Monday, 30 June 2014

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 15)

Part 15

RINDU BERKALANG GENGSI


Nadala masih saja menutup pintu kamarnya meskipun Mandala sudah mengetuknya berkali-kali. Mandala terus meminta maaf atas semua sandiwara yang dilakukannya pada adiknya. Sang Ibu akhirnya turut campur untuk menengahi pertengkaran kedua buah hatinya itu. “Ya udah, biarin adikmu nenangin dirinya dulu. Jangan diganggu dulu dia.” Ibu memberikan saran kepada Mandala. Mandala tahu kesalahannya teramat besar. Wajar jika kemarahan Nadala tidak bisa surut seketika. Akhirnya dibiarkan luapan kemarahan itu terobati dengan kesibukan adiknya meski itu berarti Mandala akan semakin jarang berkomunikasi dengan adiknya dirumah.

Nadala memang sebentar lagi akan benar-benar disibukkan dengan aktivitas barunya. Tadi siang, Nadala terus saja mendapatka pengumuman bahwa dia terpilih menjadi salah satu finalis untuk ratu peri. Nadala harus bersaing dengan tiga kandidat lainnya yang juga akan memperebutkan posisi yang dia inginkan. Namun, rasa kebahagiaannya tidak lengkap. Tidak seperti biasanya dimana ia akan langsung berteriak kegirangan kepada sang kakak saat ia mendapatkan sebuah kabar gembira. Sepi dan Nadala mulai merasa kehilangan momen curhat dengan kakaknya. Tapi rasa marahnya belum bisa ia redakan. Dan hal itu yang menghalanginya untuk bertegur sapa sehingga kali ini terpaksa Nadala rayakan sendirian.

Sementara, ketika Nadala sedang beristirahat dari kesibukannya, saat itulah ia didera ingatan tentang Prisma. Ia tidak pernah melewatkan untuk selalu memesan segelas es jeruk. Bukan semata-mata karena ia suka sekali minuman itu tapi karena itulah satu-satunya cara Nadala mengenang Prisma. Prisma menyukai es jeruk sama sepertinya. Entah bagian itu juga sebuah sandiriwara atau bukan, hanya saja... Ia menyukai sedikit cerita dibalik cara Prisma menyapanya dahulu disini, tepat ditempatnya sedang duduk. Cara bicaranya yang seakan mengalir tulus menyapanya. Tapihatinya masih sakit, nyerinya terkadang seperti sesuatu yang sedang membengkak dan menyumbat jalan nafasnya. Nadala menghela nafasnya panjang lalu menyeruput es jeruk hingga habis, berharap setelah ini hatinya lebih lega dan dingin.

Prisma melihat kehadiran Nadala dikantin. Ingin rasanya menghambur kedekatnya. Namun, langkahnya terhenti saat mengingat pesan Mandala untuk memberi ruang bagi Nadala untuk sendiri. Ia hanya berdiri memandangi sosok itu. Mata itu tampak tak berbinar seperti yang selama ini menyapanya. Tatapan Nadala hanya tertuju pada segelas es jeruk dihadapannya. Maaf, Nad. Aku sudah bikin kamu sakit. Aku ingin sekali menemani kamu duduk disitu seperti dulu. Ingin sekali...

Ditempat yang berbeda namun dengan kondisi yang sama menyedihkannya, Vero nampaknya mulai kena batunya atas pilihannya waktu itu untuk mengerjai Andria. Andria justru makin menjauhinya. Sudah beberapa hari ini, ia bahkan tidak melihat batang hidung cewek itu di sekolah. Tapi setiap ia bertanya pada Gani soal keberadaan Andria, Gani selalu menjawab Andria masuk sekolah. Ini aneh. Andria masuk tapi mengapa ia tak menangkap wujud kehadirannya di sekolah. “Dia beneran masuk, Gan?” vero memastikan sekali lagi. “Iye bawel. Masuk kok. Lo liat aja tuh tasnya disana. Berarti doi masuk, kan.” Jawab Gani sambil menunjuk tas Andria yang tersampir di pinggir bangku tempat Andria biasa duduk.

“Kok gue nggak pernah ngeliat dia sih beberapa hari ini?” Vero menggerutu kesal. “Ye mane gue tau. Kangen ye? Hahaha... Lagian sih elo tambeng. Udah gue bilang kan waktu itu mending elo langsung kejar Andria dan jelasin semuanya. Eh, elo malah milih ngerjain anak orang. Baru tahu rasa, kan. Emang enak keadaannya jadi tambah runyam begini. Gue sih sebagai temen sih ikut bersolidaritas,” Gani menjeda kata-katanya, kemudian melanjutkannya sambil menepuk-nepuk bahu Vero, “turut berbelasungkawa terhadap keberlangsungan nasib elo, Sobat.” Vero berdecak sebal, “Rese banget sih, Lo. Bukan dibantuin kek. Iye, gue tau gue salah kemarin. Cuma nasi udah jadi bubur, gimana dong?”

“Bentar... gue coba tanya tukang bubur disebelah rumah gue dulu gimana caranya mengolah nasi yang udah terlanjur jadi bubur.” Sahut Gani dengan ekspresi serius. Vero menganga mendengar kata-kata Gani. “Jangan sampe pipi elo gue kasih kenang-kenangan cap sepatu gue ya.” Vero mengangkat sebelah kakinya dan bersiap-siap mengambil sepatu untuk dilempar ke arah pipi Gani. “Weits, kalem. Gitu aja marah. Vero... Vero... makanya jangan belagu. Better, lo buruan jelasin deh sebelum bener-bener makin kayak benang kusut. Kalo tiba-tiba ada cowok lain yang ngambil kesempatan dan mengunting dalam lipatan gimana hayooo? Secinta-cinta cewek sama cowok, dia pasti akan luluh juga sama perhatian cowok lain yang jauh lebih peduli sama mereka. Pokoknya, jangan sampe pepatah kuno ‘pagi dibuang-buang, petang dikejar-kejar’ itu kejadian sama elo deh.” Tandas Gani serius. “Terus Andria dimana sekarang?” tanya Vero. Gani mengangkat bahu pertanda dia juga tak tahu.

Dan ternyata, makhluk yang sedang dicari oleh Vero tengah berada disuatu tempat. Andria sedang berusaha menghilang. Ia memilih menghindari Vero lagi. Baginya ini akan menjadi hal yang berat. Ia bahkan benar-benar lebih banyak menghabiskan waktu istirahatnya di tempat yang tidak akan mempertemukannya dengan Vero. Mungkin kekanak-kanakan, cuma ia tidak tahu bagaimana mengatasi letupan rasa ingin tahu terhadap kabar Vero yang terus membuncah. Vero seperti jelmaan gatot kaca dihidupnya. Selalu ada disekitarnya, memberikan rasa aman yang bahkan tak pernah dimintanya. Vero laksana sinyal yang menguatkan setiap getir pelangi yang mencoba menerobos keluar seusai badai. Pelangi itu dirinya. Vero memberikan semua untuknya, kecuali mungkin hatinya. Dan itu kesalahan.

Ia terduduk diatas vespa coklatnya. Lagi-lagi Andria mencurahkan rasa sedihnya pada angin yang selalu setia membelai lembut kulit wajahnya. Si coki-coki juga bahkan terkadang dianggapnya hidup dan bisa mendengar keluh kesahnya. “Cok, gue patah hati. Makhluk yang pernah sabotase jok belakang lo itu bikin gue patah hati.” Andria memeluk stang vespanya seraya meratapi nasibnya yang nelangsa. Diusap-usapnya bodi vespa itu berulang-ulang sambil sesekali menyeka debu yang menempel diatasnya. “Enak ya jadi elo, Cok. Kalo aki elo soak, gue tinggal dorong elo ke bengkel. Tunggu beberapa jam, dan elo hidup lagi. Nah, gue... Emang ada gitu bengkel reparasi hati?” Andria menghela nafas panjang. “Bego banget sih gue, Cok. Pake acara jatuh hati segala.”

Andria kemudian melanjutkan sesi galaunya dengan terus mengajak bicara motor vespanya, “Cok, cinta itu apaan sih? Gue nggak pernah tau gimana cara ngadepin cinta. Katanya cinta itu cukup dirasa aja, Cok. Beneran kayak gitu doang? Apa nggak egois tuh? Dirasa tapi nggak dijaga. Tapi lo tahu kan, Cok, manusia itu berubah. Nah, cinta itu bersemayam didalam jiwa manusia. Artinya selalu ada peluang buat cinta itu ikut berubah kan, Cok? Apa nggak perlu dipupuk dengan kepercayaan dan kesetiaan sebagai bentuk penjagaan si cinta? Nggak taulah, Cok. Buat gue, cinta itu kayak lilin yang baru gue tiup pas lampu nyala. Kehadiran gue selesai waktu ada cahaya yang lebih terang menyergap kegelapan hatinya dia. Tapi gue nggak sanggup jadi lampu sorot yang biasa menerangi panggung-panggung opera. Gue cuma lilin, Cok. Sementara gelapnya semesta terlalu luas untuk gue bendung dengan cahaya gue. Coki-cokiiiiii... gue marah sama dia tapi gue kangen tapi gue juga tahu dia jahat. Gimana dong, Cok???” Andria mengacak-acak rambutnya, kesal. 

■■■■

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 14)

Part 14

DUNIA HITAM


Rembulan malam ini bersinar terang. Tapi kenyataannya, Nadala hanya bisa menangis menahan luapan kekesalan di hatinya. Nadala terduduk begitu saja diatas bangku belajarnya. Tatapannya kian nanar, meratapi rembulan yang nampak terkesan meledek memancarkan sinar kebahagiaannya sebagai bulan penuh. Buku diarinya sudah terbuka pada halaman kosong yang masih tersisa, namun tak satu huruf pun mampu dituangkan Nadala mewakili isi hatinya.

Nadala benar-benar tak menyangka kebahagiaan yang didapatnya belakangan ini ternyata hanya sebuah rekayasa. Nadala bahkan tak pernah menyadari bahwa dirinya tengah berada dalam satu set yang diciptakan kakaknya sendiri. Sejak kapan? Sejak kapan skenario ini dimulai. Dadanya penuh sesak menahan luapan emosinya. Tangannya pun mengepal keras dan dibenturkannya pelan keatas meja belajarnya.

Rasa sakit itu bagi Nadala kembali lagi. Setelah setahun lalu melekap, rupanya belum benar-benar pergi dari hidupnya. Lukanya setahun yang lalu baru saja hilang bekat kedatangan seorang kakak kelasnya, ternyata menjadi sumber kedukaan terbaru yang memperparah luka sebelumnya. Nadala tak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Selain, mencari fokus lain yang bisa mengalihkan kemarahannya sebelum semuanya berakhir lebih parah.

Nadala mulai menyibukkan dirinya dengan mengejar audisi untuk pementasan drama peri menangis. Kemarin saat pulang sekolah, Nadala menyempatkan diri untuk mendaftarkan diri dalam audisi itu di salah satu stand pendaftaran yang disediakan. Tentunya bukan di Radio kakaknya bekerja. Hampir setiap sore di salah satu rumah temannya, Nadala menyempatkan diri untuk berlatih dan menghafal dialog serta lirik-lirik lagu yang juga harus dinyanyikannya. Nadala benar-benar tenggelam dalam kesibukannya.

Dirumahnya, Nadala memilih untuk bungkam. Wajah cerianya berubah datar. Di meja makan, Nadala menunjukkan sikap diamnya. Ibu, Ayah, hingga Mandala pun terheran-heran dengan perubahan itu. Setiap hari Nadala menolak ajakan kakaknya untuk mengantarkan dirinya ke sekolah, dia lebih memilih untuk berangkat sendirian. Setiap pulang sekolah pun, Nadala langsung masuk ke kamarnya dan baru akan keluar saat makan malam.

Mandala pun mulai semakin curiga ketika Nadala tidak lagi bertanya atau sekedar bercerita tentang sesuatu yang dialaminya. Nadala tidak pernah sebawel biasanya saat sedang sarapan atau makan malam bersama. Sekarang, Nadala juga lebih sering pulang terlambat. Kamarnya kini lebih sering kosong. Setiap kali, Mandala singgah untuk sekedar mengecek Nadala, buku diari milik adiknya itu yang diam-diam biasa dibacanya kini seperti benda usang yang tak pernah dijamah oleh pemiliknya itu. Lembar itu berakhir sejak sebelum Nadala pingsan tempo hari.

Di sekolah, Nadala memilih menghindari Prisma. Setiap kali Prisma mendekatinya, Nadala selalu berusaha untuk mencari alasan untuk beranjak dari tempatnya berdiri. Nadala juga selalu pulang lebih awal agar Prisma kehilangan jejaknya. Bagaimana pun kondisinya, Nadala harus berhasil keluar dari pantauan Prisma. Apapun caranya, Nadala harus merentangkan jarak selebar-lebarnya antara dirinya dan Prisma.

Prisma mulai menyadari ada yang tidak beres dengan target penjagaannya. Nadala mendadak sulit ditemui dan dijangkau. Prisma juga mulai kehilangan cara untuk menemuinya atau untuk sekedar mengejar saat pulang sekolah. Bahkan akses komunikasi pun seakan terputus karena tak ada satu telepon pun yang dijawabnya, tak ada satu sms pun yang dibalaspun, atau tak ada satu pun pesan yang dibalas di sosial media milik Nadala yang diketahuinya.

Prisma sedang menghabiskan waktu istirahatnya. Di depannya sudah terhidang segelas es jeruk. Saat meneguknya, Prisma pun seolah diingatkan dengan Nadala. Prisma sering sekali melihat Nadala menghabiskan jam istirahatnya dengan segelas es jeruk. Es jeruk adalah hal pertama yang membuat Prisma jauh lebih dekat dengan adik kelasnya itu. Prisma berharap benar-benar ada kebetulan yang akan mempertemukannya dengan Nadala disini.

Kebetulan itu teramini. Nadala tiba-tiba muncul dari balik kerumunan siswa yang sedang lalu lalang di dalam kantin. “Nad.” Panggil Prisma sambil berjalan mendekati Nadala. Nadala menoleh, “Ya.” jawab Nadala singkat. “Sibuk banget. Sampai nggak ada kabar.” Sahut Prisma sambil melempar senyum ringan kearah Nadala. Nadala berusaha membalas senyum itu seadanya, “Iya, gitu deh. Sibuk.” Jawab Nadala dengan sedikit menggantung.

Mereka berdiri berhadapan. Diam-diam Prisma merekam perubahan ekspresi wajah Nadala. Senyum itu tak lagi merekah seperti biasanya. Tiba-tiba, handphone Prisma berdering. Diambilnya handphone tersebut dari saku celananya. Melihat nama Mandala menghiasi layar monitor handphone miliknya. Prisma menegang. Matanya melotot tanya dan sesekali menatap Nadala seperti memastikan bahwa Nadala tak akan tahu siapa menelepon ini. Prisma nampak serba salah. Akhirnya diputuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Prisma harus mengangkat telepon yang masuk dari Mandala secepatnya tanpa diketahui oleh Nadala. “Duluan ya, Nad.” Prisma menyudahi percakapannya dan berlalu begitu saja dari hadapan Nadala.

Sekarang ganti Nadala yang curiga. Dikuntitnya Prisma hingga didengarnya suatu rencana pertemuan antara Prisma dan Kakaknya sore hari ini. “Pulang sekolah. Warung kopi. Dan sebuah kejutan untuk kalian berdua.” Ucap Nadala bersungguh-sungguh. Nadala pun tak sedikitpun ketinggalan momen penting untuk memberi sedikit pelajaran bagi kakaknya dan Prisma. Sedikit saja, agar mereka berdua mengerti betapa dirinya tidak suka dipermainkan seperti ini.

Sementara itu, Andria memilih menikmati istirahat siangnya di perpustakaan dengan membaca buku dongeng. Diperpustakaan sekolahnya ada sebuah rak khusus yang menyajikan kumpulan buku dongeng. Kali ini dia mengambil sebuah buku dongeng dari rak tersebut serta memilih duduk di bangku paling pojok sehingga tidak terlalu terganggu dengan lalu lalang teman-temannya yang juga berada disana.

Dibukanya buku itu, tapi tak ada satupun dari sederet kata-kata yang berhasil masuk ke kepalanya. Pikirannya terlalu didominasi oleh memori kejadian beberapa malam yang lalu. Andria tidak bisa mengenyahkan apa yang telah dilihat waktu itu. Andria termangu. Matanya memang mengarah menatap buku dongeng namun fokus pikirannya mengawang entah dimana. Sejak malam itu, Andria juga memilih menghindari tempat-tempat dimana Vero selalu ada.

Lamunan Andria semakin dalam hingga tak menyadari bahwa ada yang duduk dihadapannya dan berdehem keras. “Ehem.” Satu suara membuyarkan lamunan Andria. Andria gelagapan mendapati Vero sudah duduk manis menopang dagu dengan kedua punggung tangannya. Andria sampai spontan berdiri dan bergerak mundur. “Elo.” Pekik Andria kaget. “Biasa aja kali. Ngeliat gue kayak ngeliat setan.” Balas Vero ngeledek, “Duduk.” Jari telunjuk Vero mengarah ke Andria lalu bergeser ke arah bangku yang barusan Andria duduki.

Meskipun ragu karena masih diliputi kekagetan dan ketidaktahuan harus bersikap seperti apa pasca kejadian malam itu, Andria akhirnya duduk lagi. Dengan terbata, Andria berusaha menyapa Vero, “Ngapain lo kesini?” Andria lalu pura-pura fokus ke buku dongeng didepannya, hanya saja kepura-puraannya terbaca jelas oleh Vero. Vero langsung mengambil buku dongeng Andria. “Eh, gue lagi baca itu buku. Balikin nggak?” sahut Andria yang berusaha merebut kembali.

Vero tidak mau memberikan kembali buku itu kepada Andria. Diletakkan buku itu di bangku sebelahnya. “Nggak mau. Lagian yang namanya baca buku itu dimana-mana tuh konsen. Nah elo, buku dimana mata dimana pikiran juga dimana.” Tandas Vero terang-terangan. Andria kaget karena gelagatnya terbaca. “Balikin nggak. Gue lagi baca tahu.” Ujar Andria yang berusaha melototkan matanya. “Nggak usah sok melotot.” Tegas Vero. Andria menyerah dan langsung menormalkan ekspresinya.

Jari jemari Andria mengetuk pelan meja perpus seakan menunjukkan bahwa Andria cukup tidak nyaman dengan keberadaan seseorang didepannya itu, “Kayaknya perpus ini untuk tempat baca buku bukan tempat untuk ganggu orang.” Sahut Andria mengingatkan. Sayangnya, Vero bukan tipikal orang yang gampang dienyahkan. Bukan kepergiaan yang didapat, Andria justru mendapat serangan balik yang telak. “Dan setahu gue juga perpus ini memang tempat buat baca buku bukan tempat untuk menghindari orang lain deh.”

Andria tertohok mendengar penyataan Vero barusan. Andria sadar Vero baru saja menyindirnya, mengingat sudah sekian hari dia berusaha menghindarinya. Andria tahu bahwa penghindarannya terlalu kentara bagi Vero. Setiap kali Vero sudah melihatnya, langkah Andria selalu mundur teratur menjauhi keberadaan Vero. Dan hal itu selalu Andria lakukan selama beberapa hari ini.

“Kenapa diem? Kesindir ya?” tanya Vero telak. Mata Andria terbelalak tak menyangka diserang dua kali. “Kesindir untuk hal apa?” balas Andria tak mau kalah. “Untuk penghindaran yang lo lakukan terhadap gue beberapa hari ini.” Ujar Vero serius. “Siapa sih yang ngindarin elo, Bocah? Sok iya banget.” Jawab Andria tak terima dengan tuduhan yang sebetulnya benar adanya. “Oh jelas, gue iya banget. Cara lo ngejauhin gue itu keliatan banget kali. Lo kenapa sih?” ujar Vero memastikan.

“Apaan sih? Nggak ada apa-apa. Lagian siapa juga sih yang ngindarin elo. Gue sih perasaan disini-sini aja. Elo aja kali yang kemana-mana.” Andria berdalih dengan pandangan mata yang dilempar ke langit-langit, bohong. Vero lagi-lagi menangkap isyarat bohong itu. “Perasaan? Oh elo ternyata punya juga ya perasaan.” sindir Vero. “Hah?” jawab Andria bingung. “Tadi kan lo bilang perasaan lo disini-sini aja. Itu berarti lo punya perasaan dong. Gue kira lo nggak punya. Eh, tapi ngomong-ngomong kalo lo punya perasaan, gue mau tahu dong perasaan lo ke gue itu kayak apa?” sahut Vero sambil memasang tampang seriusnya lagi.

“Haaah? Apaan sih maksud lo? Lo stres ya hari ini. Udah bikin tuduhan kalo gue ngindarin lo, trus elo ngeledek gue ternyata gue ini masih punya perasaan. Sekarang lo nggak ada angin nggak ada hujan, lo nanya perasaan gue ke elo itu kayak apa? Coba deh lo cek barusan lo abis makan apa sampai omongan lo ngaco kayak gini.” Andria menjawab pertanyaan Vero dengan pertanyaan yang sebenarnya tak ingin dia utarakan. “Gue nggak ngaco. Gue serius dan lo paham maksud gue tentang kita. Gue suka sama lo.” Tandas Vero. Andria terbelalak, sungguh tak menyangka.

“Oh come on, Vero. Lo datang kayak bisul dihidup gue. Datang tanpa gue minta. Selalu ngerjain gue. Selalu bikin gue repot. Selalu ngasih kejutan disegala bentuk kebetulan yang elo ciptakan. Dan elo selalu muncul disekitar gue. Gue nggak ngerti maksud kehadiran lo selama ini ke gue apa? Gue nggak kenal elo. Awalnya gue pikir gue mulai paham tapi semenjak malam itu, gue nggak yakin. Lo nanya ke gue soal perasaan gue, trus elo udah nanya belum sama cewek lo tentang perasaannya ke elo kalo sampai dia tahu elo nanyain perasaan cewek lain untuk diri lo?” Andria baru saja mengutarakan perasaan terdalamnya.

“An...” potong Vero yang kaget dengan kata-kata Andria barusan. “Sebentar, gue belum selesai. Kalo lo mau tahu apa perasaan gue ke elo. Jawabannya nggak ada. Plis, jangan kayak gini. Kesian cewek lo. Dia nggak salah apa-apa sama lo. Waktu malam itu gue liat lo sama dia di cafe, lo cocok banget sama dia. Lagian untuk pertama kalinya, gue baru ngeliat lo bahagia banget jalan sama cewek. ” Andria beranjak dari tempatnya berdiri “Gue duluan ya.” Andria lalu keluar dari perpustakaan meninggalkan Vero yang masih terbengong-bengong. 

Setelah Andria berada di luar perpustakaan, barulah dia bisa meneteskan air matanya. Hitam sudah dunianya. Saat Andria menghapus air mata di pipinya. Andria berpapasan dengan Gani. “Hai, An. Abis dari perpus?” sapa Gani ramah. Andria hanya sanggup menjawab dengan senyum. Lalu dia melanjutkan perjalanannya kembali ke kelas. Gani yang tidak tahu menahu cuma bisa garuk-garuk kepala. “Senyum tapi mata sembab begitu. Ehem, gue tau nih kerjaan siapa? Vero... Vero... hobi banget sih bikin anak orang nangis darah.” ujar Gani geleng-geleng.

Gani berlari masuk kedalam perpustakaan, mencari teman sepejuangannya di lapangan yang sebentar lagi akan dia mintai keterangan seputar mata sembab Andria. “Mameeeeen... Lama-lama di perpus bertelor lho. Lagian tumben banget lo nangkring disini.” Tegur Gani kepada Vero. “Abis ada urusan sebentar.” Ujar Vero. “Urusan? Sama Andria maksud lo? Hayooo lo apain anak orang sampai nangis gitu?” tanya Gani yang penasaran. “Hah? Andria nangis? Demi apa lo?” sentak Vero kaget.

“Demi...kian... adanya yang gue liat barusan. Tadi di depan, gue papasan sama itu anak. Eh, matanya sembab gitu kayak abis nangis. Lo apain sampai nangis gitu?” sahut Gani menjelaskan. “Nggg... gue abis nembak dia. Sebenarnya gue nggak niat nembak dia sekarang, nggak pas aja gitu momennya. Tapi apa mau dikata, beberapa hari ini Andria ngindarin gue mulu.Tadi itu, gue cuma nanya kenapa dia ngindarin gue. Eh, ini bibir malah kagak kompak. Bawaannya mau nembak si Andria aja.” Vero menyahut lemah. “cumaaaa... gue ditolak.” Sambungnya lagi.

“Lah, elo yang ditolak kok dia yang nangis. Dunia yang aneh.” Ujar Gani heran. “Justru itu, gue juga bingung. Masa tadi dia sempet bilang kalo gue udah punya cewek.” Ujar Vero. “Nah lho... Kok bisa? Eh, emangnya lo udah punya cewek? Jangan-jangan lo emang udah punya cewek dan gue nggak tahu lagi. Hahaha...” tanya Gani setengah tak percaya. “Wah parah lo. Ya nggaklah. Yang ini aja setengah mati gue ngungkapinnya. Emang lo kira gue biasa ngobral perasaan apa!” tandas Vero tak terima. “Ya teruuus... Si Andria bisa ngomong gitu dari mana asalnya. Mungkin dia pernah ngeliat lo jalan sama siapa gitu dimana?” sahut Gani mencoba mencari kemungkinan.

“Tunggu... tunggu deh... Tadi sih dia sempet bilang kalo dia pernah ngeliat gue sama cewek di cafe. Nah itu cewek katanya ngapit tangan gue. Katanya gue keliatan bahagia gitu deh. Nah, itu cewek yang Andria bilang cewek gue.” Ungkap Vero yang mencoba mengingat. “Lo sendiri pernah pergi sama cewek nggak ke cafe?” Sahut Gani. “Pernah sih beberapa hari yang lalu. Tapi itu juga, gue jalannya sama adik sepupu gue yang baru datang dari Bandung. Aaaaah gue inget sekarang...” pekik Vero. 

“Beberapa hari yang lalu itu gue sebenarnya anterin adek sepupu gue yang lagi mau ketemu kakaknya, kakak sepupu gue. Cuma berhubung kakaknya lagi ribet di cafe tempat kerja katanya ada acara apa gitu gue lupa. Nah pas datang ke cafe itu acaranya sih kayaknya udah kelar. Gue agak kaget juga sih didalam cafe itu kok gue liat ada nama Tamusema FM di banyak spanduk sama banner disana. Cuma sayangnya pas gue mau tanya, nyokap gue telpon. Nyuruh gue anterin dokumen bokap yang kebawa dimobil gue. Trus gue lupa nanya deh sama kakak sepupu itu sampe sekarang.” Vero nyengir sambil menahan satu pose super garing pada sunggingan senyumnya.

“Lo kadang-kadang suka amnesia ya. Hahaha...” ledek Gani. “Jadi, kalo gitu Andria salah paham sama gue dong.” Ujar Vero berbinar, semangatnya muncul lagi. “Udah gih, mending lo kejar Andria sekarang.” Ujar Gani memberi saran. “Biarin dulu ah. Nggak seru kalo endingnya sekarang. Kasih sedikit bumbu, biar tambah seru. Hehehe...” Balas Vero cengengesan. “Wah parah lo. Udah anak orang salah paham masih aja lo kerjain lagi. Ketulah lo.” Sahut Gani mengingatkan. Tapi sedetik kemudian, “Eh, tapi dia berarti suka sama gue juga kan? Ya kan? Ya dooooong” tanya Vero memastikan. “Ye, mana gue tahu. Emang gue emaknye Andria.” Jawab Gani sambil mengangkat bahunya. “Ah elo, bikin gue galau lagi.” Seru Vero menepuk keningnya.

Sepulang sekolah, diam-diam Nadala mengikuti Prisma yang akan bertemu dengan kakaknya. Untungnya, tempat janjian mereka dekat sehingga tidak terlalu sulit untuk Nadala menguntit dan memberi kejutan balik kepada mereka. Benar saja, begitu Prisma sampai di lokasi ternyata kakaknya telah menunggunya disana. Nadala langsung tersenyum kecut. Nadala bergerak lebih dekat sembari menggunakan jaket dan kapuconnya agar penguntitannya tak terbongkar sebelum waktunya. Posisi Nadala sudah dekat dan cukup baginya untuk mencuri dengar obrolan kakaknya dan Prisma.

Mandala melambaikan tangannya seraya memanggil Prisma dikejauhan. Prisma segera berlari menuju warung kopi. Mandala langsung menanyakan perubahan adiknya kepada Prisma dan juga memastikan bahwa adiknya belum tahu sedikitpun tentang sandiwara ini. Prisma mengiyakan semua hal yang ditanyakan Mandala, kecuali satu... ketika Mandala akhirnya memastikan tentang perasaan Prisma kepada adiknya saat ini. Prisma terdiam. Prisma belum yakin apakah yang dia rasakan ini benar-benar rasa suka atau hanya karena kehilangan sesaat.

“Gue cuma mau pastiin apakah lo bener-bener nggak ada hati sama adik gue? Karena kalo memang lo nggak suka sama adik gue, sandiwara ini bakal gue udahin sampai sini aja. Sebelum adik gue terlanjur berharap sama lo dan justru akan bikin dia sakit hati.” Tegas Mandala. Prisma hanya bisa menelan ludahnya. Tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi, dia ingin sekali sandiwara ini berakhir tapi di sisi lainnya dia mulai tidak rela jika masa-masa bersama Nadala juga berakhir.

Sebelum pertanyaan itu dijawab Prisma, Nadala sudah ikutan nimbrung dan memberikan tepukan tangan dan tatapan sinis bagi dua orang didepannya itu. “Hebat... Sandiwara yang hebat. Tepuk tangan yang paling meriah buat sutradara dan aktor hebat kita.” ujar Nadala super sinis. Hitam dunianya lengkap sudah. Mandala dan Prisma terperanjat kaget, tak menyangka objek obrolan mereka hadir dari belakang mereka.

“Na-da-la.” Seru Mandala terbata-bata, salah tingkah. “Nad.” ujar Prisma grogi. “Aku nggak nyangka kalo ternyata mas itu juga jago bikin skript sandiwara, kirain cuma jago ngedongeng doang. Satu lagi, Mas. Barusan mas bilang sebelum aku terlanjur berharap dan sakit hati, sayangnya mas terlambat. Aku sudah sakit hati dan apa yang mas dan kak Prisma lakukan hari ini jauh lebih sakit daripada luka aku yang kemarin. Makasih dan selamat untuk kesuksesan kalian membuat aku jatuh. Aku benci kalian berdua.” Sahut Nadala setengah menangis. Setelah itu, Nadala buru-buru berlari meninggalkan Mandala dan Prisma.

Prisma hendak beranjak untuk mengejar namun Mandala mencekal lengannya, “Percuma, adik gue lagi nggak bisa diajak ngomong sekarang. Biarin dia nenangin dirinya dulu.” Ujar Mandala. “Tapi, Kak.” Potong Prisma khawatir. “Biar gue aja nanti dirumah. Ini pure salah gue. Gue nggak mau bikin dia sakit tapi malah gue yang menyebabkan dia tambah sakit.” Sahut Mandala dengan nada lemah.

Malam ini, seperti biasa Radio Tamusema 123,4 FM akan menyiarkan dongeng malam untuk mengantarkan anak-anak untuk tidur. Beberapa jam sebelumnya ketika Andria datang kesana, ternyata Mandala sudah ada diruang meeting. Andria sendiri memilih untuk duduk di kantin. Rasa sedihnya hari ini ingin diluapkannya dengan semangkok bakso super pedas sehingga jika airmata berlinang lagi, ia akan punya alibi bahwa baksolah pelakunya. Toh meski tak menangis, Andria sadar sedari tadi rekan-rekannya sesama penyiar mulai prihatin dengan raut suram yang tertangkap dari wajahnya. 

“Lo kenapa, An?” tegur salah seorang rekannya yang juga sedang makan dikantin. “Gue?” Andria menunjuk ke batang hidungnya sendiri. “Kagak. Aman, Mba Bro. Hehehe...” lanjutnya lagi sambil berlagak sok tegar. “Iya, An. Asli muka lo sepet banget, kayak lepet gagal dilipet.” Rekan Andria lainnya ikutan menimpali percakapan rekan sebelumnya. “Wah parah lo. Emang muka gue mirip apa sama kayak lepet. Kagaaaak.... Serius deh. Delapan enam banget gue, Mas Bro.” kilah Andria tetap berakting sok kuat. 

Namun, airmatanya sudah tak bisa lagi dibendung. Linangan itu tinggal menunggu hitungan detik untuk membanjiri pipinya. Plis dong jangan pada tanya lagi ntar gue beneran nangis nih. ‘tes’ airmatanya akhirnya meluncur mulus tanpa komando, pipinya mulai basah. Ia buru-buru mencari pelampiasan. “Pedes banget ya nih bakso. Hahaha...” sahut Andria sambil menghapus airmata di pipinya. Rekan-rekannya yang melihat itu akhirnya mengurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut, dibenak mereka mungkin Andria sedang ada masalah dan belum mau berbagi cerita untuk saat ini.

Dengan garingnya, kedua rekannya terpaksa tersenyum dan mengiyakan apa yang dikatakan Andria barusan, meski mereka tahu bahwa bakso hanyalah objek yang ketiban sial dalam hal ini. “Duluan ya, An.” Kedua rekan itu buru-buru pamit untuk mencari tahu ada masalah apa dengan Andria kepada Mandala. Menurut mereka, Mandala pasti tahu apa yang sedang dialami Andria. Bukan bermaksud ikut campur, hanya saja hampir selama ini cewek periang itu bekerja disini mereka tidak pernah menemukannya sesuram ini. 

Sayangnya, kedua rekan yang penasaran itu justru menemukan pemandangan yang tidak jauh berbeda. Kondisi yang sama – wajah suram seperti hidup segan mati pun enggan – mereka jumpai pada Mandala. Mandala sedang memangku dagunya diatas meja. Didepannya ada naskah dongeng, matanya memang terlihat mengarah ke naskah itu tapi bisa dipastikan bahwa isi pikirannya sedang terbang kemana-mana. Mereka saling berpandangan, heran. “Ini anak dua kenapaaaa lagi? Kenapa kompak bener errornya? Berasa kayak dunia lagi hitam aja gitu ngeliat mereka puasa ngomong.” Celetuk salah seorang dari mereka dan diikuti dengan anggukan setuju dari rekan yang satunya lagi.

Malam ini dongeng yang biasa disiarkan oleh Mandala dan Andria nampak kehilangan gregetnya. Gaya celetukan Mandala dan Andria yang tiada duanya mendadak raib entah kemana. Sebelum semua benar-benar jadi kacau, seorang rekan senior mereka berlari terbirit-birit dan langsung mengetuk-ngetuk kaca pembatas ruangan yang persis berhadapan dengan Mandala dan Andria, lalu menempelkan sebuah kertas besar berisi kalimat panjang:
GUE NGGAK TAHU ADA APA SAMA LO BERDUA, TAPI PLEASE KONSENTRASI DONG... LO BERDUA ITU LAGI NGEDONGENG DI RADIO BUKAN LAGI BACA BUKU TEKS PELAJARAN. PENGHAYATANNYA MANA PAK BU...??? BEING PROFESSIONAL, PLEASE.

Terkesiap dengan teguran itu, Mandala dan Andria langsung saling tukar pandang. Buru-buru menyadari kekeliruan yang mereka perbuat. Mereka mulai kembali fokus dan mengenyampingkan masalah yang tengah mereka hadapi hari ini. Roh dua pendongeng andalan Radio Tamusema pun sepertinya telah kembali, meskipun belum 100 persen. Tapi setidaknya mereka bisa menyampaikan dongeng itu dengan baik tidak seperti hanya membaca naskah bulat-bulat. Setelah siaran usai, baik Mandala dan Andria kembali membisu dan memilih untuk bungkam dan langsung pulang tanpa sanggup bicara apa-apa selain selamat malam. 

■■■■

Cerbung: Putri Tampil dan Putri Timpal (part 13)

Part 13

MISTERI APITAN TANGAN MESRA


Sebuah mobil baru saja terparkir baik di parkiran suatu rumah. Seorang laki-laki keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa karena hendak membukakan pintu untuk seseorang lainnya yang masih duduk didalam. Namun sebelum sampai di posisi, pintu itu justru sudah lebih dulu dibuka oleh orang yang ada didalamnya. Lalu orang itu berjalan masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan laki-laki yang hendak menolongnya barusan.

Mandala mematung mendapati Nadala berjalan begitu saja melewatinya tanpa mengucapkan sepatah katapun, bahkan sebentuk senyuman yang kerap dia berikan sebagai pengganti ucapan terima kasih pun tak ada. "Nad... Kamu kenapa sih?" tanya Mandala yang tiba-tiba sudah mengekor dibelakang adiknya. Nadala tak mengubris pertanyaan kakaknya. Mandala kembali bertanya. "Kamu kenapa, Dek? Kok daritadi diem aja?" desaknya lagi.

"Kepalaku pusing. Aku mau tidur, Mas." jawab Nadala singkat. "Bener cuma karena kurang tidur? Jangan-jangan lagi ada yang kamu sembunyiin. Aku hafal banget gelagatmu, Dek. Lagian perasaan tadi disana masih baik-baik. Kok sekarang aneh begini." ujar Mandala yang merasa ganjil dengan perubahan sikap Nadala yang mendadak itu. "Aku tidur dulu ya, Mas." sahut Nadala yang lalu segera menutup pintu kamarnya dan menguncinya.

Mandala terpaku di balik pintu kamar Nadala. Dia sungguh-sungguh dibuat kebingungan atas perubahan sikap adiknya yang drastis. "Nadala kenapaaa lagi?" keluhnya heran, "Aneh banget. Mandala akhirnya memilih berlalu dari sana. Dia menghampiri Ibunya yang lagi membuatkan bubur untuk Nadala. "Gimana adekmu, Mas? Kenapa dia tadi pingsan?" tanya sang ibu khawatir. "Cuma kecapean gara-gara kurang tidur, Bu." Jawab Mandala.

"Adekmu sekarang dimana? Ibu bikinin dia bubur ini." ujar sang ibu sembari mematikan kompor dan lalu menuangkan beberapa sendok bubur ke sebuah mangkok kaca. "Anaknya langsung ke kamar, Bu. Katanya mau tidur." jawab Mandala seadanya tanpa mencoba menceritakan keanehan apa yang sedang dia rasakan terhadap adiknya, semata-mata agar sang ibu tidak bertambah cemas. "Ya udah, nanti aja dikasihnya." ujar sang ibu.

"Kalau begitu, aku pamit lagi ya. Sore ini aku ada siaran trus malamnya ada meet and greet anak-anak penyiar di cafe apa gitu bu, aku lupa. Nanti aku kabarin lagi dimananya." ujar Mandala merangkul ibunya. "Kamu udah makan toh, Mas?" tanya sang ibu. "Udah, Bu. Tadi sebelum jemput Nadala, aku makan dulu di kampus. Ya udah, aku pamit ya, Bu." jawab Mandala yang lalu mencium tangan ibunya dan pamit pergi. "Hati-hati."

Di sudut lain, Andria baru saja menyelesaikan jam pelajaran terakhirnya. Buru-buru dia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas punggungnya, lalu segera bergegas mengambil motor vespanya dan pergi ke tempat siarannya. Malam ini beberapa penyiar Radio Tamusema, yang termasuk ia didalamnya, akan bertolak ke sebuah cafe untuk meet and greet dalam rangka sosialisasi pencarian pemain untuk drama pementasan "Peri Menangis".

Andria akhirnya tiba di Radio Tamusema. Dia melongok ke masing-masing ruangan. Kebanyakan ruangan sudah kosong. Tersisa tinggal Mandala yang sedang standby di ruang siarannya. Mandala tersenyum lebar sambil melambaikan tangan menyapa Andria yang baru datang. Andria menanyakan keberadaan rekan-rekan yang lainnya. Mandala memberi kode lewat arahan tangannya yang menunjuk ke ruang meeting besar. "Oke." Jawab Andria.

Andria lalu pergi menuju ruang meeting besar. Diketuknya pelan lalu dibukanya pintu besar dihadapannya. "Permisi..." sahut Andria dengan gaya andalannya, nyengengesan. "Maaf, Pak Bos. Baru pulang sekolah. Hehe..." ujarnya polos. Semua rekan-rekan penyiarnya plus Pak Bos sudah paham sekali dengan kondisi penyiar terkecilnya yang masih duduk di SMA. "Ayo duduk, An. Kita juga baru mulai kok briefing-nya." seru Pak Bos.

"Makasih, Pak Bos." jawab Andria sambil mengambil tempat di salah satu bangku yang masih tak berpenghuni. Andria terduduk dan langsung mengambil buku catatan kecilnya. Pak Bos memulai kembali pembicaraannya mengenai acara meet and greet malam ini. "Berhubung acara ini lebih ke arah dongeng, maka seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Mandala dan Andria yang akan menjadi garda terdepan." ungkap Pak Bos.

"Gimana, An? Siap nggak buat acara nanti malam?" tanya salah satu rekan seniornya Andria yang terkenal dengan wibawa kebapakannya. "Ngg... Grogi sih, Pak. Saya kan harus tampil di depan banyak orang. Biasanya kan cuma didepan para kaum duile Tamusema. Nanti kalo saya terkenal gimana, Pak? Hehehe..." timpal Andria yang mencoba mencairkan suasana. Seisi ruangan sontak hingar bingar dengan tawa.

"Wah, hebat... Si penyiar kecil kita mulai ada peningkatan. Bisa mulai ngebanyol juga dia. Siapa nih tersangka utama yang mengkontaminasi makhluk kecil ini." sahut rekan Andria lainnya. Tawa-tawa kembali membahana. Seiring dengan semakin hebohnya suasana meeting, Mandala masuk ke dalam. "Nah, ini dia nih orang yang kayaknya paling berjasa mempengaruhi Andria sampai jadi korslet begini." Mandala terbengong, "Hah?!"

"Haduh, ada apa ini? Kok nama saya tiba-tiba dibawa-bawa." tanya Mandala yang bingung. "Duduk dulu... duduk dulu... Ini lho, tadi kita lagi godain Andria, eh ternyata dia udah bisa menggoda balik. Terus kata anak-anak, kamu biang keroknya sampe Andria jadi kocak begini." jelas Pak Bos menceritakan detail kejadian barusan. "Idih... Bukan saya, Pak. Andria emang udah korslet dari sananya, Pak. Pada nggak tahu aja sih."

Semua anak-anak berubah fokus mendengarkan penjelasan Mandala yang sepertinya akan jauh lebih menarik. "Tahu apa... Apa-apa? Ceritain dong." desak yang lain. "Iya... Iya... Cepetan ceritain" timpal yang lainnya juga. "Asal tahu aja ya, Andria itu sebelum siaran hobi melakukan kegiatan yang aneh bin ajaib. Saya sering jadi korbannya." ungkap Mandala yang memamerkan sederet gigi putihnya ke arah Andria, meledek.

"Emang kamu diapain, Man?" tanya Pak Bos. "Masa saya disuruh jadi wayang trus dia jadi dalangnya. Kalo dalanginnya bener, nah ini... Masa wayangnya disuruh senam SKJ sembilan enam, Pak." sahut Mandala menepuk jidatnya pura-pura nelangsa, padahal dalam hatinya itu jadi momen terlucu yang pernah dia alami bersama seseorang. "Hihi... Sekali-kali nyuruh senior senam nggak apa-apa kan, Bos. Biar sehat." timpal Andria.

Semua kembali terbahak-bahak mendengar fakta yang selama ini terpendam. "Sudah-sudah... Ayo sudahan sesi ketawa-ketiwinya. Kita harus segera meluncur ke Cafe Diagonal bergabung dengan tim promosi yang sudah standby disana daritadi siang. Oh iya, siapa yang kebagian jadi tim wardrobe dan make up kemarin? Tolong bantu Mandala dan Andria supaya bisa tampil oke. Terutama Andria, dandanin yang cantik." Titah sang Pak Bos.

"Saya, Pak Bos. Beres, Pak. Nanti saya sulap mereka supaya cakepan dikit." acung salah seorang penyiar yang punya hobi memake-over penampilan orang. "Wah, kalo nyonya make over yang turun tangan jadi penasaran gimana hasil akhirnya si Andria. Emang elo bisa, Mba? Dia ini sama debu jalanan itu sahabatan. Liat nempelnya aja udah kayak magnet. Hehe..." goda Mandala.

Andria tiba-tiba berdiri dengan muka bete. "Wah, Mas Manda... Nggak sopan ngomongnya. Gue nggak terima dihina begini." "Eh... Sorry... Sorry... Cuma bercanda." ralat Mandala yang takut menyinggung perasaan Andria. Wajah-wajah yang lainnya pun ikutan menegang, takut Andria beneran tersinggung. "Eh, aku nggak terima ya, Mas. Apa mas bilang cuma sahabatan? Aku sama debu jalanan ini soulmate. Hehehe..." sahut Andria.

Ketegangan itu mendadak luruh berganti dengan tawa. Semua juga menghela nafas panjang karena lega. Tak terkecuali Mandala yang lebih-lebih mengucap syukur karena tidak beneran harus menghadapi Andria yang marah. "Andriaaa... Kebiasaan deh. Bikin orang jantungan." sahut Mandala geregetan. "Sapa suruh buka aib gue. Wee..." tandas Andria nggak mau kalah. Mereka pun kemudian keluar dari ruang meeting mengikuti yang lain.

Diluar ruangan, Sang nyonya make over lalu memanggil mereka berdua, "Hai marilah cepat kemari hai hai." Namun, panggilan itu pun serasa bak angin yang hanya sekedar lewat dan berhembus. Kenyataannya, Mandala dan Andria masih melanjutkan sesi bercandanya, bahkan sekarang mereka sesi jitak-menjitak. Akhirnya sang nyonya make over kesal, dipanggilnya mereka berdua dengan sedikit nada mengancam.

"Hai, kalian berdua! Cepetan nggak masuk ruang make up. Waktu kita nggak banyak. Kalian pilih gue make over atau pilih gue lempar dari fly over. Trus abis itu lo berdua game over." Begitu ancaman itu dilisankan oleh sang nyonya make over, Mandala dan Andria justru berubah kompak, "Nggak. Iye... Iye... Make over aje." Mandala dan Andria langsung kocar-kacir lari ke ruang make up. Sang nyonya make over tertawa puas.

Cukup dalam waktu singkat, Mandala dan Andria disulap jadi agak sedikit berbeda. Dosis dempulan kosmetik yang pas di beberapa titik wajah dan sedikit mix and match untuk pakaian mereka, akhirnya menghasilkan suatu karya fenomenal dari tangan dingin sang nyonya make over. Begitu Mandala dan Andria keluar dari ruang make up, semua mata tertuju pada mereka. "Widiiiih... Lo apain ini anak dua? Kenapa jadi kayak begini?"

"Cakep kan mereka?" jawab sang nyonya make over bangga. "Cakep sih. Cuma apa nggak kemenoran tuh dempulannya si Andria?" protes rekan kerjanya mereka. "Nggak. Lagian kan ini make up buat acara malam. Nggaklah, aman. Mungkin karena Andria jarang dandan, sekalinya dandan jadi sesuatu gitu." bela sang nyonya make over. Andria sendiri cuma bisa meringis tanpa bisa berkata-kata menyuarakan isi hatinya yang sumbang.

Melihat reaksi tak karuan dari wajah Andria. Rekan-rekan penyiarnya yang lain hanya bisa menyumbangkan semangat baginya sembari menepuk bahu, menguatkan jiwa dan raga Andria. "Yang tabah ya, An." Sang nyonya make over melirik tajam. "Hei... jangan menjatuhkan mental Andria. Udah An, jangan didengerin. Elo cantik kok. Kalau nggak percaya tanya aja Mandala. Andria cantik kan, Man?" tanyanya tanpa tedeng aling-aling.

Tidak menjawab, Mandala cuma nyengar-nyengir tak jelas. Baginya, dempulan itu memang terlihat berat untuk seumuran Andria. Tapi tidak mengiyakan pertanyaan barusan adalah bencana yang berdampak sistemik bagi kelancaran kariernya, terutama masalah isi dompetnya tiap bulan. Dari pada gajiannya seret mending lempar senyum aja deh sebagai jawaban. "Eh, buruan cabut yuk. Udah jam segini." sahut Mandala mengalihkan.

"Oke. Siapa yang mau nebeng naik vespa aku?" ajak Andria bersemangat. "Hai nona cantik... Maaf, kali ini kamu tidak diizinkan berangkat bareng si coki-coki. Vespamu biar dibawa sama yang lain. Aku tidak akan membiarkanmu merusak maha karyaku. Tidak akan kuizinkan angin memowhakkan rambutmu atau soulmate debumu merusak dempulan make up yang ada di wajahmu." tandas sang nyonya make over tujuh rius. Andria ternganga.

Mandala mengusap punggung Andria, mencoba menyabarkan. "Udah kasih aja kunci si coki-coki ke Mamet biar dia yang bawa. Terus nanti kamu ikut mobil gue." Andria membuka resleting tasnya dan mengambil kunci vespanya, lalu dia berikan benda kecil itu kepada Mamet. "Mas Mamet, ati-ati ya bawa si coki-coki." ujar Andria dengan tatapan sedih dan tak rela. "Iye, tenang aje kenape. Si coki-coki aman sama gue." janji Mamet.

Andria masih terlihat benar-benar tak tenang pergi tanpa mengendarai si coki-coki. Sementara yang lain sudah berjalan menuju mobil, Andria masih terdiam ditempatnya. Mandala yang sudah berjalan beberapa langkah, akhirnya memilih kembali mendekat ke Andria saat dilihatnya cewek itu masih berdiri di posisi yang sama. "Kenapa lagi?" tanya Mandala. "Mas Mamet beneran bisa naik vespa kan?" Andria malah balik bertanya.

"Bisa kok." jawab Mandala santai. "Serius nih?" tanya Andria lagi sambil menarik lengan bajunya berkali-kali. "Ya ampun, Andria. Tenang aja ah." ujar Mandala menenangkan yang akhirnya terpaksa mengapit tangan Andria untuk membuatnya berjalan menuju mobilnya. Mandala tidak sadar bahwa Andria terkejut tangannya disambar begitu saja oleh Mandala. Sambil terus berjalan, Andria tak melepaskan pandangannya kepada Mandala.

Hingga tiba di depan pintu mobil, barulah apitan tangan itu dilepaskan Mandala. Sayangnya, Andria masih belum sadar kalau dia masih memandangi Mandala dengan jidat mengkerut keheranan. "An, ngapain ngeliatin gue sampe segitunya? Baru sadar gue ganteng ya?" tanya Mandala dengan narsisnya. "Hah? Ngeliat... Siapa juga yang ngeliatin Mas. Gue tuh cuma heran aja, Mas itu sadar nggak tadi narik tangan gue?" tanya Andria.

"Sadar. Emang kenapa sih?" tanya Mandala yang sekarang jadi ikut-ikutan heran. "Mas itu nyadar nggak sih... Gue itu belum pake sepatu. Sepatu gue tuh masih ketinggalan disana. Gue nyeker nih." sungut Andria. "Jiaaah... Lagian kenapa nggak ngomong dari tadi? Kenapa pas tadi ditarik diem aja? Hayo, lo jangan-jangan ngeliatin gue terus ya sampe nggak bisa ngomong." tuduh Mandala kegirangan. "Ya ampun, narsis aja."

"Iya... Iya... Gue ambilin sepatu lo. Lo buruan masuk ke mobil. Pake sepatunya nanti di dalam aja." ujar Mandala menyuruh. Mandala berlari ke dalam kantornya lagi dan mengambil sepasang sepatu kets berwarna coklat yang teronggok rapi di lantai lobby kantor. "Udah kayak dongeng cinderella aja, bedanya cuma di tipe sepatunya. Di dongeng sepatu kaca, di realita sepatu kets. Ckckck... Kadang-kadang." gumam Mandala pelan.

Mandala berlari menuju mobilnya. Segera masuk dan duduk, serta diberikan sepatu kets itu pada pemiliknya. "Nih sepatunya." sahut Mandala singkat yang lalu menjalankankan kemudi mobilnya. "Makasih." jawab Andria. Sepatu itu langsung dikenakannya. Diangkatnya kakinya bergantian ke kursi mobil saat berusaha mengikat tali sepatunya. "Maaf diinjek. Sengaja. Dari pada jidatku yang benjol kejedot dashboard." ujarnya polos.

Mandala benar-benar dikerjain sama Andria. Mandala dibuat tak berkutik dengan tingkah ajaib cewek ini. "Cuma elo nih satu-satunya makhluk yang nekat angkat kaki terus ngiket sepatu kayak gitu di mobil gue. Kalau bukan elo, pasti udah gue suruh turun." jelas Mandala tersenyum namun di satu detik berikutnya dia kebingungan sendiri. Kalau bukan Andria? Berarti cuma Andria dong. Kenapa Andria? Lho... Kenapa lagi ini gue.

Andria tidak terlalu menanggapi pernyataan Mandala barusan, bahkan Andria tidak sempat melihat perubahan ekspresi di wajah Mandala. Andria sedang mencoba meminimalisir kegrogiannya menghadapi sejumlah massa yang akan hadir di Cafe Diagonal nanti. Sekarang saja dirinya sudah dihinggapi krisis percaya diri. Oke... Oke... Tarik nafas Andria. Tarik nafas. Buang perlahan. "Haaaa..." sahut Andria menghela nafas panjang.

Senja sudah berganti malam. Semua rombongan dari Radio Tamusema pun tiba di Cafe Diagonal. Sebuah cafe baru di pusat kota. Small but totally cozy. Dan yang paling gokil adalah bentuk dan furniture cafe ini ternyata sama persis dibuat sesuai dengan namanya. Diagonal. Tidak hanya, Andria yang terkagum-kagum dengan arsitektur cafe itu, tapi semua rekannya pun sampai geleng-geleng melihat cafe ajaib ini. "Wow."

Tim promosi dari Radio Tamusema sudah berkoordinasi dengan pihak pengelola cafe. Setengah jam lagi, Mandala dan Andria beserta salah seorang penulis muda akan tampil mengisi acara meet and greet. "Oke, setengah jam lagi meet and greet di mulai." seru tim promosi mengingatkan. Andria melongok dari atas ruangan khusus di cafe itu. Dibawah sana ada banyak anak-anak remaja tengah menunggu detik-detik acara tersebut.

"Ya ampun, itu kenapa banyak banget orangnya ya?" sahut Andria melotot sambil menempelkan tepian wajahnya ke kaca jendela. "Liat deh, Mas Manda. Banyak banget kan orangnya. Aduh, kalo gue tiba-tiba speechless gimana?" ujar Andria panik. "Udah tenang aja. Groginya paling menit-menit di awal. Abis gitu juga lo bakalan bisa beradaptasi. Ikutin arahan gue aja nanti. Lagian bukan kita kok MC-nya." jawab Mandala santai.

Beberapa menit kemudian, MC yang ditunggu pun tiba bersama dengan penulis muda yang menjadi otak dibalik hadirnya kisah drama pementasan "Peri Menangis". "Hai... Kalian Manda dan Andria ya?" tanya seorang perempuan dengan gaya super casual. "Gue Pelita, MC acara ini." Pelita mengulurkan tangannya sebagai ucapan perkenalan. Mandala dan Andria bergantian menyalaminya.

"Oh iya, Ini Langit. Pasti kalian berdua udah tahu dong ya dia penulis naskah drama peri menangis itu." sahut Pelita memperkenalkan Langit kepada Mandala dan Andria. Langit nampak melambaikan tangannya dan tersenyum ramah "Halo." Mandala dan Andria membalas sama ramahnya. "Oke, udah siap semua kan? Kita turun sekarang ya. Pokoknya denger aba-aba gue aja ya." ujar Pelita tersenyum. Semua bersiap turun.

Pelita turun lebih dulu kemudian disusul oleh Langit. Lalu Mandala yang sambil mendorong lembut laju jalan Andria yang menyusul berikutnya. Pekikan heboh dari para fans sudah semakin terdengar. Apalagi saat Pelita menyapa mereka sebagai pembukaan, teriakan mereka menggema dengan kerasnya. Saat yang ditunggu, Pelita akhirnya mempersilahkan Mandala dan Andria untuk naik ke stage. Suasana mendadak hening.

Suasana benar-benar hening tatkala langkah kaki Mandala dan Andria menaiki panggung kecil yang ada di sudut tengah Cafe Diagonal. Semua mata hadirin yang ada dibawah sana seakan bertanya-tanya siapakah gerangan dua orang ini. Kaos yang tadi baru mereka kenakan - yang memang diperuntukan untuk acara ini dan dikenakan oleh semua tim penyelenggara termasuk Pelita dan Langit - pun tidak cukup membantu mata-mata yang penasaran dengan sosok Mandala dan Andria. Namun, begitu Pelita menyebutkan bahwa Mandala dan Andria adalah sosok penyiar 123,4 FM Tamusema Radio khusus untuk segmen dongeng malam, sontak kebisuan itu berubah teriakan histeris. "HUAAAA... KAK MANDAAAAA.... KAK MEDAAAAA...."

Pelita jadi ikut-ikutan berteriak mengikuti ritme semua hadirin yang kebanyakan anak-anak remaja yang baru gede. Mandala yang sudah jauh lebih bisa menyesuaikan diri melempar senyum dan lambaian tangan ke arah penonton. Anak-anak remaja didepannya semakin histeris memanggil-memanggil nama Mandala. Setengah dari mereka berbisik-bisik kecil mengagumi ketampanan penyiar dongeng mereka. Sementara Andria dengan kakunya menyuguhkan senyum ala kadarnya dengan sederet giginya yang sengaja dipampang. Suasana yang tadi heboh mendadak bisu lagi saat tingkah kaku Andria yang mencoba menimpali aksi sapaan Mandala yang ciamik. Kayaknya aksi sapaan gue gagal deh, batin Andria. Wajar sih, mayoritas anak-anak remajanya perempuan. Pasti lebih ngefans sama penyiar Mandalalah. Hahaha... Nasib... Andria akhirnya melambaikan tangan juga serta membungkukkan setengah tubuhnya seperti menghormati para penonton. Namun, justru pekikan untuknya lebih dahsyat dari yang Mandala terima. "KAK MEDAAAAAAAAA... Huaaaaa... Cantiiiiiik...." Andria membeku mendapati kenyataan bahwa dirinya memiliki fans. Matanya melirik ke arah Mandala, lalu berkedip membanggakan diri. Mandala tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya pertanda setuju.

Setelah itu, Pelita bertanya-tanya sedikit kepada Mandala dan Andria seputar aktivitas siaran dan kehidupan pribadi mereka selama ini. Gelak tawa saat Mandala lagi-lagi menceritakan ritual konyol mereka sebelum memulai siaran dongeng malam. Namun, decak kagum dan tepukan tangan salut ketika kebanyakan dari mereka akhirnya tahu bahwa Andria masih berstatus siswa SMA. Andria cuma bisa tersenyum sambil mengiyakan dan menceritakan sedikit tentang satu peristiwa yang membawanya menjadi salah satu penyiar yang diperhitungkan di Radio Tamusema. "Andriameda, you are so cool. Give applause for her... " sahut Pelita yang lalu memprofokatori para penonton untuk berteouk tangan. Tepukan tangan pun lalu kembali pecah sambil diiringi dengan siulan dan teriakan tiada henti.

Mata Pelita kemudian fokus pada satu arahan time keeper yang mengisyaratkan bahwa sekarang adalah waktunya Langit sang penulis untuk bergabung bersama Mandala dan Andria di atas panggung. Pelita kemudian bangkit dari duduknya dan sedikit mengumbar profil dari Langit. "Hayo, kira-kira profil siapa nih?" lempar Pelita kepada penonton didepannya. "Langiiiiittttt." sahut mereka. "Siapa? Nggak kedengeran?" tanya Pelita sekali lagi. "Langiiiiiiiittttttt." teriak mereka dengan semakin keras. "Please welcome Langiiiiiiittttt..." seru Pelita yang mempersilahkan Langit untuk naik ke atas panggung. Langit berjalan setengah berlari menaiki tangga-tangga kecil menuju panggung, lalu dia mengangkat kedua tangannya ke udara dan memberikan lambaian yang cukup lama ke segala arah, tak lupa dilengkapi dengan senyum manis khasnya. Lagi-lagi mata anak-anak remaja itu dimanjakan dengan sosok-sosok indah nan cakep.

Pelita yang tak tahan mengomentari ketampanan Langit akhirnya ikut buka suara. "Haduh, udah cakep pinter nulis. Paket plus-plus deh. Hahaha..." Goda Pelita. Langit hanya menjawab pujian itu dengan senyuman malu. "Well, Langit lagi sibuk apa nih sekarang?" tanya Pelita. "Kebetulan masih sibuk menyelesaikan novel ketiga saya. Tapi sekarang lagi fokus dulu bantu menyeleksi calon pemeran tokoh-tokoh di drama pementasan Peri Menangis." jawab Langit. "Hmm... ngomong-ngomong soal drama pementasan nih. Sebenarnya drama Peri Menangis itu menceritakan tentang apa sih? Ini kan kalo nggak salah adalah novel kamu yang kedua ya? Tapi kenapa akhirnya diputuskan untuk dibuat ke dalam drama teater dibandingkan menjadi sebuah film seperti novel pertama kamu?" tanya Pelita dengan lebih rinci sesuai dengan script pertanyaan di kertas kecil yang digenggamnya.

"Drama pementasan ini memang diambil dari novel kedua saya yang berjudul sama yaitu Peri Menangis. Kenapa akhirnya dituangkan kedalam format drama teater ini lebih kepada konten cerita yang menurut beberapa pihak justru akan lebih bagus dan lebih hidup. Dan saya rasa saya sependapat dengan mereka, karena pada saat saya dulu menulis novel ini pun saya sudah membayangkan sebuah panggung teater yang besar dimana tokoh-tokoh imajinasi yang ada didalamnya akan diperankan dengan anggun dan dengan balutan kostum-kostum dunia peri yang klasik dan elegan. Untuk ceritanya sendiri sih lebih kepada perjuangan seorang peri terhadap hak dan keberadaannya yang tertindas dan terbuang sebagai seorang peri terpilih di kerajaan peri langit." ungkap Langit antusias.

Acara meet and greet itu terus berlangsung dengan begitu seru. Termasuk saat sesi tanya-jawab dengan para penonton yang selalu diakhiri dengan jeritan heboh dan senyum sumringah dari mereka. Akhirnya, Pelita mengakhiri acara tersebut. Pelita beserta seluruh bintang tamu menutup acara tersebut. Para penonton pun menyerbu untuk meminta foto bersama Langit. Mandala dan Andria pun ikut kecipratan serbuan itu.

Akhirnya sesi serbuan foto bareng itu selesai. Mandala pingin ngakak sebenarnya saat melihat antusiasme berlebihan para remaja itu saat menggelu-elukan namanya, bahkan ada yang menjerit-jerit tak jelas begitu berhadapan dengannya. Sebaliknya, Andria malah jadi sasaran para remaja itu bertanya lebih lanjut tentang kehidupannya sebagai penyiar muda. "Cie... Penyiar muda... Cie... Ciee" goda Mandala.

 “Ah Mas Manda... ngeledekin gue mulu. Nggak tahu apa gue grogi banget.” Jawab Andria malu. “Hahaha... Tahu deh yang grogi.” Sahut Mandala yang makin usil. Andria manyun, Mandala langsung merangkul dan mengacak-acak rambut Andria. “Balik ke atas dulu yuk buat ambil tas. Abis itu kita evaluasi sebentar.” Ujar Mandala ke Andria. Andria terdiam. “Lho kenapa? Kok lo diam?” Tanya Mandala heran.

Andria memegangi perutnya, menahan sakit yang tiba-tiba menyerang. Seperti perutnya terkena maag berkat tidak makan siang secara benar. Hanya setangkup roti dari Vero yang sempat dihabiskannya sebelum bel istirahat siang berakhir. “An, lo kenapa?” Mandala berubah cemas setelah melihat Andria mulai membungkuk seperti menahan sakit di bagian perutnya. “Kayaknya maag gue kambuh, Mas.” Ujar Andria pelan.

“Lah, kok bisa? Ya udah, lo duduk dulu disana. Gue cariin obat maag buat lo.” Ujar Mandala yang langsung memapah Andria ke salah satu bangku kosong di dekat tangga. Andria duduk. “Bentar ya, An. Gue cari obat maag-nya. Sekalian gue pamit sama Pelita dan Langit di atas.” Seru Mandala. “Iya, Mas. Makasih ya.” sahut Andria terbata-bata. Perutnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Sakitnya seperti menekan keras ulu hatinya hingga membuatnya langsung tak berdaya.

“Nah ini dia si bocah pemiliki si coki-coki. Nih kunci motor vespa lo.” Sahut Mamet memberikan kunci vespa milik Andria. “Makasih ya, Met.” Jawab Andria pelan. “Eh, kenapa lo? Muka lo kok pucet banget.” Tanya Mamet heran. “Biasanya perut di cacing aku lagi main roller coaster.” Jawab Andria mencoba melucu. “Udah pucet begitu masih bisa ngebanyol. Lo nggak apa-apa kan ditinggal sendirian. Gue musti ke atas dulu.” Seru Mamet. “Iya, nggak apa-apa.” Balas Andria.

Sepeninggalan Mamet, Mandala datang membawa obat dan sebotol air mineral untuk Andria. “Nih, minum dulu obatnya.” Mandala memberikan obat maag ke tangan Andria. Andria menerimanya dan segera menelannya. “Nih air putihnya.” Mandala kemudian memberikan sebotol air mineral kepada Andria. “Makasih ya, Mas.” Ujar Andria berterima kasih. “Mau langsung makan?” tanya Mandala. Andria menggeleng. “Nggak, Mas. Ntar malah muntah lagi.” Jawab Andria.

“Lo mau makan apa? Biar gue pesenin.” Mandala lagi-lagi menawarkannya ini-itu. “Gue mau pulang aja, Mas.” Tolak Andria. “Tapi lo musti makan dulu, ntar lo nggak kuat bawa vespa lo lagi.” sahut Mandala cemas. “Nggak apa-apa. Gue bisa kok.” Ujar Andria menenangkan. “Nggak deh. Gue yang anter lo pulang naik mobil kalo gitu. Motor lo biar gue minta tolong Mamet lagi untuk bawa kerumah lo.” Sahut Mandala mencegah.

Andria buru-buru menggeleng, “Jangan, Kak. Ngerepotin lo lagi. Gue bisa pulang sendiri kok. Aduh.” Perut Andria mendadak sakit lagi. “Tuh kan. Sakit lagi.” Sentak Mandala khawatir. “Nggak pake nolak-nolakan deh. Gue yang anter lo. Mana kunci motor lo? Biar gue kasih lagi ke Mamet.” Seru Mandala serius. Andria tidak punya pilihan lain selain memberikan kunci motornya kepada Mandala. “Mas, gue tunggu di depan cafe ya.” Ujar Andria pelan. “Oke.”

Andria berjalan menuju ke pintu keluar cafe. Dengan perlahan dan pasti, Andria sampai di depan cafe. Andria lalu menyender di salah satu dinding bertuliskan cafe diagonal. Andria mengusap-usap perutnya, berharap rasa sakitnya kian menghilang. Andria mengedari pandangannya ke seluruh sudut di depannya. Pengunjung yang lalu lalang, keluar masuk, hingga pandangannya terhenti pada satu pemandangan yang mengejutkan.

Andria terhenyak pada satu pemandangan didepannya itu. Seseorang yang belakangan ini berada didekatnya, yang entah sebagai teman atau pengganggunya, sekarang justru tengah berjalan dari arah parkiran. Tapi ada yang membuat lidahnya kelu kehabisan kata-kata saat dilihatnya orang itu berjalan dengan lengan terapit oleh mesranya sebuah gandengan tangan lainnya. Orang itu Vero. Vero tengah berjalan menuju ke arahnya dengan lengannya yang terapit mesra oleh tangan seorang cewek.

Baru kali itu, Andria melihat Vero begitu lembut menghadapi seorang cewek. Tanpa risih lengannya Vero menopang apitan lengan orang disampingnya itu. Tidak seperti Vero yang biasa dikenalnya, Vero yang usil, suka mengganggu, dan terkadang ketus. Andria tidak tahu kalau ternyata Vero sudah memiliki seseorang yang spesial. Bahkan Andria lupa menanyakan itu karena terlalu sibuk dengan kedatangannya Vero saat itu.

Andria sadar ada bagian hatinya yang menguap lenyap. Seluruh memori yang rapi tersimpan yang Andria kira akan menjadi sesuatu yang tidak biasa, kini terpaksa dijebol paksa lalu dibuangnya semua. Sedetik sebelum Vero menyadari keberadaan Andria, Andria sudah lebih dulu membalikkan badan dan membelakangi Vero. Air mata pertama yang jatuh membasahi pipinya adalah tanda bahwa Vero hanyalah angin yang datang lalu pergi dari hidupnya.

Andria setengah mati menahan agar tak lebih banyak lagi air matanya yang jatuh. Sebelum tangis Andria pecah, Mandala keburu datang dan mengajaknya pulang. “Yuk, kita langsung pulang.” Tanpa kentara, Andria menghapus jejak air matanya. Kemudian Andria memengangguk dan menurutin ajakan Mandala. Andria mengikuti ritme langkah Mandala menuju parkiran mobil. Andria sempat menoleh dan melihat punggung Vero yang kian menjauh masuk kedalam cafe. Apitan tangan itu tetap menjadi misteri diiringi oleh air mata Andria yang kembali berayun di pipinya. 

■■■■