Monday, 30 June 2014

Cerbung: Pangeran Dekik dan Nyai Dempul (part1)

Part 1 

Rinduku pada Nyai Dempul Kecil

Nyai Dempul berkata: "Jangan angkat cerminmu jika rupa pujaanmu tak seelok puteri bangsawan karena tak akan dia tak akan cukup mengalahkan kecantikanku."

Pangeran Dekik membalas: "Jika cerminmu bisa mengukur kecantikanmu lantas mengapa hatiku tak bergetar padamu? Justru gadis desa yang ceroboh itu yang sanggup memenuhi dadaku dengan sesaknya rindu?"
Nyai Dempul murka. Pangeran Dekik hanya terus memandangnya kasihan.

Pangeran Dekik lalu berujar pelan, "Tidakkah kau kasihan dengan dirimu, Nyai Dempul?"

Nyai Dempul melontarkan senyum sinis, "Cih! Mengapa aku harus kasihan dengan diriku. Aku ini cantik. Siapa yang meragukan kecantikanku."

Pangeran Dekik menggangguk, "Benar, kau memang cantik. Tidak, aku yakin tidak ada seorang pun yang meragukan itu. Hanya saja sebagai perempuan, kau bagai porselen. Indah dalam jangkauan mata."

Nyai Dempul tertawa mengejek, "Kau bilang aku seperti porselen. Kau itu bodoh atau dungu? Porselen itu benda mahal. Mengkilap. Dan tak bisa sembarang orang memilikinya."

Pangeran kembali tersenyum, "Kau benar, Wahai Nyai. Tapi lupakah engkau bahwa seperti porselen itu mudah pecah."

Nyai Dempul mendelik, "Apa maksudmu?"

Ganti Pangeran Dekik terkikik, "Sekarang aku tanya kembali, Aku atau engkau yang bodoh?"

Nyai Dempul mulai tak kerasan dengan penyudutan itu, "Apa maksudmu?"

Pangeran Dekik segera mengambil guci porselen disebelahnya, "lihat ini." Pangeran Dekik mengangkat benda itu tinggi-tinggi, lalu menjatuhkannya. "Pecah, bukan?" Ujarnya santai.

Nyai Dempul diam, wajahnya makin masam merasa tersindir. "Lalu apa yang istimewa dari gadis ceroboh itu? Perumpamaan apa yang hendak kau sandangkan untuknya?" sahutnya.

Pangeran Dekik mengambil tempat di pinggiran pendopo, matanya menerawang ke langit,"Dengar ini baik-baik, Wahai Nyai Dempul. Dia tidak seistimewa bunga mawar dengan rentetan keharumannya, dia tidak seistimewa berlian dengan segala kemilaunya, dia tidak seistimewa wajah para puteri bangsawan yang luar biasa cantik."

Nyai Dempul memotong percakapan itu, "Lantas apa yang membuatnya istimewa dihadapanmu?" marahnya.

Lidah Pangeran Dekik mendadak kelu, ingatannya akan masa kecil seperti menariknya masuk kembali. "Dia istimewa dengan segala kesederhanaanya. Dia menawan dengan sosok jenakanya. Aku mengenalnya sedari kecil. Dan aku rindu padanya. Selalu. Aku rindu keingintahuannya tentangku. Aku rindu pada senyum dan tembangannya yang membumi. Dan sosokmu seperti dirinya jika kau lepaskan segala ke-aku-anmu dalam wujudmu hari ini."

Hati Nyai Dempul bergemuruh. Dia merasakan hantaman demi hantaman yang tak bisa dia jelaskan. Ada apa ini, batinnya resah. Lutut Nyai Dempul gontai, dia jatuh terduduk. Pangeran Dekik buru-buru menangkap tubuh yang roboh itu sebelum lengkap mencium tanah. "Kau baik-baik saja, Nyai?" ujar Pangeran Dekik khawatir.

Nyai Dempul diserang rasa heran, "Untuk apa kau menolongku, jika kau tak menggubrisku sejak tadi?"

Pangeran Dekik membopong Nyai Dempul ke pendopo dan membantunya untuk duduk dengan baik. Nyai Dempul kembali mengulangi pertanyaannya, "Mengapa engkau menolongku?"

Pangeran Dekik tersenyum. Tangannya menyentuh lutut Nyai Dempul. "Lekaslah sembuh. Lututmu selalu melemas sejak kecil."

Keheranan Nyai Dempul semakin membuncah, "Apa maksudmu?"

Pangeran Dekik lagi-lagi hanya tersenyum, "Kau tak ingat aku?"

Nyai Dempul menggeleng, "Bukankah kau seorang Pangeran yang datang untuk bekerja sama dengan pamanku? Dan aku baru saja mengenalmu beberapa bulan ini. Dan aku mendadak merasa iri kepada gadis pujaanmu yang selalu kau kirimkan puisi. Aku selalu melihatmu saat kau tuliskan bait demi bait puisi di lembar daun lontar yang telah kering yang lalu kau sematkan dibalik bilik rotan kamarmu." ujarnya lirih.

Pangeran Dekik membuang mukanya sedikit menahan emosi. "Dia bukan pamanmu, Nyai. Dia hanya penasihat kerajaan busuk yang iri dan gila."

Nyai Dempul menarik lengan Pangeran Dekik, "Sudah gila rupanya hingga berani berkata tak sopan pada Raja."

Pangeran Dekik menunduk menahan remuk dihatinya, "Jika dia raja, sudahkah dia menjadi raja yang amanah? Tidakkah kau lihat rakyatnya banyak yang menjadi bermuka dua? Jika dia Raja lantas apa posisi mendiang bopokmu, Nyai? Lalu mengapa dia mati-matian merubahmu bahkan hingga mengganti namamu?"

Nyai Dempul terperangah tak percaya, "Siapa kamu sebenarnya? Mengapa kau ceritakan ini padaku? Apa maksudmu? Ini gila."

Pangeran Dekik kembali mencoba menatap manik mata Nyai Dempul, "Nimas Naratih, tidakkah kau ingat teman kecilmu yang selalu kau kejar-kejar karena kau suka sekali dengan dekik di pipiku? Aku Sapardi, Nimas. Aku mohon ingatlah."

Mata Nyai Dempul berkaca-kaca, "Lama sekali kau datang, Pangeran Dekik."

Ganti Pangeran Dekik yang terkejut, "Kau ingat, Nyai, ah maksudku Nimas?"

Nyai Dempul menggangguk, "Ya, aku ingat." Mata Nyai Dempul berlinangan airmata. Tatapan angkuh yang sebelumnya terpancar dari matanya, sudah nanar meredup, berganti sorot teduh miliknya ketika kecil dahulu.

Pangeran Dekik menghapus jejak air mata yang tertinggal di pipi Nyai Dempul, "Aku rindu padamu. Mengapa kau lakukan ini, Nimas? Bahkan tak sekalipun kau mengirimi surat untukku? Aku nyaris setengah mati mencari cara untuk menerobos masuk ke kerajaanmu."

Nyai Dempul mulai bercerita, "Aku terpaksa merubah jati diriku. Kulakukan agar pamanku tak curiga bahwa aku masih menjadi ancaman baginya. Aku pura-pura hilang ingatan. Nyai Dempul adalah nama pemberiannya. Sakit rasanya mengetahui Bopok telah tiada dan aku tak bisa menghadiri pemakamannya. Aku hampir gila, Mas. Muak rasanya menjadi Nyai Dempul yang bukan aku. Aku rindu dengan Nimas Naratihku. Hingga suatu hari kau datang. Aku tahu itu kau, Kang Mas Sapardi. Harapan itu kembali muncul tapi aku tak tahu cara memberitahumu. Belum apa-apa kau membuatku nelangsa karena setiap harinya kau menulis puisi untuk seseorang yang tak kukenali dengan Inisial NA. Aku didera cemburu."

Pangeran Dekik tersenyum, "Kau masih saja sebodoh dahulu. Untuk apa kau cemburu dan iri terhadap sosok yang tak lain adalah dirimu sendiri. Aku sengaja menaruh puisi-puisi itu dengan tujuan membuatmu ingat akan dirimu. Tapi ternyata Nyai Dempul tak pernah lupa jati dirinya. Haha... Oh Tuhan, ini gila."

Nyai Dempul menarik kepalanya keluar dari dekapan Pangeran Dekik, "Lalu apakah arti ‘NA’ itu, Mas?"

Pangeran Dekik terkekeh, "Rahasia. Sudahlah tak penting inisial itu. Apakah masih menjadi hal utama ketika apa yang menjadi pusaran gelisahmu sudah terjawab? Tidakkah kau rindu padaku, Nimas?"

Rona pipi Nyai Dempul memerah, "Perlu kau tanya lagi?"

Pangeran Dekik menarik kembali Nyai Dempul kembali kepelukannya, "Kurasa tidak perlu lagi kutanyakan. Getar itu sudah sampai kedadaku." Ujarnya.


■■■■

No comments:

Post a Comment