Saturday, 18 October 2014

Pendekar Ayu dan Pangeran Dewo (Part 3)

Part 3

Jejak Kaki Kuda dan Senyum Sang Penunggang

Dewo kembali membaca surat dari Nimas. Berkali-kali keningnya mengernyit, memikirkan sesuatu. Sepertinya Kerajaan Teratai Putih yang dimaksud cukup bersahabat ditelinga. Kerajaan itu memang tidak jauh dari tempat tinggalnya kini. Hanya saja, jika tidak salah mengingat... Mendiang Bopoknya pernah berpesan untuk tidak mendekati kerajaan tersebut.

Ada semacam mitos mengerikan yang berkembang di masyarakat luas ketika ada orang luar yang mencoba menerobos kerajaan tersebut. Dewo mengingat-ingat kembali kutukan yang pernah didengarnya terkait dengan mitos tersebut, “Orang Baru Membatu Orang Lama Memangsa.” Dewo menggangguk seraya membenarkan ucapannya sendiri.

Tapi surat dari Nimas bukan sembarang surat yang bisa dengan seenaknya diabaikan. Surat ini titah. Sebuah amanah. Jadi, sudah bisa dipastikan Dewo harus turun tangan menyelidiki lahan pertanian yang ada disana. Dewo segera berkemas. Dibawanya sedikit makanan untuk perbekalan selama di perjalanan. Sebuah peta pun tak ketinggalan dibawa bersamanya. Dan yang terakhir, Dewo menyiapkan kuda kesayangannya.

Perjalanan pun dimulai. Dewo menunggangi kudanya menyusuri jalan menuju ujung dari Desa Ilalang. Pemandangan pertama yang tersaji dihadapannya adalah sebuah sungai yang jernih tapi dangkal. Dengan mudahnya kuda Dewo menyeberangi sungai tersebut. Desa demi desa Dewo lewati. Semakin mendekati wilayah Kerajaan Teratai Putih, semakin besar hembusan cerita terkait dari mitos mengerikan bagi para pendatang. Setiap kali menjawab keingin-tahuan orang-orang – yang berpapasan di jalan – tentang kemana tujuan dari perjalanannya, ekspresi yang muncul dari mereka adalah tatapan kaget. Keterkejutan yang ditampilkan selalu menghentikan mereka untuk bertanya lebih lanjut kepada Dewo. Tapi Dewo enggan menanggapi reaksi mereka atau bahkan sekedar bertanya atas mitos itu.

Dewo kembali melanjutkan perjalanannya. Memasuki sebuah hutan yang seperti jarang dilewati oleh orang. Bisa jadi karena adanya mitos di kerajaan ini, maka para pendatang mengurungkan niatnya untuk berkunjung kesini. Di dalam hutan ini, Dewo mendapati sebuah batu besar yang terukir diatasnya sebuah tulisan: DAERAH KEKUASAAN KERAJAAN TERATAI PUTIH. Dewo sadar bahwa dirinya ternyata sudah masuk kedalam wilayah Kerajaan Teratai Putih. Dewo harus semakin berhati-hati. Ditingkatkannya kewaspadaan.

Tak lama setelah melewati batu besar itu, Dewo menemukan jejak kaki kuda lain selain jejak kuda miliknya. Lalu Dewo mencoba mengikuti kemana jejak kaki kuda tersebut akan berhenti. Perlahan tapi pasti, kuda Dewo akhirnya membawa dirinya semakin masuk ke dalam jantung hutan. Dilihatnya seekor kuda hitam sedang diistirahatkan. Sepertinya, itu kuda yang jejak kakinya Dewo ikuti. Jejak kaki kuda itu tak lagi tak bertuan. Seorang perempuan yang tengah memetik beberapa lembar daun nampaknya penunggang kuda hitam itu.

Dewo lantas turun dari punggung kudanya, tapi pijakan pertama Dewo di tanah ternyata mengusik perempuan diseberang sana. Perempuan itu menoleh dan langsung bersiaga terhadap calon penganggunya. “Maaf kalau saya mengusikmu. Sungguh saya tak bermaksud seperti itu.” permintaan maaf itu mengalun dari bibir Dewo.

Sontak antisipasi perempuan itu luntur seketika, ketika melihat sosok Dewo jauh dari kesan jahat ataupun penuh dengan embel-embel ancaman. Perempuan itu lalu tersenyum menyapanya. Ganti Dewo terdiam melihat sosok perempuan yang tengah menyuguhkan senyum untuknya. Senyum yang menenangkan. Seperti senyum para bidadari di khayangan. Dewo tertegun, makin terpesona. Perempuan itu begitu ayu, batinnya. 

Tuesday, 9 September 2014

Pendekar Ayu dan Pangeran Dewo (Part 2)

Part 2

Desa Ilalang dan Permohonan Sang Ratu 

Fajar pagi sudah mulai menyingsing di Desa Ilalang. Sayup-sayup bunyi kokokan ayam membangunkan Dewo yang tengah terlelap tidur. Perlahan matanya dibuka. Dipaksakan tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang. Entah ini sudah minggu ke berapa dia berkabung. Setiap harinya Dewo harus mewaraskan pikirannya dan berkali-kali menyahut kapada dirinya sendiri bahwa Bopoknya sudah tidak lagi menjadi bagian nyata di dalam kehidupan ini.

Dewo beranjak menuju bale di depan rumahnya sambil menenteng sepiring penuh ganyong yang hendak disantapnya. Dewo duduk dan mulai menyantap hidangannya itu. Tak lama kemudian, terdengar bunyi tapak kuda yang bergerak cepat kearahnya. “Siapa kiranya pagi-pagi memacu kuda dengan begitu cepat?” gumamnya seraya melongokkan kepala ke asal suara.

Beberapa orang mulai nampak terlihat menunggangi kudanya dan terus bergerak maju kerumahnya. Ternyata rombongan berkuda itu adalah tamu untuknya. Kuda-kuda tersebut lantas dihentikan oleh para penunggangnya. Salah satu diantara mereka turun dan membawakan sebuah gulungan untuk Dewo, “Kami membawa surat dari Ratu Nimas Naratih untuk Yang mulia Pangeran Dewo.” Dewo lekas mengambil gulungan surat itu dari tangan sang pengawal. Buru-buru membuka dan membaca isinya.

Tertanda untuk Kang Mas Dewo,

Apa kabarmu disana, Kang mas? Semoga kesedihanmu atas meninggalnya Paman Arji sudah kian surut. Aku dengar bahwa pada akhirnya kang mas memilih untuk menetap di Desa Ilalang. Aku cukup terkejut mendengarnya, meskipun begitu... aku yakin bahwa kang mas memiliki alasan khusus dan aku menghormati keputusan kang mas. Namun, jika kang mas ingin pulang. Kerajaan ini akan selalu menjadi rumahmu.

Kang mas, ada yang harus kuberitahukan kepadamu. Tak jauh dari Desa Ilalang terdapat sebuah Kerajaan yang bernama Teratai Putih. Dari kabar burung yang kudengar, kerajaan itu memiliki lahan pertanian yang sangat bagus. Bisakah aku meminta bantuanmu untuk mencari tahu kebenarannya? Jika kabar itu benar, bisakah kau mengamatinya lebih lanjut untukku? Aku sangat ingin menerapkan hal yang serupa pada Kerajaan Elang Putih. 

Terima kasih Kang Mas... Aku dan Kang Mas Sapardi selalu mendoakanmu dari sini.

Dewo menggulung kembali surat tersebut. Secuil senyum mulai tersungging di sudut bibirnya. Sebentuk senyum yang meremehkan dirinya sendiri. Bahkan hingga kini, Dewo masih belum sepenuhnya bisa melupakan perempuan yang paling dicintainya itu. Ya, bayangan Nimas Naratih memang ternyata masih berada direlung hatinya.

Dan itu membuat dirinya tidak bisa untuk menolak permohonan bantuan itu. Dewo menyanggupi permintaan Nimas Naratih. Maka, dia tuliskan balasan surat. “Berikan ini kepada yang mulia ratu.” ujarnya mengulurkan surat balasan itu kepada para pengawal dihadapannya. Sang pengawal pun menerima dan langsung beranjak pergi dari kediaman Dewo.

Friday, 29 August 2014

Pendekar Ayu dan Pangeran Dewo (Part 1)

Part 1

Permulaan Dunia Dewo 

Setelah berakhirnya Perang Angin Utara, Kerajaan Elang Putih kembali berjaya. Ditangan Ratu Nimas Naratih (Nyai Dempul) dan  Raja Sapardi (Pangeran Dekik), kerajaan tersebut menemukan kembali kedamaiannya sebagaimana dahulu kala ketika mendiang Raja Adipta masih memegang tampuk kekuasaan. Sementara itu, Raja Arji harus menerima hukuman atas apa yang telah dilakukannya yaitu dengan melepaskan status rajanya dan diasingkan. Pasca kedua hal itu diberlakukan, keadaan Raja Arji jauh dari kata penuh kekuatan karena diasingkan tanpa satu orang anak buah pun, kecuali Pangeran Dewo yang memilih untuk menemaninya pada kondisi tersulit yang nampaknya terus menggerogoti kondisi kesehatannya.

Tempat pengasingan yang menjadi rumah mereka kini ternyata bukanlah suatu tempat yang mengerikan layaknya anggapan yang berkembang dari orang-orang. Beruntunglah Ratu Nimas Naratih mewarisi kebijaksanaan dari mendiang Raja Adipta sehingga Raja Arji diasingkan di suatu tempat yang tidak terlalu buruk walaupun keberadaannya sangat jauh dari Kerajaan Elang Putih. Ya, Pangeran Dewo telah memohon kepada Ratu Nimas Naratih sebelum titah hukuman itu dijatuhkan kepada bopoknya, dia meminta agar diberikan sebuah tempat yang tetap dalam koridor manusiawi sebagai tempat pengasingan untuk bopoknya.

Selama masa pengasingan itu, Raja Arji memang banyak berubah. Ada sisi baru dari Raja Arji yang muncul dan membuat Pangeran Dewo bahagia. Pangeran Dewo mendapatkan sosok bopok yang diidamkannya sejak dulu. Sosok bopok yang arif dan bijaksana sebagaimana sosok yang selalu dilihatnya dari Raja Adipta, bopok dari Ratu Nimas Naratih. Bagi Pangeran Dewo, masa yang paling berharga adalah dimana dirinya sebagai seorang anak yang dapat menemani bopok tercintanya tanpa pernah memikirkan apakah ini akan jadi saat-saat terakhir antara dirinya dengan sang bopok atau tidak. Meskipun begitu, Pangeran Dewo merasa sangat bersyukur karena pernah diberikan kesempatan berharga itu.

Sebelum Raja Arji meninggal, banyak waktu yang sempat dihabiskan oleh Pangeran Dewo bersama sang bopok. Mereka berjalan dipadang rumput indah, melihat kelangit. Bahkan sering sekali sang bopok tertegun dan seraya mengungkapkan penyesalannya pada apa yang telah dilakukannya selama ini. “Maaf, jika bopok pernah membuangmu ke satu tempat yang sangaaat jauh dengan dalih agar kau mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan di Kerajaan Elang Putih, padahal sebenarnya bopok ingin memisahkanmu dengan Nimas Naratih. Bopok berpikir bahwa jika kau masih ada disana ketika bopok melakukan kudeta pada pemerintahan Raja Adipta, kau mungkin bisa jadi penghalang bopok. Tapi kenyataannya, tekadmu menghalauku kian kentara dan justru ditanganmulah bopok kalah. Dan sekarang bopok menyadari bahwa membuangmu disana ternyata adalah kesalahan terbesar bopok. Bopok minta maaf karena tidak pernah menjadi seseorang yang bisa kau banggakan. Kelak, jika bopok mati nanti, kenang bopok di waktu ini. Di saat bopok bisa menjadi sosok bopok yang membuatmu jauh lebih baik. Gandewo Bandiman Bayu, anakku... bopok bangga padamu. Kelak jadilah manusia yang bisa memanusiakan manusia lain disekitarmu.”

“Bopok, jangan bicara seolah-olah kau akan pergi jauh dan meninggalkanku sendiri.” ujar Pangeran Dewo yang berubah khawatir. “Nak, kau tidak akan sendirian meski bopok mati. Kelak, kau akan menemukan perempuan yang menemanimu, bagaimanapun keadaanmu. Perempuan itu akan berdiri sebagai pihak yang selalu percaya padamu meski kau sendiri ragu pada dirimu. Bopok yakin dia bukan perempuan biasa. Dia pasti sama sepertimu, seorang yang berjiwa pelindung. Kau akan bahagia bersamanya. Kelak jika kau sudah bertemu dengannya, kau akan melihat jiwa yang lembut yang terbalut tekad sekuat baja. Dialah nanti perempuan ayumu dan dia akan menjagamu selamanya.” Itulah pesan terakhir Raja Arji yang tidak akan pernah dilupakan oleh Pangeran Dewo.    

Kini Raja Arji telah menyatu kembali kedalam tanah, pergi meninggalkan kehidupan ini. Yang tersisa adalah kenangan-kenangan terakhir yang indah meski hanya Pangeran Dewo yang menjadi saksinya. Dalam setiap doanya, semoga serentetan kekhilafan yang pernah dilakukan oleh Bopoknya bisa dimaafkan Tuhan melalui pengasingan yang telah dijalani di sisa hidupnya. Dan untuk itulah, Pangeran Dewo akhirnya memilih untuk tetap berada ditempat pengasingan dan melanjutkan hidup.

Dongeng: “Permulaan Dunia Dewo” – Tamat (Bersambung ke seri Pendekar Ayu dan Pangeran Dewo selanjutnya)

Monday, 30 June 2014

Si Kecil Sekolah

Ditulis 11 Juli 2011

Dengan badan yang terbilang kecil... Digembloglah tas sekolahnya yang ukurannya lebih besar dari badannya... Sesekali terhuyung kebelakang karena isi tasnya yang penuh.

Dibalik pintu keluar sudah ada ibu yang selalu berdandan rapi untuk mengantarkannya. Di salah satu tangannya menggenggam payung lipat berwarna coklat. Warna kesukaan sang bidadari kecilnya.

"Ayo, Nak. Matahari sudah tampaknya tak malu-malu menyinari. Hendak kita percepat langkah agar tidak terlambat masuk sekolah."
Sang anak melempar senyum, "Ayo, Bu."

Sang ibu menggenggam tangan anaknya. Berjalan hati-hati... Sesekali memindahkan posisi anaknya jika arah laju mobil berada persis disebelahnya.

"Kamu lelah, Nak?" Tanya sang ibu ketika didengarnya nafas anaknya mulai tersengal-sengal.

"Tidak ibu. Aku tidak lelah. Aku sengaja mempercepat langkahku karena temanku pasti sudah menungguku." Anaknya menjawab sambil menolehkan kepalanya keatas, mensejajarkan mata dengan ibunya.

"Baiklah. Perhatikan langkahmu. Didepan banyak kerikil kecil. Meski kecil jika kamu tidak hati-hati. Kamu bisa jatuh, dan dengkulmu akan luka seperti dulu."

"Iya. Ibu juga jangan melonggarkan genggaman tangan ibu. Jika nanti kita melewati pasar yang padat didepan nanti dan genggaman tangan ibu longgar, maka aku akan terlepas dan tertinggal dibelakang. Sulit untuk aku menemukanmu, Bu."

"Baiklah, Nak."

"Ayo, Bu. Matahari sudah sedemikian terik. Aku malu melihat semangat pijarnya yang lebih terang dibandingkan semangatku pagi ini."

Begitulah...

Kaum Jalanan

Ditulis 27 Juli 2011

Dunia tidak akan tahu berapa besar optimistis kaum jalanan
Tanah yang dijunjung kaum kapitalis tak menyurutkan hasrat berbahagia kami
Berbahagia hak mutlak manusia
Tidak bisa di curi, tidak pula di beli, hanya di rasa
Disini... di dalam hati dari kami - kami yang tinggal di jalanan atau kolong jembatan

Oh, kaum ningrat...
Meski tak sedarah, meski tak sekasta
Tapi kami manusia, punya mimpi dihormati walau darah tak sebiru kalian
Dihormati karena penghargaan atas pencapaian kami
Bukan karena sisa-sisa picingan mata jijik dan rasa kasihan

Oh... Dunia kami dunia jalanan
Tidur menghadap kelangit penuh bintang
Beralas tikar daun kering dan pelepah pisang sedikit debu
Cukup nyaman meski kerap kali di belai semut dan di cium nyamuk
Sungguh nikmat bentol yang kami garuk

begitulah...

Drama Kemacetan

Ditulis 7 Juli 2011


Lagi-lagi mobil merapat bagai rayap... Tak segan-segan bus besar pun saling adu body... 

Lampu merah benar-benar menyala menyulut gelagat yang sudah letih di balik kemudi... Marah... 

Dengan mimik muka yang tertahan... 

Jangan marah... Karena tetap akan seperti itu... Terjebak rutinitas... 

Adapula beberapa wanita rapih berhak tinggi... Duduk dengan segala gengsi dan perhiasan mentereng... Melihat dengan sudut mata yang kian menyipit... Didepannya tengah ada pengamen bermodal tepukan tangan dan suara seperti habis menenggak secawan arak yang memabukkan... 


"Hei, jangan berorasi di depan wajahku... Hanya melunturkan riasan yang sudah kusapu berjam-jam saja." 

Sang pengamen berkata, "Maaf, Bu. saya tidak sedang berorasi. Tapi bernyanyi." 

"Panggil saya NYONYA. Karena saya tidak pernah menjadi ibumu. Mengapa bernyanyi tanpa nada." 

"Maafkan saya, Nyonya. Kalau anda tidak berkenan. Saya hanya berusaha mengganjal perut. Dan saya juga mencoba berusaha menghibur anda ditengah kemacetan ini" 

"Huh..." 


Begitulah...

MATAHARI DI BALIK SENJA

NADIKU...

Aku tak pernah mengerti bagaimana hidup coba rekatkan erat dua pasang mata ini ketika nadi yang berjalan tak jauh –dari penantian akan helaan nafas ikhlas – itu muncul dan menjadi candu.

Aku tak tahu siapa namamu? Bagaimana perangaimu? Yang kuketahui adalah setiap kali nadi itu berjalan didekatku, aku tersinari rona jingga yang cerah.

Doaku tercetus di situ... Tuhan, terima kasih karena masih memberiku keindahan itu.

Berkaca pada masa silam yang mendewasakanku, aku berpikir untuk menyita daya upayaku. Bagaimana aku bisa tahu namanya? Atau hal-hal lain yang bersangkutan dengan perangainya sehari-hari?

Aku pun terbiasa hanya diam dan tersipu sendiri saat nadi itu berjalan disekitarku.

Namun, Tuhan punya rancangannya sendiri. Satu moment di tengah riak air yang membahana. Nadi itu benar-benar menjadi detak jantungku karena dia berada dalam satu nafas di tengah gelombang dan hantaman sungai. Aku bersamanya dalam jarak yang sangat dekat. Semoga detak jantungku tak terdengar olehnya.

Tuhan, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas keindahan hidup dalam hatiku. Debar jantungku. Dan sipu malu pipiku. Untuknya... disitulah aku tahu namanya.

Aku menemukan hatiku yang berserakan kala itu. Dialah perekat dan penjaga hatiku yang baru. Dia bersemayam seolah-olah hatiku dilindungi. Aku tahu pijarnya akan membuatku bertahan. Meski dalam diamku.

Diamku kala itu... tercatat oleh garis tanganku. Menanti walaupun tahu tak harus berharap.

Dawai itu sudah melengkapi ketenanganku. Imajiku terampas serta merta ketika satu peristiwa coba mempertemukan aku dengan sang pemilik nadi itu. Sebuah pintu. Dibaliknya ada aku. Dan diseberang tempatnya berdiri, dia tersenyum kaget.

Akankah gejolak ini terus pada ritmenya. Sementara lidahku terus kelu saat tahu aku berada dalam zonanya. Ingin aku sapa tapi terasa mulut ini menggagu... suaruku lenyap tertelan ludah.

Dan aku hanya menatap apa yang dilakukannya dari seberang. Berharap dia menoleh walau hanya untuk ikut menertawai lelucon yang tertuju padaku.

Oh, Tuhan, manakala itu terjadi pegang kuat jiwaku agar tak terbang karena bahagia.
Jingga menjadi warna nadi yang hidup dihatiku. Tubuhnya terbungkus emosi datar tanpa ekspresi. Ataukah dia malu?

Dunia serasa mati, saat rindu ini kadung membuncah terhadap keberadaannya yang entah dimana?

Aku lagi-lagi hanya berharap di setiap malam namanya muncul dalam dunia maya. Agar aku bisa bersua dan menelanjangi hatinya.

Bermalam-malam aku tunggu bahkan hingga aku lepaskan egoku untuk tahu bahwa dia tidak sedang berada di ruang itu.

Mataku tidak bisa menembus kecanggihan logika. Baik buruknya rasa ini tak bisa diukur hanya dari gelagat tertunduk malu dan sebuah senyuman.

Kepastian! Ya, kepastian itu kapan datang. Tidak... tidak... harus ada hal lain sebelum kepastian yaitu intensitas dan kecocokan. Akankah?

Tuhan, hanya tangan-Mu...

Yang sanggup membelai hatinya. Yang sanggup menggetarkan nalurinya. Yang sanggup memberi pertolongan lewat tangan-tangan tak terlihat.

Karena hanya Engkaulah pemilik hati dari nadi yang menghidupi resah di dada ini.

Bila mana Kau berkenan, dekatkanlah dia padaku. Dengan baik-baik. Dengan cara-Mu yang baik.

Amin.


SENJA...

Mmm... aroma senja hari ini terlalu pekat dihidungku... angin semilir yang mendayu-dayu menggoda tengkukku untuk semakin merapat pada kerah kemejaku.

Meski tampak langit senja tak menjanjikan apapun... tapi setidaknya merah merona di atas sana cukup melambangkan apa yang tergambar “di dalam sini”.

Sebuah rasa tanpa nama...

Senandung musik dari derap kaki di ibu kota juga semakin menghidupkan nuansa malam. Alunan dari air mancur yang menyemburkan ketingginya udara memperjelas kekagumanku pada beningnya pantulan air.

Lagi-lagi meski banyak armada yang memperlambat laju di jalan yang seakan mengisyaratkan halangan...

Aku cukup menikmati nuansa ini. Kisah dibalik satu senyuman malu. Dan kepala yang tertunduk gelisah.

Semoga langit senja malam ini membawa kabar yang membahagiakan. Karena aku tak bisa selamanya menatap langit dengan leluasa seperti pelukis yang sanggup menatap langit demi sebuah maha karya lukisannya. Demikian pula rasa tanpa nama ini.


SUBUH DAN SENJA...

Jelas embun masih membasahi rerumputan. Semerbak wangi tanah yang menyengat mengingatkan kita akan dawai langkah. Melangkah lalu bertahan. Atau bertahan lalu melangkah lagi.

Subuh ini ketika aku buka mata, aku ingat langit senjaku yang menjingga. Semoga senyum menelurkan bahagia di bawah naungan-Nya. Dan aku mendoakanmu di kala subuh ini. Dan kelak  jaga aku di kala langit menjadi senjamu.

Sesederhana itu harapku. Dan melangkahlah ketika aku bertahan karena aku pun akan melangkah disampingmu ketika kamu terhenti saat bertahan.


UNTITLE

Sadarkah... ini sudah kali keberapa senyum itu menemani hari-hariku?

Dalam hening masih saja terdiam..

Bagaimana ini? Aku sudah memulainya... aku sudah mulai mengarsir sebagian ruang itu dengan nuansa jingganya...

Semua terjadi tanpa komandoku... Benar-benar diluar dugaan.

Sesungguhnya, aku tak bisa melangkah lebih jauh jika hentakan kakinya masih jatuh dibawah tempatnya berdiri. Bukan maju. Jangan pula mundur.

Ya Tuhan... jaga ia untukku... siapapun ia... bagaimana pun ia... karena aku tidak bisa menjangkau asanya disaat malam tiba... maupun menjelang fajar menyingsing.

Taukah ia... senyumnya itu pelitaku... meskipun hanya tersirat lewat pembicaraan.

Melangkah majulah... aku tak selamanya punya nyali... tak memliki daya... cuma harapan dan doa di setiap sujudku.

Hanya itu...


JINGGAKU MASIH TERDIAM...

Jinggaku terdiam dan itu sangat mencekik leherku. Sulit bagiku bernafas. Kamu adalah porosku saat ini setelah banyak orang melepasku. Jangan melepasku dari genggamanmu wahai jingga.

Aku memang bukan matahari yang sedari dulu hidup dihatimu. Mungkin belum pula saat ini. Aku tahu cinta tak serta merta kau ukir. Aku tahu aku bukan apa-apa. Tapi aku takut berlari darimu. Nafasku selalu sesak memikirkan hal itu. Aku takut... benar-benar takut. Karena kamu aku berani lagi memulai, berani melangkahkan kaki keluar dari zona ketakutanku akan masa laluku.

Jinggaku, tidakkah kau dengar teriakan hatiku kala kau justru diam saat aku berada disekitarmu? Tidakkah kau tahu saat pesan itu hanya terbalas singkat dan seadanya, sesuai dengan apa yang aku tanyakan? Tidakkah kau tahu aku hampir menangis. Sejujurnya aku tidak bisa membohongi bahwa aku tidak bisa menikmati momen menantimu. Karena aku belum tahu isi hatimu. Karena kamu masih terdiam dalam kesendirianmu.


CUACA TAK MENENTU DI SORE HARI...

Setelah kabut yang cukup pekat itu, aku menemukan senyum yang lama hilang. Kata-kata yang begitu hangat membalut rasa dingin yang kerap kali mengigit kulit-kulit ariku. Sungguh anugerah yang tiada terkira. Aku bahagia, Tuhan. Kau kembalikan pencair dahaga dikala haus mendera.
Jatuh bangun, sikap acuh, dan pengabaian mungkin sering kali aku hadapi. Itu kadang menyakitkan hati. Sulit bagiku bernafas. Kebodohanku yang tak pernah hilang adalah kerap kali memberi hati yang penuh untuk orang yang aku sayang. Aku lupa kadang dalam perjalanannya, perasaan akan tenggelam dan hilang perlahan. Aku lupa akan hal itu.
Aku tahu mata itu pasti menyimak apa yang aku lakukan. Aku juga yakin bahwa perhatian itu tak pernah surut sebetulnya. Hanya saja, rasa ego dan malu itu lebih diunggulkan. Maka, hatilah yang berperang.


BADAI BERGEMURUH...

Sudahlah, aku sudah melihat awan gelap di timur sana. Tak sejengkal pun memperbolehkan aku masuk ke pintu diseberang. Aku tak kan melawan lawan. Badai ini akan semakin besar. Tenagaku tak sebesar pusaran badai itu. Sepertinya aku tahu, kemana badai akan menyeretku. Ke akhir yang menyedihkan. Badai itu sudah didepan mata. Dan aku mencium gelagat menghilang dan ingin dihilangkan. Baiklah, badai silahkan hujam aku hingga tak berdaya. Aku sudah pasrah. Aku sudah semakin yakin bahwa sosok itu tak akan bisa kudekap lagi.


MATAHARI PUN TENGGELAM...


Habis sudah masaku padamu. Baik-baiklah dengan kehidupanmu. Aku tak akan lagi menemani hari-harimu lagi. Mengganggumu lagi. Melihat senyummu lagi. Rantai itu terputus. Tak bisa kusambung lagi. Jangkarnya tak kau izinkan menancap terlalu lama di dasar lautan. Kapalmu pun pergi menjauh seiring matahari yang kian tenggelam. Selamat tinggal. Maaf, jika aku bertahan untuk tak menangis. Tangisan ini bukan untuk airmata sedih tapi mungkin untuk tangis bahagiaku dengan pribadi yang lebih membutuhkan aku.

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 17) - Tamat

Part 17

SENYUM PERMINTAAN MAAF


“Heh, Bocah! Lo suka kebiasaan deh telpon gue kayak tadi. Ada apaan sih? Suka bikin panik.” teriak Pelita begitu dilihatnya Vero, sang sepupu datang untuk menjemputnya dengan wajah super tegang. “Ntar aja gue jelasin di mobil.” ujar Vero yang langsung menarik tangan Pelita kearah mobil. “Eh... Eh... sebenarnya ada apaan sih? Kenapa jadi main tarik-tarik tangan gue begini.”  sahut Pelita kebingungan. Vero tak bergeming. Lalu dia membukakan pintu mobilnya untuk Pelita. “Masuk.” titah Vero. Pelita akhirnya memilih menuruti permintaan adik sepupunya itu. Kemudian, Vero ikut menyusul untuk masuk dan mengendarai mobilnya ke suatu tempat.

Setelah beberapa menit mobil itu melaju, akhirnya Vero buka suara. “Gue butuh bantuan lo, Kak.” Pelita melirik dan menemukan wajah Vero yang mengenaskan. Baru kali ini dia lihat wajah itu sedemikian muram. “Lo itu kenapa sih, sampai harus culik gue segala? Butuh bantuan soal apa?” tanya Pelita yang jadi khawatir. “Ini soal cewek nggg... cewek yang gue suka.” Jawabnya sedikit ragu. Pelita terbengong mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Vero, “Jadi ini ternyata cuma soal cewek! Jadi, lo udah sebegitu hebohnya ternyata hanya soal cewek yang lo suka!” Pelita langsung menyenderkan kepalanya, sedikit menyesal. “Aduuuuuh Verooooo.... gue tuh dikantor lagi banyak kerjaan. Lo culik gue sampai gue batal lembur cuma untuk bantuin lo sama cewek lo itu? Pingin nangis gue rasanya.” jerit Pelita kesal. “Sorry deeeh... Abis satu-satunya yang bisa bantu gue cuma lo.” ujar Vero mengiba. “Oke, ceritain dulu masalah lo sama cewek lo yang hits itu.” Vero akhirnya menceritakan segala kegundahan hatinya dan juga menjelaskan masalah yang tengah dihadapinya kepada Pelita.

Tapi yang ada setelah itu, Pelita justru tertawa terbahak-bahak. “Jadi yang lo taksir itu Andriameda, si penyiar radio Tamusema itu? Udah gitu dia marah sama lo cuma karena nyangkain adik gue itu pacar lo. Kok bisa? Hahahaha... Sumpah kocak banget masalah lo. Hahahahaha...” Vero terdiam menatap Pelita yang menertawainya habis-habisan. “Ups, maaf... Oke, apa yang bisa gue lakuin buat lo?” Potong Pelita sendiri. “Bantuin gue ngejelasin ke Andria tentang semua kesalahpahaman ini, soalnyaaa... hari ini gue mau nembak dia.” Jawab Vero. Pelita bersiul tak menyangka, lalu ide konyolnya muncul, “Trus, kalo misi penyelamatan percintaan lo ini sukses... gue dapat apa? Kan, lo bilang ini urusan hidup mati lo... Jadi kayaknya kalo gue minta 2 tiket konsernya Afgan, lo nggak bakal keberatan dong?” sahut Pelita sambil mengangkat kedua alisnya berkali-kali. “Kalo bukan karena ini urusan Andria, kalo bukan karena cuma lo yang sanggup ngejelasin duduk perkaranya... Gue ogah mengamini permintaan lo yang bakalan menguras isi tabungan gue. Tapi ya udahlah, iyeeee... gue kabulin permintaan lo.” sahut Vero yang terpaksa memenuhi permintaan kakak sepupunya itu. “Asik kalo gitu.... senang bekerja sama dengan anda. Hahahaha... Verooo... Verooo... Sepupu gue ini lagi dimabuk asmara rupanya... Hahahhaha... Sering-sering galau ya... Tingkat kegalauan lo berbanding lurus dengan tingkat keuntungan gue.” Vero hanya bisa berteriak pasrah, “Berisiiiiiiiiiik.”

***

Seleksi terakhir untuk audisi pemeran drama musikal “Peri Menangis” akhirnya dimulai. Nadala sudah berada dibelakang panggung bersama dengan beberapa peserta lainnya. Hari ini Nadala menggunakan gaun balet hitam yang sangat indah. Untuk memaksimalkan penampilannya, ia akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan teknik baletnya yang sudah lama tak ia gunakan dan memadukannya dengan nyanyiannya. Setidaknya ia harus memastikan ia mendapatkan poin plus dimata juri. Nadala harus bisa mewujudkan harapannya untuk menjadi Ratu Peri dalam drama musikal ini.

Pada audisi hari ini, Nadala mendapat giliran terakhir. Jantung Nadala berkali-kali berdegup kencang saat dilihatnya para pesaingnya menampilkan kemampuan terbaik mereka. Penampilan mereka sangat mempesona. Hampir tanpa cela. Para juri pun tersenyum puas dengan hal itu. Kini, tibalah waktunya ia untuk menunjukkan segala kemampuan yang telah ia latih. Berdoa... satu-satunya pesan yang selalu Prisma bisikkan setiap kali dirinya akan memulai sesuatu. “Tuhan, jika cahaya dipanggung ini adalah milikku maka terangi aku dengan bijaksana. Biarkan aku mengepakkan sayap keratuanku. Biarkan aku menjadi bagian dari pertunjukkan ini. Bantu aku, Tuhan.”

Nama Nadala akhirnya disebut, Ia pun segera bersiap berdiri disisi panggung. Begitu irama musik sudah mengalun, Nadala bak ratu yang sangat menawan berjalan dengan anggun ketengah panggung. Gerakan penuh penghayatan mulai ditunjukkannya bertepatan dengan ekspresi kesedihan yang menghiasi wajahnya. Entah apa yang mendorongnya benar-benar menangis. Air matanya tidak bisa dibendung dan membasahi pipinya. Tiba-tiba, pikirannya tertuju pada Prisma. Tangisan ini... apakah bisa Prisma rasakan? Apakah Prisma bisa melihat penyesalannya? Apakah Prisma mendengarkan detak jantungnya yang juga menangis merindukannya?

Lewat hati dan matanya, Nadala bernyanyi dan terus bernyanyi. Ia mengeluarkan segenap kemampuannya. Setidaknya ia sudah berusaha keras, meskipun pada akhirnya takdir berkata tidak. Seiring dengan berakhirnya alunan musik, berakhir pula audisi bagi Nadala. Suasana hening... Juri seperti masih terhipnotis dengan pertunjukkan barusan. Belum ada satupun yang bergeming hingga satu tepukan tangan yang keras dari arah bangku penonton menyadarkan mereka untuk ikut memberikan standing applause. Betapa terkejutnya Nadala mendapati seseorang yang ia pikirkan tadi, berdiri tegak dibangku penonton sambil bertepuk tangan. Prisma. Yang lebih membuatnya terkaget adalah ia mengenal jaket kulit hitam yang digunakan Prisma. Jaket kulit yang sama yang digunakan oleh si pengendara motor yang misterius tadi. Oh Tuhan, jadi ternyata... Prisma mengikutinya hingga kesini.

Prisma bertepuk tangan dengan seuntai senyum dibibirnya. Senyum bangga untuk Nadala. Prisma ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya betapa ia sangat mengagumi aksi Nadala barusan. Jika boleh, ia juga ingin mengatakan pada dunia bahwa tangisan itu seperti hendak menyapa hatinya. Air mata itu seperti menyampaikan segala bentuk penyesalan yang Nadala rasakan kepadanya. Apa yang tadi tersaji diatas panggung seperti menjawab keraguan perasaannya terhadap Nadala. Ia kini paham bahwa hati Nadala memang tidak pernah berhenti berdetak untuknya. Sama seperti hatinya yang tidak pernah berhenti berdenyut untuk Nadala.

Nadala masih tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Prisma tersenyum untuknya. Setelah sekian lama diacuhkannya kakak kelasnya itu, ternyata Prisma masih bersedia tersenyum untuknya. Bahkan ketika mendapati Prisma pergi meninggalkan deretan bangku penonton, dirinya masih mematung begitu saja tanpa bisa dikendalikan. Baru beberapa saat, dia mulai tergeragap menyadari sosok Prisma benar-benar menghilang. Tanpa ragu, dia berlari kebelakang panggung untuk mencari sosok itu.

Nadala berusaha mencari Prisma ke segala arah. Ia berlarian tanpa alas kaki menjelajahi seluruh koridor yang ada. Tak ada tanda-tanda keberadaan Prisma. Tak ada jejak yang tertinggal dimanapun. Prisma seakan hilang ditelan bumi. Senyum kecut tersungging disudut bibirnya. Sambil menunduk, Nadala berjalan meninggalkan koridor-koridor tersebut. Entah mengapa ia jadi tidak bersemangat mendengarkan keputusan dewan juri mengenai siapa yang akan mendapatkan peran Ratu Peri.

Masih terus sambil menundukkan kepalanya, ia berjalan memasuki ruang rias peserta yang masih kosong. Nadala lalu duduk dan menenggelamkan wajahnya diatas kedua lengannya. Tak sadar bahwa orang yang dicarinya sudah berada diruangan yang sama, hanya sedang bersembunyi dibalik tirai.  Nadala masih menangis pelan dengan sedikit terisak. Hingga, satu belaian lembut pada pucuk kepalanya itu  menyadarkannya keberadaan orang itu. “Kamu cari aku?” tanya Prisma lembut masih dengan tangan yang membelai pucuk kepala Nadala. Sontak mendengar suara Prisma, Nadala langsung mengangkat kepalanya dan menoleh keasal suara itu.

“Kamu cari aku?” Prisma mengulangi pertanyaan itu. Nadala tak sanggup menjawabnya dan hanya bisa kembali menangis sambil menarik pelan pinggiran jaket Prisma. Prisma lalu merapatkan tubuhnya untuk bisa memeluk Nadala. “Maaf kalau aku nggak pernah jujur tentang semua ini sama kamu. Maaf kalau aku membuatmu sakit dan marah. Tapi aku pingin kamu tahu bahwa aku benar-benar sayang sama kamu. I love you, Nad. Kamu mau maafin aku, kak?” Tangis Nadala kian pecah. Pikirnya, mungkin semua ini berat bagi Nadala. Prisma membiarkan Nadala menyelesaikan tangisnya.

Saat isakan tangis itu mulai mereda. Prisma mulai melepaskan pelukannya. Menarik bangku kosong kehadapan Nadala dan kemudian duduk. Prisma langsung menghapus jejak air mata di pipi Nadala. “Maafin aku ya...” Permohonan itu begitu tulus. Nadala bisa merasakan getarnya. Nadala menjawabnya dengan senyum permintaan maaf. “Aku juga minta maaf ya kalau aku keterlaluan sama kakak kemarin-kemarin.” Prisma ikut tersenyum tenang. “Kak...” panggil Nadala lagi. “Ya...” jawab Prisma. “Aku juga sayang sama kakak.” Senyum itu semakin mengembang dibibir Prisma. Semua pertanyaan genap sudah terjawab. Gadis cantik yang selalu dijumpainya sedang asyik menyiram tanaman itu, yang tak berani diajaknya kenalan... akhirnya berhasil menjadi pacarnya kini.

Putri tampil yang selalu periang, yang selalu menjadi bintang bagi dunia pentas ini akhirnya berhasil bermetamorfosa menjadi ratu peri yang cantik. Pengeran jeruk yang hadir bak bintang jatuh di satu pagi, kini telah menjadi raja bagi hatinya. Takdir sebenarnya telah memainkan isyaratnya sejak awal, hanya saja waktu mencoba menguji. Mencoba menguji kesabaran mereka. Mencoba mengukur seberapa kuat hati mereka saling tertambat satu sama lain. Mereka memenangkan ujian itu. Tepat hari ini putri tampil telah berhasil merengkuh segala keajaiban yang dianggapnya hanya kembang tidur, tapi benar-benar mewujudkanya bersama pangeran jeruknya.

***

Dengan perasaan campur aduk, Nadala akhirnya mencoba menghubungi Mandala untuk memberitahu perkembangan hubungannya dengan Prisma sekaligus meminta maaf pada abangnya tersebut. “Halo...” sapa Mandala. “Halo, Mas... Ini Nadala. Aku mau minta maaf sama Mas. Aku kemarin-kemarin udah keterlaluan sama Mas.” Sahut Nadala mengutarakan rasa penyesalannya. “Sama-sama ya, Dek. Mas juga minta maaf. Harusnya mas nggak pernah ngelakuin hal ini ke kamu. Mas cuma khawatir sama kamu, makanya mas nyuruh Prisma jagain kamu. Ternyata malah jadi hancur endingnya. Maafin mas ya, Dek.” Sesal Mandala. “Nggak sad ending kok, Mas. Aku sama Prisma udah baikan. Ini orangnya ada disamping aku. Dia bela-belain datang ke tempat seleksiku. Oh iya, aku lolos... aku berhasil jadi ratu peri. Pokoknya aku seneng banget.” Nadala menceritakan hal itu dengan senyum bahagia. “Congratulation ya, Dek. I’m happy to hear that. Eh, Dek... nanti kita lanjut dirumah ya... Mas tutup telponnya dulu. Mas lagi buru-buru.” Ujar Mandala seadanya. Mandala terlihat celingak-celinguk mencari seseorang. “Oh oke...” balas Nadala kebingungan. “Bye Dek.” “Bye Mas.” Pembicaraan di telpon itu pun diakhiri keduanya. Mandala pun segera mengejar sesuatu keluar ruangan. 

***

Andria menyelesaikan tugas menyiarnya malam ini dengan sangat terburu-buru. Rasanya semakin sesak untuk berlama-lama berada diruangan siaran ini bersama Mandala. Bagai dirongrong perasaan bersalah, Andria pun bergegas pamit seusai siaran. “Aku duluan.” Sahut Andria dingin. Menyadari perubahan Andria yang tiba-tiba kepadanya, Mandala sontak kebakaran jenggot. Sambil mematikan handphone-nya, Mandala berlari begitu saja mengejar Andria yang sudah sampai ke parkiran.

Namun, kejadian yang tak diharapkan menimpa Andria. Dua laki-laki secara bersamaan berteriak memanggil namanya, “ANDRIAAA...” teriak Mandala juga Vero bersamaan. Mendengar itu, Andria langsung menoleh ke kedua asal suara. Namun, satu cekalan tangan keburu menariknya ke salah satu sisi suara. Mandala keburu berhasil menarik tangannya hingga dia terhuyung mendekat. Tanpa pikir panjang, Mandala langsung mendekap dan mengutarakan perasaannya sekali lagi, “Gue sayang sama lo. Please jangan pergi.” Tubuh Andria kaku.

Andria tak bisa berbuat apa-apa ketika Vero tanpa sengaja melihat adegan Mandala memeluknya. Andria bisa melihat langkah kaki Vero seperti terhenti mendadak. Raut wajah Vero berubah sendu. Akhirnya Vero menoleh ke satu titik menjauhi pandangan mata Andria yang sama-sama terbelalak kaget. Vero membalikkan tubuhnya memunggungi Mandala dan Andria. Vero menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya menahan kesedihannya. Melihat ekspresi Vero yang sedih serta ketika dia membalikkan badannya seperti itu, Andria merasa seperti ikut merasakan sakit yang sama.

Spontan Andria meronta dan memohon untuk dilepaskan dari dekapan Mandala. Mandala melepaskan pelukannya. Begitu terbebas, Andria bergerak mundur sambil menggelengkan kepalanya pertanda tak bisa. Sadar bahwa Andria telah menolaknya, hati Mandala hancur berkeping-keping. Mandala tahu bahwa cinta itu memang tak pernah ada buatnya sejak awal. Harusnya dia sudah tahu bahwa untuk Verolah mata itu menangis, untuk Verolah senyum keceriaan Andria mendadak raib.

Baru saja dia ingin melangkah pergi, Pelita yang melihat kejadian yang tak dilihat Vero barusan buru-buru menahan bahu Vero. “Kalo lo pergi sekarang, lo bakal kehilangan Andria selamanya. Percaya sama ucapan gue. Inget, lo udah susah-susah culik gue sampai sejauh ini. Sampai misi ini gagal, lo yang gue abisin. Balik badan lo sekarang...” Vero akhirnya membalikkan badannya kembali kearah Andria.

“Cewek yang kamu liat waktu di Cafe Diagonal itu bukan pacarnya Vero, tapi adikku... yang juga sepupunya dia. Vero sampai susah-susah culik aku dari kantor supaya bisa jelasin ini ke kamu... biar kamu nggak salah paham lagi sama dia... nggak marah lagi sama dia... nggak ngindarin dia lagi. Adik sepupuku yang ajaib ini suka sama kamu,” teriak Pelita sambil menepuk-nepuk bahu Vero. “Dia beneran sayang sama kamu. Aku berani jamin.” Lanjutnya lagi. Mendengar ucapan Pelita barusan, hati Andria lega selega-leganya. Senyum itu kembali mengembang. Vero juga melihatnya. Bagi Vero itu seperti senyum permintaan maaf yang dia nanti-nanti belakangan ini. “Maju kali. Malah diem aja.” Omel Pelita sambil menyenggolkan bahunya ke bahu Vero.

Vero berjalan mendekati Andria. Kemudian berhenti tepat dihadapannya. “An, gue...” Belum juga Vero selesai bicara, Andria sudah lebih dulu menimpalinya, “Lo bener... gue emang ngindarin lo. Maafin gue ya.” Vero menggeleng, “Harusnya gue yang minta maaf sama lo. Harusnya dari awal gue udah ngelurusin kesalahpahaman ini bukannya malah ngerjain lo sampai bikin lo sakit dan nangis kayak kemarin itu. Gue minta maaf ya, An.” Andria mengangguk pelan. “Trus kalo udah baikan... nggg... bisa jadian nggak?” tanya Vero telak. Andria tersipu, “Apa coba...” Vero yang gemas tak bisa lagi menahan kerinduannya pada si penyiar dongeng kesayangannya, diacak-acaknya rambut Andria. “Vero kebiasaan deh. Rambut gueeee...” sahut Andria manyun. “Gue kangen sama lo. Selama lo ngindarin gue, gue jadi sadar kalo gue nggak bisa jauh-jauh dari lo. Sebentar aja nggak ngeliat lo, bawaannya senewen banget. Lo ngerti kan maksud gue... Terus... semua yang gue omongin di perpustakaan waktu itu adalah bener. Gue suka sama lo.” Vero akhirnya berhasil mengungkapkan perasaannya.

Andria ingin menjawab namun sejenak terlihat ragu untuk menyatakan sesuatu, “Nggg... sebenernya apa yang gue omongin waktu diperpustakaan bohong. Gue bohong kalo nggak ada perasaan apa-apa sama lo.” Andria terdiam malu tapi sedetik kemudian dia kembali menyerang Vero,  “Lagian sapa suruh jalan sama sepupu nggak ngenalin gue!” Vero terpancing, “Mana gue tau lo disitu, kalo gue tau juga pasti gue kenalin.” ujar Vero yang berusaha membela diri. Andria diam tak langsung membalas ocehan Vero, “Kalo gitu... berarti lo harus kenalin gue ke sepupu-sepupu lo sekarang juga.” tandas Andria sambil tersenyum tersipu malu. “Kok?” tanya Vero bego. “Ck... Siapa sih yang tadi tanya soal jadian...?” runtuk Andria pura-pura kesal. “Jadi... elo... sama gue... jadian gitu?” tanya Vero bersemangat. “Menurut looooo...” jawab Andria singkat.

Jawaban itu cukup mengisyaratkan bahwa memang mereka resmi jadian. Vero langsung berubah histeris saking kegirangannya. “Hahahaha... Gue jadian, Kak.” Vero loncat memeluk kakak sepupunya itu. “Selamet yeee... Sukses juga misi lo. Jangan lupa tiket buat gue. Hahahaha...” Sambil tertawa pelan Pelita mengusap-usap punggung Vero. “Sttt... Nggak baik bahagia berlebihan diatas penderitaan orang. Saingan lo lagi patah hati tuh disana. Ngomong baik-baik gih sama si Mandala. Biar nggak slek kedepannya.” ujar Pelita mengingatkan. “Beres, Bos.” Vero melepaskan pelukannya dari Pelita.

“An, ikut gue sebentar.” Vero menarik tangan Andria dan berjalan bersama kearah Mandala. “Mmm... Mas Mandala, mungkin ini keliatannya nggak adil buat lo. Tapi gue harap lo bisa dengan rendah hati nerima semua ini. Gue harap lo nggak marah sama Andria karena akhirnya dia lebih milih gue dibandingin lo. Dan gue yakin banget lo sangat bijak melihat masalah ini.” Sahut Vero serius. “Ya, gue ngerti maksud lo. Gue memang kecewa, tapi gue juga tetap bahagia karena akhirnya Andria udah bisa senyum lagi kayak dulu. Dia belakangan ini nggak pernah senyum secerah ini. Gue harap lo bener-bener jaga dia. Kalo lo bikin dia nangis kayak kemarin-kemarin, lo bakal berhadapan dengan abangnya yang satu ini.” Mereka kemudian tertawa bersamaan.

Putri timpal yang selalu periang, yang selalu menciptakan cerita-cerita unik di dunia dongeng ini akhirnya berhasil menciptakan cerita cinta untuk dongeng hidupnya sendiri. Bersama sang gatot kaca yang tak pernah ketinggalan membawa bola basketnya, kini mereka tengah asik menaburkan bintang. Takdir lagi-lagi hanya ingin mengetes seberapa kuat kejujuran itu berlaku bagi mereka yang mencinta. Tepat hari ini putri timpal berhasil mengakui bahwa keajaiban itu bukan hanya milik cerita-cerita dibalik buku dongeng saja, tapi juga miliknya dan sang gatot kaca kesayangannya.

TAMAT

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Tampil (part 16)

Part 16

GAWAT


Pagi ini, Nadala terlihat sangat sibuk menyiapkan buku-buku pelajarannya dan perlengkapan tambahan yang akan dibawanya. Sebuah dress panjang selutut dengan gradasi warna peach dan sepasang flat shoes yang berwarna senada. Nadala selalu menantikan hari ini. Sejak semalam, Nadala terus mengecek kalender yang terpajang dimeja belajarnya. Bulatan kecil berwarna merah yang melingkar pada salah satu tanggal terus ditunjuk-tunjuknya. Ia akan menempuh audisi terakhirnya untuk bisa mendapatkan posisi ratu peri dalam pementasan drama peri menangis. Sepulang sekolah nanti, sekitar jam 5 sore audisinya akan dilaksanakan disalah satu gedung serba guna, dekat dengan radio tempat kakaknya bekerja.

Mandala yang juga sudah tahu mengenai lokasi audisi terakhir dan keikutsertaan adiknya nanti sore, akhirnya tergugah untuk menanyakan persiapan adiknya. Saat Nadala bergabung di meja makan untuk sarapan pagi, Mandala langsung bertanya seperti tidak ada apapun yang terjadi sebelumnya. “Nad... Kemarin Mas lihat namamu lolos untuk bisa ikut audisi terakhir hari ini. Gimana persiapan kamu untuk audisi kamu?” tanya Mandala. Nadala tak menjawab, malah menyibukkan diri dengan mengambil nasi dan lauk pauk yang kemudian dipindahkannya keatas piring makannya. Mandala mengulangi pertanyaannya sekali. “Gimana persiapannya, Dek?” Nadala masih juga enggan menjawab pertanyaan itu. Lagi-lagi dia mencari kesibukan dengan melihat handphone-nya. Rupanya Nadala masih marah padanya. Mandala memilih diam tak menuntut lagi dengan pertanyaan apapun, kecuali hanya sebuah doa darinya yang meluncur pelan tanpa tendensi apapun. Semata-mata doa itu terlontar agar adiknya sukses hari ini. “Sukses ya.” Nadala hanya mengangkat gelas minumannya sebagai respon dari ucapan kakaknya.

Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Nadala pamit untuk segera berangkat ke sekolah. “Buuuu...” teriak Nadala memanggil Ibunya, “Ibu dimana? Aku mau berangkat.” Nadala beranjak dari bangku yang didudukinya. “Ibu lagi dikamar mandi, Nak.” Balas sang Ibu menyahut. “Oh, ok. Aku jalan ya, Bu.” Pamit Nadala singkat. “Ya, hati-hati. Pamit sama kakakmu juga.” Teriak ibunya lagi. Aduh males banget sih ngomong sama kakak. Dengan langkah gontai dan malas-malasan, Nadala menyambangi kembali kakaknya untuk sekedar mencium tangan dan berpamitan. “Aku jalan.” Nadala buru-buru meninggalkan ruang makan dan berangkat tanpa menunggu jawaban dari kakaknya.

Nadala berjalan keluar rumah menuju halte bus terdekat. Meski sejujurnya dia ribet sekali dengan barang bawaannya namun mengingat ia sedang menjalankan aksi mogok ngomong karena masih kesal dengan perbuatannya alhasil Nadala berangkat sekolah dengan menaiki bus kota. Tidak membutuhkan waktu yang lama, bus yang ditunggunya akhirnya datang. Bus itu masih kosong. Nadala mengucap syukur tiada henti pasalnya jika bus tersebut penuh sesak, bisa dibayangkan ia harus berjejal bagai cendol dengan gemblokan seberat ini.

Nadala buru-buru naik kedalam bus. Ia mengambil tempat di dua deratan sebelum bangku terakhir. Sadar bus yang dinaikinya bukanlah bus dengan full air conditioner, ia lalu membuka jendela. Angin sepoi-sepoi mulai perlahan masuk dan memberikan kesejukan untuknya. Perjalanan yang ditempuhnya ke sekolah kini memakan waktu yang lebih lama, maklum terkadang bus harus beberapa kali ngetem untuk membuat isi bus penuh dengan penumpang. Begitupula hari ini, sudah 10 menit bus itu bertengger di salah satu halte. Ia mulai mengeluh dalam hati. Bus udah penuh masih aja dibilang kosong. Duh, Si abang supir sama keneknya kayaknya pingin banget bikin gue jadi pepes. Tapi tak lama kemudian, bus itu kembali melanjutkan perjalannya dan membawa Nadala dan penumpang lainnya ke tujuan. Saat bus yang ditumpangi oleh Nadala jalan, ternyata ada seorang penumpang yang tengah berlari kecil mengejar. Dengan dibantu uluran tangan beberapa penumpang lainnya, akhirnya orang tersebut berhasil terangkut.

***
Prisma berpamitan dengan orang tuanya lalu bergegas berangkat kesekolah. Pagi ini, ia membiarkan motornya terparkir dengan baik di garasi rumahnya. Ia ingin sekali naik bus pagi ini, entah dorongan dari mana. Prisma berjalan menuju halte bus yang berada diujung jalan besar sana. Saat berada di mulut jalan tersebut, bus yang Prisma akan naiki ternyata sudah mau jalan. Prisma buru-buru mengejarnya dari belakang, dengan segenap kekuatan ia berlari sambil tetap berusaha menggapai tangan-tangan penumpang yang mencoba membantunya. Hup! Prisma berhasil menggapai salah satu tangan dan ia segera meloncat ke pintu bus dimana hanya tersisa satu pijakan kecil untuknya bertengger disana. Prisma mengucapkan terima kasih kepada penumpang-penumpang yang telah membantunya. “Makasih ya, Pak” sahut Prisma sambil tersenyum.

Hampir setengah jam bergelangtungan di mulut pintu bus, akhirnya Prisma mendapatkan tempat duduk di deretan paling belakang. Prisma tidak langsung dapat duduk tenang karena beberapa penumpang lainnya juga masih berusaha untuk turun. Ia masih harus bersabar menunggu penumpang-penumpang tersebut turun satu persatu, ia bahkan sampai tak bisa melihat kedepan karena pandangannya terhadang badan-badan orang didepannya. Setelah beberapa waktu, barulah kondisi kembali normal. Ia dapat duduk tenang dengan sedikit memerdekakan kakinya yang sedari tadi ditekut untuk memberi jalan bagi mereka yang hendak turun. Dan ketenangan itu mendadak raib saat dilihatnya seseorang yang beberapa hari ini membuatnya merasa bersalah sedang duduk tak jauh didepannya. Matanya terbelalak saat dilihatnya Nadala tengah duduk sambil mendekap tasnya.

Prisma tergeragap mendapati dirinya sebentar lagi harus berpapasan dengan Nadala saat turun nanti, mengingat sekolahnya hanya tinggal berjarak dua halte bus lagi. Ia bukannya takut untuk bertemu, hanya saja ia rasa waktu yang tepat untuk hal itu bukanlah hari ini. Tapi ternyata takdir malah mempertemukannya dengan gadis ini disini saat ini. Bagaimana kalau keberadaan dirinya justru malah mengusik kenyamanan Nadala? Gue musti gimana nih? Gawaaaattt!!!!  batinnya sambil terus memikirkan jalan keluar. Akhirnya, ia memutuskan untuk turun lebih awal di halte sebelum halte bus yang ada di depan sekolahnya. Sebelum turun ia sempat memandangi Nadala sekali lagi. Kemudian Prisma pun turun. 

Nadala mulai bersiap-siap untuk turun, ia beranjak sambil menggemblok tas punggungnya dan mendekap satu tas ekstranya. Ia melipir hingga ke pintu bus, “Bang, halte depan kiri ya, Pak.” seru Nadala sambil mengetuk-ngetuk kaca pintu belakang bus tersebut. Sang supir akhirnya menghentikan laju jalan bus itu dan Nadala akhirnya turun. Nadala berjalan tanpa tahu sedikitpun tentang kejadian yang sesaat lalu terjadi dibelakangnya. Sementara, selang beberapa menit kemudian, Prisma tiba di halte bus depan sekolahnya tersebut. Dengan waspada, ia melihat ke berbagai penjuru arah seperti hendak memastikan bahwa Nadala memang sudah masuk kedalam gedung sekolah. Bersih, nampaknya memang Nadala sudah masuk.  

Nadala baru saja sampai ke kelasnya dan Noni sudah menunggunya sebagai bala bantuan. “Widih... Lo mau ke sekolah atau mau liburan? Banyak bener bawaannya.” ujar Noni yang langsung mengambil tas yang berada dalam dekapan Nadala. “Ngaco lo. Ini buat audisi ntar sore. Eh, lo jadi kan anterin gue ke tempat audisi gue?” tanya Nadala serius. “Nggg... maaf ya, kayaknya gue nggak bisa. Asli bukannya nggak mau, cuma tadi pagi nyokap nyuruh gue untuk langsung pulang karena ada saudara yang sakit gitu jadi musti ngejenguk. Atau lo mau pake motor gue aja? gue nanti bisa pulang naik angkot. Nggak apa-apa kok.” Jawab Noni. “Ih apaan sih. Nggak usah, ngerepotin lo sampe harus pinjem motor segala. Nggak apa-apa, gue nanti naik ojek aja deh.” Sahut Nadala menolak. “Bener nggak apa-apa nih? Lagian kenapa sih lo nggak berdamai sama kakak lo? Kan jadi repot begini. Maafin kali Mas Manda. Dia kan ngelakuin ini juga demi lo, cuma aja caranya yang masih belum bener.” tukas Noni yang sebenarnya juga gerah mendengar cerita Nadala setiap hari yang selalu dipenuhi amarah terhadap kakaknya. Nadala terdiam. “Tau ah. Gue masih nggak abis pikir aja kenapa Mas Manda bisa ngelakuin hal itu dan kenapa pula musti Prisma?”

“Nad, terkadang kita nggak pernah tau apa maksud dari semua ini. Tapi yang pasti ada suatu hikmah, dan itu pasti. Gue yakin. Dan soal kenapa musti Prisma? Cuma Tuhan yang tau. Coba deh, sekarang gue mau tanya sama elo. Pernah nggak sedikiiiiit aja terlintas didalam benak lo kenapa Prisma mau terima ajakan kakak lo untuk jadi secret guardian lo? Pernah nggak? Kenapa dia sampai rela ngeluangin waktu nguntit lo kemana-mana. Terlepas dari masalah uang yang mungkin dijanjiin sama dia ya. Gue rasa apa yang dilakuin dia ke elo itu something. Mungkin bukan perasaan suka atau gimana ya karena gue juga nggak tau persisnya hatinya si Prisma. Tapi yang pasti dia pasti ngerasa bersalah banget karena mungkin pada akhirnya dia sadar dia kehilangan elo.” Tandas Noni panjang lebar.

“Jangan sok tau. Tau dari mana lo kalo dia kehilangan gue?” serang Nadala tak percaya. “Nad, gue nggak buta-buta amat kali. Beberapa hari ini, elo ngindarin dia kan? Gue itu sering banget ngeliatin lo lagi minum es jeruk dikantin dari balik tembok disana itu.” Balas Noni sambil menunjuk tembok pilar di lantai bawah yang persis berada diseberang kantin. “Dia nggak pernah absen berdiri disana cuma untuk ngeliatin lo. Sama kayak lo, nggak pernah absen untuk duduk dibangku yang sama sambil minum segelas es jeruk.” ujar Noni pelan tapi cukup menyentak hati kecil Nadala. “Jadi, bener dong kalo lo emang sengaja duduk ditempat yang sama setiap istirahat  cuma sekedar untuk nginget Prisma.” Nadala terdiam sebentar, namun kemudian buru-buru menolak “Nggak, kata siapa? Ngaco.” Sangkal Nadala.

“Hahaha... Nad... Nad... Masih aja nyangkal. Oke kalo memang lo nggak mau ngaku sama gue. Tapi inget, gue ini udah jadi temen lo dari kita masih duduk bareng di kereta dorongan bayi. Gue kenal lo banget sampe ke jeroan lo. Jadi... kalo sama gue juga lo masih nyangkal juga sih namanya cicak ngadalin buaya. Daya sangkal lo nggak mempan sama gue, gue punya jimat tolak sangkalan lo. Hahahaha...” sahut Noni terbahak.

“Non... Tapi dia beneran nggak ada apa-apa sama gue.” Tandas Nadala yang masih keukeuh untuk menyangkal hatinya. “Hahaha... yang nanyain dia ada apa-apa sama lo, siapa? Orientasi pertanyaan gue itu ke lo. Hahaha...” Noni habis-habisan tertawa hingga nyaris tersedak. Nadala mulai manyun melihat dirinya kian terpojok dengan pernyataan Noni. “Uhuk...uhuk... Aduh, sampe keselek kan gue ngetawain lo.” Noni menyelesaikan batuknya dan mengambil nafas panjang. “Gini aja deh. Gue kasih tau ini biar lo ngerti. Posisi gue sekarang ini netral, nggak ngebela elo ataupun ngebela Mas Manda dan Prisma. Lo berhak marah. Itu wajar. Gue rasa siapapun yang berada di posisi lo waktu itu pasti akan ngelakuin hal yang sama seperti apa yang lo lakuin yaitu marah dan kesel akut. Tapiiii... cobalah bijak. Cobalah untuk memakai kaca mata Mas Manda untuk melihat semua ini. Dia mungkin hanya ingin lo aman, apapun caranya bakal dia tempuh. Sayangnya cara ini ternyata salah. Oke, dia salah. Oke, bohong itu tetap tak bisa ditolerir. Tapiiiii.... apakah lo sampai harus mengabaikan upaya kakak lo selama ini untuk memberikan penjagaan buat lo? Gue rasa ini nggak fair. Lo harusnya bersyukur masih memiliki seorang kakak yang peduli sama lo. Bisa lo bayangin betapa menjenuhkannya bagi seorang cowok untuk berjam-jam mendengarkan adik ceweknya curhat ini itu, bahkan hal-hal kecil yang nyaris nggak penting untuk diomongin. Pernah nggak lo bayangin? Jujur aja ya, gue aja bete banget dengerin curhatan adik gue. Padahal gue cewek. Nah gimana kakak lo yang cowok. Jadi, jangan lo skip sesi itu sampai seolah-olah kakak lo bersalah banget.” Noni mulai menangkap gelagap Nadala. Nadala jadi lebih banyak diam.

“Teruuuusss, soal posisi Prisma sebagai eksekutor pun juga harus lo selami juga dengan menggunakan kaca mata Mas Manda. Kenapa? Karena Mas Manda pasti punya penilaian khusus yang pada akhirnya membuat dia memutuskan bahwa Prisma is the choosen one. Kalo kita flashback waktu elo sama mantan pacar lo yang super duper egois bin celamitan bin jelalatan yang udah bikin lo di opname seminggu gara-gara berantem dijalanan dan elo ketabrak mobil serta dengan sangat tidak gentlement-nya dia meninggalkan lo dengan sukses sendirian dijalanan dengan luka disana-sini, syukur-syukur lo nggak koi’t di jalanan gara-gara kehabisan darah. Inget, Kan?” ujar Noni dengan gamblangnya mengingatkan kembali episode paling mengenaskan dari hidupnya, Nadala terpaksa mengiyakan dengan tidak rela. “Iye inget. Ngapain sih dibahas yang itu.” Sungut Nadala yang sedikit kesal. “Bukan bermaksud ngungkit. Cuma selama Prisma ada di sisi lo beberapa waktu kemarin itu apakah dia memperlakukan lo dengan buruk? Nggak usah jauh-jauh deh, apakah lo nggak lihat mata itu tulus?” Noni menambahkan. “Aduh, Non. Gue nggak tau. Asli bener-bener nggak tau. Gue bingung.” Protes Nadala yang lalu meninggalkan Noni untuk masuk kedalam kelasnya. “Sangkal terus.” Sambil mengejar Nadala dari belakang, Noni kemudian meletakkan tas Nadala dimeja sang empunya lalu tanpa segan-segan meledeknya.

Kata-kata Noni barusan ternyata membuat Nadala berpikir. Mungkin benar ia marah dengan kakaknya dan juga Prisma. Tapi apakah ia sudah benar menghukum mereka sejauh ini? Mungkin benar cara yang mereka tempuh itu salah. Tapi apakah ia sadar bahwa apa yang mereka upayakan itu semata-mata hanya untuknya? Untuk membuatnya aman dan terjaga. Nadala mulai diserang rasa penyesalan. Harusnya ia tidak bersikap seperti ini. Bagaimana kalau mereka juga berbalik marah padanya? Bagaimana jika mereka tidak mau mendengarkannya lagi? Bagaimana jika mereka tidak ada untuknya lagi? Ini gawat!! Ia belum siap untuk kehilangan separah itu. Tapi ia benar-benar tidak tahu bagaimana untuk memulai perdamaian itu? “Gawaatttt...” ujarnya lirih.

Selang beberapa jam kemudian, bel istirahat berbunyi. Kehebohan bagi perut-perut yang kelaparan seperti telah menemukan waktu yang tepat untuk menyumpal dengan sedikit makanan enak di kantin. Tak terkecuali Prisma. Ia memesan nasi goreng dan duduk ditempat biasa, tempatnya bersama Nadala dulu. Ia tidak sedang berniat menunggu Nadala, makanya ia mempercepat suapan makannya. Ia masih tidak ingin mengganggu. Dibenaknya, Nadala masih marah dan enggan bertemu dengannya. Ia sadar keberadaannya masih tak berarti dihadapan Nadala. Jadi, sebelum diusir dengan tatapan mata ketidaksukaan Nadala, ia lebih baik pergi sebelum Nadala mampir dan makan siang disini.

***
Belum usai suapan nasi gorengnya, Noni sang teman Nadala sudah lebih dulu hadir dihadapannya dengan sepiring nasi goreng yang sama. Tak berhasil mengelak karena Noni ternyata lebih cekatan mencekalnya dengan satu sapaan. “Eh, Kak Prisma.” Noni menyapanya dengan sopan. “Eh, Noni. Makan.” Prisma membalas sapaan itu sambil mengayunkan sendoknya keudara seraya menyampaikan ucapan selamat makan. “Iya, Kak. Makan.” ujar Noni yang mulai makan. Ia tidak tahu bahwa cewek didepannya itu penasaran setengah mati dengan perasaannya. Terlihat sekali ada rasa canggung yang membuatnya melempar pandangan kemanapun tapi sekali-kali mencuri pandangan kearahnya diam-diam. “Kenapa Non? Kok gelisah amat.” tembak Prisma tiba-tiba, Noni gelagapan saat tatapan matanya terbaca Prisma. “Nggg... Nggak kenapa-napa, Kak.” jawab Noni salah tingkah. “Bener nggak ada apa-apa? Atau ada yang mau lo tanyain ke gue?” tandas Prisma , lagi-lagi seperti menyergap Noni. Noni cuma bisa ternganga. Eh, buset ini orang pakar mikro ekspresi kali ya. Perasaan dari  tadi kayak bisa baca gue. “Nggg... gini sih, Kak. Aku pingin nanya sesuatu sama kakak. Cuma kalo kakak nggak mau jawab juga nggak apa-apa sih.” Ujar Noni pelan. “Mau tanya soal apa?” tanyanya singkat. Pasti soal gue sama Nadala. “Mau tanya soal kakak sama Nadala.” Sahut Noni yang makin hati-hati dalam menanyakan hal ini. Tuh kan! Batin Prisma.

“Silahkan tanya.” Prisma mempersilahkan adik kelasnya itu bertanya tentang apa yang diinginkan. Baginya, ini bisa jadi peluang agar Nadala tidak semakin berlarut-larut marah padanya. Noni pasti pada akhirnya akan mendistribusikan informasi ini kepada temannya itu. Nadala pasti akan tahu yang sebenarnya. Semakin cepat Nadala tahu tentangnya semakin bagus. “Kak, aku udah tahu kalo kakak sama Nadala lagi berantem. Bukan maksud aku ikut campur sih. Nadala sih pernah ceritain masalahnya sama aku. Cuma nggak tahu kenapa ya, aku yakin banget sebenarnya masalah ini bisa diselesaikan secara baik-baik, bukan dengan cara perang dingin begini. Aku pingin tanya bener kakak ngelakuin ini hanya karena permintaan dari kakaknya Nadala?” Noni menyudahi kalimat tanyanya. Prisma tak menyangka akan ditodong pertanyaan seberat ini. Sambil mengambil nafas panjang, ia mulai menyiapkan jawaban dari pertanyaan Noni.

“Gue nggak tahu ya apa persepsi Nadala sama gue sekarang. Mungkin di mata dia, gue ini jahat atau apalah yang buruk-buruk. Tapi ada banyak hal yang mungkin dia belum tahu dari permasalahan ini. Awalnya emang gue nggak tahu siapa itu Nadala. Sampai suatu hari, waktu gue main kerumah tante gue yang kebetulan lokasinya nggak jauh dari rumah Nadala. Dia waktu itu lagi nyiram tanaman dan gue kebetulan lagi main sepeda diseputaran kompleksnya. Sekali dua kali, gue selalu nemuin dia lagi asyik nyiram tanaman setiap sore. Gue seneng ngeliatin dia. Akhirnya, gue diam-diam jadi keranjingan main kerumah tante gue untuk main sepeda disana demi bisa ketemu dia. Cuma sayangnya gue terlalu takut untuk bisa kenalan sama dia.” Prisma menjeda kalimatnya untuk menyeruput es teh manisnya lewat sedotan. Lantaran mendengar cerita tersebut, Noni jadi latah dan ikut-ikutan menenggak habis minumannya.

Tak beberapa lama, Prisma kembali melanjutkan perkataannya, “Sampai akhirnya, gue ngeliat dia dideretan paduan suara waktu upacara bendera waktu gue jadi pemimpin upacara. Gue kaget sekaligus seneng banget karena ternyata dia itu sekolah disini juga. Nggak nyangka, bener-bener nggak nyangka. Cuma keterkejutan gue nggak berhenti sampai disitu, selama gue diam-diam ngeliatin dia ternyata Mas Manda udah jauh lebih dulu sadar kalo gue lagi jadi secret admirer adiknya. Suatu sore, Mas Manda ngejar gue dengan sepedanya ke taman terdekat. Ya... Mas Manda intregosain gue panjang lebar. Cuma setelah dia jelasin maksudnya barulah gue paham. Disitulah awal mulanya kenapa gue mau jagain Nadala. Cuma sayangnya saat itu gue sebenarnya baru putus dari pacar gue. Jujur, ditengah perjalanan gue jadi penjaga Nadala. Gue jadi bingung memilah-milih perasaan gue. Apakah gue bener-bener sayang sama dia atau cuma jadi pengalihan gue dari segala bentuk patah hati gue? Cerita selanjutnya seperti yang lo tahu.” Prisma menyelesaikan kalimatnya dan menyerahkan semuanya pada Noni.

Noni masih dalam keadaan menganga tidak menyangka ada sebuah cerita yang sangat romantis dibalik perseteruan ini. So sweet banget. Gue juga mauuuu... “Non... Kok bengong?” suara Prisma memecahkan keterkejutannya. Noni yang tersadar bahwa ekspresinya barusan seperti orang norak yang terhipnotis cerita dongeng dari negeri antah berantah. Ia buru-buru membetulkan posisi duduknya sembari membetulkan ekspresinya barusan. “Hah? Nggak kok. Cuma agak terkejut aja. Nggak nyangka aja kalo kakak sebenernya udah naksir Nadala bahkan sebelum adanya permintaan sandiwara ini.” Tapi tiba-tiba Noni jadi teringat sesuatu, wajahnya berubah waspada... kalo kemarin ini orang bisa sandiwara didepan Nadala bisa jadi kan sekarang dia juga sandiwara sama gue. “Kakak, nggak coba lagi sandiwara didepan aku, Kan?” selidik Noni.

Prisma tersenyum lembut kemudian tawa kecilnya meluncur, “Takut amat sih, Non. Gue nggak lagi pura-pura kok. Kalo emang lo nggak percaya, lo bisa kroscek sama Mas Manda. Pasti jawabannya sama.” Namun, wajah Prisma mendadak berubah. Tergambar raut kesedihan disitu, Noni bisa melihatnya dengan jelas. “Sekarang gue takut kehilangan temen lo. Beberapa minggu sama dia, ternyata ngangenin. Banyak hal didiri dia yang bikin gue pingin banget terus-terusan jadi pelindungnya.” Ungkap Prisma dengan sedih yang tertahan. “Kakak sayang sama Nadala?” tanya Noni dengan sangat ekstra hati-hati. Sambil menahan nafas, Noni jadi dag-dig-dug menunggu jawaban yang akan dilontarkan Prisma. Dengan tegas akhirnya Prisma menjawab, “Lebih tepatnya gue udah mulai sayang sama dia. Cuma gue tahu kok mungkin sekarang dimata dia, gue itu brengsek banget. Wajar banget kalo dia nggak mau maafin gue.” Noni langsung berceletuk ria didalam hati, sumpah kalo sampai Nadala masih nolak juga untuk berdamai sama Prisma setelah dia tahu kenyataannya kayak gini, asli gue bakal kutuk dia jadi katak buduk rupa.

“Tenang aja, Kak. Anda telah bertemu dengan juru damai yang paling handal disini.” Noni mengangkat bahu kirinya seraya menepuk-nepuk bangga. “Aku pasti bantuin kakak. Dengan catatan kakak nggak akan sakitin dan bohongin teman aku lagi. Kalo sampai nyakitin lagi, awas aja.” ancam Noni serius. “Makasih ya. Iyaaaa, gue bakal jujur sama temen lo.”

“Gini, Kak... sepulang sekolah nanti, Nadala itu ada audisi terakhir untuk pementasan peri menangis. Kakak tahu dong seberapa pentingnya peran ratu peri yang dia incer. Iya dong iya dong...” mata Noni berkedap-kedip imut. “Nah, tadinya itu dia bakalan nebeng sama aku. Cuma karena aku ada urusan lain, makanya batal. Jadiiii... kakak masih punya kesempatan untuk berbaikan hari ini. Itu juga kalo kakak berani.” tantang Noni. “Nggg, tunggu deh... Lo beneran ada urusan? Jangan-jangan lo ngibulin temen lo juga lagi.” Selidik Prisma. “Yaelah, emang orang kayak aku nggak boleh punya urusan penting apa. Ya beneranlah.” Sungut Noni manyun. “Trus kenapa lo sebegitu niatnya bantuin gue biar bisa baikan sama Nadala?” tanya Prisma sambil memicingkan kedua matanya pertanda mulai curiga. “Yaelah... Sederhana aja kali, Kak. Ini semua aku lakuin buat Nadala. Ini karena Nadala juga sayang sama kakak. Dia itu otak dan gelagatnya transparan banget. Jadi gampang banget buat aku untuk nebak isi hati, meskipun dia nyangkal abis-abis. Lagian, aku tuh kenal sama Nadala dari kita berdua masih kecil. Percaya deh sama aku. Kakak itu udah punya tempat spesial di hatinya Nadala. Kalo nggak percaya tanya aja langsung sama orangnya. Hahaha...” sahut Noni dengan pedenya.

Setelah mendengarkan cerita dari Noni, Prisma memang jauh lebih tenang. Tapi yang jadi sekarang adalah apakah ia siap untuk berhadapan langsung dengan Nadala dan menyelesaikan semuanya. Bagaimana kalo ternyata lagi-lagi ia diabaikan. Gawat, hati gue nggak karuan. Kenapa nyali gue jadi cemen begini sih. Gawaaaattttttt....!!!  Ia memilih untuk berpikir sejenak untuk bisa tahu dengan pasti apa yang harus dilakukan untuk misi sepulang sekolah nanti.     

***

Ditempat lain... Lagi-lagi, Vero kalah cepat untuk bisa menyambangi Andria dikelasnya. Orang yang dicari sudah raib dari kelasnya sebelum bisa ditemui. Vero gagal lagi. Gani yang melihat wajah kusut Vero dari balik jendela kelasnya langsung beranjak mendekati temannya itu. “Udah cabut kali orangnye dari tadi. Telat lho... Kayaknya sih doi ngerasa lo lagi nyariin dia.” ujar Gani menepuk bahu Vero. “Dia beneran nggak mau ya ketemu gue?” tanya Vero dengan nada pasrah. “Bukan nggak mau tapi belum mau.” Gani mencoba menenangkan Vero. “Yaudah sih... lagian kan lo masih bisa nungguin doi masuk lagi ke kelas. Bentar lagi istirahatnya juga kelar.”  Vero mengangguk setuju dengan saran Gani.

Benar saja, tak berapa lama kemudian orang yang ditunggu datang. Gani menyenggol pelan lengan Vero, “Tuh, anaknya datang. Goodluck ye.” Gani berbisik pelan yang lalu memilih menyingkir karena tak ingin mengganggu acara Vero yang entah mendapat sambutan macam apa kali ini. Vero buru-buru bersiap. Baginya ini kesempatan, apapun reaksinya tak jadi soal. Yang penting usaha, dengusnya dalam hati.

Andria yang berjalan menunduk itu, masih belum sadar bahwa dipintu kelasnya sedang ada seseorang yang menunggunya. Ia berjalan seperti tengah menghitung keramik ubin yang ada dilantai. Matanya terus-menerus menyisir setiap inci lantai yang dilihatnya, hingga ada satu cekalan yang menghentikan kegiatannya. Cekalan itu sangat kuat, Ia bahkan tidak bisa sedikitpun melangkahkan kakinya untuk bisa segera masuk kedalam kelasnya. Ia tahu ulah siapa ini. Vero ngapain lagi sih, Lo? Matanya kembali memanas menahan nyeri yang muncul dihatinya. “Gue nyariin lo dari kemarin.” Tandas Vero tegas. “Ada perlu apa?” balas Andria datar.

“Banyak! Banyak banget. Tapi lo nggak pernah ada. Lo ngindar dari gue lagi. Ya, Kan?” ujar Vero yang tak sadar menguncang-guncang pelan cekalan tangannya kepada Andria. “Jangan berlebihanlah. Buat apa gue ngindar dari lo.” Jawab Andria sambil melayangkan tatapan serius. Namun, sedetik kemudian tatapannya bergeser menghindari manik mata Vero yang tak disangka akan berbalik menatapnya tajam. Andria menunduk lagi, ia kebingungan karena airmatanya sudah berlinangan nyaris tak tertampung lagi di cekungan kelopak bawah matanya.

See.. bahkan lo nggak berani ngeliat gue lama-lama. Liat gue.” Vero menarik tangan yang ada digenggamannya. Andria bersih keras mati-matian menahan. “Gue bilang liat gue, An.” Vero ternyata masih belum menyerah, dipegangnya bahu Andria dan menarik tubuh yang lebih kecil itu sejajar berhadapan dengannya. Andria masih merunduk tak ingin melihat Vero. Bukan karena tidak ingin melihat orang didepannya itu. Tapi ia tidak ingin Vero melihatnya dalam keadaan menangis begini. “Liat mata gue, An. Biar gue nggak perlu nuduh lo itu ngindarin gue.” Ujar Vero melunak.

Andria akhirnya menyerah, diangkat wajahnya. Namun, ganti Vero yang dibuatnya terkaget-kaget. Vero tak menyangka ada jejak airmata di pipi Andria. Matanya pun memerah dan sembab. “Lo nangis?” tanya Vero terperanjat, super kaget. Andria hanya mematung menatapnya. “Lepasin gue, Ver.” Pinta Andria lirih. “Lepasin gue... Sakiiiit...” ulangnya pelan. Vero melepaskan cekalannya. Ia masih kaget melihat Andria menangis. Ia tak menyangka bahwa kesalahpahaman ini memang sudah benar-benar parah dan terbukti membuat orang yang disayanginya sakit. Vero bahkan masih terbengong sepeninggalan Andria. Tak jauh dari sana, Gani memandangi kelakukan dua temannya sambil geleng-geleng. “Gawat, itu bocah dua bener-bener salah paham.” sahutnya pelan.

Sebelum bel istirahat benar-benar berbunyi, Vero mengambil handphone-nya kemudian segera menghubungi seseorang. “Halo.” Sapa orang diseberang. “Gue butuh bantuan lo.” Todong Vero telak-telak. “Hah?” orang diseberang yang sedang diajak ngobrol Vero ternganga heran. “Gue bener-bener butuh bantuan lo. Ini super penting super gawat buat hidup gue. Gue jemput lo dikantor abis gue pulang sekolah trus kita ke suatu tempat. Selama diperjalanan nanti gue ceritain masalahnya.” jelas Vero yang lalu menutup sambungan telponnya. Sementara orang diseberang sana cuma bisa berdecak kesal karena belum apa-apa telponnya sudah diputus, “Dasar.”

***

Sore hari ini ditandai dengan meredupnya terik cahaya matahari. Gorden dikelas nampak juga sudah mulai dibuka kembali. Anak-anak dikelas juga sudah mulai tidak betah duduk dibangkunya masing-masing. Semua sudah mulai membenahi peralatan tulis yang bertebaran diatas meja. Bolak-balik mata mereka melirik jam dinding yang tergantung di depan ruangan, persis beberapa sentimeter diatas papan tulis. Nadala juga tak ingin ketinggalan kegiatan yang menyenangkan ini. Bersiap-siap untuk merayakan usainya jam mata pelajaran terakhir. Nadala sudah sibuk memasukkan pensil, pulpen, dan buku-buku diatas mejanya. Lalu mengecek ke laci meja sekedar untuk memastikan apakah ada barang miliknya yang tertinggal.

Bel pulang sudah berbunyi, sontak hal itu disambut dengan suka cita oleh Nadala dan teman-temannya. Sambil mulai menggemblokkan tas ke punggungnya, Ia membalas sahutan selamat sore dari sang guru. Setelah gurunya keluar dari kelas, Ia juga bergegas keluar dari sana namun teriakan Noni menghentikan langkahnya. “Nad.” Ia terpaksa menoleh sebentar, “Nggg... apaan? Gue buru-buru nih.” sahut Nadala menunggu Noni yang sedang berjalan kearahnya. “Yaelah, tenang aja kali. Masih jam setengah empat ini.” Noni berujar santai. “Pale looo... Kayak nggak tahu aja daerahnya. Macet kaleee...” protes Nadala sambil melotot. “Eh, Nad. Gue doain ya semoga lo lolos audisi terakhirnya. Semoga besok lo udah resmi jadi ratu peri. Pake sayap ama mahkota kemana-mana. Hahaha...” ucap noni mendoakan. “Oncom! Lo ngedoain gue yang tulus kenapa.” balas Nadala seraya menjitak kepala Noni pelan namun sang sasaran berhasil menghindar. “Weits, gue tulus. Tuluuuuus buanget. Hahahaha...” goda Noni. “Yaudah, gue jalan ya. Doain gue.” Nadala berpamitan. “Yes, Ratu Peri. Kutunggu kedatanganmu dengan sayap barumu esok hari.” Noni memberikan penghormatan ala negeri dongeng dengan sedikit membungkuk dan menarik sebelah roknya lebih tinggi. “Yes, I am.” balas Nadala sambil mengibaskan rambutnya begitu Noni menegakkan tubuhnya lagi. Saking kagetnya Noni dengan serangan rambut Nadala yang mendadak, Ia hingga terhuyung mundur. “Nadala... Kebiasaan!” maki Noni yang kaget. Namun, sang pelaku sudah lebih dulu kabur sambil menjulurkan lidahnya meledek korbannya yang hanya bisa menahan kesal.         

Nadala berjalan menuju pangkalan ojek terdekat dari sekolahnya. “Bang, gedung serba guna yang deket radio tamusema ya.” Setelah bersepakat dengan ongkos, barulah Nadala berangkat diantarkan sang tukang ojek ke tujuannya. Perjalanan sore itu agak cukup tersendat lantaran daerah yang hendak dituju Nadalah merupakan kawasan yang terkenal dengan kemacetannya. Meskipun menggunakan motor, ia juga sesekali bersabar diri karena tetap tak bisa menyalip saking macetnya. “Sabar ya, Neng. Macet banget nih.” Nadala yang takut akan telat sang tukang ojek yang merasa penumpang dibelakangnya gelisah akhirnya berupaya menenangkan. Nadala mulai bete saat sudah lebih dari 10 menit terjebak didalam kemacetan itu. Tapi ia tak sadar dengan seorang pengendara motor yang juga tengah berhenti persis disebelah kanannya. Pengendara motor yang menggunakan jaket kulit berwarna hitam itu terus menoleh kearahnya, Ia mulai risih karena terus-menerus diperhatikan. Sayangnya ia tidak bisa wajah si pengendara motor itu karena helm yang dikenakan oleh orang itu memiliki kaca yang sangat gelap.

Namun ia memilih untuk mengabaikan si pengendara itu. “Sok misterius amat sih, Pak.” Ujar Nadala pelan sambil bergidik ngeri. Berhubung rasa penasarannya berhenti disitu, jadi ia tidak terlalu peduli dengan kelanjutan nasib si pengendara motor aneh tersebut. Padahal si pengendara yang sedari tadi melihat kearah Nadala justru tengah mengikuti kemana pun laju motor didepannya bergerak.

Setelah berkutat dengan kemacetan, akhirnya Nadala tiba di Gedung Serba Guna. Ia turun dari motor, lalu membuka helm yang dikenakannya. Kemudian, ia merogoh kantung kemejanya untuk mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya bersamaan dengan helm barusan kepada sang tukang ojek, “Ini, Bang. Makasih ya.” Kata Nadala singkat. Sang tukang ojek pun langsung menerimanya sambil berkata hal yang serupa, “Makasih juga ya, Neng.”

Nadala melihat jam ditangannya, masih tersisa waktu lima belas menit. Ia tidak telat. Ia langsung berlari untuk segera melapor ulang kepada pihak panitia bahwa hari ini ia akan mengikuti seleksi akhir. Setelah urusan administrasi, ia lalu bergegas keruang ganti untuk bersiap-siap. Saat memasuki ruang ganti, ternyata sudah banyak sekali para peserta audisi yang sedang bersiap-siap. Atmosfir ketegangan mulai menyerang Nadala. Didalam ruang ganti itu, setiap peserta diberikan satu spot tempat duduk dan meja lengkap kaca untuk berhias yang telah ditempeli kertas dengan masing-masing nama peserta. Nadala berjalan menyusuri satu demi satu, hingga ia menemukan namanya tertulis disalah satu meja rias. 

Nadala langsung memilih untuk berganti kostum dan mempersiapkan diri dengan waktu yang tersisa. Menyapu bagian-bagian wajah yang terhantam lembut debu jalan dengan beberapa tisu basah dan mendempulnya dengan beberapa polesan bedak dan kosmetik lainnya. Nadala baru menyadari bahwa ialah satu-satunya peserta audisi yang datang tanpa pendamping. Sementara ia lihat disekitarnya, para peserta audisi sibuk mengeluhkan rasa tegang mereka kepada para pendampingnya. Sedangkan dirinya sendirian dan hanya bisa menguatkan diri agar rasa tegangnya tidak terlalu mendominasi otaknya saat ini. Ia tak ingin ketegangan itu justru menemukan celah dan menghambatnya saat audisinya nanti.

Mas Mandala pernah bilang, “Rasa tegang adalah satu indikator bagus karena itu berarti kamu diingatkan untuk tampil maksimal... tapi jika berlebihan justru berubah menjadi sebuah bahaya yang akan mengganggu fokusmu dalam melakukan sesuatu. Kalau kamu tegang, pejamkan matamu sejenak, tarik nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan, lakukan itu hingga beberapa kali hingga degup jatungmu lebih stabil.”  Nadala mencoba melakukan kata-kata kakaknya itu. Betul adanya. Ketegangan yang semula mendekapnya mendadak hilang dengan sendirinya. Entah mengapa rasanya jadi rindu dengan kakaknya. Tapi meminta kakaknya untuk duduk manis dideretan bangku penonton saat ini adalah hal mustahil mengingat berkat ulahnya sendiri di hari kemarin yang membuatnya harus kehilangan kesempatan untuk ditemani oleh kakaknya hari ini. Padahal radio tamusema cukup dekat dengan lokasi audisinya. Tapi, sekali lagi... ya sudahlah.

***

Sore hari ini, Mandala rasanya ingin sekali membagi tubuhnya menjadi dua. Dia ingin berada di tempat dimana adiknya tengah di audisi. Meskipun belum ada gencatan senjata secara nyata antara dirinya dan Nadala, dia ingin memberikan dukungan bahkan berteriak jika perlu. Disisi lain, dia sadar bahwa raganya harus tetap berada ditempat siarannya saat ini. Selain itu, ada hal lain yang menahannya disini. Seseorang yang berada disampingnya saat ini - seorang yang belakangan ini mendominasi ruang-ruang imaji didalam pikirannya. Entah mengapa langkahnya lebih berat disini. Apalagi saat dilihat wajahnya tampak sedih dan tak secerah biasanya. Lusuh. Bahkan ketika Mandala bertanya kepadanya, hanya anggukan atau gelengan sebagai simbol jawaban lalu kembali terdiam seperti tenggelam dalam pusaran masalahnya.

“Ini anak kenapa lagi? Ditanya jawabnya ngangguk. Ditanya lagi malah geleng. Suaranya ilang dicolong siapa sih, Andria?” tanya Mandala sambil menyeret roda bangku yang didudukinya mendekati Andria. Andria yang sedang duduk menopang dagu akhirnya memunculkan raut wajah lemasnya dan menjawab pertanyaan Mandala itu dengan kata-kata seadanya, “Dicolong kancil.” jawab Andria singkat. “Itu suaranya ada. Katanya dicolong...” Mandala mensejajarkan wajahnya dengan wajah Andria. Mata itu tampak begitu layu, seperti tak ada sinar keceriaan khas miliknya. Ingin sekali dia rengkuh perempuan ini kedalam pelukan hanya untuk sekedar menghapus kesedihan itu.

“Kenapa?” meski ragu, akhirnya Mandala memberanikan diri mengacak-acak rambut Andria pelan, “Kalo lo memang punya masalah, lo cerita dong ke gue. Gue siap jadi tong sampah lo.”  Setiap hari bahkan kapan pun lo butuh, An... Gue pasti ada buat lo. Andria menggeleng. “Nggak ada apa-apa kok kak.” Jawab Andria lagi. “Gue kenal betul siapa elo, An. Elo itu orangnya cerewet banget. Jadi kalo diem kayak gini pasti lagi ada apa-apa.” Mandala kembali membelai rambut di pucuk kepala Andria. “Jangan dipendam kayak gini, nanti yang ada lo sakit. Gue nggak mau lo sakit. Cerita ya, An.”

Andria menjawab pertanyaan itu dengan tetesan air mata yang perlahan berjatuhan di pipinya. “An, lo kenapa? Kok malah nangis.” tanya Mandala khawatir yang tiba-tiba mendapati Andria menangis. “Pinjem pundaknya.” Sahutnya pelan. Mandala langsung memutar bangkunya dan membiarkan Andria menangis dibalik punggungnya. Mandala tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun dari isakan tangis Andria yang semakin kencang, dia mengerti bahwa masalah yang dihadapi rekan sepenyiarannya ini sepertinya serius. Tak berapa lama, tangisan Andria mulai mereda, Andria pun mulai menarik wajahnya dari punggung Mandala. “Makasih ya, Kak.” Ujar Andria.

Seperti adegan klasik di film-film romantis tatkala pemeran pria menyapu bekas air mata dipipi pemeran wanitanya. Mandala pun ingin memiliki momen itu bersama Andria. Dengan hati-hati, Mandala menghapus jejak tangisan yang membekas dipipi Andria dengan tangannya. Andria sempat terkejut dengan perlakuan Mandala barusan. Cuma entah mengapa, hatinya yang gersang itu seperti diberi tetesan embun yang menyejukkan. Sedikit meredakan meski tidak akan bisa menghilangkan seluruhnya.

Tangan Mandala masih memegang lembut pipi Andria. Bahkan sesekali Mandala membelainya. Keduanya terdiam saling menatap seakan menikmati suasana itu. Mandala melempar senyum dan berupaya agar wajah lebih dekat lagi dengan Andria. Andria kembali dikejutkan dengan ulah super manis Mandala kepadanya. Hanya saja, kali ini Andria agak sedikit menunjukkan sikap tidak nyaman. Andria mengelak pelan “maaf, Kak.”

Sadar bahwa perlakuannya membuat Andria tak nyaman, Mandala buru-buru meminta maaf. “Sorry, An. Gue nggak ada maksud apa-apa. Gue cuma... cuma... cuma mau bilang kalo gue itu care banget sama lo. Bukan sekedar rekan kerja tapi lebih dari itu.” Sebuah pengakuan lagi. Raut wajah Andria berubah kaku. Belum selesai satu masalahnya dengan Vero, kini Mandala menyeretnya kedalam kekacauan baru. “Kak...” Andria mencoba menanggapi pernyataan Mandala barusan, namun Mandala yang justru mengalihkan pembicaraannya. “Kalo lo belum siap, jangan dijawab. Gue ngerti kok kalo mungkin lo kaget. Gue cuma mau lo tahu.” balas Mandala lembut sembari mengusap lengan Andria. Andria memilih diam, tak melanjutkan apa yang ingin disampaikannya.

Ini gawat. Pekik Andria dalam hati. Ia tidak menyangka bahwa Mandala ternyata menyukainya. Bagaimana ia harus menghadapi keadaan ini? Apa ini pertanda bahwa ia harus menerima Mandala yang jelas-jelas menyayanginya dengan sepenuh hati? Tapi hatinya enggan menyanggupi kenyataan yang telah terhidang didepannya. Dan Andria tidak ingin jadi pendusta untuk hati yang datang dengan sejuta ketulusan. Pecinta bukan pendusta. 

■■■■