Tuesday, 9 September 2014

Pendekar Ayu dan Pangeran Dewo (Part 2)

Part 2

Desa Ilalang dan Permohonan Sang Ratu 

Fajar pagi sudah mulai menyingsing di Desa Ilalang. Sayup-sayup bunyi kokokan ayam membangunkan Dewo yang tengah terlelap tidur. Perlahan matanya dibuka. Dipaksakan tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang. Entah ini sudah minggu ke berapa dia berkabung. Setiap harinya Dewo harus mewaraskan pikirannya dan berkali-kali menyahut kapada dirinya sendiri bahwa Bopoknya sudah tidak lagi menjadi bagian nyata di dalam kehidupan ini.

Dewo beranjak menuju bale di depan rumahnya sambil menenteng sepiring penuh ganyong yang hendak disantapnya. Dewo duduk dan mulai menyantap hidangannya itu. Tak lama kemudian, terdengar bunyi tapak kuda yang bergerak cepat kearahnya. “Siapa kiranya pagi-pagi memacu kuda dengan begitu cepat?” gumamnya seraya melongokkan kepala ke asal suara.

Beberapa orang mulai nampak terlihat menunggangi kudanya dan terus bergerak maju kerumahnya. Ternyata rombongan berkuda itu adalah tamu untuknya. Kuda-kuda tersebut lantas dihentikan oleh para penunggangnya. Salah satu diantara mereka turun dan membawakan sebuah gulungan untuk Dewo, “Kami membawa surat dari Ratu Nimas Naratih untuk Yang mulia Pangeran Dewo.” Dewo lekas mengambil gulungan surat itu dari tangan sang pengawal. Buru-buru membuka dan membaca isinya.

Tertanda untuk Kang Mas Dewo,

Apa kabarmu disana, Kang mas? Semoga kesedihanmu atas meninggalnya Paman Arji sudah kian surut. Aku dengar bahwa pada akhirnya kang mas memilih untuk menetap di Desa Ilalang. Aku cukup terkejut mendengarnya, meskipun begitu... aku yakin bahwa kang mas memiliki alasan khusus dan aku menghormati keputusan kang mas. Namun, jika kang mas ingin pulang. Kerajaan ini akan selalu menjadi rumahmu.

Kang mas, ada yang harus kuberitahukan kepadamu. Tak jauh dari Desa Ilalang terdapat sebuah Kerajaan yang bernama Teratai Putih. Dari kabar burung yang kudengar, kerajaan itu memiliki lahan pertanian yang sangat bagus. Bisakah aku meminta bantuanmu untuk mencari tahu kebenarannya? Jika kabar itu benar, bisakah kau mengamatinya lebih lanjut untukku? Aku sangat ingin menerapkan hal yang serupa pada Kerajaan Elang Putih. 

Terima kasih Kang Mas... Aku dan Kang Mas Sapardi selalu mendoakanmu dari sini.

Dewo menggulung kembali surat tersebut. Secuil senyum mulai tersungging di sudut bibirnya. Sebentuk senyum yang meremehkan dirinya sendiri. Bahkan hingga kini, Dewo masih belum sepenuhnya bisa melupakan perempuan yang paling dicintainya itu. Ya, bayangan Nimas Naratih memang ternyata masih berada direlung hatinya.

Dan itu membuat dirinya tidak bisa untuk menolak permohonan bantuan itu. Dewo menyanggupi permintaan Nimas Naratih. Maka, dia tuliskan balasan surat. “Berikan ini kepada yang mulia ratu.” ujarnya mengulurkan surat balasan itu kepada para pengawal dihadapannya. Sang pengawal pun menerima dan langsung beranjak pergi dari kediaman Dewo.