Saturday, 18 October 2014

Pendekar Ayu dan Pangeran Dewo (Part 3)

Part 3

Jejak Kaki Kuda dan Senyum Sang Penunggang

Dewo kembali membaca surat dari Nimas. Berkali-kali keningnya mengernyit, memikirkan sesuatu. Sepertinya Kerajaan Teratai Putih yang dimaksud cukup bersahabat ditelinga. Kerajaan itu memang tidak jauh dari tempat tinggalnya kini. Hanya saja, jika tidak salah mengingat... Mendiang Bopoknya pernah berpesan untuk tidak mendekati kerajaan tersebut.

Ada semacam mitos mengerikan yang berkembang di masyarakat luas ketika ada orang luar yang mencoba menerobos kerajaan tersebut. Dewo mengingat-ingat kembali kutukan yang pernah didengarnya terkait dengan mitos tersebut, “Orang Baru Membatu Orang Lama Memangsa.” Dewo menggangguk seraya membenarkan ucapannya sendiri.

Tapi surat dari Nimas bukan sembarang surat yang bisa dengan seenaknya diabaikan. Surat ini titah. Sebuah amanah. Jadi, sudah bisa dipastikan Dewo harus turun tangan menyelidiki lahan pertanian yang ada disana. Dewo segera berkemas. Dibawanya sedikit makanan untuk perbekalan selama di perjalanan. Sebuah peta pun tak ketinggalan dibawa bersamanya. Dan yang terakhir, Dewo menyiapkan kuda kesayangannya.

Perjalanan pun dimulai. Dewo menunggangi kudanya menyusuri jalan menuju ujung dari Desa Ilalang. Pemandangan pertama yang tersaji dihadapannya adalah sebuah sungai yang jernih tapi dangkal. Dengan mudahnya kuda Dewo menyeberangi sungai tersebut. Desa demi desa Dewo lewati. Semakin mendekati wilayah Kerajaan Teratai Putih, semakin besar hembusan cerita terkait dari mitos mengerikan bagi para pendatang. Setiap kali menjawab keingin-tahuan orang-orang – yang berpapasan di jalan – tentang kemana tujuan dari perjalanannya, ekspresi yang muncul dari mereka adalah tatapan kaget. Keterkejutan yang ditampilkan selalu menghentikan mereka untuk bertanya lebih lanjut kepada Dewo. Tapi Dewo enggan menanggapi reaksi mereka atau bahkan sekedar bertanya atas mitos itu.

Dewo kembali melanjutkan perjalanannya. Memasuki sebuah hutan yang seperti jarang dilewati oleh orang. Bisa jadi karena adanya mitos di kerajaan ini, maka para pendatang mengurungkan niatnya untuk berkunjung kesini. Di dalam hutan ini, Dewo mendapati sebuah batu besar yang terukir diatasnya sebuah tulisan: DAERAH KEKUASAAN KERAJAAN TERATAI PUTIH. Dewo sadar bahwa dirinya ternyata sudah masuk kedalam wilayah Kerajaan Teratai Putih. Dewo harus semakin berhati-hati. Ditingkatkannya kewaspadaan.

Tak lama setelah melewati batu besar itu, Dewo menemukan jejak kaki kuda lain selain jejak kuda miliknya. Lalu Dewo mencoba mengikuti kemana jejak kaki kuda tersebut akan berhenti. Perlahan tapi pasti, kuda Dewo akhirnya membawa dirinya semakin masuk ke dalam jantung hutan. Dilihatnya seekor kuda hitam sedang diistirahatkan. Sepertinya, itu kuda yang jejak kakinya Dewo ikuti. Jejak kaki kuda itu tak lagi tak bertuan. Seorang perempuan yang tengah memetik beberapa lembar daun nampaknya penunggang kuda hitam itu.

Dewo lantas turun dari punggung kudanya, tapi pijakan pertama Dewo di tanah ternyata mengusik perempuan diseberang sana. Perempuan itu menoleh dan langsung bersiaga terhadap calon penganggunya. “Maaf kalau saya mengusikmu. Sungguh saya tak bermaksud seperti itu.” permintaan maaf itu mengalun dari bibir Dewo.

Sontak antisipasi perempuan itu luntur seketika, ketika melihat sosok Dewo jauh dari kesan jahat ataupun penuh dengan embel-embel ancaman. Perempuan itu lalu tersenyum menyapanya. Ganti Dewo terdiam melihat sosok perempuan yang tengah menyuguhkan senyum untuknya. Senyum yang menenangkan. Seperti senyum para bidadari di khayangan. Dewo tertegun, makin terpesona. Perempuan itu begitu ayu, batinnya.