Part 2
Desa Ilalang dan Permohonan Sang Ratu
Fajar
pagi sudah mulai menyingsing di Desa Ilalang. Sayup-sayup bunyi kokokan ayam
membangunkan Dewo yang tengah terlelap tidur. Perlahan matanya dibuka.
Dipaksakan tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang. Entah ini sudah minggu ke berapa
dia berkabung. Setiap harinya Dewo harus mewaraskan pikirannya dan berkali-kali
menyahut kapada dirinya sendiri bahwa Bopoknya sudah tidak lagi menjadi bagian
nyata di dalam kehidupan ini.
Dewo
beranjak menuju bale di depan rumahnya sambil menenteng sepiring penuh ganyong
yang hendak disantapnya. Dewo duduk dan mulai menyantap hidangannya itu. Tak
lama kemudian, terdengar bunyi tapak kuda yang bergerak cepat kearahnya. “Siapa
kiranya pagi-pagi memacu kuda dengan begitu cepat?” gumamnya seraya melongokkan
kepala ke asal suara.
Beberapa
orang mulai nampak terlihat menunggangi kudanya dan terus bergerak maju
kerumahnya. Ternyata rombongan berkuda itu adalah tamu untuknya. Kuda-kuda tersebut lantas dihentikan oleh para penunggangnya. Salah satu diantara mereka
turun dan membawakan sebuah gulungan untuk Dewo, “Kami membawa surat dari Ratu
Nimas Naratih untuk Yang mulia Pangeran Dewo.” Dewo lekas mengambil gulungan
surat itu dari tangan sang pengawal. Buru-buru membuka dan membaca isinya.
Tertanda untuk Kang Mas Dewo,
Apa kabarmu disana, Kang mas? Semoga
kesedihanmu atas meninggalnya Paman Arji sudah kian surut. Aku dengar bahwa pada
akhirnya kang mas memilih untuk menetap di Desa Ilalang. Aku cukup terkejut
mendengarnya, meskipun begitu... aku yakin bahwa kang mas memiliki alasan
khusus dan aku menghormati keputusan kang mas. Namun, jika kang mas ingin
pulang. Kerajaan ini akan selalu menjadi rumahmu.
Kang mas, ada yang harus kuberitahukan
kepadamu. Tak jauh dari Desa Ilalang terdapat sebuah Kerajaan yang bernama
Teratai Putih. Dari kabar burung yang kudengar, kerajaan itu memiliki lahan
pertanian yang sangat bagus. Bisakah aku meminta bantuanmu untuk mencari tahu
kebenarannya? Jika kabar itu benar, bisakah kau mengamatinya lebih lanjut
untukku? Aku sangat ingin menerapkan hal yang serupa pada Kerajaan Elang Putih.
Terima kasih Kang Mas... Aku dan Kang Mas
Sapardi selalu mendoakanmu dari sini.
Dewo
menggulung kembali surat tersebut. Secuil senyum mulai tersungging di sudut
bibirnya. Sebentuk senyum yang meremehkan dirinya sendiri. Bahkan hingga kini, Dewo
masih belum sepenuhnya bisa melupakan perempuan yang paling dicintainya itu. Ya, bayangan
Nimas Naratih memang ternyata masih berada direlung hatinya.
Dan
itu membuat dirinya tidak bisa untuk menolak permohonan bantuan itu. Dewo
menyanggupi permintaan Nimas Naratih. Maka, dia tuliskan balasan surat. “Berikan
ini kepada yang mulia ratu.” ujarnya mengulurkan surat balasan itu kepada para
pengawal dihadapannya. Sang pengawal pun menerima dan langsung beranjak pergi
dari kediaman Dewo.