Jejak Kaki Kuda dan Senyum Sang
Penunggang
Dewo
kembali membaca surat dari Nimas. Berkali-kali keningnya mengernyit,
memikirkan sesuatu. Sepertinya Kerajaan Teratai Putih yang dimaksud cukup
bersahabat ditelinga. Kerajaan itu memang tidak jauh dari tempat tinggalnya
kini. Hanya saja, jika tidak salah mengingat... Mendiang Bopoknya pernah berpesan
untuk tidak mendekati kerajaan tersebut.
Ada
semacam mitos mengerikan yang berkembang di masyarakat luas ketika ada orang
luar yang mencoba menerobos kerajaan tersebut. Dewo mengingat-ingat kembali kutukan
yang pernah didengarnya terkait dengan mitos tersebut, “Orang
Baru Membatu Orang Lama Memangsa.” Dewo menggangguk seraya membenarkan
ucapannya sendiri.
Tapi
surat dari Nimas bukan sembarang surat yang bisa dengan seenaknya diabaikan.
Surat ini titah. Sebuah amanah. Jadi, sudah bisa dipastikan Dewo harus turun
tangan menyelidiki lahan pertanian yang ada disana. Dewo segera berkemas. Dibawanya sedikit
makanan untuk perbekalan selama di perjalanan. Sebuah peta pun tak ketinggalan dibawa
bersamanya. Dan yang terakhir, Dewo menyiapkan kuda kesayangannya.
Perjalanan
pun dimulai. Dewo menunggangi kudanya menyusuri jalan menuju ujung dari Desa
Ilalang. Pemandangan pertama yang tersaji dihadapannya adalah sebuah
sungai yang jernih tapi dangkal. Dengan mudahnya kuda Dewo menyeberangi sungai
tersebut. Desa demi desa Dewo lewati. Semakin mendekati wilayah Kerajaan
Teratai Putih, semakin besar hembusan cerita terkait dari mitos mengerikan bagi
para pendatang. Setiap kali menjawab keingin-tahuan orang-orang – yang berpapasan
di jalan – tentang kemana tujuan dari perjalanannya, ekspresi yang muncul dari
mereka adalah tatapan kaget. Keterkejutan yang ditampilkan selalu menghentikan
mereka untuk bertanya lebih lanjut kepada Dewo. Tapi Dewo enggan menanggapi
reaksi mereka atau bahkan sekedar bertanya atas mitos itu.
Dewo
kembali melanjutkan perjalanannya. Memasuki sebuah hutan yang seperti jarang
dilewati oleh orang. Bisa jadi karena adanya mitos di kerajaan ini, maka para
pendatang mengurungkan niatnya untuk berkunjung kesini. Di dalam
hutan ini, Dewo mendapati sebuah batu besar yang terukir diatasnya sebuah
tulisan: DAERAH KEKUASAAN KERAJAAN TERATAI PUTIH. Dewo sadar bahwa dirinya
ternyata sudah masuk kedalam wilayah Kerajaan Teratai Putih. Dewo harus semakin
berhati-hati. Ditingkatkannya kewaspadaan.
Tak lama
setelah melewati batu besar itu, Dewo menemukan jejak kaki kuda lain selain
jejak kuda miliknya. Lalu Dewo mencoba mengikuti kemana jejak kaki kuda
tersebut akan berhenti. Perlahan tapi pasti, kuda Dewo akhirnya membawa dirinya semakin masuk ke dalam jantung
hutan. Dilihatnya seekor kuda hitam sedang diistirahatkan. Sepertinya, itu kuda
yang jejak kakinya Dewo ikuti. Jejak kaki kuda itu tak lagi tak bertuan.
Seorang perempuan yang tengah memetik beberapa lembar daun nampaknya penunggang kuda hitam itu.
Dewo
lantas turun dari punggung kudanya, tapi pijakan pertama Dewo di tanah ternyata
mengusik perempuan diseberang sana. Perempuan itu menoleh dan langsung bersiaga
terhadap calon penganggunya. “Maaf kalau
saya mengusikmu. Sungguh saya tak bermaksud seperti itu.” permintaan maaf itu
mengalun dari bibir Dewo.
Sontak
antisipasi perempuan itu luntur seketika, ketika melihat sosok Dewo jauh dari
kesan jahat ataupun penuh dengan embel-embel ancaman. Perempuan itu lalu tersenyum
menyapanya. Ganti Dewo terdiam melihat sosok perempuan yang tengah menyuguhkan
senyum untuknya. Senyum yang menenangkan. Seperti senyum para bidadari di
khayangan. Dewo tertegun, makin terpesona. Perempuan
itu begitu ayu, batinnya.