Part 1
Rinduku pada Nyai Dempul Kecil
Nyai Dempul berkata: "Jangan angkat
cerminmu jika rupa pujaanmu tak seelok puteri bangsawan karena tak akan dia tak
akan cukup mengalahkan kecantikanku."
Pangeran Dekik membalas: "Jika cerminmu
bisa mengukur kecantikanmu lantas mengapa hatiku tak bergetar padamu? Justru
gadis desa yang ceroboh itu yang sanggup memenuhi dadaku dengan sesaknya
rindu?"
Nyai Dempul murka. Pangeran Dekik hanya terus
memandangnya kasihan.
Pangeran Dekik lalu berujar pelan,
"Tidakkah kau kasihan dengan dirimu, Nyai Dempul?"
Nyai Dempul melontarkan senyum sinis,
"Cih! Mengapa aku harus kasihan dengan diriku. Aku ini cantik. Siapa yang
meragukan kecantikanku."
Pangeran Dekik menggangguk, "Benar, kau
memang cantik. Tidak, aku yakin tidak ada seorang pun yang meragukan itu. Hanya
saja sebagai perempuan, kau bagai porselen. Indah dalam jangkauan mata."
Nyai Dempul tertawa mengejek, "Kau bilang
aku seperti porselen. Kau itu bodoh atau dungu? Porselen itu benda mahal.
Mengkilap. Dan tak bisa sembarang orang memilikinya."
Pangeran kembali tersenyum, "Kau benar,
Wahai Nyai. Tapi lupakah engkau bahwa seperti porselen itu mudah pecah."
Nyai Dempul mendelik, "Apa maksudmu?"
Ganti Pangeran Dekik terkikik, "Sekarang
aku tanya kembali, Aku atau engkau yang bodoh?"
Nyai Dempul mulai tak kerasan dengan penyudutan
itu, "Apa maksudmu?"
Pangeran Dekik segera mengambil guci porselen
disebelahnya, "lihat ini." Pangeran Dekik mengangkat benda itu
tinggi-tinggi, lalu menjatuhkannya. "Pecah, bukan?" Ujarnya santai.
Nyai Dempul diam, wajahnya makin masam merasa
tersindir. "Lalu apa yang istimewa dari gadis ceroboh itu? Perumpamaan apa
yang hendak kau sandangkan untuknya?" sahutnya.
Pangeran Dekik mengambil tempat di pinggiran
pendopo, matanya menerawang ke langit,"Dengar ini baik-baik, Wahai Nyai
Dempul. Dia tidak seistimewa bunga mawar dengan rentetan keharumannya, dia
tidak seistimewa berlian dengan segala kemilaunya, dia tidak seistimewa wajah
para puteri bangsawan yang luar biasa cantik."
Nyai Dempul memotong percakapan itu,
"Lantas apa yang membuatnya istimewa dihadapanmu?" marahnya.
Lidah Pangeran Dekik mendadak kelu, ingatannya
akan masa kecil seperti menariknya masuk kembali. "Dia istimewa dengan
segala kesederhanaanya. Dia menawan dengan sosok jenakanya. Aku mengenalnya
sedari kecil. Dan aku rindu padanya. Selalu. Aku rindu keingintahuannya
tentangku. Aku rindu pada senyum dan tembangannya yang membumi. Dan sosokmu
seperti dirinya jika kau lepaskan segala ke-aku-anmu dalam wujudmu hari
ini."
Hati Nyai Dempul bergemuruh. Dia merasakan
hantaman demi hantaman yang tak bisa dia jelaskan. Ada apa ini, batinnya resah.
Lutut Nyai Dempul gontai, dia jatuh terduduk. Pangeran Dekik buru-buru
menangkap tubuh yang roboh itu sebelum lengkap mencium tanah. "Kau
baik-baik saja, Nyai?" ujar Pangeran Dekik khawatir.
Nyai Dempul diserang rasa heran, "Untuk
apa kau menolongku, jika kau tak menggubrisku sejak tadi?"
Pangeran Dekik membopong Nyai Dempul ke pendopo
dan membantunya untuk duduk dengan baik. Nyai Dempul kembali mengulangi
pertanyaannya, "Mengapa engkau menolongku?"
Pangeran Dekik tersenyum. Tangannya menyentuh
lutut Nyai Dempul. "Lekaslah sembuh. Lututmu selalu melemas sejak
kecil."
Keheranan Nyai Dempul semakin membuncah,
"Apa maksudmu?"
Pangeran Dekik lagi-lagi hanya tersenyum,
"Kau tak ingat aku?"
Nyai Dempul menggeleng, "Bukankah kau
seorang Pangeran yang datang untuk bekerja sama dengan pamanku? Dan aku baru
saja mengenalmu beberapa bulan ini. Dan aku mendadak merasa iri kepada gadis
pujaanmu yang selalu kau kirimkan puisi. Aku selalu melihatmu saat kau tuliskan
bait demi bait puisi di lembar daun lontar yang telah kering yang lalu kau
sematkan dibalik bilik rotan kamarmu." ujarnya lirih.
Pangeran Dekik membuang mukanya sedikit menahan
emosi. "Dia bukan pamanmu, Nyai. Dia hanya penasihat kerajaan busuk yang
iri dan gila."
Nyai Dempul menarik lengan Pangeran Dekik,
"Sudah gila rupanya hingga berani berkata tak sopan pada Raja."
Pangeran Dekik menunduk menahan remuk
dihatinya, "Jika dia raja, sudahkah dia menjadi raja yang amanah? Tidakkah
kau lihat rakyatnya banyak yang menjadi bermuka dua? Jika dia Raja lantas apa
posisi mendiang bopokmu, Nyai? Lalu mengapa dia mati-matian merubahmu bahkan
hingga mengganti namamu?"
Nyai Dempul terperangah tak percaya,
"Siapa kamu sebenarnya? Mengapa kau ceritakan ini padaku? Apa maksudmu?
Ini gila."
Pangeran Dekik kembali mencoba menatap manik
mata Nyai Dempul, "Nimas Naratih, tidakkah kau ingat teman kecilmu yang
selalu kau kejar-kejar karena kau suka sekali dengan dekik di pipiku? Aku
Sapardi, Nimas. Aku mohon ingatlah."
Mata Nyai Dempul berkaca-kaca, "Lama
sekali kau datang, Pangeran Dekik."
Ganti Pangeran Dekik yang terkejut, "Kau
ingat, Nyai, ah maksudku Nimas?"
Nyai Dempul menggangguk, "Ya, aku
ingat." Mata Nyai Dempul berlinangan airmata. Tatapan angkuh yang sebelumnya
terpancar dari matanya, sudah nanar meredup, berganti sorot teduh miliknya
ketika kecil dahulu.
Pangeran Dekik menghapus jejak air mata yang
tertinggal di pipi Nyai Dempul, "Aku rindu padamu. Mengapa kau lakukan
ini, Nimas? Bahkan tak sekalipun kau mengirimi surat untukku? Aku nyaris
setengah mati mencari cara untuk menerobos masuk ke kerajaanmu."
Nyai Dempul mulai bercerita, "Aku terpaksa
merubah jati diriku. Kulakukan agar pamanku tak curiga bahwa aku masih menjadi
ancaman baginya. Aku pura-pura hilang ingatan. Nyai Dempul adalah nama
pemberiannya. Sakit rasanya mengetahui Bopok telah tiada dan aku tak bisa
menghadiri pemakamannya. Aku hampir gila, Mas. Muak rasanya menjadi Nyai Dempul
yang bukan aku. Aku rindu dengan Nimas Naratihku. Hingga suatu hari kau datang.
Aku tahu itu kau, Kang Mas Sapardi. Harapan itu kembali muncul tapi aku tak
tahu cara memberitahumu. Belum apa-apa kau membuatku nelangsa karena setiap
harinya kau menulis puisi untuk seseorang yang tak kukenali dengan Inisial NA.
Aku didera cemburu."
Pangeran Dekik tersenyum, "Kau masih saja
sebodoh dahulu. Untuk apa kau cemburu dan iri terhadap sosok yang tak lain
adalah dirimu sendiri. Aku sengaja menaruh puisi-puisi itu dengan tujuan
membuatmu ingat akan dirimu. Tapi ternyata Nyai Dempul tak pernah lupa jati
dirinya. Haha... Oh Tuhan, ini gila."
Nyai Dempul menarik kepalanya keluar dari
dekapan Pangeran Dekik, "Lalu apakah arti ‘NA’ itu, Mas?"
Pangeran Dekik terkekeh, "Rahasia.
Sudahlah tak penting inisial itu. Apakah masih menjadi hal utama ketika apa yang menjadi pusaran gelisahmu sudah terjawab? Tidakkah kau rindu padaku,
Nimas?"
Rona pipi Nyai Dempul memerah, "Perlu kau
tanya lagi?"
Pangeran Dekik menarik kembali Nyai Dempul
kembali kepelukannya, "Kurasa tidak perlu lagi kutanyakan. Getar itu sudah
sampai kedadaku." Ujarnya.
■■■■
No comments:
Post a Comment