dewo memanggilnya kembali, "Kupastikan aku akan merebutnya darimu." Pangeran Dekik cuma tersenyum sinis dan kembali berlalu mengabaikannya.

Ditengah harapan Pangeran Dewo yang berkibar tinggi, ada dua hati yang mendadak patah. Nyai Dempul tak sepenuhnya tertidur. Dia mendengarkan percakapan itu. Memalingkan wajah lalu menangis. Sedih. Sementara, Pangeran Dekik merasa gerah dengan ancaman Pangeran Dewo. Dia merasa kerdil tak bisa membalas tantangan itu. Lidahnya kelu, hatinya remuk redam. Tapi mungkin ini pengorbanan untuk kembalinya kerajaan Raja Adipta.

Terik siang hari, akhirnya membangunkan Nyai Dempul. Keringatnya mengucur deras. Disentuhnya keningnya sendiri. Suhu tubuhnya sudah kembali normal. Dia memaksakan untuk bangun meskipun masih lemah. Pangeran Dewo nampak tak terlihat dikamarnya. "Mas Dewo..." panggilnya lirih. Tak ada jawaban. Dia berjalan keluar kamarnya pelan-pelan.

"Mas Dewo." panggilnya lagi. Kembali tak ada jawaban. Rupanya, Pangeran Dewo sedang tertidur, terlihat lengannya memangku pipi. Meja tamu pun menjadi saksi bisu ketenangan Pangeran Dewo menunggunya. Nyai Dempul mendekat, menarik kursi disebelah Pangeran Dewo. Duduk dan ganti menunggu. Mengapa orang ini selalu baik. Tak sedikitpun, mengeluh. Bahkan dia tak pernah bertanya ketika aku tak ingin bercerita, batinnya.

Selang beberapa waktu, Pangeran Dewo terbangun karena sedikit terusik dengan helaan nafas yang teratur dari seseorang. Dibukanya perlahan matanya. Nyai Dempul telah berada disebelahnya. Pangeran Dewo terkesiap dan refleks menarik tubuhnya agak menjauh. "Ni..mas..." sapanya terbata.

"Iya. Maaf membuatmu terbangun." Jawab Nyai Dempul merasa bersalah.

"Tidak... tidak. Aku yang seharusnya minta maaf." tandasnya.

"Sudah... Tidak usah minta maaf terus. Bukankah tadi pagi, engkau hendak membicarakan sesuatu padaku? Ada apa, Mas?" sahut Nyai Dempul mempertanyakan pesan Pangeran Dewo sebelum tidur tadi. Air muka Pangeran Dewo berubah serius. Sebenarnya dia tidak berani berspekulasi dengan kemungkinan jawaban ya. Tapi bagaimanapun juga, Nyai Dempul harus menjawab ya, karena nyawanya dipertaruhkan dalam hal ini.

"Kenapa? Kau mendapat tugas untuk membunuhku, ya?" tanya Nyai Dempul asal dengan tatapan kosong tanpa arah. Pangeran Dewo sekali lagi dibuat terdiam dengan kata-kata Nyai Dempul. Tatapan nanar itu seperti sedang menerawangi nasibnya. "Mengapa kau bicara seperti itu, Nimas?" Pangeran Dewo menegurnya. "Atau mungkin kau harus menikahiku untuk kepentingan kerajaan?" ujar Nyai Dempul begitu saja tanpa sadar.

Deg! Pangeran Dewo seketika menoleh ke Nyai Dempul. Seperti ingin menanyakan bagaimana bisa dia mengetahui semua ini?

"Betulkan, Mas?" tanya Nyai Dempul yang akhirnya kembali fokus menatap Pangeran Dewo. Pangeran Dewo tidak berani menjawab. Nyai Dempul berharap bahwa kata-katanya barusan adalah salah. Tapi reaksi Pangeran Dewo begitu kentara. Gelagat kagetnya cukup membuktikan omongannya benar.

Pangeran Dewo menghela nafas panjang. "Ya, kau benar. Apapun yang kau pikirkan tentang semua ini tidak ada kaitannya denganku. Saat ini aku belum bisa menentang rencana gila ayahku. Dengan menyetujui pernikahan itulah kau tetap diizinkan hidup." jelas Pangeran Dewo. "Tapi aku tahu... aku sadar kau hanya menganggapku seorang kakak. Kau mencintai Lebah Penyengatmu." lanjutnya lagi ketika Nyai Dempul ingin memotong pembicaraannya.

"Jangan bicara mengenai orang itu, aku lelah berdebat dengan diriku sendiri. Memperdebatkan tentangnya. Tapi kalaupun ada satu yang membuatku tetap ingin hidup adalah pesan terakhir Bopokku terhadap kerajaannya. Jika jalan untukku tetap hidup adalah melalui engkau, akan aku coba untuk tetap berada disampingmu." jawab Nyai Dempul datar.

"Baiklah, jika kau bersedia. Dalam beberapa hari kedepan, ayahku akan membuat sebuah pertemuan besar dengan para keluarga pejabat dan penasehat kerajaan. Kau tahu apa artinya itu, kan?" ujar Pangeran Dewo menjabarkan.

"Ya, aku tahu. Sebuah pengumuman dan titah penting sang raja. Dia akan mengumumkan rencana pernikahan itu?" jawab Nyai Dempul sambil terus berpura-pura tegar.

"Ya. Dia akan mengumumkannya." tandasnya.

'Tes...' Air mata Nyai Dempul jatuh tanpa dikomando. Hatinya perih. Dalam dua hari berturut-turut semua rencananya berubah haluan. Sekarang dia malah kehilangan Pangeran Dekik dan hak dirinya sendiri.

"Aku tahu ini berat untukmu. Tapi saat ini, hanya itu yang bisa kau perbuat." sahut Pangeran Dewo menenangkan. Maka, belajarlah untuk memberikan hatimu padaku, Nimas. Pintanya dalam hati.

Sore itu mendadak dingin bagi Nyai Dempul. Bagaimana tidak, dalam dua hari ini rencananya kacau balau berubah haluan. Bahkan dia harus kehilangan Pangeran Dekik dan hak dirinya sendiri. Seandainya boleh, mungkin dia akan memilih untuk benar-benar lupa ingatan. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dia tidak bisa mundur lagi. Maju sampai akhir atau sudah bisa dipastikan bahwa nyawanya akan tamat ditangan Raja Arji.

Sementara Nyai Dempul mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Pangeran Dekik memulai misi pamungkasnya. Dia mulai terlihat sering menyusup keluar dari kerajaan Nyai Dempul saat malam hari. Kemudian kembali sebelum fajar menyingsing. Dia merencanakan sesuatu. Sesuatu yang besar. Dia bergerak dengan sangat hati-hati agar langkahnya tak terendus oleh Raja Arji ataupun antek-anteknya.

Pangeran Dekik bertemu seseorang di tengah hutan. Di dekat perbatasan kerajaannya dan kerajaan Nyai Dempul. Dia seperti mengatur strategi, entah apa. Berkali-kali, dia jabarkan secara detail rencananya ke orang tersebut. Orang tersebut mengangguk paham. Ketika bunyi kokokan ayam sudah kian nyata terdengar. Mereka memutuskan untuk berpisah. Pangeran Dekik kembali menyelinap masuk ke dalam dan berlagak terlelap tidur.

Bulan purnama keenam sudah mulai menampakkan rupanya. Malam terlihat cantik dengan segala pesona misterinya. Kabutpun tengah turun dengan dingin yang kian menyengat tulang. Semilir anginnya pun tiada ampun membelai tengkuk dari orang-orang yang berjalan diatas dataran. Dan terhitung mulai dari malam ini, persiapan jamuan makan malam dengan para keluarga anggota pejabat dan penasehat kerajaan akan dilaksanakan.

Para abdi sudah mulai disibukkan dengan menyiapkan bahan-bahan untuk hidangan makan nanti. Sebagian pengawal pun mulai membantu membersihkan dan menghiaskan ruangan aula kerajaan. Bisik-bisik berita terakbar abad ini pun telah santer terdengar. Setiap Pangeran Dewo dan Nyai Dempul berjalan bersamaan, para abdi yang berpapasan selalu tersenyum sambil berbisik-bisik membicarakan kecocokan mereka.

Nyai Dempul tidak ambil pusing dengan omongan itu. Dia tetap berjalan tanpa mempedulikan apapun. Sekalipun dirinya sendiri. Malam ini, dia akan menjalankan misinya sendiri, mencari para pejabat dan penasehat yang tidak sepaham dengan Raja Arji. Mau tidak mau, dia harus bekerja sendiri. Membawa Pangeran Dewo dalam misi ini, sama saja memunculkan sisi penjilat dari mereka semua.

Meski dulu tidak terlalu sering bertemu dengan para pejabat dan penasehat kerajaannya. Nyai Dempul paham sekali dengan kepribadian mereka dari cerita-cerita Raja Adipta. Ya, Bopoknya sering sekali memberikan sesi pelajaran hidup melalui pengenalan karakter dan kepribadian anak buahnya. Beruntung sekali, Bopoknya juga selalu memberi tahu siapa-siapa saja dari mereka yang bisa dipercaya.

Setiap malam, Nyai Dempul menyambangi satu demi satu pintu dari beberapa para pejabat dan penasehat yang mungkin masih berpihak kepada Mendiang Bopoknya. Dengan hati-hati, dia membuka pembicaraan. Dan pada satu titik dimana dia merasa apakah mereka benar-benar masih berpihak, barulah dia dengan gamblangnya mengajak mereka untuk berkonspirasi menggulingkan tahta Raja Arji.

Meskipun awalnya mereka terlihat ragu, Namun Nyai Dempul berhasil meyakinkan mereka. Melalui mereka, misi pendekatan ini semakin meluas. Masih dalam keadaan dibawah tanah, Nyai Dempul dan beberapa pejabat dan penasehat yang telah kembali berpihak kepadanya semakin melebarkan target penarikan massa. Tidak hanya pengawal bahkan para abdi pun ikut dilibatkan. Tentunya dengan penentuan matang dan seleksi ketat.

Tibalah, perhelatan besar yang dinanti-nantikan Raja Arji. Sebuah perjamuan makan malam antara keluarga kerajaan dan keluarga para pejabat dan penasehat kerajaan. Pakaian indah, hidangan lezat, tutur kata dan perangai bangsa langit. Benar-benar jamuan makan trah atas. Nyai Dempul gerah dengan aturan-aturan protokoler kerajaan yang mengharuskan dirinya duduk manis tanpa suara. Dirias dengan polesan gincu termahal.
Banyak orang berdecak kagum melihat kecantikan Nyai Dempul, termasuk Pangeran Dewo. Hari ini, pelayan khusus didatangkan untuk mendandani Nyai Dempul. Baju berbahan sutra dipadukan kain batik jawa yang elok, kesemuanya jatuh dengan apiknya terbalut di tubuh Nyai Dempul. Rambutnya yang biasa tergerai, kini di sanggul. Tak lupa juga disematkannya tusuk konde berlapis emas dan bertaburan intan permata.

Raja Arji pun terlihat sedang siap-siap menuju mimbarnya. Hati Nyai Dempul mendadak dag dig dug. Dia tidak ingin pengumuman ini sukses diproklamirkan. Nyai Dempul gelisah apalagi dia belum juga melihat penampakan Pangeran Dekik. Tiba-tiba tangannya digenggam Pangeran Dewo. Namun, mata Pangeran Dewo tak menatapnya, dia malah tengah sibuk membalas sapaan para pejabat dan penasehat serta keluarga yang datang. Selalu.

Sedetik, semenit, Nyai Dempul masih terkesima dengan perlakuan Pangeran Dewo. Dia bahkan tahu apa yang dia rasakan dan tahu bagaimana menenangkan kegelisahan ini tanpa harus bertanya ini itu. Akhirnya Nyai Dempul sedikit jauh lebih tenang. Sementara itu, Raja Arji sudah memulai pidatonya. Pembicaraan pertamanya ada tenang rencana pernikahaan Nyai Dempul dan Pangeran Dewo. Semua bertepuk tangan mengucapkan selamat.

Senyum kemenangan sepertinya tercetak jelas. Apalagi ketika Pangeran Dewo mengajak Nyai Dempul untuk berdiri dan mengucapkan terima kasih bagi setiap doa yang mengalun. Nyai Dempul sama sekali tak bisa menyunggingkan senyum barang secuil pun. Matanya panas menahan tangis yang tak boleh pecah. Bahkan ketika Pangeran Dekik memasuki ruangan dan bertemu mata dengannya. Semua tiba-tiba menjadi beku.

Aku melihat wajah perempuan itu. Cantik. Anggun. Seharusnya aku yang berada disampingnya. Berdiri gagah menemaninya. Bukan dia. Bukan Dewo, Nimas. Batin Pangeran Dekik dalam hati. Hati yang kini rapuh. Nelangsa. Tatapannya tak bisa berdusta. Dia sedih menyaksikan Nyai Dempul bersanding dengan seseorang yang bukan dirinya. Dan kesedihan itu tertangkap jelas oleh Nyai Dempul. "Kang Mas..." Lirihnya.

Pangeran Dekik langsung membuang muka dan pura-pura mengabaikan pasangan itu. Pangeran Dekik berjalan melewati mereka. Dia bergegas menghampiri Raja Arji yang sudah menunggunya. Raja Arji menjabat tangan Pangeran Dekik, menyambutnya sebagai tamu kehormatan. Karena seperti diketahui pada akhirnya, Raja Arji sejauh ini berpikiran telah berhasil membangun kembali kerjasama dengan kerajaan Pangeran Dekik.

"Wahai tamu-tamuku yang kuhormati. Berilah sambutan yang paling hangat untuk tamu kehormatanku dari Kerajaan seberang. Sapardi atau yang lebih akrab ditelinga kalian sebagai Pangeran Dekik. Dalam dua minggu kedepan, kita akan bekerja sama menemukan harta karun di bukit utara." ucap Raja Arji dengan berapi-api. Seketika pula, seisi ruangan itu bertepuk tangan senang.

Pangeran Dekik ikut naik ke atas mimbar. Dihadapannya terlihat para tamu mengelu-elukannya. Pangeran Dekik mencoba menjelaskan perihal keberadaan harta di bukit utara sambil mengangkat tinggi petanya. Nyai Dempul yang kenal betul tentang sejarah bukit utara. Merasa janggal dengan pernyataan dan rencana Pangeran Dekik. Ada yang tidak beres. Pasti ada sesuatu yang disembunyikannya. Batin Nyai Dempul.

Selesai menjabarkan rencana tersebut, Pangeran Dekik turun dari mimbar dan duduk di bangku seberang yang berhadapan langsung dengan Nyai Dempul. Entah kekuatan dari mana, Nyai Dempul menatapnya dengan tajam. Seperti menyiratkan pertanyaan mengenai semua kejanggalan ini. Ganti Pangeran Dekik yang membuang pandangan ke arah lain. Sama sekali tak berani membalas tatapan itu. "Kau berbohong, Sapardi." gumam Nyai Dempul.

Pangeran Dewo yang samar-samar mendengar Nyai Dempul menandaskan sesuatu, langsung menoleh dan mempertanyakan hal tersebut. "Ada apa? Kau berbicara padaku?" tanya Pangeran Dewo. Nyai Dempul menggeleng, "Tidak. Kau mungkin salah mendengar." sangkalnya. Pangeran Dewo merasa tidak salah mendengar. Jelas-jelas Nyai Dempul mengatakan sesuatu sambil menatap tajam kearah Pangeran Dekik. "Oh. Mungkin ya aku salah dengar."

Raja Arji kemudian berteriak seperti hendak mengumpulkan perhatian para tamu. "Baiklah semua. Aku perintahkan kalian untuk ikut bersamaku dalam misi menemukan harta karun ini. Bukit Utara akan menjadi saksi bisu kekuatan kita. Setelah misi ini selesai, aku akan menggelar perhelatan besar di bulan Purnama ketujuh, pernikahan anakku dengan Nyai Dempul. Siapa yang menentang, kukabulkan kematiannya. Ini Titahku!"

■■■■

No comments:

Post a Comment