Part 10
PENGUMUMAN DAN TITAH PENTING RAJA ARJI
"Ini
aneh. Aku benar-benar tak mengerti." ujar Nyai Dempul yang langsung
mencari kemungkinan jawaban dari tatapan mata Pangeran Dewo.
"Apa
yang aneh? Kau lahir pada bulan purnama ketujuh. Lalu dimana letak
keanehannya?" tanya Pangeran Dewo yang juga ikut-ikutan keheranan. Wajar
saja, dia tidak tahu menahu soal ramalan perang angin utara yang akan
berlangsung saat bulan purnama ketujuh ditahun ini. Kecuali...
Astaga...!!!
batin Pangeran Dewo tiba-tiba dalam hatinya. Nimas benar. Ini aneh. Kenapa
segala sesuatunya harus bersamaan dengan bulan purnama ketujuh bersinar? Bahkan
kenapa rencana ayahnya itu juga harus bertepatan dengan hal itu? gumamnya lagi
masih dalam hati.
Nyai
Dempul melihat perubahan air muka Pangeran Dewo. "Ada apa?" tanyanya
penasaran.
"Tidak.
Tidak ada apa-apa?" ujar Pangeran Dewo yang buru-buru menyangkal.
"Aku pikir kau kenapa? Wajahmu... " kata-kata
Nyai Dempul menggantung begitu saja setelah dia tiba-tiba merasa kepalanya
mendadak sakit. Nyai Dempul memijat-mijat keningnya sendiri.
Sadar bahwa kalimat itu terpenggal tak selesai,
Pangeran Dewo menoleh dan mendapati wajah disebelahnya memucat. "Wajahmu
pucat, Nimas. Kau sakit?" tanya Pangeran Dewo panik.
"Tidak. Aku tidak apa-ap..."
penyangkalan itu tidak sempat dilontarkan Nyai Dempul karena tubuhnya terlanjut
lemas dan tak berdaya. Dia pingsan. Namun, beberapa detik sebelumnya, Pangeran
Dewo sudah bisa membaca gelagat bahwa tubuh disampingnya itu akan jatuh. Dia
menangkapnya agar tubuh itu tak menyapu papan kayu telaga.
"Nimaaaaasss...." teriak Pangeran
Dewo.
Pangeran Dekik yang melihat kejadian itu nyaris
memunculkan diri. Dia nyaris mendapati dirinya hendak berlari kearah Nyai
Dempul. Namun, lagi-lagi setengah mati dia mencoba menahan keinginan itu. Dia
benar-benar tidak bisa menampakkan dirinya saat ini. Kekesalan pada dirinya
disalurkan dengan memukul-mukul batang pohon disebelahnya. Setetes air matanya
jatuh. Dia menangis.
Sementara itu, Pangeran Dewo segera membopong
Nyai Dempul yang terkulai lemas. "Nimas... Nimas... Ayo bangunlah. Kau
kenapa?" sahutnya sambil berlari sekencang mungkin ke arah Paviliun Nyai
Dempul.
Begitu jarak semakin dekat, Pangeran Dewo yang
masih dalam kepanikan lalu berteriak kepada para pengawal untuk segera
membukakan pintu Paviliun. "Cepat buka pintunya." Dengan sigap para
pengawal itu membuka pintu.
Pangeran Dewo berlari semakin cepat.
Dilewatinya pintu masuk Paviliun. Kemudian menorobos masuk ke kamar Nyai
Dempul. Direbahkannya Nyai Dempul pelan-pelan ke atas tempat tidur. Wajah
semakin pucat, keringat berkucuran di kening Nyai Dempul. "Cepat tolong
panggilkan tabib kesini. Nyai Dempul sakit." ujar Pangeran Dewo.
"Baik, Tuan Muda"
Wajah itu semakin pucat. Tak ada tanda-tanda
bahwa Nyai Dempul akan siuman. Sedari tadi Pangeran Dewo memegangi tangan Nyai
Dempul yang dingin sedingin es. Sesekali, dia cek detak nadinya. Lemah.
"Nimas, ayo bangunlah." sahut Pangeran Dewo lirih. Seorang abdi
perempuan kemudian lari tergopoh-gopoh membawa baki air untuk mengompres kening
Nyai Dempul dan selimut tebal. Pangeran Dewo langsung menyelimuti Nyai Dempul.
Selang tak berapa lama, sang tabib pun tiba di
Paviliun Nyai Dempul. Dia langsung mengecek keseluruhan kesehatan Nyai Dempul.
Sang tabib pun langsung menoleh ke Pangeran Dewo. "Sepertinya dia
kelelahan. Tapi dia harus benar-benar beristirahat total." ujar tabib itu.
Pangeran Dewo mengangguk mengerti. "Baik
tabib. Aku akan menyuruhnya istirahat." jawab Pangeran Dewo.
Sang tabib berpamitan dan undur diri untuk
pulang ke kediamannya. Pangeran Dewo mengantarkannya hingga ke mulut pintu.
Lalu dia kembali lagi ke dekat Nyai Dempul. Nyai Dempul belum juga menunjukkan
tanda-tanda akan siuman. "Nimas, tidak tahu apa sedang kau pikirkan. Tidak
tahu pula apa yang menjadi bebanmu, tapi kumohon bangunlah dan biarkan aku
membantumu. Jangan seperti ini." ujar Pangeran Dewo sedih.
Dia melihat kearah orang itu dan kadang kearah
seseorang lainnya yang tepat sedang duduk didepanku. Nyai Dempul menangis tidak
bisa menerima kepergian orang itu. Orang itu menunjuk sosok didepanku sekali
lagi seperti meminta untuk pergi arahnya. "Siapa orang didepanku ini?
Mengapa dia tak sekalipun berusaha melakukan sesuatu terhadap Nimas? Siapa
laki-laki ini? Sepertinya aku mengenalnya? gumamnya dalam mimpinya itu.
Ditempal lain, Pangeran Dekik memilih kembali
ke Paviliunnya. Dia memilih untuk tidur, merebahkan dirinya di tempat tidur.
Melupakan apa yang tadi dilihatnya. Meskipun, hatinya sangat-sangat ingin tahu
kondisi Nyai Dempul. Pangeran Dekik berusaha memejamkan mata. Dan dia bermimpi.
Dia melihat Nyai Dempul berdiri dengan sedihnya mendengarkan seseorang
mengatakan sesuatu.
Bunyi kicau burung di pagi hari, akhirnya
membangunkan Pangeran Dewo. Dia tak sadar tertidur dibangku dekat tempat tidur
Nyai Dempul. Tubuhnya terasa pegal. Digerakkan sedikit agar otot-ototnya yang
kaku merenggang. Setelah itu, dia beralih fokus kepada seseorang yang sakit
itu. Dipegangnya kening Nyai Dempul dengan punggung tangannya. Sudah tidak
terlalu panas. Namun, wajahnya masih tetap sepucat semalam.
Tiba-tiba, teriakan dari para pengawal yang
mengabarkan kedatangan Raja Arji dari luar Paviliun. Pangeran Dewo langsung
bersiap-siap berdiri menghampiri ayahnya. "Ada apa ini? Apa yang terjadi
dengannya?" tanya Raja Arji begitu memasuki Paviliun Nyai Dempul.
"Dia... dia hanya kelelahan, ayah."
jawab Pangeran Dewo sedikit gugup.
"Kau berada disini semalaman?" tanya
Raja Arji menyelidik.
"Iy...ya, ayah. Maafkan aku." jawab
Pangeran Dewo semakin gugup.
"Hahaha..." Tawa Raja Arji meledak
seketika, "Aku terkejut... Hahaha... Aku tak menyangka kau ternyata begitu
mencintai perempuan ini."
"Ak... aku... " jawab Pangeran Dewo
tergeragap.
"Ah sudahlah. Tak usah gugup begitu. Kau
ternyata mencintai Nyai Dempul maaf, maksudku Nimas Naratih. Aku ampuni
jiwanya. Lalu menikahlah." tandas Raja Arji.
"Ayah..." potong Pangeran Dewo
tiba-tiba.
"Sudah. Di acara jamuan makan malam dengan
seluruh keluarga kerajaan. Aku akan mengumumkan dua hal. Satu tentang rencana
kerja sama kita dengan kerajaan Sapardi. Kedua, aku akan umumkan rencana
pernikahanmu dengan Nimas. Bagaimana? Tentu kau sangat setuju, bukan?
Hahaha..." Sahut Raja Arji dengan senangnya. Tidak dengan Pangeran Dewo
yang masih belum yakin dengan semua ini.
"Berikan ini padanya." Raja Arji
memberikan sebotol racikan jamu dan air rebusan gingseng, "Ini sangat
bagus untuk memulihkan kondisinya." lanjutnya lagi.
Pangeran Dewo menerimanya, "Terima kasih,
Ayah." jawabnya seraya mengulurkan kedua tangannya menerima bawaan sang
ayah.
"Baiklah, aku harus segera pergi. Ingat
perkataanku barusan. Bersiap-siaplah untuk pengumuman itu. Tidak ada
penolakan." perintah Raja Arji.
Pangeran Dewo masih terpaku ditempatnya
berdiri. Sedetik demi sedetik berlalu tanpa keinginannya untuk bangun dari
keterkejutannya. Hingga, suara erangan lemah terdengar. "Kang Mas..."
ujar Nyai Dempul lemah.
Pangeran Dewo menoleh dan segera mendekat.
"Kau sudah siuman, Nimas."
Nyai Dempul melihat kesekeliling, heran.
"Aku kenapa, Mas?" tanyanya heran.
"Kau pingsan. Kau kelelahan." jawab
Pangeran Dewo menjelaskan.
Nyai Dempul berusaha bangun untuk duduk, tapi
dia malah terhuyung jatuh. Lagi-lagi, Pangeran Dewo segera meraih bahu Nyai
Dempul agar tidak jatuh dan membantunya duduk. "Kau belum kuat benar,
Nimas. Istirahatlah dulu." ujar Pangeran Dewo mengingatkan. Nyai Dempul
terdiam, mengiyakan bahwa dia memang sangat lelah. "Ayo, makan dulu."
ujar Pangeran Dewo yang mengambil semangkuk bubur di meja.
Nyai Dempul terpaksa menerima sendok demi
sendok suapan bubur dari Pangeran Dewo. "Sudah, aku kenyang..." tolak
Nyai Dempul seraya mengunci bibirnya rapat-rapat.
"Satu lagiiiiii..." pinta Pangeran
Dewo. Nyai Dempul menggeleng. "Ayo. satu lagi. Kasihan nanti buburnya
menangis." Pangeran Dewo kembali memohon. Nyai Dempul akhinya membuka
mulutnya lagi dan menerima suapan terakhir. Pangeran Dewo tersenyum.
"Sekarang istirahatlah. Nanti siang, ada
hal penting yang ingin kubicarakan denganmu, Nimas." ujar Pangeran Dewo
membantu Nyai Dempul kembali untuk merebahkan diri. Nyai Dempul memejamkan
mata.
Ketika Pangeran Dewo hendak beranjak dari
duduknya. Nyai Dempul langsung bergeming, "Tetaplah disini. Aku tidak
ingin dia (sapardi) datang kemari." gumamnya masih dengan mata tertutup.
Pangeran Dewo pun mengurungkan niatnya.
Benar saja, tak lama setelah Nyai Dempul
terlelap, Pangeran Dekik datang ke Paviliun tersebut. Betapa terkejutnya dia
mengetahui memasuki kamar Nyai Dempul bahwa Pangeran Dewo yang menjaganya.
"Oh, rupanya kau juga ada disini." Pangeran Dewo menoleh karena
mendengar sapaan Pangeran Dekik.
"Kudengar Nyai Dempul sedang sakit? Dia
memang perempuan lemah." ujar Pangeran Dekik lagi. Pangeran Dewo mendelik
kesal.
"Apa maksudmu, Sapardi?" tandas
Pangeran Dewo penuh amarah yang tertahan. "Hahaha... Aku hanya berujar
bahwa dia sangat lemah sebagai perempuan. Secara fisik dan hati. Bodoh karena
percaya dengan sebuah penantian omong kosong dan aku." balas Pangeran Dekik
yang melempar pandangan kasihan kearah Nyai Dempul.
Pangeran Dewo spontan berdiri dengan wajah
penuh emosi. Dia menunjuk orang didepannya itu, "Kau... Kalau kau memang
tidak peduli dengannya. Jangan memperalatnya. Jika kau tidak bisa menyayanginya
dengan tulus, aku yang akan melakukannya. Dengar Sapardi...!! Kau sebaiknya
keluar dari Paviliun ini. Dia memintaku agar kau tidak sedikitpun menjejakkan
kakimu disini." ujar Pangeran Dewo menumpahkan amarahnya. Pangeran Dekik
terkesiap. Matanya sempat terbelalak, tapi buru-buru dia normalkan
kekagetannya.
Pangeran Dekik menatap perempuan yang terbaring
lemah itu. Memohon maaf untuk segala luka yang harus diterimanya saat ini, tapi
dia tidak bisa membongkarnya. Dia harus tetap terlihat tak peduli padanya. Tapi...
apa sebegitu sakitnya kah? Hingga untuk menerima kehadiranku pun kau enggan.
Maaf Nimas. Semoga suatu hari nanti kau melihat betapa aku peduli padamu, bahwa
aku memiliki rasa yang juga serupa denganmu.
Jari telunjuk Pangeran Dewo kini mengarah ke pintu
keluar Paviliun Nyai Dempul. "Silahkan kau keluar. Aku tak mau Nimas
melihatmu jika bangun nanti." sahut Pangeran Dewo. Pangeran Dekik akhirnya
membalikkan badan dan berjalan keluar. Baru beberapa langkah, tiba-tiba
Pangeran Dewo memanggilnya kembali, "Kupastikan aku akan merebutnya
darimu." Pangeran Dekik cuma tersenyum sinis dan kembali berlalu
mengabaikannya.
Ditengah harapan Pangeran Dewo yang berkibar
tinggi, ada dua hati yang mendadak patah. Nyai Dempul tak sepenuhnya tertidur.
Dia mendengarkan percakapan itu. Memalingkan wajah lalu menangis. Sedih.
Sementara, Pangeran Dekik merasa gerah dengan ancaman Pangeran Dewo. Dia merasa
kerdil tak bisa membalas tantangan itu. Lidahnya kelu, hatinya remuk redam.
Tapi mungkin ini pengorbanan untuk kembalinya kerajaan Raja Adipta.
Terik siang hari, akhirnya membangunkan Nyai
Dempul. Keringatnya mengucur deras. Disentuhnya keningnya sendiri. Suhu
tubuhnya sudah kembali normal. Dia memaksakan untuk bangun meskipun masih
lemah. Pangeran Dewo nampak tak terlihat dikamarnya. "Mas Dewo..."
panggilnya lirih. Tak ada jawaban. Dia berjalan keluar kamarnya pelan-pelan.
"Mas Dewo." panggilnya lagi. Kembali
tak ada jawaban. Rupanya, Pangeran Dewo sedang tertidur, terlihat lengannya
memangku pipi. Meja tamu pun menjadi saksi bisu ketenangan Pangeran Dewo
menunggunya. Nyai Dempul mendekat, menarik kursi disebelah Pangeran Dewo. Duduk
dan ganti menunggu. Mengapa orang ini selalu baik. Tak sedikitpun, mengeluh.
Bahkan dia tak pernah bertanya ketika aku tak ingin bercerita, batinnya.
Selang beberapa waktu, Pangeran Dewo terbangun
karena sedikit terusik dengan helaan nafas yang teratur dari seseorang.
Dibukanya perlahan matanya. Nyai Dempul telah berada disebelahnya. Pangeran
Dewo terkesiap dan refleks menarik tubuhnya agak menjauh.
"Ni..mas..." sapanya terbata.
"Iya. Maaf membuatmu terbangun."
Jawab Nyai Dempul merasa bersalah.
"Tidak... tidak. Aku yang seharusnya minta
maaf." tandasnya.
"Sudah... Tidak usah minta maaf terus.
Bukankah tadi pagi, engkau hendak membicarakan sesuatu padaku? Ada apa,
Mas?" sahut Nyai Dempul mempertanyakan pesan Pangeran Dewo sebelum tidur
tadi. Air muka Pangeran Dewo berubah serius. Sebenarnya dia tidak berani
berspekulasi dengan kemungkinan jawaban ya. Tapi bagaimanapun juga, Nyai Dempul
harus menjawab ya, karena nyawanya dipertaruhkan dalam hal ini.
"Kenapa? Kau mendapat tugas untuk
membunuhku, ya?" tanya Nyai Dempul asal dengan tatapan kosong tanpa arah.
Pangeran Dewo sekali lagi dibuat terdiam dengan kata-kata Nyai Dempul. Tatapan
nanar itu seperti sedang menerawangi nasibnya. "Mengapa kau bicara seperti
itu, Nimas?" Pangeran Dewo menegurnya. "Atau mungkin kau harus
menikahiku untuk kepentingan kerajaan?" ujar Nyai Dempul begitu saja tanpa
sadar.
Deg! Pangeran Dewo seketika menoleh ke Nyai
Dempul. Seperti ingin menanyakan bagaimana bisa dia mengetahui semua ini?
"Betulkan, Mas?" tanya Nyai Dempul
yang akhirnya kembali fokus menatap Pangeran Dewo. Pangeran Dewo tidak berani
menjawab. Nyai Dempul berharap bahwa kata-katanya barusan adalah salah. Tapi reaksi
Pangeran Dewo begitu kentara. Gelagat kagetnya cukup membuktikan omongannya
benar.
Pangeran Dewo menghela nafas panjang. "Ya,
kau benar. Apapun yang kau pikirkan tentang semua ini tidak ada kaitannya
denganku. Saat ini aku belum bisa menentang rencana gila ayahku. Dengan
menyetujui pernikahan itulah kau tetap diizinkan hidup." jelas Pangeran
Dewo. "Tapi aku tahu... aku sadar kau hanya menganggapku seorang kakak.
Kau mencintai Lebah Penyengatmu." lanjutnya lagi ketika Nyai Dempul ingin
memotong pembicaraannya.
"Jangan bicara mengenai orang itu, aku
lelah berdebat dengan diriku sendiri. Memperdebatkan tentangnya. Tapi kalaupun
ada satu yang membuatku tetap ingin hidup adalah pesan terakhir Bopokku
terhadap kerajaannya. Jika jalan untukku tetap hidup adalah melalui engkau,
akan aku coba untuk tetap berada disampingmu." jawab Nyai Dempul datar.
"Baiklah, jika kau bersedia. Dalam
beberapa hari kedepan, ayahku akan membuat sebuah pertemuan besar dengan para
keluarga pejabat dan penasehat kerajaan. Kau tahu apa artinya itu, kan?"
ujar Pangeran Dewo menjabarkan.
"Ya, aku tahu. Sebuah pengumuman dan titah
penting sang raja. Dia akan mengumumkan rencana pernikahan itu?" jawab
Nyai Dempul sambil terus berpura-pura tegar.
"Ya. Dia akan mengumumkannya." tandasnya.
'Tes...' Air mata Nyai Dempul jatuh tanpa
dikomando. Hatinya perih. Dalam dua hari berturut-turut semua rencananya
berubah haluan. Sekarang dia malah kehilangan Pangeran Dekik dan hak dirinya
sendiri.
"Aku tahu ini berat untukmu. Tapi saat
ini, hanya itu yang bisa kau perbuat." sahut Pangeran Dewo menenangkan. Maka,
belajarlah untuk memberikan hatimu padaku, Nimas. Pintanya dalam hati.
Sore itu mendadak dingin bagi Nyai Dempul.
Bagaimana tidak, dalam dua hari ini rencananya kacau balau berubah haluan.
Bahkan dia harus kehilangan Pangeran Dekik dan hak dirinya sendiri. Seandainya
boleh, mungkin dia akan memilih untuk benar-benar lupa ingatan. Tapi nasi sudah
menjadi bubur, dia tidak bisa mundur lagi. Maju sampai akhir atau sudah bisa
dipastikan bahwa nyawanya akan tamat ditangan Raja Arji.
Sementara Nyai Dempul mengumpulkan sisa-sisa
kekuatannya. Pangeran Dekik memulai misi pamungkasnya. Dia mulai terlihat
sering menyusup keluar dari kerajaan Nyai Dempul saat malam hari. Kemudian
kembali sebelum fajar menyingsing. Dia merencanakan sesuatu. Sesuatu yang
besar. Dia bergerak dengan sangat hati-hati agar langkahnya tak terendus oleh
Raja Arji ataupun antek-anteknya.
Pangeran Dekik bertemu seseorang di tengah
hutan. Di dekat perbatasan kerajaannya dan kerajaan Nyai Dempul. Dia seperti
mengatur strategi, entah apa. Berkali-kali, dia jabarkan secara detail
rencananya ke orang tersebut. Orang tersebut mengangguk paham. Ketika bunyi
kokokan ayam sudah kian nyata terdengar. Mereka memutuskan untuk berpisah. Pangeran
Dekik kembali menyelinap masuk ke dalam dan berlagak terlelap tidur.
Bulan purnama keenam sudah mulai menampakkan
rupanya. Malam terlihat cantik dengan segala pesona misterinya. Kabutpun tengah
turun dengan dingin yang kian menyengat tulang. Semilir anginnya pun tiada
ampun membelai tengkuk dari orang-orang yang berjalan diatas dataran. Dan
terhitung mulai dari malam ini, persiapan jamuan makan malam dengan para
keluarga anggota pejabat dan penasehat kerajaan akan dilaksanakan.
Para abdi sudah mulai disibukkan dengan
menyiapkan bahan-bahan untuk hidangan makan nanti. Sebagian pengawal pun mulai
membantu membersihkan dan menghiaskan ruangan aula kerajaan. Bisik-bisik berita
terakbar abad ini pun telah santer terdengar. Setiap Pangeran Dewo dan Nyai Dempul
berjalan bersamaan, para abdi yang berpapasan selalu tersenyum sambil
berbisik-bisik membicarakan kecocokan mereka.
Nyai Dempul tidak ambil pusing dengan omongan
itu. Dia tetap berjalan tanpa mempedulikan apapun. Sekalipun dirinya sendiri.
Malam ini, dia akan menjalankan misinya sendiri, mencari para pejabat dan
penasehat yang tidak sepaham dengan Raja Arji. Mau tidak mau, dia harus bekerja
sendiri. Membawa Pangeran Dewo dalam misi ini, sama saja memunculkan sisi
penjilat dari mereka semua.
Meski dulu tidak terlalu sering bertemu dengan
para pejabat dan penasehat kerajaannya. Nyai Dempul paham sekali dengan
kepribadian mereka dari cerita-cerita Raja Adipta. Ya, Bopoknya sering sekali
memberikan sesi pelajaran hidup melalui pengenalan karakter dan kepribadian
anak buahnya. Beruntung sekali, Bopoknya juga selalu memberi tahu siapa-siapa
saja dari mereka yang bisa dipercaya.
Setiap malam, Nyai Dempul menyambangi satu demi
satu pintu dari beberapa para pejabat dan penasehat yang mungkin masih berpihak
kepada Mendiang Bopoknya. Dengan hati-hati, dia membuka pembicaraan. Dan pada
satu titik dimana dia merasa apakah mereka benar-benar masih berpihak, barulah
dia dengan gamblangnya mengajak mereka untuk berkonspirasi menggulingkan tahta
Raja Arji.
Meskipun awalnya mereka terlihat ragu, Namun
Nyai Dempul berhasil meyakinkan mereka. Melalui mereka, misi pendekatan ini
semakin meluas. Masih dalam keadaan dibawah tanah, Nyai Dempul dan beberapa
pejabat dan penasehat yang telah kembali berpihak kepadanya semakin melebarkan
target penarikan massa. Tidak hanya pengawal bahkan para abdi pun ikut
dilibatkan. Tentunya dengan penentuan matang dan seleksi ketat.
Tibalah, perhelatan besar yang dinanti-nantikan
Raja Arji. Sebuah perjamuan makan malam antara keluarga kerajaan dan keluarga
para pejabat dan penasehat kerajaan. Pakaian indah, hidangan lezat, tutur kata
dan perangai bangsa langit. Benar-benar jamuan makan trah atas. Nyai Dempul
gerah dengan aturan-aturan protokoler kerajaan yang mengharuskan dirinya duduk
manis tanpa suara. Dirias dengan polesan gincu termahal.
Banyak orang berdecak kagum melihat kecantikan
Nyai Dempul, termasuk Pangeran Dewo. Hari ini, pelayan khusus didatangkan untuk
mendandani Nyai Dempul. Baju berbahan sutra dipadukan kain batik jawa yang
elok, kesemuanya jatuh dengan apiknya terbalut di tubuh Nyai Dempul. Rambutnya
yang biasa tergerai, kini di sanggul. Tak lupa juga disematkannya tusuk konde
berlapis emas dan bertaburan intan permata.
Raja Arji pun terlihat sedang siap-siap menuju
mimbarnya. Hati Nyai Dempul mendadak dag dig dug. Dia tidak ingin pengumuman
ini sukses diproklamirkan. Nyai Dempul gelisah apalagi dia belum juga melihat
penampakan Pangeran Dekik. Tiba-tiba tangannya digenggam Pangeran Dewo. Namun,
mata Pangeran Dewo tak menatapnya, dia malah tengah sibuk membalas sapaan para
pejabat dan penasehat serta keluarga yang datang. Selalu.
Sedetik, semenit, Nyai Dempul masih terkesima
dengan perlakuan Pangeran Dewo. Dia bahkan tahu apa yang dia rasakan dan tahu
bagaimana menenangkan kegelisahan ini tanpa harus bertanya ini itu. Akhirnya
Nyai Dempul sedikit jauh lebih tenang. Sementara itu, Raja Arji sudah memulai
pidatonya. Pembicaraan pertamanya ada tenang rencana pernikahaan Nyai Dempul
dan Pangeran Dewo. Semua bertepuk tangan mengucapkan selamat.
Senyum kemenangan sepertinya tercetak jelas.
Apalagi ketika Pangeran Dewo mengajak Nyai Dempul untuk berdiri dan mengucapkan
terima kasih bagi setiap doa yang mengalun. Nyai Dempul sama sekali tak bisa
menyunggingkan senyum barang secuil pun. Matanya panas menahan tangis yang tak
boleh pecah. Bahkan ketika Pangeran Dekik memasuki ruangan dan bertemu mata
dengannya. Semua tiba-tiba menjadi beku.
Aku melihat wajah perempuan itu. Cantik.
Anggun. Seharusnya aku yang berada disampingnya. Berdiri gagah menemaninya.
Bukan dia. Bukan Dewo, Nimas. Batin Pangeran Dekik dalam hati. Hati yang kini
rapuh. Nelangsa. Tatapannya tak bisa berdusta. Dia sedih menyaksikan Nyai
Dempul bersanding dengan seseorang yang bukan dirinya. Dan kesedihan itu
tertangkap jelas oleh Nyai Dempul. "Kang Mas..." Lirihnya.
Pangeran Dekik langsung membuang muka dan
pura-pura mengabaikan pasangan itu. Pangeran Dekik berjalan melewati mereka.
Dia bergegas menghampiri Raja Arji yang sudah menunggunya. Raja Arji menjabat
tangan Pangeran Dekik, menyambutnya sebagai tamu kehormatan. Karena seperti
diketahui pada akhirnya, Raja Arji sejauh ini berpikiran telah berhasil
membangun kembali kerjasama dengan kerajaan Pangeran Dekik.
"Wahai tamu-tamuku yang kuhormati. Berilah
sambutan yang paling hangat untuk tamu kehormatanku dari Kerajaan seberang.
Sapardi atau yang lebih akrab ditelinga kalian sebagai Pangeran Dekik. Dalam
dua minggu kedepan, kita akan bekerja sama menemukan harta karun di bukit
utara." ucap Raja Arji dengan berapi-api. Seketika pula, seisi ruangan itu
bertepuk tangan senang.
Pangeran Dekik ikut naik ke atas mimbar.
Dihadapannya terlihat para tamu mengelu-elukannya. Pangeran Dekik mencoba
menjelaskan perihal keberadaan harta di bukit utara sambil mengangkat tinggi
petanya. Nyai Dempul yang kenal betul tentang sejarah bukit utara. Merasa
janggal dengan pernyataan dan rencana Pangeran Dekik. Ada yang tidak beres.
Pasti ada sesuatu yang disembunyikannya. Batin Nyai Dempul.
Selesai menjabarkan rencana tersebut, Pangeran
Dekik turun dari mimbar dan duduk di bangku seberang yang berhadapan langsung
dengan Nyai Dempul. Entah kekuatan dari mana, Nyai Dempul menatapnya dengan
tajam. Seperti menyiratkan pertanyaan mengenai semua kejanggalan ini. Ganti
Pangeran Dekik yang membuang pandangan ke arah lain. Sama sekali tak berani
membalas tatapan itu. "Kau berbohong, Sapardi." gumam Nyai Dempul.
Pangeran Dewo yang samar-samar mendengar Nyai
Dempul menandaskan sesuatu, langsung menoleh dan mempertanyakan hal tersebut.
"Ada apa? Kau berbicara padaku?" tanya Pangeran Dewo. Nyai Dempul
menggeleng, "Tidak. Kau mungkin salah mendengar." sangkalnya.
Pangeran Dewo merasa tidak salah mendengar. Jelas-jelas Nyai Dempul mengatakan
sesuatu sambil menatap tajam kearah Pangeran Dekik. "Oh. Mungkin ya aku
salah dengar."
Raja Arji kemudian berteriak seperti hendak
mengumpulkan perhatian para tamu. "Baiklah semua. Aku perintahkan kalian
untuk ikut bersamaku dalam misi menemukan harta karun ini. Bukit Utara akan
menjadi saksi bisu kekuatan kita. Setelah misi ini selesai, aku akan menggelar
perhelatan besar di bulan Purnama ketujuh, pernikahan anakku dengan Nyai Dempul.
Siapa yang menentang, kukabulkan kematiannya. Ini Titahku!"
■■■■
No comments:
Post a Comment