Wednesday, 21 January 2015

Pendekar Ayu dan Pangeran Dewo (Part 4)

Part 4

Sang Pembaca


Senyum itu memang menjadi pembuka yang seakan-akan melunturkan mitos mengerikan di wilayah ini. Akan tetapi, indahnya senyuman itu hanya mekar beberapa menit saja. Setelah itu, ekspresi datar mulai nampak diwajahnya. Perempuan itu langsung berniat pergi dari dirinya. Dewo buru-buru mencekalnya.

“Maaf, mungkin saya lancang mencegahmu seperti ini. Tapi saya seorang pendatang yang kelelahan karena perjalanan saya yang begitu jauh. Sekiranya nona bisa memberitahukan kepada saya dimana tempat peristirahatan terdekat disini?” ujar Dewo dengan sangat hati-hati.

Perempuan itu akhirnya menghentikan upayanya untuk beranjak dari tempat itu. Suasana tiba-tiba menghening. Perempuan itu hanya menatap Dewo tanpa bicara tanpa sepatah kata pun. Tatapan matanya seakan merasuk kedalam relung jiwa Dewo. Apa yang hendak dicarinya? tanya Dewo dalam hati.

“Apa yang menggiringmu hingga tiba di pelosok ini, Kisanak?” Perempuan tampak sangat serius dengan ucapannya. Dewo sendiri tidak yakin untuk mengatakan tujuan yang sebenarnya dari pengembaraannya kali ini. Sedikit ia kaburkan alasan kedatangannya. “Saya hendak menuju ke desa diseberang san...” Belum selesai penjelasan itu, kalimat Dewo langsung dipatahkan oleh perempuan itu, “Tidak ada desa lagi diseberang sana. Jadi, apa maksud kedatanganmu ke pelosok ini, Kisanak?” Sorot matanya kian menajam.

Dewo tersudut, namun ia masih ragu apakah sosok ini akan membahayakan dirinya jika ia mengutarakan niatan aslinya datang kemari. “Percuma saja kau berkelit. Lebih baik katakan maksud dan tujuanmu yang sebenarnya? Apa yang hendak kau cari?” Perempuan itu lalu terdiam sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Dewo seakan membatu dengan tatapan yang kian memangsa.

Namun, entah mengapa ekspresi perempuan itu perlahan berubah waspada. Matanya kini mulai tidak fokus, melirik kesana kemari mengikuti indera pendengarannya. Kemudian, Dewo ditatapnya dengan lekat. “Cepat bersembunyi. Pergilah ke tempat ini segera.” Dewo kebingungan mendapati dirinya diberikan sebuah gulungan peta. “Masuk ke gubuk tua yang ada ditepi sungai. Jangan keluar sebelum saya datang. Saya akan segera menyusulmu. Cepat!” Dewo akhirnya memilih mengikuti kata hatinya untuk mengiyakan semua perintah perempuan itu tanpa membantah sedikit pun.

Dewo bergegas menunggangi kudanya untuk meninggalkan tempat itu menuju kemana dirinya diharuskan bersembunyi. Dewo terus-menerus memaksa kudanya untuk mempercepat laju larinya. Begitu dilihatnya aliran sungai, Dewo perlahan menyusurinya. Tepat seperti yang dikatakan oleh perempuan itu, sebuah gubuk tua berdiri tegak ditepi sungai. Gubuk tua itu semacam bekas gudang. Cukup besar, bahkan sanggup menampung beberapa ekor kuda didalamnya. Tanpa pikir panjang, Dewo segera masuk kedalam, tak lupa kudanya dibawa ikut serta untuk bersembunyi. Bersembunyi? Tapi menurutnya lebih tepat jika dikatakan berdiam diri hingga sosok perempuan tadi datang menjemputnya disini.

Sementara itu, perempuan yang menyuruh Dewo bersembunyi, tengah kedatangan pasukan Kerajaan Teratai Putih. “Wahai Caraka Nawa, apa yang sedang engkau lakukan disini?” tanya seseorang yang berada di deretan paling depan rombongan itu kepada perempuan itu. “Salam hormat kepada Panglima Anaga.” Perempuan itu membungkukkan badannya seraya memberi hormat. “Hamba hanya sekedar berkeliling mencari dedauan untuk keperluan para tabib kerajaan.” lanjutnya.

“Lanjutkanlah pekerjaanmu, Caraka Nawa. Aku hendak menyisir daerah perbatasan kerajaan bersama pasukanku. Jangan lupa, datanglah besok untuk menghadapku. Ada sesuatu yang penting yang ingin kusampaikan padamu.” Seru Panglima Anaga. “Baik, Panglima.” ujar perempuan itu dan lalu kembali membungkuk memberi hormat. Panglima Anaga dan pasukannya akhirnya meninggalkan tempat itu.

Perempuan itu menunggu kemana Panglima Anaga dan pasukannya melanjutkan perjalannannya. Hal ini semata-mata dilakukannya untuk memastikan kemana arah perjalanan mereka. Apakah mereka akan bergerak ke arah sungai atau tidak. Setelah didapat kepastian bahwa mereka tidak akan mendekati sungai, perempuan itu lekas menyusul ke tempat persembunyian Dewo. Ditarik dan langsung ditunggangi kudanya dengan kencangnya menuju gubuk tua di tepi sungai sana.

Setibanya di gubuk tua itu, Perempuan itu hendak membuka pintu, namun terkunci dari dalam. Lantas ia mengetuk pintu didepannya dengan hati-hati. “Kisanak, bukalah pintunya. Ini saya... orang yang tadi menyuruhmu bersembunyi disini.” sahutnya pelan. Terdengar langkah kaki dari dalam gubuk yang semakin mendekat ke arah pintu. Lalu, pintu itu dibukakan oleh Dewo. Kalimat pertama yang meluncur dari mulut perempuan itu adalah... “Kau baik-baik saja, Kisanak?”

Dewo kebingungan, dahinya mengkerut mendengar pertanyaan itu. “Saya baik-baik saja. Memang ada apa? Apakah di luar tadi terjadi sesuatu? Apakah ada yang membahayakanmu Nona? Katakan saja biar nanti kubantu.” Ganti Dewo memburu perempuan itu dengan pertanyaannya. Perempuan itu justru tertawa kecil, “Tidak, saya tidak apa-apa. Saya hanya ingin menyelamatkanmu dari mereka.” Ujar perempuan itu singkat. “Mereka? Siapakah gerangan ‘mereka’ yang nona maksud?” lagi-lagi Dewo dibuatnya heran dengan pernyataan-pernyataan yang serba menggantung.

“Sudahlah, beristirahatlah dulu. Kisanak tadi bilang sedang kelelahan, kan? Kau bisa beristirahat disini. Setelah kau pulih dari rasa letihmu, akan saya ceritakan mengapa tadi saya memintamu bersembunyi disini.” tandasnya mantap. “Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud lancang. Saya rasa tidak pantas selalu memanggilmu tanpa tahu siapa namamu. Tak keberatan kan jika saya mengetahui nama nona?” seru Dewo berhati-hati. Perempuan itu terdiam seperti berpikir. Dewo buru-buru menyelak, “Tapi jika nona tidak berkenan juga tidak mengapa. Saya tidak akan memaksa.”

“Kau bisa memanggil saya dengan nama ayu. Ayo, beristirahatlah. Saya akan membuatkan sesuatu yang bisa kau santap setelah kau bangun nanti.”  Jawab Ayu. Dewo mengangguk dan mengambil tempat di salah satu sudut gubuk tua tersebut. Dewo mulai memejamkan matanya, namun matanya kembali terbuka. “Ayu...” dipanggilnya ayu dengan hati-hati. Ayu yang baru saja ingin beranjak pergi terpaksa menghentikan langkahnya dan menyahuti panggilan Dewo “Ya, Kisanak. Ada apa?” Dewo tersenyum, “Panggil saja saya Dewo.”


“Ya, Dewo. Ada apa?” Ayu mengulangi pertanyaannya. “Tidak, saya hanya ingin berterima kasih atas bantuanmu hari ini. Terima kasih.” ujar Dewo. Ayu mengangguk paham. “Beristirahatlah. Kalau ada apa-apa saya ada di belakang.” Ayu meninggalkannya menuju dapur. Dewo lalu menutup matanya kembali dan mulai terlelap. Sementara Ayu masih memandanginya dari balik tembok dan berujar dalam hatinya, Tak seharusnya kubiarkan ia berada ditempat ini... tapi ia harus tetap ada disini hingga datang satu peristiwa... ia harus tetap ada... ia kunci dari segala kunci meski entah apa.

No comments:

Post a Comment