Saturday, 18 October 2014

Pendekar Ayu dan Pangeran Dewo (Part 3)

Part 3

Jejak Kaki Kuda dan Senyum Sang Penunggang

Dewo kembali membaca surat dari Nimas. Berkali-kali keningnya mengernyit, memikirkan sesuatu. Sepertinya Kerajaan Teratai Putih yang dimaksud cukup bersahabat ditelinga. Kerajaan itu memang tidak jauh dari tempat tinggalnya kini. Hanya saja, jika tidak salah mengingat... Mendiang Bopoknya pernah berpesan untuk tidak mendekati kerajaan tersebut.

Ada semacam mitos mengerikan yang berkembang di masyarakat luas ketika ada orang luar yang mencoba menerobos kerajaan tersebut. Dewo mengingat-ingat kembali kutukan yang pernah didengarnya terkait dengan mitos tersebut, “Orang Baru Membatu Orang Lama Memangsa.” Dewo menggangguk seraya membenarkan ucapannya sendiri.

Tapi surat dari Nimas bukan sembarang surat yang bisa dengan seenaknya diabaikan. Surat ini titah. Sebuah amanah. Jadi, sudah bisa dipastikan Dewo harus turun tangan menyelidiki lahan pertanian yang ada disana. Dewo segera berkemas. Dibawanya sedikit makanan untuk perbekalan selama di perjalanan. Sebuah peta pun tak ketinggalan dibawa bersamanya. Dan yang terakhir, Dewo menyiapkan kuda kesayangannya.

Perjalanan pun dimulai. Dewo menunggangi kudanya menyusuri jalan menuju ujung dari Desa Ilalang. Pemandangan pertama yang tersaji dihadapannya adalah sebuah sungai yang jernih tapi dangkal. Dengan mudahnya kuda Dewo menyeberangi sungai tersebut. Desa demi desa Dewo lewati. Semakin mendekati wilayah Kerajaan Teratai Putih, semakin besar hembusan cerita terkait dari mitos mengerikan bagi para pendatang. Setiap kali menjawab keingin-tahuan orang-orang – yang berpapasan di jalan – tentang kemana tujuan dari perjalanannya, ekspresi yang muncul dari mereka adalah tatapan kaget. Keterkejutan yang ditampilkan selalu menghentikan mereka untuk bertanya lebih lanjut kepada Dewo. Tapi Dewo enggan menanggapi reaksi mereka atau bahkan sekedar bertanya atas mitos itu.

Dewo kembali melanjutkan perjalanannya. Memasuki sebuah hutan yang seperti jarang dilewati oleh orang. Bisa jadi karena adanya mitos di kerajaan ini, maka para pendatang mengurungkan niatnya untuk berkunjung kesini. Di dalam hutan ini, Dewo mendapati sebuah batu besar yang terukir diatasnya sebuah tulisan: DAERAH KEKUASAAN KERAJAAN TERATAI PUTIH. Dewo sadar bahwa dirinya ternyata sudah masuk kedalam wilayah Kerajaan Teratai Putih. Dewo harus semakin berhati-hati. Ditingkatkannya kewaspadaan.

Tak lama setelah melewati batu besar itu, Dewo menemukan jejak kaki kuda lain selain jejak kuda miliknya. Lalu Dewo mencoba mengikuti kemana jejak kaki kuda tersebut akan berhenti. Perlahan tapi pasti, kuda Dewo akhirnya membawa dirinya semakin masuk ke dalam jantung hutan. Dilihatnya seekor kuda hitam sedang diistirahatkan. Sepertinya, itu kuda yang jejak kakinya Dewo ikuti. Jejak kaki kuda itu tak lagi tak bertuan. Seorang perempuan yang tengah memetik beberapa lembar daun nampaknya penunggang kuda hitam itu.

Dewo lantas turun dari punggung kudanya, tapi pijakan pertama Dewo di tanah ternyata mengusik perempuan diseberang sana. Perempuan itu menoleh dan langsung bersiaga terhadap calon penganggunya. “Maaf kalau saya mengusikmu. Sungguh saya tak bermaksud seperti itu.” permintaan maaf itu mengalun dari bibir Dewo.

Sontak antisipasi perempuan itu luntur seketika, ketika melihat sosok Dewo jauh dari kesan jahat ataupun penuh dengan embel-embel ancaman. Perempuan itu lalu tersenyum menyapanya. Ganti Dewo terdiam melihat sosok perempuan yang tengah menyuguhkan senyum untuknya. Senyum yang menenangkan. Seperti senyum para bidadari di khayangan. Dewo tertegun, makin terpesona. Perempuan itu begitu ayu, batinnya. 

Tuesday, 9 September 2014

Pendekar Ayu dan Pangeran Dewo (Part 2)

Part 2

Desa Ilalang dan Permohonan Sang Ratu 

Fajar pagi sudah mulai menyingsing di Desa Ilalang. Sayup-sayup bunyi kokokan ayam membangunkan Dewo yang tengah terlelap tidur. Perlahan matanya dibuka. Dipaksakan tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang. Entah ini sudah minggu ke berapa dia berkabung. Setiap harinya Dewo harus mewaraskan pikirannya dan berkali-kali menyahut kapada dirinya sendiri bahwa Bopoknya sudah tidak lagi menjadi bagian nyata di dalam kehidupan ini.

Dewo beranjak menuju bale di depan rumahnya sambil menenteng sepiring penuh ganyong yang hendak disantapnya. Dewo duduk dan mulai menyantap hidangannya itu. Tak lama kemudian, terdengar bunyi tapak kuda yang bergerak cepat kearahnya. “Siapa kiranya pagi-pagi memacu kuda dengan begitu cepat?” gumamnya seraya melongokkan kepala ke asal suara.

Beberapa orang mulai nampak terlihat menunggangi kudanya dan terus bergerak maju kerumahnya. Ternyata rombongan berkuda itu adalah tamu untuknya. Kuda-kuda tersebut lantas dihentikan oleh para penunggangnya. Salah satu diantara mereka turun dan membawakan sebuah gulungan untuk Dewo, “Kami membawa surat dari Ratu Nimas Naratih untuk Yang mulia Pangeran Dewo.” Dewo lekas mengambil gulungan surat itu dari tangan sang pengawal. Buru-buru membuka dan membaca isinya.

Tertanda untuk Kang Mas Dewo,

Apa kabarmu disana, Kang mas? Semoga kesedihanmu atas meninggalnya Paman Arji sudah kian surut. Aku dengar bahwa pada akhirnya kang mas memilih untuk menetap di Desa Ilalang. Aku cukup terkejut mendengarnya, meskipun begitu... aku yakin bahwa kang mas memiliki alasan khusus dan aku menghormati keputusan kang mas. Namun, jika kang mas ingin pulang. Kerajaan ini akan selalu menjadi rumahmu.

Kang mas, ada yang harus kuberitahukan kepadamu. Tak jauh dari Desa Ilalang terdapat sebuah Kerajaan yang bernama Teratai Putih. Dari kabar burung yang kudengar, kerajaan itu memiliki lahan pertanian yang sangat bagus. Bisakah aku meminta bantuanmu untuk mencari tahu kebenarannya? Jika kabar itu benar, bisakah kau mengamatinya lebih lanjut untukku? Aku sangat ingin menerapkan hal yang serupa pada Kerajaan Elang Putih. 

Terima kasih Kang Mas... Aku dan Kang Mas Sapardi selalu mendoakanmu dari sini.

Dewo menggulung kembali surat tersebut. Secuil senyum mulai tersungging di sudut bibirnya. Sebentuk senyum yang meremehkan dirinya sendiri. Bahkan hingga kini, Dewo masih belum sepenuhnya bisa melupakan perempuan yang paling dicintainya itu. Ya, bayangan Nimas Naratih memang ternyata masih berada direlung hatinya.

Dan itu membuat dirinya tidak bisa untuk menolak permohonan bantuan itu. Dewo menyanggupi permintaan Nimas Naratih. Maka, dia tuliskan balasan surat. “Berikan ini kepada yang mulia ratu.” ujarnya mengulurkan surat balasan itu kepada para pengawal dihadapannya. Sang pengawal pun menerima dan langsung beranjak pergi dari kediaman Dewo.

Friday, 29 August 2014

Pendekar Ayu dan Pangeran Dewo (Part 1)

Part 1

Permulaan Dunia Dewo 

Setelah berakhirnya Perang Angin Utara, Kerajaan Elang Putih kembali berjaya. Ditangan Ratu Nimas Naratih (Nyai Dempul) dan  Raja Sapardi (Pangeran Dekik), kerajaan tersebut menemukan kembali kedamaiannya sebagaimana dahulu kala ketika mendiang Raja Adipta masih memegang tampuk kekuasaan. Sementara itu, Raja Arji harus menerima hukuman atas apa yang telah dilakukannya yaitu dengan melepaskan status rajanya dan diasingkan. Pasca kedua hal itu diberlakukan, keadaan Raja Arji jauh dari kata penuh kekuatan karena diasingkan tanpa satu orang anak buah pun, kecuali Pangeran Dewo yang memilih untuk menemaninya pada kondisi tersulit yang nampaknya terus menggerogoti kondisi kesehatannya.

Tempat pengasingan yang menjadi rumah mereka kini ternyata bukanlah suatu tempat yang mengerikan layaknya anggapan yang berkembang dari orang-orang. Beruntunglah Ratu Nimas Naratih mewarisi kebijaksanaan dari mendiang Raja Adipta sehingga Raja Arji diasingkan di suatu tempat yang tidak terlalu buruk walaupun keberadaannya sangat jauh dari Kerajaan Elang Putih. Ya, Pangeran Dewo telah memohon kepada Ratu Nimas Naratih sebelum titah hukuman itu dijatuhkan kepada bopoknya, dia meminta agar diberikan sebuah tempat yang tetap dalam koridor manusiawi sebagai tempat pengasingan untuk bopoknya.

Selama masa pengasingan itu, Raja Arji memang banyak berubah. Ada sisi baru dari Raja Arji yang muncul dan membuat Pangeran Dewo bahagia. Pangeran Dewo mendapatkan sosok bopok yang diidamkannya sejak dulu. Sosok bopok yang arif dan bijaksana sebagaimana sosok yang selalu dilihatnya dari Raja Adipta, bopok dari Ratu Nimas Naratih. Bagi Pangeran Dewo, masa yang paling berharga adalah dimana dirinya sebagai seorang anak yang dapat menemani bopok tercintanya tanpa pernah memikirkan apakah ini akan jadi saat-saat terakhir antara dirinya dengan sang bopok atau tidak. Meskipun begitu, Pangeran Dewo merasa sangat bersyukur karena pernah diberikan kesempatan berharga itu.

Sebelum Raja Arji meninggal, banyak waktu yang sempat dihabiskan oleh Pangeran Dewo bersama sang bopok. Mereka berjalan dipadang rumput indah, melihat kelangit. Bahkan sering sekali sang bopok tertegun dan seraya mengungkapkan penyesalannya pada apa yang telah dilakukannya selama ini. “Maaf, jika bopok pernah membuangmu ke satu tempat yang sangaaat jauh dengan dalih agar kau mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan di Kerajaan Elang Putih, padahal sebenarnya bopok ingin memisahkanmu dengan Nimas Naratih. Bopok berpikir bahwa jika kau masih ada disana ketika bopok melakukan kudeta pada pemerintahan Raja Adipta, kau mungkin bisa jadi penghalang bopok. Tapi kenyataannya, tekadmu menghalauku kian kentara dan justru ditanganmulah bopok kalah. Dan sekarang bopok menyadari bahwa membuangmu disana ternyata adalah kesalahan terbesar bopok. Bopok minta maaf karena tidak pernah menjadi seseorang yang bisa kau banggakan. Kelak, jika bopok mati nanti, kenang bopok di waktu ini. Di saat bopok bisa menjadi sosok bopok yang membuatmu jauh lebih baik. Gandewo Bandiman Bayu, anakku... bopok bangga padamu. Kelak jadilah manusia yang bisa memanusiakan manusia lain disekitarmu.”

“Bopok, jangan bicara seolah-olah kau akan pergi jauh dan meninggalkanku sendiri.” ujar Pangeran Dewo yang berubah khawatir. “Nak, kau tidak akan sendirian meski bopok mati. Kelak, kau akan menemukan perempuan yang menemanimu, bagaimanapun keadaanmu. Perempuan itu akan berdiri sebagai pihak yang selalu percaya padamu meski kau sendiri ragu pada dirimu. Bopok yakin dia bukan perempuan biasa. Dia pasti sama sepertimu, seorang yang berjiwa pelindung. Kau akan bahagia bersamanya. Kelak jika kau sudah bertemu dengannya, kau akan melihat jiwa yang lembut yang terbalut tekad sekuat baja. Dialah nanti perempuan ayumu dan dia akan menjagamu selamanya.” Itulah pesan terakhir Raja Arji yang tidak akan pernah dilupakan oleh Pangeran Dewo.    

Kini Raja Arji telah menyatu kembali kedalam tanah, pergi meninggalkan kehidupan ini. Yang tersisa adalah kenangan-kenangan terakhir yang indah meski hanya Pangeran Dewo yang menjadi saksinya. Dalam setiap doanya, semoga serentetan kekhilafan yang pernah dilakukan oleh Bopoknya bisa dimaafkan Tuhan melalui pengasingan yang telah dijalani di sisa hidupnya. Dan untuk itulah, Pangeran Dewo akhirnya memilih untuk tetap berada ditempat pengasingan dan melanjutkan hidup.

Dongeng: “Permulaan Dunia Dewo” – Tamat (Bersambung ke seri Pendekar Ayu dan Pangeran Dewo selanjutnya)

Monday, 30 June 2014

Si Kecil Sekolah

Ditulis 11 Juli 2011

Dengan badan yang terbilang kecil... Digembloglah tas sekolahnya yang ukurannya lebih besar dari badannya... Sesekali terhuyung kebelakang karena isi tasnya yang penuh.

Dibalik pintu keluar sudah ada ibu yang selalu berdandan rapi untuk mengantarkannya. Di salah satu tangannya menggenggam payung lipat berwarna coklat. Warna kesukaan sang bidadari kecilnya.

"Ayo, Nak. Matahari sudah tampaknya tak malu-malu menyinari. Hendak kita percepat langkah agar tidak terlambat masuk sekolah."
Sang anak melempar senyum, "Ayo, Bu."

Sang ibu menggenggam tangan anaknya. Berjalan hati-hati... Sesekali memindahkan posisi anaknya jika arah laju mobil berada persis disebelahnya.

"Kamu lelah, Nak?" Tanya sang ibu ketika didengarnya nafas anaknya mulai tersengal-sengal.

"Tidak ibu. Aku tidak lelah. Aku sengaja mempercepat langkahku karena temanku pasti sudah menungguku." Anaknya menjawab sambil menolehkan kepalanya keatas, mensejajarkan mata dengan ibunya.

"Baiklah. Perhatikan langkahmu. Didepan banyak kerikil kecil. Meski kecil jika kamu tidak hati-hati. Kamu bisa jatuh, dan dengkulmu akan luka seperti dulu."

"Iya. Ibu juga jangan melonggarkan genggaman tangan ibu. Jika nanti kita melewati pasar yang padat didepan nanti dan genggaman tangan ibu longgar, maka aku akan terlepas dan tertinggal dibelakang. Sulit untuk aku menemukanmu, Bu."

"Baiklah, Nak."

"Ayo, Bu. Matahari sudah sedemikian terik. Aku malu melihat semangat pijarnya yang lebih terang dibandingkan semangatku pagi ini."

Begitulah...

Kaum Jalanan

Ditulis 27 Juli 2011

Dunia tidak akan tahu berapa besar optimistis kaum jalanan
Tanah yang dijunjung kaum kapitalis tak menyurutkan hasrat berbahagia kami
Berbahagia hak mutlak manusia
Tidak bisa di curi, tidak pula di beli, hanya di rasa
Disini... di dalam hati dari kami - kami yang tinggal di jalanan atau kolong jembatan

Oh, kaum ningrat...
Meski tak sedarah, meski tak sekasta
Tapi kami manusia, punya mimpi dihormati walau darah tak sebiru kalian
Dihormati karena penghargaan atas pencapaian kami
Bukan karena sisa-sisa picingan mata jijik dan rasa kasihan

Oh... Dunia kami dunia jalanan
Tidur menghadap kelangit penuh bintang
Beralas tikar daun kering dan pelepah pisang sedikit debu
Cukup nyaman meski kerap kali di belai semut dan di cium nyamuk
Sungguh nikmat bentol yang kami garuk

begitulah...

Drama Kemacetan

Ditulis 7 Juli 2011


Lagi-lagi mobil merapat bagai rayap... Tak segan-segan bus besar pun saling adu body... 

Lampu merah benar-benar menyala menyulut gelagat yang sudah letih di balik kemudi... Marah... 

Dengan mimik muka yang tertahan... 

Jangan marah... Karena tetap akan seperti itu... Terjebak rutinitas... 

Adapula beberapa wanita rapih berhak tinggi... Duduk dengan segala gengsi dan perhiasan mentereng... Melihat dengan sudut mata yang kian menyipit... Didepannya tengah ada pengamen bermodal tepukan tangan dan suara seperti habis menenggak secawan arak yang memabukkan... 


"Hei, jangan berorasi di depan wajahku... Hanya melunturkan riasan yang sudah kusapu berjam-jam saja." 

Sang pengamen berkata, "Maaf, Bu. saya tidak sedang berorasi. Tapi bernyanyi." 

"Panggil saya NYONYA. Karena saya tidak pernah menjadi ibumu. Mengapa bernyanyi tanpa nada." 

"Maafkan saya, Nyonya. Kalau anda tidak berkenan. Saya hanya berusaha mengganjal perut. Dan saya juga mencoba berusaha menghibur anda ditengah kemacetan ini" 

"Huh..." 


Begitulah...

MATAHARI DI BALIK SENJA

NADIKU...

Aku tak pernah mengerti bagaimana hidup coba rekatkan erat dua pasang mata ini ketika nadi yang berjalan tak jauh –dari penantian akan helaan nafas ikhlas – itu muncul dan menjadi candu.

Aku tak tahu siapa namamu? Bagaimana perangaimu? Yang kuketahui adalah setiap kali nadi itu berjalan didekatku, aku tersinari rona jingga yang cerah.

Doaku tercetus di situ... Tuhan, terima kasih karena masih memberiku keindahan itu.

Berkaca pada masa silam yang mendewasakanku, aku berpikir untuk menyita daya upayaku. Bagaimana aku bisa tahu namanya? Atau hal-hal lain yang bersangkutan dengan perangainya sehari-hari?

Aku pun terbiasa hanya diam dan tersipu sendiri saat nadi itu berjalan disekitarku.

Namun, Tuhan punya rancangannya sendiri. Satu moment di tengah riak air yang membahana. Nadi itu benar-benar menjadi detak jantungku karena dia berada dalam satu nafas di tengah gelombang dan hantaman sungai. Aku bersamanya dalam jarak yang sangat dekat. Semoga detak jantungku tak terdengar olehnya.

Tuhan, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas keindahan hidup dalam hatiku. Debar jantungku. Dan sipu malu pipiku. Untuknya... disitulah aku tahu namanya.

Aku menemukan hatiku yang berserakan kala itu. Dialah perekat dan penjaga hatiku yang baru. Dia bersemayam seolah-olah hatiku dilindungi. Aku tahu pijarnya akan membuatku bertahan. Meski dalam diamku.

Diamku kala itu... tercatat oleh garis tanganku. Menanti walaupun tahu tak harus berharap.

Dawai itu sudah melengkapi ketenanganku. Imajiku terampas serta merta ketika satu peristiwa coba mempertemukan aku dengan sang pemilik nadi itu. Sebuah pintu. Dibaliknya ada aku. Dan diseberang tempatnya berdiri, dia tersenyum kaget.

Akankah gejolak ini terus pada ritmenya. Sementara lidahku terus kelu saat tahu aku berada dalam zonanya. Ingin aku sapa tapi terasa mulut ini menggagu... suaruku lenyap tertelan ludah.

Dan aku hanya menatap apa yang dilakukannya dari seberang. Berharap dia menoleh walau hanya untuk ikut menertawai lelucon yang tertuju padaku.

Oh, Tuhan, manakala itu terjadi pegang kuat jiwaku agar tak terbang karena bahagia.
Jingga menjadi warna nadi yang hidup dihatiku. Tubuhnya terbungkus emosi datar tanpa ekspresi. Ataukah dia malu?

Dunia serasa mati, saat rindu ini kadung membuncah terhadap keberadaannya yang entah dimana?

Aku lagi-lagi hanya berharap di setiap malam namanya muncul dalam dunia maya. Agar aku bisa bersua dan menelanjangi hatinya.

Bermalam-malam aku tunggu bahkan hingga aku lepaskan egoku untuk tahu bahwa dia tidak sedang berada di ruang itu.

Mataku tidak bisa menembus kecanggihan logika. Baik buruknya rasa ini tak bisa diukur hanya dari gelagat tertunduk malu dan sebuah senyuman.

Kepastian! Ya, kepastian itu kapan datang. Tidak... tidak... harus ada hal lain sebelum kepastian yaitu intensitas dan kecocokan. Akankah?

Tuhan, hanya tangan-Mu...

Yang sanggup membelai hatinya. Yang sanggup menggetarkan nalurinya. Yang sanggup memberi pertolongan lewat tangan-tangan tak terlihat.

Karena hanya Engkaulah pemilik hati dari nadi yang menghidupi resah di dada ini.

Bila mana Kau berkenan, dekatkanlah dia padaku. Dengan baik-baik. Dengan cara-Mu yang baik.

Amin.


SENJA...

Mmm... aroma senja hari ini terlalu pekat dihidungku... angin semilir yang mendayu-dayu menggoda tengkukku untuk semakin merapat pada kerah kemejaku.

Meski tampak langit senja tak menjanjikan apapun... tapi setidaknya merah merona di atas sana cukup melambangkan apa yang tergambar “di dalam sini”.

Sebuah rasa tanpa nama...

Senandung musik dari derap kaki di ibu kota juga semakin menghidupkan nuansa malam. Alunan dari air mancur yang menyemburkan ketingginya udara memperjelas kekagumanku pada beningnya pantulan air.

Lagi-lagi meski banyak armada yang memperlambat laju di jalan yang seakan mengisyaratkan halangan...

Aku cukup menikmati nuansa ini. Kisah dibalik satu senyuman malu. Dan kepala yang tertunduk gelisah.

Semoga langit senja malam ini membawa kabar yang membahagiakan. Karena aku tak bisa selamanya menatap langit dengan leluasa seperti pelukis yang sanggup menatap langit demi sebuah maha karya lukisannya. Demikian pula rasa tanpa nama ini.


SUBUH DAN SENJA...

Jelas embun masih membasahi rerumputan. Semerbak wangi tanah yang menyengat mengingatkan kita akan dawai langkah. Melangkah lalu bertahan. Atau bertahan lalu melangkah lagi.

Subuh ini ketika aku buka mata, aku ingat langit senjaku yang menjingga. Semoga senyum menelurkan bahagia di bawah naungan-Nya. Dan aku mendoakanmu di kala subuh ini. Dan kelak  jaga aku di kala langit menjadi senjamu.

Sesederhana itu harapku. Dan melangkahlah ketika aku bertahan karena aku pun akan melangkah disampingmu ketika kamu terhenti saat bertahan.


UNTITLE

Sadarkah... ini sudah kali keberapa senyum itu menemani hari-hariku?

Dalam hening masih saja terdiam..

Bagaimana ini? Aku sudah memulainya... aku sudah mulai mengarsir sebagian ruang itu dengan nuansa jingganya...

Semua terjadi tanpa komandoku... Benar-benar diluar dugaan.

Sesungguhnya, aku tak bisa melangkah lebih jauh jika hentakan kakinya masih jatuh dibawah tempatnya berdiri. Bukan maju. Jangan pula mundur.

Ya Tuhan... jaga ia untukku... siapapun ia... bagaimana pun ia... karena aku tidak bisa menjangkau asanya disaat malam tiba... maupun menjelang fajar menyingsing.

Taukah ia... senyumnya itu pelitaku... meskipun hanya tersirat lewat pembicaraan.

Melangkah majulah... aku tak selamanya punya nyali... tak memliki daya... cuma harapan dan doa di setiap sujudku.

Hanya itu...


JINGGAKU MASIH TERDIAM...

Jinggaku terdiam dan itu sangat mencekik leherku. Sulit bagiku bernafas. Kamu adalah porosku saat ini setelah banyak orang melepasku. Jangan melepasku dari genggamanmu wahai jingga.

Aku memang bukan matahari yang sedari dulu hidup dihatimu. Mungkin belum pula saat ini. Aku tahu cinta tak serta merta kau ukir. Aku tahu aku bukan apa-apa. Tapi aku takut berlari darimu. Nafasku selalu sesak memikirkan hal itu. Aku takut... benar-benar takut. Karena kamu aku berani lagi memulai, berani melangkahkan kaki keluar dari zona ketakutanku akan masa laluku.

Jinggaku, tidakkah kau dengar teriakan hatiku kala kau justru diam saat aku berada disekitarmu? Tidakkah kau tahu saat pesan itu hanya terbalas singkat dan seadanya, sesuai dengan apa yang aku tanyakan? Tidakkah kau tahu aku hampir menangis. Sejujurnya aku tidak bisa membohongi bahwa aku tidak bisa menikmati momen menantimu. Karena aku belum tahu isi hatimu. Karena kamu masih terdiam dalam kesendirianmu.


CUACA TAK MENENTU DI SORE HARI...

Setelah kabut yang cukup pekat itu, aku menemukan senyum yang lama hilang. Kata-kata yang begitu hangat membalut rasa dingin yang kerap kali mengigit kulit-kulit ariku. Sungguh anugerah yang tiada terkira. Aku bahagia, Tuhan. Kau kembalikan pencair dahaga dikala haus mendera.
Jatuh bangun, sikap acuh, dan pengabaian mungkin sering kali aku hadapi. Itu kadang menyakitkan hati. Sulit bagiku bernafas. Kebodohanku yang tak pernah hilang adalah kerap kali memberi hati yang penuh untuk orang yang aku sayang. Aku lupa kadang dalam perjalanannya, perasaan akan tenggelam dan hilang perlahan. Aku lupa akan hal itu.
Aku tahu mata itu pasti menyimak apa yang aku lakukan. Aku juga yakin bahwa perhatian itu tak pernah surut sebetulnya. Hanya saja, rasa ego dan malu itu lebih diunggulkan. Maka, hatilah yang berperang.


BADAI BERGEMURUH...

Sudahlah, aku sudah melihat awan gelap di timur sana. Tak sejengkal pun memperbolehkan aku masuk ke pintu diseberang. Aku tak kan melawan lawan. Badai ini akan semakin besar. Tenagaku tak sebesar pusaran badai itu. Sepertinya aku tahu, kemana badai akan menyeretku. Ke akhir yang menyedihkan. Badai itu sudah didepan mata. Dan aku mencium gelagat menghilang dan ingin dihilangkan. Baiklah, badai silahkan hujam aku hingga tak berdaya. Aku sudah pasrah. Aku sudah semakin yakin bahwa sosok itu tak akan bisa kudekap lagi.


MATAHARI PUN TENGGELAM...


Habis sudah masaku padamu. Baik-baiklah dengan kehidupanmu. Aku tak akan lagi menemani hari-harimu lagi. Mengganggumu lagi. Melihat senyummu lagi. Rantai itu terputus. Tak bisa kusambung lagi. Jangkarnya tak kau izinkan menancap terlalu lama di dasar lautan. Kapalmu pun pergi menjauh seiring matahari yang kian tenggelam. Selamat tinggal. Maaf, jika aku bertahan untuk tak menangis. Tangisan ini bukan untuk airmata sedih tapi mungkin untuk tangis bahagiaku dengan pribadi yang lebih membutuhkan aku.